This Earth of Mankind (The Buru Quartet, #1)
Enlarge cover
Rate this book
Clear rating

This Earth of Mankind (Tetralogi Buru #1)

by
4.33 of 5 stars 4.33  ·  rating details  ·  6,399 ratings  ·  742 reviews
Minke is a young Javanese student of great intelligence and ambition. Living equally among the colonists and colonized of 19th-century Java, he battles against the confines of colonial strictures. It is his love for Annelies that enables him to find the strength to embrace his world.
Paperback, 368 pages
Published May 1st 1996 by Penguin Books (first published 1975)
more details... edit details

Friend Reviews

To see what your friends thought of this book, please sign up.

Reader Q&A

To ask other readers questions about This Earth of Mankind, please sign up.

Be the first to ask a question about This Earth of Mankind

Things Fall Apart by Chinua AchebeThe God of Small Things by Arundhati RoyMidnight's Children by Salman RushdieThis Earth of Mankind by Pramoedya Ananta ToerNervous Conditions by Tsitsi Dangarembga
the Best Postcolonial Literature
4th out of 47 books — 35 voters
The Once and Future King by T.H. WhiteEragon by Christopher PaoliniThe Jewel in the Crown by Paul ScottThe Black Dahlia by James EllroyThe Alexandria Quartet by Lawrence Durrell
Tetralogies
15th out of 53 books — 18 voters


More lists with this book...

Community Reviews

(showing 1-30 of 3,000)
filter  |  sort: default (?)  |  rating details
erry
“ Cerita..selamanya tentang manusia, kehidupannya, bukan kematiannya. Ya biarpun yang ditampilkannya itu hewan, raksasa atau dewa ataupun hantu. Dan tak ada yang lebih sulit dipahami daripada sang manusia.. jangan anggap remeh si manusia, yang kelihatannya begitu sederhana; biarpun penglihatanmu setajam mata elang; pikiranmu setajam pisau cukur, perabaanmu lebih peka daripada dewa, pendengaranmu dapat menangkap musik dan ratap tangis kehidupan; pengetahuanmu tentang manusia takkan bakal bisa kem...more
Harun Harahap
Tokoh yang menarik perhatian saya dalam novel ini adalah Nyai Ontosoroh. PerEMPUan pribumi yang istimewa. Nyai Ontosoroh merupakan gundik dari Seorang Belanda lemah dan tidak bertanggung jawab. Nyai Ontosoroh menjalankan dan membesarkan berbagai perusahaan yang telah ditinggal suaminya. Nyai Ontosoroh tak pernah bersekolah tapi ia bias menulis dan membaca, bertutur kata dan berperilaku secara Jawa, Melayu ataupun Belanda.

Gundik memang bukan ‘sebutan’ yang enak didengar. Tapi Nyai Ontosoroh tidak...more
Nilam Suri
Mar 21, 2010 Nilam Suri rated it 3 of 5 stars  ·  review of another edition
Recommended to Nilam by: prince manoharun, triana
So, what can i say...after prolonged it for quite sometime i finally read one of Pramoedya's books.I'm not sure if my review can do justice for this phenomenal book,but let's try, shall we.

Honestly,this book didn't impress me that much.

Saya nggak tau apa yang saya harapkan saat membaca buku yang dipuja2 banyak orang,yang dijadikan bahan skripsi dan thesis,bahkan menjadikan penulisnya salah satu nominator penerima nobel. Buat saya,buku ini sama saja seperti buku-buku lainnya yang digarap dengan s...more
Harry Rutherford
This Earth of Mankind is the first novel of the Buru Quartet, so called because it was composed when Pramoedya Ananta Toer was a political prisoner on Buru Island in the 60s. I say ‘composed’ rather than ‘written’ because the first version of it was told orally to his fellow prisoners. He had apparently just about finished the research and planning when he was arrested and all his notes and books were destroyed.

Which is an immediately intriguing back-story, although the relationship between the...more
Cintoenxz Abstraxz
Sebuah novel sejarah yang mengisahkan perjalanan intelektual seorang anak manusia (yang diberi nama oleh Pram Minke=monyet) untuk menemukan arti kemanusiaan dan identitas kebangsaan awal abad 20-an. Berhadapan dengan kolonialisme dan sistem hukumnya yang diskriminatif, Minke melihat banyak ketimpangan-ketimpangan, penindasan-penindasa, politik pecah belah, pembagian kelas, dan politik kolonial yang menyengsarakan manusia Indonesia dan menjatuhkan kemanusiaan ke titik yang paling rendah dalam per...more
Michiyo 'jia' Fujiwara
Menangis dan sedih diakhir bab terakhir ini..dan semua ditutup dengan sebuah dialog:

“Kita kalah, Ma” bisik Minke

“Kita telah melawan, nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.” Nyai Ontosoroh

Ini adalah perkenalan pertamaku pada kisah para manusia..tentang kisah cinta pria pribumi dan wanita Indo nan cantik jelita; Minke dan Annelies Mellema..tentang kewibawaan seorang wanita pribumi tangguh; Sanikem atau kita lebih mengenalnya sebagai Nyai Ontosoroh..tentang seorang pria pribumi yang gamang a...more
Bunga Mawar
Malangnya nasibmu, Inlander. Dipecah-belah lalu dikuasai Belanda yang rakus. Bebal. Biadab.

Malangnya nasibmu, Sanikem. Diambil madu dan kemanisanmu, diperas otak dan jiwamu, dihinakan status nyai-mu, tak bisa menyelamatkan darah dagingmu sendiri.

Malangnya nasibmu Annelies. Muda, cantik, berbudi halus. Dibuat lemah oleh kuatnya pribadi mamamu, kesempitan duniamu, dan butanya cintamu.

Malangnya nasibmu Minke. Ganteng, cerdas, berani. Punya nama lahir kok tidak dipakai. Apa kurang bagus pemberian or
...more
Naeem
Aug 27, 2008 Naeem rated it 5 of 5 stars
Recommends it for: perhaps Maura, perhaps Lisa
Recommended to Naeem by: Sara-Maria, Manu
First, thanks to Sara-Maria and Manu (hard as this is for me to do, a debt is a debt) for encouraging me to read the Buru Qurtet. These four books and Max Havelaar made for superb summer reading.

All the book covers say that Toer is "Asia's leading candidate for the Nobel Prize." I have no doubts about that. This not because he is a great stylist of prose (at least not in the English translation), nor because he uncovers new ground in form. Rather, I think it is Toer's ambition and vast knowled...more
R. Sanyoto
"Mas, kan kita pernah berbahagia bersama ?"
"Tentu, Ann."
"Kenangkan kebahagiaan itu saja, ya Mas, jangan yang lain."
Irwan
Jatuh cinta sejak adegan pertama:
-- pada kecantikan seorang Annelies Mellema. Yang sepanjang cerita membuai dengan lembutnya kecantikan dan rapuhnya kemudaan yang berkembang ditengah konflik keluarga berlatar belakang kolonial.
-- pada pandangan dan keteguhan seorang Sanikem, atau Nyai Ontosoroh. Seorang otodidak yang mengjungkalkan semua stereotip wanita yang ada di posisinya, seorang gundik Belanda.
-- pada kepujanggaan seorang Minke. Aku cemburu dengan segala kehebatan dan keberuntungannya. B...more
mahatma
saya baru lama kemudian menghargai karya ini.
setelah membacai sendiri koran-koran lama dari awal abad XX. koran-koran yang juga jadi sumber penulisan pak pram.
lalu, saya juga mendekati karya pak pram ini setelah membacai tulisan-tulisan ben anderson dkk dari cornell.
saya seperti dipanggil untuk kembali ke jawa. kembali memelajari rajutan lama yang membentuk diri.
dan JAWA yang ditampilkan oleh pram memang beda, tapi cocok dengan bacaan saya dari arah antropologi, sejarah, sosiologi, seni bangunan...more
Erik Angriawan
Kutipan Tetralogi Pulau Buru

==''Bumi Manusia''==

* "Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri bersuka karena usahanya sendiri dan maju karena pengalamannya sendiri " (''Mama/Nyai Ontosoroh, hal 39''
* "Seorang terpelajar harus juga belajar berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi perbuatan. (''Jean Marais, hal 52'')
* "Cinta itu indah, Minke, terlalu indah, yang bisa didapatkan dalam hidup manusia yang pendek ini. (''Jean Marais, 55'')
* "Tak ada cinta muncul mendadak, karena dia...more
Yukanatha Svanidza
Novel inilah yang membuat saya berpaling dari yang namanya teenlit. Maklumilah, pertama kali saya baca novel ini saat masih pakai seragam putih-merah. Faktor pemicu saya baca novel ini adalah rasa penasaran karena kakak saya pernah bilang, Pramoedya Ananta Toer lah seorang penulis yang karya"nya wajib dibaca. Mengingat kakak saya bukanlah orang yang bisa bilang begitu secara sembarang, maka akhirnya saya mulai membuka halaman demi halaman buku ini.

Karena buku ini terlalu tebal bagi ukuran saya s...more
Pera
diawal, alurnya lambat, membuatku membaca tersendat sendat. Hanya karena penasaran, kenapa buku ini selalu di rekomendasi sebagai salah satu novel terbaik, aku mmemaksakan diri menyelesaikannya.

Cerita novel ini berputar pada tiga tokoh utama, Mingke, Nyai Ontosoroh, dan anaknya yang jelita, Annelis.
Setting pada masa penjajahan Belanda. Pram, melalui 3 tokoh ceritanya menggambarkan perbedaan kelas yang ada,antara pribumi, bangsawan, Belanda, Keturunan Belanda, dan steorotip di masing-masing kelas...more
Martha
Woaaahh.. udah habis.. n penasaran sama lanjutannya.

Buku bagus. Walaupun settingnya jadul (eh gak jadul2 amat sih, cuma jamannya kolonial Belanda bercokol di Indonesia), tapi saya tetep bisa mengikuti, memahami, dan menikmati jalan cerita dan penokohoannya. Asik mbacanya. Padahal sebelum baca agak khawatir, takutnya terganggu sama ejaan atau pemilihan kata/diksi/gaya bahasa yang ketinggalan jaman, atau terlalu serius dan sarat dg pesan2 perjuangan, terlalu idealis, dll. Eh ternyata saya salah d...more
Ndari
(review as seen in my book blog)

Bicara tentang bumi, tentu saja bicara tentang manusia. Orang-orang yang tinggal di dalamnya, bekerja, makan, belajar, memulai peradaban, hidup, mati, dari berbagai macam lapisan masyarakat, tua maupun muda. Inilah yang Pram ingin angkat dari karyanya yang menjadi karya sastra Indonesia yang paling banyak dibicarakan (sekaligus paling banyak tidak dibicarakan), Bumi Manusia. Buku pertama dari tetralogi Pulau Buru ini mengambil sudut pandang Sanikem, yang lalu berg...more
Diane
Mar 10, 2012 Diane rated it 1 of 5 stars
Recommends it for: Malays
Recommended to Diane by: Literature Professor

In all honesty, I didn’t like the novel as much as I liked the other two required reading novels for Oriental Literature class, “The Temple of the Golden Pavilion” and “The Rope of Ash”, nor do I think it is as
impressive as the other Asian Literary works that we have read in class, like the short stories of Lu Xun. The first few parts actually didn’t get my attention. There are points in the story that I asked myself where the book was getting at or what it is trying to say. I know it is a pos...more
Angdamdewi
If i were Nyai Ontosoroh...

If i were Minke...

If i were Annelies Mellema...

"if i were" adalah kalimat yang terlintas di pikiran saya ketika saya membaca peran dari masing - masing karakter tersebut. Adalah Nyai Ontosoroh, lepas ia adalah seorang nyai namun ia seorang manusia dalam sesosok wanita yang lahir dengan nama Sanikem, dendam pada orang tua yang menjualnya demi sekeping gulden ia berubah menjadi pohon besar yang melupakan akarnya. Apa boleh buat, namun akhirnya ia menjadi pribadi yang cer...more
Glenn Ardi
Dulu seorang teman pernah berkata :

" Jika Amerika memiliki F.C Fitzgerald,
Perancis memiliki Victor Hugo,
Rusia memiliki Fyodor Dostoyevsky,
Jerman memiliki Johann Wolfgang von Goethe
dan Jepang memiliki Haruki Murakami
Maka, Indonesia memiliki seorang Pramoedya Ananta Toer "

Penasaran, karena saya sudah baca beberapa karya sastra dunia, tapi baru sedikit karya sastra Indonesia yang saya baca. Maka pada suatu kesempatan saya sempatkan membaca karya Pramoedya yang paling dikenal - Bumi Manusia.

Se...more
Emma Deplores Goodreads Censorship
I read this book for my world fiction challenge, because it was getting embarrassing that I had nothing from Indonesia (the world’s fourth-most-populous country!). Unfortunately, there just aren’t a lot of choices available in English, so I wound up reading this even though it was largely lost in translation.

This Earth of Mankind is a politically important book--first told orally while the author was a political prisoner--with a political (anti-colonialist) message. Second, it’s the story, set a...more
Hasanuddin
Akhirnya bisa finish juga... Buku yang diperoleh dari orang yang ku anggap spesial ^_^

Buku yang menarik, penggambaran tokohnya begitu mendetail sehingga pembaca seperti dituntun untuk mengenal dan fokus pada karakter para tokohnya. Jujur, aku lebih tertarik pada sosok Nyai Ontosoroh ketimbang Minke. Menjadi Nyai bagi Ontosoroh bukanlah pilihan, melainkan jalan yang sudah dipilihkan. Sanikem --nama asli Ontosoroh, adalah salah satu dari sekian wanita yang terseret oleh pusaran adat jawa yang "men...more
Azia
satu kata: bagus

update review : 22 Sept '10..
sebelumnya review ini pernah diposting di blog per tgl 28 Nov '08

Sebenarnya sudah dari SMA saya mengetahui novel-novel Pramoedya Ananta Tour. Jangan Tanya kenapa baru SMA tahu Pram, ya tahu sendiri lah namanya memang tidak pernah disebut dipelajaran sekolah, kalaupun pernah sambil lalu saja. Uus, seringkali membawa tetralogi pulau Buru. Yang ketika itu saya hanyalah siswa yang doyan baca teenlit, komik atau R.L Srine dan mulai menyukai Agatha Christie...more
Aroengbinang
Buku yang telah begitu lama diabaikan, dijauhi, dipandang dengan najis lantaran stigma yang melekat begitu dalam pada pengarangnya, dan karena itu baru menyapa sekarang untuk dibaca.

Jika skala tertinggi rating buku adalah skala 5, maka buku ini layak untuk mendapat nilai lebih tinggi dari itu.

Kalau anda belum membaca buku ini hanya lantaran berpikir bahwa penulisnya seorang komunis atau atheis, buang jauh2 pikiran itu, dan pergilah segera ke toko buku terdekat untuk membeli dan menikmati karya a...more
Gabriela Angie
I really love Pramoedya Ananta Toer's writing style. At first, the diction is quite hard to understand but as time goes by it doesn't matter anymore because the story is enjoyable (at least for some people). This is his first book from Tetralogy of Buru Island (Tetralogi Pulau Buru), and i do wish to have more time reading the other three books!!
Ulil Ananta
"Jangan sebut aku perempuan sejati jika hidup hanya berkalang lelaki,, Namun bukan berarti aku tak butuh lelaki untuk aku cintai..."
Sara
An interesting book marred( I assume from all the 5 star reviews in the original language) by an abysmal -- and sorry to say, laugh-out-loud--translation. That said, I really enjoyed the outright bizarre and melodramatic (and yes they are melodramatic) turns in the story: the keystone cops chases, the courtroom scenes, the doctor who goes on and on for pages about the psyche like some pipe smoking physician giving Rock Hudson moral advice. I also liked the main character's growing self-awareness...more
Enok
"apa yang ada dipikiran orang yang membaca buku ini 50 tahun yll ya..??"
Brian
Feb 22, 2009 Brian rated it 5 of 5 stars
Recommends it for: overly happy people
Shelves: read-2009, asian
It's true that during the last ten years I've read more fiction. It's as if every book is concerned with people's efforts and striving to escape or overcome some difficulty. Stories about happy things are never interesting. They are not stories about people and their lives, but about heaven, and clearly do not take place on this earth of ours.

This Earth of Mankind is the first of the Buru Quartet, four novels that were first orally recited by Indonesian political prisoner Toer to his fellow cell...more
Sally Siawidjaja
Sep 07, 2009 Sally Siawidjaja rated it 3 of 5 stars  ·  review of another edition
Recommends it for: Anyone who like reading literature
Recommended to Sally by: Windy hapsari
Shelves: indonesia-fiksi
Akhirnya baca juga satu buku Pramoedya Ananta Tour biar disangka pintar.

Secara keseluruhan, oke lah. Menambah pengalaman baca gue, tapi kalau boleh jujur, gue rada merasa bosan waktu bacanya. Kebanyakan isinya terlalu teoritis, banyak nasihat atau analisa-analisa tentang orang eropa dan pribumi, banyak filosofi (contohnya diskusi dan surat-surat Miriam dan Sarah de la croix, analisa dokter martinet terhadap Annelies, nasihat Jean Marais atau sudut pandang nyai Ontorosoh). Membosankan.

Ini mungkin...more
Toni
I have just re-read this very famous Indonesian novel in translation after more than 20 years for my book group. Pramoedya is probably the only Indonesian writer who is well known outside Indonesia, esp for this novel and the 3 others that make up the Buru Quartet- a wide-ranging story of the last decades of the Dutch colonial regime and the birth of the Independence Movement in Indonesia. Denied access to pen and paper, Pramoedya "wrote" them by narrating them to his fellow prisoners on the pri...more
« previous 1 3 4 5 6 7 8 9 99 100 next »
topics  posts  views  last activity   
"Imagi sejarah yang hidup" 7 85 Oct 31, 2013 07:49AM  
This Earth of Mankind 6 143 May 31, 2013 08:47AM  
Goodreads Librari...: A Dutch version of 2008 #978-90-445-1231-1 7 39 Feb 14, 2012 11:57PM  
  • Burung-Burung Manyar
  • Ronggeng Dukuh Paruk (Dukuh Paruk, buku 1 - 3)
  • Para Priyayi: Sebuah Novel
  • Pulang
  • Harimau! Harimau!
  • Anak Bajang Menggiring Angin
  • Bilangan Fu
  • Robohnya Surau Kami
  • Ca Bau Kan: Hanya Sebuah Dosa
  • Rahasia Meede: Misteri Harta Karun VOC
  • Aku Ini Binatang Jalang
  • Hujan Bulan Juni
  • Tanah Tabu
  • Olenka
  • Sitti Nurbaya: Kasih Tak Sampai
  • Atheis
  • Amba: Sebuah Novel
  • Selimut Debu
101823
Pramoedya Ananta Toer was an Indonesian author of novels, short stories, essays, polemics, and histories of his homeland and its people. A well-regarded writer in the West, Pramoedya's outspoken and often politically charged writings faced censorship in his native land during the pre-reformation era. For opposing the policies of both founding president Sukarno, as well as those of its successor, t...more
More about Pramoedya Ananta Toer...
Jejak Langkah (Tetralogi Buru, #3) Gadis Pantai Child of All Nations (Tetralogi Buru, #2) House of Glass (Tetralogi Buru, #4) Arok Dedes

Share This Book

“Berterimakasihlah pada segala yang memberi kehidupan.” 403 likes
“seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan” 232 likes
More quotes…