gieb's comments
(member since May 01, 2008)
gieb's comments from the Goodreads Indonesia group.
(showing 1-20 of 607)
Kita Terus Saja Bercakap
kita masih terus saja bercakap di antara repertoire kesedihan dan sejarah yang berantakan
–potret buram impian kita yang tak tertata.
Lagu-lagu perih di panggung itu
bagai dengungan ribuan serangga merindu bunga di taman raja,
bagai lenguhan para ibu mendengar harga-harga di pasar becek yang bau bangkai
kita terus saja bercakap meski entah untuk apa
sebab di negeri ini hari esok bagai malam yang kelam
kita bercakap seperti pelukis merengkuh cakrawala dengan kanvas, garis, dan ciprakan warna tak beraturan
mengalirkan kemarahan hingga kata-kata pun merendah
menyentuh seragam murid sd yang belel,
harga beras yang meloncat,
dan rintihan rupiah yang kelelahan
tetapi tv terus saja menyala,
setia membedaki berita dan menyulap fakta-fakta.
Kita pun menjadi linglung seperti para pejabat dan intelektual ngelindur
padahal hari begitu terang benderang kita terus saja bercakap.
Tapi ketika pertunjukan selesai dan para penonton menghambur ke jalanan,
aku mendengar derap massa itu,
mendengar deru kesakitan dan dendam yang lama tertahan.
Aku menyaksikan mereka berjubel di halaman gedung itu
aku menyaksikan api membara di cakrawala
Bandung, Mei 1998
Penulis puisi di atas telah meninggal dunia dengan tenang, pukul 04.00, 23 November 2009 di RS Sari Asih, Serang. Dia adalah penyair, sastrawan, esais, redaktur Horison, mahasiswa S-3 Susastra UI, Moh. Wan Anwar.
Buang kalimatmu yang berbau busuk itu. Memendam riuh dalam sakit yang mengada-ada. Sepucuk getir yang menyimpan hunjam. Tentang sebuah permainan penuh rajam. Tarik ulur tangis juga sebuah perjudian.
SelatanLelaki itu meninggalkanmu. Merobekmu. Padahal kau terlanjur jatuh cinta. Berharap suatu saat kau rakus menabik kelaminnya setiap hari. Menuliskan sajak-sajak serapah di bongkahan batu-batu. Lalu bercinta dengan gila. Menggelapkan yang terang. Menjelaskan gairah dengan sekonyong-konyong.
BaratKau, selalu berjalan ke barat. Di mana, konon, tempat lahirnya ayah dan ibumu. Ayahmu, lelaki yang suka berdiam dalam tong sampah. Yang mati karena menciptakan racun. Sokrates yang malang. Ibumu, perempuan yang seksi dan perek. Yang jatuh cinta sama penis. Yang mati karena mengulum kenikmatan. Marlyn Manroe yang binal. Kemana ayah dan ibumu menghabiskan gairah. Demikian kau lahir. Begitu buruk. Begitu legenda. Berjalan ke barat. Mencari ayah ibumu. Tak pernah ketemu. Putus asa. Seperempat abad yang melelahkan. Tapi kau terus berjalan ke barat. Hingga kau berjumpa dengan lelaki bertampang sangar. Bermata juling. Dengan tato di sekitar putingnya. Lelaki yang nanti merobekmu.
Perjumpaan yang aneh. Kau, dan lelaki itu. Seperti pernah bertemu pada suatu waktu. Suatu dimensi. Suatu ruang. Suatu dejavu. Hingga kau yakin betul bahwa kau memang pernah bertemu dengannya saat tiba-tiba, di awal sebuah perjumpaan, di sebuah jalan yang terjal, di sebuah perjalanan ke barat, dia mencium bibirmu. Padahal kering dan busuk. Kemudian lelaki itu berbisik padamu. Seketika itulah kau berubah menjadi merah. Sebenar-benarnya merah. Seperti api tapi tidak panas. Orgasme yang muskil. Dan hanya karena sebuah ciuman yang getir dan busuk.
UtaraUtara. Aku menyebutnya utara. Untuk mengenangmu. Jari lentik itu. Berpagutan di antara daun-daun. Sembari menekan tuts untuk menyapamu. Kemudian lebur dalam diam. Berproses dalam ketidakpastian. Satu jeda yang akan menghiasi cengkrama kita.
Cerita. Awalnya. Sebuah lekat. Meluluhlantakkan tubuh. Menyederhanakan hubungan dalam bentuknya yang purba. Hanya ada tubuh. Tubuh perempuan. Tubuh lelaki. Perempuan siapa. Lelaki siapa. Melekat karena keniscayaan. Keinginan yang melangsa ruang. Ketidakpastian yang menuju waktu. Duh.
2012Realitas yang cepat tumbuh dan berkembang. Keringat yang berpacu. Melempar mobilitas pikir pada kantong-kantong sampah. Otakku beku pada minus 10 derajat celcius. Hidup enggan. Mati sungkan. Melupakan sesuatu yang entah. Makan sesuatu yang entah. Minum sesuatu yang entah. Berdiri sesuatu yang entah. Duduk sesuatu yang entah. Berbicara sesuatu yang entah. Menulis sesuatu yang entah. Bercinta sesuatu yang entah. Tai sesuatu yang entah. Terjebak sesuatu yang entah. Melingkari sesuatu yang entah. Eksistensi sesuatu yang entah. Esensi sesuatu yang entah. Filsafat sesuatu yang entah. Tuhan sesuatu yang entah. Nihilisme sesuatu yang entah. Aku benci. Nietzsche yang suntuk dengan kutu rambutnya. Sartre yang sibuk dengan juling matanya. Tapi aku bukan apa-apa. Seperti kamu juga bukan apa-apa. Hidup dalam dramaturgi yang naskahnya sudah lapuk. Di makan kota dan perkembangannya. Desa yang urban. Sempit. Tidak ada pilihan. Selain mencintai diri sendiri. Narsis. Ayo, genapkan matimu pada kereta jenazah. Memberangkatkan cinta terakhirku padamu. Kekal padamu. Iblis yang bernama teknologi. Berkelamin laki-laki. Bertato Borges.
LeburSiapa yang meleburmu menjadi seuntai tasbih. Aku bertanya. Kitab yang merajam akal dan syahwat. Ini tubuhmu yang tersisa. Membekas dalam kerak dahi menghitam. Sujud yang terpaksa karena meneguhkan iman tanpa pertanyaan. Kau adalah tafsir dari semua ragu. Serupa bekicot, sembunyi dari keramaian. Apalagi yang kau bisa catat dari sebongkah pasrah. Selain kesementaraan yang menghidu niat. Membeku dalam ritual. Melangsat surga yang pura-pura.
Siapa yang menanammu menjadi sekuntum seruni. Aku berharap. Kebun yang terik itu memberimu rumah. Deretan ayat yang berjejer rapi untuk diimajinasikan. Penggalan kisah yang terlambat untuk dikisahkan. Dan wajahmu yang kering menyimpan jejak tanah. Padahal aku dahaga. Menjemputmu dalam ganjil getah. Hinggap dalam rentang rakaat. Melumatmu dalam sumpah serapah fatiha. Mencekikmu dalam tahajud yang absurd. Menelikungmu dalam persetubuhan wirid panjang. Membunuhmu dengan cinta tak berkesudahan.
hai semua, dateng yuk ke acara diskusi buku OEROEG karya Hella S. Haasse. yang akan diadakan pada:hari/tanggal: jumat, 20 november 2009
pkl: 14.00
tempat: kinokuniya plaza senayan
bersama: Mr Roger Tol, Ahmad Sujayadi, Lina martha (moderator)
kami tunggu kedatangannya. gratis tidak dipungut biaya.
terima kasih
Habis Kita dalam Hujanhabis kita dalam hujan. obrolan
segumpal musim cuma jadi debudebu di jalanan.
keindahan hidup: katakata yang berlepasan dari
sekuntum bunga, terjelma dalam kalimatkalimat
setumpuk kitab, terkunyah dalam pikiran, kita
obrolkan, kita lupakan, debudebu menguruk
ingatan kita. lalu kau berteduh. hujan, cepat
datang. menghabiskan semua.
kita berteduh di bawah kaki orangorang gagap.
seperti katak, kau berontak. tapi kita berteduh, ya?
hujan menghabiskan semua. kita selalu tinggal
menunggu jadi gerimis, lalu cemas hujan lagi.
hujan lagi. hujan lagi.
1992
Lagu Pemetik Gitardari jarimu kutemukan luka yang dilagukan.
anakanak ikut menyenandungkan. "buat apa syair
engkau ucapkan?"
mereka tahu: katakata cuma kepalsuan.
di sini, kau tak dapat menyingkir dari
hujan. baris airmata musim lebih cantik dari
petikan hatimu. derasair itu akan menyuburkan
racun yang kautanam.
aku pilih menyingkir. berteduh dari cabikan
dan sayatan.
1989
Sungai Airmatabulan mengalir bersama muara
sungaiairmata. ke laut entahapa. kita
ikut di atas perahumainan. takkemanamana.
"ayolah!"
kau terlelap dalam jantung dayungmu.
sebelum patah dan berdarah.
bulan mengalir, sampai pulau yang
takpernah kita temu. kubangun rumahsiput
di antara tanah dan pasir yang membeku.
1993
Noltanpatepitepi, ranjangkita dirangkul
malaikatentahapa. tanpa cahaya, ruangtidurkita
bagai petimati. tanpa langitlangit, rumahkita
bagaikubur.
apakah yang ingin kaucipta dengan tanahliat itu?
atap yang tak tembus langit. atau dindingdinding
tak berjendela.
kaupilih lantai. diam, dan kautolak keterancaman.
inilah hidup yang takkuharapkan.
1992
Gerbong Gerbong Bagai Keranda-sudah sampaikah?
rel ini lurus dan panjang. suara
kereta, gaduh! tapi sunyi dalam hatimu.
katakanlah tak ada yang harus dicatat.
kertas dan pena siasia kitabawa. tapi
sebait puisi. sebentuk hidup yang selalu
dianggap sendiri: pahamilah. apa pun
lambang yang kautangkap.
1992
Bagai Hidup dalam Telur-takada jendela terbuka
bagai hidup dalam telur. aku pajang
posterposter pada semuadinding. inilah
wajahwajah yang melongok jagatkita.
tubuhku menggelinding dari
lantaikelantai. terbenturbentur
bianglala dalam batin. berirama dalam
alunan musikruang: dalam pulas tidur sesaat.
sebelum berusaha bangun, kehidupan
berakhir dalam ketidakpastian.
1992
Prosa Daun Daunsaat kau petik, daun itu belum layu.
"daripada gugur siasia, aku lebih suka tangan
usilmu," katanya.
akarakar merambatkan zatzat kehidupan lewat
batangbatang. pucukpucuk mengertap dan merunduk.
"buah terakhir pun milikku juga."
tanyakan pada petani yang menanammu, kenapa hujan
harus dikembalikan setiap kali kita usai? tanah
tempat engkau hidup, itu pun suatu kesementaraan!
1993
Percintaan Kepompongdaun hatimu meranggas, aku kehilangan
tempat bertapa. tapi masih kucium harum
ludahmu. yang memintal gairah di antara
keringat dan muslihat embun.
engkau telah nikmati cintaku. gelora
yang membakar dalam bisu. rumah yang
kubangun dari lelehan waktu. di antara
ledakan nafas dan jeritan rindu.
tapi aku berdiam. kekal di antara
detikdemidetik. mengelupas tubuh dan
uraturat. lalu kuterbangkan puncak
gairahku.
1995
Percintaan Ikan Ikannadiku mengalirkan sampahsampah dan limbah
ke kolam hatimu. keringat persetubuhan
mengucur di antara selokan. lendir dan
serat syahwat membesarkan ikanikan rindu.
matahari menyempurnakan darahmu yang
terbakar. nafasmu mendenguskan debu dan
asap kotor. sebuah rumah dalam paruparuku,
hangus dan lenyap!
kubangun tenda, kunikmati keteduhan yang
membias dari air kolam. ikanikan terkapar
di jala waktu.
1995
Orkes Pengantinuntukmu, ranjang basah pada tanah, dan daun
yang tibatiba rebah. tak usah gorden terbuka,
sebab ada yang lebih fana.
untukmu, lukisan mawar (dan kebahagiaan ulatulat
dan cacingcacing tanah).
lalu masuklah dalam perangkapku. pada lukisan
jendela terbuka: memandang dunia lepas. dan cermin
pada dinding: memandang jagatruhani.
masuklah, sebelum mengekal dalam kalenderdinding,
-usia yang kembali terlipat dan terlepas ke
lantai.
1988
