Goodreads helps you keep track of books you want to read.
Start by marking “Child of All Nations” as Want to Read:
Child of All Nations
Enlarge cover
Rate this book
Clear rating
Open Preview

Child of All Nations (Tetralogi Buru #2)

by
4.34  ·  Rating Details ·  4,004 Ratings  ·  337 Reviews
In Child of All Nations, the reader is immediately swept up by a story that is profoundly feminist, devastatingly anticolonialist—and full of heartbreak, suspense, love, and fury. Pramoedya immerses the reader in a world that is astonishing in its vividness: the cultural whirlpool that was the Dutch East Indies of the 1890s. A story of awakening, it follows Minke, the main ...more
Paperback, 352 pages
Published May 1st 1996 by Penguin Books (first published 1975)
More Details... edit details

Friend Reviews

To see what your friends thought of this book, please sign up.

Reader Q&A

To ask other readers questions about Child of All Nations, please sign up.

Be the first to ask a question about Child of All Nations

Community Reviews

(showing 1-30)
filter  |  sort: default (?)  |  Rating Details
Harun Harahap
Jika bukan kita, rakyat Indonesia yang bangga dan peduli terhadap negeri ini, lalu siapa???

Tragis melihat betapa Jean Marais dan Kommer (non Pribumi) berusaha membujuk Minke(Pribumi) untuk menulis artikel dengan menggunakan bahasa Melayu. Sebenarnya Bunda Minke sudah jauh-jauh hari menginginkan buah hatinya menuliskan artikel dalam bahasa Jawa. Namun minke merasa dirinya akan menjatuhkan harga dirinya karena bahasa Melayu dan bahasa Jawa dianggap bahasa miskin dan tidak terpelajar.

Namun, jika b
...more
erry
Oct 08, 2008 erry rated it really liked it  ·  review of another edition
Recommended to erry by: Amang "Po" Suramang; maya
“Dengan rendah hati aku mengakui, aku adalah bayi semua bangsa dari segala jaman, yang telah lewat dan yang sekarang. Tempat dan waktu kelahiran, orangtua, memang hanya satu kebetulan, sama sekali bukan sesuatu yang keramat”
-Pramoedya Ananta Toer dalam Anak Semua Bangsa-

Ini adalah lanjutan dari kisahku. Kisah seorang anak yang terlahir di atas bumi manusia, dengan kesetaraan fitrah dan kelahirannya. Tanpa batas negara, suku, budaya, tempat, darah dan segalanya. Akan tetapi, pada saat yang sama,
...more
Indigo Deville
Aug 09, 2007 Indigo Deville rated it it was amazing  ·  review of another edition
Recommends it for: mereka yg cari buku legendaris
Shelves: finished-reading
Bila anda berpikir Bumi Manusia dahsyat, gue akan bilang buku ini lebih Dahsyat lagi. Bahkan menurutku, buku kedua ini merupakan yang terbaik dari ke-empat Tetralogi yang ditulis.

Melanjutkan perjalanan hidup Minke dan Nyai Ontosoroh setelah masa peradilan memperebutkan Annelies, disini sisi nasionalisme mulai disinggung sedikit demi sedikit. Banyak tokoh-tokoh baru, tapi yg paling outstanding menurutku adalah perlawanan si gadis dusun yang lemah terhadap tuan tanah Belanda yg ingin mengawini-nya
...more
Andrew
The second in Toer's humanistic, postcolonial epic. As with This Earth of Mankind, I spent a lot of time thinking "good lord, it's been ages since anyone's written a novel like this." Something with this degree of scope, of complexity. There's less romance and less family in Child of All Nations, and a lot more struggle. Struggle against the colonizers, struggle against the Javanese feudalists, struggles against the comprador classes, struggle against generally shitty people, struggle against on ...more
Pera
Mar 28, 2010 Pera rated it really liked it
Shelves: novel, indonesia
This review has been hidden because it contains spoilers. To view it, click here.
Michiyo 'jia' Fujiwara
Hapus air mata dan lepas semua duka lara..lihatlah keadaaan disekelilingmu;

“Sebagaimana kita akan tetap terkenang pada hari ini, dia pun seumur hidup akan diburu-buru oleh kenangan hari ini, sampai matinya, sampai dalam kuburnya.” Nyai Ontosoroh
“Ya Ma, kita sudah melawan, Ma, biarpun dengan mulut.” Minke

Ini adalah kisah tentang duka..tentang kehilangan..Annelies..Ini juga merupakan sebuah periode bagi Raden Mas Minke..untuk bangkit dari kesedihan..lewat sepotong cerita dari Tulangan, Sidoarjo..D
...more
Erik Angriawan
Aug 14, 2011 Erik Angriawan rated it it was amazing  ·  review of another edition
''Anak Semua Bangsa''


* "Barang siapa tidak tahu bersetia pada azas, dia terbuka terhadap segala kejahatan: dijahati atau menjahati. (''Mama, 4)
* "Nama berganti seribu kali dalam sehari, makna tetap. (''Mama, 20)
* "Kalau hati dan pikiran manusia sudah tak mampu mencapai lagi, bukankah hanya pada Tuhan juga orang berseru? (''Panji Darman/Jan Dapperste, 33)
* "Kau pribumi terpelajar! Kalau mereka itu, pribumi itu, tidak terpelajar, kau harus bikin mereka jadi terpelajar. Kau harus, harus, harus bica
...more
Adis Aditia
Nov 25, 2008 Adis Aditia rated it really liked it
Recommends it for: Preman, Koruptor, Aktivis, Mahasiswa baru
Recommended to Adis by: Wesly
Dalam Bumi Manusia, Minke seorang anak bupati, lulusan HBS -sekolah eropa, yang tidak semua pribumi bisa bersekolah disana- , begitu bangga nya dengan keeropaannya. Apalagi tulisan-tulisannya-sebagai Max Tollenaar- dalam bahasa Belanda sudah mulai dikenal banyak orang. Kini (di buku Anak Semua Bangsa) ia mulai digugat untuk mengetahui keberadaan bangsanya sendiri.Setelah Jean Marrais dan Kommer "melukai" hati Mingke dengan menyebutkan ia tidak kenal dengan bangsanya sendiri, Mingke mulai menemuk ...more
Astuti Purbaningsih
Anak Semua Bangsa, adalah roman kedua dari Tetralogi Buru karya Pramoedya Ananta Toer. Salah satu buku terbaik yang pernah saya baca. Tidaklah berlebihan rasanya bila penerbit Lentera Dipantara menyatakannya sebagai Sumbangan Indonesia untuk Dunia.

Ketiga roman pertama Tetralogi Buru (termasuk Anak Semua Bangsa) menempatkan Minke, seorang Pribumi terpelajar lulusan HBS sebagai tokoh utama. Minke adalah gambaran pemuda Pribumi yang selalu dilanda kegelisahan akan nasib bangsanya sebagai bangsa jaj
...more
Andanti Prasetyandaru
Masih ingat gaya bercerita buku-buku teks Sejarah waktu sekolah ga'? gaya penulisannya kurang pasti objektif, kronologis, dan penuh tanggal-tanggal yang wajib kita hapalin karena selalu muncul di ujian.

Keknya emang itu satu-satunya cara para penulis buku teks yang digunakan di sekolah-sekolah buat mempertahankan keobjektifannya dan “tidak memihak”. Tapi, kalok nDaru bilang sih hal kekgini bikin sejarah menjadi kering — kehilangan nuansa, sepanjang nDaru ngikutin buku sejarah dari SD mpe SMA, gak
...more
Amelia Dewi
Feb 23, 2016 Amelia Dewi rated it it was amazing  ·  review of another edition
Buku ini tidak seindah buku pertama, dimana Minke sudah mulai menemui kepahitan-kepahitan hidup, kehilangan dan ketertindasan. Fase turun ke bawah, begitu Pram menyebutnya, memperkaya sudut pandang Minke tentang apa yang sedang dialami bangsanya, bagaimana sebenarnya para Belanda dan Eropa yang selama ini dia kagumi. Hingga akhirnya dia bisa memutuskan dan mengambil sikap, apa yang harus dia lakukan sebagai seorang lulusan HBS, apa yang akan dia lakukan untuk orang-orang yang tertindas oleh kaum ...more
Irwan
Nov 05, 2011 Irwan rated it really liked it  ·  review of another edition
Shelves: finished, 2011
Melanjutkan buku pertama, dimana tokoh Minke begitu mengagumi kebudayaan Eropa yang dianggapnya superior tak bercela, buku ini menampilkan pergeseran pandangan. A disillusionment. Kekecewaan bahwa Belanda atau Eropa bisa sama busuknya dengan raja-raja Jawa yang korup itu. Kepenulisan Minke, yang selama ini hanya dalam bahasa Belanda, mulai didorong-dorong oleh sahabatnya untuk menjamah ranah bahasa Melayu juga. Bahasa adalah bagian penting dari jati diri. Cerita ini dengan indahnya melukiskan pe ...more
Bernard Batubara
Oct 21, 2013 Bernard Batubara rated it really liked it
Selesai baca "Anak Semua Bangsa", buku kedua dari Tetralogi Buru Pram.

Meneruskan kisah Minke dan Nyai Ontosoroh tentang perlawanan mereka terhadap sikap, perilaku, dan hukum Eropa. Pada buku kedua ini Pram memasukkan lebih banyak informasi tentang Jepang, Belanda, Filipina, dan Cina. Sedikit menyinggung Spanyol, Amerika, dan Inggris. Pembahasan mengenai Revolusi Perancis paling banyak. Karena lebih banyaknya informasi terkait hal-hal tersebut, romannya jadi kurang terasa, sehingga "Anak Semua Ba
...more
Angdamdewi
Apr 23, 2010 Angdamdewi rated it it was amazing
It was amazing! Pram is brilliant!!

Saya yakin belum atau mungkin tidak ada yang sepintar beliau dalam mengolah kata - kata, melebur dengan emosi dan menjadikannya senyawa dalam karya - karyanya! Roman ke - dua setelah "Bumi Manusia" ini meneruskan episode lanjutan di kehidupan Nyai Ontosoroh, Minke, dan bumi nusantara itu sendiri. Nyai Ontosoroh dan Minke saling menguatkan setelah berita meninggalnya Annelies Mellema di Nederland bahkan hubungan merekapun lebih terlihat sebagai ibu dan anak, ket
...more
Maufiroh
Jun 28, 2015 Maufiroh rated it it was amazing  ·  review of another edition
Sungguh menyesal karena baru tahu karya sebagus ini sekaligus bersyukur masih bisa menikmati karya Tetralogi yg kedua dr Pram.

"Kau tak kenal bangsamu sendiri", Jean Marais
Sindiran terhadap Minke karena selalu membuat tulisan dgn bahasa Belanda sedang dia tidak pernah menggunakan bahasa Melayu yg dipahami kaum Pribumi. Sebenarnya juga terjadi di masa kini, globalisasi.

Adalagi yg menarik
"Tanpa kegembiraan, tanpa keceriaan, orang akan berputar-putar dalam penderitaan itu saja.", Kommer

Banyak sekal
...more
Ilhamisasi
Dec 10, 2007 Ilhamisasi rated it really liked it
Kelanjutan dari yang pertama. Membuat penasaran hubungan T.A.S dengan Annelis. Tapi menyakitkan di saat awal membaca, pembaca sudah diberikan shock therapy oleh pengarang
Tezar Yulianto
Separuh membosankan separuh keren
Yuu Sasih
Sekarang saya tahu kenapa Pram pernah menjadi nominee Nobel Sastra.

Berbeda dengan Bumi Manusia yang masih berkutat mengenai kisah cinta dan distorsi idealisme Minke terhadap pemerintahan Hindia Belanda, dalam Anak Semua Bangsa mulai diputarbalikkan segala yang tadinya, saat di Bumi Manusia, diagung-agungkan oleh Minke; kemajuan dan keagungan peradaban Eropa. Dalam Bumi Manusia Minke masihlah seorang terpelajar yang mengagungkan Eropa dan mengkerdilkan bangsanya sendiri, sampai ketidakadilan meng
...more
Rino Ferdian
May 16, 2012 Rino Ferdian rated it it was amazing  ·  review of another edition
Melanjutkan kisah keluarga pribumi dalam pengadilan bumi manusia yang tidak adil, Minke dan Nyai Ontosoroh yang telah direnggutnya Annelis Mellema - istri tersayang Minke dan anak gadis Nyai Ontosoroh yang telah didiknya menjadi wanita luar biasa - kembali menghadapi perangai ketidakadilan. Ketidakadilan bagi pribumi dan kesewenangan kolonial. Dulu. Sama saja sekarang. Hanya bukan bangsa dan ras yang jadi tembok cinanya melainkan harta dan kekuasaan.

Anak Semua Bangsa menampilkan referensi kisah
...more
Dhea Sekararum
Aug 16, 2011 Dhea Sekararum rated it really liked it  ·  review of another edition
This is the second book in the quartet of novels known to some as the Buru Tetralogy. Minke, a Native, while in the process of recovering from the death of his wife, who was ‘murdered’ by the Dutch colonials’ law which prevented her to get her rights as her father step daughter, starting to find his nationality, surprisingly, by learning from his foreigner friends.

Minke, though educated at the prestigious Dutch HBS secondary school, must accept the fact that he really doesn’t know his own natio
...more
Ime'... Imelda
Feb 13, 2008 Ime'... Imelda rated it it was amazing
Buku ini selesai gue baca waktu dalam perjalanan pulang dari bandung ke Jakarta. Gue ke Bandung dalam rangka sebuah seminar waktu itu.

Satu pelajaran yang sangat gue petik dari buku ini adalah mengenai diri kita sendiri.

Kalau gue boleh membayangkan bagaimana perasaan seorang Minke, yang adalah anak seorang bupati, lulus dari sekolah yang dikhususkan untuk pribumi mengecap ilmu Eropa, penulis artikel koran yang gape' dalam berbahasa belanda, akan berada setinggi apa kebanggaan yang dia miliki? Di
...more
Toro
Feb 01, 2017 Toro rated it it was amazing  ·  review of another edition
Shelves: tetralogi
Konflik selanjutnya dari buku ke 2 Pram saat di penjarakan di Pulau Buru ini mengisahkan tentang Annelies yang telah mati di Nederland. Kabar tersebut akhirnya sampai ke telinga Minke dan betapa kagetnya dia dengan berita yang sangat menggemparkan jantungnya. istri yang cantik dan manja itu akhirnya telah hilang untuk selama-lamanya. tetapi dengan hal tersebut, Minke harus tetap berjalan menuju kehidupan yang lebih baik. Nyai Ontosoroh, seorang ibu yang telah melahirkan Annelies dengan tegar tet ...more
an
Feb 12, 2009 an rated it really liked it  ·  review of another edition
Shelves: novel, punya, hibah
hindia lahir dari ayah kompeni dan ibu pertiwi, maka wajar terjadi banyak alkulturasi budaya di sini. namun sebelum semua itu terjadi, yang ada adalah penindasan dari yang kuat kepada yang lemah. penj(el)ajah kepada negeri j(el)ajahan na.

bukan berlebihan jika buku kedua dari tetralogi buru ini berjudul anak semua bangsa. kerena memang demikianlah isi na. bukan hanya tentang kisah-kisah anak manusia dari berbagai sisi, pejuang cina yang sadar akan hak-hak bangsa na setelah mendapat pendidikan di
...more
Maggie
Apr 14, 2008 Maggie rated it really liked it
this is the second book of the quartet and i really wish i didn't wait so long after reading the first before reading this one. i read the first book almost a year ago or more and i couldn't remember some events which were kind of important. they weren't essential to the plot of the second but they were mentioned and i was dissapointed i couldn't recall them. i think i would've liked it even more had i been able to remember much of the first book. other than that though i really enjoyed this boo ...more
Christian Putra
Oct 12, 2015 Christian Putra rated it it was amazing  ·  review of another edition
Shelves: collection
The adventure of Minke continues (along with the building of Hindia Nation) in this book, the second part of Buru Tetralogy. Pramoedya beautifully capture what might have happened in the beginning of 20th-Century Hindia from a perspective of both aristocracies and proletariats. The rise of Japan and the revolution in Philippine impacted the stagnancy of Asia’s position in world league, kind of tickled colonialism a bit, a threat.



Living a post-Annelies life, Minke faced a dilemma of claiming hims
...more
muse anshori
Feb 04, 2017 muse anshori rated it it was amazing  ·  review of another edition
Buku yang sangat luar buasa, banyak emosi yang tercampur dan juga kesedihan membayangkan kehidupan nyai ontosoroh dan Minke... Nyai ontosoroh merupakan sosok wanita yang luar biasa... Banyak sejarah dan pengetahuan yang bisa saya dapatkan dari membaca buku ini, dan pram menyampaikannya dengan sangat baik.. Sekali lagi saya bilang bahwa "this is a masterpiece".

Saya heran buku sebagus ini sempat dilarang di jaman orde baru, terima kasih kepada reformasi yang mana akhirnya saya dapat membaca sebuah
...more
Bunga Mawar
Entah buat pembaca tetralogi Pulau Buru lain, tapi buat saya buku ini lebih membekas daripada Bumi Manusia.

*catatan tambahan*
Kalau power adaptor laptop saya Senin lalu tidak ketinggalan di Jakarta, mungkin buku ini belum akan sempat saya baca, hehe...
Althesia
Dibuku kedua ini mulai sarat dengan Ideologi baru yang mengawali masa kebangkitan nasional. Kalau di Bumi Manusia, Minke hanya memandang Eropa, namun di Anak Semua Bangsa ini Minke mulai mengenal orang sebangsanya sendiri berikut kesulitan-kesulitan yang dibawa oleh masa kolonial. Tetap bagus namun tidak setajam Bumi Manusia.
Danielle
Jan 08, 2008 Danielle rated it it was amazing
Recommends it for: radicals, (post)-colonial lit. majors
I really liked this book. The further I get into the tetralogy the more I feel like the narrator. Fascinating, tragic, inspiring, and a page turner. He's both a feminist and a misogynist, a colonialist and a revolutionary. He sounds like a coherent deconstructionist. To know that such a person existed...
Eka Suprayitno
Jan 22, 2017 Eka Suprayitno rated it it was amazing  ·  review of another edition
This review has been hidden because it contains spoilers. To view it, click here.
« previous 1 3 4 5 6 7 8 9 next »
There are no discussion topics on this book yet. Be the first to start one »
  • Burung-Burung Manyar
  • Ronggeng Dukuh Paruk
  • Para Priyayi: Sebuah Novel
  • Pulang
  • Ca Bau Kan: Hanya Sebuah Dosa
  • Jalan Tak Ada Ujung
  • Anak Bajang Menggiring Angin
  • Olenka
  • Bilangan Fu
  • Tanah Tabu
  • Rahasia Meede: Misteri Harta Karun VOC
  • Amba
  • Atheis
  • Robohnya Surau Kami
  • Aku Ingin Jadi Peluru (Kumpulan Puisi)
  • Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma
101823
Pramoedya Ananta Toer was an Indonesian author of novels, short stories, essays, polemics, and histories of his homeland and its people. A well-regarded writer in the West, Pramoedya's outspoken and often politically charged writings faced censorship in his native land during the pre-reformation era. For opposing the policies of both founding president Sukarno, as well as those of its successor, t ...more
More about Pramoedya Ananta Toer...

Other Books in the Series

Tetralogi Buru (4 books)
  • Bumi Manusia
  • Jejak Langkah
  • House of Glass

Share This Book



“Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapa pun? Karena kau menulis. Suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh di kemudian hari. (Mama, 84)” 285 likes
“Kehidupan ini seimbang, Tuan. Barangsiapa hanya memandang pada keceriaannya saja, dia orang gila. Barangsiapa memandang pada penderitaannya saja, dia sakit.” 222 likes
More quotes…