Amang Suramang Amang's comments (member since Sep 05, 2007)


Amang's comments from the Goodreads Indonesia group.

(showing 1-20 of 2,362)
« previous 1 3 4 5 6 7 8 9 118 119

1 day ago, 09:07PM

345 PERPUSTAKAAN di Indonesia minim promosi dan kurang dikenal manfaatnya oleh masyarakat. Akibatnya, masyarakat tidak mengetahui secara pasti peran penting dan kegunaan perpustakaan. ”Mayoritas perpustakaan di Indonesia jarang dikunjungi masyarakat. Akibatnya, ilmu yang ada dalam buku atau dokumen di perpustakaan tidak termanfaatkan secara optimal. Hal ini terjadi merata, baik di daerah perkotaan atau desa,” kata Ketua Umum Ikatan Sarjana Ilmu Perpustakaan dan Informasi Indonesia Harkrisyati Kamil di sela-sela persiapan seminar nasional bertema ”Perpustakaan dan Ilmu Pengetahuan serta Kepustakawanan di Era Digital” di Bandung, Jawa Barat, Senin (16/11). Kepala Perpustakaan Universitas Petra Surabaya Aditya Nugraha mengatakan bahwa paradigma perpustakaan sekadar tempat peminjaman buku harus diubah. (CHE)

Sumber: Kompas, Selasa, 17 November 2009
1 day ago, 08:46PM

345 * nangiiiis terharu *
345 Aku pikir ada lagi alasan kenapa review teman-teman ini cukup banyak yang vote: karena UNIK.

Misal: PK oleh Panda. unik karena ditulis dalam bentuk surat pribadi kepada Dee

Kelihatannya review-review yang modelnya kaku (seperti reviewku) bakalan susah divote lebih dari 20.
345 Buku Baru: Karya yang Diprediksi Laris
PENURUNAN jumlah pengunjung pameran tidak mengurangi semangat memprediksi buku-buku laris pada tahun 2010. Buku Conversation with Myself karya Nelson Mandela, menurut penerbitnya, Curtis Brown dari Inggris, akan meledak. Buku yang terbit pada musim gugur tahun 2010 itu berisi catatan harian Mandela yang belum pernah dipublikasikan, termasuk hidupnya di penjara selama 27 tahun dan lima tahun sebagai Presiden Afrika Selatan. ”Sudah banyak yang menyatakan tertarik, di antaranya penerbit dari AS, Denmark, Israel, Portugal, Italia, dan Belanda,” kata Jonny Geller dari Curtis Brown.

Menurut Geller, Mandela menulis secara virtual setiap hari dan mencatatnya dalam buku harian. Buku itu mengilhami keluhuran pribadinya, inspiratif, dan diperkirakan meledak seperti Long Walk to Freedom karya Mandela yang terbit tahun 1994.

Buku The Secret karya Rhonda Byrne, buku-buku karya mantan Kanselir Jerman Helmut Schmidt, psikolog Michael Winterhoff dan Richard Precht masuk pula dalam daftar 10 buku top Jerman nonfiksi.

Kemenangan Obama mendorong Stephen MacDonogh menulis buku Barack Obama, The Road from Moneygall. Buku ini diilhami nyanyian Obama, berkisah tentang imigran Irlandia ke AS, Fulmouth Kearney, nenek moyang Barack Obama yang lahir di Moneygall, hingga kisah tentang orangtua Obama. Seiring terpilihnya Barack Obama sebagai Presiden AS dan pemenang Nobel Perdamaian 2009, buku itu diprediksi meledak. Buku ini baru akan dirilis penerbitnya, Brandon Books, pada September 2010.

Fiksi

Karya fiksi laris dari Inggris, selain tentunya karya JK Rowling, adalah karya terbaru Dan Brown berjudul The Last Symbol. Entah disengaja atau tidak, yang dipajang di toko-toko buku di Frankfurt bahkan di lokasi pameran termasuk di gerai penerbitnya, Bantam Press, justru versi Jerman dengan judul Das Verlorene Symbol. Sebaliknya, yang versi Inggris, dipajang dan dijual di toko-toko buku di Koln dan Munich. Menurut pemilik sebuah toko buku di Koln, buku itu baru dirilis minggu kedua bulan September. Di Indonesia buku ini sudah ada sejak akhir September.

Nama Dan Brown diikuti Stephanie Meyer dan Stieg Larsson. Novel-novel Meyer tercatat dalam 10 buku fiksi top di Jerman dan Italia, juga dalam daftar Amazon. Namun, novel Twilight dan kemudian New Moon karya Meyer justru melorot ke ranking 10 ketika dimasukkan dalam novel pop di Denmark. Sementara tiga novel karya Larsson, trilogi kejahatan Millenium, tetap bertengger di 10 top judul di Perancis, Italia, dan Denmark.

Namun, ada sejumlah buku fiksi yang diprediksi meledak ternyata anjlok dalam pemasaran. Selama tahun 2004-2008, novel The Wrong Kind of Blood karya Declan Hugenes dari Inggris yang dipublikasikan April 2007 dalam seminggu hanya terjual 22 eksemplar. Karya Kit Whitfield berjudul Bareback selama tahun 2005 terjual 3.659 eksemplar.

Empat judul novel yang diperkirakan laris tetapi ternyata jeblok seperti The Dangerous Book for Boys karya dua penulis buku laris Conn Iggulden dan Hal Iggulden yang terbit tahun 2006 hanya terjual 681.865 eksemplar. Ugly karya Constance Briscoe yang terbit tahun 2006 hanya laku 370.614, Brehren karya Robyn Young dirilis tahun 2007 hanya terjual 184.918, dan I Choose to Live karya Sabine Dardenne yang terbit tahun 2005 hanya terjual 179.822 eksemplar (STS)

Sumber: Kompas, Minggu, 15 November 2009
345 Peradaban yang Tetap Menjanjikan -- ST Sularto



FRANKFURT Book Fair 2009 berlangsung di Frankfurt, Jerman, 14-18 Oktober. Diikuti lebih dari 7.000 penerbit yang berasal dari 100 negara, pameran itu selama lima hari penyelenggaraan dikunjungi total lebih dari 570.000 orang.

Pada hari pertama terdapat 45.753 pengunjung khusus pebisnis perbukuan, hari kedua 102.205 orang, ketiga 152.530 orang, keempat 227.164 pengunjung, dan drop lagi pada hari terakhir, Minggu (18/10), yaitu sekitar 40.000 orang. Dibandingkan tahun lalu, setiap hari pameran kali ini mengalami penurunan 2.000-3.000 orang, kecuali hari pertama, hanya berselisih sekitar 350 orang.

Tahun ini sepi dibandingkan dengan tahun lalu? ”Dari sisi jumlah pengunjung ya, tetapi dari segi keramaian bisnis perbukuan—utamanya kontak bisnis terjemahan—tahun ini tetap ramai,” kata Sam Missingham dari Bookseller, London. Mengapa? Tidak tegas menjawab sebagai dampak krisis ekonomi global tahun 2008, Missingham menjelaskan, banyak faktor yang mengambil peranan. Di antaranya, faktor ekonomi global, tetapi tidak kalah penting faktor mulai berkembangnya electronics-book (e-book) atau buku elektronik—produk virtual yang merambah dan mulai semakin ramai sejak pameran tahun lalu.

Membandingkan dengan tahun 2000, 2002, dan 2004, pameran tahun ini paling sepi. Bukan oleh riuh, gemerlap, dan kesibukan acara-acara yang digelar setiap peserta yang diselenggarakan di semua hall (ruang pameran)—mulai dari hall 0 hingga 11 dengan keluasan masing-masing—tetapi terutama oleh bergegasnya pengunjung, yang disebabkan oleh takut kalah berebut atau mungkin sekaligus menghilangkan cuaca dingin. Pada tiga tahun itu sungguh, orang Indonesia—mohon maaf dalam hal ini hanya terlihat sebagai noktah kecil—harus berdecak kagum. Adapun pada tahun ini, menurut beberapa rekan yang rajin menyambangi setiap tahun, pengunjung lebih sepi, setelah pada tahun 2007 dan 2008 Indonesia sempat merasa optimis.

Pengakuan mereka serupa yang disampaikan pengunjung lain. Bagi pebisnis buku—khususnya ”pemburu” hak cipta terjemahan—hari pertama tetap perlu perjuangan bersaing, terutama dengan penerbit-penerbit yang rajin mengirimkan delegasi semacam kelompok Penerbit Gramedia yang mengirimkan lebih dari 8 orang, bahkan Penerbit Erlangga tak mau kalah dengan mengirimkan 13 orang.

Pengunjung baru terlihat ramai pada hari-hari berikutnya, terutama Sabtu. Pameran diramaikan juga oleh pengunjung yang memanfaatkan hari libur akhir pekan. Nah, pada hari-hari itu pengunjung berjubel—walaupun lagi-lagi terasa lengang. Adapun pada hari terakhir, pebisnis sudah jarang terlihat. Petugas pameran sebagian besar diganti oleh satpam, bukan lagi orang berjas rapi ataupun perempuan-perempuan cantik.

Ketika ditanya, ke mana para petugas kemarin? ”Sudah pulang,” kata seorang penjaga di gerai Vintage dari London yang sibuk mengemasi buku, Minggu (18/10). Lantas siapa yang datang hari Minggu itu? Mereka yang mengadu untung beli obralan buku, dijual antara 5 euro sampai 25 euro, dengan tetap mempertahankan harga banderol untuk beberapa judul buku. Siapa lagi? Mereka yang menangguk kesempatan dengan memunguti buku-buku yang rupanya sengaja ditinggalkan oleh pemilik gerai.

China paling menonjol

China, yang tahun ini menjadi tamu kehormatan (guest of honor), tidak menyia-nyiakan kesempatan. Dengan menempati satu hall penuh produk yang berkaitan dengan buku dan nonbuku dihadirkan juga. China go global, China mengglobal. Dengan moto tradition & innovation yang dipilihnya, China sudah lebih dari dua tahun mempersiapkan, setelah pada tahun 2007 ditetapkan sebagai tamu kehormatan. ”Kami all out dan memperoleh dukungan penuh dari pemerintah, utamanya kami ingin menjadi jembatan antara Barat dan Timur. Kami ingin belajar dari Barat, utamanya Jerman, dan sebaliknya, kami pun ingin dimengerti,” ujar Wapres China Xi Jinping.

Penerbit-penerbit dari Inggris, Amerika, tentu selain Jerman dan China, mendominasi aura pameran. Semua hall yang ditempati Jerman, maklum sebagai tuan rumah, selalu dipadati pengunjung. Para pemburu hak cipta berjubel di gerai-gerai ini, selain karena dominasi jumlah judul dan buku-buku ditulis bahasa Inggris, juga selama ini judul-judul buku yang laris di pasaran luar Eropa pun terbitan Inggris atau Amerika. Adapun Jerman? Diburu oleh para pemburu hak terjemahan ke bahasa Inggris atau bahasa-bahasa daerah lain. Pengunjung yang berjubel adalah mereka yang sehari-hari berbahasa Jerman, penduduk yang menempati sebuah negara terpadat di Eropa.

Bagaimana Indonesia? Kalau pada tahun 2007 ada optimisme akan ikut serta dalam pameran tahun 2008, yang ternyata gagal, tahun ini tak satu pun penerbit dari Indonesia tampil. Pada tahun-tahun 2000, 2002, dan 2004 masih terlihat ada satu-dua buku yang diterbitkan oleh penerbit Indonesia terselip di hall religion menyatu dengan penerbit dari Amerika soal politik dan agama, tetapi tahun ini tak ada lagi. ”Kami absen, tak ada yang mau pameran,” kata Setiadarma Madjid, Ketua Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) Pusat. Diamini Sukartini dari Obor, ketidakhadiran penerbit Indonesia memang karena faktor keuangan.

Dalam pameran 2004, ketika terorisme masih banyak dibicarakan orang, sempat Haidar Bagir dari Mizan memberikan ceramah di gerai Ikapi. Namun, Indonesia tidak berkecil hati, dibandingkan Argentina, misalnya, yang tahun depan sebagai guest of honor. Perbukuan Indonesia lebih ”tampil” daripada Argentina. Gerai Argentina biasa-biasa saja, terkesan minder terimpit oleh gerai-gerai besar dan sibuk di sebelahnya.

Tema-tema dan judul yang ditulis pun berbeda dengan tahun-tahun lalu. Tahun ini judul-judul nonfiksi lebih menonjol ketimbang fiksi. Kalau dulu banyak dijumpai tema-tema terorisme dan kesehatan China, kali ini tema dan judul amat beragam, bahkan cenderung pada persoalan amat luas, yakni tentang perkembangan budaya—khususnya peradaban manusia. Meskipun dengan perkembangan teknologi digital, tetap saja buku adalah rekaman dari peradaban kemanusiaan, sebuah industri paduan antara idealisme dan bisnis.

Ya, industri buku tidak akan lenyap, bahkan setelah mesin cetak ditemukan Gutenberg di Jerman pada abad ke-16 sampai abad ke-21, tampaknya cetak—seperti halnya koran cetak—tetap akan lestari. ”Seperti koran, buku cetak tak akan habis,” kata Setiadarma Madjid. Namun, hingga kini belum ada yang meramal seperti Thomas Meyer bahwa pada tahun 2040 koran cetak akan mati. Buku (dan koran) tetaplah rekaman peradaban manusia yang terus lestari dan menjanjikan!

Sumber: Kompas, Rabu, 11 November 2009
5 days ago, 01:08AM

345
Sastra Bencana

Yang namanya bencana datangnya dari Tuhan yang maha perkasa dan tiba-tiba seketika tanpa warta pendahuluan, walaupun isyarat itu ada tapi kita selalu abai. Dengan sesentil detik Padang-Yogya-Tasikmalaya porak poranda, Mahasiswa pun dengan jaket almamaternya yang gagah menghandang di jalanan ataupun pesilangan jalan lampu merah menyodorkan bekas kotak super mie dengan coretan "dana bantuan bencana" pada setiap pengendara baik angkot, pribadi mapun pemerintah yang bernomer plat merah.

Maka tak heran sudah dua penggiat puisi di bumi Indonesia menjeritkan"berikan tiga puisimu untuk korban bencana" kepada penulis syair yang bernama dan yang baru timik-timik sekedar menjadi penyair, tapi bukan penyair sekedar! (Entah sudah berapa potong puisi yang terkumpul.) Sedang Jurnal Sastratuhan Hudan berwasiat dalam komentar tulisan saya "Menunggu Hudan":
"kalau menyatukan lewat kata kadang suka simbolik. tapi memecahnya menjadi satuan cerita itu lebih berarti di dunia makna - bahasa itu. di sana sudah saban hari kita tuliskan - kata itu."

Ya, "kata" yang menjadi perbincangan kita dalam bertutur maupun berhubungan pesan yang sejak lama sudah jadi "mantra" kata SCB dalam kredo yang kemudian menyilakan/membiarkan/membebaskan kata memecah diri berjumpalitan berakrobat kawin membunuh dan segala tingkah "manusia" sehingga terbebas makna. Tapi dalam firman di atas ternyata kata tetap memegang peranan kunci dalam pehelatan bencana. Maka lahirlah sastra bencana. Sastra yang menyumbang saran tentang makna kata "bencana" yang berkonotasi kesakitan, kehancuran, kemusnahan dan sebuah 'agony' peradapan yang hilang selain lewat perang.

Seperti perang yang datang tiba-tiba bagi yang diserang karena tidak telibat dalam perencanaan strategi penyerangan, tuhanpun nampaknya juga tidak mengikutkan pembicaraan "penyerangan" dengan umatnya, walau bagi umat yang cerdas pasti sudah membaca dalam kitab suci yang diturunkan dengan jelas memberikan catatan atau sebab akibat perbuatan jika itu dilaksanakan dengan melanggar aturan baku atau pakem yang telah diwartakan lewat kothbah nabi pada setiap zamannya. Tuhan akan menurunkan bencana sebagai peringatan untuk kesadraan kembali ke pakem utama dan azab pedih celaka pada pendurhaka penghujat yang tidak pernah santun mengucap syukur atar limpahan karunia gratis dari tuhan semata. Tuhan sudah memberi petunjuk seperti petunjuk di atas dalam Jurnal Sastratuhan yang bicara bencana dalam kata dan lebih luasnya bahasa. Benarkah bencana hanya wacana bahasa kata makna yang diungkap mereka yang bertalenta mewartakan dengan segala caranya?

Kalau menurut ilmu hidup mestinya segalanya memang dari niat yang tak terkatakan dalam wacana bahasa. Karena hanya niat yang membenarkan tindakan kata yang barangkali akan menimbulkan bencana wacana bahasa kata yang terciptakan.

Penang dini hari 2009

* Cunong N. Suraja, Pengajar Intercultural Communication di FKIP-UIKA Bogor

Sumber: Oase Kompas.com, Rabu, 11 November 2009
5 days ago, 01:08AM

345 Sastra Kita-kita

Apa yang dapat dikatakan dalam kelompok sastra kita kita? Apakah sastra Cyber? Termasuk dalam sastra cyber adalah sastra facebook. Di mana sastra facebook akan didudukan dalam sastra Indonesia atau di sastra dunia?

Semua pertanyaan ini seperti gempa yang melanda Indonesia. Kita kita perlu revolusi seperti pernyataan Bung Karno dulu atau kita kita hanya perlu reformasi saja. Ternyata sampai saat ini kita kita hanya berkutat di sastra facebook yang siap jadi sastra kuda karena banyak penunggangnya.

Sastra yang mengkita tentunya sastra yang tak memilih. Sastra yang tak memihak (walau kata kita sudah terjadi pemihakan dengan melibatkan semua pihak). Sangat dihargakan apa yang dilontarkan note-note yang dibuat Asep Samboja pengajar Susastra di FIB UI, yang mulai membongkar file-file sejarah yang berkaitan dengan karya sastra dan sikap penggiat sastra pada zamannya. Sangat perlu para facebooker yang belum tentu menggeluti teori sastra yang selalu dicabarkan dalam ruang kuliah di FIB dengan para dewa sastra baik yang populer di koran atau populer di dunia kampus.

Untuk itu Hudan Hidayat yang perkasa telah mengkita dalam kolom-kolom facebook ini walaupun masih tersisa jejak lama yang selalu dicurigai sesama penggiat sastra yang lebih suka menyatakan sastra kami kami. Dua kata (kita dan kami) yang sangat merepotkan bagi penutur asli bahasa Inggris.

Jadilah sastra Kita kita atau sastra kami kami yang terpeleset jadi sastra kamu kamu atapun sastra muka kamu!

Sastra Kuda

Kuda adalah binatang yang dianggap sangat berguna bagi manusia pada saat belum ditemukan mesin uap maupun tenaga listrik nuklir. Kuda saat itu jadi kuda beban baik ditunggangi oleh manusia maupun menyeret gerobak dengan penuh hasil bumi atau barang pindahan. Kuda dalam falsafah orang Jawa juga termasuk salah satu dari empat syarat seorang pangeran bangsawan yakni tahta, wanita, kukila (burung piaraan yang dapat berkicau), dan turangga (kuda). Tak heran kalau bos Gerindra juga punya kuda dengan harga milyaran.

Kuda punya kekuatan yang diabadikan dalam ukuran sebuah mesin dengan istilah horse power atau kekuatan kuda. Jadi kuda sangat mengispirasi dalam berbagai segi kehidupan manusia tak pelak lagi juga dalam kehidupana sastra yang dalam novel Seno Gumira Ajidarma “Kitab Omong Kosong” diceritakan bencana negeri itu bermulai dari tato atau rajah di punggung pelacur muda bernama Maneka berwujud Kuda Putih yang berlari yang menjadikan alasan kerajaan Rama setelah memenangai Rahwana membuat pesta kekuasaan dengan melepas kuda putih sebagai pembuka jalur memerangi negara atau rakyat yang dilewati jika melawan kehendak penguasa Ayodya.

Sastra yang mempunyai kekuatan mendobrak kebekuan boleh dibilang sebagai sastra kuda. Sastra yang membuka lembar tradisi penulisan sebagaimana yang dilakukan Chairil Anwar dengan sajak AKU dan KRAWANG BEKASI. Bukan Chairil Anwar kalau dalam kehidupannya yang juga “liar” seliar kuda yang terkenal dengan nama mustang. Jejak sastra kuda itu berlanjut hingga pada zaman Rendra dengan sajak melawan penguasa baik dalam wujud puisi maupun drama. Sastra kuda juga mengenal kuda genit yang hanya memoles sebuah mode atau fashion hingga menjadikan kekuatan sastra walaupun kurang digdaya seperti trend puisi mbeling yang menjulur timbulnya kredo puisi SCB yang membebaskan kata dari makna. Adakah karya SCB berkekuatan kuda?

Sifat sastra kuda juga terlihat sebagai layaknya manusia menguasai binatang satu ini sebagai alat pemindah beban atau tunggangan. Maka saat Lembaga Kesenian Rakya (Lekra) berjaya pada zamannya dengan semboyan “politik adalah panglima” telah menjadi sastra sebagai kuda beban. Inilah sastra kuda yang ditunggangi ambisi maupun ideology yang juga muncul menjadi seboyan lain yang tak mau berpolitik dengan jargon : seni untuk seni!

Sastra kuda beban ini yang menelorkan sastra semangat, sastra perjuangan yang di”nyanyi”kan para demosntran jalanan sebagai nyanyian politik atau sajak protes dan Rendra menamai sendiri dengan sajak pamphlet. Sajak iklan perlawanan hingga muncul penyair yang hilang entah di mana kuburnya bernama Wiji Tukul. Lalu adakah sastra yang tidak tergolong sastra kuda? Kuda yang liarpun tetap bernama kuda, maka sastra yang seliar apapun tetap sastra dan tergolong sebagai sastra kuda tunggangan dengan beban pesan atau ideologi pengarang atau penulisnya.
Bagaimana dengan sastra kuda yang bersifat turangga (ciri kebangsawanan Jawa) yang hanya bersifat “klangenan” untuk “manasuka” berkudap makanan kecil sambil tidur-tiduran menikmati tanpa kerut dahi? Sastra hiburan atau sastra laris manis dengan tangis ataupun tidak, tetap saja merupakan sastra kuda, karena tetap membawa beban pesan.

Sastra Reptilia

Berangkat dari kamus Wikipedia bahwa yang tergolong dalam masyarakat reptilia adalah binatang melata atau sebuah kelompok hewan bertulang belakang (vertebrata) yang berdarah dingin dan memiliki sisik yang menutupi tubuhnya. Reptilia adalah (hewan dengan empat tungkai (tetrapoda) dan menelurkan telur yang embrionya diselubungi oleh membran amniotik. Wilayah kehidupan binatang melata ini di setiap benua kecuali Antartika yang dikelompokkan dalam empat kelompok berikut:
• Ordo Crocodilia (buaya, garhial, caiman, dan alligator): 23 spesies
• Ordo Sphenodontia (tuatara Selandia Baru): 2 spesies
• Ordo Squamata (kadal, ular dan amphisbaenia ("worm-lizards")): sekitar 7.900 spesies
• Ordo Testudinata (kura-kura, penyu, dan terrapin): sekitar 300 spesies
Mayoritas reptilia adalah bertelur (ovipar) meski beberapa spesies Squamata dapat melahirkan (vivipar). Reptilia yang melahirkan memberi makan janin mereka menggunakan sejenis plasenta yang mirip dengan binatang yang melahirkan dan menyususi (mamalia).

Ukuran reptilia bervariasi, dari yang berukuran hingga 1,6 cm (tokek kecil, Sphaerodactylus ariasae) hingga berukuran 6 m dan mencapai berat 1 ton (buaya air asin, Crocodylus porosus).
dari http://id.wikipedia.org/wiki/Reptil

Kasus cicak melawan buaya menimbulkan perbincangan seru yang pada sudut pandang hewani mereka adalah satu kelompok satu kelas satu golongan yakni reptilian atau binatang melata yang dalam puisi Rendra “Kotbah” diisyaratkan hidup melata seperti kadal ra ra ra. Bahkan dalam film “Koboi Cengeng” besutan Nyak Abas Akoeb tokohnya bernama Cicak bin Kadal. Kadal adalah kawan cicak yang hidup memakan serangga dan merayapi dinding. Sastra yang merayap begini terutama akan membicarakan hal remeh temeh dari grass root bermuara pada ideologi kaum proletar yang menuntut adanya sama rasa sama rata atau dengan kata lain keadilan model sosialisme. Karya sastra begini akan merasa mewakili mereka yang merayap hidupnya, tiarap sikapnya takut diberondongi dengan tuduhan kontra penguasa.

Mereka hidup dalam gerakan bawah tanah yang gelap, lembab dan suram. Sastra yang beginian selalu menuntut keadilan prototype sosialisme yang berdekatan dengan komunisme yang selalu dipertentangkan dengan liberalisme kapitalistik menjajah dan menguasai pasar lokal maupun global. Sastra model tertindas ini cenderung menjadi nominasi sastra Nobel, karena dapat pengharagaan dari yayasan Nobel Academy.

Adakah sastra juga mengikuti jejak pemisahan golongan model reptilian? Mungkin saja mengelompokkan sastra ya sastra pada kelompok Ordo Crocodilia yang di dalamnya ada buaya yang sementara berusaha menekuk-lutukan kelompok cicak-ciccak di dinding yang mengintip koruptor menggerogoti uang rakyat dan negara. Sastra ordo crocodilian selalu melahap apa saja dengan teori pacakolonial, atau kajian budaya atau dekonstruksi sekalipun. Sastra buaya juga dapat mengacu pada sastra syahwat kalau sastra itu banyak mengeksploitasi kemesuman ataupun kejorokan ataupun hal-hal yang beraroma wangi sexualitas yang terbuka tanpa selembar benang putih yang mungkin menutupi hal yang masih dianggap tabu.

Di mana dipetakan sastra reptilian jenis Ordo Testudinata atau penyu dan kura-kura yang selalu bergerak lamban dalam kehidupan di darat tapi akan melesat bagai meteor di langit malam begitu menemukan air danau, sungai apalagi lautan. Sastra Ordo Testudinata sastra yang telah menemukan kehidupannya yang pasti dan menjual gayanya menjadi ikon atau lambang karya dan dirinya yang menyatu. Tak salah lagi melihat ungkapan yang dipakai yang tergambar adalah sosok penulisnya. Tak heran kalau saat sajak-sajak Heri Latief tahap awal dengan bahasa prokemnya yang kental sekan mirip sajak-sajak SCB walau kalau mau jujur Heri dan SCB bertetanggaan etnis maka pastilah akan mempunyai kemiripan warisan budaya yang menempel di jejak karyanya. Tapi Heri dengan lantang menolak pernah membaca karya SCB.

Heri Latief bukan jenis ordo Testudinata karena Heri masih mencari pola pengucapan yang mempribadi, lain dengan SCB dan SDD ataupun GM yang sementara ini sudah membentuk pengucapan yang mandeg (baca: tetap, ajeg, mapan) kalau dibandingkan dengan gerakan sastra facebooker yang mengkomet, tetapi secara esensi sastra SCB dan SDD ataupun GM seperti penyu tua yang lamban berumur panjang apalagi nafas penyu sangat irit dengan oksigen karena habitatnya yang jauh hampir di dasar lautan yang dalam. Jangan ragukan kedalaman filosofi, mitos dan referensi para sastrawan ordo Testudinata. Biar lamban tapi dalam dan nyaman sebagai sastra “klangenan”.

Kalau mereka masih meledak-ledak dalam emosionalnya maka mereka akan tergolongkan dalam 7,900 species ordo Squamata. Ordo Squamata ini sekarang bertebaran bergetayangan bergerombol menyatu dalam kantong ataupun lorong dan gorong-gorong budaya yang kadang tersumbat oleh pikiran untuk melawan sebagai penunjukan jati diri. Kalau ini terjadi yang semacam gejala atavisme dalam dunia binatang lagi seperti yang sudah dipaparkan pada notes yang berjudul: HALYANG ANEH DALAM DUNIA KEPENULISAN (published on Wednesday, October 28, 2009 at 7:46am) yang berlanjut pada hari berikutnya (published on Thursday, October 29, 2009 at 7:44am) Coba saja klik http://www.facebook.com/home.php?#/note.... dan http://www.facebook.com/home.php?#/note....

Ordo penyu memang tidak banyak yang masih muncul karena musim bertelur mereka memenuhi circle of life yang pasti. Mereka sudah menjalani lingkaran kehidupan dalam kreatifitasnya yang seperti beredarnya planet di jagat raya. Mereka bukan jenis pembuat karya karena rangsangan bencana.

Untuk ordo Squamata yang berjumlah 7,900 species cukup pelik untuk dipaparkan dalam notes yang berkelebat singkat ini. Mirip bayang bayang kesan imaji yang menghampiri Subagio Sastrowardoyo saat mau “menelorkan” kecebong haramnya. (rujukan pada buku “Proses Kreatif” yang disunting oleh Pamusuk Nasution). Untuk sementara mencari dulu species yang paling banyak mengapung di telaga besar sastra Indonesia baik di mass media cetak maupun elektronik.

(bersambung)
345 Ayo-ayo, hari terakhir nih karena besok acara serunya dah dimulai! Woro-woro buat yang belum daftar, jangan kelupaan daftar dulu ke echa. Soal pembayaran diselesaikan kemudian...

* pake megaphone keliling2 GRI *
9 days ago, 08:38PM

345 Andri wrote: "Tambahan info dikit, kemarin menurut si abang di ekspedisi yg terima, akan dikirim hari Selasa (10/11). Dia bilang kira2 sekitar 4 hari, berarti Sabtu sampe (14/11)."

FYI: Fanina sudah buat kontak dengan kepala perpusda padang, jadi distribusi bantuan kita sudah jelas. Tinggal tunggu foto2 kiriman dari Fanina GRI Padang aja.
345 kok gak banyak yang ikut/daftar ya? apa acaranya kurang menarik?
12 days ago, 12:39AM

345 BUKU adalah kunci untuk publikasi sosok dan nilai pahlawan. Rezim Orde Lama menjalankan operasionalisasi untuk publikasi pahlawan dengan membentuk Lembaga Sejarah dan Antropologi (1958). Lem­baga itu memiliki misi membuat buku biografi para pahlawan. Orde Baru melanjutkan misi dengan membentuk Proyek Inventarisasi dan Dokumentasi Sejarah Nasional (1979). Klaus H. Schreiner (2005) mencatat pada 1983 lembaga itu telah menerbitkan 73 biografi pahlawan.

Penulisan buku biografi pahlawan rentan dengan intervensi, manipulasi, dan distorsi. Buku-buku biografi versi pemerintah cende­rung menjadi aksentuasi nilai dan efek po­litis. Buku-buku biografi adalah medium pengesahan dan pengajaran mengenai pah­lawan. Misi dari pemerintah mendapati tan­dingan dari individu dan institusi dalam menulis pahlawan dalam bentuk biografi dan novel.

***

Kuntowijoyo (1994) menyebutkan bahwa penulisan buku biografi di Indonesia didominasi oleh pengarang dan jurnalis. Fakta itu menjadi satire atas kompetensi ahli sejarah untuk menuliskan biografi tokoh. Penulisan buku biografi sejak 1950-an menunjukkan peran dari kalangan pengarang dan jurnalis. Misalnya, M. Balfas menulis Dr. Tjiptomangunkusumo, Hazil Tanzil menulis Teuku Umar dan Cut Nya Din, Matu Mona menulis H. Husni Thamrin dan W.R. Soepratman, Pramoedya Ananta Toer menulis Panggil Aku Kartini Saja, dan lain-lain.

Kehadiran buku biografi pun dibarengi dengan penerbitan novel-biografi. Novel memiliki kemungkinan untuk memadukan fakta sejarah, interpretasi, dan olahan imajinasi. Novel hadir sebagai medium unik untuk publikasi biografi dan interpretasi mengenai sosok pahlawan. Publikasi no­vel-biografi pahlawan: Surapati karangan Abdul Muis, Jejak Kaki Walter Monginsidi karangan S. Sinansari Ecip, Cermin Kaca Soekarno karangan Mayong Sutrisno, Cut Nya Dien karangan Ragil Soewarno Pragolapati, dan lain-lain.

Interpretasi-imajinatif memungkinkan ada perbedaan kentara dengan olahan fakta sesuai dengan disiplin ilmu sejarah. Novel-biografi memang tidak menjadi sum­ber sahih dalam penelusuran sejarah tapi memberi jalan lain atas pengetahuan sisi-sisi kehidupan pahlawan. Novel-biografi itu memiliki peran unik dalam dominasi penerbitan buku-buku biografi pahlawan.

***

Ikhtiar menulis biografi pahlawan pun dilakukan oleh ahli dan peneliti mumpuni di luar imperatif dan proyek pemerintah. Publikasi fenomenal tampak dalam majalah Prisma No. 8 Tahun 1977 terbitan LP3ES dengan titel Manusia dalam Kemelut Sejarah. Edisi itu memuat studi kritis mengenai sosok Soekarno, Soedirman, Sutan Sjahrir, Agus Salim, dan Tan Malaka. Artikel-artikel itu mengungkap kontroversi dan bias dalam pengetahuan publik terhadap pahlawan.

Edisi lanjutan dari studi intensif dan kritis itu hadir dalam buku Sejarah Tokoh Bangsa (2005) dengan editor Yanto Bashri dan Suffani. Buku itu memuat tambahan studi kritis biografi Mohamad Hatta, W.R. Supratman, Muhammad Yamin, dan Hasyim Asy'ari. Kehadiran artikel-artikel tentang pahlawan itu melengkapi penerbitan buku-buku biografi otoritatif: Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia garapan Cindy Adams, seri Tan Malaka garapan Harry A. Poeze, seri Diponegoro garapan Peter Carey, Mohammad Hatta: Biografi Politik garapan Deliar Noer, Kartini: Sebuah Biografi garapan Siti Soemandari Soeroto, Cut Nya Din: Kisah Ratu Perang Aceh garapan M.H. Skelely Lulofs, dan lain-lain.

Penulisan buku-buku biografi pahlawan dengan studi intensif dan kritis terus dilakukan untuk memberi kontribusi sebagai medium pengetahuan sejarah dan meluruskan kontroversi dan bias dalam penerbitan buku-buku biografi versi lama dalam intervensi penguasa. Kesahihan dalam pemakaian sumber-sumber sejarah, interpretasi, dan struktur tulisan dalam buku biografi kerap menjadi polemik (perdebatan) panjang dengan pelbagai perspektif dan argumentasinya.

***

Buku Seabad Kontroversi Sejarah (2007) garapan Asvi Warman Adam memuat kritik keras mengenai publikasi buku biografi karena ada bias, dilema, dan sisi gelap tak terungkap. Kontroversi kentara adalah argumentasi untuk menobatkan seseorang sebagai pahlawan atau pemberontak mengacu pada pelbagai peristiwa dan kontribusi untuk Indonesia. Kontroversi mengenai sebutan pahlawan atau pemberontak terhadap sosok-sosok penting dalam perjalanan sejarah Indonesia menemukan mo­­mentum pada pasca-Orde Baru dengan wa­cana pelurusan atau revisi sejarah.

Kontroversi dengan dilema untuk meragukan atau menguatkan peran pahlawan mu­lai menjadi polemik panjang di media massa. Polemik itu terkadang menimbulkan kejutan dan kegamangan. Rentetan polemik itu menjadi bahan bagi Eka Nada Shofa Alkhajar untuk menulis buku Pahlawan-Pahlawan yang Digugat (2008). Buku ini memuat jejak tafsir kontroversi atas kepah­lawanan Kartini, Sultan Agung, Pangeran Diponegoro, Ida Agung Gde Agung, Tuanku Imam Bonjol, dan Tuanku Tambusai. Kontroversi itu sampai hari ini belum menemukan titik terang dan konklusi mumpuni. Begitu. (*)

* Bandung Mawardi, peneliti Kabut Institut Solo dan Redaktur Jurnal Kandang Esai

Sumber: Jawa Pos, Minggu, 08 November 2009
12 days ago, 12:27AM

345 Wirotomo wrote: "Mas Amang tepatnya 230 kg buku, tas sekolah, plastik/tas kresek dan kardus. Karena berat 230 kg itu gabungan dari semua itu."

Oke.
345 Iya Dinda, nggak ada kewajiban. Bebas aja kok.
345
Judul : Masa Kanak-Kanak
Penulis : Jona Oberski
Penerjemah : Laurens Sipahelut
Penerbit : Pena Wormer, Jakarta, 2009
Tebal : x + 86 Halaman

DUNIA batin seseorang dapat berbicara tentang beragaman hal, baik hal personal-transendental, sosial dan budaya, bahkan politik sampai filsafat. Berbagai macam perasaan itu akan hadir "menyentuh" manakala terajut dalam cerita yang menyuguhkan berbagai kemungkinan; di sana dapat ditemukan kualitas cita rasa estetik dari realitas yang diolah lewat kemahiran berbahasa.

Seorang Jona Oberski sangat apik dalam menuangkan cerita masa kanak-kanaknya. Akan tetapi apa yang disajikan Jona sangat kontras dengan dunia anak pada umumnya, di mana sebuah masa kanak-kanak sebagai masa yang sangat menyenangkan, suatu masa yang sangat indah untuk dikenang. Justru apa yang ditampilkan Jona sebaliknya, ia menceritakan pengalaman masa kanak-kanaknya menjelang akhir Perang Dunia II. Terlahir pada 20 Maret 1938 di Amsterdam, kedua orang tuanya adalah pengungsi Yahudi dari Jerman.

Usia 3 sampai 8 tahun Jona kecil bersama orang tuanya hidup di dalam kamp konsentrasi Jerman, hingga akhirnya dalam kehidupan yang penuh dengan penderitaan kedua orang tuanya meninggal dunia. Tentu kebahagiaan dan kerukunan bocah laki-laki dalam kisah hidupnya berubah dengan tiba-tiba; dari kehidupan kanak-kanak yang penuh dengan kehangatan kasih-sayang kedua orang tua menjadi masa suram penuh konflik.

Kondisi ini sangat berpengaruh terhadap perkembangan psikologis dan masa depan anak. Perlakuan salah yang diterima anak sebagai "korban perang" harus dijalani oleh seorang anak dengan berbagai dampak dan ketakpastian. Masalah psikologis, dari trauma hingga merasa tidak berguna merupakan fakta yang menunjukkan pelanggaran terhadap perlakuan kepada anak.

Buku Masa Kanak-Kanak pun hadir di hadapan pembaca lebih merupakan sebuah buku yang bersifat autobiografi dengan menggunakan sudut-pandang dan bahasa seorang anak berusia 8 tahun, meski nama si aku lirik dari awal hingga akhir cerita tidak disebutkan, hal ini menurut Dr. Lilie Suratminto, selaku penulis pengantar dalam buku ini, penyajian Jona menggunakan bahasa anak usia 8 tahun, dengan kalimat pendek-pendek: Ibu berkata, aku berkata, aku berseru, aku berteriak, aku berujar, penuh dengan kepolosan tanpa pretensi dan apa adanya.

Beberapa catatan sebagai penagas dalam buku ini seperti ada sebuah kisah yang "melompat", di mana tidak dituliskan oleh Jona, di dalam masa-masa sulit dan sakit, apa yang terjadi selama dua minggu bocah kecil tersebut tertidur lelap. Apa pun yang terjadi pada dirinya selama itu misalnya pipis, lapar, dan lain-lain, tidak disadari. Hal ini disebabkan ibunya telah memberikan pil tidur kepadanya.

Sebagaimana novela, terlebih dalam bahasa anak-anak, pengkisahan Jona membuat emosi pembaca teraduk-aduk, kita membacanya menjadi gemas, geram, sedih dan haru semuanya menjadi satu dalam menyikapi situasi pada waktu itu. Keadaan demikian dapat menimbulkan traumatis bagi korban kekejaman yang masih hidup, yang telah ditinggalkan orang tua dan saudara-saudara yang dikasihinya.

Begitu tragisnya nasib yang dialami, ternyata hal ini juga berlaku pada Anne Frank, penulis buku harian yang masyhur itu pernah mendekam di kamp konsentrasi Westerbrok, yang dalam buku ini kamp konsentrasi Westerbrok dikisahkan Jona sebagai asal-mula ia merasakan getirnya masa kanak-kanak.

Tri Lestari Sustiyana, pembaca sastra, guru SMPN 3 Jatiagung, Lampung Selatan

Sumber: Lampung Post, Minggu, 8 November 2009
12 days ago, 07:49PM

345 230 KG BUKU BANTUAN TELAH TERKIRIM KE PADANG!
Masih ada kesempatan mendukung Program "Dompet Pembaca Peduli" sampai Desember 2009.




Teman-teman,

Pengumpulan tahap pertama bantuan ke Padang lewat program "Bangun Kembali dengan Buku" yang dijalankan oleh Dompet Pembaca Peduli Korban Gempa Sumatera telah selesai. Sebanyak 230 kilogram buku bantuan terdiri dari buku-buku pelajaran, buku bacaan, dan buku bahasa Inggris siap dikirimkan ke Posko Pembaca Peduli Goodreads Indonesia yang berada di Jl. Jati I No. 5, Padang esok lusa.

Seluruh bantuan ini tentu tidak datang dengan sendirinya, tetapi datang kepada kita lewat kedermawanan para donatur yang telah berbaik hati memberikan kelebihan mereka untuk membantu saudara-saudara kita yang kesusahan. Untuk itu, saya mengucapkan terima kasih. Semoga kebaikan Anda mendapat balasan yang melimpah. Juga terima kasih kepada teman-teman GRI yang telah membantu pengepakan bantuan kemarin Minggu yang telah bekerja tanpa lelah. Salut untuk teman-teman!

Nah bagi yang belum ambil bagian, masih ada kesempatan lho untuk membantu, karena program "Dompet Pembaca Peduli" dan dropzone masih dibuka sampai akhir Desember 2009.


Salam hangat,


Amang Suramang
Moderator Goodreads Indonesia

12 days ago, 07:42PM

345 Tenang, Prita... nanti ada lagi kok.
Dilema Penerbit (7 new)
15 days ago, 04:00AM

345 Betul, banyak buku bagus yang malah nggak dilirik sama sekali. Coba lihat thread Terjemahan Nobel, kenapa juga gak diterbitin oleh penerbit di negeri ini? Mungkin karena takut mencoba...

Padahal kalau penerbit dan pembaca sudah sedekat ini seperti di GRI, penerbit bisa tanya, kalau nerbitin buku kayak gini, pembaca pada mau baca atau enggak, mau beli nggak?

Penerbit besar harus mencontoh apa yang dilakukan marjinkiri dan redline: paling tidak semangatnya. Ya kan?
15 days ago, 03:39AM

345 nyasar kok minta pendapat...
345 Wah, gak percuma gelar perkara macam MK. hehehe.
Ada tanggapan/sanggahan lain? monggo...
16 days ago, 08:34PM

345 Andri, buku2 di MPbookpoint dikumpulkan di kantor Hikmah (biar aman). Ada 5 koli (karena 3 koli lain sudah keangkut langsung ke padang). Kontaknya Olin, nanti aku PM nomer kontaknya.
« previous 1 3 4 5 6 7 8 9 118 119