Isman Isman's comments (member since Jul 15, 2007)


Isman's comments from the Goodreads Indonesia group.

(showing 1-20 of 68)
« previous 1 3 4

345 QuiGenusHumanumIngenioSuperavit wrote: "Makanya kalo liat rak buku saia, kebanyakan bukunya bergenre popular science ;)..."

Rakyat mengharapkan bukti foto. (Siapa tahu ada judul menarik, hehe.)

345 Rini Nurul wrote: "Salam,
rasanya sih pernah posting/ngetik perkenalan tapi ternyata bolak-balik dilihat tidak ada.
Saya Rini, nulis beberapa buku non fiksi dan baru satu novel. Belakangan lebih sering selingkuh de..."


Lho, ada Rini. (Telat nyadar.) Halooo! Kok belum jadi Goodreads Author? Buku dah belasan gitu. Klaimnya di bagian bawah halaman author, Rin.

http://www.goodreads.com/author/show/765...

Klik "Let us know".
345 *menjura pada Qui* Terima kasih atas jerih payahnya. Semoga tidak sampai kepayahan menulisnya. Ataupun jeri.

Trilogi His Dark Material bukannya diarahkan ke dunia paralel? Dan Pullman sih--uhh, spoiler deng. Nggak jadi.

Terus, kalau mengakui adanya kecepatan superluminal itu juga bakal bikin efek domino ke berbagai penjelasan ilmiah, ya? (Jadi ingat satu episode Star Trek Voyager; Voyager menembus 10x kecepatan cahaya sehingga melebihi dimensi ruang dan waktu; berada di mana-mana; dan kemudian mengulangi evolusi dari reptil menjadi manusia--bagian terakhir ini yang bikin aku teriak malam-malam, "Apaan siiiiih?")
345 Wirotomo wrote: "Cuma 1 buku yang kami nggak sependapat, dia suka banget sama "Ayat-Ayat Cinta", sedang saya nggak suka banget sama buku itu hehehe..."

Kayaknya aku kenal deh, hehe.
345 Wirotomo wrote: "kalau telepati kaya'nya baru ada di film2 science fiction ya? belum pernah ada buktinya ... sepengetahuank..."

Sekadar menambahkan, kalau-kalau ada yang salah memaknai kata-kata Mas Wirotomo, ketiadaan bukti akan sesuatu hal tidak niscaya menunjukkan ketiadaan hal tersebut. Pesan ini ditekankan berulang kali dalam buku The Black Swan The Impact of the Highly Improbable oleh Nassim Nicholas Taleb.

Nassim menggunakan ilustrasi angsa hitam untuk menunjukkan pesannya. Selama beratus-ratus tahun, bangsa Eropa berasumsi bahwa semua angsa berwarna putih, hanya karena tidak pernah ada bukti bahwa angsa berwarna selain itu. Karena itu, saat angsa hitam ditemukan di Australia, mereka geger.

Jadi yang ingin disampaikan Mas Wirotomo adalah bahwa keberadaan telepati belum bisa dibuktikan secara ilmiah. Bisa berarti tiga hal:
1) Memang tidak ada
2) Ada, dan suatu saat bisa dibuktikan secara ilmiah
3) Ada, hanya tidak bisa dibuktikan secara ilmiah (minimal dengan paradigma keilmiahan saat ini).
345 Wuryanano wrote: "Dear ALL...
Ada yg pernah baca buku-buku TELEKINESIS dan TELEPATI ?"


Pak Nano, saya kemarin sudah sampaikan referensi bukunya lewat pikiran. Tapi saya dapatnya pesan, "Pikiran yang Anda hubungi sedang sibuk..." :p

Kembali serius, Pak Nano tertarik mengetahui apanya mengenai Telekinesis (dalam dunia akademik disebutnya Psychokinesis/PK) dan telepati? Karena kedua ini masih termasuk domain metafisik--kita bisa menemukan jumlah referensi yang sebanding antara yang mengatakan dengan yakin bahwa keduanya benar-benar ada (bahkan sampai yang mengajarkan cara-caranya) dan yang mengatakan sebaliknya (keberadaan kedua hal itu belum bisa dibuktikan secara ilmiah).

Kalau sekadar dari sisi ilmiah, bisa lihat publikasi di sini
http://www.princeton.edu/~pear/publicati...
Walaupun perlu ada peringatan: isinya makalah dan laporan penelitian, jadi sarat jargon akademik.

Dari entri Wikipedia juga ada sejumlah tautan pada berbagai publikasi mengenai PK.

http://en.wikipedia.org/wiki/Psychokines...

Ini lebih mending untuk bacaan, nggak bikin keriting.
345 @IA: Selamat bergabung Indonesia Anonymus! Mari berbagi pengalaman baca di sini.

@Arum: Arum, saya berbicara sebagai editor: yang _paling_ bisa membantu untuk "membuat semua jadi kenyataan" itu kamu sendiri. Karena kamu sendiri sudah tahu kok kendalanya apa: "...selalu berhenti di tengah-tengah."

Jadi solusinya: teruskan. Jangan berhenti. Ini mungkin terdengar sederhana tapi pelaksanaannya sama sekali tidak sederhana.


--isman
http://kedaipenulis.blogspot.com
Apr 02, 2009 01:54AM

345 Wirotomo wrote: "Mengenai Tea For Two, yah tunggu sebulan lagi dari sekarang, komentarku hahaha..... "

Tos! Aku juga kalau resensi buku pilihan ada lag sebulan (kalau lagi niat, kalau nggak ya lag seterusnya), heheheh.
345 Buset, udah halaman enam aja. BTW, tadi mampir ke profil penulisnya.

Baca keterangan profilnya:
I am honest, caring, trustworthy, malabing, helpfull to others, funny...

Ada yang tahu malabing itu apa? (Ini udah pernah ditanyakan belum sih?)
345 Ada yang dateng? Gimana acaranya?
345 Wirotomo wrote: "untuk cerpen no. 4, pasti selalu ada yg protes mengapa ku suka yg ini, nggak selevel sama yg punyanya AA Navis. "

Mungkin perlu ditelaah, apakah hal ini (membeda-bedakan cerpen berdasarkan "level") merupakan karakteristik mayoritas pembaca kita bukan? Kalau ya, apakah ada kemungkinan itu yang bikin penikmat kumcer jadi minoritas?

Menurut survei Litbang Kompas bulan Mei 2008, salah satu alasan utama pembaca membeli buku adalah mencari hiburan (16,5%; sementara berbagai alasan lain tidak mencapai 10%). Jika produk kumcer yang ada dinilai dari kualitas atau levelnya, bisa jadi ini nggak selaras dengan alasan orang mencari bacaan fiksi.

Kasarnya gini: yang menganggap cerpen "level tinggi" itu menghibur adalah para penikmat cerpen yang merupakan sebagian kecil saja dari para pembaca fiksi. Ceruk pasar yang kecil. Pembaca lain mungkin suka baca cerpen, tapi malas beli buku kumcer, karena kumcer yang ada sebagian besar mengarah ke ceruk pasar kecil itu.

Kata kuncinya "mungkin". Kalau memang benar, berarti masalahnya adalah di persepsi cerpen (atau kumcer) itu sendiri. Kalau senantiasa dikaitkan dengan "level tinggi", jadinya kumcer dipersepsikan merupakan kategori yang sama dengan novel-novel yang dimasukkan dalam rak berjudul "sastra" (di berbagai toko buku).

Padahal cerpen sendiri hanyalah bentuk penceritaan. Ada cerpen untuk remaja (karya Paul Jennings), untuk anak-anak (kumcer pilihan Bobo), untuk pembaca horor atau misteri (Alfred Hitchcok, Roald Dahl), dll.

Di sisi lain, simak juga bahwa contoh kumcer yang laris (cetak ulang minimal sekali) justru tidak menonjolkan kekumcerannya (istilah apa pula ini?), melainkan label muatannya. Badman Bidin! terbitan FLP, misalnya, menjual label "humor"-nya. Ratu Jeruk Nipis dan cerita-cerita lain yang asam-manis terbitan GPU menjual label "teenlit"-nya.

Dari kedua sisi itu tampak saling mendukung: bahwa kumcer pun sama diminatinya dengan novel, saat pembaca bisa menangkap muatan apa yang ditawarkan dalam buku itu. Saat mereka bisa tahu bahwa cerita di dalamnya memang sesuai dengan selera mereka.

Namun itu pendapat saya. Bisa saja salah.
345 Coqueline wrote: "If it sells, then it what people wants to read, however rotten. Period. Kenapa harus dikontrol? Biarkan aja mekanisme pasar dan seleksi alam yg menentukan apakah suatu buku bakal dibaca sejuta orang atau 10 orang dan lapuk di toko."

Itu memang terdengar ideal. Sayangnya, praktik industri bisa saja mendorong sesuatu yang terdengar ideal menjadi lingkaran setan kecenderungan yang tidak sehat.

Seperti contoh Yanti: sinetron. Kenapa sinetron membludak? Salah satunya karena saat demam telenovela menyebar, pemerintah mengeluarkan solusi industri yang tidak menyeluruh: kandungan tayangan lokal harus minimal 60%. Jadinya, bermunculanlah banyak sinetron yang meniru gaya telenovela.

Ini kebalikan dari masa tayangan nasional hanya TVRI. Kalau dulu tayangan favorit adalah tayangan luar, seperti A-Team, Manimal, atau The Saints. Kini tayangan favorit adalah sinetron. Pola serupa: apa yang paling banyak ditonton orang, menjadi selera umum. Dan itu yang menjadi barometer industri untuk menyajikan bentuk tayangan selanjutnya.

Lingkarannya jadi: banyak sinetron/acara gosip/"reality" show di TV-->karena sedikit pilihan lain, jadinya acara tersebut ditonton banyak orang-->acara tersebut tetap/semakin banyak di TV, dan semakin sedikit pilihan lain.

Acara yang berhasil di negeri asal seperti Desperate Housewives atau Heroes jadinya kurang dilirik karena tidak termasuk jenis tayangan mayoritas.

Gimana dengan buku? Jangan salah. Ini terjadi juga. Minimal di sebuah jaringan toko buku besar (tanpa perlu menyebut nama).

Semua jaringan toko buku ini mendapatkan instruksi bahwa kinerja mereka dihitung dari profit, tidak peduli kualitas buku apa yang mereka jual. Yang penting profit.

Karena itu, toko buku jadi memprioritaskan pembelian buku yang jadi sorotan secara besar-besaran. Misalnya Maryamah Karpov. Bisa dibeli ratusan kopi dan dipajang dalam satu rak khusus.

Kontras dengan itu, buku baru yang terbit dalam periode bersamaan (dan ini bisa sampai 2-3 bulan tergantung kelarisan buku) tanpa sorotan media secara khusus akan diperlakukan begini: taruh di rak buku baru selama seminggu, paling sejumlah 20 atau 30 buku.

Kalau dalam seminggu itu penjualan cukup besar (apa pun definisinya "cukup besar" itu), buku akan dipindahkan ke rak buku laris. Kalau tidak, dikembalikan ke rak yang menurut mereka cocok. Kalau dalam rak ini pun tidak laris manis (apa pun definisinya), buku ini tidak akan dipesan lagi.

Dengan kata lain, kecenderungannya serupa: buku yang dapat sorotan media ditumpuk-->mudah terlihat-->lebih banyak dibeli orang-->makin ditumpuk. Sementara buku yang tidak dapat sorotan media-->bisa terpuruk kembali ke rak dalam waktu seminggu-->sulit dicari, sedikit dibeli-->tidak ada pemesanan-->makin sulit dicari, makin sedikit dibeli.

______________

Kata kuncinya memang "kecenderungan". Jadi walaupun terbelenggu praktik-praktik industri di atas, bisa saja sebuah buku berkualitas menemukan (atau ditemukan?) para pembacanya dan menembus lingkaran setan tersebut. Namun, ini seperti menyuruh orang yang baru pertama kali ikut lomba lari 100 meter di Olimpiade untuk berlari hanya dengan satu kaki. Pada debutnya, malah diberi tantangan yang lebih berat.

Menurut saya, kondisi ideal ini bisa dicapai saat seluruh pasar memiliki akses yang sama pada _seluruh_ pilihan buku (atau tayangan untuk industri TV) yang ada.

Sebagai contoh, Heroes walaupun tidak diminati di TV lokal, tapi sangat diminati di internet oleh para penjelajah web berkebangsaan Indonesia.

Data Amazon.com yang dicantumkan di buku The Long Tail juga menunjukkan contoh bahwa sejumlah buku yang saat di toko termasuk produk tidak laku, ternyata bisa mencetak ratusan penjualan per bulan. Ini karena sasaran pembacanya dapat menemukan buku yang mereka cari sama mudahnya dengan menemukan buku yang sedang populer.

Tapi itu pendapat saya. Bisa saja berbeda.
Jan 12, 2009 03:55AM

345 Sebelum thread di-lock, ikutan pesen 1, ukuran XL!
345 Eddi wrote: "Payah nih penerbit Gramedia Pustaka Utama, ga pernah cetak ulang buku Pramoedya yg judulnya Kronik Revolusi Indonesia jilid 1, mentang2 kurang laku. jadi ga lengkap degh koleksinya, cuma punya jili..."

Sudah coba kontak Direct Marketing-nya, Mas? Email saja ke gpudm AT gramedia DOT com. Siapa tahu mereka masih ada stok. Kalau nggak, coba saja tanya-tanya teman GRI sini atau di milis bibliophile_gpu@yahoogroups.com. Siapa tahu ada yang mau barter (atau menjual) koleksinya.
345 Selamat bergabung Pritha, Mbak Lily, Mas Gunawan, dan Mas Pitoyo!

@Windry: pelabelan diri baru sebagian dari pemerekan diri (aku menulis frase ini masih sambil meringis), euy.

@Haikal: sekarang sudah eksis dong, Mas. Bisa dibagi kabarnya?

@Panca: definisikan sendiri saja, Mas. Misalnya, bagi saya, nggak usah nerbitin buku untuk jadi penulis. Karena bagi saya, penulis itu bisa juga merupakan jati diri.
345 Sekadar lapor 1 x 24 jam. Nulis resensinya masih belum semangat. Namatin The Ghost-nya Paul Robert Harris dulu.
Jan 09, 2009 04:19AM

345 Selamaaat! *sembari mengumpulkan semangat untuk meresensi The Book of Lost Things*
Penerjemah (165 new)
Jan 07, 2009 01:16AM

345 Poppy D wrote: "Gimana dengan 'pun'/permainan kata? Apakah ada rekan penerjemah yg membiarkan saja 'pun' aslinya (dengan catatan kaki), atau diganti dengan permainan kata yg sama sekali lain dalam bhs Indonesia ta..."

Agh. Aku ketemu bejibun permainan kata saat menerjemahkan buku Sun Tzu Was a Sissy: Conquer Your Enemies, Promote Your Friends, and Wage the Real Art of War oleh
Stanley Bing. Awalnya masih menantang. Terutama karena ini buku humor. Lama-lama eneg karena terkesan pamer. Suatu hal yang bisa ia sampaikan dengan sederhana malah sengaja njelimet. Karena dengan begitu, ia bisa menyelipkan sejumlah permainan kata di dalamnya.

Sebagai pembaca, aku ngerasa humor permainan kata di sini jadi beban bagi pembacanya. Padahal humor menurutku sebaiknya jadi bonus. Apresiasi pada pembaca, "Terima kasih telah memerhatikan." Bukannya malah ngasih beban, "Ayo pikirin makna kalimatku. Ntar kalau ngerti, lucu lho."

Mengenai pilihan terjemahan, tergantung konteks permainan katanya, Mbak Pop. Kalau konteksnya lebih ke arah humor, aku memilih mengganti dengan permainan kata yang sama sekali lain dalam bahasa Indonesia. Kalau konteksnya lebih ke arah menyampaikan satu pesan dengan humor sebagai bonus, saya cenderung mengutamakan pesan itu, dan mengorbankan humornya. Kalau dua-duanya sama penting dan berkaitan (misalnya: permainan kata yang mengarah ke nama perusahaan yang nggak bisa diganti), ya aku biarkan dengan memberi catatan kaki.
Jan 07, 2009 12:59AM

345 The Read-Aloud Handbook: Sixth Edition (Read-Aloud Handbook)The Read-Aloud Handbook: Sixth Edition

Rata-rata 4,48 bintang dari 357 penilaian dan 134 resensi. Menarik! Cari di bookmooch, aaah.
345 Sekadar informasi: slot untuk 100 pemesanan pertama sudah habis. Jadi tawaran di pesan nomor 2 tidak lagi berlaku.

Terima kasih atas dukungan teman-teman Goodreads Indonesia!

Kabar baiknya: buku Parodi Film Seru: 15 Skenario Gokil sudah bisa Anda dapatkan di toko-toko buku kesayangan Anda. (Kalau belum ada, sila minta mereka menyediakan. Kan kesayangan? Hehe.)
« previous 1 3 4