Perburuan
Enlarge cover
Rate this book
Clear rating

Perburuan

3.66 of 5 stars 3.66  ·  rating details  ·  412 ratings  ·  41 reviews
Novel pendek PAT – ditulis semasa ia di dalam penjara – memaksa kita mengingat-ngingat terus bahwa kebebasan tidak bisa dianggap gampang saja datang dengan sendirinya. Perburuan memiliki segala kewenangan yang sah dari seorang yang mampu bertahan, dan mengandung sebanyak-banyak kebenaran semampu kita menulisnya

Lawrence Thornton , penulis ”Imagining Argentina”
Paperback, 163 pages
Published by Hasta Mitra (first published 1950)
more details... edit details

Friend Reviews

To see what your friends thought of this book, please sign up.

Reader Q&A

To ask other readers questions about Perburuan, please sign up.

Be the first to ask a question about Perburuan

Laskar Pelangi by Andrea HirataBumi Manusia by Pramoedya Ananta Toer5 cm by Donny DhirgantoroNegeri 5 Menara by Ahmad FuadiRonggeng Dukuh Paruk by Ahmad Tohari
Buku Indonesia Sepanjang Masa
92nd out of 450 books — 1,557 voters
Bumi Manusia by Pramoedya Ananta ToerAnak Semua Bangsa by Pramoedya Ananta ToerSaman by Ayu UtamiRonggeng Dukuh Paruk by Ahmad TohariJejak Langkah by Pramoedya Ananta Toer
Novel Indonesia Terbaik
39th out of 111 books — 58 voters


More lists with this book...

Community Reviews

(showing 1-30 of 762)
filter  |  sort: default (?)  |  rating details
Najibah Abu Bakar
Fiksyen berbaur sejarah selalu membuat rasa jadi cair. Apatah lagi kalau yang menulisnya adalah Pramoedya Ananta Toer. Saya selalu tewas oleh fiksyen2nya.

Melihat buku ini sebagai suatu keratan dari zaman Jepun, yang sejarahnya sama2 dikongsi Malaysia dan Indonesia, tetapi dari mata orang Indonesia, memperbaharui ingatan terhadap Sungai Mengalir Lesu.

Yang menarik adalah suasana dan watak yang terpilih. Kalau dalam novel Pak Samad, ia lebih merupakan gambaran hidup masyarakat di kampung yang dice...more
Michiyo 'jia' Fujiwara
Diburu! Lari! Dikepung! Berpendam diri dalam gua! Hidup sebagai kere/pengemis. Raden Hardo, anak seorang wedana, keturunan Bangsawan, anggota PETA yang desertir bersama Shodanco Dipo, dan beberapa Shodanco lainnya, Shodanco Hardo adalah pejuang yang sangat cinta Indonesia, tekadnya satu: merebut kemerdekaan dari tangan Jepang. Ia rela meninggalkan orang tua, tunangannya; Ningsih, harta dan jabatannya. Karena ia dianggap berkhianat dari PETA, ia menjadi seorang pelarian, hebatnya lagi betapapun g...more
Imam Hidayah
"Tetapi, orang tak bisa berkhianat selamanya dan dalam segala hal. Bisakah engkau jahat dalam segala hal?"

Hardo, dalam Perburuan - Pram.
A. Moses Levitt
Mas Pram menceritakan situasi di zaman Jepang dengan kebijakan2 Jepang membentuk kesatuan2 tentara demi melawan Eropa yang ingin berkuasa lagi di Nusantara. Dengan propagandanya, Jepang berhasil menipu orang Indonesia.

Selain itu, Jepang mendatangkan sejumlah penderitaan pada orang Indonesia. Misalnya Jepang main potong kepala jika orang Indonesia melawan dan tidak patuh--bahkan pada adat nenek moyang Jepang yang bukan adat nenek moyang Indonesia.

Beberapa pemuda Indonesia yang masuk kesatuan te...more
Brian
This is an early novel of Pramoedya’s written while he was imprisoned by the Dutch for his role in the Indonesian revolution that followed WWII. He has been compared to Camus and Steinbeck… an interesting combination.

The structure of the book follows a similar format of the Indonesian Wayang Kulit (shadow play). These stories are usually presented as mythical & morality tales. There is an educational moral to the plays that usually portray a battle between good and evil, with good always win...more
Adriana
'Perburuan' merupakan antara karya karya-karya terbaik Pramoedya Ananta Toer. Buku ini mangambil setting masa ketika pendudukan Jepun di Indonesia. Pendudukan Jepun di Indonesia membuatkan penduduk hidup dalam penderitaan. Mahu tidak maku terpaksa menurut perintah Jepun. Namun antara mereka masih ada warga yang percaya pada kemerdekaan dan inginkan kebebasan. Mereka ini memberontak dan melakukan serangan, menghasut, dan dengan caranya sendiri untuk menewaskan Jepun. Mereka yang harusnya disebut...more
Ruri Alifia Ramadhani
"Siapa yang bisa menyalahkan? Orang memang sudah biasa dengan keadaannya sendiri. Dan akupun tak bisa menjalankan. Mungkin juga dia benar dan jikalau tak benar untuk umum, pastilah benar untuk dirinya sendiri. Kebiasaan memang sudah jadi nafasnya sendiri, nafas semua manusia juga." (Hal. 93)

"Sentimen atau tidak, itu urusanmu sendiri. Tapi harus kau akui juga, bahwa percintaan mengambil bagian peting dalam hidup manusia." (Hal. 106)

"Manusia hidup untuk menang, kemudian hidup untuk kalah." (Hal. 1...more
Maryam
Apparently, this is the first of Pram's major novels. Like most of his writings, it's about Indonesia's struggle for freedom. In this book, it is a struggle against the Japanese occupation. This book was written when Pram was in jail for his rebellion against the Dutch.

It is semi-fictional. The characters and plot are made up but the time-line with the Japanese occupation is real. Tells a story about a man being hunted down as a "criminal" for leading a small rebellion militia against the Japane...more
Rebecca
(before you say anything, the book's only ~160 pages long, so yes, I read it in a few hours).

Japan's actions in SE Asia during WWII don't get a lot of play in the US, but the themes of trying to survive under oppression and being unable to trust anyone during a war are universal, and anyone whose studied any war literature will find them familiar, and the plot not entirely unpredictable.

I left with the feeling that this could actually make a great, not-too-long movie, perhaps even a great one if...more
Miss J
The story was weak and slow in my opinion, I was bored and fell asleep several times.
There is no information about how the Japanese came, how the Dutch left (did they even leave?) and how life was the for the locals during the Japanese rule. Nothing.
Towards the end something extremely unrealistic happens. However, the ending was good, I'll admit that.
But I'm disappointed, especially after reading "This Earth of Mankind" and "Child of All Nation", I love Pramoedya's writing in those books, but th...more
Monica
Fugitive is a wonderful, short read. If you are interested in understanding more about how identity politics played a role in the Japanese occupation of Indonesia during World War II, this novel presents an engaging introduction. Existential in its treatment of the horrors of war, this fictious work (written while Toer was imprisoned) stays with you. I wonder why Toer has not won the Nobel Prize in Literature, but then I remember he's a Communist. This is too big a stance for Colonial Europe and...more
Ethar Mahmoud
Mar 04, 2014 Ethar Mahmoud marked it as to-read
الهارب (مطاردة)
Kiki Vierdayanti
Cerita dua hari satu malam yang dikemas dengan sangat padat dan menarik. Mungkin dua hari satu malam bukan waktu yang paling singkat untuk dijadikan sebuah novel (saya dengar ada novel jepang yang mengemas cerita satu malam saja), namun gaya bercerita Pramoedya memang top, mengalir dan alami. Bagian lucu saat sang pelarian bertemu ayahnya, adegan menegangkan saat gubuk dikepung pasukan Jepang, adegan mengharukan saat sang pelarian tertangkap, dan tentu saja ending yang tidak terduga. It's just p...more
ibnumaroghi
Perburuan adalah novel yang mengisahkan Pendudukan--bukan penjajahan--bangsa Jepang di Indonesia. Latar tempatnya adalah Blora, yang mana merupakan kampung halaman penulisnya.

Novel ini bercerita tentang mantan prajurit PETA yang ingin melakukan pemberontakan terhadap Jepang. Namun, pemberontakan itu tidak terjadi karena adanya pengkhianat. Alhasil, mereka diburu oleh para Kempei.

Rachel
This is the first Promoedya book and I was supprized at how much I enjoyed it. I was a little worried I would not be able to connect with novels written by Indonesians and especially about the WWII time period, but the author did a nice job of making it easy to follow. I do think a little more character development would have been nice - you're left wordering about each person.
Puji Lestari
seru,
perburuan memang selamanya memacu adrenalin, penuh ketidakpastian

Buku ini bercerita mengenai seorang pejuang Peta pada zaman penjajahan Jepang, yang mana sedang diburu oleh Nippon akibat pengkhianatan kawannya sendiri.
Sejarah, perjuangan, pengkhianatan, cinta, kesetiaan, dan kemiskinan diramu sedemikian rupa menjadi novel sejarah yang memukau. Hebat!
Grey
Ran across this by accident. A very old book but still timely. While it's a specific look into rural Indonesian culture in the very last days (literally) of WWII, it is also an exploration of human feelings and motivations more generally. I don't know how well the original was written, but the translation is excellent and flows very well.
Danies
"Tahukah bapak mengapa orang jadi penakut? Mengapa orang jadi penakut? Karena, ... dia terlalu serakah. Ya, orang jadi penakut karena serakahnya sendiri. Bila orang mau membatasi kebutuhannya sampai serendah-rendahnya, dia takkan takut. Dia takkan takut pada apa pun dan siapa pun juga."

Hardo, dalam Perburuan - Pramoedya Ananta Toer
Nina
Toer wrote this while imprisoned by the Dutch for his revoluntionary roles. It's a short character sketch of various personalities and their responses in times of trouble. The whole book takes place in 1 day, the eve of the defeat of the Japanese before the Allied Forces won. Toer's message seems to be that people never change.
Listiyo Fitri
Salah satu novel dari Pak Pram yang paling mendekati penghargaan Nobel di bidang Kesusastraan.
Sebuah cerita pendek tentang kemerdekaan. Bahwa kemerdekaan adalah sebuah perjuangan yang diperebutkan. Cukup pendek tetapi mampu membuat kita memahami pemikiran dan perjuangan para perebut kemerdekaan.
Michael
Oct 20, 2011 Michael rated it 3 of 5 stars  ·  review of another edition
Recommended to Michael by: An Indonesian postcrosser (myfloya)
The author, Pramoedya Ananta Toer, was a major Indonesian author of the second half of the 20th century. This is his first book, written while a political prisoner in 1949. This story takes places the night before and the day of the Japanese surrender at the end of World War II.
Iss
Tidak ingin menjadi penghianat bangsa rela melepaskan keluarga, kesenangan bahkan tunangannya.
menyamar jadi pengemis, bertelanjang, dikejar2 tentara jepang, dan akan menyerarh jika jepang sudah kalah
novel yang bagus tentang nasionalisme, jadi ketagihan pengen pbaca novel PAT lainnya.
Rianto Dermawan
.....sebelum mendapatkan tetralogy-nya Pramoedya, yang sulit didapat pada tahun-tahun ketika saya sekolah di SMA sampai kuliah di PT,.. saya beruntung menemukan 'Perburuan', dan terkesan dengan tulisan Pramoedya, ..sehingga menambah semangat saya untuk memburu buku-buku tetralogy-nya.
Edlin
Akhirnya, Raden Mas Hardo harus rela kekasihnya yang setia, yang rela menunggunya menyamar menjadi 'kere', mati tertembak serdadu Nippon. Sesaat sebelum si serdadu mati karena tengkorak kepalanya terbelah oleh samurainya sendiri setelah terus-menerus mengucap "Ampun Indonesia"..
Qq
It's another heart beating adventure by Pramoedya. I spent too much time to finish this thin book compare to his other books. But the ending turn to be more interesting than I thought before ... and again ... with sad ending. Fortunately, I can save my cry till the ending.
Ben Loory
lots of talking. lots and lots of talking. four chapters, like four separate existentialist plays. suprisingly powerful, given that description. never read any indonesian literature before. looks like i'm gonna read another.
Damon
As usual a very well crafted plot by Toer. Its one of his earlier writings so not as full of beautiful philosophical threads as the Buru Quartet, but an enjoyable read none the less.
SueEllen
this book got me started on the Javanese writer Toer and since then there's been no turning back. an amazing story that weaves colonial politics and romance very beautifully. read it.
Devi Nilasari
Pramoedya salah satu favorite-ku,ceritanya mengalir lancar. Dengan setting jaman jepang Pramoedya berhasil menggambarkan keadaan saat itu sehingga kita terasa dibawa kejaman jepang.
« previous 1 3 4 5 6 7 8 9 25 26 next »
There are no discussion topics on this book yet. Be the first to start one »
  • Bekisar Merah (Bekisar Merah, #1)
  • Harimau! Harimau!
  • Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma
  • Burung-Burung Manyar
  • Madilog
  • Olenka
  • Anak Bajang Menggiring Angin
  • Atheis
  • Seribu Kunang-Kunang di Manhattan
  • Namaku Hiroko
  • Pengakuan Pariyem: Dunia Batin Seorang Wanita Jawa
  • Di Bawah Lentera Merah: Riwayat Sarekat Islam Semarang Sampai Tahun 1920
  • Sitti Nurbaya: Kasih Tak Sampai
  • Belenggu
  • Senopati Pamungkas #1
101823
Pramoedya Ananta Toer was an Indonesian author of novels, short stories, essays, polemics, and histories of his homeland and its people. A well-regarded writer in the West, Pramoedya's outspoken and often politically charged writings faced censorship in his native land during the pre-reformation era. For opposing the policies of both founding president Sukarno, as well as those of its successor, t...more
More about Pramoedya Ananta Toer...
Bumi Manusia (Tetralogi Buru, #1) Jejak Langkah (Tetralogi Buru, #3) Gadis Pantai Child of All Nations (Tetralogi Buru, #2) House of Glass (Tetralogi Buru, #4)

Share This Book

No trivia or quizzes yet. Add some now »