Kristiyana Hary Wahyudi Kristiyana's Comments (member since Feb 11, 2012)


Kristiyana's comments from the Kastil Fantasi group.

(showing 141-160 of 743)

Sep 16, 2012 08:15PM

63141 Mending fiktif aja, atau setting luar negri, takutnya menyinggung SARA krn ajaran agama tertentu
Sep 16, 2012 09:37AM

63141 Orinthia wrote: "E... episode lain dari Poci-Poci....??"

request dunk,,, yg episode "lomba joget Poco-Poco antar kuburan" wkwkwk
Sep 16, 2012 07:30AM

63141 Fred : mmm, bagian depannya aja kali yaa,, semacam prolognya???

tapi koq malah kepikiran buat bikin cerita ttg Dewa (yg bernama) Sembilanbelas dan Dewi (yg bernama) Persik yaa ???? hahaha
Sep 16, 2012 07:23AM

63141 koment buat repiuan Katherin :
(Kisah Lain) Bawang Merah dan Bawang Putih by Kristiyana
[ Begitu baca bagian dua, langsung jatuh dari kursi. Benar2 bawang, literaly. XD XD
IMO, intensitas emosi akan lebih berasa kalau identitas sebagai bawang, cabe, tomat tidak dibuka dari awal.
Pada saat ending barulah disebutkan mereka itu sebenarnya sayuran dan bumbu dapur. Jadi ada efek kejutan yg tidak terduga.


susah sekali buat nyimpen identitas mereka,,, itu aja aku udah berusaha merahasiakan siapa mereka di bagian pertama (sebelum scene Abyad ketemu para cabai)

ya begitulah karya kacrutku ini,,, yg sebenernya gak bener2 aku jagokan,,, :s

FYI : dalam bahasa Arab, Ahmar berarti "merah", Abyad berarti "putih". Dan dalam bahasa Ibrani, Adom berarti "merah", Yarok berarti "hijau"

aku sengaja pake tatanama dgn kosakata bahasa Arab dan Ibrani yg jarang dipakai, biar gak ada yg ngembar2in :p
Sep 16, 2012 05:16AM

63141 Udah ada ide sh ttg parodi dewa dewi, tp sbnrnya bwt projek novelku, krn critanya terlalu panjang.. Huhuhu
Sep 16, 2012 04:27AM

63141 Itu hrs polytheisme?
Hrs divine ya? Angelic/ demonic being bs gk?
Sep 16, 2012 04:23AM

63141 P3rt4m4x :p
Sep 15, 2012 09:50AM

63141 Bulan ini gk ada repiu,,, semua menang,,, smua dpt hadiah hahaha
Sep 13, 2012 03:44AM

63141 Orinthia: itu jujur loh.
Walaupun tdk smua cerpen aq baca, tp di antara bbrp yg aq baca Poci2 lah yg paling menarik..
Rela deh gk menang, asal Poci2 yg jd juaranya :D
Sep 12, 2012 11:08PM

63141 Fredrik wrote: "soal barunya akan keluar setiap tgl 16, seperti biasa ;)"

Ksh bocoran dunx temanya :p
Sep 12, 2012 08:50PM

63141 Lama bgt.. :(

Dari smua entry, aq paling suka yg Poci2.. Kocak + unik

Smoga Poci2 yg jd juara 1 nya :)
Sep 11, 2012 12:35AM

63141 Oops, salah info: ternyata Armageddon Knights blm dilaunching jg sampe hari ini..
.
Aq aja pesen inden ke penerbitnya
Sep 10, 2012 06:43AM

63141 Nenangs wrote: "yang ini?
Born of the Knights (Armageddon Knights, #1) by Lucky S. Mamusung
hmm..terlihat menjanjikan.
bisa ya, rilis ulang dengan tambahan bab. jadi beda dong ya dengan yg sebelumnya."


iyaa, ceritanya bagus koq,,
harapan dgn penambahan bab (yg katanya sih bab-bab yg hilang) bs bikin cerita lbh bagus
trs kyknya covernya jg diganti.. coba cek ke https://www.facebook.com/pages/Armage...
Sep 08, 2012 09:54AM

63141 Comment bwt Stez: ide emang bgs, bentuk (epic poem mythopoeia) cukup baik, memberi warna tersendiri.. Meskipun pemenggalan kata dan rima msh amburadul..

Tp ada satu yg mengganjal buatku: tentang kosakata
Kyknya mustahil jika ada byk kata bermakna merah dlm bhs org padang rumput..
Lbh logis yg byk itu kata bermakna hijau.
Scr org padang rumput pasti bikin pembedaan2 makna hijau, misal: hijau rumput musim semi, hijau rumput musim panas, hijau ilalang, hijau semak belukar, hijau dedaunan kering, dsb

Tp kalo ada alasan yg kuat kenapa bgtu sh oke2 aja
Sep 08, 2012 03:55AM

63141 Hayuk mari, 6 jam lg..
Sep 08, 2012 02:12AM

63141 yach koq ngeskip smua sich???? @,@

sayang lho,, aq aja nyesel ngeskip 2 bulan kmrn,,,,
Sep 07, 2012 09:35PM

63141 Silakan maen lempar2an! Cabe, tomat n bawang2annya udah aq siapin tuuh.. :p
Sep 07, 2012 08:58AM

63141 biarin deh kacrut, daripada gak ikutan lagi
Sep 07, 2012 08:39AM

63141 finally, it was executed and posted

fyuuuh!!!

cuma gak puas aja : terlalu pendek dan terlalu kacrut,,, :(

semoga tidak terlalu mengecewakan :s
Sep 07, 2012 08:35AM

63141 (KISAH LAIN) BAWANG MERAH DAN BAWANG PUTIH


“Apakah tidak terlalu berbahaya, Ahmar?”

“Sepertinya tidak. Lihat, di tempat ini hanya kita yang tersisa. Monster raksasa itu sudah membantai keluargamu dan keluargaku.”

“Tapi bagaimana cara kita keluar dari tempat ini? Monster itu sepertinya masih berada di luar sana. Dia bisa saja menguliti kita dan mencincang kita dengan alat penyiksa itu jika kita ketahuan melarikan diri seperti yang dilakukannya kepada saudara-saudara kita.”

“Kita sudah berhasil keluar dari kurungan itu, Abyad, sekarang tinggal lari sekencang-kencangnya keluar dari sarang monster ini, dan menemukan tanah yang baik untuk kita bersembunyi di dalamnya. Mari! Aku akan melindungimu.”

Maka Abyad yang bertubuh lebih gemuk daripada Ahmar itu pun bertambah rasa percaya dirinya. Ahmar berlari di belakangnya mencari jalan keluar dari sarang monster raksasa itu.

“Lihat! Itu ada cahaya! Pasti cahaya matahari! Lama aku tidak melihatnya..,”

“AWAS, ABYAD!” seru Ahmar. “MONSTER!”

Tiba-tiba bumi tempat mereka berpijak bergoncang hebat. Monster raksasa itu datang dengan langkah berdebam keras dan bergumam dengan bahasa lain yang tidak mereka kenal. Suara gumamannya pun terdengar bergemuruh memekakkan telinga. Sang monster pun akhirnya menangkap Abyad dalam genggaman tangan besarnya.

Ahmar segera bersembunyi di balik sebuah benda yang terbuat dari kayu. Hatinya semakin pilu mendengar jeritan minta tolong sahabatnya itu. “AHMAR! TOLONG AKU!”

Tanpa pikir panjang ia menghambur keluar dengan maksud menantang monster raksasa itu. “Hai, monster jahat! Ini aku! Tangkaplah aku dan siksalah aku, jangan dia!” Sayang, moster itu tidak mendengar suaranya bahkan sama sekali tidak memerhatikannya.

***

Abyad kembali terkurung, tetapi di tempat yang berbeda, lebih dingin dan lebih gelap daripada tempat ia dikurung sebelumnya bersama Ahmar dan keluarganya.

“Kenapa kamu menangis? Kamu tidak sendiri, ada kami di sini,” kata sosok lain di tempat itu.

“Ya, sadarilah bahwa kita memang ditakdirkan untuk dipotong-potong oleh makhluk monster itu,” sahut yang lain. “Kamu hanyalah sebuah bawang putih dan kami hanyalah sekelompok cabai merah dan cabai rawit yang tidak bisa berbuat apa-apa selain menunggu waktunya dipotong-potong oleh monster itu.”

“Sekali kita terkurung di dalam plastik ini dan di lemari pendingin ini, masing-masing dari kita hanya bisa berharap monster itu tidak segera mengambil salah satu dari kita.”

“Perkenalkan kami keluarga cabai merah tinggal empat saja. Aku Adom Alef yang tertua, dan ini kerabat jauh kami, keluarga cabai rawit hanya tinggal berdua saja.. Yarok Alef dan Yarok Bet.”

“Selamat datang, walaupun kamu berbeda tetapi kamu kami anggap sebagai bagian dari keluarga ini,” kata Yarok Alef.

“Semoga kamu betah tinggal bersama kami dan tidak diambil oleh monster jahat itu,” sambug Yarok Bet.

Abyad masih gamang. Sudah lama ia kehilangan saudara-saudaranya sesama bawang putih yang satu per satu diambil oleh monster itu. Ia juga baru saja terpisah dari Ahmar, sang bawang merah yang sudah lama dikenalnya. Dan kini ia disambut oleh sebuah keluarga yang tampak menyerah menghadapi keadaan. Sungguh berbeda daripada sewaktu ia dan keluarganya berada bersama-sama keluarga bawang merah yang selalu berapi-api, selalu berusaha untuk membebaskan diri sekalipun pada akhirnya satu per satu berakhir di tangan monster itu. Dalam hati ia hanya bisa berharap, “Semoga kamu baik-baik saja, Ahmar.”

***

Sementara itu Ahmar kelelahan. Ia gagal menarik perhatian monster raksasa itu. Tetapi ia tidak putus asa. Dikerahkannya otak kecilnya untuk berpikir bagaimana caranya menyelamatkan Abyad. Suasana di tempat itu menjadi gelap. Mungkin matahari sudah terbenam, aku harus segera menngeluarkannya dari tempat itu, pikirnya menghadap sebuah benda raksasa, tempat sang raksasa mengurung sahabatnya.

Kemudian datanglah sosok monster raksasa lain dengan langkah berdebam membawa setumpuk tomat di sebuah tempat pipih. Tomat-tomat berwarna merah ranum bernyanyi meratapi nasibnya dengan nada sendu menyayat hati.

“Kami tidak akan takut
Meskipun kami dibelah dan direbus dalam air panas
Dan kami tidak akan takut
Meskipun hidup kami berakhir sebagai lumatan

Tetapi...
Apakah kesalahan kami sehingga kami harus mengalaminya?
Apakah kesalahan kami sehingga kami takluk di depan mereka?”

Monster raksasa itu tiba-tiba menghentikan langkahnya, melihat ke bawah ke arah Ahmar yang setengah mati menahan rasa takutnya. Dengan sekuat tenaga ia menyemburkan nafas apinya, yang merupakan senjata alami keluarga bangsa bawang merah, kepada sang monster, hingga raksasa itu mengerang kesakitan karena matanya perih terkena nafas api itu.

Sang monster meletakkan tomat-tomat di atas kotak putih raksasa tempat Abyad berada – yaitu lemari pendingin – sebelum akhirnya pergi berlalu dari situ. Ahmar berseru-seru dari bawah, memanggil para tomat yang kurang lebih berjumlah sepuluh buah itu. “Hai! Jikalau kalian tidak takut mati, untuk apa kalian meratapi nasib seperti itu?”

Tomat-tomat itu pun menjawab dengan nyanyian, “Siapakah gerangan yang berkata-kata itu?”

“Ini aku, sebuah bawang merah, di bawah sini!”

Para tomat pun terlihat bergerak ke tepi dan mendongak ke bawah. “Hai, kamu bawang merah, apa yang kamu lakukan di bawah sana? Apa kamu terlepas dari kelompokmu? Atau para raksasa itu telah membuangmu?”

“Bukan. Aku melarikan diri dari mereka. Aku ingin hidup bebas. Maukah kalian hidup bebas sepertiku? Kita bisa mencari tanah yang baik untuk tempat kita berlindung, mengistirahatkan tubuh kita dan tumbuh sebagai tanaman yang hidup abadi.”

“Wow! Kalau itu sih kami mau, tapi bagaimana caranya?” tanya mereka kembali.

“Bagaimana kalau kalian membantuku dulu untuk....”

Percakapan mereka terputus, dua sosok monster raksasa datang ke ruangan itu dengan langkah yang menggoncang-goncangkankan bumi. Salah satu monster membuka lemari pendingin dan mengeluarkan sebuah bungkusan transparan berisi beberapa cabai dan...

“ABYAAD! ABYAAD! INI AKU!” teriak Ahmar begitu ia menyadari sahabatnya berada si sana.

Dari kantong plastik transparan itu pun Abyad membuka matanya melihat wujud kecil sang bawang merah sahabatnya itu jauh di bawah sana semakin lama wujudnya semakin mengecil.

“AHMAR!” seru Abyad gembira.

“Oh, itukah sahabatmu, si bawang merah itu?” tanya Adom Alef. Abyad mengangguk. Tetapi kegembiraannya itu hanya sementara karena pasti monster-monster ini pasti akan mengakhiri hidupnya bersama para cabai.

Gawat! Mereka pasti akan membunuh Abyad

Ahmar segera berlari mencoba sekali lagi mengalihkan perhatian kepada sang monster. Tetapi sayang sekali, sang monster malah menangkapnya dan memasukkannya ke dalam sebuah wadah kemudian menggelontorkan air ke dalam wadah itu hingga Ahmar tak sadarkan diri.

AHMAR!” Terdengar suara Abyad tak jauh dari tempat Ahmar terapung tak berdaya di atas air. Di depan mata Abyad, sang monster dengan tanpa ampun menguliti Ahmar dan mencincang tubuhnya di dalam wadah berisi air itu. Perasaannya sangat terpukul dan tak ada hal yang dapat ia lakukan selain menangisi kepergian sahabatnya itu.

“Mari kita balaskan kematiannya kepada monster-monster itu!” sahut Adom Alef kepada para cabai.

Sementara itu para tomat pun telah menyaksikan semuanya, kebiadaban para monster menghabisi nyawa sebuah bawang merah yang baru saja mereka kenal.

“Mari saudara-saudaraku, kita habisi para monster biadab itu demi kebebasan kita!” kata sebuah tomat kepada kelompoknya.

Kemudian para tomat meluncur ke bawah melalui rak piring di sebelah lemari pendingin itu, memecahkan sebagian besar benda pecah belah yang dilewatinya. Kedua monster itu menjadi bingung melihat tomat-tomat bergelindingan jatuh ke bawah menghancurkan piring-piringnya. Para cabai pun tak tinggal diam. Mereka berhasil merobek plastik. Menyerang para monster yang sedang bingung itu dengan menumpahkan botol kecil berisi bubuk merica ke atas lantai sehingga para monster itu menjadi semakin kewalahan karena matanya terkena serbuk merica, berusaha mencari air untuk menghilangkan perihnya.

Setelah itu dengan membabi buta, para monster berlomba-lomba menangkap para tomat dan cabai. Dan akhirnya terkumpullah mereka semua tanpa terkecuali dalam sebuah wadah yang diisi air, bersama potongan-potongan tubuh sang bawang merah. Salah satu monster mengambil alat pelumat yang sangat ditakuti oleh para tomat.

“Tamatlah riwayat kita di alat itu,” jerit para tomat.

Tanpa basa-basi para monster itu memasukkan semuanya ke dalam alat pelumat itu. Dan di depan mata Abyad, sang bawang putih yang sedari tadi meratapi kematian sahabatnya, tubuh para tomat dan para cabai hancur tanpa bentuk di dalam alat itu.

“Selamat tinggal semuanya! Mungkin sebaiknya aku menunggu kematianku saja di tangan mereka.”

Tetapi para monster itu sama sekali tidak menyakiti Abyad. Mereka menyimpan kembali Abyad di sebuah tempat tertutup, di mana dalam kegelapan, Abyad sendirian meratapi nasibnya.


topics created by Kristiyana