Goodreads helps you keep track of books you want to read.
Start by marking “Keajaiban di Pasar Senen” as Want to Read:
Keajaiban di Pasar Senen
Enlarge cover
Rate this book
Clear rating
Preview

Keajaiban di Pasar Senen

4.05 of 5 stars 4.05  ·  rating details  ·  304 ratings  ·  39 reviews
Sebanyak 17 cerita dalam buku ini-lima diantaranya belum pernah disertakan dalam terbitan pertama,1971-akan membawa kita ke dalam situasi Indonesia tahun 1950-an yang romantik. Itulah masa ketika Pasar Senen menjadi tempat berkumpulnya para seniman muda, sejalan dengan mulainya kegiatan pembuatan film nasional dan ramainya pementasan sandiwara.

Dengan lincah Misbach Yusa Bi
...more
Paperback, 177 pages
Published September 2008 by KPG (Kepustakaan Populer Gramedia) (first published 1971)
more details... edit details

Friend Reviews

To see what your friends thought of this book, please sign up.

Community Reviews

(showing 1-30 of 1,375)
filter  |  sort: default (?)  |  rating details
gonk bukan pahlawan berwajah tampan
Bener-bener luaaaarr biasa, straordinari, cukilan peristiwa2 menarik pasca Indonesia 1950-an diabadikan oleh Misbach dengan mengagumkan.

Buku ini merupakan edisi tambahan -begitu istilah penerbitnya- dari buku yang sama yang pernah terbit di tahun 1971.

Dalam prakatanya, pengarang bercerita soal keadaan kawasan Senen sekitar zaman revolusi 1950-an. Bagi kita yang pernah mendengar 'geng cobra' dan komandannya bang pi'i yang melegenda, simak saja ulasannya di sini. Pun tempat2 nongkrong favorit di
...more
Azhar Rijal Fadlillah
Buku ini sangat fenomenal bagi saya, saya mendapatkan buku ini (Pustaka Jaya 1996) tanggal 10 April dan langsung membacanya. Sehari setelahnya, Misbach Yusa Biran meninggal dunia. Saya begitu terkejut mendengar berita tersebut. Indonesia kehilangan satu lagi maestro di dunia perfilman.
***

Keajaiban di Pasar Senen adalah sebentuk upaya menertawakan diri sendiri, mencoba membongkar kembali apa itu seni. Dengan 'usil', Biran mencukil peristiwa-peristiwa yang terjadi di tahun 50-an di Pasar Senen yan
...more
Akbar
Kumpulan sketsa tentang seniman-seniman di sekitar Pasar Senen di era 50-an.

Membaca sketsa ini, kita terbawa pada kondisi jaman baheula, dimana para seniman ataupun yang mengaku seniman nongkrong di sekitar Senen. Kehidupan mereka yang unik, lucu, dan kadang juga miris, membuat kita berpikir: "Koq ada ya, orang bisa hidup dengan pola seperti itu?"

Minum secangkir kopi kecil, demi mendapatkan tempat nongkrong bersama teman-teman. Kembung perut karena tiga hari tiga malam tidak makan, dan hanya mer
...more
Muhammad Meisa
ImageSaya dengan begitu yakin sempat berkata bahwa kuliner bubur ayam paling enak adalah yang mamang penjualnya berjualan di sekitar pasar tradisional. Di Bandung tempat saya tinggal, saya berani bertaruh jika di malam atau dini hari dalam keadaan lapar, cobalah cari gerobak-gerobak penjual bubur ayam di sekitar pasar-pasar tradisional dan rasakan kenikmatannya! Di Jakarta ada sebuah pasar yang mungkin popularitasnya telah melewati ratusan masa generasi muda. Saya sedang berbicara tentang Pasar ...more
Vera
Sep 20, 2014 Vera added it
read a book
Annisa Paramita
Kita akan diajak terhenti sejenak di Pasar Senen tahun 1950-an. dimana para seniman dan (lebih banyak lagi) kaum yang sok-seniman rajin berdiskusi disini. Bagaimana mereka berhadapan dg kaum borjuis yg melecehkan penampilan 'berantakan' yang mereka kenakan, mengejar berkarya untuk tambahan duit berlebaran di kampung, sedang kere tapi tetap butuh bersosialisasi maupun konflik ringan antar mereka diangkat disini. Lucu juga! meski sekarang kita kehilangan sebuah Pasar Senen 1950'an. toh masalah hid ...more
Michiyo 'jia' Fujiwara
*unfinished*
Menjelang tutup tahun ada baiknya kita mengenang alm.pak haji kita yang satu ini.. yang telah tutup usia pada tahun 2012.. Misbach Yusa Biran..ayah dari almh. Sukma Ayu, suami dari aktris Nani Wijaya dan sutradara [Pesta Musik La Bana (1960), Holiday in Bali (1962), Bintang Ketjil (1963), Panggilan Nabi Ibrahim (1964), Apa Jang Kautangisi (1965), Dibalik Tjahaja Gemerlapan (1966), Menjusuri Djedjak Berdarah (1967), Operasi X (1968), Honey Money and Djakarta Fair (1970)] sekaligus jug
...more
Ayu Welirang
Kalau tidak salah ingat, saya pernah punya janji untuk mengisi blog ini lagi dengan ulasan buku. Dan kalau tidak salah ingat juga, saya pernah berjanji di tulisan sebelumnya kalau saya akan mengulas tentang buku yang memotret kehidupan seniman jadi-jadian di sekitar Pasar Senen, pada tahun 1950-an yang sudah lalu. Berhubung hari ini sedang ingin menulis, mungkin akan saya munculkan sedikit cerita tentang seniman Senen yang dipotret dalam tujuh belas cerpen garapan Misbach Yusa Biran.

Awalnya, tak
...more
Nara
Saya mengenal Misbach Yusa Biran awalnya hanya sebatas ayah dari Sukma Ayu, seorang artis sinetron yang meninggal secara kontroversial (waktu saya masih jadi jamaat infotainment). Belakangan saya baru sadar kalau beliau adalah salah satu tokoh besar dalam perfilman nasional dan pendiri Sinematek, pusat dokumentasi perfilman terbesar dan satu-satunya yang ada di Indonesia. Belakangan lagi, setelah dapat buku ini di diskonan buku salah satu toko buku besar, saya baru tahu kalau beliau adalah seora ...more
Bunga Mawar
Niscaya akan amat bersyukur kita kiranya jika menyadari bahwa saat kemalangan menimpa diri, ternyata masih ada orang yang lebih menderita. Kumpulan sketsa ini secara gamblang menyatakan hal itu dengan mengajak kita menceburkan diri dalam komunitas "seniman" di Pasar Senen, Jakarta Pusat.

Seniman diberi tanda petik, untuk membuka pandangan kita bahwa ada saja para tunakarya yang mengakuinya sebagai profesi. Padahal sebenarnya adalah justifikasi mereka untuk berpenampilan lusuh, numpang ngobrol ber
...more
aRee
Misbach pastilah orang yang sabar...
menghadapi tingkah laku Anak Senen yang 'ajaib' (buatku kebanyakan ajaib dalam konteks: ngeselin) dia tetap datang dan datang lagi kesana.
Berbagi cerita, rasa, bahkan rupiah :)
Seniman mungkin salah satu profesi yang memlihara idealisme agar tetap eksis. Apakah mereka baru selesai kuliah seni atau sudah lama jadi seniman; semua butuh idealisme utk bertahan. Idealisme ini yang membedakan seniman dari profesi lain...tapi ternyata sering juga ya idealisme di'danda
...more
eti
#8 - 2014

bahwa ungkapan buku berjodoh dengan pembacanya itu sepertinya berlaku pada buku Tuan Biran ini dengan saya. buku ini saya dapatkan di bazaar toko buku di Bintaro Plasa dengan harga sepuluhribu rupiah saja, setelah tiga kali bolak-balik mengunjungi bazaar itu selama tiga sabtu berturut-turut, pada sabtu yang ketiga, buku ini sepertinya mendesak tangan saya untuk membawanya ke meja kasir, setelah pada dua sabtu sebelumnya saya abaikan karena saya lebih tertarik pada buku-buku yang lain.

da
...more
Ahmad Ibo
buku ini gak sengaja saya temuin waktu ada bazar buku murah di carefour permata hijau di medio 2013. harganya cuma 10 rb, tp isinya mengandung berjuta inspirasi yg tertuang secara jenaka dan gaya tutur pak misbach yg jujur. membaca karya ini spt menonton film, mungkin krn pak misbach HB Jassin-nya film indonesia. :)
Sandra dewi
huaaaaa............. KEREN....

buku ini dibeli ma suami gw di sudut khusus "buku discount". Sebagai guru seni budaya, beliau memang sangat tertarik ma yang ada bau seni-seni. Kalo aja buku ini jatuh ke tangan gw, hhhmmm pastinya akan daku lempar aja lagi hehehehe

dan karena buku yang gw beli (bersamaan dengan dibelinya buku ini) dah abis gw baca semua, maka dengan sangat terpaksa, gw baca juga ni buku....

dan hasilnya ... awsome....

dari tulisannya kelihatan banget bahwa Pak Misbach ini bukan orang
...more
Tyas
Sep 12, 2014 Tyas added it
Recommended to Tyas by: tyas
Bagas Ramadhani
This review has been hidden because it contains spoilers. To view it, click here.
Maulana Krisandi
this book is very good.. but i can't to read,, thank
:D
Deza
Nov 04, 2014 Deza marked it as to-read
I must read this book
Arya Danutirta
This review has been hidden because it contains spoilers. To view it, click here.
Fiza0c3yahoo.co.id
gifihoih09ti
Aniqah Dhia
where nover her?
Ari
Nov 12, 2014 Ari added it
read
Abieffendi
Informatif? Jelas! Buku ini merekam keseharian yang terjadi di Pasar Senen dulu, ketika tempat itu menjadi tempat berkumpulnya bermacam-macam seniman Jakarta, dengan berbagai karakter mereka yang eksentrik nan menarik (namanya juga seniman...weleh)

Pemaparannya, bahasanya menarik, jenaka. Cerita se-'naas' apapun, seperti tidak dapat gawe, kere, seharian minum kopi thok!, dibuat menjadi lucu. Enak dibaca, enteng atmosfirnya.
Penstrukturan tiap cerita juga elok dan cerdas.
Esti
Gak sengaja nemu buku ini di tumpukan buku obral salah satu toko buku.
Awalnya sih iseng, murah siapa tau bagus.
Gak taunya bagus :)
Selera humor Pak Biran menggambarkan seniman2 di Senen memang menggelitik.
Dari yang gadungan sampe seniman beneran.
Walaupun masuk ke golongan sastra lama, tapi masih menarik kok :)
Dini
sentilan-sentilan miris nan ironis. potret kiblat para seniman era 50-an yang penuh kejujuran. tulisannya yang menggambarkan fragmen-fragmen seniman masa lampau, sepertinya masih ada sampai sekarang.
« previous 1 3 4 5 6 7 8 9 45 46 next »
There are no discussion topics on this book yet. Be the first to start one »
  • Jantera Bianglala (Dukuh Paruk, #3)
  • Kuda Terbang Maria Pinto
  • Rumah Kopi Singa Tertawa
  • Tales from Djakarta
  • Entrok
  • Negeri Para Peri
  • Dilarang Mencintai Bunga-bunga: Kumpulan Cerpen
  • Bertanya Kerbau pada Pedati: Kumpulan Cerpen
  • Rahasia Meede: Misteri Harta Karun VOC
  • Bibir Dalam Pispot
  • Bidadari Yang Mengembara
  • Harimau! Harimau!
  • Amba: Sebuah Novel
  • Penembak Misterius: Kumpulan Cerita Pendek
  • Canting
  • Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma
...Oh, Film Teknik Menulis Skenario Film Cerita Sejarah Film 1900-1950: Bikin Film di Jawa Kenang-kenangan Orang Bandel Asrul Sani 70 Tahun

Share This Book