Goodreads helps you keep track of books you want to read.
Start by marking “From Beirut to Jerusalem” as Want to Read:
From Beirut to Jerusalem
Enlarge cover
Rate this book
Clear rating
Open Preview

From Beirut to Jerusalem

4.32  ·  Rating Details ·  426 Ratings  ·  87 Reviews
Kisah pengabdian seorang dokter perempuan di kamp pengungsian Palestina
Paperback, 656 pages
Published 2007 by Mizan (first published 1989)
More Details... edit details

Friend Reviews

To see what your friends thought of this book, please sign up.

Reader Q&A

To ask other readers questions about From Beirut to Jerusalem, please sign up.

Be the first to ask a question about From Beirut to Jerusalem

This book is not yet featured on Listopia. Add this book to your favorite list »

Community Reviews

(showing 1-30)
filter  |  sort: default (?)  |  Rating Details
Teh
Mar 20, 2010 Teh rated it it was amazing  ·  review of another edition
"Kita hanya bisa menciptakan perdamaian jika ada keadilan," kata2 ini yg terus saya inget dr buku ini.

Buku ini merupakan kesaksian dr. Swee tentang
Pembantaian Sabra-Shatila, kamp pengungsi Palestina di Beirut,
Lebanon, pada 1982. Pembantaian Sabra-Shatilla merupakan salah satu tonggak paling tragisdalam konflik Israel-Arab; dan merupakan jejak Israel yang berlumurandarah dalam konflik yang sampai hari in belum juga kunjung usai.

Yang paling menarik dari buku ni adalah penulisnya, Dr. Swee adalah s
...more
Nazmi Yaakub
ANDAINYA Dr Ang Swee Chai memperincikan perjuangan dalam misi kemanusiaannya di Lubnan dalam Dari Beirut ke Jerusalem, pastilah memoir ini tidak akan menemukan kesudahannya dan kita tidak berupaya mengempang air mata.

Pembaca lelaki dimaaf dan dibenarkan untuk menangis ketika membaca catatan sukarelawan sehingga tiada siapa pun yang akan menimbulkan soal kejantanannya atau sekurang-kurangnya berasa sebak ketika memamah catatan pandangan pertama doktor bedah yang bertugas ketika kem pelarian Pales
...more
Ainun Nazrin
Refleksi

1982-1988; Malaya: Aku sibuk main masak-masak; aku sibuk main polis sentri dengan kawan-kawan; aku belajar kenal huruf, kenal angka, muqaddam dan Al Quran; aku kumpul setem dan duit syiling sebagai hobi.

1982-1988; Sabra & Shatila, Beirut: Kanak-kanak sebaya aku tak cukup air dan makanan, kanak-kanak sebaya aku main baling-baling batu dengan tentera Israel, kanak-kanak sebaya aku kenal erti jihad, erti survival dan belajar menentang penjajahan; kanak-kanak sebaya aku kumpul serpih-ser
...more
Lala
Feb 23, 2008 Lala rated it it was amazing  ·  review of another edition
Recommends it for: noni
astaqfirullah....
buku ini bener-bener menyentuh...
bagian yang bikin aku bener-benar kena di hati, saat salah seorang temen dr. swee cerita kalo ada anak kecil umur 3 tahun yang nglemparin batu ke tentara israel, tentara israel-nya siapamarah "Anak kecil tidak seharusnya ngerti cara seperti ini!!siapa yang ngajarin kamu?..anak kecilnya menjawab "kakakku"...trus tentara tadi minta anak kecil itu nganterin ke rumahnya dan bertemu dengan kakaknya..ternyata kakaknya adalah anak kecil umur 4 tahun..
se
...more
Novian Anggis
Mar 20, 2010 Novian Anggis rated it really liked it  ·  review of another edition
Kisah yang luar biasa yang di tuliskan oleh dr Ang Swee Chai selama menjadi dokter ortopedis di Beirut dari tahun 1982, saat terjadi pembantaian warga Palestine besar2an di Shatila dan Sabra. Perjuangannya untuk memberikan kesetaraan, kebahagiaan yang seharusnya di miliki oleh setiap warga Palestine yang ada di sana, yang terus menerus mengalami siksaan baik fisik maupun mental, tekanan yang tak kunjung berakhir dan beribu penderitaan lain yang begitu menyakitkan dan menyedihkan.
dr. Swee menemuk
...more
Heba
Mar 04, 2013 Heba rated it it was amazing  ·  review of another edition
An honest - at times touching, at times horrifying - eyewitness account by a Christian British-Singaporean woman surgeon on the Sabra and Shatila massacres and what followed them. A heavy read, but also an amazing, amazing, amazing book that gives you hope - there are still some good people out there.

"I am not an Arab, nor am I a Muslim. I am not a European, and I have neither the difficulty of living with the guilt of Nazism, nor the responsibility for the British Mandate in Palestine. For me,
...more
dhika
Sep 05, 2010 dhika rated it really liked it  ·  review of another edition
Buku yang bagus, layak dibaca. Selesai saya membaca buku ini, membuat saya banyak bersyukur pada Tuhan YME bahwa, di hidup saya yang biasa-biasa ini ternyata adalah hidup termahal yang harus dibayar di Shabra-Shatilla. Di sisi lain, saya belajar tentang toleransi agama, bahwa bukan agama yang menjadikan seseorang jahat, akan tetapi, memang sifat yang ada pada dirinya.

Two Thumbs Up!! Must Buy! :D
Tezar Yulianto
Salah satu bagian yang tak terlupakan dari buku ini, ketika dr. Ang terpaksa harus mengoperasi pasien Palestinya, tanpa ketersediaan obat bius. Tapi sang pasien menabahkan dr. Ang dengan perkataan, "Doctora, Anda lupa? Saya seorang Palestina":
One of must-read-books.
Norain
Heart-wrenching. If you read and you don't feel a thing, then something must have gone really wrong with either your head or your heart.
Muhammad Faez
Nov 21, 2010 Muhammad Faez rated it it was amazing  ·  review of another edition
Even if the newspapers won't print our story, it will still be written: it will be written with the blood of our martyrs.

Cik Aini
Terima kasih Mudin kerana meminjamkan buku ini kepada saya. Sebelum memulakan pembacaan, semat di dalam hati, buku ini jauh bezanya dengan buku From Beirut to Jerusalem. Buku yang ditulis Friedman banyak ke arah pandangan seorang jurnalis.

Buku ini merupakan lebih kepada catatan peribadi/jurnal, rakaman pengalaman Dr Ang mengenai keadaan di Lubnan ketika bertugas di sana. Dr Ang merupakan seorang devout Christian yang mengabdikan diri dalam membantu penduduk Palestin yang hidup di dalam buangan.
...more
Letitia
Mar 15, 2014 Letitia rated it it was amazing  ·  review of another edition
Recommends it for: Singaporeans looking for a hero
Recommended to Letitia by: Choon Hwee
Utterly inspirational. Dr. Ang, a.k.a. "Doctora Swee" is intelligent, precise, humble, and a person of great compassion (both for the Palestinians and for the Israelis, and the Lebanese and Syrians and everyone caught in between). She’s done so much for the Palestinians, she even received the Star of Palestine from Yasser Arafat. It’s a transformative, universal story because Dr. Ang went into the conflict with no political preconceptions – in fact, she believes God called her to it – and ended ...more
Ningsih
Apr 23, 2013 Ningsih rated it it was amazing  ·  review of another edition
Shelves: true-story
Dengan sistem cicil mencicil akhirnya selesai juga buku ini.. :D Sampai saat menulis review ini pun, setiap kali membayangkan ulang gambaran peristiwa yang dipaparkan di buku ini, tentang detail kondisi pengungsian dan penderitaan penduduk shabra dan shatila dan juga kamp2 pengungsi lainnya yang tersebar di lebanon, palestina ataupun di daerah perbatasan dengan israel, aku masih tetap merinding.
Buku ini layak dibaca semua orang. Bukan agar kita semakin membenci satu sama lain, membenci bangsa t
...more
Norziati
May 15, 2012 Norziati rated it it was amazing  ·  review of another edition
Menjadi saksi kepada tragedi di kem Sabra dan Kem Shatila, Dr Ang Swee Chai mengenepikan sentimen agama bagi menjadi sukarelawan di Beirut. Kemanusiaan baginya tidak mempunyai sempadan agama meskipun beliau berpegang kepada ajaran Kristian dan mengetahui kisah seputar Israel dan Palestin seperti yang terdapat dalam Injil.

Atas kesedaran tersebut, beliau tampil memberi kenyataan kepada Suruhanjaya yang ditubuhkan bagi menyiasat tragedi Sabra-Shatila. Seterusnya, beliau menubuhkan Medical Aid for P
...more
Fadillah
My friend told me about how she met Dr. Ang Swee Chai accidentally in toilet without knowing who she really is. At that time, she already past 50 and has been famous for her charity works and bravery in helping people especially in Palestine. Reading her book is like reading what's been kept deep in her heart. Intense and personal but you can sense the sincerity of hers via this. I am glad and proud that she is part malaysian and still consider herself one. I cried most when she described Shatil ...more
Meita
Nov 07, 2010 Meita rated it it was amazing  ·  review of another edition
"From Beirut to Jerusalem adalah mimpi abadi setiap orang palestina di pengasingan. diusir dan dibuang ke pengasingan sejak tanah air Palestina dirumah menjadi Israel pada 1948, jutaan warga yang merana di pengungsian di seluruh Lebanon, Suriah, Yordania, dan negara lain tak pernah berhenti berharap untuk dapat pulang dan memperoleh haknya kembali ke tanah air mereka. Jika bukan tahun ini, maka tahun depan mereka akan tiba di Jerusalem"

buku ini menceritakan tentang perjalanan dr. Ang Swee Chai s
...more
Abdul Wahid Muhaemin
Kumpulan laporan yg jujur dengan penggambaran peristiwa di lapangan yg sangat mendetail saat si penulis terjun langsung di wilayah konflik Timur Tengah, dimana beliau adalah seorang dokter relawan medis yg juga seorang Kristen fundamentalis.

Dalam penyusunan bukunya ini, saya mengira bahwasanya penulis mendapatkan motivasi yg besar lantaran pengalamannya itu telah membuatnya tersentak dan sadar akan mana kebohongan semu dan kebenaran yg nyata, yg berangkat dari situ telah membawa penulis terbebas
...more
Alisyah Samosir
Sep 13, 2010 Alisyah Samosir rated it it was amazing  ·  review of another edition
Buku ini benar-benar laporan yang sangat detail mengenai pengarang selama berkiprah membantu warga Palestina dan Lebanon menjalani masa-masa suram dibawah pengendalian tentara Israel.

Tidak akan pernah terbayangkan keadaan dunia ini yang paling suram kecuali gambaran detail tentang daerah Sabra dan Shatila yang digambarkan di buku ini.

Pun tidak akan ada orang yang lebih kejam dan biadab di bumi ini kecuali orang-orang Israel. Keseluruhan!

Buku ini sedikit mulai menjawab pertanyaan yang selama ini
...more
Suci ays
Nov 14, 2010 Suci ays rated it it was amazing  ·  review of another edition
Buku ini sanggup menggetarkan hati dan membuat mataku basah bahkan ketika aku belum membuka sampulnya, hanya membaca sinopsis di sampul belakang buku.

Membaca buku ini seperti membaca diary seorang dokter banyak sekali istilah - istilah medis bertebaran dimana - mana, latar belakang tempat digambarkan dengan detail, membawa pembaca seolah - olah kita sedang mengikuti perjalanan Dr. Ang Swe Chai di Beirut.

Buku ini menggambarkan pembantaian Shabra dan Shatilla di kamp pengungsian palestina Beirut d
...more
Septy Anggraeni
Sep 05, 2014 Septy Anggraeni rated it really liked it  ·  review of another edition
kisah perjalanan seorang dokter ortopedis kristiani yang terpanggil hatinya untuk membantu korban perang di Beirut, Lebanon. Dari Beirut kemudian mengantarkannya sampai ke Palestina. semenjak kecil dia ajarkan bahwa PLO (Palestine Libaration Organitation-Organisasi Pembebasan Palestina) adalah sebuah organisasi teroris. Namun kemudian ia menyadari bahwa hal tersebut tidak tepat. Buku ini menceritakan dengan detail setiap pengalaman dr.swee selama menjadi relawan di lebanon dan palestina. setting ...more
mai
Feb 23, 2016 mai rated it liked it  ·  review of another edition
kerja keras banget menyelesaikan buku ini karena saya paling susah baca buku kalau ada adegan pembunuhannya.

nggak takut darah tapi kalau ngebaca, pasti kebayang dan gak tau kenapa malah takut.

baca buku ini berkali2 mengernyitkan gigi karena ngilu. sedihnya dapet. tapi bayangan lokasi yang kanan-kirinya di bom menyisakan satu tempat aja yang selamat di tengah-tengahnya kurang dapet. rasanya nggak masuk akal T_T

bagian habis ada bom terus banyak korban yang masuk rumah sakit dengan keadaan kaki dan
...more
Busyoiri Imtiyaz
Nov 07, 2013 Busyoiri Imtiyaz rated it really liked it  ·  review of another edition
aku baca versi terjemahan bahasa melayu. versi yg aku percaya dibuat sempena 25 tahun sambutan pembantaian shabra dan shatilla.

buku ini cukup inspiring. tajuk buku ini sahaja memberi aku sangkaan perjalanan dia(pengarang) dari beirut,lubnan ke jerusalem,palestin.

tapi aku silap. setelah habis bab yg ke 2 akhir baru ak faham tajuk buku ini dan mengapa buku ini di tulis.

semangat kebangkitan untuk hidup rakyat palestin di kem pelarian shatilla merebak ke jerusalem sehingga rakyat palestin di sana ba
...more
Annisa Anindita
Jul 21, 2013 Annisa Anindita rated it it was amazing  ·  review of another edition
For me this book was amazing! Totally amazing!

The condition of my brothers and sisters in Palestine, Lebanon were just headlines before I read this book. After reading this book, I keep questioning how on earth could something so cruel happen in this world?

This book gave me a great picture of how Palestinians had to live their lives. I totally admire the women in this book. How they were all brave, smart, and kind-hearted.

Totally a must read book for girls, women, muslims, peace-lovers... This
...more
Simpet Soge
Sep 18, 2014 Simpet Soge rated it really liked it  ·  review of another edition
Seorang wanita mungil asal Asia Tenggara nekat bekerja di antara dentuman bom Israel di kamp-kamp pengungsi Palestina. Menjadi tim kesehatan ‘tidak resmi’, dokter ahli bedah tulang ini menyaksikan bahwa banyak relawan ‘resmi’ Palang Merah Internasional yang bahkan tidak cukup terlindungi dan akhirnya mati akibat perang.
Tokoh kita ini tidak takut mati. Naluri keibuan membuatnya ingin melindungi dan memberi harapan bagi mereka yang lemah. Membaca buku ini, kita diajak untuk menyimak langsung kondi
...more
Sri Een Hartatik -
Jujur saja, sebelum membaca buku ini saya hanya mengetahui sedikit sekali tentang Palestina...

Di dalam buku ini, digambarkan tentang betapa kejamnya entitas Israel yang merampas tanah air dan membantai rakyat Palestina , dalam pembantaian Sabra Shatila, dan dalam pembantaian2 selanjutnya...

Karena di satu sisi saya juga menyukai ilmu kedokteran, buku ini benar2 menarik. Penulisnya adalah seorang dokter ahli orthopedi, yang semula dengan keyakinannya mengira bahwa rakyat Palestina adalah teroris.
...more
Helga Soenimanggar
dr. Ang lee,, you are the inspiration to make good will and make me thingking what i can do for people and make them feel their not lonely and still have people that care about them. good book of the doctor in Beirut,Lebanon in the civil war area, how the medic people fighting to rescue live and while outside of hospital building people hunting to killed more people. ironic of war. and childrens more suffered than us in that situation. can you imagine you need to rescue somebody but with limited ...more
'izzati Idris
Mar 28, 2015 'izzati Idris rated it it was amazing  ·  review of another edition
Heart wrenching.Menghabiskan pembacaan dengan air mata.Dan dalam diam masih berharap apa yang dibaca hanya fiksi semata.Ya Tuhan, berat sungguh penderitaan mereka.

Penceritaan Dr Swee sangat bersahaja,tapi tulus.Komitednya beliau merentasi halangan jarak, bahasa dan pandangan masyarakat sekeliling demi mengabdikan diri membantu mereka sedangkan aku yang duduk di tanah arab ini, belajar bertahun2 pula untuk menjadi 'duktura' namun hanya mampu memandang dari jauh konflik yg berlaku di Palestin dan
...more
Nor Azzah
Dec 23, 2010 Nor Azzah rated it it was amazing  ·  review of another edition
Recommended to Nor Azzah by: Kakak
Buku yang amat menarik. Dr Swee menulisnya dengan teliti dalam memperincikan setiap peristiwa yang beliau lalui bersama masyarakat Palestin. Perlu dibaca untuk benar-benar menjiwai apa sebenarnya yang berlaku di sana. Apa yang disiarkan oleh media terlalu sedikit.
Saya percaya ada lagi buku-buku catatan peribadi seperti ini yang berakitan dengan topik yang sama. Saya teruja untuk mencari hasil-hasil tulisan yang lain. Namun dalam masa yang sama, saya berfikir, apa yang saya boleh lakukan untuk me
...more
Fray Close
Dec 20, 2011 Fray Close rated it it was amazing  ·  review of another edition
Shelves: favorites
This was such a hard book I have ever read. I wanted to know the story of Sabra and Shatila, it isn't something that we learn about here. I ended up finding this book. This is the most heartfelt empathetic story, it isn't about numbers and statistics, it's about people with names and families. I had panic attacks through it, my gut wrenched. I can't recommend this book enough. It should still be in print, I don't understand why it isn't. Even an ebook version would be good.
heri
May 23, 2013 heri rated it it was amazing  ·  review of another edition
Shelves: istri-punya
penuturan dalam buku ini begitu detail, didukung ilmu seorang dokter membuat penggambaran kondisi fisik dan mental orang-orang palestina yang menerima siksaan berbagai macam menjadi sangat jelas. apalagi ini adalah catatan penulis yang ikut bersama-sama rakyat palestina waktu terjadi penyerangan terutama di sabra dan shatila. bahkan dia yang dulunya mendukung israel, menjadi berbalik mendukung perjuangan rakyat palestina.

« previous 1 3 4 5 6 7 8 9 next »
There are no discussion topics on this book yet. Be the first to start one »
  • Ketupat Cinta [Musim Pertama]
  • Secangkir Teh Pengubat Letih
  • For God and Country: Faith and Patriotism Under Fire
  • Jibam
  • Pergolakan Pemikiran Islam
  • Natrah: Cinta, Rusuhan, Air Mata
  • Sungai Mengalir Lesu
  • Cerita dari Blora
  • Mahabbah Cinta Rabiah Al-Adawiyah
  • Setelah Revolusi Tak Ada Lagi
  • Risalah Untuk Kaum Muslimin
  • Aa Gym, Apa Adanya
  • Bahtera Penyelamat
  • VT
  • Ma Yan
  • Isabella

Share This Book



“Mereka punya sebuah mimpi. Dan aku berbagi mimpi itu dengan mereka: mimpi tentang sebuah dunia yang tampak jelas di tengah-tengah semburan gas air mata dan reruntuhan yang berasap di kamp-kamp pengungsi. Sebuah dunia tempat seorang bocah sebelas tahun tak perlu belajar cara menggunakan sepucuk kalashnikov atau mesin peluncur roket untuk membela keluarganya. Sebuah dunia yang damai, adil, dan aman, tempat aku tak perlu mengatakan kepada seorang anak, "Pergilah ke sekolah," hanya untuk mengetahui bahwa sekolahnya telah dibom, atau mengatakan kepada seorang gadis, "Bantulah ibumu menyiapkan makan malam," hanya untuk melihatnya kembali kepadaku dan mengatakan bahwa ibu dan keluarganya telah dibunuh. Sebuah dunia tempat kami tak perlu lagi takut terkubur hidup-hidup di dalam puing-puing. Sebuah dunia tempat aku tak perlu lagi memperbaiki bagian-bagian tubuh yang patah hanya untuk melihatnya dipatahkan lagi, atau memeluk tubuh remuk seorang bocah dengan tanganku dan bertanya, "Mengapa?" atau mendengar orang-orang bertanya, "Berapa lama lagi?" Sebuah dunia tanpa penjara, tanpa penyiksaan, tanpa rasa sakit, tanpa kelaparan, dan tanpa kartu-kartu identitas pengungsi, tempat aku dapat berteduh di rumahku sendiri dan mendengarkan nyanyian ibuku seraya menutup mata di penghujung hari. Tempat itu adalah mimpi kami, Jerusalem kami.” 1 likes
“When the Japanese invaded, informers said mother was an important member of the resistance. She was taken in, badly tortured and never confessed. Her life was spared because the Japanese interrogators could not believe a woman could have held such a key role.

When her children were grown-up, mother would tell us, ‘It’s not as bad as it sounds. The first time, you’re scared you’ll give away your friends. But there comes a point when you pass out. Once that happens, you cannot feel pain anymore. Once you have learnt that, you can beat your torturers.”
1 likes
More quotes…