Goodreads helps you keep track of books you want to read.
Start by marking “Selimut Debu” as Want to Read:
Selimut Debu
Enlarge cover
Rate this book
Clear rating

Selimut Debu

by
4.11 of 5 stars 4.11  ·  rating details  ·  860 ratings  ·  161 reviews
Selimut Debu akan membawa Anda berkeliling “negeri mimpi"—yang biasa dihadirkan lewat gambaran reruntuhan, korban ranjau, atau anak jalanan mengemis di jalan umum—sambil menapaki jejak kaki Agustinus yang telah lama hilang ditiup angin gurun, namun tetap membekas dalam memori. Anda akan sibuk naik-turun truk, mendaki gunung dan menuruni lembah, meminum teh dengan cara Pers...more
Paperback, 468 pages
Published January 12th 2010 by PT Gramedia Pustaka Utama
more details... edit details

Friend Reviews

To see what your friends thought of this book, please sign up.

Reader Q&A

To ask other readers questions about Selimut Debu, please sign up.

Be the first to ask a question about Selimut Debu

Selimut Debu by Agustinus WibowoGaris Batas by Agustinus WibowoKedai 1001 Mimpi by Valiant BudiTitik Nol by Agustinus WibowoHabibie & Ainun by Bacharuddin Jusuf Habibie
Memoar/Kisah Nyata Terbaik
1st out of 71 books — 57 voters
Into the Wild by Jon KrakauerA Walk in the Woods by Bill BrysonEat, Pray, Love by Elizabeth GilbertWild by Cheryl StrayedInto Thin Air by Jon Krakauer
Ultimate Backpacking Novels
79th out of 324 books — 817 voters


More lists with this book...

Community Reviews

(showing 1-30 of 1,794)
filter  |  sort: default (?)  |  rating details
Harun Harahap
“ Agama itu bukan di baju. Agama itu ada di dalam hati. Inti Agama adalah kemanusiaan.”

Seorang Shah dari suku Wakhi mengatakan hal tersebut yang tertulis pada halaman 227 buku ini. Afghanistan dimana mayoritas penduduknya mengenakan Shalwar Kamiz untuk pria dan Burqa untuk perempuannya selalu menilai keimanan dari apa yang mereka kenakan. Keimanan sudah tidak lagi ditentukan dengan sikap dan perilaku mereka melainkan dari serban, jenggot atau apapun yang sebenarnya hanya sekedar simbol belaka....more
Uci
Afghanistan, dulu dan sekarang, adalah ironi. Sementara alamnya tandus, gersang dan kejam, penduduknya menyimpan keramahan dan kemurahan hati tak terhingga. Sementara bulir-bulir tasbih tak henti berputar di jari para lelaki, praktik bachabaz atau hubungan seks antar lelaki dianggap lumrah. Sementara para lelakinya dikenal garang dan jantan, sinetron India Karena Ibu Mertua Juga Pernah Menjadi Menantu, menjadi tayangan favorit mereka (hal.199). Bedil yang tergantung sangar di pundak juga tak lup...more
Jimmy
Tanah airku, lelah oleh khianat, oh tanah airku…
Merana dan kesepian, oh tanah airku…
Begitu banyak derita yang kau rasakan, oh tanah airku…

Siapa yang melantunkan ratapan dan isak tangismu.
Tanah airku, siapa yang membuka jalanmu
Tanah airku, siapa yang setia padamu

Engkau adalah bulan bintangku.
Engkau adalah jalan pulangku.
Ku tak hidup tanpamu

Mereka mencuri hartamu.
Mereka hancurkan hatimu.
Tanah airku, lelah oleh khianat, oh tanah airku…


Sarzamin-e-Man (yang berarti “Tanah Airku”, lagu yang dipo...more
Astrid Reza
this is probably one of the first travel notes of indonesian traveler i ever read. it's apparently one of the best. i'm moved to wanting to translate it to english.

agustinus had that strong empathic observation vital for writer and being also a photographer, he treats his observation as details and strongly as his photos. he captured the right momentum, the things that has been left unsaid, grasping every single breath of his stories.

agustinus wibowo is not your regular backpacker and his expe...more
Mery
Mar 25, 2010 Mery rated it 5 of 5 stars
Recommended to Mery by: 仔, 我 决 定 爱 你
Shelves: pinjam, punya
Apa yang muncul di benak kita setelah mendengar kata Afghanistan?
Perang, Bom, Teroris. dan Afghan penyanyi lokal hehe
Itulah yang terbersit dalam benakku ketika mendengar kata Afghanistan. Kata Afghanistan seakan teramat sakral dengan Perang, Bom, dan Teror. Bagaimana tidak? Setiap menonton siaran berita selalu saja “Terjadi bom bunuh diri di depan kantor kedutaan ini kedutaan itu di Afghanistan.” Atau “Taliban menculik turis-turis ini turis-turis itu sehingga membuat ketegangan antar Negara.”

Fiu...more
indri
#2011-44

Pernah saya menonton film tentang sekelompok orang invalid, di padang pasir, yang mengejar-ngejar kaki palsu yang diterbangkan dengan parasut. Ketika membaca bagian rumah sakit untuk orang cacat ini, yang pekerja RSnya pun orang cacat juga, saya teringat film itu. Dulu saya masih tidak punya bayangan, negeri dongeng manakah yang penduduknya banyak yang invalid itu?
Membaca pemaparan Gus Weng tentang bahaya ranjau di mana-mana, bom yang bisa meledak kapan saja, di mana saja, saya menangis...more
Shidayat
Buku ini aku dapatkan tidak dengan sengaja. Di sebuah stasiun kereta yang padat dengan penumpang yang mengumpat, memburu dan terkantuk karena membunuh waktu. Tidak berbeda denganku, dikala kekesalan dan kekecewaan melanda, buku ini ibarat oase ditengah gurun yang panas. Sampul luarnya biasa saja, warna kecoklatan dengan siluet gambar orang-orang bersurban mengendarai kuda bertuliskan judul "selimut debu". Tidak ada yang spesial. Awalnya aku mengira buku ini adalah buku tentang peperangan atau ki...more
Rhea
Apr 11, 2010 Rhea rated it 5 of 5 stars
Recommends it for: Mira Mizania
Khaak yang berarti debu juga tanah kelahiran.
Yang terlintas dalam pikiran saya ketika pertama kali akan membaca buku ini Afghanistan,, negara yang penuh dengan teror, perang, kelaparan, dan juga burqa.
Ketika membuka buku ini pada awalnya, saya langsung penasaran dengan lembar yang ditempelkan pada tengah2 buku dimana lembar tersebut lebih tebal dari yang lainnya yang tak lain ternyata adalah foto2 Afghanistan. Dan hal2 yang membuat saya terpukau adalah foto gunung Baba Tangi di Wakhan, Mall di...more
Ambar
Jun 17, 2010 Ambar rated it 4 of 5 stars
Recommends it for: anyone crazy enough to travel afghanistan
Shelves: adventures, travel
Identitas adalah sebuah deretan pertanyaan tanpa henti. Anda muslim? Anda Pasthun? Anda Ismaili, Sunni, Syiah? Ini menandakan bagaimana negeri ini terbangun dari berbagai rumpun. Negeri yang dulunya bagian dari peradaban tinggi tiga ribu tahun yang silam. Jauh sebelum Kristus, sejak agama kuno Yunani, Romawi, Zoroaster, Budha, Islam dan Komunis.

Toh Agustinus berani menyelipkan ironi dan absurditas di tengah perjalanannya. Tentang membanjirnya produk barat seperti Coca Cola misalnya, atau betapa...more
Robert
Apr 04, 2010 Robert rated it 3 of 5 stars
Recommended to Robert by: sastrapertala
Sebuah catatan perjalanan dari seorang backpacker bernama Agustinus yang menakjubkan di tanah magis Afghanistan. Buku yang ditulis oleh Agus ini seolah menampar orang-orang yang latah menyebut dirinya sebagai traveler, namun berlindung di balik kenyamanan tiket pesawat, taksi, hotel, keramahan tour guide, dan lembaran uang Dolar.

Dulu saya sempat membaca kisah perjalanan Agus saat dimuat sebagai artikel "Titik Nol" di Kompas. Di sana saya terpana saat menyaksikan kenekadan Agus berangkat sendiria...more
lita
“Aduh kasihannya perempuan-perempuan Malaysia ini, harus bekerja. Aduh kasihannya, mengapa para suami tidak bekerja untuk mereka. Aduh, kasihan betul….”

Kalimat tadi dilontarkan beberapa perempuan Afghanistan saat disodorkan foto-foto perempuan Malaysia yang sibuk bekerja di pabrik dan sawah. Kaum perempuan di Pastun dari Kandahar, satu wilayah di Afghanistan, sudah terbiasa hidup nyaman tersembunyi di sudut rumah dan di balik burqa. Hidup nyaman di bawah ketiak suami. Tak perlu lagi bekerja atau...more
Angelic Zaizai
Petualang yang sudah sering gw baca tulisannya di kompas.com akhirnya membuat buku, lumayan excited juga beli bukunya.

eye opener-lah kata gw
bisa tau seperti apa Afganistan, dari dalam sedalam-dalamnya, karena Agustinus ini menjelajah negara itu bener-beneran dari ujung ke ujung, tengah juga, termasuk juga menjelaskan sejarah Afganistan yang dulunya bernama Ariana - tanah bangsa Aria
dan itu bukan hal yang mudah
selain ancaman taliban, perampok, sarana prasarana seperti jalan amat sangat tidak laya...more
Didin hartojo
khaak! membaca buku ini seperti terselimuti oleh debu maha dahsyat. mencoba mengerti afghanistan dengan segala keunikannya. sebelum membaca ini, 2 buku khaled hosseini telah khatam terbaca. buku ini jadi semacam study banding 2 novel fiksi hosseini tadi.

tentang burqa, khaak atau debu atau juga tanah air, bachabazi, samovar, taliban, hazara, kabul dan organisasi kemanusiaan pemberi bantuan khusus afghanistan. sangat terkesan dengan penjelasan tentang burqa yang dilihat dari segala sisi. bagaiman...more
Tyas
The book Selimut Debu (Blanket of Dust) is written in Indonesian, but the following review is written in English with the hope that more people can learn about this book.

* * *

Some of the annoyance you get during traveling comes from your travel buddies – I have had to grit my teeth when one complained for the absence of ‘hotel slippers’ (when she’s not even in a hotel) while another said “What kind of a hotel is this?” when he found out that the hotel did not provide free-flow mineral water in r...more
Sweetdhee


Dari Kursi di baris ketiga

di depan sana
ia bersenandung
hanya dua bait

mengenai kelelahan
mengenai kecintaan
mengenai tanah air

dari sini, di kursi pada baris ketiga
saya mendengarnya berbicara
dengan bibirnya saya berkelana
ke kota-kota tak terjamah angan
masuk ke dalam tiap hati penghuninya
jauh dari nada sumbang berselimutkan kapitalis

dengan matanya saya menjelajah
hingga menuju surga tak terjangkau mimpi
tertutup lembah bagai sangkar
menikmati warna dari tiap wajah
yang garis beda nya menegaskan batas,
me...more
Maggie Tiojakin
Pertama kali saya membaca naskah "Selimut Debu" itu sekitar 2 tahun lalu. Saat itu, naskahnya masih mentah, tapi sudah sangat menjanjikan. Saya takjub membaca tentang petualangannya, belum lagi kalau secara langsung diceritakan lewat telfon atau instant messenger -- momen-momen genting yang harus dia lalui demi semangat eksplorasi yang membara dalam dirinya. Bagi saya, ceritanya "ajaib" semua, dalam arti pengalamannya merantau di tanah asing tak ubahnya sebuah anekdot panjang tentang perjalanan...more
Widwod
Pas pertama denger buku ini mau di jual, langsung pesen di inibuku.com, begitu datang langsung baca..sayangnya...aq kehilangan mood membaca di tengah-tengah ceritanya. entah kenapa..padahal pada saat cerita-cerita Agustinus Wibowo senpai ini dimuat di rubrik petualang Kompas, pasti ditunggu-tunggu.

Sekarang saatnya membaca lagi..setelah sekian bulan dicuekin..
yoshhh ganbatte Widwod-chan...you can make it...abis itu beli buku keduanya..

jkt, 8 Mei 2011

----
23 Mei 2011

Yoshh buku ini pun selesai sudah...more
Hadiyatussalamah Pusfa
Khaak. Debu dan perang. Itulah Afghanistan.

Tapi ternyata, Afghanistan itu lebih dari sekedar “khaak”. Perjalanan yang dialami oleh Agustinus Wibowo menjadi sangat menarik untuk dibaca karena perjalanannya yang tidak biasa. Nyaris seperti menggelandang di negeri orang. Pergi dari satu desa ke desa lainnya, lembah, bukit, sungai, pegunungan, padang pasir, semua dilewati. Itupun dengan menumpang ke Falang Coach, truk, atau kendaraan apapun yang ada. Seringkali dengan ongkos yang sangat mahal karena...more
Basmah Thariq
Asia bagaikan tubuh hidup yang terdiri dari atas tanah dan air. Jantung yang berdetak di dalamnya adalah Afghanistan. Kehancuran Afghanistan adalah kehancuran Asia. Kemajuan dan kemakmurannya adalah kesejahteraan Asia.
--Allama Iqbal--


Apa yang ada dibenakmu tentang Afghanistan? Negara gersang dengan perbukitan yang gundul? atau laki-laki yang berjeggot tebal dan perempuan yang menutup diri dibalik burqanya? atau negeri dengan Islam extrem yang terkenal dengan Talibannya? atau juga negeri penuh de...more
Azia
Tragedi menara kembar World Trade Center 11 september 2011 membuat negara Afghanistan menjadi bulan-bulanan Amerika. Karena pemerintahan taliban melindungi pimpinan Al-Qaeda,most wanted person of the world-orang yang diduga bertanggung jawab atas peristiwa WTC,Osama bin Laden. Sejak ribuan tahun lalu,Afghanistan tidak pernah sepi dari pertikaian dengan orang asing atau sesamanya sendiri.

Afghanistan yang terletak di asia tengah memiliki alam yang keras. Padang gersang dan berdebu. Entah apa yang...more
Imas
Buku pertama karya Agustinus Wibowo yang aku baca, mengundang minat membacanya justru setelah melihat review buku terbaru beliau di goodreads yang banyak memuji dan memuja. Tapi tentu kurang elok jika langsung membaca buku ketiga karya Agustinus karena sepertinya ketiga buku tersebut memiliki keterkaitan.

Membaca kisah perjalanan Agustinus ke negara yang cukup membuat gentar memberikan kesan kengerian, kesedihan dan hal-hal lain yang tentunya tidak berkaitan dengan keriaan. Bahkan hal-hal yang s...more
Asy_syahrun
sekilas, buku ini mengingatkan saya pada film "into the wild". ya, berpetualang di alam liar mencari mencari jejak diri di alam liar.
Namun, ternyata buku ini bukan sekadar merekam pencarian jati diri sang penulis. buku ini juga mencatat kondisi sosial budaya masyarakat yang dilaluinya secara mendalam. buku ini telah membuka selimut tabir debu yang selama ini menutupi tanah afghanistan.
dan memang, agustinus wibowo bukan alex supertramp yang cenderung asosial. mungkin agus lebih seperti ibn batu...more
Hilda
3.5 bintang

Mungkin saya salah satu dari sedikit orang yang memberi 3 bintang untuk buku ini. Jujur, saya punya ekspektasi yang sangat tinggi akan trilogi karya Agustinus Wibowo ini. Deretan review yang memuji-muji serial ini di Goodreads, box set yang sangat menggiurkan, serta lembaran-lembaran foto asli penulis yang dicetak berwarna. God. I fall in love.

Selimut Debu merupakan lembaran-lembaran jurnal Agustinus Wibowo dari pengalamannya bertualang di negeri yang senantiasa dikelilingi debu, Afgh...more
Haya Najma
Buku ini aku dapat di bazar Gramed Matraman seharga 20 ribu. Aku beli karena penasaran, kata orang bagus. Lalu aku baca dan mengharamkan diri untuk ganti buku lain sebelum ini selesai. Dan well, di dalamnya kita seperti sedang dibawa berjalan menuju negeri yang begitu wow. Semua rasa yang ditulis penulis seakan terasa. Bahkan saat perjalanan ke Semarang beberapa hari berikutnya saya merasa dan membayangkan tulisan itu lagi. Tentang truk tua dan transportasi yang tangguh di medan berat di Afganis...more
Dewanta
Swear buku ini baguss banget... Iya bagussss banget... Loe mesti beli dan baca dan akhirnya lu tidur dengan tenang, karena dapat bantal bonus yang empuk. Iya tebell bok, dan sukses jaya bikin gue tidur dalam 35 halaman saja.

Muak banget cara penceritaannya yang sangat lamban, selamban bekicot rumah gue yang akhirnya mati dalam perjalanan mencari keteduhan di rumah tetangga secara di tembok gue sering buat mainan keponakan gue hhehee..

Katanya buku traveling sih. Iya, intinya, buat saya yang ingi...more
Nella Indriani
This review has been hidden because it contains spoilers. To view it, click here.
Primadonna
Indonesia perlu lebih banyak penulis seperti beliau. Yang berani mendobrak zona nyaman dan bertualang di daerah yang acapkali kejam dan tak bersahabat.

Berkat buku ini, aku jadi tahu banyak mengenai Afghanistan dan negara-negara di sekitarnya. Aku tersentuh dengan narasinya yang indah dan hidup.
Nenangs
3.4321*

kisahnya luar biasa. penuturannya juga enak dibaca. hanya saja di beberapa bagian tiba2 berasa kehilangan "link" emosi, seperti saat membandingkan perjalanan "lalu" dan "sekarang".
Muhammad Meisa
Memoar perjalan pria nekat ini dicetak pertama kali tahun 2011, dan saya baru menyelesaikan bacaannya di awal tahun 2014 ini. Oke tak apa. Setelah membacanya saya ingin sedikit memuji dengan umpatan "Orang gila! Nekat! Kampret kok orang ini berani-beraninya ngegembel di Afghanistan! Apa nggak ada pilihan lain yang lebih elegan, aman, nyaman, gemah rimah loh jinawi, tenterem, berhiber, buat plesiran?" Atau memang Agustinus Wibowo sama sekali tidak memiliki niat untuk berplesir ala backpacker arus...more
Zainalarif
Unik. Meskipun pendapatnya adalah pandangan subjektif penulis terhadap kebudayaan Afganistan, alangkah menarik justru membaca pandangannya. Karena itu pandangan dia, seorang non-muslim, terhadap negeri tempat peradaban Islam berkembang sejak zaman nabi.

Walau dihancurkan oleh perang dan alam tak bersahabat berselimut debu, masih tersisa kebudayaan luhur peradaban Afganistan. Yaitu Mehman, memuliakan tamu. Meskipun tidak dikenal, termasuk musafir, orang Afganistan selalu berusaha membantu mereka s...more
« previous 1 3 4 5 6 7 8 9 59 60 next »
There are no discussion topics on this book yet. Be the first to start one »
  • Meraba Indonesia: Ekspedisi "Gila" Keliling Nusantara
  • Kedai 1001 Mimpi: Kisah Nyata Seorang Penulis yang Menjadi TKI
  • Life Traveler
  • The Journeys
  • Back "Europe" Pack: Keliling Eropa 6 Bulan Hanya 1.000 Dolar
  • Tanah Tabu
  • Sokola Rimba: Pengalaman Belajar Bersama Orang Rimba
  • The Naked Traveler 3
  • Kitab Omong Kosong
  • Pulang
  • Negeri van Oranje
  • NASIONAL.IS.ME
  • Muhammad: Lelaki Penggenggam Hujan
  • Hidup Itu Indah: Kumpulan Komik Opini
  • Soe Hok-Gie...Sekali Lagi: Buku Pesta dan Cinta di Alam Bangsanya
  • Generasi 90an
  • Tan Malaka: Bapak Republik Yang Dilupakan
  • Entrok
3297656
Agustinus Wibowo is an Indonesian travel writer and photographer who had spent four years traveling overland continuously. Departing from Beijing, his original destination was South Africa, but he was stuck in Afghanistan and stayed there for 3 years as a photojournalist. He has published two travel narrative books in Indonesian language, namely: Selimut Debu---Impian dan Kebanggaan dari Negeri Pe...more
More about Agustinus Wibowo...
Titik Nol: Makna Sebuah Perjalanan Garis Batas: Perjalanan di Negeri-Negeri Asia Tengah

Share This Book

“Agama itu bukan di baju. Agama itu ada di dalam hati. Inti agama adalah kemanusiaan.” 27 likes
“Organisasi-organisasi raksasa dengan momok birokrasi yang rumit terus berbicara tentang konsep-konsep dan solusi dalam "bahasa langit", sementara kaki mereka tak menjejak pada kehidupan akar rumput rakyat Afghan yang sebenarnya. Anak-anak jalanan masih saja bertebaran di mana-mana. Perempuan masih bersembunyi. Jalan masih berdebu. Rumah-rumah belum tersentuh listrik dan air.” 6 likes
More quotes…