Goodreads helps you keep track of books you want to read.
Start by marking “Centhini: Kekasih yang Tersembunyi” as Want to Read:
Centhini: Kekasih yang Tersembunyi
Enlarge cover
Rate this book
Clear rating

Centhini: Kekasih yang Tersembunyi

3.92 of 5 stars 3.92  ·  rating details  ·  123 ratings  ·  27 reviews
Diterjemahkan dari bahasa prancis: laddy lesmana "les chants de l'ille a dormir debout - le livre de centhini" [2002]

Pernah terbit dalam bahasa indonesia dalam 4 bagian terpisah. Edisi ini menyatukannya kembali.
Paperback, 444 pages
Published July 2008 by Babad Alas (Yayasan Lokaloka) (first published 2002)
more details... edit details

Friend Reviews

To see what your friends thought of this book, please sign up.

Reader Q&A

To ask other readers questions about Centhini, please sign up.

Be the first to ask a question about Centhini

This book is not yet featured on Listopia. Add this book to your favorite list »

Community Reviews

(showing 1-30 of 266)
filter  |  sort: default (?)  |  rating details
Mel
saya menganggap buku ini sebagai perpaduan dua kutub yang berbeda. itu yang menarik bagi saya.

ada banyak kisah berlapis di sini. kisah dalam kisah. dongeng dalam dongeng. membawa imajinasi terus berkelana. ditarik dari satu ujung sampai batas ujung lainnya. saya menemukan buruk yang juga indah. tempat tergelap hingga benderang. yang vulgar dan tersamar. semua nafsu-nafsu, dari syahwat hingga kekuasaan. hal paling bejat hingga agung. tokoh yang diceritakan pun dari ragam latar belakang. dari rak...more
miaaa
Sep 02, 2008 miaaa rated it 5 of 5 stars
Recommends it for: javanese addict
This review is republished in my personal blog: http://opheliamorada.tumblr.com/
Vivaldi
Walopun penyusunnya udah bilang bahwa beberapa bagiannya sudah diringkas dan dipersantun, pembaca awam kayak saya tetep aja gak bisa ninggalin kesan pertama: Cabul. (Jadi pengen baca yang belum dipersantun hehehe. Hush..puasa!)

Cuma saya jadi terpengaruh ajakannya Ayu Utami di Bilangan Fu. Jangan menghukumi kondisi atau tradisi masa lalu dengan kaca mata modernitas. Jadi saya berusaha kontekstual untuk hal-hal berikut.

1. Naskah ini tentunya beredar di kalangan intelektual dan bangsawan saat itu....more
aldo zirsov
Saya tertarik mengikuti diskusi serat Centhini ini karena komunitas Salihara menyelenggarakan kegiatan 6 (enam) pekan sastrawan dan seniman perempuan di indonesia.
Di samping itu ada hal lain yang menarik, khususnya mengenai serat Centhini karya Ibu Inandiak, dimana dilakukan pembahasan dari sudut pandang ke-perempuan-an terhadap suatu karya, yang tokoh utama di dalam buku tersebut justru didominasi oleh kaum laki-laki, dengan segala aktivitas dan tingkah lakunya dalam kehidupan, walaupun buku te...more
Ari Namidalem
Berdasar pada karya sastra Jawa Kuno, Serat Centhini – Inandiak menghadirkan kembali kisah-kisah dalam karya tersebut hingga bisa kita nikmati dalam wujudnya yang sekarang. CENTHINI: Kekasih yang Tersebunyi, memang bukan terjemahan asli tapi sudah digubah sedemikian rupa dengan tambahan karya-karya sastra non-jawa dan juga hasil penalaran beliau sendiri terhadap Serat Centhini.

Lebih bagus begini menurut saya, toh kalau mentah-mentah membaca terjemahan tanpa tafsiran, bisa jadi bingung sendiri. T...more
Olivia
Pemaparan yang indah untuk Centhini. Tadinya saya pikir ini dari naskah asli tapi setelah saya baca keterangan dari penulis, ternyata lebih tepat disebut sebagai interpretasi penulis dari Serat Centhini. Serat Centhini yang asli rupanya terpotong-potong naskahnya karena masyarakat pada jaman dulu hafal dengan cerita yang dimaksud. Namun makin lama, generasi mudanya sudah tidak terlalu akrab lagi dengan hikayat-hikayat ini.

Interpretasi yang menarik dengan pertimbangan yang cukup matang dari penul...more
Ririenz
CENTHINI ( Kekasih Yang Tersembunyi )

Penyusun dan Penulis : Elizabeth D. Inandiak
Penerjemah : Laddy Lesmana & Elizabeth D. Inandiak
Penerbit : Babad Alas ( Yayasan Lokaloka )
Cetakan / Edisi : Yogyakarta, July 2008
Halaman : 444 halaman


Manusia tidur. Ketika mati mereka bangun
( Kalimat ini yang selalu ada di kepala setelah membaca Centhini )


Sudah lama sebenarnya aku ingin mengenal “ Centhini “ namun baru seminggu ini keinginanku itu bisa aku wujudkan. Sebelumnya aku mengenal wujud “ Centhini “ t...more
Wuwun Wiati
saya baca versi indonesianya.

buku yang luar biasa ajaib! gabungan antara budaya jawa, islam dan seks. ada kalanya, kesannya cabul banget, terutama dibagian petualangan cebolang, namun kecabulan ini dengan gilanya tergabung dalam nuansa keindahan sastra yang luar biasa. terasa sangat sesuai dengan pengantarnya yg mengatakan sejarah panjang penciptaan buku ini.

dibuat oleh seorang pangeran jawa di abad lampau, sempat terbengkalai karena pihak yang saling bertentangan, antara yang menyatakan ini be...more
Irwan
Cerita epik dari negeri sendiri yang disajikan oleh seorang Perancis, yang melakukannya dengan penuh kecintaan sampai-sampai melarutkan dirinya ke dalam cerita.

Saat membaca dalam hati aku merasa mengerti kenapa cerita ini menarik minat seorang Perancis. Teringat pada berbagai novel dan film Perancis yang surealistik. Banyak elemen-elemen buku ini yang pertama kali kukenal lewat produk-produk budaya Perancis tersebut: spiritualisme magis, seks, surealisme, rancunya batas metafor dan realitas, kec...more
Mikael
the best of the abridged centhini in translation. inandiak hasn't just translated centhini, she has BECOME centhini, the "lover in hiding", the not-so-secret narrator of this great bawdy encyclopedie. she slips in passages from hugo, baudelaire, reworking of a linus suryadi poem, into her translation, a la christopher logue's homer, sometimes mistaking the great work as her own poem. eg, in her note for tembang 24 she said "tembang ini ditulis tepat pada hari raya Idul adha, karena itu timbullah...more
Syafruddin
Bulan menuju malam, Amongraga meniduri Tambangraras di ranjang bidadari dan membanjiri tubuhnya dengan airmata. Mereka mulai main asmara yang langka, tanpa aturan atau tujuan, tanpa kalah atau menang. Beberapa saat menjelang subuh, Tanbangraras terlena dalam dekapan. Perlahan, Amongraga undur diri dari kelelapan sang istri. Diselimutkannya kain peraduan ke atas tubuh telanjangnya bagai kain kafan bagi sanggama mereka. Ditulisnya surat kepada Tambangraras:
"Kekasihku, di jalan ada jumpa dan sua k...more
Shan Vrolijk
hadiah dari papa dan ibu buat ultahku :P

aku suka banget buku ini. kata2nya bener kaya, salut sama laddy lesmana yang bisa memberi makna indah dalam kata2,,, dan ceritanya bagus.

hmm.. sayang sekali, begitu sampai bagian cebolang dan petualangan syahwatnya, bagiku itu udah terlalu dewasa. jadi takut hiks.



akhirnya kuberi bintang empat, dengan mengesampingkan isinya yang vulgar itu... centhini jadi terlihat manis dengan segala sejarah, filosifi dan interpretasi Elizabeth D Inandiak...
Dini Happy
Walaupun butuh pemahaman besar dalam membaca buku ini, saya rela. Tiga kali membacanya, saya selalu menemukan hal baru dan pemahaman baru. Tanpa Elizabeth Inandiak, barangkali generasi Indonesia seperti saya dan beberapa teman saya tidak akan mengenal kisah yang semula ditulis di atas daun lontar ini, dalam huruf-huruf Jawa yang melengkung-melengkung itu. Buku ini adalah warisan budaya kita sendiri :)
Dimas adriansyah
ketuhan yang kita tahu selama ini dapat di perkuat lagi disini...
disini oun tertulis jelas bagaimana manusia itu tak bisa mengendalikan diri dari sebuah hasrat yg bernama sex...
semua tertulis jelas disini... kata"nya yang begitu polos sehingga menimbulkan kesan vulgar... tapi ini adalah buku yang bagus untuk kita lebih mengenal budaya kita sendiri.. khususnya budaya jawa
Miranti H
Pertama kali saya membaca buku ini, yang tertangkap adalah cabul. Apakah ini kamasutra jawa? saya membaca sekali lagi dari depan. Yang saya dapatkan adalah filosofi kehidupan yang amat dalam dan berlaku hingga jaman kini. Tersembunyi dalam baris katanya, lapis kalimatnya, susunan paragrafnya. Hati hati, jangan menilai dari kecabulannya.
Ratih Puspo
kisah tentang pengembaraan Among Raga (dia yang memikul raganya), dalam mencari kemegahan suluk dengan mengalahkan segala nafsu dunia, namun akhirnya terkalahkan oleh nafsu terakhirnya, yaitu balas dendam.

'Hampir mati pada dirinya sendiri, hanya nafsu terakhirnya yang terjelma.'
Ayuningtyas
1. cerita pembangkangan yang menarik
2. perjalanan spiritual yang mengesankan, meskipun dengan akhir yang...tidak terduga
3. miris karena haru baca dari hasil terjemahan (hei, ini harta kita!)
4. buku yang bikin yakin kalo buku sama dengan pacar, ketemu dengan cara yang aneh dan jodoh
nanto
Jul 25, 2008 nanto marked it as to-read
Mas Anto, Matur sembah nuwun sanget nggeh. Buku nipun sampun kulo tampi.

Mugo Gusti Allah maringi njenengan buku sing katah sekalian elmu sing berkah.

*celingak-celinguk gak pedhe dengan Bahasa Jawa tanpa konsultan di atas*
Kinna
katanya sihhhh bagus,,, tapi bagi saya kurang bagus,, karena sampai sekarang ditempat sahaya yang terpencil ini sahaya belum bisa mendapatkan bukunya...ada yang tahu nggak bagaimana caranya mendapatkan buku itu ....
Bayu Priyambodo
a french traduction from a very controversial book in Javanese Culture. Blend of Islam Sufism , Erotiscm, Sexuality , Philosophy, and pseudo history.
Linda Beauvais
i want this book so badly.. how to get it at malaysia? liltle help, anyone?
Elnispero
benar-benar karya sastra yang sangat bagus...sangat memukau..
Madrina Mazhar
A cool karya sastra yg lama...lebih dulu dari Kamasutra!!
Daluk
Jan 16, 2011 Daluk added it
good job for elizabeth.
saya ingin bertemu dengan elizabeth
Pandasurya
Apr 08, 2013 Pandasurya marked it as to-read
akhirnyaa..ternyata :D
Niken
Jun 14, 2009 Niken added it
Shelves: philosophy, adult
Hmm.... *wink wink*
Yahya
Yahya marked it as to-read
Sep 24, 2014
Tri Nugroho
Tri Nugroho is currently reading it
Sep 22, 2014
« previous 1 3 4 5 6 7 8 9 next »
There are no discussion topics on this book yet. Be the first to start one »
Empat Puluh Malam dan Satunya Hujan (Centhini, #1) Minggatnya Cebolang (Centhini, #2) Nafsu Terakhir (Centhini, #4) Ia yang Memikul Raganya (Centhini, #3) Merapi Omahku

Share This Book

“Kekasihku, di jalan ada jumpa dan sua kembali. Tetapi orang berjalan sendiri-sendiri. Kupikul ragaku menempuh kemegahan Suluk, dan kamulah tembang laras Suluk itu. Kamu mengira aku pergi, padahal aku mengembara di dalam dirimu.” 4 likes
More quotes…