Goodreads helps you keep track of books you want to read.
Start by marking “Mengawini Ibu” as Want to Read:
Mengawini Ibu
Enlarge cover
Rate this book
Clear rating
Open Preview

Mengawini Ibu

3.52  ·  Rating Details ·  58 Ratings  ·  15 Reviews
“Mencintai adalah pekerjaan abadi yang tak pernah selesai, dan
cinta adalah obat paling mujarab untuk menyembuhkan luka.
Cintalah yang mesti kamu rawat, Anakku, bukan dendam.”

Rewa terlahir dari keluarga kaya. Ayahnya, Daeng Sambang, pengusaha sukses berwatak keras. Ibunya, Naura Shabrina, perempuan jelita keturunan Makassar-Pakistan yang lembut lagi penurut. Bencana bermula
...more
Paperback, 167 pages
Published 2010 by Kayla Pustaka
More Details... edit details

Friend Reviews

To see what your friends thought of this book, please sign up.

Reader Q&A

To ask other readers questions about Mengawini Ibu, please sign up.

Be the first to ask a question about Mengawini Ibu

This book is not yet featured on Listopia. Add this book to your favorite list »

Community Reviews

(showing 1-30)
filter  |  sort: default (?)  |  Rating Details
Harun Harahap
Jan 02, 2011 Harun Harahap rated it liked it
Ekspektasi saya cukup tinggi terhadap kumcer ini. Dikarenakan begitu banyak endorsement dan promosi yang mengatakan bahwa kumcer ini cukup bagus dan layak untuk dibaca. Ditambah lagi adanya unsur budaya lokal (Bugis-Makasar) membuat saya menjadi lebih ingin membacanya. Lalu bagaimana kesan saya setelah membaca kumcer ini? Berikut kesan saya:

Gadis Pakarena : Katanya walau berbeda tetap satu jua. Katanya beda itu indah. Lalu mengapa beda yang ini begitu pedih dan menyakitkan?

Arajang : Cerpen yang
...more
Imam Rahmanto
Apr 06, 2015 Imam Rahmanto rated it liked it
Shelves: hasil-minjam
“Sebaiknya kamu tahu, tradisi di kampung kelahiranku memperlakukan kaum perempuan sewenang-wenang; mereka ditukar lewat setumpuk rupiah berdasarkan kecantikan, derajat, atau ilmunya. Semakin cantik, semakin mahal; semakin tinggi derajatnya, semakin sulit mahar yang harus ditebus untuk meminangnya.” –Silariang--

Khrisna Pabhicara memang selalu menelurkan karya-karya berlatar kedaerahan yang menarik. Ia mampu mengolah adat dan budaya daerah menjadi sesuatu yang menarik untuk dikisahkan. Membelajark
...more
Nike
Dec 05, 2010 Nike rated it really liked it
Pas pertama liat buku ini, wah covernya menarik nih, liat judulnya tambah penasaran deh tuh ceritanya kayak apa. Berpikirlah saya, apa ceritanya kayak cerita Sangkuriang gitu ya, kan ngawinin ibu sendiri. Ternyata saya keliru.

Sejak buku ini sampe, saya langsung mengagumi covernya. Keren, saya suka. Gambarnya aja kerasa 'hot' banget, cocok banget deh tuh sama judulnya. Perpaduan warna coklat dan hitam covernya terlihat lux gitu. Kesan pertama yang begitu menggoda.

Dan saya benar-benar tergoda sete
...more
Purbandini
Apr 21, 2012 Purbandini rated it liked it
Tertarik dengan judulnya yang agak aneh.. "mengawini Ibu", dan setelah membuka halaman pertama, tertulis sebuah judul cerpen "Gadis Pakarena", wah.. aku jadi tambah tertambat pada buku ini. Kumpulan cerpen karya krisnha pabicara ini sangat kental dengan budaya Bugis Makassar, sesuatu yang lekat dengan diriku. Budaya Bugis Makassar yang selalu melingkar diantara Siri'na Pacce, tentang tradisi, harta dan wanita mendominasi hampir dalam semua cerpen Krisna. Seperti dalam Silariang, karena kedudukan ...more
Vira Cla
May 30, 2014 Vira Cla rated it liked it
Shelves: kumcer
Awalnya saya pikir Mengawini Ibu adalah novel, ternyata saya tak begitu teliti melihat tagline senarai kisah pada sampul depan. Tapi, tak apa-apa. Terdapat 12 cerpen dengan tutur cerita yang sangat baik. Sebagian besar berkisah tragedi dengan tema unsur lokalitas kultur Bugis-Makassar. Hanya dua cerpen terakhir yang bukan, yang sepertinya merupakan curcol penulis. Tapi justru salah satunya adalah favorit saya. Selebihnya, ya tragedi biasalah. Tak berharap cerita dengan ide yang luar biasa. Pemik ...more
Awal Hidayat
"Cinta, Nak, adalah obat paling mujarab untuk menyembuhkan luka"

"Mencintai itu pekerjaan abadi, Nak, tak pernah selesai"

"Tak ada gunanya mengelak, Nak, seperti juga tak ada gunanya berharap"

"Bakti itu, Nak, adalah saudara kandung kepatuhan"

"Jika ingin menerima yang terbaik, Nak, berikan juga yang terbaik"

"Hidup, Nak, acap kali tak seperti yang kita bayangkan"

"Perempuan bukan boneka, Nak, mereka punya hati"

"Penyesalan, Nak, selalu lahir di urutan terakhir"

"Maaf itu menyembuhkan, Nak, bagi yang di
...more
Juniar
Feb 14, 2011 Juniar rated it it was amazing
Shelves: short-stories
Berapa banyak penulis sekarang yang mengangkat tema atau setting budaya daerah asalnya? Dan memerkaya khazanah kesusastraan Indonesia? Mungkin banyak yang punya kerinduan untuk itu. Mengawini Ibu memberitahu dan memberi contoh, bahwa untuk menyajikan cerita berakar budaya-ibu yang solid, budaya itu sendiri perlu berakar terlebih dahulu pada diri kita. Agar yang akan tersaji bukan kripik kulit, melainkan menu utama yang kaya-rasa.
Irda Dewi Puspita
Dec 23, 2010 Irda Dewi Puspita rated it liked it
Banyak yang baca di goodreads, tapi ga pernah "serius" liat reviewnya. Hunting buku di Gramedia Book Fair kemaren, banyak yang beli. Jadi penasaraaaan....

Pas pertama baca2: oohh... kumpulan cerpen.

Selanjutnya: boleh juga ni buku, cerpen2nya ngebuat aku jadi mikir, ini kisah2nya diambil dari kisah nyata apa ga ya? Koq kayak kisah2 yang kadang aku denger di keseharian.

Buku yang layak untuk dibaca.

Like it! :)
nila
Jan 03, 2011 nila rated it it was ok
Shelves: indonesian, fiction
Daeng atau andi Khrisna, kapan terakhir ke Makassar ? Patung Ramang tidak lagi eksis di Lapangan Karebosi tercinta. Lokasi Patung Sang Legenda, sekarang sudah ditempati dengan Pak Satpam. Karebosi yang dulu adalah ruang publik semua lapisan masyarakat, setengahnya sudah berubah menjadi pusat perbelanjaan. Cerita-cerita dalam buku kumpulan cerpen ini dan fakta kecil tadi, membuat saya bertanya-tanya, sebenarnya senarai kisah ini terjadi di sekitar tahun berapa, Cika ?
Diana
Jan 15, 2016 Diana rated it liked it
Menarik ternyata membaca adat Makassar yang kental dalam kumcer ini. Meski cerita-cerita yang dimuat sangat miskin dialog (bukan tipikal cerita favorit saya), bahasanya yang indah cukup menyenangkan hati meski kadang terasa terlalu berlebih.
Ceritanya rata-rata suram dan kelam, juga menuntut adat yang dirasa terlalu mengekang. Jadi, kalau kamu mau cari cerita yang menyenangkan, buku ini bukan pilihan yang tepat. Hehe
eti
May 29, 2014 eti rated it it was ok
#49 - 2014

saya suka dengan cerita yang bernuansa lokalitas, jadi tidak sekadar membaca saja tapi saya jadi sedikit tahu dengan latar budaya suatu daerah dari sebuah cerita. tapi cerita-cerita di buku ini menurut saya terlalu "dramatis", berkutat dengan kesedihan dan kekecewaan. dan gaya penceritaan yang hampir sama dari 12 cerpen yang ada jadi terasa membosankan.
Irawan Senda
Feb 06, 2011 Irawan Senda rated it really liked it
Penulis sepertinya ingin mendongeng lebih jauh lagi ke tempat kelahirannya. Saya suka bagian-bagian dimana unsur kebudayaannya kuat. Karakternya natural dan tidak seperti di setting oleh penulisnya. Pokoknya keren deh.....
Thiya Renjana
Jan 23, 2011 Thiya Renjana rated it did not like it
Sebagaimana buku-buku sastra lainnya, buku ini tidak bisa ditangkap mentah-mentah maksudnya. Saya kurang paham hikmah yang bisa saya ambil di setiap cerita, tapi saya suka dengan beberapa flash poem di dalamnya...
Fitria
Feb 22, 2011 Fitria rated it really liked it
awalnya sempat kecewa karena saya kira ini novel, ternyata kumpulan cerpen. Tapi, setelah dibaca lebih lanjut ternyata bagus *ga nyesel belinya* bahasa sastranya mudah dipahami dan ceritanya mengalir ringan, bagus buat pembaca pemula yang menganggap bahasa sastra itu sulit =)
selamat membaca =)
Aditya Sylvana
Feb 03, 2011 Aditya Sylvana rated it it was amazing
Setiap cerita membuat terhenyak.
Fairynee
Fairynee rated it it was ok
Jun 30, 2012
Gilang Perdana
Gilang Perdana rated it it was amazing
May 10, 2014
Alghiacielz Alghiacielz
Alghiacielz Alghiacielz rated it it was amazing
Mar 20, 2015
Shalahuddin Gh
Shalahuddin Gh rated it it was amazing
Mar 02, 2012
Zeerooax
Zeerooax rated it really liked it
Nov 09, 2015
Hero Dian
Hero Dian rated it liked it
Jan 22, 2015
Dwiyana Maharani
Dwiyana Maharani rated it liked it
Jan 21, 2016
Wiwin Utami
Wiwin Utami rated it really liked it
Sep 21, 2011
Joko Prastiyo
Joko Prastiyo rated it it was amazing
Feb 14, 2013
Haaa
Haaa rated it it was amazing
Sep 11, 2014
Kawula
Kawula rated it did not like it
May 11, 2013
Tati Haryani
Tati Haryani rated it it was ok
Jun 05, 2011
Helvy
Helvy rated it liked it
Sep 29, 2011
Sekar Surowijoyo
Sekar Surowijoyo rated it really liked it
Mar 26, 2016
Fitriyani
Fitriyani rated it really liked it
Mar 30, 2011
« previous 1 next »
There are no discussion topics on this book yet. Be the first to start one »
4495520
Khrisna Pabichara lahir di Borongtammatea—sebuah kampung di Jeneponto, Sulawesi Selatan—pada 10 November 1975. Kumpulan cerpen debutnya, Mengawini Ibu, terbit pada 2010. Novel debutnya, Sepatu Dahlan, terbit pada 2012. Sedangkan kumpulan puisi pertamanya, Pohon Duka Tumbuh di Matamu, terbit pada 2014. Penyair yang kerap diundang sebagai pembicara dan pembaca puisi ini memulai karier kepengarangann ...more
More about Khrisna Pabichara...

Share This Book



No trivia or quizzes yet. Add some now »