gieb gieb's comments (member since May 01, 2008)


gieb's comments from the Goodreads Indonesia group.

(showing 1-20 of 605)
« previous 1 3 4 5 6 7 8 9 30 31

3 days ago, 01:08AM

345 Selatan

Lelaki itu meninggalkanmu. Merobekmu. Padahal kau terlanjur jatuh cinta. Berharap suatu saat kau rakus menabik kelaminnya setiap hari. Menuliskan sajak-sajak serapah di bongkahan batu-batu. Lalu bercinta dengan gila. Menggelapkan yang terang. Menjelaskan gairah dengan sekonyong-konyong.
3 days ago, 01:07AM

345 Timur

Sebagian ini juga darimu.
3 days ago, 01:06AM

345 Barat

Kau, selalu berjalan ke barat. Di mana, konon, tempat lahirnya ayah dan ibumu. Ayahmu, lelaki yang suka berdiam dalam tong sampah. Yang mati karena menciptakan racun. Sokrates yang malang. Ibumu, perempuan yang seksi dan perek. Yang jatuh cinta sama penis. Yang mati karena mengulum kenikmatan. Marlyn Manroe yang binal. Kemana ayah dan ibumu menghabiskan gairah. Demikian kau lahir. Begitu buruk. Begitu legenda. Berjalan ke barat. Mencari ayah ibumu. Tak pernah ketemu. Putus asa. Seperempat abad yang melelahkan. Tapi kau terus berjalan ke barat. Hingga kau berjumpa dengan lelaki bertampang sangar. Bermata juling. Dengan tato di sekitar putingnya. Lelaki yang nanti merobekmu.

Perjumpaan yang aneh. Kau, dan lelaki itu. Seperti pernah bertemu pada suatu waktu. Suatu dimensi. Suatu ruang. Suatu dejavu. Hingga kau yakin betul bahwa kau memang pernah bertemu dengannya saat tiba-tiba, di awal sebuah perjumpaan, di sebuah jalan yang terjal, di sebuah perjalanan ke barat, dia mencium bibirmu. Padahal kering dan busuk. Kemudian lelaki itu berbisik padamu. Seketika itulah kau berubah menjadi merah. Sebenar-benarnya merah. Seperti api tapi tidak panas. Orgasme yang muskil. Dan hanya karena sebuah ciuman yang getir dan busuk.
3 days ago, 01:01AM

345 Utara

Utara. Aku menyebutnya utara. Untuk mengenangmu. Jari lentik itu. Berpagutan di antara daun-daun. Sembari menekan tuts untuk menyapamu. Kemudian lebur dalam diam. Berproses dalam ketidakpastian. Satu jeda yang akan menghiasi cengkrama kita.

Cerita. Awalnya. Sebuah lekat. Meluluhlantakkan tubuh. Menyederhanakan hubungan dalam bentuknya yang purba. Hanya ada tubuh. Tubuh perempuan. Tubuh lelaki. Perempuan siapa. Lelaki siapa. Melekat karena keniscayaan. Keinginan yang melangsa ruang. Ketidakpastian yang menuju waktu. Duh.


4 days ago, 10:12PM

345 2012

Realitas yang cepat tumbuh dan berkembang. Keringat yang berpacu. Melempar mobilitas pikir pada kantong-kantong sampah. Otakku beku pada minus 10 derajat celcius. Hidup enggan. Mati sungkan. Melupakan sesuatu yang entah. Makan sesuatu yang entah. Minum sesuatu yang entah. Berdiri sesuatu yang entah. Duduk sesuatu yang entah. Berbicara sesuatu yang entah. Menulis sesuatu yang entah. Bercinta sesuatu yang entah. Tai sesuatu yang entah. Terjebak sesuatu yang entah. Melingkari sesuatu yang entah. Eksistensi sesuatu yang entah. Esensi sesuatu yang entah. Filsafat sesuatu yang entah. Tuhan sesuatu yang entah. Nihilisme sesuatu yang entah. Aku benci. Nietzsche yang suntuk dengan kutu rambutnya. Sartre yang sibuk dengan juling matanya. Tapi aku bukan apa-apa. Seperti kamu juga bukan apa-apa. Hidup dalam dramaturgi yang naskahnya sudah lapuk. Di makan kota dan perkembangannya. Desa yang urban. Sempit. Tidak ada pilihan. Selain mencintai diri sendiri. Narsis. Ayo, genapkan matimu pada kereta jenazah. Memberangkatkan cinta terakhirku padamu. Kekal padamu. Iblis yang bernama teknologi. Berkelamin laki-laki. Bertato Borges.
4 days ago, 09:19PM

345 Lebur

Siapa yang meleburmu menjadi seuntai tasbih. Aku bertanya. Kitab yang merajam akal dan syahwat. Ini tubuhmu yang tersisa. Membekas dalam kerak dahi menghitam. Sujud yang terpaksa karena meneguhkan iman tanpa pertanyaan. Kau adalah tafsir dari semua ragu. Serupa bekicot, sembunyi dari keramaian. Apalagi yang kau bisa catat dari sebongkah pasrah. Selain kesementaraan yang menghidu niat. Membeku dalam ritual. Melangsat surga yang pura-pura.

Siapa yang menanammu menjadi sekuntum seruni. Aku berharap. Kebun yang terik itu memberimu rumah. Deretan ayat yang berjejer rapi untuk diimajinasikan. Penggalan kisah yang terlambat untuk dikisahkan. Dan wajahmu yang kering menyimpan jejak tanah. Padahal aku dahaga. Menjemputmu dalam ganjil getah. Hinggap dalam rentang rakaat. Melumatmu dalam sumpah serapah fatiha. Mencekikmu dalam tahajud yang absurd. Menelikungmu dalam persetubuhan wirid panjang. Membunuhmu dengan cinta tak berkesudahan.

4 days ago, 08:43PM

345 hai semua, dateng yuk ke acara diskusi buku OEROEG karya Hella S. Haasse. yang akan diadakan pada:

hari/tanggal: jumat, 20 november 2009
pkl: 14.00
tempat: kinokuniya plaza senayan
bersama: Mr Roger Tol, Ahmad Sujayadi, Lina martha (moderator)

kami tunggu kedatangannya. gratis tidak dipungut biaya.

terima kasih
345 Habis Kita dalam Hujan

habis kita dalam hujan. obrolan
segumpal musim cuma jadi debudebu di jalanan.
keindahan hidup: katakata yang berlepasan dari
sekuntum bunga, terjelma dalam kalimatkalimat
setumpuk kitab, terkunyah dalam pikiran, kita
obrolkan, kita lupakan, debudebu menguruk
ingatan kita. lalu kau berteduh. hujan, cepat
datang. menghabiskan semua.

kita berteduh di bawah kaki orangorang gagap.
seperti katak, kau berontak. tapi kita berteduh, ya?
hujan menghabiskan semua. kita selalu tinggal
menunggu jadi gerimis, lalu cemas hujan lagi.
hujan lagi. hujan lagi.

1992
345 Lagu Pemetik Gitar

dari jarimu kutemukan luka yang dilagukan.
anakanak ikut menyenandungkan. "buat apa syair
engkau ucapkan?"

mereka tahu: katakata cuma kepalsuan.

di sini, kau tak dapat menyingkir dari
hujan. baris airmata musim lebih cantik dari
petikan hatimu. derasair itu akan menyuburkan
racun yang kautanam.

aku pilih menyingkir. berteduh dari cabikan
dan sayatan.

1989
345 Sungai Airmata

bulan mengalir bersama muara
sungaiairmata. ke laut entahapa. kita
ikut di atas perahumainan. takkemanamana.

"ayolah!"

kau terlelap dalam jantung dayungmu.
sebelum patah dan berdarah.

bulan mengalir, sampai pulau yang
takpernah kita temu. kubangun rumahsiput
di antara tanah dan pasir yang membeku.

1993
345 Nol

tanpatepitepi, ranjangkita dirangkul
malaikatentahapa. tanpa cahaya, ruangtidurkita
bagai petimati. tanpa langitlangit, rumahkita
bagaikubur.

apakah yang ingin kaucipta dengan tanahliat itu?
atap yang tak tembus langit. atau dindingdinding
tak berjendela.

kaupilih lantai. diam, dan kautolak keterancaman.
inilah hidup yang takkuharapkan.

1992
345 Gerbong Gerbong Bagai Keranda

-sudah sampaikah?
rel ini lurus dan panjang. suara
kereta, gaduh! tapi sunyi dalam hatimu.
katakanlah tak ada yang harus dicatat.
kertas dan pena siasia kitabawa. tapi
sebait puisi. sebentuk hidup yang selalu
dianggap sendiri: pahamilah. apa pun
lambang yang kautangkap.

1992
345 Bagai Hidup dalam Telur

-takada jendela terbuka
bagai hidup dalam telur. aku pajang
posterposter pada semuadinding. inilah
wajahwajah yang melongok jagatkita.

tubuhku menggelinding dari
lantaikelantai. terbenturbentur
bianglala dalam batin. berirama dalam
alunan musikruang: dalam pulas tidur sesaat.
sebelum berusaha bangun, kehidupan
berakhir dalam ketidakpastian.

1992
345 Prosa Daun Daun

saat kau petik, daun itu belum layu.
"daripada gugur siasia, aku lebih suka tangan
usilmu," katanya.

akarakar merambatkan zatzat kehidupan lewat
batangbatang. pucukpucuk mengertap dan merunduk.
"buah terakhir pun milikku juga."

tanyakan pada petani yang menanammu, kenapa hujan
harus dikembalikan setiap kali kita usai? tanah
tempat engkau hidup, itu pun suatu kesementaraan!

1993
345 Percintaan Kepompong

daun hatimu meranggas, aku kehilangan
tempat bertapa. tapi masih kucium harum
ludahmu. yang memintal gairah di antara
keringat dan muslihat embun.

engkau telah nikmati cintaku. gelora
yang membakar dalam bisu. rumah yang
kubangun dari lelehan waktu. di antara
ledakan nafas dan jeritan rindu.

tapi aku berdiam. kekal di antara
detikdemidetik. mengelupas tubuh dan
uraturat. lalu kuterbangkan puncak
gairahku.

1995

345 Percintaan Ikan Ikan

nadiku mengalirkan sampahsampah dan limbah
ke kolam hatimu. keringat persetubuhan
mengucur di antara selokan. lendir dan
serat syahwat membesarkan ikanikan rindu.

matahari menyempurnakan darahmu yang
terbakar. nafasmu mendenguskan debu dan
asap kotor. sebuah rumah dalam paruparuku,
hangus dan lenyap!

kubangun tenda, kunikmati keteduhan yang
membias dari air kolam. ikanikan terkapar
di jala waktu.

1995
345 Orkes Pengantin

untukmu, ranjang basah pada tanah, dan daun
yang tibatiba rebah. tak usah gorden terbuka,
sebab ada yang lebih fana.

untukmu, lukisan mawar (dan kebahagiaan ulatulat
dan cacingcacing tanah).

lalu masuklah dalam perangkapku. pada lukisan
jendela terbuka: memandang dunia lepas. dan cermin
pada dinding: memandang jagatruhani.

masuklah, sebelum mengekal dalam kalenderdinding,
-usia yang kembali terlipat dan terlepas ke
lantai.

1988
8 days ago, 03:34AM

345 boleh.
8 days ago, 08:48PM

345 Cerai

hening ini ada di tubuhmu. sepuluh tahun yang lalu. bilamana kita bertemu. akankah kita akan tetap menyiapkan perlawanan untuk membunuh waktu. kita ketemu di mana aku lupa. kapan kita ketemu aku lupa. kenapa aku peduli kepadamu. aku tak ingat pasti. seingatku waktu kau benamkan hening di tubuhku. aku bergetar menahan gigil. aku tak pernah menerima sehening ini. sejak itu aku maklumkan hening untuk mengingatmu.

kota ini ada di tubuhmu. enam bulan yang lalu. saat kita bertemu di sebuah pojok kafe tua. kau tergesa. aku terdiam menghitung kancing baju. kita seperti kanak yang belajar menyusun cerita liburan. meski tanpa cerita rumah nenek yang dipenuhi lampu. aku tak pandai berkisah. seandainya aku punya gagasan waktu itu. akan aku antar kau menemui waktu yang sekarang kenapa jadi begitu buru-buru. saat kita dekatkan jarak menjadi sejengkal genggaman.

waktu itu ada di tubuhmu. tiga puluh lima tahun yang lalu. saat kau iyakan sang waktu untuk menemukanmu. aku belum tercipta waktu itu. aku baru disusun dari gagasan dan omong kosong. baru ketika kau menolak air susu. kemudian aku lahir di bulan penuh. pun sekarang kita bertemu. setelah paham arti sebuah gagasan dan omong kosong perkawinan. seandainya aku punya cerita. aku pengin cerita. tentang sebuah mesin waktu untuk membawaku ke masa lalumu. tapi aku tak punya cerita itu. sebaiknya aku konsentrasi untuk menyusun cerita beberapa waktu ke depan. ketika bulan penuh. saat kita hapal benar berapa uban yang telah kita korbankan untuk perkawinan ini.
8 days ago, 08:42PM

345 Kota Tua

apalagi yang aku bawa untukmu ketika sudah sampai di hulu selain keheningan. aku selalu merasa. dan berusaha untuk mengerti. selebihnya tersisih ke beberapa halaman buku yang kumal. dengan itu aku merasa bisa bersembunyi. dan menemui kamu diam-diam.

seperti warna coklat sepatumu yang mampu menggerus usiaku. akan mendangkalkan warna biru langit yang memantul di tepi telaga. kemudian sebutir embun yang jatuh di pusat lubukmu. menegaskan waktu yang selalu terburu. entah karena umur. atau ketiak kita yang berjamur.

aku rindu berdiri di tepimu. seperti melihatmu dari hati. membasuh segala getirmu. mencicip puncak pahitmu. dengan demikian aku pastikan kau menjadi alif-ku. yang tegak kemana-mana. membawa keraguan menjauhi kiblat. menghidu anyir darah dalam diam. aku bertanya bukan padamu. tapi pada sekuntum bunga dan beberapa buku yang ada di diriku.

sejuk semoga singgah sore ini. memeluk nisan demi nisan. gerimis tak jadi datang. hingga kecapi urung dimainkan. maka tebaklah masa depanmu. perahu-perahu tetap terkapar di pantai. menunggu pecut. dan secuil gumam tentang rindu. sebuah waktu, kesepian namanya. menjelma kitab daun lontar dengan cuaca berloncatan. sebaiknya kau tangkap petir itu. agar kita mendengar getar. mencari ujung pita dari kondisi ini.

aku tak menyangka kita begitu lama memaknai kesepian. tak terasa tujuh lautan sudah kita tebak pangkalnya. meski selalu meleset. tapi kita selalu merindu. sebab jarak seperti pembenar. bahwa kita terlibat dalam amuk. entah apa. kau selalu sebut itu peduli. pun aku iyakan kesimpulanmu. meski aku lebih suka menyebut ini sebagai jatuh hati.

kemana kita akan berlabuh. jika tiba-tiba paragraf berikutnya sobek. dan kita harus menulis sendiri kalimatnya. apa yang akan kau tulis. "perhatian, yang bernama kerinduan, silakan mendekat". kemudian aku yang hanya mempunyai sekuntum bunga dan beberapa buku. mendekat padamu. membisikkan kalimat-kalimat racau. sembari menunggu. kau bersenandung dekat-dekat di telingaku.

suatu hari, kau ingin melihat kota tua di pojok itu. beberapa diorama yang menggilas wajah peradaban. mengembalikan kenangan di balik kebaya dan teram lampu. aku tunggu. aku tunggu. aku tunggu. tanggal duapuluh tujuh bulan tiga tahun ini.
« previous 1 3 4 5 6 7 8 9 30 31