Goodreads helps you keep track of books you want to read.
Start by marking “Larung” as Want to Read:
Larung
Enlarge cover
Rate this book
Clear rating

Larung

3.32 of 5 stars 3.32  ·  rating details  ·  2,586 ratings  ·  189 reviews
Buku ini adalah kisah lanjutan novel Saman. Di penghujung masa Orde Baru. Saman telah tinggal di New York sebagai pelarian politik. Ia bertemu lagi dengan empat sahabat yang dulu membantu ia kabur dari Indonesia—Shakuntala si pemberontak, Cok si binal, serta Yasmin dan Laila yang diam-diam mengagumi dia.

Kini mereka memiliki misi baru: membantu tiga aktivis mahasiswa kiri m
...more
Paperback, 259 pages
Published 2004 (first published 2001)
more details... edit details

Friend Reviews

To see what your friends thought of this book, please sign up.

Reader Q&A

To ask other readers questions about Larung, please sign up.

Be the first to ask a question about Larung

This book is not yet featured on Listopia. Add this book to your favorite list »

Community Reviews

(showing 1-30 of 3,000)
filter  |  sort: default (?)  |  rating details
Weni
Halaman 152 (Shakuntala bercerita ttg percakapannya dg Laila):


"Aku bikinkan kamu susu. Dengan kopi atau coklat?"
Kamu tertawa. "Kenapa kamu selalu memaksa orang minum susu?"
"Karena perempuan akan kehilangan massa tulang setelah ia menopause."
Kamu nyengir. "Masih 20 tahun lagi."
"Masih 20 tahun waktumu untuk menabung tulang."

Dan waktu itu lebih pendek jika kita tak punya lelaki sebagai sumber feromon yang bisa senantiasa kita endus. Sebab hirupan atas keringat lelaki merutinkan haid kita dan memper
...more
Fahrul Amama
Dalam novel ini Ayu Utami menyatakan perang terhadap eufimisme bahasa. Walau pada novel "Saman" sebelumnya telah terlihat kelugasannya dalam penggunaan kata-kata yang membuat sebagian orang mengeryitkan dahi. Ayu Utami menegaskan kembali dalam buku ini bahwa kata benda maupun kata kerja seharusnya terlahir dalam kondisi netral dan terbebas dari konotasi apapun. Terserah jika Taufik Ismail menganggapnya sebagai Fiksi Alat Kelamin. Yang pasti konyol juga kalo bahasa Indonesia kita harus meminjam i ...more
dunianyawira
setelah membaca 2 bukunya ayu utami, saman dan larung...hmm..menurutku memang ayu punya gaya bahasa yang khas
saman dan larung sama2 khas dan menarik tapi saya bisa lebih menikmati larung daripada saman mungkin karena waktu membaca saman masih dalam proses penyesuaian tapi kalo mambaca larung tanpa saman jg rasanya pasti kurang mantap...

banyak saya liat,pembaca yang menilai cara ayu membahasakan seks sebagai nilai minus dalam buku2nya padahal menurutku justru itu kekuatan ayu dimana ia tidak pern
...more
Awal Hidayat
"Ketika orang menjadi tua maka keindahan pergi ke luar dirinya. Pada saat itulah kita tahu rasanya memiliki mata untuk melihat kecantikan hidup dari luarnya sebab kita telah berjarak dari hidup. (..) Tapi menjadi tua adalah seperti bayangan yang pelan - pelan terlepas dari layar dan meninggalkan film yang terus berputar sementara ia terhirup ke kursi penonton dan menyaksikan cerita yang berjalan tanpa dirinya disana lagi. ( sebuah gedung bioskop, nak, adalah layar lebar yang bercahaya dan ruang ...more
Sarasvvati Ajeng
Somehow saya masih lebih suka buku Saman dibanding Larung. Mungkin karena di ending buku Saman, saya berekspektasi sangat tinggi untuk baca lanjutannya, tapi ternyata alur cerita yang ada di Larung nggak sesuai dengan harapan saya. Tapi, secara keseluruhan saya tetap suka baca novel ini, walaupun tetap aja selama saya baca, di dalam hati kecil saya (cailah!) masih menunggu-nunggu ceritanya jadi ke-Saman-Saman-an. Kalau ditanya exactly apa yang bikin beda, saya juga nggak ngerti, maklum bukan pen ...more
Dedul Faithful
Sengaja membedakan satu bintang dari buku sebelumnya yang memang tidak terlalu bertele-tele seperti isi di buku ini.
Secara garis besar memang Larung begitu padat dengann aroma gerakan bawah tanah para aktivis yang by the way saya juga gak terlalu paham maksud dan tujuan mereka apa, semuanya abstrak dan dijelaskan sangat implisit oleh Ayu Utami.
Saya bosan saja pada delapan puluh empat halaman yang menjelma solilokui tentang perjuangan Larung untuk meng-euthanasia neneknya, jujur saja kalau hal it
...more
N. R Jelyta
buku ke dua saman...
ini... berisi sedikit berbeda dengan novel sebelumnya...
tapi dari segi bahasa tidak menunjukkan perbedaan karena tentunya pengarangnya sama...
tapi sayang... ending keduanya...
tidak mengenakan...
saman berending tanpa titik... dan pembaca diharuskan membaca novel lanjutannya yaitu Larung.

Tak bedanya dengan saman Larung ber -ending tanpa kejelasan tertentu hanya kematian yang mengakhiri ceritanya
Darth Pika
Contrary with public opinion, even with the author it self, I'd prefer Larung as the best narration compared with Saman. The title it self caught my eye, the unended coffin!

Larung using, what I called Darkness Literary about the darkside of Indonesia: 1965's killing field. The narration about the dead of Larung's grandmother is really really throw me into the bitter experienced of Indonesian in that decade.
Roswitha Muntiyarso
Saya membaca Saman ketika saya masih duduk di bangku MTs. 10 tahun kemudian baru saya membaca lanjutannya. Ayu Utami begitu mantap membeberkan ceritanya. Karakter-karakter yang kuat masih membayang meskipun saya membaca Sama sepuluh tahun lalu. Ketika Saman atau Fater Wis menceritakan kembali akan cintanya pada Upi, saya masih mengingatnya tanpa melihat kembali ke halaman-halaman buku Saman. Memang ceritanya sangat terbuka masalah seksualitas dan feminisme. Wajar buku ini sangat memicu kontrover ...more
Nandar Firdaus
yah, semua sudah mengulas semua tentang larung dan ayu utami, rata rata tentang gaya bahasa atau perangnya terhadap eufimisme gaya bahasa yang saat itu selalu dijadikan patokan untuk membuat karya sastra.

saya menyoroti dari cara dia membuat humor, bukan dari kata2 tapi dari kondisi, seperti "simbah, aku yang ngantuk, kenapa kau yang tertidur",
sekilas, tanpa memahami kondisinya, kat2 diatas takan mampu memancing gelak tawa, tapi karena kondisi ketegangan larung saat berjuang untuk membunuh simbah
...more
Mutmut
Finally finished the second book of Saman. In spite of the vulgarity of the language or the diction, perhaps, some people think it's vulgar, 'kay, I find it cool. I mean, can't woman writer (is it woman writer? lol) write like that? :v the characters too, each characters has different, um.. what is it, err.. atmosphere? whooaaa... I still remember when I tell people that I really want to read this book, they will say, "...do you seriously want to read those books? those books are generally talki ...more
Diah Sukmawati
Saat membaca Saman kemarin, saya suka sekali dengan gaya menulis Ayu Utami. Saya pikir, wah ini sangat khas, tema yang diangkat juga menarik.Walaupun di akhir-akhir saya bingung tujuan dari novel ini entah kritik orba, entah membahas seks, entah hal-hal superstitious. Entahlah. Mungkin kombinasi semuanya.

Masalah mulau muncul ketika Saman mulai banyak mimpi. Jadi saya tidak bisa membedakan mana mimpi mana kenyataan. Apalagi ketika Ansor tiba-tiba muncul lagi. Mungkin ada detail yang saya lewatkan
...more
ratna
I was quite disappointed after reading this. For me, Saman is much more enjoyable than Larung.
Afid Nurkholis
Entah mengapa..kisah sejarah Indonesia selalu menarik ! mungkin krn banyak sejarah yg terselebung atau mungkin pelajaran sejarah yg bobrok ? Mungkin

Saman & Larung berkisah mengenai perlawanan terhadap rezim orde baru dgn gayanya yg khas : kisah cinta dan bahasa nya yg fulgar . Kisah perlawanan terhadap kekuasaan yg ada jg sangat menarik ! mungkin krn saya mahasiswa angkatan millenium yg lebih byk update medsos, lebih memilih ngerjain tugas drpd "berperang"

at last, buku ini bisa nambah sudut
...more
Aliftya Amarilisyariningtyas
“Kata-kata Larung berhenti bersama suara letupan yang redam. Saman mendengar tubuh itu jatuh ke dekat sisinya. Kepalanya menoleh ke arah itu seperti mencari kepastian. Tapi ia mendengar kedap letupan sekali lagi. Dalam sepertiga detik itu yang ia inginkan hanyalah pamit pada Yasmin. Setelah itu ia diam. Diam yang tak lagi menunda.” – halaman 295.

“Arrrrrgggh!”

Teriak saya seusai membaca habis novel ini. Sebelumnya, izinkan saya terlebih dahulu untuk mengungkapkan kesan sebelum membahas hal lainny
...more
Sally Siawidjaja
Akhirnya selesai juga baca buku ini. Phewww...

Sebagai pemula dalam bacaan sastra, baca buku ini seperti makan sushi pake wasabi yang banyak. Pedes banget. Mungkin ada orang yang suka tapi gue pribadi ga suka sama sekali.

Yang gue ga suka:
1. Cara penulisannya yang terlalu berlebihan, seperti tentang tai, daki, bau-bau an pokoknya jorok deh, jadi mual.. Kalau ttg alat kelamin dan sex masih bisa gue terima, walau menurut gue kadang berlebihan.

2. Semua karakter di buku ini kok melankolis yah.. yan
...more
Glenn Ardi
Lanjutan dari buku Saman, buku Ayu Utami yang kedua ini bercerita ttg kelanjutan kisah Saman, Laila, Shakuntala, Cok, dan Yasmin. Dengan tambahan satu tambahan karakter utama bernama Larung, Larung Lanang.

Pada awal buku ini, cerita berjalan dengan gamang - menceritakan kisah Larung dan neneknya, dengan gaya penulisan Ayu yang kental akan puisi konseptual dibumbui dengan monolog dari sudut pandang orang pertama.

Entah mengapa, bagian ini saya merasa alur cerita berjalan sangat lambat, penulisannya
...more
Achmad Muchtar
Judul: Larung
Pengarang: Ayu Utami
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
ISBN: 9799023637 (ISBN13: 9789799023636)

Larung adalah novel lanjutan Saman yang memenangkan Sayembara Roman DKJ. Larung juga merupakan karya kedua dari Ayu Utami. Cerita diawali dengan pergumulan batin seorang lelaki muda berdarah Bali bernama Larung yang merasa terkungkung dalam bayang-bayang neneknya yang pesakitan. Niat membunuh seorang wanita tua yang telah berumur begitu panjang, serasa menjadi wajar karena kehidupan nen
...more
Amanda Sheila
Well, bukan buku favorit saya, yang pasti. Ayu Utami terkenal dengan karya sastranya dan saya bukan penggemar sastra. Buku ini bagus, tapi berulang kali ada saat di mana saya berpikir, "what's that suppose to mean?"

Lalu aku mendengar, orang-orang menyebut ibumu gerwani. Ibumu memakai beha hitam dengan lambang bintang merah di satu pucuknya, palu arit di pucuk yang lain, kata mereka. Ia mengumpulkan perempuan-perempuan dan mengajar tari telanjang, dan mengirim wanita-wanita untuk merayu para pra
...more
Fertina N M
Saya akui buku Ayu Utami ini ( Saman dan Larung ) sangat lah rumit ( setidaknya menurut saya ). Saya cukup suka sebenarnya baca buku - buku misteri atau detektif, tapi buku Ayu Utami ini lebih mencampuri misteri, filsafat, agama, politik Indonesia dan psikologi. Karna saya tidak suka dengan politik, saya sedikit banyak masih awam bagi saya istilah dan analisis yang ada di dua buku ini. Tapi saya akui sekali lagi, buku ini jadi membuka sedikit banyak pengetahuan tentang keadaan yang ada di Indone ...more
Henry Wijaya
Jun 24, 2008 Henry Wijaya rated it 5 of 5 stars  ·  review of another edition
Recommends it for: critical readers
Recommended to Henry by: Mas Lambang
Larung (by Ayu Utami) is the sequel of her previous amazing book, Saman. This book is as superb as its prequel, I can say. Still written with Ayu Utami's straightforwardly brilliant style, this book fascinated me so much. The story was still thrilling in unusual way. The plot still moves from one character to other characters in a nice way (making me wonder: So, what happen with this character? Why do we move to this character. Aaaargh, hehehehe). The language is still as brave as before (You kn ...more
Zhico zulfa choiriyah
Secara pribadi saya lebih menyukai saman dibandingkan buku kelanjutannya ini. gaya khas tulisan ayu utami dalam buku larung ini masih sangat kentara, berkisar pada kritik atas orde baru, spiritualitas dan sex dalam bentuk yang berbeda. Kekurangannya adalah, jika kita mengharapkan larung ini sebagai buku penutup maka harapan itu tidak akan terpenuhi. Berbagai persoalan dan perjalanan tokoh yg dihidupkan dalam buku ini masih tetap menjadi pertanyaan hingga akhir.
Pradnya Paramitha
dugaanku terbukti. membaca larung setelah membaca trilogi biografi Ayu Utami, seperti angin segar. ternyata benar, ada rasa yang kuserap berbeda dari cara menulis mbak Ayu dalam fiksi dan biografi. dan entah mengapa, aku jauh lebih suka tulisan fiksinya.

buatku, ini buku bagus. sayang kehadiran Larung terasa begitu cepat berakhir. aku belum puas mencecap keindahan tokohnya yang bener-bener indah. huhu. sedangkan kisah Laila dan Sihar, entah kenapa aku punya pikiran jahat untuk menghilangkannya aj
...more
Hayatun Nafysa
:")

Speechless. Semua bercampur jadi satu kayaknya disini. Sedikit mistik Jawa dan Bali, Implikasi karakter homoseksual, Perjuangan aktivis mahasiswa di rezim Soeharto.....

I'd have to say that I like Saman's character better here, taking back what I said when I reviewed Saman, in which I thought his character has no appeal and is only appealing through the eyes of the four girls. Turns out he is quite an enigma. Usaha dan perjuangannya sebagai seorang aktivis juga dapat lebih dirasakan disini d
...more
Imas
Seru...Kisah persahabatan yg cukup aneh..sayang tidak ada kelanjutannya. Akhir cerita menggantung, penasaran jadinya. Berharap masih ada buku berikutnya. Nampaknya tidak ada dan cukup kecewa.

Menurut saya Ayu punya gaya bahasa yang khas, narasinya keren. Saman dan Larung dua-duanya menarik tapi saat membaca Saman ada sensasi tersendiri karena Saman menurut saya bukan buku yang biasa saya baca dan buku pengarang Indonesia yang lain dari yang lain. Untuk larung keterkejutan itu sudah berkurang. Lar
...more
Azzahro Wijaya
Membaca halaman-halaman pada larung di awal sebenarnya membuat saya agak bergidik ngeri dan jijik. Jika teringat bagaimana neneknya si Larung digambarkan disini, saya jadi agak ga napsu makan.. hehe..
Saya juga teringat bagaimana Ayu Utami menggambarkan betapa mengerikannya proses pembuatan telur asin. Saya rasa ada satu kemiripan antara Saman dan Larung, yaitu mereka merasakan hal yang berbau mistis dalam hidup mereka. Saman pada ibunya, dan Larung pada neneknya.

Larung dan Saman sama-sama bercer
...more
Jusmalia Oktaviani
The most 'honest' book I have ever read. Never read Ayu Utami before, and even I've ever read Djenar Maesa Ayu--the writer with the same feminist style--but I still shocked with the Ayu's honesty in every word she chose. Very recommended for the new experience of reading. You will feel the atmosphere of politic and power in Soeharto's era, when people like Larung, will be vanished by the government.
ManDewi
Bisa dapat lima bintang kalau yang menilai adalah pembaca yang juga penikmat sejarah/politik, karena cerita politik tentang orang-orang yang diburu polisi maupun tentara di novel ini membosankan saya. :')

Bahkan cerita tentang Larung yang lahir dan besar di Bali tidak berhasil menaikkan penilaian saya. Kurang pas ya Ayu Utami menceritakan tentang Bali. Okelah keadaan dan situasi sosialnya mirip, tapi feel-nya kurang dapet. Jauh banget dengan ketika baca Tarian Bumi, misalnya.

Tapi secara keseluruh
...more
Lucky
Mulanya saya cukup antusias dengan kisah hidup seorang Larung Lanang, sampai pada bab-bab berikutnya yang menceritakan kembali sebagian besar isi Saman saya mulai berpikir pantaskah mengangkat Larung sebagai judul sedangkan sebagian isinya kembali berkutat dengan Saman dan tokoh-tokoh lainnya?
Namun sejauh ini penceritaan kembali dengan sudut pandang yang berganti-ganti oleh keempat tokoh perempuan yang juga berperan penting di Saman memang sangat mengasyikan, ketimbang mengikuti konflik orba ya
...more
Neni Puji Artanti
Membaca Larung tak bisa tidak membandingkannya dengan Saman. Larung memang tidak sepopuler saman. Actually, saya bukan orang yang mengerti sastra, saya hanya penikmat buku genre apapun. Maka layaknya saya yang terlalu berkonsentrasi dengan relationship Debra dan Dexter daripada cerita keseluruhannya, maka pada Larung, saya pun lebih tertarik pada kisah tokohnya. Larung memiliki alur yang lambat, yang membuat saya men-skip-nya saja, hehe. Padahal jika mau bersabar dengan alurnya, kalimat-kalimat ...more
« previous 1 3 4 5 6 7 8 9 99 100 next »
There are no discussion topics on this book yet. Be the first to start one »
  • Gadis Pantai
  • Sebuah Pertanyaan untuk Cinta
  • Ca Bau Kan: Hanya Sebuah Dosa
  • Burung-Burung Manyar
  • Supernova: Petir (Supernova, #3)
  • Pulang
  • Olenka
  • Orang-orang Proyek
  • Namaku Hiroko
  • Rahasia Selma: Kumpulan Cerita
  • Maryam
491233
Justina Ayu Utami atau hanya Ayu Utami (lahir di Bogor, Jawa Barat, 21 November 1968) adalah aktivis jurnalis dan novelis Indonesia, ia besar di Jakarta dan menamatkan kuliah di Fakultas Sastra Universitas Indonesia.
Ia pernah menjadi wartawan di majalah Humor, Matra, Forum Keadilan, dan D&R. Tak lama setelah penutupan Tempo, Editor dan Detik pada masa Orde Baru, ia ikut mendirikan Aliansi Jurn
...more
More about Ayu Utami...
Saman Bilangan Fu Si Parasit Lajang: Seks, Sketsa, & Cerita Manjali dan Cakrabirawa Cerita Cinta Enrico

Share This Book

No trivia or quizzes yet. Add some now »