Quotes About Indonesia

Quotes tagged as "indonesia" (showing 1-30 of 318)
W.S. Rendra
“mencintaimu adalah bahagia & sedih;
bahagia karna memilikimu dalam kalbu;
sedih karena kita sering berpisah”
W.S. Rendra

Pramoedya Ananta Toer
“Indonesia adalah negeri budak. Budak di antara bangsa dan budak bagi bangsa-bangsa lain.”
Pramoedya Ananta Toer, Jalan Raya Pos, Jalan Daendels

Mohammad Hatta
“I’d volunteer to go to prison, as long as there are books. Because with books I am free.”
Mohammad Hatta

Y.B. Mangunwijaya
“Indonesia ini memang negeri yang unik, penuh dengan hal-hal yang seram serius, tetapi penuh dagelan dan badutan juga. Mengerikan tapi lucu, dilarang justru dicari dan amat laku, dianjurkan, disuruh tetapi malah diboikot, kalah tetapi justru menjadi amat populer dan menjadi pahlawan khalayak ramai, berjaya tetapi keok celaka, fanatik anti PKI tetapi berbuat persis PKI, terpeleset tetapi dicemburui, aman tertib tetapi kacau balau, ngawur tetapi justru disenangi, sungguh misterius tetapi gamblang bagi semua orang. Membuat orang yang sudah banyak makan garam seperti saya ini geleng-geleng kepala tetapi sekaligus kalbu hati cekikikan. Entahlah, saya tidak tahu. Gelap memprihatinkan tetapi mengandung harapan fajar menyingsing......(menyanyi) itulah Indonesia. Menulis kolooom selesai.
["Fenomena PRD dll,"].”
Y.B. Mangunwijaya, Politik Hati Nurani

Sukarno
“I hate imperialism. I detest colonialism. And I fear the consequences of their last bitter struggle for life. We are determined, that our nation, and the world as a whole, shall not be the play thing of one small corner of the world”
Sukarno

Christian Simamora
“Saat memutuskan buat jatuh cinta, lo juga membuka kemungkinan cinta kelak akan berbalik nyakitin lo. - Good Fight”
Christian Simamora

Goenawan Mohamad
“sebab mencintai tanah air, nak, adalah merasa jadi bagian dari sebuah negeri, merasa terpaut dengan sebuah komunitas, merasa bahwa diri, identitas, nasib, terajut rapat, dengan sesuatu yang disebut Indonesia, atau Jepang, atau Amerika. Mencintai sebuah tanah air adalah merasakan, mungkin menyadari, bahwa tak ada negeri lain, tak ada bangsa lain, selain dari yang satu itu, yang bisa sebegitu rupa menggerakkan hati untuk hidup, bekerja dan terutama untuk mati..”
Goenawan Mohamad, Catatan Pinggir 4

Tan Malaka
“Kalau suatu negara seperti Amerika mau menguasai samudra dan dunia, dia mesti rebut Indonesia lebih dahulu buat sendi kekuasaan. (Pendahuluan - Melihat ke muka page 35-36)”
Tan Malaka, Madilog

Abdurrahman Wahid
“Kita butuh Islam ramah bukan Islam marah”
Abdurrahman Wahid

Abdurahman Faiz
“Merah putih masih merayap gelisah
mencari Hatta dalam jiwa dua ratus juta kita.”
Abdurahman Faiz, Nadya: Kisah dari Negeri yang Menggigil

Christopher Hitchens
“1. Bangladesh.... In 1971 ... Kissinger overrode all advice in order to support the Pakistani generals in both their civilian massacre policy in East Bengal and their armed attack on India from West Pakistan.... This led to a moral and political catastrophe the effects of which are still sorely felt. Kissinger’s undisclosed reason for the ‘tilt’ was the supposed but never materialised ‘brokerage’ offered by the dictator Yahya Khan in the course of secret diplomacy between Nixon and China.... Of the new state of Bangladesh, Kissinger remarked coldly that it was ‘a basket case’ before turning his unsolicited expertise elsewhere.

2. Chile.... Kissinger had direct personal knowledge of the CIA’s plan to kidnap and murder General René Schneider, the head of the Chilean Armed Forces ... who refused to countenance military intervention in politics. In his hatred for the Allende Government, Kissinger even outdid Richard Helms ... who warned him that a coup in such a stable democracy would be hard to procure. The murder of Schneider nonetheless went ahead, at Kissinger’s urging and with American financing, just between Allende’s election and his confirmation.... This was one of the relatively few times that Mr Kissinger (his success in getting people to call him ‘Doctor’ is greater than that of most PhDs) involved himself in the assassination of a single named individual rather than the slaughter of anonymous thousands. His jocular remark on this occasion—‘I don’t see why we have to let a country go Marxist just because its people are irresponsible’—suggests he may have been having the best of times....

3. Cyprus.... Kissinger approved of the preparations by Greek Cypriot fascists for the murder of President Makarios, and sanctioned the coup which tried to extend the rule of the Athens junta (a favoured client of his) to the island. When despite great waste of life this coup failed in its objective, which was also Kissinger’s, of enforced partition, Kissinger promiscuously switched sides to support an even bloodier intervention by Turkey. Thomas Boyatt ... went to Kissinger in advance of the anti-Makarios putsch and warned him that it could lead to a civil war. ‘Spare me the civics lecture,’ replied Kissinger, who as you can readily see had an aphorism for all occasions.

4. Kurdistan. Having endorsed the covert policy of supporting a Kurdish revolt in northern Iraq between 1974 and 1975, with ‘deniable’ assistance also provided by Israel and the Shah of Iran, Kissinger made it plain to his subordinates that the Kurds were not to be allowed to win, but were to be employed for their nuisance value alone. They were not to be told that this was the case, but soon found out when the Shah and Saddam Hussein composed their differences, and American aid to Kurdistan was cut off. Hardened CIA hands went to Kissinger ... for an aid programme for the many thousands of Kurdish refugees who were thus abruptly created.... The apercu of the day was: ‘foreign policy should not he confused with missionary work.’ Saddam Hussein heartily concurred.

5. East Timor. The day after Kissinger left Djakarta in 1975, the Armed Forces of Indonesia employed American weapons to invade and subjugate the independent former Portuguese colony of East Timor. Isaacson gives a figure of 100,000 deaths resulting from the occupation, or one-seventh of the population, and there are good judges who put this estimate on the low side. Kissinger was furious when news of his own collusion was leaked, because as well as breaking international law the Indonesians were also violating an agreement with the United States.... Monroe Leigh ... pointed out this awkward latter fact. Kissinger snapped: ‘The Israelis when they go into Lebanon—when was the last time we protested that?’ A good question, even if it did not and does not lie especially well in his mouth.

It goes on and on and on until one cannot eat enough to vomit enough.”
Christopher Hitchens

Elizabeth Gilbert
“I was not rescued by a prince; I was the administrator of my own rescue.”
Elizabeth Gilbert

Pramoedya Ananta Toer
“Saya masih berpendapat bahwa Multatuli besar jasanya kepada bangsa Indonesia, karena dialah yang menyadarkan bangsa Indonesia bahwa mereka dijajah. Sebelumnya, di bawah pengaruh Jawanisme, kebanyakan orang Indonesia bahkan tidak merasa bahwa mereka dijajah.”
Pramoedya Ananta Toer, Saya Terbakar Amarah Sendirian!

Christian Simamora
“Kamu bener-bener selalu ngedapetin apa yang kamu mau ya?" | "Nggak semuanya. Karena aku belum memiliki kamu lagi." - Good Fight”
Christian Simamora

Goenawan Mohamad
“Pemilihan umum memang perlu dilihat sebagai upacara merayakan tekad tapi juga kerendahan hati: "sebuah Indonesia yang lebih baik" selamanya akan jadi sebuah janji--tapi yang selamanya layak jadi ikhtiar.”
Goenawan Mohamad, Catatan Pinggir 7

Goenawan Mohamad
“Di Indonesia, lambang dengan mudah bisa jadi jimat, semangat bisa dengan gampang jadi takhayul.”
Goenawan Mohamad, Catatan Pinggir 5

Pandji Pragiwaksono
“Dulu saya pikir Indonesia itu Jakarta. Pemahaman saya tentang Indonesia itu absurd.... Setelah saya keliling Indonesia, saya paham betul bahwa tidak mungkin Jakarta jadi tolok ukur untuk menggambarkan Indonesia karena sangat tidak mewakili Indonesia secara keseluruhan.”
Pandji Pragiwaksono, NASIONAL.IS.ME

Wan Mohd Nor Wan Daud
“Saya sempat bertanya kepada Pak Amien (Rais). Setelah berperanan menurunkan tiga presiden dan memimpin MPR dalam era terawal reformasi, apa yang telah beliau pelajari? Jawapannya seperti biasa, ikhlas dan tidak menunjukkan keraguan. Katanya, jiwa kita telah menjadi sangat korup. Jawapan ini tidak mengejutkan saya walaupun memilukan dan tidak terbatas kepada negara Indonesia saja.”
Wan Mohd Nor Wan Daud, Rihlah Ilmiah: dari Neomodernisme ke Islamisasi Ilmu Kontemporer

Lenang Manggala
“Tentang menciptakan perubahan untuk Indonesia, Saya percaya, bahwa Indonesia adalah kapal yang sangat besar. Untuk membelokkan kapal yang besar, kita butuh kebersamaan untuk mencipta tenaga yang besar, dalam waktu yang tidak sebentar. Memang tidak mudah. Namun, bukan berarti tidak usah.”
Lenang Manggala

Lenang Manggala
“Tidak ada yang tidak mungkin, sampai kata 'tidak mungkin' itu Anda proyeksikan pada pikiran Anda sendiri. Kata-kata adalah doa. Sekaligus rencana yang kita ajukan pada semesta.”
Lenang Manggala

Lenang Manggala
“Mencintai ialah mencintai. Bukan semata upaya pemenuhan hasrat untuk memiliki. Pelukan ialah jembatan. Bukan lilit tali yang saling membelit gerakan.”
Lenang Manggala

Lenang Manggala
“Kita semua bisa melakukannya, jika Isra' Mi'raj didefinisikan sebagai perjalanan menuju ruang pemaknaan. Buroqnya? Kesabaran dan pikiran yang terbuka.”
Lenang Manggala

Lenang Manggala
“Pendidikan, adalah ujung tombak peradaban; juri kunci kesejahteraan.”
Lenang Manggala

Lenang Manggala
“Dibenci, adalah sesuatu yang harus Anda persiapkan sejak dini. Kadang-kadang, kebaikan menimbulkan kebencian. Dan begitupula, sebaliknya.
Tugas Anda untuk bermanfaat bagi sesama, memang iya. Tapi, untuk menyenangkan seluruh orang di sekitar Anda, jangan bercanda!”
Lenang Manggala

Lenang Manggala
“Kamu, ialah mimpi buruk di antara tidur lelapku: yang membangunkanku lebih dini; yang menghebatkanku lebih pagi.”
Lenang Manggala

Lenang Manggala
“Tidak ada pohon perjuangan yang berbuah kesia-siaan.”
Lenang Manggala, Negara 100 Kata

Lenang Manggala
“Aku menulis puisi: karena kesedihan tidak bisa menuliskan dirinya sendiri; karena petaka tidak bisa mengabarkan gaduhnya sendiri.”
Lenang Manggala

Lenang Manggala
“Kebenaran mungkin memang bisa disembunyi-belok-salahkan. Tapi kebenaran, selamanya tak kan pernah bisa dikalahkan.”
Lenang Manggala, Negara 100 Kata

Lenang Manggala
“Hanya ada dua pilihan untuk memenangkan kehidupan: keberanian, atau keihlasan. Jika tidak berani, ikhlaslah menerimanya. Jika tidak ikhlas, beranilah mengubahnya.”
Lenang Manggala

Lenang Manggala
“Perasaan mencintai adalah angin kepada api. Kadang-kadang menyalakan, kadang-kadang melenyapkan.”
Lenang Manggala

« previous 1 3 4 5 6 7 8 9 10 11
All Quotes | My Quotes | Add A Quote


Browse By Tag

More...