Centhini: Kekasih yang Tersembunyi
Diterjemahkan dari bahasa prancis: laddy lesmana "les chants de l'ille a dormir debout - le livre de centhini" [2002]
Pernah terbit dalam bahasa indonesia dalam 4 bagian terpisah. Edisi ini menyatukannya kembali.
Pernah terbit dalam bahasa indonesia dalam 4 bagian terpisah. Edisi ini menyatukannya kembali.
Paperback, 444 pages
Published
July 2008
by Babad Alas (Yayasan Lokaloka)
(first published 2002)
Friend Reviews
To see what your friends thought of this book,
please sign up.
This book is not yet featured on Listopia.
Add this book to your favorite list »
Community Reviews
(showing
1-30
of
192)
saya menganggap buku ini sebagai perpaduan dua kutub yang berbeda. itu yang menarik bagi saya.
ada banyak kisah berlapis di sini. kisah dalam kisah. dongeng dalam dongeng. membawa imajinasi terus berkelana. ditarik dari satu ujung sampai batas ujung lainnya. saya menemukan buruk yang juga indah. tempat tergelap hingga benderang. yang vulgar dan tersamar. semua nafsu-nafsu, dari syahwat hingga kekuasaan. hal paling bejat hingga agung. tokoh yang diceritakan pun dari ragam latar belakang. dari rak...more
ada banyak kisah berlapis di sini. kisah dalam kisah. dongeng dalam dongeng. membawa imajinasi terus berkelana. ditarik dari satu ujung sampai batas ujung lainnya. saya menemukan buruk yang juga indah. tempat tergelap hingga benderang. yang vulgar dan tersamar. semua nafsu-nafsu, dari syahwat hingga kekuasaan. hal paling bejat hingga agung. tokoh yang diceritakan pun dari ragam latar belakang. dari rak...more
Sep 02, 2008
miaaa
rated it
5 of 5 stars
Recommends it for:
javanese addict
Shelves:
favourites,
ophelia-s-library
This review is republished in my personal blog: http://opheliamorada.tumblr.com/
Walopun penyusunnya udah bilang bahwa beberapa bagiannya sudah diringkas dan dipersantun, pembaca awam kayak saya tetep aja gak bisa ninggalin kesan pertama: Cabul. (Jadi pengen baca yang belum dipersantun hehehe. Hush..puasa!)
Cuma saya jadi terpengaruh ajakannya Ayu Utami di Bilangan Fu. Jangan menghukumi kondisi atau tradisi masa lalu dengan kaca mata modernitas. Jadi saya berusaha kontekstual untuk hal-hal berikut.
1. Naskah ini tentunya beredar di kalangan intelektual dan bangsawan saat itu....more
Cuma saya jadi terpengaruh ajakannya Ayu Utami di Bilangan Fu. Jangan menghukumi kondisi atau tradisi masa lalu dengan kaca mata modernitas. Jadi saya berusaha kontekstual untuk hal-hal berikut.
1. Naskah ini tentunya beredar di kalangan intelektual dan bangsawan saat itu....more
Saya tertarik mengikuti diskusi serat Centhini ini karena komunitas Salihara menyelenggarakan kegiatan 6 (enam) pekan sastrawan dan seniman perempuan di indonesia.
Di samping itu ada hal lain yang menarik, khususnya mengenai serat Centhini karya Ibu Inandiak, dimana dilakukan pembahasan dari sudut pandang ke-perempuan-an terhadap suatu karya, yang tokoh utama di dalam buku tersebut justru didominasi oleh kaum laki-laki, dengan segala aktivitas dan tingkah lakunya dalam kehidupan, walaupun buku te...more
Di samping itu ada hal lain yang menarik, khususnya mengenai serat Centhini karya Ibu Inandiak, dimana dilakukan pembahasan dari sudut pandang ke-perempuan-an terhadap suatu karya, yang tokoh utama di dalam buku tersebut justru didominasi oleh kaum laki-laki, dengan segala aktivitas dan tingkah lakunya dalam kehidupan, walaupun buku te...more
the best of the abridged centhini in translation. inandiak hasn't just translated centhini, she has BECOME centhini, the "lover in hiding", the not-so-secret narrator of this great bawdy encyclopedie. she slips in passages from hugo, baudelaire, reworking of a linus suryadi poem, into her translation, a la christopher logue's homer, sometimes mistaking the great work as her own poem. eg, in her note for tembang 24 she said "tembang ini ditulis tepat pada hari raya Idul adha, karena itu timbullah...more
CENTHINI ( Kekasih Yang Tersembunyi )
Penyusun dan Penulis : Elizabeth D. Inandiak
Penerjemah : Laddy Lesmana & Elizabeth D. Inandiak
Penerbit : Babad Alas ( Yayasan Lokaloka )
Cetakan / Edisi : Yogyakarta, July 2008
Halaman : 444 halaman
Manusia tidur. Ketika mati mereka bangun
( Kalimat ini yang selalu ada di kepala setelah membaca Centhini )
Sudah lama sebenarnya aku ingin mengenal “ Centhini “ namun baru seminggu ini keinginanku itu bisa aku wujudkan. Sebelumnya aku mengenal wujud “ Centhini “ t...more
Penyusun dan Penulis : Elizabeth D. Inandiak
Penerjemah : Laddy Lesmana & Elizabeth D. Inandiak
Penerbit : Babad Alas ( Yayasan Lokaloka )
Cetakan / Edisi : Yogyakarta, July 2008
Halaman : 444 halaman
Manusia tidur. Ketika mati mereka bangun
( Kalimat ini yang selalu ada di kepala setelah membaca Centhini )
Sudah lama sebenarnya aku ingin mengenal “ Centhini “ namun baru seminggu ini keinginanku itu bisa aku wujudkan. Sebelumnya aku mengenal wujud “ Centhini “ t...more
Cerita epik dari negeri sendiri yang disajikan oleh seorang Perancis, yang melakukannya dengan penuh kecintaan sampai-sampai melarutkan dirinya ke dalam cerita.
Saat membaca dalam hati aku merasa mengerti kenapa cerita ini menarik minat seorang Perancis. Teringat pada berbagai novel dan film Perancis yang surealistik. Banyak elemen-elemen buku ini yang pertama kali kukenal lewat produk-produk budaya Perancis tersebut: spiritualisme magis, seks, surealisme, rancunya batas metafor dan realitas, kec...more
Saat membaca dalam hati aku merasa mengerti kenapa cerita ini menarik minat seorang Perancis. Teringat pada berbagai novel dan film Perancis yang surealistik. Banyak elemen-elemen buku ini yang pertama kali kukenal lewat produk-produk budaya Perancis tersebut: spiritualisme magis, seks, surealisme, rancunya batas metafor dan realitas, kec...more
Bulan menuju malam, Amongraga meniduri Tambangraras di ranjang bidadari dan membanjiri tubuhnya dengan airmata. Mereka mulai main asmara yang langka, tanpa aturan atau tujuan, tanpa kalah atau menang. Beberapa saat menjelang subuh, Tanbangraras terlena dalam dekapan. Perlahan, Amongraga undur diri dari kelelapan sang istri. Diselimutkannya kain peraduan ke atas tubuh telanjangnya bagai kain kafan bagi sanggama mereka. Ditulisnya surat kepada Tambangraras:
"Kekasihku, di jalan ada jumpa dan sua k...more
"Kekasihku, di jalan ada jumpa dan sua k...more
Pemaparan yang indah untuk Centhini. Tadinya saya pikir ini dari naskah asli tapi setelah saya baca keterangan dari penulis, ternyata lebih tepat disebut sebagai interpretasi penulis dari Serat Centhini. Serat Centhini yang asli rupanya terpotong-potong naskahnya karena masyarakat pada jaman dulu hafal dengan cerita yang dimaksud. Namun makin lama, generasi mudanya sudah tidak terlalu akrab lagi dengan hikayat-hikayat ini.
Interpretasi yang menarik dengan pertimbangan yang cukup matang dari penul...more
Interpretasi yang menarik dengan pertimbangan yang cukup matang dari penul...more
Berdasar pada karya sastra Jawa Kuno, Serat Centhini – Inandiak menghadirkan kembali kisah-kisah dalam karya tersebut hingga bisa kita nikmati dalam wujudnya yang sekarang. CENTHINI: Kekasih yang Tersebunyi, memang bukan terjemahan asli tapi sudah digubah sedemikian rupa dengan tambahan karya-karya sastra non-jawa dan juga hasil penalaran beliau sendiri terhadap Serat Centhini.
Lebih bagus begini menurut saya, toh kalau mentah-mentah membaca terjemahan tanpa tafsiran, bisa jadi bingung sendiri. T...more
Lebih bagus begini menurut saya, toh kalau mentah-mentah membaca terjemahan tanpa tafsiran, bisa jadi bingung sendiri. T...more
hadiah dari papa dan ibu buat ultahku :P
aku suka banget buku ini. kata2nya bener kaya, salut sama laddy lesmana yang bisa memberi makna indah dalam kata2,,, dan ceritanya bagus.
hmm.. sayang sekali, begitu sampai bagian cebolang dan petualangan syahwatnya, bagiku itu udah terlalu dewasa. jadi takut hiks.
akhirnya kuberi bintang empat, dengan mengesampingkan isinya yang vulgar itu... centhini jadi terlihat manis dengan segala sejarah, filosifi dan interpretasi Elizabeth D Inandiak...
aku suka banget buku ini. kata2nya bener kaya, salut sama laddy lesmana yang bisa memberi makna indah dalam kata2,,, dan ceritanya bagus.
hmm.. sayang sekali, begitu sampai bagian cebolang dan petualangan syahwatnya, bagiku itu udah terlalu dewasa. jadi takut hiks.
akhirnya kuberi bintang empat, dengan mengesampingkan isinya yang vulgar itu... centhini jadi terlihat manis dengan segala sejarah, filosifi dan interpretasi Elizabeth D Inandiak...
Walaupun butuh pemahaman besar dalam membaca buku ini, saya rela. Tiga kali membacanya, saya selalu menemukan hal baru dan pemahaman baru. Tanpa Elizabeth Inandiak, barangkali generasi Indonesia seperti saya dan beberapa teman saya tidak akan mengenal kisah yang semula ditulis di atas daun lontar ini, dalam huruf-huruf Jawa yang melengkung-melengkung itu. Buku ini adalah warisan budaya kita sendiri :)
ketuhan yang kita tahu selama ini dapat di perkuat lagi disini...
disini oun tertulis jelas bagaimana manusia itu tak bisa mengendalikan diri dari sebuah hasrat yg bernama sex...
semua tertulis jelas disini... kata"nya yang begitu polos sehingga menimbulkan kesan vulgar... tapi ini adalah buku yang bagus untuk kita lebih mengenal budaya kita sendiri.. khususnya budaya jawa
disini oun tertulis jelas bagaimana manusia itu tak bisa mengendalikan diri dari sebuah hasrat yg bernama sex...
semua tertulis jelas disini... kata"nya yang begitu polos sehingga menimbulkan kesan vulgar... tapi ini adalah buku yang bagus untuk kita lebih mengenal budaya kita sendiri.. khususnya budaya jawa
Pertama kali saya membaca buku ini, yang tertangkap adalah cabul. Apakah ini kamasutra jawa? saya membaca sekali lagi dari depan. Yang saya dapatkan adalah filosofi kehidupan yang amat dalam dan berlaku hingga jaman kini. Tersembunyi dalam baris katanya, lapis kalimatnya, susunan paragrafnya. Hati hati, jangan menilai dari kecabulannya.
Jan 16, 2011
Daluk
added it
good job for elizabeth.
saya ingin bertemu dengan elizabeth
saya ingin bertemu dengan elizabeth
Jul 25, 2008
nanto
marked it as to-read
Mas Anto, Matur sembah nuwun sanget nggeh. Buku nipun sampun kulo tampi.
Mugo Gusti Allah maringi njenengan buku sing katah sekalian elmu sing berkah.
*celingak-celinguk gak pedhe dengan Bahasa Jawa tanpa konsultan di atas*
Mugo Gusti Allah maringi njenengan buku sing katah sekalian elmu sing berkah.
*celingak-celinguk gak pedhe dengan Bahasa Jawa tanpa konsultan di atas*
Apr 08, 2013
Pandasurya
marked it as to-read
akhirnyaa..ternyata :D
Apr 23, 2013
Sunarto
marked it as to-read
Apr 21, 2013
Patricia Sandjaja
marked it as to-read
Apr 18, 2013
mhbudiawan
marked it as to-read
Apr 16, 2013
Ihwan
marked it as to-read
Apr 08, 2013
Nana
marked it as to-read
There are no discussion topics on this book yet.
Be the first to start one »
Share This Book
No trivia or quizzes yet. Add some now »
“Kekasihku, di jalan ada jumpa dan sua kembali. Tetapi orang berjalan sendiri-sendiri. Kupikul ragaku menempuh kemegahan Suluk, dan kamulah tembang laras Suluk itu. Kamu mengira aku pergi, padahal aku mengembara di dalam dirimu.”
—
2 people liked it
More quotes…




















Jan 09, 2009 11:29am
Jan 09, 2009 11:47am