reviews
May 27, 2010
I appreciate the tremendous wok that has crept into the writing of this book. I especially enjoyed the many notes or quotes from the conversations Geertz has with his "informants". On the whole I am not convinced by Geertz's analysis. He offers no proof whatsoever that there is an Abangan and Priyayi religion. Besides his annoying habit of using concepts such as religion, tradition, mysticism, ideology, syncretism, tolerance, in a fuzzy and sometimes interchangeable manner there is a c
More...
Jan 12, 2012
belum selesai bacaa, errr. *sisihkan dulu*
jadi, ini cara politik yang cerdas sekali. Buku ini terlihat sebagai salah satu produk dari politik divide et impera yang diterapkan koloni untuk memecah belah Indonesia. Di zaman kolonial, Jawa merupakan titik terkuat Indonesia saat itu. Dengan kata lain, jika Jawa berhasil dipecah-belah dan ditaklukan, seluruh Hindia Belanda dapat jatuh di tangan kolonial.
jadi, ini cara politik yang cerdas sekali. Buku ini terlihat sebagai salah satu produk dari politik divide et impera yang diterapkan koloni untuk memecah belah Indonesia. Di zaman kolonial, Jawa merupakan titik terkuat Indonesia saat itu. Dengan kata lain, jika Jawa berhasil dipecah-belah dan ditaklukan, seluruh Hindia Belanda dapat jatuh di tangan kolonial.
Jan 22, 2008
santri, abangan, dan priyati, adalah tipologi yang dikenalkanoleh geertz tentang bagaimana perkembangan masyarakat islam di jawa. konsepnnya ini bukan lah satu stratifikasi, melainkan diferensiasi, artinya bahwa itu merupakan satu hal yang bukan dilakukan untuk memasukkan manusia ke dalam klas dan memiliki status yang vertikal, melainkan lebih cenderung ke arah horisontal. akan teapi perlu dipahami bahwa tipologi tersebut tidaklah bersifat ajeg kepada satu orang, buktinya ada semacam pergeseran
More...
0 comments
like
(1 person liked it)
Apr 04, 2011
Ini karya klasik ilmu sosial. Geertz sendiri adalah Indonesianis dalam cabang ilmu sosial-budaya. Mahasiswa jurusan antropologi dan sosiologi hampir pasti pernah membaca buku ini terutama untuk memahami bagaimana Geertz bisa menggeser dikotomi masyarakat Jawa antara kelas penguasa/pengusaha dan buruh (pola pikir klasik antara 2 hubungan kelas ala Marx atau Adam Smith), menjadi trikotomi dengan rumusan abangan, santri, dan priyayi. Priyayi di dalamnya disebut sebagai the emerging middle class. Tr
More...
Nov 02, 2007
Meski banyak orang mengatakan, buku ini merupakan hasil studi intuisionisme gertz, di mana riset yang dia lakukan, sekedar menjadi penguat emirisme ilmiahnya, namun buku ini mampu memberikan gambaran awal tentang jawa, yang feodal dan sedikit abangan, dengan polesan santri di beberapa sisinya.
Buku ini memang penuh dengan nuansa orientalis, yang memposisikannya menjadi sedikit tidak objektif, sejajar dengan karya Snouck Hourgronje tentang Aceh, buku ini tentunya disusun dalam rangka kepent More...
Buku ini memang penuh dengan nuansa orientalis, yang memposisikannya menjadi sedikit tidak objektif, sejajar dengan karya Snouck Hourgronje tentang Aceh, buku ini tentunya disusun dalam rangka kepent More...
0 comments
like
(1 person liked it)
Sep 06, 2011
it's one of the hallmark Geertz made in his work, perhaps even the most recognized one, at least among Indonesianist. but, as has been noted by many critics, his rich elaboration has simplify the diverse accents of Islam as embraced by Javanese people.
Feb 19, 2009
First book I read on Indonesia as an undergraduate student...got me hooked!
Feb 27, 2011
sampai sekarang masih diperdebatkan tapi masih juga dibaca dan dipelajari..
Dec 17, 2009
aku suka cara dia nulis. tapi aku engga setuju sama caranya menginterpretasikan orang jawa. seenaknya aja ngebagi-bagi orang jawa dalam tiga golongan. trus, kayaknya aneh aja kalo dia neliti tentang priyayi di pare.
Feb 11, 2012
Jan 10, 2012
Nov 29, 2011
Jan 05, 2012
Nov 13, 2011
Nov 05, 2011
Nov 02, 2011
Oct 24, 2011
Oct 19, 2011
Sep 22, 2011
Sep 18, 2011
Aug 16, 2011
Jul 19, 2011
Jun 16, 2011
Jun 22, 2011
May 29, 2011
