Goodreads helps you keep track of books you want to read.
Start by marking “This Earth of Mankind” as Want to Read:
This Earth of Mankind
Enlarge cover
Rate this book
Clear rating
Open Preview

This Earth of Mankind (Tetralogi Buru #1)

by
4.36  ·  Rating Details  ·  9,083 Ratings  ·  1,021 Reviews
Minke is a young Javanese student of great intelligence and ambition. Living equally among the colonists and colonized of 19th-century Java, he battles against the confines of colonial strictures. It is his love for Annelies that enables him to find the strength to embrace his world.
Paperback, 367 pages
Published May 1st 1996 by Penguin Books (first published 1975)
More Details... edit details

Friend Reviews

To see what your friends thought of this book, please sign up.
Things Fall Apart by Chinua AchebeThe God of Small Things by Arundhati RoyMidnight's Children by Salman RushdieHeart of Darkness by Joseph ConradHalf of a Yellow Sun by Chimamanda Ngozi Adichie
Best Postcolonial Literature
10th out of 155 books — 69 voters
The Once and Future King by T.H. WhiteEragon by Christopher PaoliniThe Jewel in the Crown by Paul ScottThe Black Dahlia by James EllroyThe Alexandria Quartet by Lawrence Durrell
Tetralogies
15th out of 53 books — 18 voters


More lists with this book...

Community Reviews

(showing 1-30 of 3,000)
filter  |  sort: default (?)  |  Rating Details
erry
Jan 20, 2010 erry rated it really liked it  ·  review of another edition
“ Cerita..selamanya tentang manusia, kehidupannya, bukan kematiannya. Ya biarpun yang ditampilkannya itu hewan, raksasa atau dewa ataupun hantu. Dan tak ada yang lebih sulit dipahami daripada sang manusia.. jangan anggap remeh si manusia, yang kelihatannya begitu sederhana; biarpun penglihatanmu setajam mata elang; pikiranmu setajam pisau cukur, perabaanmu lebih peka daripada dewa, pendengaranmu dapat menangkap musik dan ratap tangis kehidupan; pengetahuanmu tentang manusia takkan bakal bisa kem ...more
Harry Rutherford
Oct 28, 2010 Harry Rutherford rated it really liked it
This Earth of Mankind is the first novel of the Buru Quartet, so called because it was composed when Pramoedya Ananta Toer was a political prisoner on Buru Island in the 60s. I say ‘composed’ rather than ‘written’ because the first version of it was told orally to his fellow prisoners. He had apparently just about finished the research and planning when he was arrested and all his notes and books were destroyed.

Which is an immediately intriguing back-story, although the relationship between the
...more
Harun Harahap
Tokoh yang menarik perhatian saya dalam novel ini adalah Nyai Ontosoroh. PerEMPUan pribumi yang istimewa. Nyai Ontosoroh merupakan gundik dari Seorang Belanda lemah dan tidak bertanggung jawab. Nyai Ontosoroh menjalankan dan membesarkan berbagai perusahaan yang telah ditinggal suaminya. Nyai Ontosoroh tak pernah bersekolah tapi ia bias menulis dan membaca, bertutur kata dan berperilaku secara Jawa, Melayu ataupun Belanda.

Gundik memang bukan ‘sebutan’ yang enak didengar. Tapi Nyai Ontosoroh tidak
...more
Nilam Suri
Mar 21, 2010 Nilam Suri rated it liked it  ·  review of another edition
Recommended to Nilam by: prince manoharun, triana
So, what can i say...after prolonged it for quite sometime i finally read one of Pramoedya's books.I'm not sure if my review can do justice for this phenomenal book,but let's try, shall we.

Honestly,this book didn't impress me that much.

Saya nggak tau apa yang saya harapkan saat membaca buku yang dipuja2 banyak orang,yang dijadikan bahan skripsi dan thesis,bahkan menjadikan penulisnya salah satu nominator penerima nobel. Buat saya,buku ini sama saja seperti buku-buku lainnya yang digarap dengan s
...more
Glenn Ardi
Dulu seorang teman pernah berkata :

" Jika Amerika memiliki F.C Fitzgerald,
Perancis memiliki Victor Hugo,
Rusia memiliki Fyodor Dostoyevsky,
Jerman memiliki Johann Wolfgang von Goethe
dan Jepang memiliki Haruki Murakami
Maka, Indonesia memiliki seorang Pramoedya Ananta Toer "

Penasaran, karena saya sudah baca beberapa karya sastra dunia, tapi baru sedikit karya sastra Indonesia yang saya baca. Maka pada suatu kesempatan saya sempatkan membaca karya Pramoedya yang paling dikenal - Bumi Manusia.

Bu
...more
R. Sanyoto
Mar 21, 2008 R. Sanyoto rated it it was amazing  ·  review of another edition
"Mas, kan kita pernah berbahagia bersama ?"
"Tentu, Ann."
"Kenangkan kebahagiaan itu saja, ya Mas, jangan yang lain."
Naeem
Aug 27, 2008 Naeem rated it it was amazing
Recommends it for: perhaps Maura, perhaps Lisa
Recommended to Naeem by: Sara-Maria, Manu
First, thanks to Sara-Maria and Manu (hard as this is for me to do, a debt is a debt) for encouraging me to read the Buru Qurtet. These four books and Max Havelaar made for superb summer reading.

All the book covers say that Toer is "Asia's leading candidate for the Nobel Prize." I have no doubts about that. This not because he is a great stylist of prose (at least not in the English translation), nor because he uncovers new ground in form. Rather, I think it is Toer's ambition and vast knowled
...more
Cintoenxz Abstraxz
Sebuah novel sejarah yang mengisahkan perjalanan intelektual seorang anak manusia (yang diberi nama oleh Pram Minke=monyet) untuk menemukan arti kemanusiaan dan identitas kebangsaan awal abad 20-an. Berhadapan dengan kolonialisme dan sistem hukumnya yang diskriminatif, Minke melihat banyak ketimpangan-ketimpangan, penindasan-penindasa, politik pecah belah, pembagian kelas, dan politik kolonial yang menyengsarakan manusia Indonesia dan menjatuhkan kemanusiaan ke titik yang paling rendah dalam per ...more
Bunga Mawar
Malangnya nasibmu, Inlander. Dipecah-belah lalu dikuasai Belanda yang rakus. Bebal. Biadab.

Malangnya nasibmu, Sanikem. Diambil madu dan kemanisanmu, diperas otak dan jiwamu, dihinakan status nyai-mu, tak bisa menyelamatkan darah dagingmu sendiri.

Malangnya nasibmu Annelies. Muda, cantik, berbudi halus. Dibuat lemah oleh kuatnya pribadi mamamu, kesempitan duniamu, dan butanya cintamu.

Malangnya nasibmu Minke. Ganteng, cerdas, berani. Punya nama lahir kok tidak dipakai. Apa kurang bagus pemberian or
...more
Leonart Maruli
Saya memang telat baca novel ini, bisa dibilang sebagai kerugian. Tapi ada beruntungnya juga karena pengalaman membaca karya-karya Eropa Classic yang lain turut membantuku memahami novel ini. Risetnya luar biasa! Luar biasa Pram, dia sampai-sampai tau juga tentang pedalaman jiwa, cuma dia ga pakai bahasa id, ego dan superego. Gue yakin banget Pram baca Sigmund Freud... Sebelumnya gue udah baca Jejak Langkah dan Rumah Kaca terlebih dahulu... Kalau dari sisi melankolia, novel Bumi Manusia memang y ...more
Michiyo 'jia' Fujiwara
Menangis dan sedih diakhir bab terakhir ini..dan semua ditutup dengan sebuah dialog:

“Kita kalah, Ma” bisik Minke

“Kita telah melawan, nak, Nyo, sebaik-baiknya, sehormat-hormatnya.” Nyai Ontosoroh

Ini adalah perkenalan pertamaku pada kisah para manusia..tentang kisah cinta pria pribumi dan wanita Indo nan cantik jelita; Minke dan Annelies Mellema..tentang kewibawaan seorang wanita pribumi tangguh; Sanikem atau kita lebih mengenalnya sebagai Nyai Ontosoroh..tentang seorang pria pribumi yang gamang a
...more
Jenny (Reading Envy)
This is a complex novel about Dutch-Indo relations through the eyes of Minke, an intelligent Javanese boy who is sent up through Dutch schooling. He falls in love with the daughter of a nyai (a concubine, or slave, as she would put it) whose father is Dutch but whose mother is native. He calls the nyai "Mama" through most of the novel. He is forced to confront his own preconceived notions on intelligence, hierarchy, and personal value, largely because of Mama:
"Stories about happy things are ne
...more
Erik Angriawan
Aug 14, 2011 Erik Angriawan rated it it was amazing  ·  review of another edition
Kutipan Tetralogi Pulau Buru

==''Bumi Manusia''==

* "Berbahagialah dia yang makan dari keringatnya sendiri bersuka karena usahanya sendiri dan maju karena pengalamannya sendiri " (''Mama/Nyai Ontosoroh, hal 39''
* "Seorang terpelajar harus juga belajar berlaku adil sudah sejak dalam pikiran, apalagi perbuatan. (''Jean Marais, hal 52'')
* "Cinta itu indah, Minke, terlalu indah, yang bisa didapatkan dalam hidup manusia yang pendek ini. (''Jean Marais, 55'')
* "Tak ada cinta muncul mendadak, karena dia
...more
Irwan
Aug 28, 2011 Irwan rated it it was amazing  ·  review of another edition
Shelves: finished, 2011, favorites
Jatuh cinta sejak adegan pertama:
-- pada kecantikan seorang Annelies Mellema. Yang sepanjang cerita membuai dengan lembutnya kecantikan dan rapuhnya kemudaan yang berkembang ditengah konflik keluarga berlatar belakang kolonial.
-- pada pandangan dan keteguhan seorang Sanikem, atau Nyai Ontosoroh. Seorang otodidak yang mengjungkalkan semua stereotip wanita yang ada di posisinya, seorang gundik Belanda.
-- pada kepujanggaan seorang Minke. Aku cemburu dengan segala kehebatan dan keberuntungannya. B
...more
Chelsea Mcgill
Sep 29, 2015 Chelsea Mcgill rated it really liked it
Shelves: onblog
My interest in this book is primarily literary and cultural. Pramoedya Ananta Toer has masterfully combined a devastating critique of colonialism with a poignant love story, set in the late 1800s before Indonesia had even been named.

Minke is the only Native Javanese student in the H.B.S., one of the best high schools in the Dutch Indies. Despite his obvious academic abilities, he would not have gained admission to this prestigious school if it were not for his grandfather's status. It turns out
...more
Yukanatha Svanidza
May 10, 2013 Yukanatha Svanidza rated it it was amazing  ·  review of another edition
Shelves: favorites, novels
Novel inilah yang membuat saya berpaling dari yang namanya teenlit. Maklumilah, pertama kali saya baca novel ini saat masih pakai seragam putih-merah. Faktor pemicu saya baca novel ini adalah rasa penasaran karena kakak saya pernah bilang, Pramoedya Ananta Toer lah seorang penulis yang karya"nya wajib dibaca. Mengingat kakak saya bukanlah orang yang bisa bilang begitu secara sembarang, maka akhirnya saya mulai membuka halaman demi halaman buku ini.

Karena buku ini terlalu tebal bagi ukuran saya s
...more
mahatma
Apr 04, 2008 mahatma rated it it was amazing  ·  review of another edition
saya baru lama kemudian menghargai karya ini.
setelah membacai sendiri koran-koran lama dari awal abad XX. koran-koran yang juga jadi sumber penulisan pak pram.
lalu, saya juga mendekati karya pak pram ini setelah membacai tulisan-tulisan ben anderson dkk dari cornell.
saya seperti dipanggil untuk kembali ke jawa. kembali memelajari rajutan lama yang membentuk diri.
dan JAWA yang ditampilkan oleh pram memang beda, tapi cocok dengan bacaan saya dari arah antropologi, sejarah, sosiologi, seni bangunan
...more
Asma Fedosia
Oct 22, 2015 Asma Fedosia rated it it was amazing  ·  review of another edition
An introduction to the novels of an internationally read Indonesian author, Pramoedya Ananta Toer. This one begins his Buru Quartet. The tetralogy's title refers to the prison in which he first told then wrote it. The setting begins around 1898 Surabaya, Java, a period of Dutch Indies colonization. The story begins with two privileged, optimistic, competent natives. Nyai (concubine) Ontosoroh has been educated by her Netherlands European consort Herman Mellema. She's competent in the Dutch langu ...more
Martha
Sep 06, 2012 Martha rated it really liked it  ·  review of another edition
Shelves: punya
Woaaahh.. udah habis.. n penasaran sama lanjutannya.

Buku bagus. Walaupun settingnya jadul (eh gak jadul2 amat sih, cuma jamannya kolonial Belanda bercokol di Indonesia), tapi saya tetep bisa mengikuti, memahami, dan menikmati jalan cerita dan penokohoannya. Asik mbacanya. Padahal sebelum baca agak khawatir, takutnya terganggu sama ejaan atau pemilihan kata/diksi/gaya bahasa yang ketinggalan jaman, atau terlalu serius dan sarat dg pesan2 perjuangan, terlalu idealis, dll. Eh ternyata saya salah d
...more
Pera
Apr 04, 2008 Pera rated it it was amazing  ·  review of another edition
Shelves: novel, sosial, indonesia
diawal, alurnya lambat, membuatku membaca tersendat sendat. Hanya karena penasaran, kenapa buku ini selalu di rekomendasi sebagai salah satu novel terbaik, aku mmemaksakan diri menyelesaikannya.

Cerita novel ini berputar pada tiga tokoh utama, Mingke, Nyai Ontosoroh, dan anaknya yang jelita, Annelis.
Setting pada masa penjajahan Belanda. Pram, melalui 3 tokoh ceritanya menggambarkan perbedaan kelas yang ada,antara pribumi, bangsawan, Belanda, Keturunan Belanda, dan steorotip di masing-masing kelas
...more
Sara
Jul 18, 2014 Sara rated it liked it  ·  review of another edition
Shelves: 2014
An interesting book marred( I assume from all the 5 star reviews in the original language) by an abysmal -- and sorry to say, laugh-out-loud--translation. That said, I really enjoyed the outright bizarre and melodramatic (and yes they are melodramatic) turns in the story: the keystone cops chases, the courtroom scenes, the doctor who goes on and on for pages about the psyche like some pipe smoking physician giving Rock Hudson moral advice. I also liked the main character's growing self-awareness ...more
Mizuki Arjuneko
Jul 03, 2016 Mizuki Arjuneko rated it really liked it  ·  review of another edition
Shelves: pinjem
Konflik utamanya adalah permasalahan identitas. Minke, anak bupati dari "Daerah B" yang sekolah di HBS, membenci adat-istiadat Jawa dan mengagungkan Eropa. Robert Mellema, anak gundik, menolak identitas sebagai Indo (blasteran) dan lebih mengasosiasikan dirinya sebagai Belanda. Annellies, adik Robert yang lebih suka menyebut dirinya sebagai pribumi, mengikuti mamanya, Nyai Ontosoroh. Uniknya dalam buku ini nama asli Minke tak pernah disebutkan. Dia sendiri juga tak pernah menceritakan banyak ten ...more
Amelia Dewi
Mar 02, 2016 Amelia Dewi rated it really liked it  ·  review of another edition
RAsanya saya setuju pada pendapat semua orang bahwa Pram mampu mengantarkan kita menyelami kehidupan kolonial, bukan sekedar menunjukkan gambatan kehidupan pada masa itu semata. Dengan penjelasannya yangg runtut dan terperinci, seolah kita sendiri mengalami, atau minimal menyaksikan langsung, kejadian-kejadian yang menimpa tokoh novelnya. Caranya halus dan menghanyutkan.
Hal yang sedikit menganggu saya adalah, bahwa dia menggunakan tokoh-tokoh utama yang berwatak, maaf, naif dan terlalu memandang
...more
Christian Putra
Sep 18, 2015 Christian Putra rated it it was amazing  ·  review of another edition
Shelves: collection
How would you demand justice if its formula is still juvenile and biased? Taking place at the very end of 19th Century Java, this book, the first part of Buru Tetralogy, will introduce you to the definition of human existentialism and how it develops through integrity and/or force majeure (colonialism).

Pramoedya did not stuck with an inferior romance in which this book began with but instead architected the plot with strong, genuine political and social issues. Fibers human beings must've posse
...more
Ndari
Jan 31, 2013 Ndari rated it really liked it  ·  review of another edition
(review as seen in my book blog)

Bicara tentang bumi, tentu saja bicara tentang manusia. Orang-orang yang tinggal di dalamnya, bekerja, makan, belajar, memulai peradaban, hidup, mati, dari berbagai macam lapisan masyarakat, tua maupun muda. Inilah yang Pram ingin angkat dari karyanya yang menjadi karya sastra Indonesia yang paling banyak dibicarakan (sekaligus paling banyak tidak dibicarakan), Bumi Manusia. Buku pertama dari tetralogi Pulau Buru ini mengambil sudut pandang Sanikem, yang lalu berg
...more
Diane
Mar 10, 2012 Diane rated it did not like it
Recommends it for: Malays
Recommended to Diane by: Literature Professor

In all honesty, I didn’t like the novel as much as I liked the other two required reading novels for Oriental Literature class, “The Temple of the Golden Pavilion” and “The Rope of Ash”, nor do I think it is as
impressive as the other Asian Literary works that we have read in class, like the short stories of Lu Xun. The first few parts actually didn’t get my attention. There are points in the story that I asked myself where the book was getting at or what it is trying to say. I know it is a pos
...more
Angdamdewi
Feb 28, 2010 Angdamdewi rated it it was amazing  ·  review of another edition
If i were Nyai Ontosoroh...

If i were Minke...

If i were Annelies Mellema...

"if i were" adalah kalimat yang terlintas di pikiran saya ketika saya membaca peran dari masing - masing karakter tersebut. Adalah Nyai Ontosoroh, lepas ia adalah seorang nyai namun ia seorang manusia dalam sesosok wanita yang lahir dengan nama Sanikem, dendam pada orang tua yang menjualnya demi sekeping gulden ia berubah menjadi pohon besar yang melupakan akarnya. Apa boleh buat, namun akhirnya ia menjadi pribadi yang cer
...more
Emma Deplores Goodreads Censorship
I read this book for my world fiction challenge, because it was getting embarrassing that I had nothing from Indonesia (the world’s fourth-most-populous country!). Unfortunately, there just aren’t a lot of choices available in English, so I wound up reading this even though it was largely lost in translation.

This Earth of Mankind is a politically important book--first told orally while the author was a political prisoner--with a political (anti-colonialist) message. Second, it’s the story, set a
...more
Bernard Batubara
Selesai baca Bumi Manusia - Pramoedya Ananta Toer.

Sempat saya menunda membaca Tetralogi Buru yang saya beli sebulan lalu, karena tebal dan panjangnya sehingga saya merasa nanti-nanti sajalah bacanya. Lalu saya menyuruh diri untuk mulai membaca. Saya mengambil Bumi Manusia dari rak, bagian pertama Tetralogi Buru, dan mulai membaca. Tak terasa, saya sudah tiba pada halaman keseratus, dan terus melanjutkan membaca.

Saya kira Bumi Manusia berat, namun ternyata tidak. Pram bertutur dengan sangat nyama
...more
Hasanuddin
Jun 30, 2008 Hasanuddin rated it it was amazing  ·  review of another edition
Shelves: fiksi
Akhirnya bisa finish juga... Buku yang diperoleh dari orang yang ku anggap spesial ^_^

Buku yang menarik, penggambaran tokohnya begitu mendetail sehingga pembaca seperti dituntun untuk mengenal dan fokus pada karakter para tokohnya. Jujur, aku lebih tertarik pada sosok Nyai Ontosoroh ketimbang Minke. Menjadi Nyai bagi Ontosoroh bukanlah pilihan, melainkan jalan yang sudah dipilihkan. Sanikem --nama asli Ontosoroh, adalah salah satu dari sekian wanita yang terseret oleh pusaran adat jawa yang "men
...more
« previous 1 3 4 5 6 7 8 9 99 100 next »
topics  posts  views  last activity   
"Imagi sejarah yang hidup" 9 104 Nov 12, 2015 04:47PM  
This Earth of Mankind 10 232 Nov 12, 2015 04:39PM  
Pembaca Buku Pram...: Jual Bumi Manusia C1 Hasta Mitra (Bisa Tukar dengan Arus Balik) 6 75 Dec 04, 2014 05:29AM  
Goodreads Indonesia: Ada yang tau beli tetralogi buru dimana? 6 183 Oct 08, 2014 04:36PM  
Goodreads Librari...: A Dutch version of 2008 #978-90-445-1231-1 7 44 Feb 14, 2012 11:57PM  
  • Burung-Burung Manyar
  • Ronggeng Dukuh Paruk
  • Para Priyayi: Sebuah Novel
  • Harimau! Harimau!
  • Rahasia Meede: Misteri Harta Karun VOC
  • Pulang
  • Bilangan Fu
  • Tanah Tabu
  • Amba
  • Anak Bajang Menggiring Angin
  • Atheis
  • Ca Bau Kan: Hanya Sebuah Dosa
  • Robohnya Surau Kami
  • Olenka
  • Canting
  • Kitab Omong Kosong
  • Sitti Nurbaya: Kasih Tak Sampai
  • Aku Ini Binatang Jalang
101823
Pramoedya Ananta Toer was an Indonesian author of novels, short stories, essays, polemics, and histories of his homeland and its people. A well-regarded writer in the West, Pramoedya's outspoken and often politically charged writings faced censorship in his native land during the pre-reformation era. For opposing the policies of both founding president Sukarno, as well as those of its successor, t ...more
More about Pramoedya Ananta Toer...

Other Books in the Series

Tetralogi Buru (4 books)
  • Child of All Nations
  • Jejak Langkah
  • House of Glass

Share This Book



“Berterimakasihlah pada segala yang memberi kehidupan.” 498 likes
“seorang terpelajar harus sudah berbuat adil sejak dalam pikiran apalagi dalam perbuatan” 297 likes
More quotes…