Goodreads helps you keep track of books you want to read.
Start by marking “Soe Hok-Gie...Sekali Lagi: Buku Pesta dan Cinta di Alam Bangsanya” as Want to Read:
Soe Hok-Gie...Sekali Lagi: Buku Pesta dan Cinta di Alam Bangsanya
Enlarge cover
Rate this book
Clear rating

Soe Hok-Gie...Sekali Lagi: Buku Pesta dan Cinta di Alam Bangsanya

4.12 of 5 stars 4.12  ·  rating details  ·  625 ratings  ·  63 reviews
Dari sisa ingatan dan catatan minim, mantan enam rekan (Freddy Lasut sudah almarhum) perjalanan Soe Hok-gie (27 tahun) dan Idhan Dhanvantari Lubis (20), berusaha menulis ulang kesaksian sebenarnya tragedi perjalanan pendakian ke Gunung Semeru, nun 40 tahun lalu.

Aristides Katoppo (71): “Hok-gie terlalu cepat pergi, tapi kalau dia hidup dan sekarang sudah umur 67 tahun, apa...more
Paperback, 512 pages
Published December 2009 by Kepustakaan Populer Gramedia (first published 2009)
more details... edit details

Friend Reviews

To see what your friends thought of this book, please sign up.

Community Reviews

(showing 1-30 of 1,595)
filter  |  sort: default (?)  |  rating details
Farah
Saat baru membaca separuh, saya mengkreditkan empat setengah bintang untuk buku ini. Empat setengah bintang itu untuk dua tulisan ini:

Tulisan pertama, Antar Gie dan Idhan Ke Atas (AGKA) oleh Rudy Badil.

Dalam bagian ini Rudy Badil menuliskan pengalaman ‘seru’ selama menjadi Tim Semeru 69 yang menjadi ‘teman-teman’ terakhir yang melihat Gie hidup.

Rudy Badil sendiri adalah anggota tim yang ‘kerjaannya disuruh masak melulu’ oleh Gie. Setiap pagi ia mendengarkan aba-aba Gie untuk memasak.

Namun pagi p...more
Dinurdini
Siapa Soe Hok Gie?

Bilang saya katro, tapi saya baru mengenal Gie pertama kali waktu kelas 3 SMA, tentu saja lewat film Gie yang muncul di bioskop saat itu. Nice movie, nice songs, i think.

Beberapa bulan kemudian, tiba-tiba saya udah ada di UI dan berada di organisasi yang sama dimana Gie dulu berada. Pecinta Alam.

Lalu, apakah kemudian saya jadi mengenal Gie lebih baik? rasanya tidak. Sampai peringatan 40 tahun Gie kemarin. Buku berbobot dengan harga murah ini saya baca dengan asyik dari mulai ka...more
Pirhot
Dec 10, 2009 Pirhot rated it 5 of 5 stars
Recommends it for: Mahasiswa, aktivis
Shelves: social-politics
Buku ini memang berbeda dengan buku-buku "karya" Soe Hok Gie yang telah beredar sebelumnya di pasaran. Saya menyebut "karya" (dengan tanda kutip), karena Soe Hok Gie Sendiri tidak pernah menulis satu buku pun, dan buku-buku yang beredar menggunakan namanya adalah hasil inisiatif dari beberapa pihak agar tulisannya tetap terdokumentasi dengan baik (bukan inisiatif dari Soe Hok Gie).

Jika buku-buku Soe Hok Gie sebelumnya berisi tentang catatan hariannya (Catatan Seorang Demonstran); artikel-artikel...more
Ajeng
Nice memoir by his closest friends. But I still prefer his own words. Although, the best part of this book is the inclusion of the poem by Constantine Cafafy, Ithaca.


Ithaca

When you set out on your journey to Ithaca,
pray that the road is long,
full of adventure, full of knowledge.
The Lestrygonians and the Cyclops,
the angry Poseidon -- do not fear them:
You will never find such as these on your path,
if your thoughts remain lofty, if a fine
emotion touches your spirit and your body.
The Lestrygonians a...more
Alisyah Samosir
Soe Hok-Gie merupakan aktivis yang selalu berani memberikan kritik terhadap kebijakan yang dinilainya merugikan masyarakat. Keberaniannya timbul meniru keberanian Soekarno, Hatta, dan Sjahrir.

"Soekarno, Hatta, Sjahrir juga berani berontak, makanya kita bisa hidup dalam keadaan sekarang."

Dalam lain waktu, Soe Hok-Gie mengatakan: "Lebih baik diasingkan ketimbang menyerah pada kemunafikan". Keberanian yang layak diacungi jempol, sekaligus ditiru.

Soe yang merupakan keturuan Cina, yang notabene serin...more
Azia
Lewat buku ini, pembaca dapat merasakan hari-hari terakhir Gie. Ketika ia bersama 7 orang lainnya melakukan pendakian di gunung tertinggi di pulau Jawa, Gunung Semeru. Hanya minus satu hari dari ulang tahunnya yang ke-27, Gie pergi untuk selama-lamanya.

ada dua orang yang menjadi 'korban pertama' Gunung Semeru yaitu Soe Hok-Gie dan Idhan Lubis. Rudy Badil menceritakan detail peristiwa yang telah 41 tahun berlalu. Dalam suasana duka, tim yang tersisa masih harus bertahan lagi dengan bekal yang tip...more
htanzil
Empat puluh tahun silam, tepatnya tanggal 16 Desember 1969, bangsa Indonesia kehilangan seorang aktivis mahasiswa yang idealis, brillian dan berani mengambil sikap baik dalam pemikiran maupun dalam pergerakan. So Hok-gie, atau akarab dipanggil Gie ditemukan tewas di atas puncak Gunung Semeru, Jawa Timur tepat sehari sebelum ia merayakan hari ulang tahunnya ke 27 yang ia rencanakan akan dirayakan di puncak Mahameru bersama kawan-kawannya.

Walau telah 40 tahun berselang namun nama dan kiprahnya mas...more
Aliftya Amarilisyariningtyas
“Lewat catatannya, Gie membuka cakrawala berpikir saya. Dia juga membuat saya malu karena begitu terbelakang dalam pengetahuan.” – Mira Lesmana


Saya memang sama sekali belum pernah bertemu dengan Gie. Bahkan sekedar ‘melihat’-nya pun saya juga belum pernah. Bagaimana tidak? Kami berdua hidup di jaman yang berbeda. Gie ada di era Bung Karno – Pak Harto, sedang saya baru lahir ketika jaman-jaman Soeharto akan lengser.


Awal kalinya saya mendengar namanya pun sekitaran tahun 2005. Itu pun gara-gara se...more
Yohan Sidik
Kagum saya pada sosok seperti Soe Hok-Gie. Jarang dan susah sekali menemukan orang seperti tersebut pada saat ini. Cinta tanah airnya begitu tinggi, padahal dia adalah keturunan Cina, bahkan sering dipanggil Cina Kecil.

Perkenalan dengan sosok tersebut dimulai dengan perjalanan dia naik ke Gunung Semeru. Tempat yang diyakini oleh Gie adalah tempat untuk menambah rasa cinta tanah air dengan cara memahami sebuah alam yang indah dan mendekatkan diri dengan warga sekitar. Saya jadi ingat perjalanan...more
Dian
Berbagai kenangan, opini, perasaan, dan sudut pandang tentang sosok Gie tertumpah ruah di buku ini. Sumbangan tulisan tak hanya berasal dari mereka yag mengenal Gie secara langsung: kawan-kawan dan keluarganya, tetapi juga mereka yang mengenal Gie bertahun kemudian.
Cara tutur dan cara pikir yang beragam membuat buku ini begitu kaya akan pengetahuan-pengetahuan baru tentang sosok Gie sebenarnya. Ada satu tulisan yang agak menggelitik saya, yang intinya ia berandai-andai bagaimana apabila Gie mas...more
Kolordwijo
Judul= Soe Hok-Gie… Sekali Lagi: Buku, Pesta, dan Cinta di Alam Bangsanya
Editor= Rudi Badil, Luki Sutrisno Bekti, Nessy Luntungan
Penerbit= KPG bekerjasama dengan ILUNI UI & Kompas
Cetakan= Desember 2009
Tebal= 512 hlm

Sisi Lain Seorang Demonstran

Soe Hok-Gie adalah seorang aktivis muda pada era tahun 1960an. Buku ini menceritakan mengenai hari-hari terakhir Soe Hok-Gie sebelum akhirnya wafat di Puncak Gunung Semeru dalam umurnya yang genap 27 Tahun. Cerita dimulai dari perjalanan menuju Malang,...more
res
Gelisah atas Nama Integritas ~ Jakob Oetama

'Di Indonesia hanya ada dua pilihan. Menjadi idealis atau apatis. Saya sudah lama memutuskan harus menjadi idealis sampai batas sejauh-jauhnya. Kadang saya takut apa jadinya saya kalau saya patah-patah....'
(Gie , 20 Agustus 1968)

Gie adalah sosok pemuda yang cerdas , brilian , jujur dan terbuka. Seorang idealis yang murni , dengan perasaan yang tajam. Suatu manusia yang berjiwa bebas dimana selain pemikir juga aktivis , man in the action yang dihias deng...more
Lia Tuslia
Saya membeli buku ini sebagai hadiah abang saya yang berulang tahun. Awalnya dia bertanya, 'apakah saya punya teman yang memiliki buku ini?'. Wow. Mendengar pertanyaan seperti itu keluar dari mulut abang saya, tentunya saya sangat heran. Kenapa? Karena abang saya sosok pria yang tidak suka baca buku. Dia lebih tertarik dengan kegiatan pecinta alam, bola, dan berkumpul bersama teman-temannya. Namun, ketika dia menjelaskan bahwa Gie juga pecinta alam dan sekilas dia pernah membaca bahwa isi buku i...more
Lenah
Buku menarik, subyek yg tak akan pernah saya lewatkan sejak 'jatuh cinta' dengan buku Catatan Seorang Demonstran yang saya baca mungkin lebih dari 20 tahun lalu. Bagian pengakuan jujur hubungan Kartini Syahrir dengan Soe Hok-gie atau bagian tentang detik-detik terakhir Soe Hok-gie membuat buku ini punya nilai khusus. Sayangnya penyuntingan buku ini terasa dilakukan sembarangan saja. Banyak penulis yg menyumbangkan tulisan bukanlah mereka yg terbiasa menulis sehingga artikel yang seharusnya menar...more
Michael Jarda
About Soe Hok Gie

Soe Hok Gie (17 Desember 1942–16 Desember 1969) adalah salah seorang aktivis Indonesia dan mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia Jurusan Sejarah tahun 1962–1969.

Soe Hok Gie menamatkan pendidikan SMA di Kolese Kanisius. Nama Soe Hok Gie adalah dialek Hokkian dari namanya Su Fu-yi dalam bahasa Mandarin.

Ia adalah seorang anak muda yang berpendirian yang teguh dalam memegang prinsipnya dan rajin mendokumentasikan perjalanan hidupnya dalam buku harian. Buku hariannya kemudi...more
Zumrotul Mufidah
Buku ini membuat saya sadar bahwa selama ini saya konyol sekali, saya menyukai Gie karena kecintaannya dengan alam. Padahal masih banyak sekali hal menarik lainnya dari seorang Gie. Tulisannya, puisi-puisinya dan tentu saja idealismenya. Seorang yang memilih menjadi idealis, dan dia pegang sampai kematian menjemputnya di Puncak Semeru (16/12/1969).

Berbagai tulisan Gie yang dimuat dalam buku ini, meski tak sebanyak pada buku Catatan Seorang Demontran cukup membuat saya mengenal Gie lebih dalam.

S...more
Glenn Ardi
Karena sahabat saya begitu tergila-gila pada SHG, dia pun jadi menularkannya pada saya. Akhirnya, setelah membaca "Catatan Harian Seorang Demosntran" saya pun resmi jadi salah seorang fans SHG juga - walau tidak segila sahabat saya itu sih.

Dalam buku CHSD, kita dapat melihat ciri khas dari sosok Gie adalah sikapnya yang idealis, jujur, tulus, serta keberaniannya yang tidak ada tandingannya - hal itu telah menjadikan Gie sebagai salah seorang legenda yang menginspirasi kaum muda Indonesia di set...more
Lailaturrahmi
Baca buku ini karena dipinjamkan teman waktu KKN. Dan isinya membuat saya malu sendiri. Program KKN saya berasa tidak apa-apanya dibandingkan dengan perjuangan Soe Hok Gie dan rekan-rekannya.
Truly
Dengan berbesar hati memberikan pinjaman buku hadiah dari Roos *Thx Roos* keteman sekantor, plus memo panjang lebar mengalahkan memo dinas yang sangat efisien pesan.

Dibandingkan dengan sepak terjang Gie, wah diriku jau..............h baget! Pas ada bagian yang cerita kalo sudah tidak naik tingkat ada yang pindah jurusan wah kok jadi ngeces. Enaknya bisa mencoba semua jurusan hingga nemu yang cocok plus tetap pake jaket kuning pula.
Cuman penasaran aja, di Dep. Histologi bagian mana yah yang dip...more
Icha
Jun 06, 2014 Icha added it
It's Great.
Fahrul Amama
Bagi yang pernah membaca catatan hariannya SOe Hok Gie, buku ini memberi konteks mengenai latar dan kisah di balik sebuah catatan harian. Buku yang membuat kita semakin dekat dengan Gie, karena ditulis oleh orang-orang dekatnya. Tulisan dari Riri Reza, Mira Lesmana dan Nicholas Saputra mewakili masyarakat kekinian, memberi sudut pandang yang lebih kaya tentang seorang Gie. Sungguh sangat layak jika cerita tentang Soe Hok Gie dikisahkan kembali ...sekali lagi, lewat buku ini.
Esti Wahyu
Soe dalam kesehariannya lebih dekat dengan para sahabat dan temannya daripada dengan keluarganya sendiri, bahkan ketika ajal menghampirinya pun saat ia ada dipangkuan Herman, sahabatnya. Ia menjadi sahabat, kekasih bahkan guru bagi teman dan sahabat-sahabatnya. Hal inilah yang diungkap secara mendalam lewat tulisan teman-teman dan sahabat-sahabatnya di 40 tahun meninggalnya Soe.
Elvira
Saya mengagumi Soe Hok Gie sejak membaca catatan harian beliau. Tokoh idealis seperti ini yang Indonesia butuhkan di masa kini. Dengan tutur kata yang berani, tegas dan apa adanya, beliau menerjang semua ketidak adilan di Indonesia pada masa itu. Salut sekali. Dalam buku ini terpapar sudah siapa Sunarti (ternyata Kartini Sjahrir) Sangat menarik
Hindraswari enggar
"Di Indonesia hanya ada dua pilihan. Menjadi idealis atau apatis. Saya sudah lama memutuskan harus menjadi idealis sampai batas sejauh-jauhnya." Gie, seorang idealis sejati, jujur, cerdas dan seseorang yang mempunyai rasa keadilan yang tajam. Masih adakah sosok seperti dia di negeri ini?

Eko
Jan 15, 2014 Eko marked it as to-read
This review has been hidden because it contains spoilers. To view it, click here.
Alifah
kayaknya telat banget deh . kalo baru sekarang nyelesein buku yang baru gue beli awal agustus 2010.
nice book.
karena rasa penasaran gue tentang soe hok gie, akhirnya gue beli deh buku ini.
gie boleh mati muda tapi tulisan-tulisannya nggak akan pernah mati. hidup soe hok gie!!
Cici Marsiana
I learned a lot dari buku ini. Sebuah perjuangan tanpa henti dari pribadi yang menakjubkan. Benar-benar pure, ideal, bahkan menyentuh. Pintar, puitis, bahkan romantis namun tegas dan stood still seperti beringin. Bukan bambu yang selalu doyong mengikuti arah angin.
Rizki
Mengetahui sisi lain Soe Hok-Gie..
isinya 'MAPALA' banget... *menurut gue* karena editornya anak mapokal juga mungkin. haha...
yang paling menyentuh adalah surat cinta buat Hok-Gie. LOL.
semakin akhir-akhirnya isinya berat.
Asriani Amir
mungkin karena kecintaan saya pada Gie, membaca apapun tentang beliau ini selalu saja menarik. Membaca dengan sangat antusias sejak halaman pertama dan bahkan kadang tidak sadar sudah menamatkannya.
« previous 1 3 4 5 6 7 8 9 53 54 next »
There are no discussion topics on this book yet. Be the first to start one »
  • Di Bawah Lentera Merah: Riwayat Sarekat Islam Semarang Sampai Tahun 1920
  • Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara
  • Selimut Debu
  • Aksi Massa
  • Sokola Rimba: Pengalaman Belajar Bersama Orang Rimba
  • Nyanyi Sunyi Seorang Bisu 1
  • Rara Mendut: Sebuah Trilogi
  • Sejarah Kecil "Petite Histoire" Indonesia
  • Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia
  • Aku Ingin Jadi Peluru (Kumpulan Puisi)
  • Pergolakan Pemikiran Islam
  • Kuantar ke Gerbang: Kisah Cinta Ibu Inggit dengan Bung Karno
  • Di Bawah Bendera Revolusi
  • Ronggeng Dukuh Paruk (Dukuh Paruk, buku 1 - 3)
  • Tanah Tabu
Warkop: Main-Main Jadi Bukan Main Menapak Tiang Langit: Pendakian 7 Puncak Benua Pucuk Es di Ujung Dunia : Pendakian 7 Puncak Benua Rahasia di Kaki Borobudur / The Hidden Foot of Borobudur Kretek Jawa: Gaya Hidup Lintas Budaya

Share This Book

“The eagle flies alone” 20 likes
“Kita tak pernah menanamkan apa-apa, kita tak'kan pernah kehilangan apa-apa” 10 likes
More quotes…