by
3.08 of 5 stars
Edward Twickenham, penyihir Glamorgan dengan bakat yang misterius. Ivar Eidfjord, penyihir Denmark yang bisa melihat kilasan masa depan. Junda, p... read full description

reviews

Feb 15, 2010
e.c.h.a rated it: 4 of 5 stars
Saat membaca buku ini yang terlintas dibenak saya, benarkah buku ini ditulis oleh seorang penulis aseli Indonesia? Karena lokasi yang bertempat di Eropa sangat pas belum lagi detail kehidupan Eropa di abad pertengahan. Dan, buku ini telah membuat saya untuk belajar Geografi kembali, membuka-buka atlas Eropa saat 2 orang penyihir Edward & Ivar melintasi banyak daerah untuk mengartikan kilasan masa depan yang didapat Ivar. Oh ya, saya belajar sedikit sejarah juga dari buku ini.

Dilengka More...
55 comments like (5 people liked it)
Jan 26, 2010
Ajeng rated it: 3 of 5 stars
Novel ini bisa dibilang merupakan sebuah breakthrough di kelas novel lokal. Jarang-jarang ada penulis lokal yang berani mengambil genre fantasy didukung dengan riset mendetail. Saya salut Tyas menulisnya dengan melakukan sejumlah riset yang membuat alur cerita novel ini terasa begitu alami dan logis. Setidaknya buat saya pribadi yang juga menyukai mitologi, buku ini cukup menyenangkan. Sayangnya pada bagian alur cerita, kurang ada twist yang membuat pembaca merasa 'wow' dan di beberapa plot masi More...
5 comments like (3 people liked it)
Jul 28, 2011
Buku fantasi lokal yg menarik. sangat menarik.

tapi....

1. novel ini terlalu "tipis". Hehe... terobsesi ma novel tebal :P. Maksudnya ceritanya terlalu singkat. alhasil plot cerita yg semestinya bisa dikembangkan lebih jauh, seakan terkompres sehingga konfliknya rada kurang menggigit

2. ending cerita. bisa dikatakan kurang memuaskan dan elemen kejutnya kurang memuaskan saia. untuk sebuah karya pertama dari trilogi, novel ini kurang memberikan kejutan ata More...
8 comments like (1 person liked it)
Feb 28, 2010
lita rated it: 3 of 5 stars
Andai saja saya tidak mengenal Tyas Palar secara pribadi, saya tidak akan percaya kalau buku ini ditulis oleh orang Indonesia. Cara bertutur penulis di buku Death to Come ini lebih mendekati gaya bahasa yang biasanya ada dalam buku-buku terjemahan.

Sebut saja nama-nama tokoh yang ada dalam buku ini: Edward Twickenham yang bernama asli Arderydd ab Don, atau Ivar Eidfjord yang terasa asing di lidah orang Indonesia. Atau istilah-istilah seperti Dinding Perjanjian, Kilasan Masa Depan, Jal More...
4 comments like (13 people liked it)
Jan 20, 2010
Truly rated it: 4 of 5 stars
Tyas sukses ngerjain saya!
Di halaman 5 ada kalimat "...maka lakukanlah hal yang saya lakukan ketika saya menulisnya-manfaatkanlah perpustakaan dan toko buku" Melihat adanya beberapa kata yang diberi tanda sementara tidak nampak catatan kaki, saya merasa jangan-jangan kata-kata itu harus dicarikan artinya diperpustakaan, toko buku atau internet. Belum lagi komen Mas Koen yang telah beberapa kali mengerjai saya dengan novelnya.

Ternyata memang buku ini bersih dari catat More...
Mar 18, 2010
an rated it: 2 of 5 stars
ga perlu banyak komentar kelihatan na, dah diwakili ma repiu yang dah ada.

setuju ma catatan mas koen di cover depan na, mang kekuatan na ada pada kekayaan literatur. note yang ada di hampir setiap bab mengesankan riset lama yg dilakukan ma penulis na (beneran gitu ga c?). menyenangkan diajak berpetualang dari negara (apakah sudah ada konsep negara saat itu?) yang satu ke negara yang lain.

sudut pandang serba tau (bukan akuan) yang digunakan penulis lebih menarik lagi, sehi More...
Jan 28, 2010
Mia Queen rated it: 2 of 5 stars
Kesan pertama dari cover : Wah wah gambarnya misterius, spooky, judulnya lumayan gahar.

Kesan pertama setelah membuka pembungkus plastiknya : Ada beberapa gambar yang mengganggu dan tidak sesuai dengan cover, gambar bintang yang menurut saya kurang pas dengan image buku dan juga gambar merlin yang lumayan mengganggu. Padahal pas akhirnya tokoh si Merlin juga tidak digambarkan berjanggut panjang gitu.

Kesan setelah membaca buku : Salut untuk mbak Tyas yang sepertinya merise More...
Dec 27, 2009
Anne rated it: 3 of 5 stars
Kesan pertama: wow, ada penulis Indonesia yang milih topiknya penyihir? Jaman Merlin pula?

Oke, saya suka buku ini. Terutama para karakternya.

Edward yang terlalu serius memandang dirinya sendiri, sampai sepertinya kok enak untuk diledek (eh, ini kesan yang saya tangkap lho ya).

Ivar yang impulsif dan masih terlihat kesan anak-anaknya di beberapa kesempatan.

Junda yang katanya 'barbar', tapi mungkin lebih beradab dari kebanyakan orang beradab.

More...
8 comments like (1 person liked it)
Dec 31, 2009
Annisa rated it: 3 of 5 stars
Menurut saya, buku ini bagus. Dalam arti kata, seperti yang sudah ditulis di lembar pertama bukunya oleh berbagai orang, buku ini menawarkan hal yang baru. Saya merasa seperti sedang bermain game alternate reality, yang saya kenal nama-nama orang dan latar kejadiannya, tapi yang terjadi sedikit berbeda dari yang sebelumnya saya baca. Pertanyaan saya: Kira-kira capek gak ya meriset data untuk latar seluas itu?

Hanya sayang, menurut saya plotnya masih kurang seru. Tidak ada twist yang b More...
Dec 31, 2009
Dhieta rated it: 3 of 5 stars
Sudah banyak penulis mengangkat tema Merlin, tapi bisa dihitung dengan jari penulis dari Indonesia yang memgambil tema tersebut. Biarpun tema tidak baru, tapi Tyas sanggup menambahkan bumbu-bumbu yang membuat saya tetap membaca buku ini tanpa henti (kecuali makan dan ke toilet). Setelah selesai membaca The Death To Come, hal pertama yang saya lakukan adalah buka internet untuk mengecek tokoh/peristiwa yang ada di buku ini.
Karakter favorit saya sudah pasti Edward, karena sikapnya mengundang More...
Apr 01, 2011
Indah "Threez" rated it: 3 of 5 stars
372nd - 2011

Jalan cerita dan gaya penuturannya menarik. Sayang ada gambar penyihir ala Disney bertongkat sihir di setiap awal bab, yang nggak cocok dengan karakter mana pun di buku ini (Merlin pun bukan, di cerita ini semua penyihir awet muda!).

Sepertinya buku ini nggak perlu dibilang novel pertama trilogi The Search For Merlin segala, karena toh sudah ketemu Merlin di akhir buku ini, jadi boleh dibilang pencariannya selesai. Kecuali di buku 2 dan di buku 3 bakal ada masalah More...
Apr 19, 2010
Luz rated it: 3 of 5 stars
Hmm... gimana ya? Ilustrasi Merlinnya tuh kan Merlinnya Disney. *Sigh* kenapa sih harus ngebajak ilustrasi?

Untuk "detail sejarah" yang katanya menjadi poin kekuatan novel ini, aku sepakat bahwa fakta itu menarik, dan bisa memberi pelajaran.

Tapi kadang fakta ini banyak yang cuma disebut satu kali ("Plantagenista", "Demi Fin MacCool!") dan dikasih endnote seabreg, padahal manfaatnya ke bangunan plot ga ada. Ke bangunan latar dunia maupun karak More...
0 comments like (1 person liked it)
Oct 26, 2011
Ardani rated it: 2 of 5 stars
Sebenarnya aku cukup menikmati membaca buku ini, tapi ada beberapa masalah utama yang membuatku tidak bisa memberi nilai lebih dari 2. Yang pertama adalah buku ini tidak memiliki konflik utama yang harus diselesaikan para tokohnya. Konfliknya hanya ada satu, dan semua karakter utama seolah dipaksa untuk menyelesaikan konflik itu.

Sayang sekali sebenarnya, padahal kalau ada konflik pribadi antar tokoh bisa jadi selingan yang cukup menarik. Terutama masa lalu Edward yang dibikin sok mis More...
Jun 17, 2010
Jimmy rated it: 2 of 5 stars
Saat membaca novel fantasi, saya selalu berharap akan disuguhkan jalan cerita dan konflik-konflik yang menarik, lebih dari apa yang bisa saya pikirkan. Namanya juga fantasi, apa yang tidak bisa terwujud dalam dunia nyata, seharusnya bisa terwujud dalam fantasi ‘liar’ saya.

Dalam “The Death to Come”, saya memang menemukan gaya menulis yang pernah saya nikmati di beberapa novel ‘luar’. Seperti novel terjemahan. Kalimat-kalimatnya mengalir ringan. Penulis juga memasukkan sejumlah kalima More...
5 comments like (3 people liked it)
Mar 16, 2010
dioscurio rated it: 2 of 5 stars
Apa jadinya jika sebuah cerita bergulir tanpa adanya sebuah klimaks ? Mungkin itu pertanyaan pertamaku setelah menutup buku ini.

Pertama, yang paling aku suka dari kisah ini adalah gaya cerita Tyas yang mengalir banget, dan seperti kata echa, terasa seperti novel terjemahan, mungkin karena beliau udah punya banyak pengalaman menterjemahkan dan bikin artikel. Bukan berarti style novel terjemahan lebih bagus dari gaya lokal ato apa, tapi karena aku emang udah biasa baca novel terjemahan More...
3 comments like (5 people liked it)
Feb 20, 2010
Rauf rated it: 2 of 5 stars
Pertama-tama, terima kasih buat Miaaa, karena setelah dia dapat buku ini dari penulisnya, dia langsung bilang ke saya, tanpa ragu-ragu, This book is for you, yah! :)
Hanya di Goodreads....



Sekarang bagian paling berat
Kenapa dua bintang?

Bagi saya, alasan utama kenapa buku ini tidak memuaskan adalah penulis selalu menghindari karakter-karakternya dari konflik.
Ini terjadi karena lemahnya karakter antagonis, Gaspar Deuxcroix (double-cross?). 'Keja More...
8 comments like (2 people liked it)
Jan 21, 2011
Ivon rated it: 3 of 5 stars
Demi nama para copaster rabbit dan para desainer buku di seluruh Indonesia: siapa sih si jenius yang memutuskan untuk menaruh Merlin di tiap awal bab buku ini? Mana Merlin versi kartun lagi, padahal isi ceritanya tidak se-Disney itu. Ngerusak suasana aja. Kalau aku tidak mengenal penulisnya dan tidak mendengar teman-temanku berkata betapa bagusnya buku ini, aku akan mengembalikannya ke rak buku lagi setelah membuka bab pertama dan 'tersodok' oleh pucuk tongkat sihir Merlin kartun ini.

D More...
Feb 16, 2010
miaaa rated it: 3 of 5 stars
I like how the characters developed through the pages, and how their real personalities are revealed. I'm not sure if the author intentionally picked an obsessive-compulsive person as the main character, but well I like it anyway since flawless character, especially male hehe, always bore me to death :p

And to be honest I had a slightly 'dirty' impression regarding one of the character's relationship. But I'd rather keep it in a safe-deposit box and throw away the key lol so zip it i More...
Dec 19, 2010
Harun Harahap rated it: 4 of 5 stars
Keplak-Keplok...*berdiri dan bertepuk tangan dengan meriah*

Buku bercita rasa internasional tapi aseli ploduk Indonesia yaaaa.. Ceritanya seru dan menarik. Saya suka bagaimana tokoh-tokohnya 'digambarkan' oleh sang penulis. Dan ini baru buku pertama, hmmm..saya yakin buku-buku selanjutnya akan jauh lebih menarik.

Sedikit masukan buat penulis:

1. Gambar penyihir di tiap awal bab terlalu imut. Buat yang agak sedikit misterius gimana gitu..

2. Catatan kak More...
Mar 30, 2011
Nenangs rated it: 4 of 5 stars
biarpun judul (dan inti ceritanya) cukup 'gloomy' dan bisa bikin depresi, tapi cara bercerita tyas palar yang sangat mengalir dan banyak menyelipkan sitkom yang pas membuat saya banyak tersenyum2 dan mendapatkan hiburan yg menyenangkan dari membaca buku ini. ditambah adanya 'twist and turn' of the story membuat ceritanya lebih menarik lagi. liked it. 3 bintang.

disamping itu, detil-detil cerita dan catatan2 kaki yang menunjukkan bahwa sang penulis melakukan riset yang cukup 'niat' ten More...
Oct 27, 2011
Dion rated it: 4 of 5 stars
Bintang 4 deh mengingat ini fantasy karya anak negeri, dan fantasynya memang dapat banget.
Jan 01, 2010
Ayu marked it as to-read
It's my sis who wrote the book but I haven't even read it :p
Dec 05, 2011
Abyss Shark is currently reading it
saya merasa ter-hook dengan narasi pertamanya. mantap
Aug 21, 2011
Melody rated it: 4 of 5 stars
top top top
moga2 sekuelnya lebih bagus lagi :)
Mar 28, 2011
Ahmad rated it: 3 of 5 stars
bagus ceritanya.. keren.
Dec 30, 2009
Adhe rated it: 3 of 5 stars
Beli di Gramedia GRand Indoneia...
***
Buku penutup tahun 2009 !!!!
Sep 11, 2011
Akbar rated it: 5 of 5 stars
like
Jan 21, 2012
Speakercoret rated it: 4 of 5 stars
3,5*
Feb 10, 2012
Mery rated it: 4 of 5 stars
Cerita yang sangat seru... hanya kurang greget... Ga ada sesuatu yang bikin woaaah...

dan aku ga suka dengan catatan sejarah di belakang bab. Karena jadi mesti bolak-balik halaman bacanya. Ga cocok dengan aku yang pemalas ini. :P
Mar 12, 2010
Uci rated it: 3 of 5 stars
Resensi saya untuk buku ini adalah gabungan dari resensi teman-teman yang sudah meresensi buku ini sebelum saya ^_^

Yang jelas, saya suka cara bertutur Tyas. Rapiii dan enak dibaca. Harapannya sih di buku selanjutnya bakal ada konflik-konflik yang lebih seru biar pas dengan kovernya yang misterius. Kudos!