Goodreads helps you keep track of books you want to read.
Start by marking “It's Not an All Night Fair” as Want to Read:
It's Not an All Night Fair
Enlarge cover
Rate this book
Clear rating
Open Preview

It's Not an All Night Fair

3.87  ·  Rating Details  ·  1,200 Ratings  ·  155 Reviews
Now available for the first time in English, a classic from "a novelist who should get in line for the Nobel Prize" (Los Angeles Times)

Pramoedya Ananta Toer is Indonesia's most celebrated writer, with over thirty works of fiction translated into over thirty languages, and the recipient of many major international awards, including the grand prize in the Fukuoka Asian Cul
...more
Paperback, 112 pages
Published September 26th 2006 by Penguin Books (first published 1951)
More Details... edit details

Friend Reviews

To see what your friends thought of this book, please sign up.

Reader Q&A

To ask other readers questions about It's Not an All Night Fair, please sign up.

Be the first to ask a question about It's Not an All Night Fair

Community Reviews

(showing 1-30 of 1,933)
filter  |  sort: default (?)  |  Rating Details
A.J. Susmana
Dec 01, 2009 A.J. Susmana rated it it was amazing  ·  review of another edition
Bukan Hanya Dokter
Batam Pos, MINGGU, 24 MEI 2009

AJ Susmana

Bukan Pasar Malam, novel pendek Pramoedya Ananta Toer ini, barangkali adalah novel yang paling banyak dipuji dan diapresiasi para pembaca karya-karya Pram setelah Bumi Manusia. Setidaknya, YB Mangunwidjaja seorang penulis novel dan juga rohaniwan mengatakan bahwa Bukan Pasar Malam adalah karya Pramoedya yang paling disukainya. Oleh sebagian pembaca, Bukan Pasar Malam, sering disimpulkan sebagai novel yang bernuansa religius, beraura misti
...more
aldo zirsov
Oct 13, 2009 aldo zirsov rated it really liked it
diterjemahkan ke dalam bahasa inggris, berikut introduction, postscript and notes oleh C.W. Watson....
menarik membaca kata pengantar dari penterjemah yang menceritakan saat dia mulai menterjemahkan buku ini di suatu rumah kawasan lereng tangkuban perahu jawa barat, dan usaha-usaha dia untuk memperoleh buku Pramoedya Ananta Toer di tahun 70-an di kawasan perbukuan seputaran bandung seperti cikapundung dan alun-alun kota. betapa dia mengeluhkan sulitnya mendapatkan buku2 pramoedya jaman tsb.... s
...more
Dhiyanah
Dec 02, 2014 Dhiyanah rated it liked it
This was recommended to me as an introduction to Pramoedya's work. The novella leaks sentimentality. Heaviness building up through chapters until reader follows narrator along on his struggle for words and meaning in the midst of returning home, losing a father, carrying memories of collective chaos. There are blanks and gaps in the internal monologues and dialogues that attempt to say more than they can -- this I wish was better executed. What was said and explored, however, proved significant. ...more
Marina Zala
** Books 165-2014 **

"Dan di dunia ini, manusia bukan berduyun-duyun lahir di dunia dan berduyun-duyun pula kembali pulang.. seperti dunia dalam pasar malam. seorang-seorang mereka datang.. dan pergi. dan yang belum pergi dengan cemas-cemas menunggu saat nyawanya terbang entah ke mana"

Itulah yang tertulis di belakang cover buku ini yang mengisahkan tentang seorang anak revolusi yang harus pulang ke Blora menengok ayahnya yang jatuh sakit karena TBC. Ia merasa menderita dan tertampar melihat keny
...more
Imas
Membaca buku Pram selalu membuatku terpesona. Pilihan ide cerita, kata-kata semuanya buatku menarik. Termasuk buku ini tentunya, tipis kuhabiskan dalam waktu yang tidak lama namun tetap saja beberapa kali setelah membaca satu paragraf,mengagumi kemudian kembali lagi membaca paragraf tersebut.

Ini "hanya" kisah pulang kampung seorang anak yang telah lama meninggalkan kampung halaman untuk menjenguk ayahnya yang terbaring sakit keras. Ayah yang baru saja disurati dengan ucapan kasar karena mendapat
...more
Muhammad Hasandinur
Mungkin nggak begitu netral karena belum lama kehilangan juga. But still, pilihan diksi nya khas eranya banget dan bener-bener bikin betah lama-lama (meskipun bukunya nggak tebel) baca. feels nya kemana mana mantep
Fajar
Jul 07, 2014 Fajar rated it it was amazing  ·  review of another edition
Novela ini adalah bentuk ketangkasan Pram mempersoalkan manusia. Kisah tentang kesendirian, kegamangan jiwa dalam tubuh perwira yang melihat kenyataan di sekitarnya.

"...masalah-masalah manusia tetap muda seperti waktu. Di mana pun juga dia menampakan dirinya. Di mana pun juga dia menyerbu ke dalam kepala dan dada manusia, dan kadang-kadang ia pergi lagi dan ditinggalkannya kepala dan dada itu kosong seperti langit."(hlm.66)








Leonart Maruli
Jadi ingat Bapak...anakmu ini sudah kurang ajar sama Bapak selama ini...

Tulisan ini sederhana nan memikat...
Mia Prasetya
Mengapa orang ini tak ramai-ramai lahir dan ramai-ramai mati? Aku ingin dunia ini seperti Pasarmalam.

Raditya Dika
Jul 02, 2007 Raditya Dika rated it it was amazing
I always feel that pramoedya is overrated, but this one.. man, it's just moving, trancendent, and gives a great rememberance of the legendary author. there's a sense of awe after reading this book, a feeling that human is such a fragile creature and pramoedya did that only by giving a story of a man getting back on a train to his father's funeral.

to quote the book, "why couldnt people born together and die together.. like an all night fair." forget the buru quartet, this one is such a perfect
...more
Tria Nita Situmorang
Buku ini cukup tipis dengan cover yang menurut saya kayak buku pelajaran IPS. Jujur, kalau nggak ada tulisan 'Pramoedya Ananta Toer' di cover-nya, nggak mungkin saya sentuh apalagi baca.
Buku ini isinya sederhana banget, cuma nyeritain sosok anak yang udah lama nggak ketemu Bapaknya. Si Bapak dalam buku ini juga nggak kalah sederhana. Bikin saya gampang buat mengimajinasikan sosok beliau. Bikin saya berharap masih ada orang yang sebaik beliau. Bikin saya terus percaya kebaikan itu memang harusnya
...more
Natasha Primaditta
"Seorang. Seorang. Seorang. Dan seorang lagi lahir. Seorang lagi. Seorang lagi. Mengapa orang ini tak ramai-ramai lahir dan ramai-ramai mati? Aku ingin dunia ini seperti Pasarmalam."

Bukan Pasarmalam merupakan buku Pramoedya Ananta Toer yang pertama saya baca dan saya jatuh hati membacanya. Kenapa? Karena Bukan Pasarmalam berbeda. Plotnya simpel dan mengalir cepat tanpa banyak penjelasan akan background tokoh utama, "aku". Tapi dari sudut pandang "aku", saya merasa diajak untuk menjadi "aku" dan
...more
Celina Yuwono
Bukunya tipis, tapi isinya kayak intisari hidup. Maksleb.

Seperti biasa buku ini disampaikan, dengan gaya sastrawan lekra.
Sastrawan lekra adalah jenis sastrawan yg digolongkan pada masa Orde Lama-Baru yang menulis berdasar realis-sosialis. Condong ke arah gerakan protes pena, adakalanya melakukan penolakan ideologi ataupun tata pemerintahan lewat tulisan.

Pramoedya Ananta Toer adalah salah satu sastrawan lekra di Indonesia, berlawanan dengan sastrawan beraliran manikebu(manifestasi kebudayaan) yg
...more
Larasestu Hadisumarinda
Mar 10, 2015 Larasestu Hadisumarinda rated it it was amazing  ·  review of another edition
Shelves: 2015
Sejujurnya saya gak ingat pernah beli buku ini. Jika buku ini diberikan oleh seseorang, saya juga gak ingat siapa. Saya temukan buku ini kemarin saat beres-beres buku, nyortir buku yang udah saya baca dan belum. Dan ternyata ada 1 buku Pramoedya masih rapi dalam segelnya. Bukunya tipis, judulnya Bukan Pasar Malam. Entah, saya berfikir, apakah buku ini sengaja menyembunyikan diri sehingga baru saya baca sekarang. Mungkin jika saya membaca buku ini sebelum tragedi 26 Januari, saya gak bakalan seka ...more
Odet Rahmawati
Aug 27, 2014 Odet Rahmawati rated it it was amazing  ·  review of another edition
Suka sekali dengan tokoh Bapak di buku ini. Konon beliau turut memperjuangkan kemerdekaan republik di masanya ia hidup, tapi semua jasanya hanya dibalas dengan cemoohan orang-orang di sekitarnya. Yah, ini mah memang sudah kebiasaan buruk manusia, bukan? Menilai seenaknya, berkomentar tanpa tahu perkara yang sebenarnya. Heu.


Bapak di buku ini memilih menjadi guru ketimbang menduduki salah satu kursi di 'atas' sana. Katanya beliau lebih rela jadi orang miskin dan semua jasanya dilupakan, ketimbang
...more
Roswitha Muntiyarso
Sebuah novel pendek karangan Pram. Sangat pendek namun benar-benar menggambarkan sebuah kebimbangan hati seorang pejuang ketika dihadapkan pada kematian.

Saya mendapatkan buku ini dari seorang teman dekat, sebagai hadiah ulang tahun saya ke-23 (meskipun saya sudah tidak ingin membicarakan event peringatan hilangnya setahun jatah umur tersebut). Ia membeli buku ini sesaat sebelum kami berjanji untuk ketemu. Dia mengetahui saya menyukai karya Pram dan membelikannya untuk saya. Untuk kali ini, sekal
...more
Esterina Danar
Sebuah novel dari Pramoedya Ananta Toer. Novel pertama karangan Pram yang baru saya baca sekitar tiga minggu yang lalu. Tak lama menghabiskan novel setebal seratus empat halaman ini, kira - kira menghabiskan waktu dua hari.

"dan di dunia ini, manusia bukan berduyun - duyun lahir di dunia dan berduyun - duyun pula kembali pulang...seperti dunia dalam pasarmalam...Seorang-seorang mereka datang. Seorang - seorang mereka pergi. Dan yang belum pergi dengan cemas - cemas menunggu saat nyawanya terbang
...more
Andrea Ika
Mar 14, 2014 Andrea Ika rated it it was amazing  ·  review of another edition
Resensi Buku: Bukan Pasar Malam

Pramoedya Ananta Toer #review2014


Judul : Bukan Pasar Malam
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Tebal Halaman: 104 hal
Penerbit: Lentera Dipantara
ISBN: 978-979-38-2003-3
Tahun Terbit: 2004
Rating : 5 bintang



Perjalanan seorang anak revolusi yang pulang kampung karena ayahandanya jatuh sakit. Dari seputaran perjalanan itu, terungkap beberapa potong puing gejolak hati yang teka pernah teranggap dalam gebyar-gebyar revolusi.

Dikisahkan bagaimana keperwiraan seseorang dalam revolus
...more
Ria
May 29, 2014 Ria rated it really liked it  ·  review of another edition
"Aku tak mau jadi ulama. Aku mau jadi Nasionalis. Karena itu aku jadi guru. Membukakan pintu hati anak-anak untuk pergi ke taman, patriotisme. Karena itu aku memilih jadi guru. Jadi lembaga bangsa"

"Dan di dunia ini, manusia bukan berduyun-duyun lahir di dunia dan berduyun-duyun pula kembali pulang...seperti dunia dalam pasar malam. Seorang mereka datang...dan pergi. Dan yang belum pergi dengan cemas mengunggu saat nyawa terbang entah kemana"
F.E.
Oct 15, 2014 F.E. rated it it was amazing  ·  review of another edition
Buku ini mengalahkan The Ghost yang saat ini masih dalam proses saya baca! Wow! Bukan Pasarmalam adalah buku karya Pramoedya Ananta Toer pertama yang saya baca. Thanks to Citra Pramudya yang rela rombak isi kardus bukunya demi menemukan buku cetak kuliah dan sekalian buku ini. Saya ingat, waktu dia beres-beres sebelum pindah ke kostan barunya, buku ini saya pack di dalam kardus berisi buku penting untuk mengerjakan skripsi.

Dan saya tidak sangka buku yang sempat direkomendasikannya pada saya ini
...more
Nadia Fadhillah
Mar 09, 2012 Nadia Fadhillah rated it it was amazing  ·  review of another edition
Shelves: owned, favorites
keren! tulisan pram yang bikin aku berkaca-kaca dan menggelinang pada akhirnya. Meskipun tulisannya bikin nangis dan sedih, bukan sama sekali buku yang cengeng. Keren banget lah, termasuk salah satu jejeran buku terbaik bagiku. Untuk pembaca pemula Pram, yang kadang tidak selesai membaca buku-buku Pram yang lebih terkenal (misalnya Tertalogi Buru), buku ini bisa jadi langkah awal dalam membaca Pram. Silahkan dibaca :)
Kelana Wisnu
Nov 10, 2015 Kelana Wisnu rated it really liked it  ·  review of another edition
“Imagine all the people living for today” lirik lagu John Lennon melintasi pikiran saya ketika buku ini hampir menemui akhir ceritanya. Novel ini pada zamannya berperan besar mewarnai dunia sastra Indonesia yang kurang produktif ,dan karya sastra pada waktu itu menyajikan permasalahan yang tidak jauh berbeda antara satu dengan yang lain.

Berfokus pada seorang anak revolusi yang terpaksa pulang kampung halamannya di Blora, Jawa Tengah. Dia memutuskan untuk pulang karena menerima surat balasan ayah
...more
Fitri Siregar
Dec 14, 2015 Fitri Siregar rated it really liked it  ·  review of another edition
Buku pertama karya Pramoedya Ananta Toer yang baru saya baca. Cukup menantang, karena berhasil membuat saya membaca satu kalimat berulang ulang kali untuk memastikan maksud dan isi kalimat.
Berkisah tentang perjalanan menuju rumah manusia yang terakhir. Semasa hidup di dunia banyak melakukan kebaikan demi orang lain, yang sering mengorbankan perasaan sendiri. Seperti pepatah katakan manusia mati meninggalkan ingatan ingatan yang dilakukan semasa hidupnya.
Jika selama hidupnya berbuat baik maka set
...more
Achmad Soefandi
Nov 03, 2014 Achmad Soefandi rated it really liked it  ·  review of another edition
novel tipis yang ditulis oleh pramoedya ini membahas masalah bagaimana tokoh aku ini menjalani harinya sewaktu ayahnya sakit sampai akhirnya meninggal dunia. Novel ini sarat dengan nilai spritual yang diajarkan kepada para pembacanya. Novel ini juga menguras emosi pembaca, dimana pembaca diajak untuk ikut merasakan bagaimana rasanya sebagai seorang anak yang sedang menunggu ayahnya sedang terbaring diranjang dirumah sakit. Bentuk bakti seorang anak kepada ayah digambarkan dalam novel ini. Selain ...more
Ina
Apr 20, 2014 Ina rated it liked it  ·  review of another edition
Kerap melihat buku ini di toko buku tapi entah kenapa tidak begitu tertarik untuk membelinya. Hingga suatu saat seorang teman dekat merekomendasikannya untuk dibaca. Katanya, dia seperti sedang berkaca pada pengalamannya sendiri; harus pulang dari perantauan, dan dalam kondisi belum mapan benar dihadapkan pada persoalan keluarga: Sang Ayah sakit!

Salah satu kutipan yang cukup menyentil kuping saya adalah: "Rumah yang sejak kecil aku huni sudah reyot dan tua, tetanggaku bilang “Apabila rumah itu r
...more
htanzil
May 28, 2009 htanzil rated it really liked it  ·  review of another edition
Novel PAT terbitan Bara Budaya ini dikemas dengan lux, edisi mewah, semua halamannya dicetak dia atas kertas art paper yang mengkilat dan diberi ilustrasi.

Bukan Pasar Malam ini dipercaya sebagai sepenggal kisah kehidupan Pram. Novel pendek yang sarat perenungan.
Lilia Zuhara
Seorang pemuda yang tinggal di kota memutuskan untuk kembali ke Blora, kampung halamannya, setelah mendengar kabar ayahnya sakit. Sesampainya di Blora, ia menemukan bahwa penyakit ayahnya bukan sekedar sakit fisik, namun lebih pada kesedihan yan menggerogoti jiwa dan raga.

Pram berusaha untuk mempigurakan kehidupan masyarakat di masa setelah kemerdekaan. Masa dimana masyarakat Indonesia mempunyai hak dan kemampuan untuk berpolitik dan menentukan nasibnya sendiri. Orang-orang yang dulu berjuang be
...more
Margiant Sadian
Feb 14, 2015 Margiant Sadian rated it it was amazing  ·  review of another edition
Shelves: done
roman pendek tentang anak revolusi yang pulang ke masa lalu untuk menjenguk ayahnya yang sakit keras; tbc. kenangan-kenangan berkeliaran. penyesalan, kritik sosial dan politik, militerisme, romantisme keluarga--semuanya diikat dalam alur dan tuturan yang sangat-sangat padat dan solid. saya seperti melihat sebuah potret realistis kehidupan, tanpa perlu dibubuhi keterangan--terlalu jelas dan jujur.

pengalaman membaca saya selama ini, jarang sekali mendapati kisah cinta keluarga dalam relasi ayah-an
...more
Ilma
Jan 27, 2016 Ilma rated it really liked it  ·  review of another edition
Suatu hari Halimah mengadakan giveaway buku di grup whatspp. Membaca bahwa pengaranya adalah Pram, saya tidak berpikir dua kali untuk menjapri Halimah menyatakan minat atas buku tersebut. Alhamdulillaah..ternyata rezeki. Saya tertarik memiliki buku ini karena belum pernah membaca karya manapund ari Pramoedya Ananta Toer.
Saya menikmati buku ini, beberapa kosakata di dalamnya tidak saya pahami sehingga saya sepertinya harus membaca ulang sambil mencari artinya. Membaca buku ini mengingatkan saya p
...more
Afif Khoiruddin
May 29, 2015 Afif Khoiruddin rated it really liked it  ·  review of another edition
Pramoedya Ananta Toer saya kira salah satu satrawan besar Indonesia sampai saat ini. Besar dalam hal ini dibalik karyanya yang begitu produktif, Pram -begitu sapaannya- juga menyisipkan kondisi-kondisi sosial, sejarah dan juga nilai-nilai yang sangat dalam dalam setiap karyanya. Begitu juga dalam Bukan Pasar Malam.

Bukan Pasar Malam merupakan salah satu Roman karya Pram. Pram sangat detail dalam menggambarkan setiap kondisi di tiap bagian roman tersebut. Mulai dari surat ayah yang rindu akan anak
...more
« previous 1 3 4 5 6 7 8 9 64 65 next »
topics  posts  views  last activity   
Mengenang Pram dengan Bookmark 1 4 May 28, 2015 01:53AM  
  • Di Kaki Bukit Cibalak
  • Burung-Burung Manyar
  • Jalan Tak Ada Ujung
  • Kitab Omong Kosong
  • Para Priyayi: Sebuah Novel
  • Amba
  • Canting
  • Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma
  • Pulang
  • Ca Bau Kan: Hanya Sebuah Dosa
  • Anak Bajang Menggiring Angin
  • Aku Ingin Jadi Peluru (Kumpulan Puisi)
101823
Pramoedya Ananta Toer was an Indonesian author of novels, short stories, essays, polemics, and histories of his homeland and its people. A well-regarded writer in the West, Pramoedya's outspoken and often politically charged writings faced censorship in his native land during the pre-reformation era. For opposing the policies of both founding president Sukarno, as well as those of its successor, t ...more
More about Pramoedya Ananta Toer...

Share This Book



“Di dunia ini manusia bukan berduyun-duyun lahir dan berduyun-duyun pula kembali pulang. Seorang-seorang mereka datang. Seorang-seorang mereka pergi. Dan yang belum pergi dengan cemas-cemas menunggu saat nyawanya terbang entah ke mana.” 18 likes
“Demokrasi sungguh suatu sistem yang indah. Engkau boleh memilih pekerjaan yang engkau sukai. Engkau mempunyai hak sama dengan orang-orang lainnya. Dan demokrasi itu membuat aku tak perlu menyembahdan menundukkan kepala pada presiden atau menteri atau paduka-paduka lainnya. Sungguh, ini pun suatu kemenangan demokrasi. Dan engkau boleh berbuat sekehendak hatimu bila saja masih berada dalam lingkungan batas hukum. Tapi kalau engkau tak punya uang, engkau akan lumpuh tak bisa bergerak. Di negara demokrasi engkau boleh membeli barang apapun yang engkau sukai. Tapi kalau engkau tak punya uang engkau hanya boleh menonton barang yang engkau inginkan itu. Ini juga semacam kemenangan demokrasi.” 2 likes
More quotes…