Goodreads helps you keep track of books you want to read.
Start by marking “Max Havelaar, of De koffiveilingen der Nederlandsche Handelmaatschappy” as Want to Read:
Max Havelaar, of De koffiveilingen der Nederlandsche Handelmaatschappy
Enlarge cover
Rate this book
Clear rating
Open Preview

Max Havelaar, of De koffiveilingen der Nederlandsche Handelmaatschappy

3.47 of 5 stars 3.47  ·  rating details  ·  2,793 ratings  ·  152 reviews
De lange ondertitel van Max Havelaar, `of de koffij-veilingen der Nederlandsche Handel-Maatschappij , riep destijds veel kritiek op. Het boek leest inderdaad allerminst als een bedrijfsgeschiedenis. Veel meer is het een aanklacht: tegen koloniale uitbuiting en een corrupte bureaucratie in het Nederlands-Indië van de negentiende eeuw, en tegen de in eigen ogen oneerlijke b ...more
Paperback, 321 pages
Published 1983 by Salamander (first published 1860)
more details... edit details

Friend Reviews

To see what your friends thought of this book, please sign up.

Reader Q&A

Be the first to ask a question about Max Havelaar, of De koffiveilingen der Nederlandsche Handelmaatschappy

Community Reviews

(showing 1-30 of 3,000)
filter  |  sort: default (?)  |  rating details
nanto
Ini buku bagus yang terlebih dulu saya nonton filmnya. Termasuk salah satu buku yang kemudian memunculkan kritik pedas terhadap kolonialisme di Hindia Belanda (lihat buku Robert Nieuwenhuys (ed.) “Bianglala Sastra” yang di-Indonesia-kan oleh Dick Hartoko, atau judul Inggrisnya Mirror of the Indies). Pengarangnya menggunakan nama pena Multatuli (He who has suffered much) atau nama aslinya Eduard Douwes Dekker. Masih ada hubungan darah dengan pahlawan nasional D. Setiabudi, bahkan kerap disalahsan ...more
Steve
Jun 27, 2014 Steve added it
Shelves: dutch
[This book has been translated into many, many languages, including English.]


In the words of J.J. Oversteegen, found in the Afterword of the Dutch edition I read, Max Havelaar (1860 - the uncensored version appeared in 1875) is "de grootste roman, die ooit in Nederland geschreven is" (the greatest novel ever written in the Netherlands). As the Afterword is dated 1983 and not 1883, such an assertion is bound to get my attention(*) since I have a high opinion of the work of Nescio and Harry Mulisc
...more
Pvw
This book is like an onion. It is based on the collected writings of a certain Max Havelaar, a Dutch assistant-governor of the former colony of Java. His writings, originally in German, are translated by the young student Stern, who resides as a guest in Amsterdam, in the house of the selfish coffe tradesman Droogstoppel. It is this character, Droogstoppel, that supposedly tells the reader the different stories.

I have no idea why Multatuli chose this multi-layered technique. It does however allo
...more
Helvry Sinaga


Power tends to corrupt, and absolute power corrupts absolutely.
(Lord Acton, Letter to Bishop Mandell Creighton, 1887)

Mungkin penyakit yang paling berbahaya tidak akan ditemukan di laboratorium, tetapi dalam semesta kehidupan, dan penyakit itu bernama korupsi. Penyakit tersebut telah lama ada, dan dengan sukses membiakkan dirinya dari generasi ke generasi. Eduard Douwes Dekker yang dikenal dengan nama pena Multatuli, menulis novel ini dengan protagonis Max Havelaar. Max Havelaar adalah seorang
...more
Sylvia
This is what you called a must read for very Dutch student studying Dutch literature.
Eduard Douwes Dekker is telling in this novel his life as an assistent-resident (Dutch official in former Dutch Indië).
I have read this book several times as a student. Dekker's work was one of my specialism. His way of writing was new in the 19th century and the book was received with negative and positive critism.
He accused the Dutch Goverment of abuse in their colony, which was used only to get as many pro
...more
Kristel
The story of Max Havelaar is a social commentary on colonialism as well as a political statement of the abuse of government and the ineffectiveness of Christianity without charity. The story is set in 1853 or there abouts in Indonesia (Java) at that time and is the story of why change is almost impossible in systems that are as large as governments and even a good person is basically unable to make any good change.

This is a 4 star read for me. I hated the poor condition of my kindle edition and
...more
Michiyo 'jia' Fujiwara
Woooowwww DAHSYAT!!!

Kejutan di paragraf terakhir sekaligus penutup. Kalimat dari sang empunya sendiri; Maltatuli..
“Buku ini isinya aneka ragam, tidak beraturan, pengarangnya mengejar sensasi, gayanya buruk! Tidak tampak keahliannya...tidak ada bakat..tidak ada metode..

Cukuplah Stern yang baik, Aku Maltatuli..yang mengangkat pena. Aku menghidupkan anda.aku datangkan anda dari Hamburg. Aku ajarkan anda bahasa Belanda yang baik, dalam waktu yang singkat sekali..Aku suruh anda mencium Louise Rosemei
...more
Mindy McAdams
Sep 22, 2013 Mindy McAdams rated it 3 of 5 stars  ·  review of another edition
Recommends it for: interested in colonial Dutch East Indies
This was the last novel about Indonesia that I read before going there to live for 10 months. It’s not always easy for a 21st century reader to enjoy a 19th century novel, and this one is certainly not going to captivate everyone who undertakes it. I stuck with it even though at times it was annoying. At the end, I was glad to have read it.

I wanted to read it because I have seen many references to this book in my reading about the colonial past of Indonesia. The subtitle, "Or the Coffee Auctions
...more
Nancy Burns
Dutch Classic Literature:
Multatuli was the 'first Dutch whistleblower!'
Here is my review:
https://ipsofactodotme.wordpress.com/...
Liliyah
tidak semua org Belanda yang hidup tiga ratus tahun lalu di negeri ini adalah penjajah. Perjuangan Multatuli adalah anomali. Sebagai seorang asisten residen dia justru memperjuangkan kaum pribumi-buruh tani di Lebak Banten.

tetapi hingga kini, masih saja buruh-tani terjajah. Kali ini oleh bangsanya sendiri. Lebih miris.

NB : Bos gw mpe bikin naskah drama-teaternya...hiks, sedih bacanya.
Nisa Rahmah
Jika politik itu kotor, puisi akan membersihkannya.

Jika politik bengkok, sastra akan meluruskannya.

—John F. Kennedy




Kisah bermula dari seorang makelar kopi yang tidak menyukai sastra bernama Droogstoppel. Sebagai orang yang berkecimpung dalam bursa selama bertahun-tahun, baginya, karya sastra serupa novel atau puisi hanyalah kata-kata yang indah, jauh dari kebenaran. Misalnya:

"Jam berdentang empat kali

Dan sudah tidak hujan lagi"

Komentarnya: Aku tidak akan mengucapkan sesuatu pun untuk menentang p
...more
Czarny Pies
Oct 17, 2014 Czarny Pies rated it 5 of 5 stars  ·  review of another edition
Recommends it for: Everybody. This is a great introduction to the economic problems of the third world.
Colonialism has had a bad press since the sixteenth century. The problem in such unanimity of opinion, few ever bother to explain exactly how colonials was it was bad. It this remarkable work which is not a true a novel is the expose of a failing colonial system. Using the pen name of Mutlatuli, Eduard Douwes Dekker, a former dutch colonial administrator explained in great deal how the Dutch colonial administration worked and why it was failing.

Dekker identified three very fundamental problems:

-
...more
Wong1st
Read in English version
This so called classic book is still very relevant for today modern time. Today, instead of countries level, there are companies/corporates levels, modern imperialism: “Manufactures, Factories, Mines, and so on “trading” companies”
And how amusing to read Droogstoppel hypocrite snorts, and how annoying to realize this typical character really exist in your daily life.
This is an Indonesian “Uncle Tom's Cabin”,
to Multatuli, from bottom of my heart I salute you

_______________
...more
Red
Een vader zou voor 'n oogenblik het huis verlaten. Om de
scherpzinnigheid zyner kinderen op de proef te stellen, gaf hy
hun te raden wat hy zou gedaan hebben gedurende z'n afwezigheid.

Een der kinderen, die een blauw buisje droeg, zeide:

- Ik weet het al. Vader is naar den kleermaker, om zich 'n
blauw buisje te laten aanmeten.

Het tweede kind, dat gaarne zoetigheid at, werd boos op
BLAUWBUIS, die zoo dom kon zyn te gelooven dat de vader een
blauw huisje droeg, als hy.

- Ik weet beter, reide het. Vade
...more
Naeem
Sep 21, 2008 Naeem rated it 3 of 5 stars  ·  review of another edition
Recommends it for: those interested in colonial adminstration
This book was a landmark event when it was published in the mid 19th century. It really shook up the Dutch self-understanding of their colonial efforts in what we now call Indonesia.

The setting is colonial Indonesia in the early 19th century. The book is largely autobiographical and multi-perspectival; while it follows one honest bureaucrat's efforts to do justice for the "natives," the narrative is often interrupted by other characters' points of view.

The beauty of the book is that it shows ho
...more
dedeh
cerita di balik buku ini.. buku ini ketemu di tumpukan buku bekas yg udah mau dibuang sama yg punya. sudah kena hujan n angin sepertinya. pas lewat suatu pojokan, ia berada paling atas di tumpukan itu. melihat sekilas, dan.. tertangkap judulnya: max havelaar.. meskipun ga tahu siapa yg punya akhirnya saya 'ambil' buku ini. sudah lusuh banget, kertasnya kuning, sedikit berjamur dan banyak bekas air yg mengering, tapi masih utuh. kertasnya bagus

ini buku terbitan tahun 81, alias cetakan kelima, dar
...more
Larasestu Hadisumarinda
Akhirnya selesai. Twist dan twist. Mungkin saya agak merasa senang karena Max Havelaar bukanlah Eduard Douwes Dekker kali ya. Gak terbayangkan bagaimana kalau itu dia. Tapi saya yakin benar jika dia punya kepekaan yang sangat tinggi akan nasib orang-orang di bawah jajahan pemerintahannya, diserap tenaganya sampai mati, etcatera, etcatera, terlalu banyak detil keji untuk direnungi. Yang pasti, dia menggambarkan dengan sangat bagus bagaimana keadaan di sana dan saya yakin dia punya cara untuk meny ...more
Jacob Boorsma
I got one word to describe this book: OUTDATED.

I mean, the book has some nice elements and other things you would like to see in a book, but in this form, the information just doesn't appeal because the book is so outdated.

Also, Multatuli is far too ambitious for a man of his writing skills, with a far too big ego, and it annoys me.
Jeske
Wow, i knew the Netherlands has a deeply shameful history when it comes to their colonies in the East Indies.. but to read it in so much detail.. :( I was deeply vexed and wanted to kick something towards the end of the book. I could so empathize with the anger of Max Havelaar. How could such injustice exist for so long?!
Multatuli (Eduard Douwes Dekker) used an interesting way to tell the story, which i liked. From what i've learnt about him in this book, he seemed a person i would have loved to
...more
A.V.
This book was awful to read. Absolutely awful. As a lover of books, the writing was so horrendous, it was almost offensive to me. I had to make myself read 30 pages a day, just to get through it. But I had to know. Why was this book deemed “Literature”? Why was it so important in Dutch culture and history? So I read on and at the very end, it all made sense. I understood.

I’ll probably never read this book again, but it was worth it in the end.
Geoff Wooldridge
Max Havelaar, translated from Dutch, first published in 1860, was written by Multatuli, the pen name of Eduard Douwes Dekker. Multatuli means 'I have suffered much'.

The book takes on an unusual structure, virtually a book within a book. A Dutch coffee broker, the ridiculous Drystubble (of 37 Laurier Canal), uses his potential son-in-law to write a book in his own name, using material effectively stolen from an acquaintance, known as Shawlman, about life in the colonies of the Dutch East Indies.

T
...more
Luqman Kuchiki
Awal-awal membaca buku ini, saya merasa sangat tidak "sreg" dengan pola dan gaya penulisannya. Mungkin karena buku ini tergolong "klasik" dan saya bukanlah orang yang banyak membaca buku-buku klasik.

perasaan tidak sreg masih juga berlanjut hingga mendekati halaman-halaman pertengahan buku ini, tapi saya masih berusaha untuk mengikuti rangkaian kisah yang disampaikan oleh tuan makelar kopi dan cerita havelarnya.

tak dapat dipungkiri, walaupun tidak terbiasa dengan gaya penulisan seperti itu, buku
...more
Edisty Friskanesya
buku ini memiliki tiga kontributor dengan masing2 pembahasan yang berbeda: Batavus Droogstoppel, Stern, dan di bagian akhir, Multatuli. Seperti yang diakui oleh Multatuli sendiri, susunan ceritanya berantakan, tetapi ide ceritanya sendiri tak terbantahkan: orang (di pulau) Jawa dianiaya!
note: saya sarankan untuk membaca part yang ditulis oleh Droogstoppel secara terpisah dari dua kontributor lainnya, karena memang jelas akan membingungkan pembaca.
Yang jelas max havelaar membuka mata saya bahwa
...more
Marysa
Buku yang menyentuh. Sulit untuk tidak bersimpati pada luapan rasa frustasi sang penulis.
Pilihan untuk menyajikan dua tokoh yang bisa dikatakan bertolak belakang (alter ego) dalam memandang dan menyikapi kolonialisme di Hindia Belanda, bagi saya, adalah ide yang cemerlang. membuat keseluruhan buku ini sebuah karya yang very insightful and unavoidable.

Menariknya, notion yang dimunculkan dalam buku ini bukan sesuatu yang kuno atau hanya terikat dalam konteks sejarah. Dalam kehidupan sekarang pun
...more
BoekenTrol
Read this book for my list of Dutch literature, like so many others. Aaages ago, but I liked it enough to buy a special edition. I'll re-read it and than write a real review.
Cicip
i know my country's history better. the way Dekker sending the story is a bit confusing at first, we also have to think the same time when we are reading. interesting.
Vivian
Ik weet eerlijk gezegd niet zo goed hoe ik dit moet beoordelen.. Ik ben vooral heel blij dat ik het uit heb want het werd gewoon echt slaapverwekkend saai. Ik vraag me ook af of ik wel echt alles heb begrepen, maar op zich vind ik het zeker geen slecht boek. Het verhaal is sterk, de personages spreken je aan en vooral het eerste deel vond ik erg vermakelijk en best wel goed door te komen. Jammer dat het daarna steeds taaier en complexer werd, maar de manier waarop het een grote maatschappelijke ...more
Wilfried
Een absoluut meesterwerk dat tegenstrijdige gevoelens oproept.

Laat ons maar beginnen met het positieve nieuws. Je begrijpt snel waarom dit werk onmiddellijk naar de top van de Nederlandse litteratuur werd gecatapulteerd. Het boek bevat een pak stijlfiguren die voordien wellicht niet zoveel in één werk werden aangewend: exotisme (Indonesië roept toch onmiddelijk allerlei beelden op), een aanklacht tegen heersende wanpraktijken in de kolonies, humor (denk aan de figuur Droogstoppel, die is uitgegr
...more
Katrijn
"Max Havelaar" was taai omwille van de taal (1860!), maar ik ben blij dat ik het na 15 jaar eindelijk uitkreeg. Net diezelfde taal, en ermee samenhangend de stijl, is tegelijkertijd ook de sterkte, vreemd genoeg.
Tijdens het lezen hoorde ik over een hertaalde versie uit 2010. Eerst dacht ik nog: "verdorie, waarom ben ik die niet beginnen lezen". Ondertussen las ik twee negatieve recensies met verschillende concrete voorbeelden van hoé het hertaald is, en dan ben ik toch blij dat ik me door het or
...more
Yogi Saputro
Pas membaca buku ini di bagian awal, rasanya saya mau muntah. Sungguh! Susunan kalimatnya panjang dan membingungkan. Jalinan cerita antar bab tidak ada. Bahasannya remeh dan bertele-tele. Serta karakter tokoh Drogstoppel si makelar kopi "terhormat" itu bikin saya kesal setengah mati.

Di bagian tengah masuk tokoh Max Havelaar, Asisten Residen Lebak (ini juga saya tak mengerti masuknya dari mana tiba-tiba ceritanya langsung pindah). Pada bagian ini gambaran kehidupan pribumi mulai terlihat. Makin
...more
« previous 1 3 4 5 6 7 8 9 99 100 next »
topics  posts  views  last activity   
Multatuli (Eduard Douwes Dekker) 1 42 Dec 17, 2008 01:13AM  
  • De stille kracht
  • Van de koele meren des doods
  • Oeroeg
  • Kees de jongen
  • Camera Obscura
  • Nooit meer slapen
  • Karakter
  • Het verdriet van België
  • Een Nagelaten Bekentenis
  • Kaas
  • Eric in the Land of the Insects
  • Het verboden rijk
  • De avonden
  • The Lion of Flanders
  • House of Glass (Tetralogi Buru, #4)
  • Rituals
  • Publieke Werken
3367032
Eduard Douwes Dekker, better known by his pen name Multatuli (from Latin multa tuli, "I have suffered much"), was a Dutch writer famous for his satirical novel, Max Havelaar (1860) in which he denounced the abuses of colonialism in the colony of the Dutch East Indies (today's Indonesia).
More about Multatuli...
Woutertje Pieterse Saïdjah en Adinda Buah Renungan Minnebrieven Brieven van Multatuli

Share This Book

“Dari hidup di kalangan yang memiliki pengaruh kemudian hidup di kalangan bawah masyarakat membuatnya mengetahui bahwa banyak kalangan masyarakat yang tidak memiliki pengaruh dan perlindungan apa-apa.” 8 likes
“what is fiction in particular is truth in general.” 6 likes
More quotes…