Amang Suramang Amang's comments (member since Sep 10, 2007)


Amang's comments from the Pembaca Buku Pramoedya group.

(showing 1-18 of 18)

Arok Dedes (6 new)
May 31, 2009 03:55PM

442 Arok Dedes ditulis Pramoedya tahun 1999. Ia bicara tentang suksesi pertama di Jawa, yang kemudian seperti memiliki benang merah dengan suksesi kepemimpinan Indonesia hingga hari ini.

Menarik untuk jadi obrolan sembari melihat pola suksesi kepemimpinan Indonesia yang akan ramai di bulan Juli 2009 nanti.
May 31, 2009 02:11PM

442 sepakat Yusuf, sampul edisi kali ini apik.
442 Sudah ada yang mengulas dari sisi sastranya maupun politisnya, mulai dari Apsanti Djokosujatno, A Teuw, Daniel Mahendra, Hong Liu, dll.

Daftarnya aku coba susun di bawah ini:
Membaca Katrologi Bumi Manusia - Apsanti Djokosujatno
Pramoedya Ananta Toer dan Manifestasi Sastra - Daniel Mahendra
Saya Terbakar Amarah Sendirian - Andre Vitchek
Pramoedya Ananta Toer dan Sastra Realisme Sosialis - Eka Kurniawan
Pram dan Cina - Hong Liu
May 11, 2009 03:30AM

442 Mengenang 3 tahun meninggalnya Pramoedya Ananta Toer, Lentera Dipantara mulai menerbitkan kembali buku-buku Pramoedya. Setelah menerbitkan kembali Seri Tetralogi pada 2006, awal Mei ini Lentera Dipantara kembali menerbitkan AROK DEDES.

Berbarengan dengan momen ini pula, KPG menerbitkan buku BERSAMA MAS PRAM, buku yang mengungkap sisi-sisi kehidupan Pramoedya Ananta Toer yang jarang diketahui umum, yang ditulis oleh adik2 Pram sendiri.

Kami harap kehadiran 2 buku ini bisa melengkapi dan mengembalikan kenangan dan kebanggaan atas Sang Sastrawan.

salam,
Lentera Dipantara
442 Data Buku
• Judul: Bersama Mas Pram: Memoar Dua Adik Pramoedya Ananta Toer • Penulis: Koesalah Soebagyo Toer dilengkapi Soesilo Toer • Penerbit: KPG, Jakarta, 2009 • Tebal: 505 halaman (termasuk lampiran)

SEBAGAI karangan yang banyak bertumpu pada ingatan, memoar adalah ragam karya yang bergerak di antara dua kutub: sejarah dan sastra. Jika ingatan itu ditopang sekaligus dijaga ketat oleh catatan kejadian nyata, disusun mengikuti arus waktu yang bergerak lurus kronologis, karangan itu akan menjadi biografi atau otobiografi penting.

Jika ingatan tak harus tunduk sepenuhnya pada catatan ketat kejadian sejarah dan karangan disusun tak harus mengikuti aliran waktu yang lurus, tak jarang bahkan membiarkan diri terseret oleh arus kesadaran yang berkelok-kelok, karangan itu bisa menjadi novel besar.

Memoar ini memang disusun mengikuti arus waktu linier, tetapi terasa agak menjauh dari ”riwayat hidup” Pramoedya Ananta Toer yang ”seharusnya” menjadi pusat cerita dari awal hingga akhir. Pram memang tampil juga dalam karangan ini, tetapi cukup sering ia hadir agak jauh di latar belakang. Kita harus menempuh sekitar 100 halaman untuk sampai pada momen penting yang bisa mengoreksi, setidaknya memperkaya, pemahaman kita tentang Pram.

Momen-momen penting itu, antara lain, pertemuan Pram dengan ayahandanya yang sekarat, tekadnya membangun kembali rumah warisan yang telantar, atau pilihannya pada keris pusaka ayahandanya saat terjadi pembagian warisan.

Buat saya, kisah kecil itu mengubah kesan tentang Pram yang pendendam, yang tak bisa melupakan perlakuan ayahnya yang menyakitkan karena menganggap dia dungu dan harus mengulang sekolah. Kesan pendendam ini mencuat dalam prosa awal Pram sendiri, yang kemudian banyak dikutip dan disebarkan sejumlah pengkaji Pram.

Kisah kecil lain, seperti tekad Pram menyekolahkan adik-adiknya dan merawat yang sakit, kegundahannya menumpang sementara di rumah adik ipar yang kurang ia sukai, menunjukkan Pram, meski punya cita-cita kebangsaan besar, memang hanya manusia biasa saja yang tak perlu ditakuti. Maka, memang ada yang luar biasa ganjil jika pemerintah resmi negara besar yang punya angkatan bersenjata paling kuat di Asia Tenggara begitu takut kepada seseorang sehingga ia harus dicurigai dan diawasi terus dan seluruh karyanya digolongkan terlarang.

Pisau lipat

Cerita tentang Pram yang sempat membawa pisau lipat ke tempat kerja, prinsipnya untuk harus selalu menang dalam perdebatan, dan bahwa kepentingan bangsa lebih tinggi daripada kepentingan keluarga dan anak, semua ini mempertegas apa yang dengan mudah kita temui pada karya sastranya: ketangguhan tak tertandingi dalam memperjuangkan sesuatu yang dianggap berharga dan kesediaan menanggung seluruh akibat dari perjuangan tersebut.

Membaca memoar dua adik Pram ini dan mengingat apa yang telah diberikan Pram kepada bangsanya, kita memang bisa kecut melihat ketimpangan yang mencolok mata itu. Pram telah mempersembahkan begitu banyak buat bangsanya dan begitu sedikit yang dia peroleh.

Dari Pram, kita memperoleh karya yang bisa membangunkan pembaca menyadari sisi kelam masyarakat sembari menghamparkan wawasan sejarah dan dunia rasional buat bangsa belia yang tengah menjadi. Jika Raja Ali Haji dengan karya sastranya, misalnya, bisa diperjuangkan menjadi pahlawan nasional, Pram dengan anak-anak rohaninya jelas sangat layak (kalau bukannya lebih) juga dihormati sebagai putra terbaik bangsa.

Sambil menunggu berubahnya sikap resmi pemerintah terhadap Pram, saya membayangkan ada penulis yang bekerja mengolah lagi dengan sungguh-sungguh memoar setebal 500 halaman ini. Bahan yang disajikan bisa tumbuh menjadi novel bagus, di mana Blora bisa menjadi sejajar dengan Combray (Marcel Proust), Yoknapatawpha (William Faulkner), atau Macondo (Gabriel Garcia Marquez). Bedanya, Combray, Yoknapatawpha, atau Macondo adalah tempat fiktif meski mengambil ilham dari tempat nyata, sementara Blora sepenuhnya tempat yang benar-benar nyata.

Buat saya, Mastoer Imam Badjoeri, ayahanda Pram bersaudara itu, menduduki posisi yang agak mirip dengan Jose Arcadio Buendia dalam Seratus Tahun Kesunyian. Tentu saja Jose Arcadio Buendia, yang lahir dari tangan seorang tukang cerita piawai pemenang Hadiah Nobel, akan terasa lebih mencengangkan dibandingkan Mastoer. Tetapi, ada pola yang mirip di antara kedua kepala keluarga ini.

Memang, Mastoer tak membangun permukiman baru surgawi, yang ia namakan dengan kata yang tak pernah ia dengar sebelumnya, yang tak punya arti sama sekali, sebuah gema adikodrati dari mimpinya. Tetapi, Mastoer juga adalah seorang patriarkh yang melalui masa mudanya sebagai seorang penuh semangat, pekerja keras yang setia pada impiannya—membangun pendidikan dan menyebarkan pengetahuan ilmiah di kalangan pribumi yang tertinggal dan tertindas. Jika Jose Arcadio Buendia menjalani masa tuanya sebagai patriarkh linglung dan bertahun-tahun terikat pada pohon chestnut raksasa di halaman, Mastoer menghabiskan masa akhir hidupnya sebagai kepala sekolah yang kecewa, penjudi tangguh, sebelum akhirnya terpacak di tempat tidur dengan paru-paru remuk dimakan TBC.

Kisah Mastoer dan sejumlah tokoh kecil dalam memoar ini membuat saya sadar bahwa cara baca yang suntuk mencari Pram ternyata keliru. Pembacaan yang terpaku pada Pram, yang diarahkan judul memoar ini, mencegah saya larut sepenuhnya sejak dari halaman pertama. Buku ini harusnya dibaca tanpa perhatian yang memusat pada satu tokoh. Ia mesti dibaca dengan keterbukaan yang setara pada semua karakter yang muncul. Pram memang tokoh yang sangat menarik, tetapi buku ini menghidangkan sesuatu yang lebih kaya ketimbang ingatan pada seorang sosok istimewa.

Pada akhirnya, buku tebal ini adalah cerita tentang keluarga dengan anggota yang bergerak mencapai impian masing-masing, menanggapi zaman yang kadang bergejolak di luar kendali, dan kadang berselisih karena sejumlah hal yang mungkin penting mungkin sepele. Mereka menempuh berbagai gerak turun dan naik zaman yang berlalu, dari zaman kolonial Belanda hingga sekarang. Terbawa arus waktu tak menentu, keluarga dengan patriarkh yang begitu peduli pada pendidikan bangsanya itu dihantam prasangka umum dan gejolak politik: hampir separuh anak sang patriarkh dituduh sebagai musuh negara. Tetapi, keluarga yang guncang dan terburai terjangan sejarah ini pelan-pelan berusaha menyembuhkan diri sembari membela dan meraih kembali martabatnya yang terampas.

Kisah keluarga Blora dengan segenap warnanya yang tak semua amat memikat ini adalah juga kisah orang-orang Indonesia—kisah yang mirip dengan yang dialami ribuan keluarga di Tanah Air. Setidaknya, kisah dengan pola seperti ini mungkin terjadi pada keluarga yang beberapa anggotanya punya nalar yang bermimpi kelewat aktif, mimpi tentang revolusi yang dapat mengubah nasib bangsanya dengan cepat. Sayangnya, mimpi itu tertabrak berbagai mimpi lain yang mungkin saja tak kalah aktifnya, tetapi telah diracuni berbagai prasangka dan kepicikan kolektif.

* Nirwan Ahmad Arsuka, Penulis Esai

Sumber: Kompas, Minggu, 10 Mei 2009
442 Duniaku bukan jabatan, pangkat, gaji, dan kecurangan.

Duniaku bumi manusia dengan segala persoalannya

(Rumah Kaca: hlm. 38)

Pada sore 6 Februari 2009 yang bergerimis ritmis, sampailah saya di Jl Sumbawa 40, Jetis, Blora. Di sepanjang perjalanan dari Jombang, saya terus terusik, apa yang membuat Pramoedya Ananta Toer tak pernah lekang dikenang dan tiada surut ditelusuri banyak orang, terutama kaum pramis dan kawula pergerakan? Novel-novel Pram, seperti Derap Sepur, berlelayapan di benak saya. Saat tiba, panggung telah ramai dengan sejumlah pergelaran festival musik. Saya melangkah ke depan pagar rumah Pram yang berplakat: Sumbawa 40, perpustakaan Pataba. Di dalamnya memang terdapat dua rumah yang bersambung dengan perpustakaan peninggalan Pram itu. Dengan deklit biru sederhana, di sampingnya dibentangkan spanduk bertulisan: Selamat Datang Kawan-kawan di Acara: 1000 Wajah Pram dalam kata & Sketsa. Peringatan seribu hari meninggalnya Pram itu digelar 1-7 Februari 2009.

Para perupa Jogja Joko Pekik dkk (Hari Budiono, Samuel Indratma, Bambang Heras, dan Suatmaji), juga ikut meramaikan acara itu dengan melukis bareng ihwal sosok Pram. Para pengunjung dan pengagum Pram juga dipersilakan menuangkan apresiasinya di kanvas. Di tengah-tengah kerumunan penonton itu, Ilham J. Baday dan Salabi dari Komunitas Arek Museum Surabaya, menampilkan performance art dengan judul ''Abandoned''. Pada puncak acara diluncurkan buku Bersama Mas Pram karya Koesalah dan Seosilo Toer terbitan KPG Jakarta. Lalu dilanjutkan diskusi bertema ''Kisah dan Pemikiran Sastrawan Tierra Humana" dengan pembicara: Koesalah Soebagyo Toer, Ajib Rosyidi, Jusuf Suwadji, dan Sindhunata. Dan, acara dipungkasi dengan pergelaran wayang kulit berjudul Begawan Ciptoning dengan dalang Tristuti Rahmadi.

Bagaimanakah kita sekarang menatap sosok Pram dengan segala kerumuk problematiknya? Mengenang Pram adalah mengenang pahit-getir dan merahnya semangat perjuangan yang tersemat dalam batin dan karya-karyanya. Hidup, bagi Pram, memanglah hanya selangkah dari kematian. Terasa demikian dekat di tenggorokan ketika 14 tahun di penjara Pulau Buru. Pernah suatu hari ia berwasiat: ''Kalau aku mati, jangan bikin apa-apa, jangan didoain, langsung saja bawa ke krematorium. Bakar di sana. Abunya bawa pulang. Mau dibuang juga terserah. Tapi kalau bisa, wadahi, dan taruh di perpustakaanku..."

Ini merupakan cuplikan dari Martin Alieda dalam buku bunga rampai berjudul Pramoedya Ananta Toer: 1000 Wajah Pram dalam Kata dan Sketsa (Jakarta: Lentera Dipantara, 2009). Buku tersebut memuat karya 68 penulis. Mulai esai, puisi, dan catatan kenangan.

Mengenang Pram adalah mengenang sosok yang kontroversial dalam panggung kesusastraan Indonesia. Yang terpanas adalah ketegangan antara aktivis Lekra (termasuk Pram) dengan eksponen Manikebu. Juga perselisihan, secara pribadi antara dia dengan HB Jassin. Antara guru dengan murid. Kita bisa teringat saat-saat awal Pram mengajukan beberapa karyanya ke Jassin namun ia mengacuhkannya. Paham humanisme universal Jassin terasa kian padat dan tidak membumi di mata dan realitas Pram yang humanis sosialis. Dalam surat-menyurat yang penuh genting antar keduanya, Pram pernah menulis begini kepada Jassin (28 Desember 1963), ''Begitulah, ajaranmu tidak cocok dengan perbuatanmu. Aku masih ingat pada suatu tahun waktu kau terbalik dari sebuah becak. Ingat kau apa kataku? Kau menderita bukan karena terbaliknya becak itu, tetapi kerubuhan dagingmu sendiri.''

Sementara, persepsi buruk (mungkin iri) atas karya dari pengarang Idrus, terekam lekat sebagaimana dalam film dokumenter Pram yang diproduksi Yayasan Lontar. Di film itu Pram bercerita bahwa suatu hari ia berkunjung ke Balai Pustaka, sebelum ia menjadi anggota redaksi di sana. Waktu itu Idrus ada di situ, tapi ia belum kenal Pram. Setelah berjabat tangan, Idrus tampak terheran campur sinis dan berucap, ''O, ini Pram? Kau tidak menulis Pram, kau berak!'' Meski begitu, hingga akhir hayatnya, Pram tetap menganggap Idrus sebagai guru besar dan pengarang yang punya stylist yang baik.

Selain dari sekitar 40-an lebih novelnya, Pram juga menulis catatan harian. Riwayat diri menjadi hal berharga untuk terus mengasah daya tahan menulis, ingatan, juga perkara-perkara remeh. Dalam satu kesempatan ia berkata, ''Kau sendiri tahu, bahwa sudah sejak kecil aku mengisi diary, dan pada tahun 1947 disita oleh NICA, dari tangan seorang bekas sersan bawahanku, Sugiarto, di pos penjagaan NICA di Bekasi, dan diary itu juga yang membikin dia meringkuk di penjara Glodok selama beberapa bulan.''

Peristiwa pahit itu tidak mematahkan gelora batin dan api hidupnya. Catatan hariannya pada 9 Februari 1982 menilaskan,''Sejak di SD kubiasakan membikin catatan. Jilid demi jilid buku catatan harian itu binasa karena kejadian-kejadian besar --force majeur. Tak tahu aku besok atau lusa juga binasa atau tidak. Sore ini Bung Jassin menganjurkan bikin catatan. Kucoba kembali.

Baginya, daya revolusi yang ia yakini benar, bahkan untuk hal yang teremeh sekalipun, adalah suatu keniscayaan untuk diperjuangkan sampai mati. Ini membutuhkan tekad baja dan telah teruji di mana di sepanjang hidupnya ia banyak diteror musuh-musuhnya dan dinistakan oleh negara di masa Orla maupun Orba. ''Keberanian itu bukan anugerah, tapi hasil latihan hidup sehari-hari. Keberanian itu sama seperti otot manusia. Kalau tidak dilatih, dia akan jadi lemah. Dalam hidup ini, kita menghadapi banyak tantangan. Jangan lari, hadapi semuanya. Itu cara melatih keberanian,'' begitulah prinsip Pram.

Menilai Pram tidak mesti digebyah-uyah sebagai jimat bertuah atau situs purba beserta karya-karyanya. Tapi yang pasti, ia adalah ''api inspirasi'' bagi siapa pun, terutama kaum muda. Seperti bagi Najib Hermani dan Muhidin M. Dahlan yang mendedikasikan peluh mereka sekian tahun pada penerbit Lentera Dipantara; Eko Arifianto dan Ex Mahardana Wijaya di Blora dan Randublatung bersama Komunitas Pasang Surut, Mataba, SuperSamin, Front Blora Selatan, Anak Seribu Pulau, Rapala, Tugu United, Arsumpala, Lidah Tani, Komunitas Rukun Tani, Roedal Revolt, Kolektif Reaksi, Yayasan Mahameru, LPAW, dan Paguyuban Penghayat Kepercayaan; juga komunitas dan grup musik punk Marjinal yang dimotori Mikael Isrofil dari Jakarta.

Mengenang pram, kini dan mendatang, adalah mengenang si pengendara badai yang melayari cakrawala pikiran dan lelangkah generasi mendatang dengan berpijak pada kejujuran, keberanian, dan kecintaan akan ''bumi manusia'' ini. Setelah dimakamkan di Karet Bivak, Pram bukan lagi sebagai cerita, namun sebentang nyanyi ''darah juang'' dalam labirin kisah yang bergerak dari waktu ke waktu, seperti lirik syair ''Riders on The Storm''-nya Jim Morison ini: Riders on the storm/ Into this house we're born/ Into this world we're thrown/ Like a dog without a bone/ An actor out alone/ Riders on the storm...(*)

Sumber: Jawa Pos [ Minggu, 15 Februari 2009:]
Feb 12, 2009 06:29PM

442 Usai sudah perayaan selama 7 hari berturut-turut (1-7 Februari 2009) peringatan seribu hari sastrawan terkemuka Pramoedya di Blora, tanah kelahirannya.

Untuk melengkapinya, Lentera Dipantara yang dipimpin anak Pram menerbitkan buku baru berjudul 1000 Wajah Pram dalam Kata dan Sketsa, berisi (hampir) seluruh dokumentasi menarik akan pribadi Pramoedya Ananta Toer.

Berikut data bukunya:
Judul: 1000 Wajah Pram dalam Kata dan Sketsa
Editor: Astuti Ananta Toer
Layout: Tim Lentera Dipantara
Cetakan pertama, Januari 2009
Halaman: 504
Taut di Goodreads: http://www.goodreads.com/book/show/62505...
Jan 27, 2009 07:12PM

442 SERIBU WAJAH PRAM
“Membumikan Pemikiran Sastrawan Tierra Humana”
Blora, 1-7 Februari 2009


Kita Bisa Berbuat Apa untuk Bumi dan Manusia?

Komunitas Pasang Surut Blora akan menggelar kegiatan memeringati 1000 hari meninggalnya sastrawan asal Blora, Pramoedya Ananta Toer, bertema “Seribu Wajah Pram dalam Kata dan Sketsa”. Kegiatan itu akan berlangsung di Jalan Sumbawa 40 Jetis Blora pada 1-7 Februari 2009, dengan aneka kegiatan, seperti pameran foto dan lukisan, instalasi sampah, performance art, teater, diskusi, pemutaran film, pertunjukan wayang kulit, dan festival musik.
“Seribu Wajah Pram dalam Kata dan Sketsa” mau mengungkap pergulatan batin dan pemikiran Pram melalui media foto, lukisan, puisi, dan instalasi. Berbagai media itu merupakan “buku bacaan” yang dapat dibaca lembar demi lembar, sehingga berbagai emosi, ekspresi, dan kekhasan Pram, terpancar di hadapan “pembacanya”.

“Seribu Wajah Pram dalam Kata dan Sketsa” mau menggulirkan pula berbagai pemikiran dan aneka pengalaman Pram yang belum pernah terungkap di permukaan. Semua termaktub dalam gelindingan kisah pengalaman kedekatan adik-adik dan teman Pram, puisi-puisi dari sejumlah penyair, dan esai-esai sejumlah penulis pengagum Pram.

Akhirnya, “Seribu Wajah Pram dalam Kata dan Sketsa” bertumpu pada sebuah gerakan kecil dan keinginan membumikan pemikiran sang sastrawan tierra humana (bumi manusia). Melalui berbagai tulisan dan kesaksian hidupnya, Pram selalu tidak bisa melepaskan bumi, sebagai tanah kelahiran yang mengandung aneka sumber daya alam dengan berbagai persoalannya.

Di sisi lain yang saling bertautan, Pram selalu menyinggung soal manusia, sang lakon utama yang hidup di bumi sekaligus mempunyai tanggung jawab atasnya. Hakekat dan persoalan tentang manusia juga tak lepas dari Pram.

HB Yasin dalam pengantar “Percikan Revolusi Subuh” mengatakan Pram sangat jeli melukiskan manusia dan kemanusiaan dalam kata-kata. Pram kerap bertanya tentang apa kebebasan itu? Apa siksaan? Apa keadilan bagi rakyat jelata? Bagaimana perjuangan cita-cita dan perut? Apa itu persahabatan? Apa itu keluarga?
Pram secara dekat menelanjangi manusia berdasarkan pengalaman hidupnya. Manusia diperlihatkan dalam kesungguhannya, kepalsuannya, kekuatannya, kelemahannya, dan keseluruhannya.

Profesor Universitas Leiden, Belanda, A Teeuw, dalam Modern Indonesia Literature (1967) mengatakan pemikiran Pram tentang Tierra Humana memuncak dalam cerpennya yang berjudul “Kemelut”. Ia berbicara tentang Tuhan yang bisa dikantongi (The God who can be pocketed) dan Tuhan yang ada di atas langit (The God above the Skies).

Tanpa tedeng aling-aling, Pram melontarkan kritik bagi manusia sekarang. Mereka lebih memilih barang berharga dan uang, ketimbang sesamanya yang menderita dan bumi yang menghidupnya. Mereka tak lebih dari manusia yang men-tuhan-kan barang dan uang.

Untuk itu, melalui “Seribu Wajah Pram dalam Kata dan Sketsa”, Komunitas Pasang Surut ingin mengajak setiap orang merenungkan kembali tentang bumi dan manusia dengan beragam persoalannya. Sebuah ajakan tanpa paksaan… KITA BISA BERBUAT APA untuk bumi dan manusia yang sedang sakit di tengah pasang surut hidup kita?

Rencana Agenda Kegiatan “1000 Wajah Pram dalam Kata & Sketsa”
“Membumikan Pemikiran Sastrawan Tierra Humana”
Jl. Sumbawa 40 Jetis Blora, 1-7 Februari 2009

Minggu, 1 Februari 2009
09.00-09.30 Pembukaan Acara
09.30-10.00 Performance Art “Tierra Humana-Bumi Manusia”
10.00-12.00 Penanaman 1000 bibit jati di pinggir hutan kota dan taman Tirtonadi Blora
12.00-22.00 Pameran foto, lukisan, poster, instalasi seni dan cover buku karya Pramoedya terjemahan dari berbagai bahasa

Senin, 2 Februari 2009
09.00-22.00 Pameran foto, lukisan, poster, instalasi seni dan cover buku karya Pramoedya terjemahan dari berbagai bahasa

Selasa, 3 Februari 2009
12.00-22.00 Pameran foto, lukisan, poster, instalasi seni dan cover buku karya Pramoedya terjemahan dari berbagai bahasa

Rabu, 4 Februari 2009

12.00-22.00 Pameran foto, lukisan, poster, instalasi seni dan cover buku karya Pramoedya terjemahan dari berbagai bahasa

Kamis, 5 Februari 2009
12.00-22.00 Pameran foto, lukisan, poster, instalasi seni dan cover buku karya Pramoedya terjemahan dari berbagai bahasa
19.00-22.00 Diskusi antar komunitas peduli lingkungan: Porong Sidoarjo, Kulon Progo, Juwana, Rembang, Pati, Randublatung, Blora

Jumát, 6 Februari 2009
12.00-22.00 Pameran foto, lukisan, poster, instalasi seni dan cover buku karya Pramoedya terjemahan dari berbagai bahasa
13.30-18.00 Festival Musik “Sahabat-Sahabat Pram”: Marjinal (Jakarta), Dendang Kampungan (Jogja), Anak Seribu Pulau (Blora), Gagego, Lesbumi (Pati), serta Aditya (cucu Pram) berjudul “Anak Tumpah Darah” karya Pramoedya Ananta Toer dan “Lagu buat Pram” karya Eros Jarot
19.00-22.00 Pemutaran film-film dokumenter, seperti “Interview dengan Pram” dan lain-lain serta srawung antar komunitas

Sabtu, 7 Februari 2009
12.00-22.00 Pameran foto, lukisan, poster, instalasi dan cover buku karya Pramoedya terjemahan dari berbagai bahasa
14.00-15.30 Pertunjukan Reog dari desa Sumber kecamatan Kradenan, Blora
15.30-16.00 Teatrikal Sangkur Timur (Semarang) dengan judul P.A.T.
16.00-16.30 Drama dari SMA N 1 Randublatung berjudul “Perlawanan Rakyat Tepi Hutan”
16.30-17.30 Performance Joko Pekik “Melukis 1000 Wajah Pram”
19.00-19.30 Pentas Karawitan Bocah Cilik Randublatung
19.30-20.00 Peluncuran Buku “Bersama Mas Pram” karya Koesalah dan Soesilo Toer, terbitan KPG yang diwakili Candra Gautama . Dilanjutkan dengan penyerahan 10 buah buku sebagai hadiah kepada beberapa tokoh, seperti Bupati Blora, Pak Soes sebagai tuan rumah, Mbak Titik sebagai wakil dari keluarga Pram, wakil panitia acara dan Perpustakaan Daerah Kab. Blora.
20.00-22.00 Ngobrol bareng “Kisah dan Pemikiran Sastrawan Tierra Humana” dengan moderator Soesilo Toer. Pembicara Tamu: Koesalah Soebagyo Toer, Taufiq Ismail, Ayip Rosidi, Jusuf Soewadji, dimungkinkan Joko Pekik, Tristuti dan Sindhunata turut nimbrung.
22.00-selesai Pagelaran Wayang Kulit oleh dalang Tristuti dengan lakon “Begawan Ciptaning”

Blora, 22 Januari 2008
Salam, Koko'

Untuk informasi lebih lanjut bisa menghubungi:
Komunitas Pasang Surut
Sekretariat: Jl. Sumbawa No 40 Jetis, Blora, Jawa Tengah
Contact Person: Koko'(081328775879), Soesilo Toer (0296-510033)
Jan 13, 2009 01:56AM

442

Pramoedya Ananta Toer, sastrawan besar kelahiran Blora, Jawa Tengah, 6 Februari 1925, anak tertua dari M. Toer, kepala sekolah Institut Boedi Oetomo ini semasa hidupnya banyak melahirkan karya brilian: tulisan berbentuk artikel, puisi, cerpen maupun novel, hingga melambungkan namanya sekelas dengan para sastrawan dunia seperti Gunter Grass (Jerman), Albert Camus, Jean-Paul Satre (Perancis), Multatuli (Belanda), John Steinbeck (Amerika), Rabindranath Tagore (India), Gao Xinjian (Cina), Gabriel Garcia Marquez (Kolombia), maupun Jose Saramago (Portugis).

Sosok yang diidentikkan sebagai tokoh demokrat sejati dan pejuang penegakan hak asasi manusia ini pada tahun 2002 pernah dinobatkan sebagai “Pahlawan Asia” oleh majalah Time Singapore. Memang, beliau semasa hidupnya sangat produktif dalam menulis. Berbagai penghargaan pernah diberikan padanya, beberapa di antaranya adalah dari UNESCO, The Wertheim Foundation (Belanda), Ramon Magsaysay Award Foundation (Filipina), University of Michigan, University of California (AS), Le Ministre de la Culture et de la Communication Republique Francaise (Perancis) hingga Fukuoka Cultural Grand Prize (Jepang).

Seperti tulisannya, perjalanan hidupnya pun penuh liku dan kelokan terjal. Sebagian dari naskah-naskahnya banyak yang hilang di tangan penerbit, dirampas oleh Belanda, dibakar oleh Angkatan Darat dan dilarang oleh Jaksa Agung sewaktu pemerintahan Orde Baru. Bahkan, hampir separuh hidupnya dihabiskan dalam penjara dalam perjuangannya untuk kemanusiaan. Ia pernah ditahan dari penjara ke penjara: 3 tahun dalam penjara Kolonial, 1 tahun di Orde Lama, dan 14 tahun di Orde Baru, diasingkan ke Pulau Buru, Magelang dan Semarang, hingga pada tahun 1979 dinyatakan bebas tanpa proses pengadilan dan dinyatakan tidak bersalah.

Saat ini, tidak semua orang tahu, bahwa sosok kelahiran kota yang dikelilingi bukit kapur, jati dan minyak bumi dengan para pejabatnya yang korup ini sudah sangat mendunia. Buku-buku hasil karyanya sampai saat ini sudah diterjemahkan dalam 42 bahasa, bahkan di Malaysia, Jepang dan Belanda menjadi bacaan wajib bagi siswa sekolah.Walau di luar negeri namanya begitu terkenal namun ironisnya tak banyak mendapat nama baik di kota kelahirannya: Blora, hingga maut menjemputnya di Jakarta, 30 April 2006 silam.

Untuk itu dalam rangka memperingati 1000 hari meninggalnya beliau, tanggal 1-7 Februari 2009 rencana kami bersama kawan-kawan komunitas akan mengadakan acara yang berjudul “1000 Wajah Pram dalam Kata & Sketsa” bertempat di rumahnya di Jl. Sumbawa 40 Jetis Blora.

Sebagai bentuk penghargaan terhadap konsekwensi perjuangannya, kami berencana menyelenggarakan pameran lukisan dan membuat sebuah buku kecil semacam bunga rampai yang berisi kumpulan cerita, pendapat, kesan, maupun pengalaman dari kawan-kawan tentang penulis yang beberapa kali menjadi Kandidat Pemenang Nobel Sastra ini.

Kawan-kawan yang berminat bisa mengirimkan tulisan berbentuk essay, artikel, cerpen, maupun puisi. Diketik maksimal 2 halaman. Pengiriman tulisan paling lambat tgl.15 Januari 2009 ke email: supersamin_inc@yahoo.com. Sedangkan lukisan/ poster/ foto/ stensil bisa dikirim langsung ke sekretariat Jl. Sumbawa 40 Jetis Blora atau via email dalam format JPEG paling lambat 20 Januari 2009.

Semoga melalui langkah kecil pendokumentasian ini bisa memberikan sesuatu yang lebih baik bagi perkembangan bangsa dan kemanusiaan di masa mendatang.

Rencana manual acara:
-Pameran lukisan/ poster/ foto dan cover buku karya Pramoedya Ananta Toer terjemahan dari berbagai bahasa.
-Apresiasi seni dan budaya
-Pemutaran film dan diskusi bersama

Acara ini didukung oleh Lentera Dipantara dan Keluarga Besar Pramoedya Ananta Toer. Untuk pengiriman karya dan informasi lebih lanjut bisa menghubungi:

Komunitas Pasang Surut
Sekretariat: Jl. Sumbawa 40 Jetis Blora Jawa Tengah
Kontak person:
Bpk. Soesilo Toer Telp. (0296) 5100233
Koko' HP. 081328775879
Email: supersamin_inc@yahoo.com
Blog: http://1000wajahpram.blogspot.com
442 Teman-teman, ini info terbaru yang aku dapat.

Garin Nugroho mundur jadi sutradara Bumi Manusia. Sebagai gantinya, produser Dedi Mizwar memilih Hanung Bramantyo untuk membesut film Bumi Manusia ini.

Target release tetap sama: pertengahan 2009.
442 aih aih para pramis ternyata enggan berdialog/tukar ilmu
442 Sisi lain dari buku ini... hmmm.... Setelah membaca buku ini, saya bersepakat dengan bung Pram untuk lebih memakai kata “Hoakiau” atau overseas Chinese daripada kata “Cina” maupun “Tionghoa.”

“Tionghoa” atau “Zhonghua” artinya “orang (kerajaan) Tengah. ” Zhongguo" adalah nama Republik Rakyat Tiongkok dalam bahasa Mandarin. Nama “Cina” berasal dari kata dinasti Cin. Namun “Cina” resmi dimaksudkan untuk menghina pada zaman Presiden Soeharto. “Hoakiao” (padanannya “Huaren” maupun “Huayin”) lebih cocok untuk dipakai sehari-hari. Novelis Pramoedya Ananta Toer memakai kata “Hoakiao” dalam bukunya Hoakiau di Indonesia. Saya kira panggilan “Hoakiao” lebih cocok walau saya tak kaku pada pemakaian “Cina” maupun “Tionghoa.”

Leo Suryadinata dalam buku The Culture of the Chinese Minority in Indonesia membuat dua kategori orang Hoakiau: peranakan dan totok. Dua kategori ini mulai muncul pada awal abad XX ketika migrasi orang Cina ke Jawa meningkat.

Menurut Suryadinata, kaum peranakan atau babah kebanyakan tak menguasai bahasa etnik mereka, entah Hokkian, Hakka atau Teochiu. Ada sedikit yang bisa bahasa Mandarin. Mereka mengirim anak-anaknya ke sekolah dengan kurikulum Belanda. Orientasi kewarganegaraannya Belanda. Mereka bekerja sebagai profesional, dokter, arsitek, penulis dan sebagainya.

Yuri Slezkine mungkin bisa membantu menerangkan fenomena Hoakiau. Slezkine cendekiawan Rusia, dosen University California at Berkeley. Dia menulis buku The Jewish Century, tentang etnik Yahudi, yang diganyang di Eropa sejak akhir abad XIX, lalu melakukan migrasi besar-besaran ke negara lain. Analisisnya, bisa diterapkan pada minoritas lain seperti pada Hoakiau di negeri ini.

Slezkine menulis bahwa orang Yahudi hidup dalam suatu masyarakat dengan pekerjaan-pekerjaan tertentu, dengan cara hidup tertentu pula, yang menimbulkan sentimen dari masyarakat sekitarnya. Namun orang Yahudi tak sendirian. Di dunia ini, di berbagai tempat dan waktu berbeda, selalu ada kelompok, yang secara eksklusif menyediakan jasa untuk masyarakat di sekitarnya. Mereka termasuk Roma-Gypsi di Eropa, orang Fuga di Ethiopia, Sheik Mohammadi di Afghanistan, etnik Armenia, orang India di Afrika Timur, etnik Lebanon di Afrika Barat dan Amerika Latin serta Hoakiao di Asia Tenggara.

Slezkine menyebut mereka, kaum "Mercurian," sebagai lawan kata dari apa yang disebutnya, "Apollonian.” Dalam kepercayaan Romawi, Apollo adalah dewa pertanian dan peternakan. Masyarakat Apollonian utamanya petani, plus ksatria dan ulama, yang hidup dengan cara mengatur akses para petani tadi ke tanah dan surga. Mercuri adalah dewa para pengembara, pedagang, penterjemah, tukang, penunjuk jalan, pengobat dan semua pelintas batas. Kaum Mercurian adalah kelompok etnik yang tak terlibat produksi makanan. Mereka hidup dengan menyediakan jasa kepada kaum Apollonian. Zaman dulu, masyarakat Apollonian menganggap ada pekerjaan yang berbahaya atau kotor, untuk dikerjakan warga mereka sendiri. Contohnya, berhubungan dengan negeri asing; mengatur uang; mengobati orang sakit; bekerja dalam penempaan logam misalnya. Semua ini adalah kemahiran kaum Mercurian. Para pengembara kebanyakan mulai sebagai tukang. Kakek buyut Slezkine adalah tukang besi Yahudi.

Kaum Mercurian sering pindah tempat. Mereka memahami pentingnya menguasai bahasa-bahasa. Kaum Apollonian memandang Mercurian berbahaya, kotor dan asing. Kaum lelakinya bukan ksatria, jarang ikut perang. Kaum perempuannya dianggap cantik namun juga genit, menggoda. Makanan mereka berbeda. Mereka hanya membeli, menjual dan kemungkinan mencuri, barang maupun ide. Mereka dibenci dan puncak kebencian terhadap kaum Mercurian adalah Holocaust –pembunuhan lebih dari enam juta orang Yahudi di Jerman oleh rezim Adolf Hitler. Penjagalan manusia terbesar dalam dunia modern saat Perang Dunia II.

Holocaust bikin jutaan orang Yahudi lari dari Eropa. Slezkine menyebut tiga tujuan utama: Palestina dimana mereka mendirikan negara Israel; Amerika Serikat dimana ada nasionalisme liberal non-etnik; dan Uni Soviet dimana ada komunisme –dunia tanpa kapitalisme dan nasionalisme. Semua berhasil dengan variasi masing-masing. Kaum Yahudi lantas jadi lambang dari penganyangan massal sekaligus kesuksesan.

Slezkine menyebut Mercurian berhasil karena sudah lama sekali jadi kaum urban, melek sastra, artikulatif dan secara pekerjaan fleksibel. Mereka mementingkan akal sehat, keuletan, kebersihan, melintasi batas serta memilih “memelihara” hubungan dengan orang daripada memelihara ternak. Inilah tuntutan abad XX.

“Hari ini kita semua diharapkan jadi orang Mercurian,” kata Yuri Slezkine. Saya kira, barisan Mercurian ini bertambah di Indonesia dengan pendatang Madura di Kalimantan, orang Jawa di Sumatra, perantau Bugis, Buton, Makassar di Maluku atau orang Rote di Pulau Timor.

Saya terus terang terkesan pada review Nanto Sriyanto dan dengan ini menggarisbawahi review mas nanto yang menyatakan buku ini bukanlah an sich mempersoalkan Hoakiau di Indonesia sebagaimana judulnya, tetapi persoalan ruang untuk dialog perbedaan pendapat dan etika untuk menjawab perbedaan itu dengan pendapat yang wajar. Mampukah kita membangun dialog semacam itu?
Mar 27, 2008 11:26PM

442 saya ada mas nanto. nanti saya scan... bisa sabar tunggu sampai senin?

aMang
442 sepakat. aku rasa keberhasilan adaptasi novel ke pentas drama kemarin adalah keteguhan penulis naskah skenario untuk tetap memakai kata-kata yang ada dalam novel "bumi manusia". Nah, di film ini, Jujur Prananto dipasang sebagai penulis skenario film, semoga dia mau tetap mempertahankan karakter tokoh2 menyerupai roh yang ada di dalam novel pram.

442 waktu nonton pementasan teater Nyai Ontosoroh, kayaknya pilihan gue jatuh ke Happy Salma. Semoga Garin berpikiran sama, kan dia ikutan nonton juga.
Sep 17, 2007 04:20AM

442 cara yang paling gampang sih ke palasari (moga-moga tidak semua tempat jadi korban kebakaran). atau belanja online di inibuku.com atau bukabuku.com ... cari ke kategori penerbit: lentera dipantara. semoga bermanfaat.
442 yang beredar isunya malah beda tuh. bukan julia estelle, tapi tokoh Anellies akan diperankan oleh Mariana Renata
442 nggak soal siapa yang akan memfilmkan novel pramoedya. dulu juga pernah terdengar Oliver Stone mau memfilmkan novelnya pak pram... semua terdengar bagus asal benar-benar terealisasikan. yang penting kan karyanya pak pram makin terdengar dan dikenal orang. masak di negara tetangga terkenal dan jadi buku wajib, di negeri sendiri cuma sedikit penggemarnya.