by
3.32 of 5 stars
Ranting, Tawangsri, Gendhing, dan Zhang Mey tumbuh bersama sejak belia. Mereka menjalani takdir sebagai perempuan dan menemukan bahwa hidup tak sel... read full description

reviews

Apr 23, 2010
miaaa rated it: 4 of 5 stars
Let's talk about virginity. Some, well most would say, to the hell with virginity this is no 18th century, yet it is still a matter for few. This book put virginity as a delicate subject, delivered by four young women with different social backgrounds.

It tries to reflect that, being three Javanese and one Indonesian-Chinese, they're not only dealing with deep-rooted traditions regarding the virginity but also being a woman as well. Not many women, I'm talking about Indonesian specifi More...
27 comments like (24 people liked it)
Apr 14, 2010
lita rated it: 3 of 5 stars
WARNING!!! Review ini cuma berisi curhat. Segala kritikan dan masukan saya tentang isi buku sudah saya sampaikan langsung ke penulis buku pada 9 April 2010.

Susahnya jadi perempuan
Jalan melenggang dibilang genit
Jalan tegak dibilang berlagak

Susahnya jadi perempuan
Berpakaian terbuka dibilang obral
Berpakaian tertutup dibilang konvensional

Susahnya jadi perempuan
Bicara banyak dibilang tak tahu diri
Bicara sedikit dibilang kepala ta
More...
40 comments like (35 people liked it)
Jun 13, 2011
Farah rated it: 2 of 5 stars
Buku ini bertele-tele.
Ya Tuhan, gue tidak pernah melihat buku dengan tebal halaman seperti buku ini, yang kalau cerita di dalamnya diceritakan kembali secara lisan, cuma memakan waktu kurang dari lima menit.
Kalau gue harus menceritakan kembali isi buku ini, mungkin reka adegannya akan seperti ini:

Reporter bincang-bincang sore di MetroTV (RBBSdM): "Farah mungkin bisa menceritakan kembali, bagaimana isi cerita buku ini?"

Farah: "Intinya sih ada 4 p More...
41 comments like (17 people liked it)
Sep 11, 2010
indri rated it: 3 of 5 stars
#2010-23#

Perempuan, yang dipuja sebagai kembang, sering hanya dinanti ketika mekar, namun diganti ketika layu. Apakah kumbang hanya mencari yang segar?

Masa perawan hanya datang satu kali. Itulah hidup yang dijalani perempuan. Nilai-nilai yang ditanamkan oleh budaya timur, apakah kau bakul karak, buruh cuci, pekerja salon, penjual batik, mahasiswi sosiologi, atau penghuni rumah benteng cina.

Apakah hanya lelaki dan ibu mertua yang menilai keperawanan perempuan More...
16 comments like (14 people liked it)
Mar 29, 2010
Harun Harahap rated it: 4 of 5 stars
‪‪Review ini mengandung kata-kata vulgar*menurut saya*, jadi yang berusia dibawah 10 tahuan jangan baca yah

Karena Setiap Perempuan Adalah Perawan adalah sebuah bab pengantar setelah bab selasar awal. Selasar awal yang menyajikan adegan empat anak kecil yang berjenis kelamin perempuan yang berbincang sambil bermain pasaran berakhir pada sebuah pertanyaan apakah artinya menjadi perawan?

Simbok Ranting mengatakan bahwa menjadi perawan adalah menjadi perempuan muda, siap dilam More...
20 comments like (13 people liked it)
Mar 21, 2010
Helvry rated it: 4 of 5 stars
Perempuan dengan segala keunikannya memiliki segala sesuatu yang sepertinya tidak habis-habisnya untuk dipelajari dan dibahas. Pujangga-pujangga ternama pun tidak melewatkan sifat wanita dalam karya sastra mereka.

Novel ini bercerita tentang persahabatan empat orang perempuan yang bernama Ranting, Gendhing, Tawangsri, dan Zhang Mey. Mereka bersahabat sejak usia anak-anak. Permainan favorit yang mereka senangi adalah main pasar-pasaran. Mereka berempat melakukan persiapan untuk per More...
19 comments like (7 people liked it)
May 24, 2010
Sweetdhee rated it: 3 of 5 stars
kalau sudah terlalu banyak review yang dibaca,
musti make kacamata kuda pas baca buku nya biar ga terkontaminasi membangun karakter di imjainasi sendiri..
udah selesai baca, eeeh malah bingung mo nulis apa..

bintang empat untuk ide cerita, minus satu untuk banyaknya halaman-halaman yang dilewatin gara-gara bosen..

kata mba indri mood baca aku yang lagi ga bagus..
hmm...bisa jadi bukan itu, mba..
mungkin karena expectasi yang berlebih, tapi nyatanya terla More...
29 comments like (5 people liked it)
Aug 25, 2010
DuniaFriskaIndah rated it: 4 of 5 stars
Sebenarnya sudah cukup lama aku memimpikan untuk membaca buku ini. Niat untuk beli, tapi kok lebih niat untuk minjam ya.. Hehe, karena awalnya Bang Helvry mau minjamin tapi kok malah ga jadi. Gimana si Bang Helvry… Tapi akhirnya berhasil juga untuk dapat pinjaman.

Garis Perempuan merupakan novel yang aku baca selama di rumah sakit. Lumayan bisa menghilangkan rasa jenuh dan bosan karena hanya tidur-tiduran saja di rumah sakit. Terima kasih Mbak Sanie untuk bukunya karena sudah memberi More...
8 comments like (2 people liked it)
Mar 03, 2010
Dewayanie rated it: 3 of 5 stars
finished !

hmm.. menyisakan sedikit tanya di hati, terutama tentang bagaimana garis Tawangsari dan Zhang Mey selanjutnya...

dan mengapa garis perempuan harus selalu terkait dengan laki-laki, hiks.

*Mereka tak berdaya mengelak dari kepatuhan terhadap partitur perkawinan, walaupun yang teralun adalah selarik nada pahit. *

Benarkah garis perempuan harus selalu begitu....? tak dapatkah menentukan nasibnya sendiri...?

ya ya ya.. terlepas dari itu More...
1 comment like (1 person liked it)
Apr 24, 2011
Mirna rated it: 3 of 5 stars
Buku ini adalah salah satu novel kontemporer Indonesia dengan alur yang rapi jali. Jalinan ceritanya bersumber pada empat sub-plot yang masing-masing mengikuti seorang perempuan muda yang sudah saling akrab sejak kecilnya; Ranting si yatim dan miskin, Gendhing yang keluarganya kekurangan, Tawangsri yang keluarganya nampak normal tetapi ternyata kurang fungsional dan Zhang Mey yang keluarganya lengkap normal fungsional tapi mengekangnya dalam tradisi.

Sebetulnya keempat perempuan muda More...
Mar 25, 2010
Ita rated it: 3 of 5 stars
Membaca buku
Garis Perempuan
(Empat Wanita, Empat Jalan Hidup)
Novel oleh Sanie B. Kuncoro
Penyunting Imam Risdiyanto
Penerbit Bentang Jogya Januari 2010
370 halaman

Pertama,saya ingin menyoroti keistimewaan buku ini, yaitu ditulis dengan tata bahasa yang apik, menuruti bahasa Indonesia yang baik dan benar, menguraikan cerita secara ringan dan jelas, dan diedit dengan baik (meski Endah Sulwesi mencatat satu dua koreksi). Saya sungguh menghargai usaha San More...
0 comments like (2 people liked it)
Feb 22, 2010
Niratisaya rated it: 3 of 5 stars
Sinopsis (dari back cover):

Ranting, Tawangsri, Gendhing, dan Zhang Mey tumbuh bersama sejak belia. Mereka menjalani takdir sebagai perempuan dan menemukan bahwa hidup tak selalu terkonfigurasi serupa dongeng masa lalu para peri.
Kebun kehidupan pun acapkali melalui kemarau panjang yang harus dijalani. Mereka tak mampu mengelak dari kepatuhan terhadap partitur perkawinan, walaupun yang teralun adalah selarik nada pahit.
Beranikah mereka menentukan pilihan? Sanggupkah mereka More...
4 comments like (1 person liked it)
May 04, 2010
nat rated it: 4 of 5 stars
Pada akhirnya aku mendapatkan buku ini, setelah sempat ‘hilang’ dari peredaran karena laris manis.
Udah lama banget pengin baca buku ini setelah baca review teman-teman yang menarik hati.
Membaca buku ini menimbulkan garis-garis pemikiran di benakku, akankah membentuk suatu gambar yang indah ?

Sanie, yang menceritakan kisah-kisah dalam buku ini dengan berganti-ganti sudut pandang, mengawalinya dengan selasar, sebuah pendahuluan. Kisah masa kecil empat bersahabat yang sama-sa More...
22 comments like (6 people liked it)
Mar 29, 2010
Sam rated it: 4 of 5 stars
Perempuan, Keperawanan dan Patriarkal

Perempuan. Bagaimana memaparkan makhluk itu? Spesies yang selalu menggetarkan untuk dijelajahi, tetapi sudahnya menelantarkan penjelajahannya pada zona antah berantah. Menyesatkan dalam lorong-lorong labirin tak berkesudahan - JENGGALA.

Tak banyak buku yang 'mengupas' keperawanan, ya, keperawanan, perempuan... dan kelelakian. Buku GARIS PEREMPUAN karya Sanie B. Kuncoro ini salah satunya.

Buku ini justru jauh dari vulgaritas, More...
0 comments like (2 people liked it)
Mar 11, 2010
Mia Queen rated it: 3 of 5 stars
Baca bareng kedua saya bareng GRI.

4 wanita. 4 jalan nasib. 4 takdir. 4 lelaki. 4 isu keperawanan.

Secara garis besar buku ini mengisahkan persahabatan 4 wanita, mulai dari mereka kecil sampai dewasa, atau bisa dibilang sampai saat selaput dara mulai dipertanyakan.

Buku ini dipisahkan menjadi 6 bab besar.
- Selasar awal, kisah persahabatan Ranting, Tawangsri, Gendhing, Zhang Mey dimulai.
- Kisah 4 sahabat diuraikan dalam babnya masing-masing.
- More...
14 comments like (9 people liked it)
Mar 15, 2010
e.c.h.a rated it: 3 of 5 stars
Dalam hidup, kita selalu dihadapkan dengan pilihan

Hal inilah yang ingin ditegaskan oleh Sannie B Kuncoro dalam bukunya Garis Perempuan. Dan, apakah perempuan bisa menentukan pilihannya sendiri? Walaupun pilihan itu melibatkan sesuatu yang mutlak dimiliki semua perempuan yaitu keperawanan?

Melalui sosok Ranting, Gendhing, Tawangsri dan Zhang Mey, penulis mengantarkan pembaca untuk menemukan jawabannya. Memaknai keperawanan dari sudut pandang yang berbeda. Toh, akhirnya p More...
25 comments like (11 people liked it)
Mar 28, 2010
ijul (yuliyono) rated it: 3 of 5 stars
Pilihan Empat Perempuan Perawan

Aku membayangkan Dian Sastro sebagai Tawangsri, Rachel Maryam sebagai Gendhing, Happy Salma sebagai Ranting, dan Dominique sebagai Zhang Mey, jika novel ini bertransformasi menjadi film. Hmm, kira-kira ada tidak ya yang berniat membingkai karya tulis ini menjadi sebuah karya visual dalam layar perak. Semoga saja.

Oiya, aku membaca novel ini karena “teracuni” teman-teman baruku di GRI, dan untung saja aku mendapatkan copy novelnya dengan poto More...
43 comments like (12 people liked it)
Jan 22, 2010
Endah rated it: 3 of 5 stars
Perempuan. Makhluk yang konon diciptakan dari seruas tulang rusuk pria ini memang selalu menarik untuk dibincang, ditulis, dibahas, ditelanjangi (pakai tanda petik, ya). Dan mungkin yang paling tepat melakukannya adalah perempuan itu sendiri. Apalagi jika menyangkut hal-hal yang hanya dimiliki dan dialami oleh perempuan. Misalnya, keperawanan. Siapa yang lebih paham tentang “rahasia besar” ini kecuali para perempuan?

Apakah hari ini isu keperawanan masih memiliki arti penting? Bisa j More...
Apr 02, 2010
Jimmy rated it: 3 of 5 stars
Saya memilih beberapa paragraf berikut yang menurut saya cocok untuk menggambarkan isi buku ini:

“Keperawanan ora tergantung bancaan. Dengan atau tanpa bacaan semua perempuan tetaplah perawan. Dibancaki puluhan tampah pun, kalau tidak bisa menjaga keperawanannya dengan baik, ya percuma. Nasi bancaan, seberapa kekuatannya? Lha wong cuma sega [itu sekadar nasi:]. Zaman sudah sesulit ini, tidak bisa diadang atau diatasi segala kegilaan zaman itu cuma dengan nasi bancaan.”.:Hal 15:.
More...
27 comments like (12 people liked it)
May 04, 2010
Ashree rated it: 4 of 5 stars
Perawan. Entah mengapa satu kata itu dipermasalahkan. Entah diperjuangkan atau diperjualbelikan. Dalam buku ini, empat wanita itu mempertaruhkan satu hal: keperawanan. Tapi mengapa sampai begitu rumit? Seperti kata Kakek Pram, "Hidup sungguh sangat sederhana. Yang hebat-hebat hanya tafsirannya."

Bagi saya, perawan (kb) adalah sebutan bagi perempuan yang belum dikawini. Masalah tradisi (adat/agama) yang mengharuskan wanita menjaga keperawanan, itu adalah sebuah hadiah yang m More...
May 01, 2010
erry rated it: 4 of 5 stars
Sebegitu pentingnyakah arti sebuah keperawanan? Hingga seakan-akan nilai dari seorang perempuan hanya bisa dilihat dari ada atau tidaknya hymen - Sebuah selaput tipis yang sangat rapuh dan mudah koyak, bahkan secara tak sengaja- .

Perawan dan keperawanan, adalah issue sentral yang dibahas dalam buku ini. perempuan dengan problematikanya. Perempuan dengan takdir dan kodratnya. Serta nilai dan budaya yang menyertainya. Buat seorang perempuan, menjadi akil baliq adalah sebuah awal dari p More...
0 comments like (4 people liked it)
Apr 27, 2011
Winna rated it: 4 of 5 stars
Bacaan Bookstalkers bulan Mei 2011.

Sudah lama tertarik dengan buku ini, dan baru sempat membacanya. Saya suka temanya, suka juga dengan cara berceritanya, yang walau panjang dan penuh monolog juga pertanyaan, namun menyimpan makna.

Bagian yang paling saya suka adalah Zhang Mey, lalu Ranting, baru Tawangsri. Bagian Gendhing terasa seperti gema cerita Tawangsri, dan saya pun tidak terlalu menyukai karakternya. Ada beberapa error dalam penulisan juga arti dialog dalam bahasa Mand More...
Apr 18, 2010
Rhea rated it: 3 of 5 stars
Bab awal dari buku ini melontarkan saya akan masa2 kecil saya yang kurang lebih sama dengan mereka. Masa2 dimana keluarga saya bisa dibilang hidup dibawah standrat,
mengingat hal itu saya jadi lebih sayang pada kedua orang tua saya, perjalanan mereka yang berat dalam menaikkan standart hidup keluarga, dan hidup kami mulai berubah ketika orang tua saya memutuskan untuk berwirausaha.

*lho kok jadi curhat*
*back to review*

4 orang perempuan, Ranting, Gendhing, Tawa More...
Jan 13, 2010
Ferina rated it: 3 of 5 stars
Cerita tentang empat gadis yang bersahabat sejak masa kecil. Saling menguatkan, tapi tetap tidak mampu membantu ketika takdir ‘menghampiri’ mereka. Buku ini seolah ingin menggambarkan ketidakberdayaan perempuan, bahwa perempuan tidak punya pilihan. Berlatar budaya Jawa (tapi gak tau Jawa bagian mana – mungkin gue agak terlewat pas bacanya). Sebagai perempuan (halah…), gue agak gemes pas baca buku ini. Gemes dengan segala kepasrahan mereka. Tapi, ya gitu deh, kadang, kita sendiri mungkin gak baka More...
Feb 22, 2010
Ambar rated it: 3 of 5 stars
ide ceritanya menarik.
mengisahkan empat orang perempuan dengan latar jawa (Solo). Ranting, Gendhing, Tawangsri dan juga Zhang Mey. tiga Iniren dan juga satu congkueren (bener gag ya tulisannya kayak gitu?).
Ranting yang pendiam, yang selalu ingin membahagiakan si mboknya. dengan mengorbankan dirinya demi kesembuhan orang yang paling disayanginya.
Gendhing yang harus bekerja keras tanpa digaji demi pelunasan utang orang tuanya.
Tawangsri yang pintar, tapi kurang bisa mengenal More...
Apr 15, 2010
Mery rated it: 3 of 5 stars
Garis Perempuan, empat wanita empat jalan hidup.


empat pilihan, satu tema… Perawan.


Ranting, Gendhing, Tawangsri, dang Zhang Mey empat sahabat yang melalui masa hidup mereka dengan lika-liku yang berbeda. Dengan pilihan sendiri, mengartikan arti keperawanan dengan persepsi mereka sendiri. Karena semua wanita adalah perawan…

Awalnya aku baca buku ini sedikit tergugah oleh nasib Ranting, tapi…..entah kenapa setelah membaca Gendhing kemudian Tawangsri da More...
35 comments like (9 people liked it)
Jul 19, 2011
Keani rated it: 4 of 5 stars
sejauh ini saya suka karena membaca buku ini serasa mengembangkan payung bernama "masa kecil", hidupku jadi teduh dan aman...
0 comments like (1 person liked it)
Apr 20, 2010
Rachma rated it: 2 of 5 stars
Membaca buku ini di bulan April serasa mewakili momen hari Kartini yang jatuh pada bulan ini. Kentara sekali semangat feminismenya,sebagaimana yang digambarkan para tokoh dalam buku ini yang hampir-hampir menabrak rambu moral demi menunjukkan bahwa mereka bisa memilih atau mengambil keputusan untuk diri mereka sendiri. Mungkin penulis ingin menunjukkan bahwa bagaimana pun nilai moral masih perlu dipertimbangkan, sehingga digambarkan tokoh perempuan pada buku ini terhindar dari sebuah 'kesalahan' More...
Apr 14, 2010
Suzan rated it: 3 of 5 stars
Buku yang bercerita tentang empat wanita dengan empat jalan nasib dan takdir serta empat lelaki dengan dibalut isu keperawanan.

Ranting, Tawangsri, Gendhing, dan Zhang Mey tumbuh bersama sejak belia. Mereka menjalani takdir sebagai perempuan dan menemukan bahwa hidup tak selalu terkonfigurasi serupa dongeng masa lalu para peri.

Kebun kehidupan pun acapkali melalui kemarau panjang yang harus dilewati. Mereka tak berdaya mengelak dari kepatuhan terhadap partitur perkawinan More...
Apr 11, 2011
Natha marked it as to-read
Mendapatkan buku ini sebagai hadiah kuis Hari Ibu bulan Desember lalu. Namun masih dalam antrian untuk dibaca. XD
Thanks Bentang~
http://www.smileycodes.info