Max Havelaar: Or the Coffee Auctions of the Dutch Trading Company (Penguin Classics)
by Multatuli (Eduard Douwes Dekker)published
September 1st 1995
(first published 2008)
by Penguin Classics
edit
binding
Paperback, 352 pages
isbn
0140445161
(isbn13: 9780140445169)
description
When Max Havelaar was first published in Holland in 1860, it ignited a major political and social brouhaha. The novel, written by a former offi...more
Sign in to Goodreads to see your friends' reviews of this book.
discuss this book
friend reviews (0)
To see what your friends thought of this book, please sign up.
lists with this book
Where's the love? Add this book to your favorite list.
other reviews (showing 1-20 of 207)
Read in January, 2008
Mengharukan, kisah cinta Saidjah dan Adinda
-----------------
"Bila aku mati di Badur,
dan aku ditanam di luar desa,
arah ke Timur di kaki bukit yang rumputnya tinggi;
Maka Adinda akan lewat di sana,
tepi sarungnya perlahan mengingsut mendesir rumput,....
Aku akan mendengarnya.
.....
Maka malaikat melihat mayatku
Diberitahunya saudara-saudaranya,
ditunjuknya mayatku dengan jarinya
“lihatlah, nun jauh disana ada seorang mati terlupa
Mulutnya kejang mencium kembang mel...more
-----------------
"Bila aku mati di Badur,
dan aku ditanam di luar desa,
arah ke Timur di kaki bukit yang rumputnya tinggi;
Maka Adinda akan lewat di sana,
tepi sarungnya perlahan mengingsut mendesir rumput,....
Aku akan mendengarnya.
.....
Maka malaikat melihat mayatku
Diberitahunya saudara-saudaranya,
ditunjuknya mayatku dengan jarinya
“lihatlah, nun jauh disana ada seorang mati terlupa
Mulutnya kejang mencium kembang mel...more
Like this review?
yes
(3 people liked it)
10 comments
bookshelves:
a-must-read-book-for-me,
buku-dan-film,
history-and-sociology,
nant-s-book,
novel
Ini buku bagus yang terlebih dulu saya nonton filmnya. Termasuk salah satu buku yang kemudian memunculkan kritik pedas terhadap kolonialisme di Hindia Belanda (lihat buku Robert Nieuwenhuys (ed.) “Bianglala Sastra” yang di-Indonesia-kan oleh Dick Hartoko, atau judul Inggrisnya Mirror of the Indies). Pengarangnya menggunakan nama pena Multatuli (He who has suffered much) atau nama aslinya Eduard Douwes Dekker. Masih ada hubungan darah dengan pahlawan nasional D. Setiabudi, bahkan kerap disa...more
Like this review?
yes
(2 people liked it)
6 comments
bookshelves:
sejarah
Read in July, 2007
tidak semua org Belanda yang hidup tiga ratus tahun lalu di negeri ini adalah penjajah. Perjuangan Multatuli adalah anomali. Sebagai seorang asisten residen dia justru memperjuangkan kaum pribumi-buruh tani di Lebak Banten.
tetapi hingga kini, masih saja buruh-tani terjajah. Kali ini oleh bangsanya sendiri. Lebih miris.
NB : Bos gw mpe bikin naskah drama-teaternya...hiks, sedih bacanya.
tetapi hingga kini, masih saja buruh-tani terjajah. Kali ini oleh bangsanya sendiri. Lebih miris.
NB : Bos gw mpe bikin naskah drama-teaternya...hiks, sedih bacanya.
Like this review?
yes
(1 person liked it)
5 comments
bookshelves:
novelkeren,
sejarah
Buku merupakan karya Multatuli alias Eduard Douwes Dekker, seorang mantan pejabat Hindia Belanda yang iba pada penindasan yang dialami oleh penduduk Jawa. Ia menulis novel ini pada tahun 1859 dengan harapan para mantan Gubernur Jendral, pejabat, pendeta, anggota Dewan Perwakilan Rakyat, dan masyarakat Eropa mengetahui apa yang terjadi di kerajaan besar milik Belanda di Luar Negeri. Buku ini dipercaya sebagai salah satu penyulut banyaknya kecaman terhadap pemerintah Belanda. Tanam Paksa yang memp...more
Like this review?
yes
add a comment
bookshelves:
political-economy-novels
Read in July, 2008
recommends it for:
those interested in colonial adminstration
This book was a landmark event when it was published in the mid 19th century. It really shook up the Dutch self-understanding of their colonial efforts in what we now call Indonesia.
The setting is colonial Indonesia in the early 19th century. The book is largely autobiographical and multi-perspectival; while it follows one honest bureaucrat's efforts to do justice for the "natives," the narrative is often interrupted by other characters' points of view.
The beauty of the book...more
The setting is colonial Indonesia in the early 19th century. The book is largely autobiographical and multi-perspectival; while it follows one honest bureaucrat's efforts to do justice for the "natives," the narrative is often interrupted by other characters' points of view.
The beauty of the book...more
Like this review?
yes
add a comment
bookshelves:
fiction
Read in December, 2007
This review has been hidden because it contains spoilers. To view it, click here.
Like this review?
yes
add a comment
bookshelves:
non-fiction
Multatuli means "I have suffered much". I can reflect a lot on the subject of injustice, especially that of the Dutch colonialism. It is very touching to read and understand that it doesnt take an ancestry to promote human rights. Colonialism is never a good thing, but it is still alive today in other forms. Should we say colonialism gives ways to injustice and violence?
Like this review?
yes
add a comment
Read in August, 2008
Ternyate yang ngejajah rakyat indonesia bukan cuma meneer meneer belanda nyang kerja ame kumpeni doang, tapi juga para demang, bupati, residen yang nyari keuntungan di tengah kesempitan. Sayangnye kelakuan pejabat dari jaman belande ampe sekarang masi aje sama..
godferdomsey!! kowe orang tau dimana itu si pitung??
lho..??
godferdomsey!! kowe orang tau dimana itu si pitung??
lho..??
Like this review?
yes
2 comments
Read in December, 2007
belum selesai sih bacanya. sengaja saya baca beriringan antara buru quartetnya pramudya dengan max haveelar. bagi saya, sekilas malas membacanya. tapi setelah beberapa saat, rasanya tak mau saya menghentikan bacaan ini. bagus. penuh semangat. paling suka ceritanya saijah dan adinda. trus puisinya saijah ketika menunggu adinda.
Like this review?
yes
1 comments

























