Goodreads helps you keep track of books you want to read.
Start by marking “Larasati” as Want to Read:
Larasati
Enlarge cover
Rate this book
Clear rating

Larasati

3.49 of 5 stars 3.49  ·  rating details  ·  888 ratings  ·  83 reviews
LARASATI – sebuah roman revolusi semasa perjuangan bersenjata 1945-1950. Kisah tentang pemuda-pemuda Indonesia yang rela membaktikan jiwa raga demi proklamasi kemerdekaan, kisah-kisah tentang para pahlawan sejati dan pahlawan munafik, pertarungan di daerah republik dan daerah pendudukan Belanda – antara yang setia dan yang menyeberang, antara uang ORI dan uang Nica, dengan ...more
Paperback, 180 pages
Published July 2003 by Lentera Dipantara (first published 2000)
more details... edit details

Friend Reviews

To see what your friends thought of this book, please sign up.

Reader Q&A

To ask other readers questions about Larasati, please sign up.

Be the first to ask a question about Larasati

Community Reviews

(showing 1-30 of 1,377)
filter  |  sort: default (?)  |  rating details
Helvry Sinaga
Cover buku ini menarik. Warna cerah oranye dengan dengan covergirl seorang perempuan seperti wajah di Majalah Anita Cemerlang. Novel ini ditulis dalam suasana awal kemerdekaan Republik Indonesia, sekitar Tahun 1950. Pada masa itu, sedang masa peralihan antara kemerdekaan RI yang seutuhnya dan agresi militer Belanda yang masih tidak rela kehilangan Indonesia sebagai jajahan terbesarnya.

Instablitas politik dan keamanan menjadi isu penting. Tidak menjadi soal bagaimana para pemimpin negara bekerja
...more
Nenangs
novel larasati bertutur tentang sulitnya hidup bagi rakyat pro kemerdekaan di masa-masa paska proklamasi – pendudukan (kembali) oleh Belanda – hingga KMB & pengakuan kedaulatan RIS oleh Belanda, bahkan bagi seorang aktris panggung & bintang film (merangkap pelacur?) seterkenal larasati.

diceritakan, larasati yang berpindah dari yogya (dikuasai Indonesia) ke jakarta (dikuasai Belanda) dengan tujuan untuk kembali bermain film dan mencari ibunya yang hidup terpisah setahun lamanya, mengalami
...more
Aveline Agrippina
Revolusioner Larasati

Pramoedya. Tentulah hampir semua orang tahu siapa dia. Namanya menjulang di dalam dunia sastra Indonesia setelah Tetralogi Buru lahir dan namanya sempat terdaftar sebagai calon penerima Nobel Sastra. Satu-satunya orang Indonesia yang pernah dinominasikan di dalam penerima Nobel Sastra. Tetralogi Buru sendiri sudah diterjemahkan ke dalam berbagai macam bahasa.

Kali ini Pram bercerita tentang kehidupan Larasati. Larasati adalah seorang aktris yang hidup di Yogyakarta yang kemud
...more
nat
Ada beberapa alasan aku bisa membaca dengan cepat:
1. Bukunya sangat menarik, hingga tak ingin berhenti membacanya.
2. Bukunya sangat tidak menarik, sehingga skimming menuntaskannya hingga halaman terakhir karena ingin terlepas dari jalinan ceritanya.
3. Lagi banyak waktu untuk baca, misalkan liburan, karena kurang kerjaan ya membaca saja.
4. Bukunya tipis, jadi mau nggak mau ya cepat selesai.

Alasannya bisa memuat lebih dari 1 poin di atas. Nah, untuk buku satu ini, paling tidak poin no 1,3,4 memenu
...more
Harun Harahap
Larasati memang hanya artis sandiwara
Larasati memang hanya pelacur
Larasati bukan orang suci
Tapi Larasati seorang Republiken..

Larasati berkata:
"Biar aku kotor, perjuangan tidak aku kotori. Revolusi pun tidak!Negara pun tidak!Rakyat apa lagi!Yang aku kotori hanya diriku sendiri. Bukan orang lain. Orang lain takkan rugi karenanya."(hal.44)

Dari Yogya, Ia berangkat ke Jakarta. Bukan untuk membantu pendudukan NICA tapi melihat tegaknya Revolusi. Saat Yogya jatuh, ia pun mengaduh. Bagaimana mungkin Rev
...more
Edy
Pramoedya memang luar biasa…Beliau mempunyai visi yang menerawang sangat jauh. Ketika tahun 1960an beliau sudah banyak berbicara mengenai emansipasi perempuan, padahal isu itu belum menyeruak di banyak kepala.

Larasati, seorang perempuan yang berprofesi sebagai bintang film dan pelacur-pun bisa berbuat sesuatu untuk mengisi revolusi. Dia masih mempunyai harga diri dan kebanggaan sebagai anak bangsa Indonesia.

Sungguh ironis dengan kelakuan banyak orang saat ini, tampilannya banyak yang perlente
...more
Tezar Yulianto
This review has been hidden because it contains spoilers. To view it, click here.
Mikochin
Awalnya saya pikir novel Larasati akan menceritakan perjuangan Larasati, atau Ara, sebagai seorang pejuang Revolusi lewat profesinya yaitu seorang bintang film ternama. Agak sedikit kecewa, pada awalnya, namun tetap saja membaca perjuangan anak-anak bangsa merebut kemerdekaan dari tangan Belanda dan NICA merupakan pengalihan perhatian yang sangat sebanding.
Rating yang saya berikan tersendat di bintang ketiga dikarenakan endingnya yang terasa kurang menggigit dan membuat saya agak heran, "Sudah s
...more
Margareth
The 2nd book of Pramoedya I ever read. I think "Gadis Pantai" much better than this one.
Menurutku isinya sedikit aga maksa, terlalu banyak pernyataan Ara (Larasati) yang berapi2 tentang Revolusi, tapi action-nya untuk mendukung revolusi ga banyak. Not Action Talking only, menurutku. Kata2nya terlalu memaksa pembaca memasuki Revolusi, kurang smooth dan kurang berhasil baik membawa pembaca ke haru biru suasana revolusi maupun membangkitkan patriotisme pembaca. (jika itu memang tujuannya)

Akhirnya,
...more
Francisca Todi
3.5

Awalnya saya ngerasa cape juga baca buku ini, soalnya bahasa dan cara memenggal kalimat/paragrafnya suka agak aneh, sampai2 suka bingung, ini yang ngomong siapa sih?

Tapi setelah mulai ke tengah, saya jadi bisa lebih apresiasi bagaimana Pram menceritakan revolusi dari sudut pandang Ara, bahkan jatuh-bangunnya revolusi itu juga paralel dengan kehidupan Ara sendiri.

Singkat kata, menarik, tragis sekaligus mengharukan. Dan pas selesai baca, rasanya saya jadi sangat berterima kasih kepada para pa
...more
A.J. Susmana
Revolusi, Perempuan Dan Keberanian



Sejak di halaman awal Novel Larasati, ditunjukkan sikap yang tak ragu untuk bertempur menghadapi penjajah asing: “..tidak bakal aku main untuk propaganda Belanda, untuk maksud-maksud yang memusuhi Revolusi. Aku akan main film yang ikut menggempur penjajahan.” Tokoh utamanya, yang bintang film, seakan mau berkata bahwa film adalah alat revolusi yang penting dan mendesak.

“Kau seniwati. Jelek-jelek aku seniman juga. Kalau Revolusi menang, kau akan dengar namaku seb
...more
Teguh Affandi
Benar kalau Pramoedya adalah maestro sastra Indonesia. Memang kehadirannya banyak membuat banyak orang geram. Dan buku ini adalah buku kesekian milik Pramoedya Ananta Toer yang kubacaa dan kukoleksi.

Larasati berkisah nasib seorang bintag pelem bernama Larasati yang berpindah dari Yogyakarta ke Jakarta. Larasati yang dtokohkan sebagai bintang sinetron ternyata memiliki jiwa revolusi yang tinggi, bahkan melebihi beberapa orang indonesia yang menghamba kepada NICA demi kepastian akan pemenuhan peru
...more
Reiza
Revolusi! dalam benaknya, hanya kata itu yang mengisi sebagian besar pemikirannya. Pemikiran si Larasati ini. Dipanggil Ara oleh orang-orang disekitarnya, adalah seorang aktris, pemain film, yang berusaha mencari jalan agar bakatnya dapat berguna untuk kemaslahatan Revolusi.

Berlatar belakang Jakarta dan sekitarnya di era menjelang Agresi Militer Belanda II, Pram bagaikan menggambarkan dua sisi yang sangat berbeda. Daerah Pedalaman (Daerah Republik) digambarkan sebagai daerah yang tenteram dan m
...more
Yuska Vonita

Lega banget bisa menyelesaikan Larasati dalam dua hari. Saya pikir saya nggak bakal sanggup menyelesaikan novel ini.

Larasati merupakan buku karya Pram kedua yang saya baca. Sebelumnya, saya pernah membaca Dongeng Calon Arang yang saya baca waktu kuliah dalqm bahasa Inggris. Jadi, saya cukup terkejut dengan gaya bahasa Pram.

Larasati bercerita tentang perempuan bernama Larasati (dipanggil Ara), seorang bintang panggung yang kemudian menjadi bintang film ternama, yang harus pergi meninggalkan Yogya
...more
Larasestu Hadisumarinda
Saya baca buku mood-moodan, butuh seminggu cuma buat baca buku setipis ini. My. My.

Saya gak bisa gak setuju kalau bukunya Pram itu candu. Dari semua buku Pram yang udah saya baca, akhirnya yang satu ini mampu menguras emosi saya, biasanya emang mainin perasaan saya, tapi bukan lewat kedalaman karakter-karakternya tapi dari alur ceritanya yang haru, lagi-lagi yang ini rasanya lain, mungkin karena bentuknya cerita fiksi.

Larasati.
Pada dasarnya saya suka karakter-karakter perempuan seperti Larasati.
...more
Bagus Ismujati
Sep 06, 2008 Bagus Ismujati rated it 5 of 5 stars
Recommends it for: amanda angela soenoko
larasati adalah seorang bintang di masanya. ia memiliki kecantikan bak bidadari yang telah membius setiap lelaki yang ditemuinya. tetapi, terlepas dari hingar bingar menjadi seorang bintang, kecantikan dan ketenaran yang dimilikinya, yang ia tahu bahwa cintanya hampa.
menjadi seorang wanita tanpa tumpuan hati menjadikannya serasa tak hidup. ia bahkan sering menjadi bulan-bulanan para pria hidung belang yang pernah menikah atau tertarik padanya.
selain kisah mengenai seorang wanita, roman larasati
...more
Windy hapsari
Larasati was beautiful and famous artist at that time. she used to get what she wants so easily. she worship the freedom fighter. when the japanese landed in Indonesia and starting take over the colonialism from Dutch, she denied to play on one of Japanese propaganda movie.She would like to give anything for Indonesia independence. even she had to leave her fame and then returned to her mother who lived in poverty at jakarta. this book describe the condition in Jakarta back at arround 1945 very ...more
Vera Maharani
Confession time. I read it mostly because of a short and cherished conversation about literature with a certain person. He went blank-eyed when I said that of course I knew Pramoedya Ananta Toer, even some of his history, but I had never read his works. He never said it out loud but the way he stared at me, it was like, "Oh come on, how could you, of all people, have never read Pram?" Understandable, since our usual conversation about literature mostly consisted of my monologue about a book he n ...more
Mark
For several decades, Pramoedya Ananta Toer has been considered Indonesia's leading author and an influential literary icon.
Critics of Pramoedya's work has often focused on his role as a political activist, his long imprisonment and house arrest, and the banning of his books by the Indonesian government.
Most readers have regarded Pramoedya's fiction and nonfiction works as a powerful reflection of the political realities in twentieth-century Indonesia.

This is also the case with Larasati, the t
...more
Maulida Sri Handayani
Larasati adalah roman Pramoedya yang cukup menarik dibaca, di angkot misalnya. Jumlah halamannya cuma 180. Kau bisa bereskan kurang dari 2 jam. Roman ini bercerita tentang gejolak seorang bintang film bernama Larasati di tengah hangatnya Revolusi yang masih dipertahankan dengan berdarah-darah karena Belanda masih merasa Indonesia sebagai Dutch East India.

Roman ini memang tak sebagus roman Tetralogi Pulau Buru. Terlalu kentara revolusi dengan "R" besar. Lekra banget kali ya... Tapi mungkin karya
...more
usman ★
masa perjuangan pasca kemerdekaan. dan waktu itu kata revolusi begitu magis, sebuah iman perjuangan.
hidup diantara wilayah pedalaman dan pendudukan. dan wilayah pedalaman adalah sebuah jawaban atas semua keterbatasan yang ada, tempat bertahan. diceritakan pula pribumi yang kontra revolusi, mereka orang yang mendukung hadirnya sekutu dan mendapat keuntungan darinya. terdapat kisah heroik pejuang yang terpenjara dan disiksa, dipaksa berbicara, dan disaksikan larasati. lagi-lagi, pramoedya mengambi
...more
an
Feb 17, 2009 an rated it 3 of 5 stars
Shelves: roman
Mungkin ini enaknya baca karya anak negeri…

Lebih dekat dengan semua settingan waktu ‘n tempat dlm cerita itu. Walaupun mungkin terkesan berat cz dalam buku ini g ada bab jadi g da celah untuk m’tarik nafas sejenak, tapi ntah knp smua mengalir begitu ringan sampai” g kerasa sudah sampai d lembar t’akhir.

Idealisme pemuda…
Menganggap golongan tua yg “spt itulah”. Golongan congkak yg korup. Tapi mereka juga pnh jadi pemuda.

Sekarang pertanyaannya adl… apakah semasa muda, para golongan tua itu jg menja
...more
Dian Ara
Larasati adalah mantan bintang film ngetop yang terjebak di tengah pergolakan politik Indonesia di era peralihan antara negara terjajah menuju negara merdeka. Kali ini Om Pram menuliskan sosok perempuan yang unik: kuat idealismenya walau dalam situasi tertekan ternyata rapuh juga. Manusiawi. Membumi. Dan, hingga hari ini pun, perempuan-perempuan seperti Larasati masih ada. Masih terjajah oleh kultur dunia patriarkal.

Saat mengisahkan pertempuran kecil di kampung kumuh, Om Pram menunjukkan kepiawa
...more
Tantri Setyorini
Ceritanya setengah inget setengah nggak, jadi nggak berani ngasih rating. Bacanya udah lama banget. Cuma inget samar-samar tokoh utamanya dipanggil Ara. Trus disinggung juga Soekarno. Nggak disebut namanya sih, cuma pake code name Yang Mulia. Tapi dari ciri-cirinya, presiden, pinter omong, suka cewek, kesenian, dan puisi-puis Rabindranath Tagore, kayakny udah jelas siapa yang dimaksud.
Imas
Larasati merupakan tokoh utama pada cerita ini. Dia seorang aktris cantik dengan latar belakang kurun waktu perjuangan bersenjata 1945-1950. Berkisah tentang para pahlawan sejati ataupun munafik. Larasati berjuang dengan caranya sendiri, menyerahkan segalanya termasuk dirinya untuk revolusi.

Pram beberapa kali menokohkan perempuan dalam bukunya antara lain Nyai Ontosoroh di tetralogi Buru,walaupun tokoh utamanya Minke tetapi Nyai Ontosoroh adalah tokoh utama wanita, terus ada Midah dan Larasati.
...more
Arlangga Moeharam
Larasati - yang selanjutnya dipanggil Ara - memulai kembali kehidupannya sebagai artis yang sempat terhambat oleh perang. Dari tanah Jogja ia berangkat dengan kereta api ke Jakarta yang pada saat itu masih dikuasai oleh NICA. Setiba di Jakarta, kehidupannya sangat jauh dari yang dia harapkan. Ibunya yang ternyata bekerja sebagai babu juragan arab merupakan hal yang sangat disesali Ara. Hingga terlibatnya dia dalam sebuah serangan geriliya terhadap patroli NICA.

Roman Pramoedya yang satu ini membu
...more
Nasyih Aris
This short book the romance on indonesia revolution era.

Such a bittersweet story about heroism of an actress on that era.

With pram style of writing this is became very awesome story
Katarina Ningrum
Penyajian cerita selalu indah dan sarat penggambaran suasana khas Pramoedya. Membaca buku karyanya, memindahkan kita sesaat ke masa lampau. :)
Kezia Felton
One of the best book I've ever read. Semoga banyak perempuan seperti larasati di indonesia setelah membaca buku ini :)
Arlinda Hapsawardhani
Bercertia tentang Ara seorang bintang film Indonesia yang ingin berkontribusi terhadap revolusi. Saya kira plot cerita akan menjadi heroik : "Ara, peran penting dalam sebuah sejarah". Tetapi ternyata cerita heroik dibuat lebih nyata, tanpa sesuatu yang berlebih, seorang wanita yang ikut andil dalam revolusi dengan caranya sendiri. Segelintir kontribusi dari Ara menurut saya, tapi justru segelintir tersebut yang membuat menarik dan terlihat riil.
« previous 1 3 4 5 6 7 8 9 45 46 next »
topics  posts  views  last activity   
Berdasar kisah nyata atau murni fiksi? 3 25 Apr 27, 2011 05:27AM  
  • Bekisar Merah (Bekisar Merah, #1)
  • Amba: Sebuah Novel
  • Rara Mendut: Sebuah Trilogi
  • Kitab Omong Kosong
  • Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma
  • Atheis
  • Anak Bajang Menggiring Angin
  • Ca Bau Kan: Hanya Sebuah Dosa
  • Cantik itu Luka
  • Namaku Hiroko
  • Harimau! Harimau!
  • Gadis Kretek
  • Larung
  • Para Priyayi: Sebuah Novel
101823
Pramoedya Ananta Toer was an Indonesian author of novels, short stories, essays, polemics, and histories of his homeland and its people. A well-regarded writer in the West, Pramoedya's outspoken and often politically charged writings faced censorship in his native land during the pre-reformation era. For opposing the policies of both founding president Sukarno, as well as those of its successor, t ...more
More about Pramoedya Ananta Toer...
Bumi Manusia (Tetralogi Buru, #1) Jejak Langkah (Tetralogi Buru, #3) Gadis Pantai Child of All Nations (Tetralogi Buru, #2) House of Glass (Tetralogi Buru, #4)

Share This Book

“Ada yang membunuh. Ada yang dibunuh. Ada peraturan. Ada undang-undang. Ada pembesar, polisi, dan militer. Hanya satu yang tidak ada: keadilan.” 5 likes
“Indahnya dunia ini jika pemuda masih tahu perjuangan!” 5 likes
More quotes…