Andri's comments
(member since Oct 06, 2008)
Andri's comments from the Goodreads Indonesia group.
(showing 1-20 of 261)
gw suka yg kalimat terakhir Mang.. paradigma perpustakaan sekadar tempat peminjaman buku harus diubah.
bukan karena maksudnya sih.. cuma mengingatkan gw bahwa yg benar adalah sekadar (bukan sekedar) dan diubah(bukan berubah)..
-andri-
Request :
1. All about loving you - Bon jovi
2. Dilema hati - Ungu
3. Since I Found You - Christian Bautista
4. Percuma - Samsons
5. Something's Missing - John Mayer
-andri-
Ada yang nonton Kick Andy episode 18 November kemarin ? Ada kisah tentang Cak Eko yang mengelola perpus di Malang (gw terlambat, jadi gak ngeh persis lokasi nya di mana). Anggotanya ribuan. Yang bikin mbrebes mili.. perjuangan dia sampe ngejual motor, tv, handphone.. untuk memodali aktifitasnya. Dan juga sempat menawarkan jual ginjalnya...
Semoga kita tergera dan bergerak..
-andri-
Lutfi Retno Wahyudyanti wrote: "Kerenn.... Drop book nya bisa diperpanjang ga seh? Bukan untuk Padang tapi untuk anak-anak di tempat lain yang nggak punya akses ke perpustakaan. Di Jawa aja banyak lo anak-anak SD yang nggak perna..."
how 'bout women don't listen.. is there any ?
-andri-
"Lily Allen"
Wirotomo wrote: "Jangan baca buku ini: "Why Men Don't Listen & Women Can't Read Map".
Karena ternyata ada juga pria yang nggak bisa baca peta ... alias nyasar terus hahaha...."
Tomo yg ikut gaya gw.. or gw yg kebawa gaya Tomo yak..?
hahaha.. jadulers gaya fotonya emang team volley banget.. :))
-andri-
miaaa wrote: "akhirnya foto-foto packing kemarin keupload juga tumben firefox ngadat, pake IE malah lancar bana :D
untuk selebihnya silahkan dicek di sini yah :D"
Tambahan info dikit, kemarin menurut si abang di ekspedisi yg terima, akan dikirim hari Selasa (10/11). Dia bilang kira2 sekitar 4 hari, berarti Sabtu sampe (14/11).
@ Amang, mungkin bisa dikabarin ke Nina utk siap-siap di hari itu, dia perlu datengin tukang pijit.. :)
Btw, utk distribusi di sana, kalo bisa diarrange jg yg simpel dan gak ngeribetin mereka Mang. Up to u and Aldo yg lebih tau kondisi di lapangan. Supaya cepet tersalur aja. Sering dapat info salah satu kelemahan orang indo adalah distribusi yg lambat....
-andri-
"Lilly
Anjrit! gak ada satu pun yg udah gw baca...
-andri-
gieb wrote: "5 Besar Khatulistiwa Literary Award ke 9, 2009 adalah sebagai berikut, dalam urutan tidak teratur:
Prosa
1. Tanah Tabu/Novel/Anindita S. Thayf
2. Lacrimosa/Kumpulan Cerita Pendek/Dinar Rahayu
3..."
Mang, untuk buku2 yg ada di MP Bookpoint, kemarin planning gw yg pick up. Kira2 bisa Sabtu sore-malam gak ? nanti di sana gw hubungi siapa.
Jadi akan lebih cepat kerja kita di hari Minggu besok kalo semua buku udah kumpul, langsung dikeroyok aja.
-andri-
Judul puisi ini, sangat terbuka. Langsung ditujukan kepada sosok yang dituju dalam puisinya. [Apakah seperti Untuk Yani -nya Iwan Fals ?, yg ini dikupas di forum bang Iwan aja ya.. ;-)..:]
Gadis Rasid itu wartawan. Pengagum Sjahrir.
Puisi ini misterius. Diawali dengan pembukaan yang natural, sejuk, indah. Daun hijau, padang lapang, terang, anak kecil, burung merdu, hujan segar, bangsa muda. Semua menggambarkan sesuatu yang positif.
Lalu masuk ke suasana negatif. Angin kering. Gersang. Tandus. Kosong. Dua kutub berbeda Chairil yang sering tampak dalam puisi2nya.
Sepertinya cinta yg ada dalam kondisi serba salah. Terapit. Dan akhirnya Chairil "menyerah". Lepas jiwa. Sonder ketemu. Tidak mendapat. Penafsiran saya, atas sesuatu yang tidak bisa dilawan, yang bisa kita lakukan adalah "menyerah". Chairil mengulangi makna ini dalam puisi Di Karet.
Semakin misterius, ketika Gadis Rasid ternyata berpulang pada tanggal yang sama dengan Chairil, 28 April. Dan mereka pun dimakamkan di tempat yang sama.. di Karet.
Hanya Tuhan yg tahu.
-andri-
miaaa wrote: "Buat Gadis Rasid (hal. 77)
Antara
daun-daun hijau
padang lapang dan terang
anak-anak kecil tidak bersalah, baru bisa lari-larian
burung-burung merdu
hujan segar dan menyebar
bangsa muda menjadi, baru bisa bilang "aku"
Dan
angin tajam kering, tanah semata gersang
pasir bangkit mentanduskan, daerah dikosongi
Kita terapit, cintaku
- mengecil diri, kadang bisa mengisar setapak
Mari kita lepas, kita lepas jiwa mencari jadi merpati
Terbang
mengenali gurun, sonder ketemu, sonder mendarat
- the only possible non-stop flight
Tidak mendapat ..."
Tadinya gw kira akan banyak yg menimpali puisi ini. Karena puisi ini salah satu puisi Chairil yg lumayan mudah dicerna. Meski temanya berat. Sangat berat. Berat banget. Nggak kuwwadt..
Kesedihan. Patah hati. Is it ? gak bisa juga dibilang patah hati, karena ibu Sri Ajati di satu wawancara pernah bilang bahwa Chairil tidak pernah menyatakan cintanya. Tapi Chairil hanya menuliskan satu puisi yang penuh nuansa kesedihan.
Ternyata Chairil mengambil kesimpulannya sendiri. Cinta yang bertepuk sebelah tangan.
Tidak ada yang mencari cinta. Mungkin ungkapan rasa ketak berdayaan. Gudang, rumah tua, tiang, temali.. menggambarkan suasana yg diam. Paused life. Perahu tidak berlaut.
Lalu gerimis. Yang pasti tipis. Membawa kelam. Imaji gw melayang ke suasana di pelabuhan kecil. Menjelang malam. Saat lembayung datang, kaki langit berganti warna. Twilight zone. Simak, Chairil pakai kata "kelam". Bukan gelap. Tentu terkait dengan kata berikutnya, muram.
Ahh.. suasana hati yang murung. Karena cinta yang tak bersambut. Kembali paused life diangkat. Tidak bergerak.
Rasa itu tak ada lagi. Tinggal Chairil sendiri. Berjalan membawa sisa harapan, untuk menuju ke satu kesimpulan. Penghabisan. Selamat jalan. Kepahitan.. yang harus didekapnya.
***
Puisi kebangsaan buat yg lagi patah hati, cinta ditolak, cinta yang tak bersambut, cinta yang tak terucapkan...
Ubiet dan Riza Arshad, menafsirkan puisi ini secara musikal lewat komposisi di album Keroncong Tenggara. Meski gw masih berat menikmatinya...
-andri-
Ayu wrote: "Senja Di Pelabuhan Kecil (hal.58)
buat Sri Ajati
Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut
menghembus..."
Kalo dia masih ada di jaman sekarang.. langsung Chairil akan dituding sebagai islam liberal..
-andri-
"kangen susu"
Pandasurya wrote: "Sajak Buat Basuki Resobowo (hlm. 66)
Tapi ada suara menimbang dalam diriku,
nekat mencemooh: Bisakah kiranya
berkering dari kuyup laut biru,
gamitan dari tiap pelabuhan gimana?
Lagi siapa bias mengatakan pasti
di situ memang memang ada bidari
suaranya berat menelan seperti Nina, punya kerlingnya Jati.."
Waah.. bakal jadi tempat huntingan baru.. melengkapi huntingan kaos-kaos metal/rock di blok m mal bawah terminal... thanks Po!
Brengkeeettsszz..
-andri-
Di antara 2 puisi sajak putih ini, gw suka yang versi SS. Jelas ini puisi cinta. Dan tentunya indah. Simak rima di belakang bait, yang seakan membawa ke era angkatan pujangga baru.
IAIA, AAUU, AHAH, dan di bait terakhir, sedikit berubah karena memang itu bukan puisi angkatan pujangga baru.. :)
Pilihan katanya indah : pelangi, senja, melati, harum. Ada spirit pernyataan cinta. Mirat, memang salah satu sosok perempuan yang menjadi topik di puisi2 Chairil, dan di sini, dia menyatakannya secara gamblang : tunanganku.
-andri-
Ronny wrote: "Sajak Putih* (hlm. 43)
buat tunanganku Mirat
bersandar pada tali warna pelangi
kau depanku bertudung sutra senja
di hitam matamu kembang mawar dan melati
harum rambutmu mengalun bergelut senda
s..."
Puisi ini, pernah gw bacain di satu mushola waktu peringatan malam Nuzulul Quran. Pilihan gw, tentu karena tema pokoknya adalah hubungan si penyair, dengan Tuhannya. Ada nuansa tobat, penyesalan, permohonan ampun, kesadaran bahwa kita adalah makhluk yang sesungguhnya tak ada daya, hanya bisa kembali padaNya. Cucok banget buat nuansa ramadhan saat itu.. ini sekitar thn 93-94.
Saat itu level gw sudah naik.. bukan sebagai peserta. Tapi sebagai juri. Hehehe.. Saat peserta sudah selesai lomba, penilaian selesai dilakukan, pengumuman pemenang akan dibacakan... sang emsi meminta gw ke panggung untuk baca puisi. [Meski emang udah ada bisik2 di belakang layar sih, makanya gw udah prepare puisi ini utk dibaca:].
Satu puisi religius Chairil yang dahsyat.
-andri-
miaaa wrote: "Doa (hal. 41)
kepada pemeluk teguh
Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namaMu
Biar susah sungguh
mengingat Kau penuh seluruh
cayaMu panas suci
tinggal kerdip lilin di kelam sunyi
Tuhanku..."
Gw pernah baca puisi ini di lomba baca puisi menyambut hut sekolah, sekitar thn 1986-87. Dateng telat, yang membuat gw menjadi peserta terakhir. Siang terik. Menyadari puisi ini adalah puisi heroik, gw bawain dengan gaya orator penuh perjuangan.. semangat.. FULL. Rasanya semua yg hadir di situ diam. Tercengang (mungkin :)..). Karena basic voice gw kan cukup lantang. Dan hasilnya.. gw melaju ke babak final.. ;-)
-andri-
miaaa wrote: "1943 (hal. 39)
Racun berada di reguk pertama
Membusuk rabu terasa di dada
Tenggelam darah dalam nanah
Malam kelam-membelam
Jalan kaku-lurus. Putus
Candu.
Tumbang
Tanganku menadah patah
Luluh
Terb..."
miaaa wrote: "Jangan Kita Di Sini Berhenti* (hal. 38)
Jangan kita di sini berhenti
Tuaknya tua, sedikit pula
Sedang kita mau berkendi-kendi
Terus, terus dulu...!!
Ke ruang di mana botol tuak banyak berbaris
P..."
Di sini sisi "egois" seorang Chairil terlihat.. ;-)
-andri-
miaaa wrote: "Penerimaan (hal. 19)
Kalau kau mau kuterima kau kembali
Dengan sepenuh hati
Aku masih tetap sendiri
Kutahu kau bukan yang dulu lagi
Bak kembang sari sudah terbagi
Jangan tunduk! Tentang aku de..."
Waah.. gw dapat target lemparan buku nih... hehehe.. are u ready ? hahaha..
-andri-
Sylvia wrote: "Kalo saran gw nih Git, elo kategorikan aja dulu spt usul Lita, dipilih mana yang mo di koleksi dan mana yang mo disumbangin spt saran Ronny dan Andri, trus lempar ke gw deh :D xixixi..
Serius ni..."
