Goodreads helps you keep track of books you want to read.
Start by marking “Larung” as Want to Read:
Larung
Enlarge cover
Rate this book
Clear rating
Open Preview

Larung (Saman #2)

3.37  ·  Rating Details ·  2,972 Ratings  ·  220 Reviews
Buku ini adalah kisah lanjutan novel Saman. Di penghujung masa Orde Baru. Saman telah tinggal di New York sebagai pelarian politik. Ia bertemu lagi dengan empat sahabat yang dulu membantu ia kabur dari Indonesia—Shakuntala si pemberontak, Cok si binal, serta Yasmin dan Laila yang diam-diam mengagumi dia.

Kini mereka memiliki misi baru: membantu tiga aktivis mahasiswa kiri m
...more
Paperback, 259 pages
Published 2004 (first published 2001)
More Details... edit details

Friend Reviews

To see what your friends thought of this book, please sign up.

Reader Q&A

To ask other readers questions about Larung, please sign up.

Be the first to ask a question about Larung

Community Reviews

(showing 1-30)
filter  |  sort: default (?)  |  Rating Details
*eKa*
“Seperti segala binatang dan kita hidup dengan memakan yang lain, manusia selamat dengan mengorbankan yang lain. Mengapa engkau merasa aneh?”


Larung merupakan lanjutan novel Saman, dengan fokus baru pada tokoh pria bertubuh kecil yang acuh tak acuh dan misterius bernama Larung Lanang. Seperti halnya Saman, dia dekat dengan kehidupan yang berbau magis. Dan dia ingin mencabut nyawa neneknya.

Dalam buku ini, kehidupan empat sahabat (Laila, Cok, Yasmin, Shakuntala) dan juga Saman masih menjadi bagia
...more
Weni
Nov 06, 2008 Weni rated it really liked it  ·  review of another edition
Halaman 152 (Shakuntala bercerita ttg percakapannya dg Laila):


"Aku bikinkan kamu susu. Dengan kopi atau coklat?"
Kamu tertawa. "Kenapa kamu selalu memaksa orang minum susu?"
"Karena perempuan akan kehilangan massa tulang setelah ia menopause."
Kamu nyengir. "Masih 20 tahun lagi."
"Masih 20 tahun waktumu untuk menabung tulang."

Dan waktu itu lebih pendek jika kita tak punya lelaki sebagai sumber feromon yang bisa senantiasa kita endus. Sebab hirupan atas keringat lelaki merutinkan haid kita dan memper
...more
Hestia Istiviani
Jun 05, 2016 Hestia Istiviani rated it really liked it  ·  review of another edition
Agak susah memang sekarang untuk mendapatkan lanjutan dari buku Saman ini. Setelah membaca Saman, rasanya aku langsung ingin melanjutkannya untuk mengetahui apa yang terjadi setelah pelarian tersebut. Meskipun memang, pembaca sudah tahu bahwa Saman berhasil berpindah negara dengan bantuan 4 sahabat tersebut.

Resensi Lengkapnya

Kalau mau membaca Larung, pastikan kamu sudah membaca Saman. Kalau mau mengenal konsep feminisme dari sisi Ayu Utami, sila baca Larung.
Darnia
Jujur, seharusnya part 2, tentang Yasmin, Cok, Laila dan Shakuntala pas di New York gak perlu sepanjang itu. Gw pribadi juga bukan penggemar kisah-kisah affair, seromantis apapun itu. Jadi...yah, gw sama sekali gak bisa bersimpatik pada keempat sahabat ini (walaupun karakter Shakuntala yg notabene penari yg androgini terasa cukup menarik. Mungkin perlu dibikinkan episode sendiri...mungkiiin).

Gw suka pada kisah Larung. Baik kisah Larung saat menempuh jalur antah berantah demi usaha meng-euthanasi
...more
Fahrul Amama
Oct 09, 2007 Fahrul Amama rated it really liked it  ·  review of another edition
Shelves: fiction
Dalam novel ini Ayu Utami menyatakan perang terhadap eufimisme bahasa. Walau pada novel "Saman" sebelumnya telah terlihat kelugasannya dalam penggunaan kata-kata yang membuat sebagian orang mengeryitkan dahi. Ayu Utami menegaskan kembali dalam buku ini bahwa kata benda maupun kata kerja seharusnya terlahir dalam kondisi netral dan terbebas dari konotasi apapun. Terserah jika Taufik Ismail menganggapnya sebagai Fiksi Alat Kelamin. Yang pasti konyol juga kalo bahasa Indonesia kita harus meminjam i ...more
Dedul Faithful
Jan 16, 2015 Dedul Faithful rated it really liked it  ·  review of another edition
Sengaja membedakan satu bintang dari buku sebelumnya yang memang tidak terlalu bertele-tele seperti isi di buku ini.
Secara garis besar memang Larung begitu padat dengann aroma gerakan bawah tanah para aktivis yang by the way saya juga gak terlalu paham maksud dan tujuan mereka apa, semuanya abstrak dan dijelaskan sangat implisit oleh Ayu Utami.
Saya bosan saja pada delapan puluh empat halaman yang menjelma solilokui tentang perjuangan Larung untuk meng-euthanasia neneknya, jujur saja kalau hal it
...more
Novi Muzzy
Novel lanjutan dari Saman ini masih menekankan pergerakan aktivis di masa orde baru. Judulnya diambil dari seorang tokoh yang mulai bersinggungan dengan tokoh utama. Larung, begitu namanya. Seorang pemberani, bukan orator tapi berjuang di balik layar dan secara bergerilya saat era pemerintahan Soeharto. Penulisnya pintar meramu. Dibiarkan pembaca mabuk dengan kisah asmara antara Saman dengan Yasmin atau perjuangan Laila mendapatkan pria dambaan hatinya.

Klimaks justru berada di bagian akhir. Bera
...more
dunianyawira
Dec 17, 2009 dunianyawira rated it really liked it  ·  review of another edition
setelah membaca 2 bukunya ayu utami, saman dan larung...hmm..menurutku memang ayu punya gaya bahasa yang khas
saman dan larung sama2 khas dan menarik tapi saya bisa lebih menikmati larung daripada saman mungkin karena waktu membaca saman masih dalam proses penyesuaian tapi kalo mambaca larung tanpa saman jg rasanya pasti kurang mantap...

banyak saya liat,pembaca yang menilai cara ayu membahasakan seks sebagai nilai minus dalam buku2nya padahal menurutku justru itu kekuatan ayu dimana ia tidak pern
...more
Imas Indra
Diantara banyak hal yang patut dipuji dari buku ini, saya pilih kepiawaian penulisnya dalam mengekploitasi detil suasana. Ada kengerian yang membuat saya hampir tak bisa membedakan antara nyata dan khayal.

“Tapi mulutnya seperti ubur-ubur, mengembang dan mengatup dalam gelombang pelan, menyimpan racun. Lalu aku melihat, kata-kata kotor muntah dari perutnya, dari hatinya yang telah mati dijalari sirosis, seperti cairan jorok yang penuh gumpalan bekas makanan dan gelembung gas bau, menyemburi sera
...more
Darth Pika
Dec 24, 2012 Darth Pika rated it it was amazing  ·  review of another edition
Contrary with public opinion, even with the author it self, I'd prefer Larung as the best narration compared with Saman. The title it self caught my eye, the unended coffin!

Larung using, what I called Darkness Literary about the darkside of Indonesia: 1965's killing field. The narration about the dead of Larung's grandmother is really really throw me into the bitter experienced of Indonesian in that decade.
N. R Jelyta
buku ke dua saman...
ini... berisi sedikit berbeda dengan novel sebelumnya...
tapi dari segi bahasa tidak menunjukkan perbedaan karena tentunya pengarangnya sama...
tapi sayang... ending keduanya...
tidak mengenakan...
saman berending tanpa titik... dan pembaca diharuskan membaca novel lanjutannya yaitu Larung.

Tak bedanya dengan saman Larung ber -ending tanpa kejelasan tertentu hanya kematian yang mengakhiri ceritanya
ratna
Sep 06, 2007 ratna rated it did not like it  ·  review of another edition
Shelves: indonesian
I was quite disappointed after reading this. For me, Saman is much more enjoyable than Larung.
Abi Ghifari
Jun 18, 2015 Abi Ghifari rated it it was amazing  ·  review of another edition
Shelves: novel
Dwilogi “Saman & Larung” barangkali merupakan salah satu sumbangan terpenting di ranah sastra Indonesia pada masa detik-detik menjelang Reformasi, yang ditandai dengan mundurnya Presiden Jenderal Soeharto dan runtuhnya pemerintahan Orde Baru selama 32 tahun berkuasa di bumi pertiwi. Latar belakang sepasang novel ini pun tak jauh seputar itu, kegiatan para aktivis yang melakukan pergerakan di berbagai bidang untuk membela masyarakat kalangan bawah dalam menentang ketidakadilan. Pergerakan baw ...more
Norma Yustisia
Feb 20, 2017 Norma Yustisia rated it it was amazing  ·  review of another edition
Buku ini menarik sekali, terutama tokoh larung. dari namanya yang sangat berkesan & latar belakang keluarganya membuatnya memiliki karakter ayng cukup kuat dan tidak mudah dilupakan.
Aliftya Amarilisyariningtyas
“Kata-kata Larung berhenti bersama suara letupan yang redam. Saman mendengar tubuh itu jatuh ke dekat sisinya. Kepalanya menoleh ke arah itu seperti mencari kepastian. Tapi ia mendengar kedap letupan sekali lagi. Dalam sepertiga detik itu yang ia inginkan hanyalah pamit pada Yasmin. Setelah itu ia diam. Diam yang tak lagi menunda.” – halaman 295.

“Arrrrrgggh!”

Teriak saya seusai membaca habis novel ini. Sebelumnya, izinkan saya terlebih dahulu untuk mengungkapkan kesan sebelum membahas hal lainny
...more
Fertina N M
Saya akui buku Ayu Utami ini ( Saman dan Larung ) sangat lah rumit ( setidaknya menurut saya ). Saya cukup suka sebenarnya baca buku - buku misteri atau detektif, tapi buku Ayu Utami ini lebih mencampuri misteri, filsafat, agama, politik Indonesia dan psikologi. Karna saya tidak suka dengan politik, saya sedikit banyak masih awam bagi saya istilah dan analisis yang ada di dua buku ini. Tapi saya akui sekali lagi, buku ini jadi membuka sedikit banyak pengetahuan tentang keadaan yang ada di Indone ...more
Adisti
Dec 08, 2015 Adisti rated it liked it  ·  review of another edition
Gw tahu buku ini udah lama. Banyak orang yang membicarakan buku ini. Gw juga melihat buku ini ada di rak buku abang gw. Tapi saat itu gw belum punya ketertarikan untuk membacanya.

Sampailah pada sebuah sesi pelatihan bahasa Indonesia di kantor lama gw. Sang pemberi pelatihan, Bu Amel, bilang kalau mau tahu buku dengan kosa kata bahasa Indonesia yang kaya namun baku cobalah baca buku-buku karya Ayu Utami. Di situ timbullah ketertarikan gw.

Namun karena waktu itu gw ngekos dan jarang pulang, lalu gw
...more
Achmad Muchtar
Nov 21, 2013 Achmad Muchtar rated it liked it
Judul: Larung
Pengarang: Ayu Utami
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
ISBN: 9799023637 (ISBN13: 9789799023636)

Larung adalah novel lanjutan Saman yang memenangkan Sayembara Roman DKJ. Larung juga merupakan karya kedua dari Ayu Utami. Cerita diawali dengan pergumulan batin seorang lelaki muda berdarah Bali bernama Larung yang merasa terkungkung dalam bayang-bayang neneknya yang pesakitan. Niat membunuh seorang wanita tua yang telah berumur begitu panjang, serasa menjadi wajar karena kehidupan nen
...more
Aya
Jul 01, 2015 Aya rated it really liked it  ·  review of another edition
Shelves: bahasa, sastra
Lagi-lagi rekor seharian baca selesai.
Setelah sukses merobek hati di buku Saman, saya langsung "perkosa" buku ini yang masih perawan alias masih berplastik dan bersih. Saya masih dalam minggu UAS tapi yaaa males banget deh belajar wong dosennya juga males ngajar dan lagi-lagi males banget sama bacaan barat Young Adult, Contemporary apalah itu.

Overall, saya suka buku ini lah. Ayu masih mempertahankan cerita masalah tahun '98 dan menjadi cambuk untuk para pembacanya yang baru menginjak dewasa ha
...more
Sulin
Feb 06, 2016 Sulin rated it really liked it  ·  review of another edition
Semakin tidak mengerti arah buku ini ke mana. Terlalu.... hmmmm merekah.
Di buku yang pertama saya sudah sedikit kecewa karena gak ngerti masalah utama dan topiknya apa.
Dibilang tentang eksil prareformasi enggak, dibilang roman juga enggak. Gak jelas deh pokoknya.
Di buku yang kedua ini saya merasa nyaman membaca, tapi bukunya makin aneh.
Shakun menjadi androgini dan akhirnya tidur bersama Laila.
Yasmin sayang Saman.
Cok suka Larung.
Larung dan Saman mati di tangan ABRI.
Tetot. Buku apaan nih. Jangan k
...more
Henry Wijaya
Jun 24, 2008 Henry Wijaya rated it it was amazing  ·  review of another edition
Recommends it for: critical readers
Recommended to Henry by: Mas Lambang
Larung (by Ayu Utami) is the sequel of her previous amazing book, Saman. This book is as superb as its prequel, I can say. Still written with Ayu Utami's straightforwardly brilliant style, this book fascinated me so much. The story was still thrilling in unusual way. The plot still moves from one character to other characters in a nice way (making me wonder: So, what happen with this character? Why do we move to this character. Aaaargh, hehehehe). The language is still as brave as before (You kn ...more
Amanda Sheila
Well, bukan buku favorit saya, yang pasti. Ayu Utami terkenal dengan karya sastranya dan saya bukan penggemar sastra. Buku ini bagus, tapi berulang kali ada saat di mana saya berpikir, "what's that suppose to mean?"

Lalu aku mendengar, orang-orang menyebut ibumu gerwani. Ibumu memakai beha hitam dengan lambang bintang merah di satu pucuknya, palu arit di pucuk yang lain, kata mereka. Ia mengumpulkan perempuan-perempuan dan mengajar tari telanjang, dan mengirim wanita-wanita untuk merayu para pra
...more
Awal Hidayat
"Ketika orang menjadi tua maka keindahan pergi ke luar dirinya. Pada saat itulah kita tahu rasanya memiliki mata untuk melihat kecantikan hidup dari luarnya sebab kita telah berjarak dari hidup. (..) Tapi menjadi tua adalah seperti bayangan yang pelan - pelan terlepas dari layar dan meninggalkan film yang terus berputar sementara ia terhirup ke kursi penonton dan menyaksikan cerita yang berjalan tanpa dirinya disana lagi. ( sebuah gedung bioskop, nak, adalah layar lebar yang bercahaya dan ruang ...more
Glenn Ardi
Lanjutan dari buku Saman, buku Ayu Utami yang kedua ini bercerita ttg kelanjutan kisah Saman, Laila, Shakuntala, Cok, dan Yasmin. Dengan tambahan satu tambahan karakter utama bernama Larung, Larung Lanang.

Pada awal buku ini, cerita berjalan dengan gamang - menceritakan kisah Larung dan neneknya, dengan gaya penulisan Ayu yang kental akan puisi konseptual dibumbui dengan monolog dari sudut pandang orang pertama.

Entah mengapa, bagian ini saya merasa alur cerita berjalan sangat lambat, penulisannya
...more
Sally Siawidjaja
Jul 31, 2008 Sally Siawidjaja rated it did not like it  ·  review of another edition
Shelves: indonesia-fiksi
Akhirnya selesai juga baca buku ini. Phewww...

Sebagai pemula dalam bacaan sastra, baca buku ini seperti makan sushi pake wasabi yang banyak. Pedes banget. Mungkin ada orang yang suka tapi gue pribadi ga suka sama sekali.

Yang gue ga suka:
1. Cara penulisannya yang terlalu berlebihan, seperti tentang tai, daki, bau-bau an pokoknya jorok deh, jadi mual.. Kalau ttg alat kelamin dan sex masih bisa gue terima, walau menurut gue kadang berlebihan.

2. Semua karakter di buku ini kok melankolis yah.. yan
...more
Roswitha Muntiyarso
Saya membaca Saman ketika saya masih duduk di bangku MTs. 10 tahun kemudian baru saya membaca lanjutannya. Ayu Utami begitu mantap membeberkan ceritanya. Karakter-karakter yang kuat masih membayang meskipun saya membaca Sama sepuluh tahun lalu. Ketika Saman atau Fater Wis menceritakan kembali akan cintanya pada Upi, saya masih mengingatnya tanpa melihat kembali ke halaman-halaman buku Saman. Memang ceritanya sangat terbuka masalah seksualitas dan feminisme. Wajar buku ini sangat memicu kontrover ...more
Lukas Yohan
Feb 01, 2016 Lukas Yohan rated it liked it  ·  review of another edition
Shelves: read-2016
Lanjutan buku Saman ini jalan ceritanya memang terkesan membosankan karena banyak bagian di tengah yang terlalu panjang diceritakan. Konteks-konteks tertentu yang terasa lebih baik diceritakan pada buku Saman malah masuk ke buku Larung. Makanya bagian kedua yang mestinya mengisahkan banyak bagian mengenai Larung akhirnya hanya terkesan sebagai pelengkap. Tokoh Larung hadir di bagian awal dan menjelang akhir buku saja.

Namun meski begitu isi buku ini tetap sangat-sangat berkualitas sehingga merang
...more
Azzahro Wijaya
Jun 28, 2011 Azzahro Wijaya rated it really liked it  ·  review of another edition
Shelves: novel
Membaca halaman-halaman pada larung di awal sebenarnya membuat saya agak bergidik ngeri dan jijik. Jika teringat bagaimana neneknya si Larung digambarkan disini, saya jadi agak ga napsu makan.. hehe..
Saya juga teringat bagaimana Ayu Utami menggambarkan betapa mengerikannya proses pembuatan telur asin. Saya rasa ada satu kemiripan antara Saman dan Larung, yaitu mereka merasakan hal yang berbau mistis dalam hidup mereka. Saman pada ibunya, dan Larung pada neneknya.

Larung dan Saman sama-sama bercer
...more
Sarasvvati Ajeng
Somehow saya masih lebih suka buku Saman dibanding Larung. Mungkin karena di ending buku Saman, saya berekspektasi sangat tinggi untuk baca lanjutannya, tapi ternyata alur cerita yang ada di Larung nggak sesuai dengan harapan saya. Tapi, secara keseluruhan saya tetap suka baca novel ini, walaupun tetap aja selama saya baca, di dalam hati kecil saya (cailah!) masih menunggu-nunggu ceritanya jadi ke-Saman-Saman-an. Kalau ditanya exactly apa yang bikin beda, saya juga nggak ngerti, maklum bukan pen ...more
Hayatun Nafysa
Sep 03, 2014 Hayatun Nafysa rated it really liked it  ·  review of another edition
:")

Speechless. Semua bercampur jadi satu kayaknya disini. Sedikit mistik Jawa dan Bali, Implikasi karakter homoseksual, Perjuangan aktivis mahasiswa di rezim Soeharto.....

I'd have to say that I like Saman's character better here, taking back what I said when I reviewed Saman, in which I thought his character has no appeal and is only appealing through the eyes of the four girls. Turns out he is quite an enigma. Usaha dan perjuangannya sebagai seorang aktivis juga dapat lebih dirasakan disini d
...more
« previous 1 3 4 5 6 7 8 9 next »
There are no discussion topics on this book yet. Be the first to start one »
  • Sebuah Pertanyaan untuk Cinta
  • Ca Bau Kan: Hanya Sebuah Dosa
  • Olenka
  • Supernova: Petir
  • Arok Dedes
  • Orang-orang Proyek
  • Entrok
  • Burung-Burung Manyar
  • Kau Memanggilku Malaikat
  • Namaku Hiroko
491233
Justina Ayu Utami atau hanya Ayu Utami (lahir di Bogor, Jawa Barat, 21 November 1968) adalah aktivis jurnalis dan novelis Indonesia, ia besar di Jakarta dan menamatkan kuliah di Fakultas Sastra Universitas Indonesia.
Ia pernah menjadi wartawan di majalah Humor, Matra, Forum Keadilan, dan D&R. Tak lama setelah penutupan Tempo, Editor dan Detik pada masa Orde Baru, ia ikut mendirikan Aliansi Jurn
...more
More about Ayu Utami...

Other Books in the Series

Saman (3 books)
  • Saman
  • Maya

Share This Book



No trivia or quizzes yet. Add some now »