Goodreads helps you keep track of books you want to read.
Start by marking “Perempuan: Kumpulan Cerita Pendek” as Want to Read:
Perempuan: Kumpulan Cerita Pendek
Enlarge cover
Rate this book
Clear rating
Open Preview

Perempuan: Kumpulan Cerita Pendek

3.94 of 5 stars 3.94  ·  rating details  ·  96 ratings  ·  18 reviews
Paperback
Published by Yayasan Obor Indonesia (first published 1956)
more details... edit details

Friend Reviews

To see what your friends thought of this book, please sign up.

Reader Q&A

To ask other readers questions about Perempuan, please sign up.

Be the first to ask a question about Perempuan

Community Reviews

(showing 1-30 of 343)
filter  |  sort: default (?)  |  rating details
Fariza
Tulisan Mochtar Lubis jelas menunjukkan pengalaman beliau yang luas sebagai wartawan jemputan PBB. Menariknya seolah semua kisah ini adalah benar.

Akan saya korek buku-buku tulisan beliau lagi..

Petikan paling best:

"Lubuk hati manusia itu dalamnya tiada terduga-duga. Kita sangka sudah tiba pada dasarnya, akan tetapi masih lebih dalam lagi."
-Mochtar Lubis-
Marina Zala
** Books 159 - 2014 **

Buku kumpulan cerpen ini berisikan 19 cerpen mengenai perempuan yang ditulis oleh Mochtar Lubis. Seperti khasnya karya-karya Mochtar Lubis lainnya yang mengambil setting Indonesia di era kependudukan Belanda ataupun Jepang, mexico, new york dan masih banyak setting lainnya..

Didalam buku kumcer ini ada beberapa cerpen yang bikin saya tertarik seperti cerpen yang berjudul perempuan, angin musim gugur, La Badinda, Sinyo Brandi, ceritera dari singapura, cerita sebenarnya menga
...more
cindy
sdh lama saya tdk merasa sesenang ini saat membaca kumcer, meski ini bukan kumpulan cerita humor -bahkan sebaliknya- tema2 yg diusung di sini sangat humanis dan lebih sering menyoal ttg wong cilik. namun begitu, semuanya diceritakan dengan lugas, apa adanya, kadang mengundang senyum, kadang bikin hati teriris, tapi selalu.... selalu terasa jujur, tidak berlebihan, tidak didramatisir, tidak kelebihan muatan sosial yg mencereweti pembacanya. dan anehnya, tetap uptodate meski ditulis di tahun 1950a ...more
Yoga Pradipta
Mochtar Lubis seorang humanis. Itu yang dapat saya tangkap dari karya-karyanya di kumpulan cerpen ini. Dia tidak banyak menjait kata-katanya, manis-manis. Dia menulis apa adanya, kebanyakan tentang kondisi/cerita yang mungkin atau bahkan pernah terjadi dalam keseharian kita dengan detail suasana yang membuat saya seakan dapat merasakan tempat kejadian dari cerita-cerita tersebut.

Membaca kumcer ini, saya menjadi bingung dan penasaran. Apakah cerita-cerita ini banyak yang merupakan pengalaman prib
...more
Jusmalia Oktaviani
Membaca kumpulan cerita pendek dari seorang Mochtar Lubis, saya serasa diajak berkeliling dunia. Dari negeri Sakura, Jepang, ke pelosok Mexico, ke gedung-gedung pencakar langit Manhattan, berpesiar ke Singapura, merasakan ngerinya situasi perbatasan Korea, dan tak lupa dari negeri sendiri, Indonesia. Meski judulnya perempuan, isinya tak melulu tentang percintaan, atau hal-ikhwal perempuan. Ada 19 cerita yang ada di kumpulan cerpen ini, dan semuanya mengangkat tema yang beragam. Namun ada satu be ...more
Arief Bakhtiar D.
SAYA pertama kali membaca tulisan Mochtar Lubis—seorang jurnalis kenamaan Indonesia yang pada tahun 1966, tahun ia dari penjara rezim Soekarno selama 9 tahun, mendapat hadiah Magsaysay—dalam buku kumpulan esai Manusia Indonesia. Menarik, tapi sesungguhnya saya tidak fokus benar. Tidak begitu asyik membacanya.

Mochtar Lubis baru menarik perhatian saya (perlu saya beri penekanan pada kata “hati”) ketika pada suatu kali, tanpa ada rencana sebelumnya, saya membeli buku kumpulan cerpen Perempuan terbi
...more
Firda
Membaca kumpulan cerita ini mengingatkan saya pada A.A. Navis. Tentu saja keduanya memiliki gaya berbeda (A.A. Navis lebih puitis, Mochtar Lubis lebih lugas).

Namun dari gayanya yang lugas dan realis, terdapat hal-hal yang terungkap, yang disiratkan di setiap cerita, yang terasa puitis. Mungkin, realitas tidaklah sedingin (atau bahkan semembosankan) yang selama ini dibayangkan. Dengan kepedihan dan keriangan yang ada dalam realitas, yang terasa begitu nyata, masihlah ada sesuatu yang terasa puiti
...more
Tanti
Karya Mochtar Lubis yang pertama kali saya baca. Penceritaannya seperti laporan perjalanan satu tokoh ke berbagai negeri, diisi dengan kisah-kisah orang yang berinteraksi dengan tokoh "Aku" tersebut. Sederhana namun menyentil aspek humanisme ditambah unsur humoris.
Fiza モービー
Barangkali buku kumpulan cerpen terbaik pernah saya baca setakat ini.

Baca pun perlahan-lahan sebab khuatir cepat habis. Jarang sungguh berperasaan begini pada sebuah buku.

Saya baca buku ini mula dari cerpen paling belakang. Lepas habis baca "Pak Siman dan Bini-Bininya" dalam hati saya terus saja berteriak-- 5 bintang!

Fancy much.
Ade Damayanti
Menarik.
Membaca buku yang memandang perempuan dari sudut pandang laki-laki.
Gaya bertutur-nya sangat terasa khas Mochtar Lubis.

Tapi, dalam hati aku, tetap "Harimau-Harimau" masih belum tergantikan dengan buku-buku Mochtar Lubis lainnya (Senja di Jakarta, dan kumpulan tulisan lainnya).

Recommended untuk dibaca para penikmat sastra. Agar pembaca memiliki varian bacaan di tengah-tengah buku sastra pop yang marak di toko buku saat ini.

Untuk buku "senja di jakarta" menurutku layak dijadikan film layar
...more
Ellys Sufia Firsanti
"Cemburu menjauhkan engkau dari orang yang engkau cintai," Dr. Ashley
Jeihan Kahfi
Cerpen favorit saya adalah "Cerita Sebenarnya Mengapa Haji Jala Menggantung Diri." Mochtar Lubis menunjukan betapa busuk dan hipokritnya kaum kiri yang memperdaya kaum tani dan kelas buruh ketika melawan oposisi, serta sekaligus merampas kembali hak mereka ketika telah berkuasa. Kiri maupun kanan, sama-sama omong kosong.
Kamalia Ramlan
Apa yang membuatkan kita terus membaca sesuatu cerita dalam buku? Aku rasa ayat pertama/perenggan pertama haruslah 'catchy'. Cerpen-cerpen dalam buku ini berjaya menarik perhatian aku untuk terus membaca. Kritikan sosial yang dipersembahkan dengan lucu.
Iman
Saya baru pertama kali baca bukunya Mochtar Lubis dan agak kaget (baru tau) dengan gaya bahasanya yang lugas abis cool sih, cuman kurang indah gitu dibaca, seolah-olah saya lagi baca laporan harian biasa bukan cerpen.
Eleni Aicia
Gaya tuturnya sederhana, ga pake sugar coating atau penuh drama, tidak berlebih ataupun dikurangkan. Spt ngedengerin cerita dari temen lama atau asam garam orang tua. seru, jujur, & humble
Maria Yovita
Biasa. Sederhana. Jujur. Mengena. Beberapa di antara yang jenaka; Sinyo Brandi, Si Jamal "Kawan Saya" dan Si Djamal Anak Merdeka.
Azia
cerpen2 dari mochtar lubis lugas,mudah dimengerti dan maknanya menohok skali.critanya masih relevan dgn zmn skrg
Jenny Johan
menangis dan tertawa membaca mochtar lubis.
Ery Family
Ery Family marked it as to-read
Jul 01, 2015
Eka Yulianti
Eka Yulianti marked it as to-read
Jun 26, 2015
Buzz Lee
Buzz Lee marked it as to-read
Jun 22, 2015
Indah
Indah marked it as to-read
Jun 10, 2015
Nurdiana
Nurdiana marked it as to-read
Jun 09, 2015
M. Rajab Al-mukarrom
M. Rajab Al-mukarrom marked it as to-read
Jun 04, 2015
Amaya Zia
Amaya Zia marked it as to-read
Jun 02, 2015
Anang
Anang marked it as to-read
May 26, 2015
Atika
Atika marked it as to-read
May 24, 2015
« previous 1 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 next »
There are no discussion topics on this book yet. Be the first to start one »
  • Kuda Terbang Maria Pinto
  • Penembak Misterius: Kumpulan Cerita Pendek
  • Rumah Bambu: Kumpulan Cerpen Pertama dan Terakhir
  • Malam Terakhir: Kumpulan Cerpen
  • Cerita Dari Blora: Kumpulan Cerita Pendek
  • Pengarang Telah Mati: Segenggam cerita
  • Jantera Bianglala (Dukuh Paruk, #3)
  • Corat Coret di Toilet
  • Bidadari Yang Mengembara
  • Dunia Di Dalam Mata
  • Kereta Tidur
  • Laki-laki Pemanggul Goni: Cerpen Pilihan Kompas 2012
  • Kau Memanggilku Malaikat
  • Seribu Kunang-Kunang di Manhattan
  • Ayahmu Bulan, Engkau Matahari
  • Kering
529648
Mochtar Lubis lahir tanggal 7 Maret 1922 di Padang. Mendapat pendidikan di Sekolah Ekonomi INS Kayu Tanam, Sumatera serta Jefferson Fellowship East and West Center, Universitas Hawai. Aktif sebagai penerbit dan Pemimpin Redaksi Harian Indonesia Raya Jakarta. Memperoleh Magsaysay Award untuk jurnalistik dan kesusasteraan; Golden Pen Award dari International Association of Editors and Publishers. Ha ...more
More about Mochtar Lubis...
Harimau! Harimau! Jalan Tak Ada Ujung Manusia Indonesia (Sebuah Pertanggungan Jawab) Senja di Jakarta Berkelana dalam Rimba

Share This Book