Goodreads helps you keep track of books you want to read.
Start by marking “Pengakuan Pariyem” as Want to Read:
Pengakuan Pariyem
Enlarge cover
Rate this book
Clear rating
Open Preview

Pengakuan Pariyem

3.86  ·  Rating Details ·  643 Ratings  ·  63 Reviews
Kumpulan prosa karya Linus Suryadi ini sebagai karya puncak lewat Pariyem, seorang babu asal Wonosari, Gunung Kidul. Dalam karya ini, Linus -sebagai seorang kejawen- membeberkan beragam segi kebudayaan Jawa: dari soal doa sampai dosa, dari soal falsafah hidup sampai sex, dari soal wayang sampai sikap kebangsawanan.

Semua termaktub dalam prosa tanpa kehilangan rasa humor da
...more
Paperback, 314 pages
Published June 4th 2009 by Kepustakaan Populer Gramedia (first published 1981)
More Details... edit details

Friend Reviews

To see what your friends thought of this book, please sign up.

Reader Q&A

To ask other readers questions about Pengakuan Pariyem, please sign up.

Be the first to ask a question about Pengakuan Pariyem

This book is not yet featured on Listopia. Add this book to your favorite list »

Community Reviews

(showing 1-30)
filter  |  sort: default (?)  |  Rating Details
Roos
Apr 11, 2008 Roos rated it it was amazing  ·  review of another edition
Recommends it for: Para Wanita
Recommended to Roos by: Amang
Shelves: booker, jaduls
Ya, ya, Pariyem saya
Maria Magdalena Pariyem lengkapnya
"Iyem" panggilam sehari-hari
dari Wonosari Gunung Kidul
sebagai babu nDoro Kanjeng Cokro Sentono
di nDalem Suryamentaraman Ngayogyakarta
Rasa dosa tidak saya kenal
tapi rasa malu saya tebal


Semuanya kembali pada manusianya, bagaimana dia menjalani hidup dan menghadapinya hingga dia bisa mencapai kebahagiaan yang diingini. Bahkan bisa mencapai tingkat kebijaksanaan...ehm benar-benar mengagumkan.

Dibuku ini Linus menggambarkan Pariyem, nDoro Kanjeng
...more
Irwan
Apr 25, 2008 Irwan rated it really liked it
Shelves: finished, 2010
Ya, ya, Irwan saya
Kisah Pariyem saya baca
Saya baca kisah Pariyem

Ada nyata, ada wicaksana
Dalam rangkai kata sederhana
Sentuhan lembut atas realita
Tanpa gempita histeria retorika
Tanpa tedeng gusar norma

Ya, ya, Irwan saya
Daya ungkap Pariyem ingatkan saya
Akan mengalirnya laku hidup
Tanpa sendatan waswas nir makna

Ritme hidup Pariyem ingatkan saya
Akan detak harmoni sederhana
Yang tak lagi banyak tersisa
Di dunia serba gesa
Serba gesa dunia ini

Ya, ya, Pariyem berujar
Betapa sederhana sebuah kebahagiaan
Betapa
...more
Palsay
May 11, 2008 Palsay rated it liked it  ·  review of another edition
Recommends it for: yang ingin tahu orang Jawa?
Shelves: poetry-prose
Bicara tentang orang jawa dan falsafah feodalnya...kenapa ya saya tidak bisa lepas dari ironi. Dibalik keterbatasan selalu ada keluasan, dibalik keagungan selalu ada kebusukan. Dibalik kerendahan hati priyayi, ternyata tetap ada kesombongan.
Salah satu contohnya adalah tidak berubahnya status Pariyem yang tetap menjadi babu, meskipun telah memberikan cucu bagi keluarga ndoro Kanjeng.

Pak Linus bercerita sangat gamblang dan seolah-olah "menelanjangi" orang Jawa sendiri. Tapi jika seluruh manusia
...more
nanto
Apr 08, 2008 nanto rated it really liked it  ·  review of another edition
Recommended to nanto by: Roos
Dah beberapa hari belakangan sebenernya ini sering dibawa-bawa. Sampe ke P. Onroost segala. Udah sampe ke tengah halaman (halaman 150<).

Mengambil sudut pandang seorang Pariyem, dunia jawa menjadi semakin "unik." Terbayang "pluralisme moralitas" seperti yang pernah diungkapkan dalam buku "Mithology Jawa" Ben Anderson. Sehingga dalam kacamata Pariyem ia tidak melihatnya dalam sebuah ketunggalan derajat manusia, tetapi dalam sudut pandang "pantes." Begitu barangkali ketika Pariyem menolak menggu
...more
Darnia
Kisah yg dituturkan dengan sederhana, penuh keluguan namun penuh filosofi, terutama filosofi kejawen tentang agama (orang Jawa tidak mengenal dosa, tapi rasa malunya tebal).
Buat yg orang Jawa juga sedikit berfungsi sebagai nostalgia (terutama tembang-tembangnya, kangen jaman-jaman sekolah dulu pas masih aktif ikut karawitan).
Buat yg bukan orang Jawa tenang saja, masih bisa menikmatinya, soalnya tutur bahasanya menarik dalam bentuk prosa berbahasa Indonesia (meski ada jowo-jowone sedikit, tapi a
...more
Sancaka
Aug 07, 2009 Sancaka rated it it was amazing
Shelves: indonesian
ya ya, sancaka nama saya
sancaka pagi lengkapnya
dari ndalem stasiyun ngayogjakarta hadiningrat
yang maos ulang pengakuan pariyem
yang bikin marem sampe merem
waktu sekolah dibacakan ceritanya
di depan kelas oleh bapak guru bahasa indonesia
bapak guru maos dengan menghayati, rencang2 kelas malah angop
pas bagian yang saru2 itu lho, langsung padha ngoooookk..
Sylvia
Apr 25, 2008 Sylvia rated it liked it  ·  review of another edition
Recommended to Sylvia by: Amank, Gieb, Roos
Shelves: indonesian
"Ya, ya, Pariyem saya
Maria Magdalena Pariyem lengkapnya
Iyem, panggilan sehari-harinya
Dari Wonosari Gunung Kidul"

Pengakuan sederhana dari seorang wanita Jawa, yang bekerja dengan penuh pengabdian. Tanpa tuntutan, tanpa berharap balasan. Bahkan ketika dia hamil karena perbuatan anak majikannya, tak ada kata-kata yang keluar dari mulutnya, tak ada tuntutan untuk diakui sebagai menantu atau selir, atau apapun. Yang ada hanya pengabdian, pengabdian, dan pengabdian. Besides, itu memang dilakukan atas
...more
Danu Primanto
Oct 15, 2009 Danu Primanto rated it it was amazing  ·  review of another edition
Butuh waktu tiga tahun bagi Linus untuk memulis semuanya dengan lengkap dan terperinci. Tak lupa Linus berbicara tentang detail, seperti lokasi biskop, riuhnya Mauludan Sekaten, situasi ruman Ndalem Suryomentaraman, gerak-gerik tuannya ketika berbicara sampai persetubuhan percintaan Pariyem yang dilukiskan dengan indahnya. Sebuah karya yang melukiskan suasana jawa yang rukun, tapi dalam prakteknya penuh konflik. Jawa yang hidup dengan batin, tetapi dalam praksisnya berhadapan dengan dunia yang p ...more
Judith Tirza
Nov 21, 2010 Judith Tirza rated it it was amazing  ·  review of another edition
an honest essay to read. love it!
Nugie
Jul 06, 2013 Nugie rated it it was amazing  ·  review of another edition
Pariyem pada prosa ini adalah gambaran orang jawa pada jamannya, seorang penganut mistik kejawen meskipun dalam KTP nya tercantum agama resmi yang diakui negara. Maka mengalirlah pengakuan Pariyem yang memberi gambaran bagi kita tentang bagaimana cara pandang orang jawa dalam berbagai segi kehidupan. Dari soal agama sampai soal dosa.. Dari soal wayang sampai soal sikap kebangsawanannya. Dari soal falsafah hidup sampai soal seks. Semuanya diungkapkan tanpa lugas. Beberapa adegan sex dalam karya i ...more
Anda Wardhana
Sep 24, 2014 Anda Wardhana rated it it was amazing  ·  review of another edition
pertama kali baca buku ini tahun 2003 an lah, awal kuliah. dan sampai saat ini merupakan buku terbaik yang pernah saya baca.... bijak dan satire disaat bersamaan, berat dan ringan saling memangku.... bagi yang sempit ya sempit, bagi yang luas, sangat luas....

"saya rasa rasa, saya pikir pikir..... hidup tak perlu dirasa dan tak perlu dipikir"

barong wardhana
Ambar
May 11, 2011 Ambar rated it really liked it  ·  review of another edition
This book was controversial in its era. Because sublime message about gender, patriarch, and abuse of power in Javanese system. Wrote in poem rather traditional novel, Pengakuan Pariyem brought unconventional way of writing. Rich in culture, self dialogue that piece the story together. It's subtle yet meaningful, just like an ordinary Javanese woman.
Rika
Jan 11, 2009 Rika rated it liked it  ·  review of another edition
satu lagi buku tak selesai padahal aku menikmatinya. Sepertinya karena ini buku pinjaman dan si empunya sudah memintanya..
Ruth
Aug 25, 2008 Ruth rated it really liked it  ·  review of another edition
hihihi..confessions no1 kalo kata afgan judulnya.heheh.pengakuan lucu dan jenaka seorang gadis desa yang jadi PRT di rumah seorang priyayi..menggelitik..sekali baca maunya teruss aja males brenti
Anissa Utami
Jun 25, 2010 Anissa Utami rated it it was amazing
AMAT SANGAT BAGUS..!!!
Sanya
May 19, 2015 Sanya rated it liked it  ·  review of another edition
Pengakuan Pariyem adalah prosa lirik yang ditulis oleh Linus Suryadi AG, seorang Jawa yang bangga terhadap Jawa-nya. Pada bagian akhir prosa lirik ini, dituliskan bahwa Linus Suryadi sering bicara “lha bagaimana lagi?” kala menghadapi situasi menyedihkan atau menyusahkan. Kalimat tanya ini khas miliknya yang menggambarkan sikap tangguh yang tersimpan dalam kepasrahan ala Jawa. Seperti juga Pariyem yang seringkali berucap, “Saya lega lila”.

Membaca prosa lirik ini membuat saya teringat pada satu t
...more
Heni
Jun 13, 2017 Heni rated it really liked it  ·  review of another edition
Shelves: general-fiction
Innocently beautiful ❤
I remember I've got an A working on it during college 😂
Kristal Pancarwengi
Hmm.. Mau kasih review apa ya... Ini prosa liris yg pertama saya baca. Nyastra, sarat dengan pitutur tentang hidup, setting-nya mengalir dan Ngayogyakarta banget. Pun karena prosa, buku ini diketik (literally) berbeda dengan buku-buku lain pada umumnya. Nggak ada tanda baca titik sama sekali di akhir kalimat, ini yg bikin saya ngos-ngosan sepanjang membacanya. Hahahaha

Ketimbang ceritanya, saya lebih tertarik dengan lampiran di halaman belakang buku. Sudah ya, nggak bisa bikin review panjang-panj
...more
Dhia Citrahayi
Setahun yang lalu, saya meminjam buku ini dari salah satu seraper yaitu Mbak Dew :D

Awal-awal baca buku ini, membosankan karena memang cerita di buku ini berupa sajak-sajak yang terkadang melelahkan untuk dibaca (menurut saya). Namun, selang setengah tahun berlalu, saya mencoba kembali membaca buku ini dan hasilnya, dalam kurun waktu dua jam, saya bisa menyelesaikannya. *sekarang saya mikir, kenapa dulu saya gak bisa menyelesaikannya dengan cepat ya :/*

Yah..., abaikan setahun yang lalu.

Dunia Bati
...more
Indri Juwono
May 19, 2010 Indri Juwono rated it really liked it
Shelves: poetry
#2011-42

Perempuan jawa itu, nduk..
Lihat sampul depannya. Seorang perempuan Jawa masa lalu dengan tubuh molek dan sintal, memakai kemben dan kain jarik, bersimpuh seperti layaknya abdi emban. Tolok ukur kecantikan beberapa dekade silam.
Pariyem, babu pada keluarga bangsawan Jawa, yang ikhlas sebagai abdi dalem, menyuarakan ceritanya seperti dongeng pengantar tidur. Cerita dari dirinya sendiri, sampai cerita tentang kehidupan di luar sana.

”Berapa lama beban saya tanggung
yang membelit pundak dan pu
...more
Siddha Malilang
Jul 31, 2012 Siddha Malilang rated it really liked it  ·  review of another edition
Jujur saja, pertama kali saya sangat takut untuk memulai membaca buku ini. Seorang teman di waktu SMP menyatakan bahwa membaca Pengakuan Pariyem sama beratnya dengan membaca Alkitab. Ibunda mengatakan bahwa membaca Pariyem cukup berat untuk seorang anak SMP. Kata-katanya kasar tetapi kesan yang ditimbulkannya sangat indah.

Barulah pada waktu SMA, saya berani mengambil buku ini dari rak buku di perpustakaan pribadi di rumah dan mulai membukanya. Saya jatuh cinta pada pandangan pertama terhadap bu
...more
Mas Catur
Aug 30, 2014 Mas Catur rated it really liked it  ·  review of another edition
Sejak sumpah pemuda pada 28 Oktober 1928, bahasa Indonesia secara resmi diakui sebagai satu-satunya bahasa persatuan. Meskipun pada kenyataanya, bahasa Indonesia sendiri tidak satu. Di dalamnya terdapat pencampuradukan berbagai kosakata dan konsep-konsep yang dipinjam dari berbagai etnis di Indonesia dan budaya bangsa lain. Kedatangan bangsa-bangsa lain ke nusantara dan sejarah panjang kolonialisme punya peran yang tidak sedikit atas persoalan ini. Kenyataan ini seperti menyetujui yang dikatakan ...more
Jenni Anggita
Bagian yang paling berkesan dari Pariyem ini ketika Pariyem dengan sadar dan seutuhnya memilih menyerahkan diri, berbahagia, dan berbangga diri karena berhasil "memerawani" Den Bagus. Dia berhasil menaikan harkat derajatnya dari hanya seorang babu dengan mengandung anak dari seorang ningrat. Kendati cara bertuturnya kurang nikmat karena banyak bahasa Jawa dan repetisi membosankan, bentuk yang dipakai Linus dalam menulis mengingatkan pada syair-syair masa lalu yang berkisah atau pada karya ini ke ...more
eti
May 09, 2012 eti rated it really liked it  ·  review of another edition
Shelves: buku-pinjam
membaca Pariyem ini setelah membaca Firdaus (perempuan di titik nol). Buku ini pinjam teman, cetakan ke-2 tahun 1984 penerbitnya sinar harapan. berhubung pinjam jadi bacanya ngebut, udah gitu kertas2nya udah berwarna kuning dan membuat saya bersin2, jadi saya gak tahan lama2 bacanya makanya langsung dihabisin hari minggu kemarin itu :D

berkisah tentang Pariyem, seorang babu yang berasal dari desa Wonosari, yang mengabdikan dirinya pada nDoro Kanjeng Cokro Sentono di nDalem Suryamentaraman Ngayogy
...more
Teguh Affandi
Sep 16, 2015 Teguh Affandi rated it it was amazing  ·  review of another edition
Saya kembali membaca ini dalam perjalanan Blora-Surabaya. Dan tetap memesona seperti saya dulu membaca hampir 8 tahun lalu, saat masih SMA. Ketulusan Pariyem sebagai babu yang menyerahkan segala yang dimiliki even diri dan tubuhnya kepada juragan dan tuannya.

Meski ini seperti puisi prosa, tapi tetap mengandung alur yang menarik untuk diikuti. Apalagi kalimat-kalimat berisikan wejangan ala Jawa cukup menohok. Dan terima kasih Pariyem, berkat bukumu ini ada seorang pedangan BH di Alun-alun Juwana
...more
Edy
Nov 22, 2007 Edy rated it it was amazing  ·  review of another edition
Recommends it for: orang kota
Buku yang bercerita tentang kehidupan pembantu rumah tangga yang dikungkung oleh alam feodalisme Jawa. Pengabdian seorang pelayan untuk bendoro atau tuannya yang begitu utuh dan total. Sikap kehidupan yang pasrah sumarah membuat Pariyem mampu menghadapi kehidupan yang getir. Orang kota yang materialis individualis sehingga sering dilanda stress perlu belajar ilmu kehidupan dari seorang Pariyem Bahasa yang ringan dan penuh humor satiris membuat buku ini sangat nikmat dibaca. Menurutku buku ini me ...more
Tyas
Jul 25, 2013 Tyas rated it really liked it  ·  review of another edition
Novel sastra yang saya baca pertama kali semasa masih SMP.
begitu mencengankan pada waktu itu, namun justru karna buku inilah saya mulai mencintai karya satra.
Terbilang selain karya-karya sastra yang selalu ada di Buku Paket sekolah yang diterbitkan oleh kemendiknas hanya berkutat seputar Ahmad Tohari, Sutan Takdir Alisyahbana, Chairil Anwar. Namun Membaca buku Linus ini membuat saya justru ingin menbaca karya sastra klasik Indonesia.
Nanaku
Jun 18, 2013 Nanaku rated it really liked it  ·  review of another edition
Rejeki datang bukan karena culas dan cidra
tapi karena uluran tangan Hyang Maha Agung
.........
Bukan ketakutan atau keberanian
yang mengantarkan kita berjalan
Tapi kemauan dan kebulatan hati
yang melambari kebangunan diri
..........

Buku ini - sebagaimana yang ditulis di dalamnya - seperti 20 aksara Jawa, wadah yang cilik kok muat yang gede. Bagaikan iket kepala Sala - Ngayogya, dijereng jembar, dipakai pun longgar.
Stebby Julionatan
Apr 27, 2014 Stebby Julionatan rated it it was amazing
legoooo.... aku turut seneng karena nrimanya Pariyem berbuah manis. :)

dengan membaca ini, kayaknya Linus akan jadi salah satu penulis favorit saya deh. hehehehe... trus suka juga dengan segala macam gambaran adat Jawa dari mata pembantu seperti Pariyem. luar biasa. bikin saya belajar kembali soal asal usul dan kultur saya. :)
Ita Hm
Jul 16, 2012 Ita Hm rated it it was amazing  ·  review of another edition
Shelves: sastra-indonesia
Prosa liris yang apik, cerdas, lugas, ciamik, konyol, miris, dan Ngayogyakarta bangat :)

Satu dalam kegemparan diri
memberikan restu pada kami
Dan mantera pun dia bisikan
di kuping saya sebelah kiri
Ooh rasaku. Ooh rasamu
dudu mungsuh dudu satru
Jagad wadonmu. jahad lanangku
ngrasuk rasa ngaruk kalbu
« previous 1 3 4 5 6 7 8 9 next »
There are no discussion topics on this book yet. Be the first to start one »
  • Rara Mendut: Sebuah Trilogi
  • Olenka
  • Para Priyayi: Sebuah Novel
  • Anak Bajang Menggiring Angin
  • Sebuah Pertanyaan untuk Cinta
  • Merahnya Merah
  • Harimau! Harimau!
  • Arus Balik
  • Aku Ingin Jadi Peluru (Kumpulan Puisi)
  • Canting
  • Atheis
  • Pada Sebuah Kapal
  • Tarian Bumi
881687
Linus Suryadi Agustinus a.k.a Linus Suryadi AG was one of Indonesian contemporary poets. He learned his writing in the Malioboro Street School, a guerilla art school founded by Umbu Landu Paranggi in Yogyakarta. His famous work was "Pengakuan Pariyem" in 1981 which written as lyric prosa. His best contribution to Indonesian literary were collecting and compiling contemporary Indonesian poetries in ...more
More about Linus Suryadi...

Share This Book