<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<GoodreadsResponse>
	<Request>
		<authentication>false</authentication>
		    <method><![CDATA[]]></method>
	</Request>
	
<book>
  <id>2139408</id>
  <title><![CDATA[Perantau]]></title>
  <isbn><![CDATA[9792227350]]></isbn>
  <isbn13><![CDATA[9789792227352]]></isbn13>
  <image_url>http://photo.goodreads.com/books/1248525691m/2139408.jpg</image_url>
  <small_image_url>http://photo.goodreads.com/books/1248525691s/2139408.jpg</small_image_url>
  <description><![CDATA[Di sebuah kampung di tanah air, merantau adalah keharusan bagi seorang laki-laki dewasa. “Pergilah merantau, Nak.” adalah kalimat yang lazim diucapkan seorang ibu di daerah itu. Namun apakah arti sesunguhnya merantau? Dalam cerpen ‘Perantau’, Gus tf Sakai bercerita dengan indah tentang makna dan harapan yang dicari oleh para perantau.<br/><br/>Pada beberapa cerpen lainnya, Gus tf Sakai mengemukakan kritik sosial dengan gaya bercerita yang metaforis dan tertata dengan saksama. Misalnya cerpen “Tujuh Puluh Tujuh Lidah Emas” mengungkapkan kritik terhadap pemerintah pusat tentang eksploitasi kekayaan bumi daerah. Cerpen “Belatung” mengisahkan tentang kesulitan ekonomi yang memaksa seorang perempuan menjadi pelacur. Cerpen “Kami Lepas Anak Kami” mengemukakan masalah kurikulum pendidikan anak yang tidak proporsional.<br/><br/>Cerpen-cerpen dalam buku ini telah terbit di berbagai media massa terkemuka seperti Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Horison dan Padang Ekspress. Perantau adalah kumpulan cerpen Gus tf Sakai yang ke-4, setelah Istana Ketirisan (1996), Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (1999), dan Laba-laba (2003). Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta memenangi Hadiah Sastra Lontar 2001 dan penghargaan sastra Pusat Bahasa 2002, diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh The Lontar Foundation dengan judul The Barber (2002). Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta juga menerima SEA Write Award 2004.]]></description>
  <work>
  <best_book_id type="integer">2139408</best_book_id>
  <books_count type="integer">1</books_count>
  <desc_user_id type="integer" nil="true"></desc_user_id>
  <id type="integer">2501267</id>
  <media_type nil="true"></media_type>
  <original_language_id type="integer" nil="true"></original_language_id>
  <original_publication_day type="integer" nil="true"></original_publication_day>
  <original_publication_month type="integer" nil="true"></original_publication_month>
  <original_publication_year type="integer">2007</original_publication_year>
  <original_title>Perantau</original_title>
  <rating_dist>total:22|5:1|4:7|3:12|2:1|1:1|</rating_dist>
  <ratings_count type="integer">22</ratings_count>
  <ratings_sum type="integer">72</ratings_sum>
  <reviews_count type="integer">33</reviews_count>
  <text_reviews_count type="integer">7</text_reviews_count>
</work>

  <average_rating><![CDATA[3.27]]></average_rating>
  <ratings_count><![CDATA[22]]></ratings_count>
  <text_reviews_count><![CDATA[7]]></text_reviews_count>
  
  <url><![CDATA[http://www.goodreads.com/book/show/2139408.Perantau]]></url>
  <link><![CDATA[http://www.goodreads.com/book/show/2139408.Perantau]]></link>
  <authors>
    <author>
    <id>195423</id>
        <name><![CDATA[Gus tf Sakai]]></name>
    <image_url><![CDATA[http://photo.goodreads.com/authors/1210903879p5/195423.jpg]]></image_url>
    <small_image_url><![CDATA[http://photo.goodreads.com/authors/1210903879p2/195423.jpg]]></small_image_url>
    <link><![CDATA[http://www.goodreads.com/author/show/195423.Gus_tf_Sakai]]></link>
    <average_rating>3.20</average_rating>
    <ratings_count>56</ratings_count>
    <text_reviews_count>13</text_reviews_count>
  </author>
  </authors>
    <reviews start="1" end="20" total="33">
      <review>
  <id>21233402</id>
    <user>
    <id>773977</id>
    <name><![CDATA[Toffan]]></name>
    <location><![CDATA[tegal-semarang, Indonesia]]></location>
    <link><![CDATA[http://www.goodreads.com/user/show/773977-toffan-arief]]></link>
    <image_url><![CDATA[http://photo.goodreads.com/users/1249138871p3/773977.jpg]]></image_url>
    <small_image_url><![CDATA[http://photo.goodreads.com/users/1249138871p2/773977.jpg]]></small_image_url>
  </user>
    <book>
  <id type="integer">2139408</id>
  <isbn>9792227350</isbn>
  <isbn13>9789792227352</isbn13>
  <text_reviews_count type="integer">7</text_reviews_count>
  <title>
    <![CDATA[Perantau]]>
  </title>
  <image_url>http://photo.goodreads.com/books/1248525691m/2139408.jpg</image_url>
  <small_image_url>http://photo.goodreads.com/books/1248525691s/2139408.jpg</small_image_url>
  <link>http://www.goodreads.com/book/show/2139408.Perantau</link>
  <average_rating>3.27</average_rating>
  <ratings_count>22</ratings_count>
  <description>
    <![CDATA[Di sebuah kampung di tanah air, merantau adalah keharusan bagi seorang laki-laki dewasa. “Pergilah merantau, Nak.” adalah kalimat yang lazim diucapkan seorang ibu di daerah itu. Namun apakah arti sesunguhnya merantau? Dalam cerpen ‘Perantau’, Gus tf Sakai bercerita dengan indah tentang makna dan harapan yang dicari oleh para perantau.<br/><br/>Pada beberapa cerpen lainnya, Gus tf Sakai mengemukakan kritik sosial dengan gaya bercerita yang metaforis dan tertata dengan saksama. Misalnya cerpen “Tujuh Puluh Tujuh Lidah Emas” mengungkapkan kritik terhadap pemerintah pusat tentang eksploitasi kekayaan bumi daerah. Cerpen “Belatung” mengisahkan tentang kesulitan ekonomi yang memaksa seorang perempuan menjadi pelacur. Cerpen “Kami Lepas Anak Kami” mengemukakan masalah kurikulum pendidikan anak yang tidak proporsional.<br/><br/>Cerpen-cerpen dalam buku ini telah terbit di berbagai media massa terkemuka seperti Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Horison dan Padang Ekspress. Perantau adalah kumpulan cerpen Gus tf Sakai yang ke-4, setelah Istana Ketirisan (1996), Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (1999), dan Laba-laba (2003). Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta memenangi Hadiah Sastra Lontar 2001 dan penghargaan sastra Pusat Bahasa 2002, diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh The Lontar Foundation dengan judul The Barber (2002). Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta juga menerima SEA Write Award 2004.]]>
  </description>
  <published>2007</published>
</book>

    <rating>4</rating>
  <votes>0</votes>
  <spoiler_flag>false</spoiler_flag>
  <shelves>
        <shelf name="read" />
            <shelf name="indonesian" />
      </shelves>
  <recommended_for><![CDATA[]]></recommended_for>
  <recommended_by><![CDATA[]]></recommended_by>
  <read_at></read_at>
  <date_added>Tue Apr 29 04:06:20 -0700 2008</date_added>
  <date_updated>Tue Apr 29 04:07:23 -0700 2008</date_updated>
  <read_count></read_count>
    <body><![CDATA[gud...cerita berlatar daerah dimana merantau menjadi sebuah &quot;adat&quot; bagi pemuda di sana.]]></body>
    
  <url><![CDATA[http://www.goodreads.com/review/show/21233402]]></url>
  <link><![CDATA[http://www.goodreads.com/review/show/21233402]]></link>
</review>
      <review>
  <id>9918757</id>
    <user>
    <id>607946</id>
    <name><![CDATA[Max]]></name>
    <location><![CDATA[Padang, Indonesia]]></location>
    <link><![CDATA[http://www.goodreads.com/user/show/607946-max]]></link>
    <image_url><![CDATA[http://photo.goodreads.com/users/1194499869p3/607946.jpg]]></image_url>
    <small_image_url><![CDATA[http://photo.goodreads.com/users/1194499869p2/607946.jpg]]></small_image_url>
  </user>
    <book>
  <id type="integer">2139408</id>
  <isbn>9792227350</isbn>
  <isbn13>9789792227352</isbn13>
  <text_reviews_count type="integer">7</text_reviews_count>
  <title>
    <![CDATA[Perantau]]>
  </title>
  <image_url>http://photo.goodreads.com/books/1248525691m/2139408.jpg</image_url>
  <small_image_url>http://photo.goodreads.com/books/1248525691s/2139408.jpg</small_image_url>
  <link>http://www.goodreads.com/book/show/2139408.Perantau</link>
  <average_rating>3.27</average_rating>
  <ratings_count>22</ratings_count>
  <description>
    <![CDATA[Di sebuah kampung di tanah air, merantau adalah keharusan bagi seorang laki-laki dewasa. “Pergilah merantau, Nak.” adalah kalimat yang lazim diucapkan seorang ibu di daerah itu. Namun apakah arti sesunguhnya merantau? Dalam cerpen ‘Perantau’, Gus tf Sakai bercerita dengan indah tentang makna dan harapan yang dicari oleh para perantau.<br/><br/>Pada beberapa cerpen lainnya, Gus tf Sakai mengemukakan kritik sosial dengan gaya bercerita yang metaforis dan tertata dengan saksama. Misalnya cerpen “Tujuh Puluh Tujuh Lidah Emas” mengungkapkan kritik terhadap pemerintah pusat tentang eksploitasi kekayaan bumi daerah. Cerpen “Belatung” mengisahkan tentang kesulitan ekonomi yang memaksa seorang perempuan menjadi pelacur. Cerpen “Kami Lepas Anak Kami” mengemukakan masalah kurikulum pendidikan anak yang tidak proporsional.<br/><br/>Cerpen-cerpen dalam buku ini telah terbit di berbagai media massa terkemuka seperti Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Horison dan Padang Ekspress. Perantau adalah kumpulan cerpen Gus tf Sakai yang ke-4, setelah Istana Ketirisan (1996), Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (1999), dan Laba-laba (2003). Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta memenangi Hadiah Sastra Lontar 2001 dan penghargaan sastra Pusat Bahasa 2002, diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh The Lontar Foundation dengan judul The Barber (2002). Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta juga menerima SEA Write Award 2004.]]>
  </description>
  <published>2007</published>
</book>

    <rating>3</rating>
  <votes>0</votes>
  <spoiler_flag>false</spoiler_flag>
  <shelves>
        <shelf name="read" />
            <shelf name="sudah-lamadibaca" />
      </shelves>
  <recommended_for><![CDATA[]]></recommended_for>
  <recommended_by><![CDATA[]]></recommended_by>
  <read_at></read_at>
  <date_added>Tue Dec 04 04:59:01 -0800 2007</date_added>
  <date_updated>Tue Dec 04 04:59:48 -0800 2007</date_updated>
  <read_count></read_count>
    <body><![CDATA[baca reviewnya di blog saya<br/><a rel="nofollow" target="_blank" href="http://maxbooks.wordpress.com/2007/06/17/buku-tiga-puluh-sembilan/" title="http://maxbooks.wordpress.com/2007/06/17/buku-tiga-puluh-sembilan/">http://maxbooks.wordpress.com/2007/06/17...</a>]]></body>
    
  <url><![CDATA[http://www.goodreads.com/review/show/9918757]]></url>
  <link><![CDATA[http://www.goodreads.com/review/show/9918757]]></link>
</review>
      <review>
  <id>11513335</id>
    <user>
    <id>725750</id>
    <name><![CDATA[mina]]></name>
    <location><![CDATA[Banjarmasin, Indonesia]]></location>
    <link><![CDATA[http://www.goodreads.com/user/show/725750-mina]]></link>
    <image_url><![CDATA[http://photo.goodreads.com/users/1199013179p3/725750.jpg]]></image_url>
    <small_image_url><![CDATA[http://photo.goodreads.com/users/1199013179p2/725750.jpg]]></small_image_url>
  </user>
    <book>
  <id type="integer">2139408</id>
  <isbn>9792227350</isbn>
  <isbn13>9789792227352</isbn13>
  <text_reviews_count type="integer">7</text_reviews_count>
  <title>
    <![CDATA[Perantau]]>
  </title>
  <image_url>http://photo.goodreads.com/books/1248525691m/2139408.jpg</image_url>
  <small_image_url>http://photo.goodreads.com/books/1248525691s/2139408.jpg</small_image_url>
  <link>http://www.goodreads.com/book/show/2139408.Perantau</link>
  <average_rating>3.27</average_rating>
  <ratings_count>22</ratings_count>
  <description>
    <![CDATA[Di sebuah kampung di tanah air, merantau adalah keharusan bagi seorang laki-laki dewasa. “Pergilah merantau, Nak.” adalah kalimat yang lazim diucapkan seorang ibu di daerah itu. Namun apakah arti sesunguhnya merantau? Dalam cerpen ‘Perantau’, Gus tf Sakai bercerita dengan indah tentang makna dan harapan yang dicari oleh para perantau.<br/><br/>Pada beberapa cerpen lainnya, Gus tf Sakai mengemukakan kritik sosial dengan gaya bercerita yang metaforis dan tertata dengan saksama. Misalnya cerpen “Tujuh Puluh Tujuh Lidah Emas” mengungkapkan kritik terhadap pemerintah pusat tentang eksploitasi kekayaan bumi daerah. Cerpen “Belatung” mengisahkan tentang kesulitan ekonomi yang memaksa seorang perempuan menjadi pelacur. Cerpen “Kami Lepas Anak Kami” mengemukakan masalah kurikulum pendidikan anak yang tidak proporsional.<br/><br/>Cerpen-cerpen dalam buku ini telah terbit di berbagai media massa terkemuka seperti Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Horison dan Padang Ekspress. Perantau adalah kumpulan cerpen Gus tf Sakai yang ke-4, setelah Istana Ketirisan (1996), Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (1999), dan Laba-laba (2003). Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta memenangi Hadiah Sastra Lontar 2001 dan penghargaan sastra Pusat Bahasa 2002, diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh The Lontar Foundation dengan judul The Barber (2002). Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta juga menerima SEA Write Award 2004.]]>
  </description>
  <published>2007</published>
</book>

    <rating>3</rating>
  <votes>0</votes>
  <spoiler_flag>false</spoiler_flag>
  <shelves>
        <shelf name="read" />
          </shelves>
  <recommended_for><![CDATA[]]></recommended_for>
  <recommended_by><![CDATA[]]></recommended_by>
  <read_at>Tue Jan 01 00:00:00 -0800 2008</read_at>
  <date_added>Thu Jan 03 04:36:50 -0800 2008</date_added>
  <date_updated>Fri Jan 25 19:02:22 -0800 2008</date_updated>
  <read_count></read_count>
    <body><![CDATA[Ada beberapa cerpen yang tidak kupahami, sampai tertidur-tidur bacanya. ]]></body>
    
  <url><![CDATA[http://www.goodreads.com/review/show/11513335]]></url>
  <link><![CDATA[http://www.goodreads.com/review/show/11513335]]></link>
</review>
      <review>
  <id>8697748</id>
    <user>
    <id>145888</id>
    <name><![CDATA[Windry]]></name>
    <location><![CDATA[Jakarta, Indonesia]]></location>
    <link><![CDATA[http://www.goodreads.com/user/show/145888-windry]]></link>
    <image_url><![CDATA[http://photo.goodreads.com/users/1207795405p3/145888.jpg]]></image_url>
    <small_image_url><![CDATA[http://photo.goodreads.com/users/1207795405p2/145888.jpg]]></small_image_url>
  </user>
    <book>
  <id type="integer">2139408</id>
  <isbn>9792227350</isbn>
  <isbn13>9789792227352</isbn13>
  <text_reviews_count type="integer">7</text_reviews_count>
  <title>
    <![CDATA[Perantau]]>
  </title>
  <image_url>http://photo.goodreads.com/books/1248525691m/2139408.jpg</image_url>
  <small_image_url>http://photo.goodreads.com/books/1248525691s/2139408.jpg</small_image_url>
  <link>http://www.goodreads.com/book/show/2139408.Perantau</link>
  <average_rating>3.27</average_rating>
  <ratings_count>22</ratings_count>
  <description>
    <![CDATA[Di sebuah kampung di tanah air, merantau adalah keharusan bagi seorang laki-laki dewasa. “Pergilah merantau, Nak.” adalah kalimat yang lazim diucapkan seorang ibu di daerah itu. Namun apakah arti sesunguhnya merantau? Dalam cerpen ‘Perantau’, Gus tf Sakai bercerita dengan indah tentang makna dan harapan yang dicari oleh para perantau.<br/><br/>Pada beberapa cerpen lainnya, Gus tf Sakai mengemukakan kritik sosial dengan gaya bercerita yang metaforis dan tertata dengan saksama. Misalnya cerpen “Tujuh Puluh Tujuh Lidah Emas” mengungkapkan kritik terhadap pemerintah pusat tentang eksploitasi kekayaan bumi daerah. Cerpen “Belatung” mengisahkan tentang kesulitan ekonomi yang memaksa seorang perempuan menjadi pelacur. Cerpen “Kami Lepas Anak Kami” mengemukakan masalah kurikulum pendidikan anak yang tidak proporsional.<br/><br/>Cerpen-cerpen dalam buku ini telah terbit di berbagai media massa terkemuka seperti Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Horison dan Padang Ekspress. Perantau adalah kumpulan cerpen Gus tf Sakai yang ke-4, setelah Istana Ketirisan (1996), Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (1999), dan Laba-laba (2003). Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta memenangi Hadiah Sastra Lontar 2001 dan penghargaan sastra Pusat Bahasa 2002, diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh The Lontar Foundation dengan judul The Barber (2002). Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta juga menerima SEA Write Award 2004.]]>
  </description>
  <published>2007</published>
</book>

    <rating>1</rating>
  <votes>0</votes>
  <spoiler_flag>false</spoiler_flag>
  <shelves>
        <shelf name="read" />
            <shelf name="fiction" />
        <shelf name="indonesian" />
        <shelf name="unfinished" />
      </shelves>
  <recommended_for><![CDATA[]]></recommended_for>
  <recommended_by><![CDATA[]]></recommended_by>
  <read_at>Tue Nov 13 21:32:34 -0800 2007</read_at>
  <date_added>Mon Nov 05 09:35:58 -0800 2007</date_added>
  <date_updated>Tue Nov 13 21:29:44 -0800 2007</date_updated>
  <read_count></read_count>
    <body><![CDATA[dududu ... menyelesaikan cerpen pertama aja kok susah yaaa ...]]></body>
    
  <url><![CDATA[http://www.goodreads.com/review/show/8697748]]></url>
  <link><![CDATA[http://www.goodreads.com/review/show/8697748]]></link>
</review>
      <review>
  <id>8717855</id>
    <user>
    <id>87906</id>
    <name><![CDATA[Femmy]]></name>
    <location><![CDATA[Bandung, Indonesia]]></location>
    <link><![CDATA[http://www.goodreads.com/user/show/87906-femmy]]></link>
    <image_url><![CDATA[http://photo.goodreads.com/users/1195015346p3/87906.jpg]]></image_url>
    <small_image_url><![CDATA[http://photo.goodreads.com/users/1195015346p2/87906.jpg]]></small_image_url>
  </user>
    <book>
  <id type="integer">2139408</id>
  <isbn>9792227350</isbn>
  <isbn13>9789792227352</isbn13>
  <text_reviews_count type="integer">7</text_reviews_count>
  <title>
    <![CDATA[Perantau]]>
  </title>
  <image_url>http://photo.goodreads.com/books/1248525691m/2139408.jpg</image_url>
  <small_image_url>http://photo.goodreads.com/books/1248525691s/2139408.jpg</small_image_url>
  <link>http://www.goodreads.com/book/show/2139408.Perantau</link>
  <average_rating>3.27</average_rating>
  <ratings_count>22</ratings_count>
  <description>
    <![CDATA[Di sebuah kampung di tanah air, merantau adalah keharusan bagi seorang laki-laki dewasa. “Pergilah merantau, Nak.” adalah kalimat yang lazim diucapkan seorang ibu di daerah itu. Namun apakah arti sesunguhnya merantau? Dalam cerpen ‘Perantau’, Gus tf Sakai bercerita dengan indah tentang makna dan harapan yang dicari oleh para perantau.<br/><br/>Pada beberapa cerpen lainnya, Gus tf Sakai mengemukakan kritik sosial dengan gaya bercerita yang metaforis dan tertata dengan saksama. Misalnya cerpen “Tujuh Puluh Tujuh Lidah Emas” mengungkapkan kritik terhadap pemerintah pusat tentang eksploitasi kekayaan bumi daerah. Cerpen “Belatung” mengisahkan tentang kesulitan ekonomi yang memaksa seorang perempuan menjadi pelacur. Cerpen “Kami Lepas Anak Kami” mengemukakan masalah kurikulum pendidikan anak yang tidak proporsional.<br/><br/>Cerpen-cerpen dalam buku ini telah terbit di berbagai media massa terkemuka seperti Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Horison dan Padang Ekspress. Perantau adalah kumpulan cerpen Gus tf Sakai yang ke-4, setelah Istana Ketirisan (1996), Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (1999), dan Laba-laba (2003). Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta memenangi Hadiah Sastra Lontar 2001 dan penghargaan sastra Pusat Bahasa 2002, diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh The Lontar Foundation dengan judul The Barber (2002). Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta juga menerima SEA Write Award 2004.]]>
  </description>
  <published>2007</published>
</book>

    <rating>0</rating>
  <votes>0</votes>
  <spoiler_flag>false</spoiler_flag>
  <shelves>
            <shelf name="interested" />
        <shelf name="interested-indonesian" />
      </shelves>
  <recommended_for><![CDATA[]]></recommended_for>
  <recommended_by><![CDATA[]]></recommended_by>
  <read_at></read_at>
  <date_added>Mon Nov 05 16:37:19 -0800 2007</date_added>
  <date_updated>Mon Nov 05 16:37:41 -0800 2007</date_updated>
  <read_count></read_count>
    <body><![CDATA[Pemenang Khatulistiwa Literary Award 2007.]]></body>
    
  <url><![CDATA[http://www.goodreads.com/review/show/8717855]]></url>
  <link><![CDATA[http://www.goodreads.com/review/show/8717855]]></link>
</review>
      <review>
  <id>12818752</id>
    <user>
    <id>774428</id>
    <name><![CDATA[Dei sha]]></name>
    <location><![CDATA[neverland, Indonesia]]></location>
    <link><![CDATA[http://www.goodreads.com/user/show/774428-dei-sha-ta-mar]]></link>
    <image_url><![CDATA[http://www.goodreads.com/images/nophoto-F-111x148.jpg]]></image_url>
    <small_image_url><![CDATA[http://www.goodreads.com/images/nophoto-F-50x66.jpg]]></small_image_url>
  </user>
    <book>
  <id type="integer">2139408</id>
  <isbn>9792227350</isbn>
  <isbn13>9789792227352</isbn13>
  <text_reviews_count type="integer">7</text_reviews_count>
  <title>
    <![CDATA[Perantau]]>
  </title>
  <image_url>http://photo.goodreads.com/books/1248525691m/2139408.jpg</image_url>
  <small_image_url>http://photo.goodreads.com/books/1248525691s/2139408.jpg</small_image_url>
  <link>http://www.goodreads.com/book/show/2139408.Perantau</link>
  <average_rating>3.27</average_rating>
  <ratings_count>22</ratings_count>
  <description>
    <![CDATA[Di sebuah kampung di tanah air, merantau adalah keharusan bagi seorang laki-laki dewasa. “Pergilah merantau, Nak.” adalah kalimat yang lazim diucapkan seorang ibu di daerah itu. Namun apakah arti sesunguhnya merantau? Dalam cerpen ‘Perantau’, Gus tf Sakai bercerita dengan indah tentang makna dan harapan yang dicari oleh para perantau.<br/><br/>Pada beberapa cerpen lainnya, Gus tf Sakai mengemukakan kritik sosial dengan gaya bercerita yang metaforis dan tertata dengan saksama. Misalnya cerpen “Tujuh Puluh Tujuh Lidah Emas” mengungkapkan kritik terhadap pemerintah pusat tentang eksploitasi kekayaan bumi daerah. Cerpen “Belatung” mengisahkan tentang kesulitan ekonomi yang memaksa seorang perempuan menjadi pelacur. Cerpen “Kami Lepas Anak Kami” mengemukakan masalah kurikulum pendidikan anak yang tidak proporsional.<br/><br/>Cerpen-cerpen dalam buku ini telah terbit di berbagai media massa terkemuka seperti Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Horison dan Padang Ekspress. Perantau adalah kumpulan cerpen Gus tf Sakai yang ke-4, setelah Istana Ketirisan (1996), Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (1999), dan Laba-laba (2003). Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta memenangi Hadiah Sastra Lontar 2001 dan penghargaan sastra Pusat Bahasa 2002, diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh The Lontar Foundation dengan judul The Barber (2002). Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta juga menerima SEA Write Award 2004.]]>
  </description>
  <published>2007</published>
</book>

    <rating>4</rating>
  <votes>0</votes>
  <spoiler_flag>false</spoiler_flag>
  <shelves>
        <shelf name="read" />
            <shelf name="okay" />
      </shelves>
  <recommended_for><![CDATA[]]></recommended_for>
  <recommended_by><![CDATA[]]></recommended_by>
  <read_at></read_at>
  <date_added>Fri Jan 18 00:41:08 -0800 2008</date_added>
  <date_updated>Fri Jan 18 00:41:32 -0800 2008</date_updated>
  <read_count></read_count>
    <body><![CDATA[Mari merantau bersama Gus!]]></body>
    
  <url><![CDATA[http://www.goodreads.com/review/show/12818752]]></url>
  <link><![CDATA[http://www.goodreads.com/review/show/12818752]]></link>
</review>
      <review>
  <id>30631015</id>
    <user>
    <id>663028</id>
    <name><![CDATA[Titien]]></name>
    <location><![CDATA[Jakarta, Indonesia]]></location>
    <link><![CDATA[http://www.goodreads.com/user/show/663028-titien]]></link>
    <image_url><![CDATA[http://photo.goodreads.com/users/1219222363p3/663028.jpg]]></image_url>
    <small_image_url><![CDATA[http://photo.goodreads.com/users/1219222363p2/663028.jpg]]></small_image_url>
  </user>
    <book>
  <id type="integer">2139408</id>
  <isbn>9792227350</isbn>
  <isbn13>9789792227352</isbn13>
  <text_reviews_count type="integer">7</text_reviews_count>
  <title>
    <![CDATA[Perantau]]>
  </title>
  <image_url>http://photo.goodreads.com/books/1248525691m/2139408.jpg</image_url>
  <small_image_url>http://photo.goodreads.com/books/1248525691s/2139408.jpg</small_image_url>
  <link>http://www.goodreads.com/book/show/2139408.Perantau</link>
  <average_rating>3.27</average_rating>
  <ratings_count>22</ratings_count>
  <description>
    <![CDATA[Di sebuah kampung di tanah air, merantau adalah keharusan bagi seorang laki-laki dewasa. “Pergilah merantau, Nak.” adalah kalimat yang lazim diucapkan seorang ibu di daerah itu. Namun apakah arti sesunguhnya merantau? Dalam cerpen ‘Perantau’, Gus tf Sakai bercerita dengan indah tentang makna dan harapan yang dicari oleh para perantau.<br/><br/>Pada beberapa cerpen lainnya, Gus tf Sakai mengemukakan kritik sosial dengan gaya bercerita yang metaforis dan tertata dengan saksama. Misalnya cerpen “Tujuh Puluh Tujuh Lidah Emas” mengungkapkan kritik terhadap pemerintah pusat tentang eksploitasi kekayaan bumi daerah. Cerpen “Belatung” mengisahkan tentang kesulitan ekonomi yang memaksa seorang perempuan menjadi pelacur. Cerpen “Kami Lepas Anak Kami” mengemukakan masalah kurikulum pendidikan anak yang tidak proporsional.<br/><br/>Cerpen-cerpen dalam buku ini telah terbit di berbagai media massa terkemuka seperti Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Horison dan Padang Ekspress. Perantau adalah kumpulan cerpen Gus tf Sakai yang ke-4, setelah Istana Ketirisan (1996), Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (1999), dan Laba-laba (2003). Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta memenangi Hadiah Sastra Lontar 2001 dan penghargaan sastra Pusat Bahasa 2002, diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh The Lontar Foundation dengan judul The Barber (2002). Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta juga menerima SEA Write Award 2004.]]>
  </description>
  <published>2007</published>
</book>

    <rating>0</rating>
  <votes>0</votes>
  <spoiler_flag>false</spoiler_flag>
  <shelves>
            <shelf name="to-read" />
      </shelves>
  <recommended_for><![CDATA[]]></recommended_for>
  <recommended_by><![CDATA[]]></recommended_by>
  <read_at></read_at>
  <date_added>Wed Aug 20 04:05:28 -0700 2008</date_added>
  <date_updated>Wed Aug 20 04:06:03 -0700 2008</date_updated>
  <read_count></read_count>
    <body><![CDATA[<br/>Mo beli]]></body>
    
  <url><![CDATA[http://www.goodreads.com/review/show/30631015]]></url>
  <link><![CDATA[http://www.goodreads.com/review/show/30631015]]></link>
</review>
      <review>
  <id>79113518</id>
    <user>
    <id>2944847</id>
    <name><![CDATA[Hamzah]]></name>
    <location><![CDATA[Jakarta, 04, Indonesia]]></location>
    <link><![CDATA[http://www.goodreads.com/user/show/2944847-hamzah-ramadhan]]></link>
    <image_url><![CDATA[http://photo.goodreads.com/users/1258261196p3/2944847.jpg]]></image_url>
    <small_image_url><![CDATA[http://photo.goodreads.com/users/1258261196p2/2944847.jpg]]></small_image_url>
  </user>
    <book>
  <id type="integer">2139408</id>
  <isbn>9792227350</isbn>
  <isbn13>9789792227352</isbn13>
  <text_reviews_count type="integer">7</text_reviews_count>
  <title>
    <![CDATA[Perantau]]>
  </title>
  <image_url>http://photo.goodreads.com/books/1248525691m/2139408.jpg</image_url>
  <small_image_url>http://photo.goodreads.com/books/1248525691s/2139408.jpg</small_image_url>
  <link>http://www.goodreads.com/book/show/2139408.Perantau</link>
  <average_rating>3.27</average_rating>
  <ratings_count>22</ratings_count>
  <description>
    <![CDATA[Di sebuah kampung di tanah air, merantau adalah keharusan bagi seorang laki-laki dewasa. “Pergilah merantau, Nak.” adalah kalimat yang lazim diucapkan seorang ibu di daerah itu. Namun apakah arti sesunguhnya merantau? Dalam cerpen ‘Perantau’, Gus tf Sakai bercerita dengan indah tentang makna dan harapan yang dicari oleh para perantau.<br/><br/>Pada beberapa cerpen lainnya, Gus tf Sakai mengemukakan kritik sosial dengan gaya bercerita yang metaforis dan tertata dengan saksama. Misalnya cerpen “Tujuh Puluh Tujuh Lidah Emas” mengungkapkan kritik terhadap pemerintah pusat tentang eksploitasi kekayaan bumi daerah. Cerpen “Belatung” mengisahkan tentang kesulitan ekonomi yang memaksa seorang perempuan menjadi pelacur. Cerpen “Kami Lepas Anak Kami” mengemukakan masalah kurikulum pendidikan anak yang tidak proporsional.<br/><br/>Cerpen-cerpen dalam buku ini telah terbit di berbagai media massa terkemuka seperti Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Horison dan Padang Ekspress. Perantau adalah kumpulan cerpen Gus tf Sakai yang ke-4, setelah Istana Ketirisan (1996), Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (1999), dan Laba-laba (2003). Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta memenangi Hadiah Sastra Lontar 2001 dan penghargaan sastra Pusat Bahasa 2002, diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh The Lontar Foundation dengan judul The Barber (2002). Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta juga menerima SEA Write Award 2004.]]>
  </description>
  <published>2007</published>
</book>

    <rating>5</rating>
  <votes>0</votes>
  <spoiler_flag>false</spoiler_flag>
  <shelves>
        <shelf name="read" />
          </shelves>
  <recommended_for><![CDATA[]]></recommended_for>
  <recommended_by><![CDATA[]]></recommended_by>
  <read_at></read_at>
  <date_added>Fri Nov 27 08:05:00 -0800 2009</date_added>
  <date_updated>Fri Nov 27 08:05:07 -0800 2009</date_updated>
  <read_count></read_count>
    <body><![CDATA[]]></body>
    
  <url><![CDATA[http://www.goodreads.com/review/show/79113518]]></url>
  <link><![CDATA[http://www.goodreads.com/review/show/79113518]]></link>
</review>
      <review>
  <id>79092575</id>
    <user>
    <id>2984431</id>
    <name><![CDATA[Astrikusuma]]></name>
    <location><![CDATA[Jakarta, 04, Indonesia]]></location>
    <link><![CDATA[http://www.goodreads.com/user/show/2984431-astrikusuma]]></link>
    <image_url><![CDATA[http://photo.goodreads.com/users/1259986432p3/2984431.jpg]]></image_url>
    <small_image_url><![CDATA[http://photo.goodreads.com/users/1259986432p2/2984431.jpg]]></small_image_url>
  </user>
    <book>
  <id type="integer">2139408</id>
  <isbn>9792227350</isbn>
  <isbn13>9789792227352</isbn13>
  <text_reviews_count type="integer">7</text_reviews_count>
  <title>
    <![CDATA[Perantau]]>
  </title>
  <image_url>http://photo.goodreads.com/books/1248525691m/2139408.jpg</image_url>
  <small_image_url>http://photo.goodreads.com/books/1248525691s/2139408.jpg</small_image_url>
  <link>http://www.goodreads.com/book/show/2139408.Perantau</link>
  <average_rating>3.27</average_rating>
  <ratings_count>22</ratings_count>
  <description>
    <![CDATA[Di sebuah kampung di tanah air, merantau adalah keharusan bagi seorang laki-laki dewasa. “Pergilah merantau, Nak.” adalah kalimat yang lazim diucapkan seorang ibu di daerah itu. Namun apakah arti sesunguhnya merantau? Dalam cerpen ‘Perantau’, Gus tf Sakai bercerita dengan indah tentang makna dan harapan yang dicari oleh para perantau.<br/><br/>Pada beberapa cerpen lainnya, Gus tf Sakai mengemukakan kritik sosial dengan gaya bercerita yang metaforis dan tertata dengan saksama. Misalnya cerpen “Tujuh Puluh Tujuh Lidah Emas” mengungkapkan kritik terhadap pemerintah pusat tentang eksploitasi kekayaan bumi daerah. Cerpen “Belatung” mengisahkan tentang kesulitan ekonomi yang memaksa seorang perempuan menjadi pelacur. Cerpen “Kami Lepas Anak Kami” mengemukakan masalah kurikulum pendidikan anak yang tidak proporsional.<br/><br/>Cerpen-cerpen dalam buku ini telah terbit di berbagai media massa terkemuka seperti Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Horison dan Padang Ekspress. Perantau adalah kumpulan cerpen Gus tf Sakai yang ke-4, setelah Istana Ketirisan (1996), Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (1999), dan Laba-laba (2003). Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta memenangi Hadiah Sastra Lontar 2001 dan penghargaan sastra Pusat Bahasa 2002, diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh The Lontar Foundation dengan judul The Barber (2002). Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta juga menerima SEA Write Award 2004.]]>
  </description>
  <published>2007</published>
</book>

    <rating>3</rating>
  <votes>0</votes>
  <spoiler_flag>false</spoiler_flag>
  <shelves>
        <shelf name="read" />
          </shelves>
  <recommended_for><![CDATA[]]></recommended_for>
  <recommended_by><![CDATA[]]></recommended_by>
  <read_at></read_at>
  <date_added>Thu Nov 26 22:38:00 -0800 2009</date_added>
  <date_updated>Thu Nov 26 22:38:00 -0800 2009</date_updated>
  <read_count></read_count>
    <body><![CDATA[]]></body>
    
  <url><![CDATA[http://www.goodreads.com/review/show/79092575]]></url>
  <link><![CDATA[http://www.goodreads.com/review/show/79092575]]></link>
</review>
      <review>
  <id>67336510</id>
    <user>
    <id>2349455</id>
    <name><![CDATA[djimiekk]]></name>
    <location><![CDATA[kota maya, 07, Indonesia]]></location>
    <link><![CDATA[http://www.goodreads.com/user/show/2349455-djimiekk]]></link>
    <image_url><![CDATA[http://photo.goodreads.com/users/1248234135p3/2349455.jpg]]></image_url>
    <small_image_url><![CDATA[http://photo.goodreads.com/users/1248234135p2/2349455.jpg]]></small_image_url>
  </user>
    <book>
  <id type="integer">2139408</id>
  <isbn>9792227350</isbn>
  <isbn13>9789792227352</isbn13>
  <text_reviews_count type="integer">7</text_reviews_count>
  <title>
    <![CDATA[Perantau]]>
  </title>
  <image_url>http://photo.goodreads.com/books/1248525691m/2139408.jpg</image_url>
  <small_image_url>http://photo.goodreads.com/books/1248525691s/2139408.jpg</small_image_url>
  <link>http://www.goodreads.com/book/show/2139408.Perantau</link>
  <average_rating>3.27</average_rating>
  <ratings_count>22</ratings_count>
  <description>
    <![CDATA[Di sebuah kampung di tanah air, merantau adalah keharusan bagi seorang laki-laki dewasa. “Pergilah merantau, Nak.” adalah kalimat yang lazim diucapkan seorang ibu di daerah itu. Namun apakah arti sesunguhnya merantau? Dalam cerpen ‘Perantau’, Gus tf Sakai bercerita dengan indah tentang makna dan harapan yang dicari oleh para perantau.<br/><br/>Pada beberapa cerpen lainnya, Gus tf Sakai mengemukakan kritik sosial dengan gaya bercerita yang metaforis dan tertata dengan saksama. Misalnya cerpen “Tujuh Puluh Tujuh Lidah Emas” mengungkapkan kritik terhadap pemerintah pusat tentang eksploitasi kekayaan bumi daerah. Cerpen “Belatung” mengisahkan tentang kesulitan ekonomi yang memaksa seorang perempuan menjadi pelacur. Cerpen “Kami Lepas Anak Kami” mengemukakan masalah kurikulum pendidikan anak yang tidak proporsional.<br/><br/>Cerpen-cerpen dalam buku ini telah terbit di berbagai media massa terkemuka seperti Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Horison dan Padang Ekspress. Perantau adalah kumpulan cerpen Gus tf Sakai yang ke-4, setelah Istana Ketirisan (1996), Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (1999), dan Laba-laba (2003). Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta memenangi Hadiah Sastra Lontar 2001 dan penghargaan sastra Pusat Bahasa 2002, diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh The Lontar Foundation dengan judul The Barber (2002). Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta juga menerima SEA Write Award 2004.]]>
  </description>
  <published>2007</published>
</book>

    <rating>0</rating>
  <votes>0</votes>
  <spoiler_flag>false</spoiler_flag>
  <shelves>
            <shelf name="fiction" />
        <shelf name="indonesian" />
        <shelf name="short-stories" />
        <shelf name="to-read" />
      </shelves>
  <recommended_for><![CDATA[]]></recommended_for>
  <recommended_by><![CDATA[]]></recommended_by>
  <read_at></read_at>
  <date_added>Thu Aug 13 21:31:52 -0700 2009</date_added>
  <date_updated>Thu Aug 13 21:31:52 -0700 2009</date_updated>
  <read_count></read_count>
    <body><![CDATA[]]></body>
    
  <url><![CDATA[http://www.goodreads.com/review/show/67336510]]></url>
  <link><![CDATA[http://www.goodreads.com/review/show/67336510]]></link>
</review>
      <review>
  <id>64876038</id>
    <user>
    <id>2515562</id>
    <name><![CDATA[jim]]></name>
    <location><![CDATA[Indonesia]]></location>
    <link><![CDATA[http://www.goodreads.com/user/show/2515562-jim-zombie]]></link>
    <image_url><![CDATA[http://photo.goodreads.com/users/1248481858p3/2515562.jpg]]></image_url>
    <small_image_url><![CDATA[http://photo.goodreads.com/users/1248481858p2/2515562.jpg]]></small_image_url>
  </user>
    <book>
  <id type="integer">2139408</id>
  <isbn>9792227350</isbn>
  <isbn13>9789792227352</isbn13>
  <text_reviews_count type="integer">7</text_reviews_count>
  <title>
    <![CDATA[Perantau]]>
  </title>
  <image_url>http://photo.goodreads.com/books/1248525691m/2139408.jpg</image_url>
  <small_image_url>http://photo.goodreads.com/books/1248525691s/2139408.jpg</small_image_url>
  <link>http://www.goodreads.com/book/show/2139408.Perantau</link>
  <average_rating>3.27</average_rating>
  <ratings_count>22</ratings_count>
  <description>
    <![CDATA[Di sebuah kampung di tanah air, merantau adalah keharusan bagi seorang laki-laki dewasa. “Pergilah merantau, Nak.” adalah kalimat yang lazim diucapkan seorang ibu di daerah itu. Namun apakah arti sesunguhnya merantau? Dalam cerpen ‘Perantau’, Gus tf Sakai bercerita dengan indah tentang makna dan harapan yang dicari oleh para perantau.<br/><br/>Pada beberapa cerpen lainnya, Gus tf Sakai mengemukakan kritik sosial dengan gaya bercerita yang metaforis dan tertata dengan saksama. Misalnya cerpen “Tujuh Puluh Tujuh Lidah Emas” mengungkapkan kritik terhadap pemerintah pusat tentang eksploitasi kekayaan bumi daerah. Cerpen “Belatung” mengisahkan tentang kesulitan ekonomi yang memaksa seorang perempuan menjadi pelacur. Cerpen “Kami Lepas Anak Kami” mengemukakan masalah kurikulum pendidikan anak yang tidak proporsional.<br/><br/>Cerpen-cerpen dalam buku ini telah terbit di berbagai media massa terkemuka seperti Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Horison dan Padang Ekspress. Perantau adalah kumpulan cerpen Gus tf Sakai yang ke-4, setelah Istana Ketirisan (1996), Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (1999), dan Laba-laba (2003). Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta memenangi Hadiah Sastra Lontar 2001 dan penghargaan sastra Pusat Bahasa 2002, diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh The Lontar Foundation dengan judul The Barber (2002). Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta juga menerima SEA Write Award 2004.]]>
  </description>
  <published>2007</published>
</book>

    <rating>0</rating>
  <votes>0</votes>
  <spoiler_flag>false</spoiler_flag>
  <shelves>
            <shelf name="fiksi" />
        <shelf name="indonesian" />
        <shelf name="to-read" />
      </shelves>
  <recommended_for><![CDATA[]]></recommended_for>
  <recommended_by><![CDATA[]]></recommended_by>
  <read_at></read_at>
  <date_added>Sat Jul 25 01:07:21 -0700 2009</date_added>
  <date_updated>Sat Jul 25 01:07:33 -0700 2009</date_updated>
  <read_count></read_count>
    <body><![CDATA[]]></body>
    
  <url><![CDATA[http://www.goodreads.com/review/show/64876038]]></url>
  <link><![CDATA[http://www.goodreads.com/review/show/64876038]]></link>
</review>
      <review>
  <id>61596616</id>
    <user>
    <id>2186610</id>
    <name><![CDATA[Lyne]]></name>
    <location><![CDATA[Jakarta, 04, Indonesia]]></location>
    <link><![CDATA[http://www.goodreads.com/user/show/2186610-lyne-kwan]]></link>
    <image_url><![CDATA[http://photo.goodreads.com/users/1238758520p3/2186610.jpg]]></image_url>
    <small_image_url><![CDATA[http://photo.goodreads.com/users/1238758520p2/2186610.jpg]]></small_image_url>
  </user>
    <book>
  <id type="integer">2139408</id>
  <isbn>9792227350</isbn>
  <isbn13>9789792227352</isbn13>
  <text_reviews_count type="integer">7</text_reviews_count>
  <title>
    <![CDATA[Perantau]]>
  </title>
  <image_url>http://photo.goodreads.com/books/1248525691m/2139408.jpg</image_url>
  <small_image_url>http://photo.goodreads.com/books/1248525691s/2139408.jpg</small_image_url>
  <link>http://www.goodreads.com/book/show/2139408.Perantau</link>
  <average_rating>3.27</average_rating>
  <ratings_count>22</ratings_count>
  <description>
    <![CDATA[Di sebuah kampung di tanah air, merantau adalah keharusan bagi seorang laki-laki dewasa. “Pergilah merantau, Nak.” adalah kalimat yang lazim diucapkan seorang ibu di daerah itu. Namun apakah arti sesunguhnya merantau? Dalam cerpen ‘Perantau’, Gus tf Sakai bercerita dengan indah tentang makna dan harapan yang dicari oleh para perantau.<br/><br/>Pada beberapa cerpen lainnya, Gus tf Sakai mengemukakan kritik sosial dengan gaya bercerita yang metaforis dan tertata dengan saksama. Misalnya cerpen “Tujuh Puluh Tujuh Lidah Emas” mengungkapkan kritik terhadap pemerintah pusat tentang eksploitasi kekayaan bumi daerah. Cerpen “Belatung” mengisahkan tentang kesulitan ekonomi yang memaksa seorang perempuan menjadi pelacur. Cerpen “Kami Lepas Anak Kami” mengemukakan masalah kurikulum pendidikan anak yang tidak proporsional.<br/><br/>Cerpen-cerpen dalam buku ini telah terbit di berbagai media massa terkemuka seperti Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Horison dan Padang Ekspress. Perantau adalah kumpulan cerpen Gus tf Sakai yang ke-4, setelah Istana Ketirisan (1996), Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (1999), dan Laba-laba (2003). Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta memenangi Hadiah Sastra Lontar 2001 dan penghargaan sastra Pusat Bahasa 2002, diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh The Lontar Foundation dengan judul The Barber (2002). Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta juga menerima SEA Write Award 2004.]]>
  </description>
  <published>2007</published>
</book>

    <rating>0</rating>
  <votes>0</votes>
  <spoiler_flag>false</spoiler_flag>
  <shelves>
            <shelf name="to-read" />
      </shelves>
  <recommended_for><![CDATA[]]></recommended_for>
  <recommended_by><![CDATA[]]></recommended_by>
  <read_at></read_at>
  <date_added>Mon Jun 29 23:03:01 -0700 2009</date_added>
  <date_updated>Mon Jun 29 23:03:01 -0700 2009</date_updated>
  <read_count></read_count>
    <body><![CDATA[]]></body>
    
  <url><![CDATA[http://www.goodreads.com/review/show/61596616]]></url>
  <link><![CDATA[http://www.goodreads.com/review/show/61596616]]></link>
</review>
      <review>
  <id>61594759</id>
    <user>
    <id>2077582</id>
    <name><![CDATA[Naldo]]></name>
    <location><![CDATA[Jakarta, 04, Indonesia]]></location>
    <link><![CDATA[http://www.goodreads.com/user/show/2077582-naldo-pasmalla]]></link>
    <image_url><![CDATA[http://photo.goodreads.com/users/1235718621p3/2077582.jpg]]></image_url>
    <small_image_url><![CDATA[http://photo.goodreads.com/users/1235718621p2/2077582.jpg]]></small_image_url>
  </user>
    <book>
  <id type="integer">2139408</id>
  <isbn>9792227350</isbn>
  <isbn13>9789792227352</isbn13>
  <text_reviews_count type="integer">7</text_reviews_count>
  <title>
    <![CDATA[Perantau]]>
  </title>
  <image_url>http://photo.goodreads.com/books/1248525691m/2139408.jpg</image_url>
  <small_image_url>http://photo.goodreads.com/books/1248525691s/2139408.jpg</small_image_url>
  <link>http://www.goodreads.com/book/show/2139408.Perantau</link>
  <average_rating>3.27</average_rating>
  <ratings_count>22</ratings_count>
  <description>
    <![CDATA[Di sebuah kampung di tanah air, merantau adalah keharusan bagi seorang laki-laki dewasa. “Pergilah merantau, Nak.” adalah kalimat yang lazim diucapkan seorang ibu di daerah itu. Namun apakah arti sesunguhnya merantau? Dalam cerpen ‘Perantau’, Gus tf Sakai bercerita dengan indah tentang makna dan harapan yang dicari oleh para perantau.<br/><br/>Pada beberapa cerpen lainnya, Gus tf Sakai mengemukakan kritik sosial dengan gaya bercerita yang metaforis dan tertata dengan saksama. Misalnya cerpen “Tujuh Puluh Tujuh Lidah Emas” mengungkapkan kritik terhadap pemerintah pusat tentang eksploitasi kekayaan bumi daerah. Cerpen “Belatung” mengisahkan tentang kesulitan ekonomi yang memaksa seorang perempuan menjadi pelacur. Cerpen “Kami Lepas Anak Kami” mengemukakan masalah kurikulum pendidikan anak yang tidak proporsional.<br/><br/>Cerpen-cerpen dalam buku ini telah terbit di berbagai media massa terkemuka seperti Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Horison dan Padang Ekspress. Perantau adalah kumpulan cerpen Gus tf Sakai yang ke-4, setelah Istana Ketirisan (1996), Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (1999), dan Laba-laba (2003). Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta memenangi Hadiah Sastra Lontar 2001 dan penghargaan sastra Pusat Bahasa 2002, diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh The Lontar Foundation dengan judul The Barber (2002). Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta juga menerima SEA Write Award 2004.]]>
  </description>
  <published>2007</published>
</book>

    <rating>0</rating>
  <votes>0</votes>
  <spoiler_flag>false</spoiler_flag>
  <shelves>
            <shelf name="to-read" />
      </shelves>
  <recommended_for><![CDATA[]]></recommended_for>
  <recommended_by><![CDATA[]]></recommended_by>
  <read_at></read_at>
  <date_added>Mon Jun 29 22:37:07 -0700 2009</date_added>
  <date_updated>Mon Jun 29 22:37:07 -0700 2009</date_updated>
  <read_count></read_count>
    <body><![CDATA[]]></body>
    
  <url><![CDATA[http://www.goodreads.com/review/show/61594759]]></url>
  <link><![CDATA[http://www.goodreads.com/review/show/61594759]]></link>
</review>
      <review>
  <id>61592736</id>
    <user>
    <id>2044663</id>
    <name><![CDATA[Robin]]></name>
    <location><![CDATA[Jakarta, 04, Indonesia]]></location>
    <link><![CDATA[http://www.goodreads.com/user/show/2044663-robin-gontha]]></link>
    <image_url><![CDATA[http://photo.goodreads.com/users/1234934024p3/2044663.jpg]]></image_url>
    <small_image_url><![CDATA[http://photo.goodreads.com/users/1234934024p2/2044663.jpg]]></small_image_url>
  </user>
    <book>
  <id type="integer">2139408</id>
  <isbn>9792227350</isbn>
  <isbn13>9789792227352</isbn13>
  <text_reviews_count type="integer">7</text_reviews_count>
  <title>
    <![CDATA[Perantau]]>
  </title>
  <image_url>http://photo.goodreads.com/books/1248525691m/2139408.jpg</image_url>
  <small_image_url>http://photo.goodreads.com/books/1248525691s/2139408.jpg</small_image_url>
  <link>http://www.goodreads.com/book/show/2139408.Perantau</link>
  <average_rating>3.27</average_rating>
  <ratings_count>22</ratings_count>
  <description>
    <![CDATA[Di sebuah kampung di tanah air, merantau adalah keharusan bagi seorang laki-laki dewasa. “Pergilah merantau, Nak.” adalah kalimat yang lazim diucapkan seorang ibu di daerah itu. Namun apakah arti sesunguhnya merantau? Dalam cerpen ‘Perantau’, Gus tf Sakai bercerita dengan indah tentang makna dan harapan yang dicari oleh para perantau.<br/><br/>Pada beberapa cerpen lainnya, Gus tf Sakai mengemukakan kritik sosial dengan gaya bercerita yang metaforis dan tertata dengan saksama. Misalnya cerpen “Tujuh Puluh Tujuh Lidah Emas” mengungkapkan kritik terhadap pemerintah pusat tentang eksploitasi kekayaan bumi daerah. Cerpen “Belatung” mengisahkan tentang kesulitan ekonomi yang memaksa seorang perempuan menjadi pelacur. Cerpen “Kami Lepas Anak Kami” mengemukakan masalah kurikulum pendidikan anak yang tidak proporsional.<br/><br/>Cerpen-cerpen dalam buku ini telah terbit di berbagai media massa terkemuka seperti Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Horison dan Padang Ekspress. Perantau adalah kumpulan cerpen Gus tf Sakai yang ke-4, setelah Istana Ketirisan (1996), Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (1999), dan Laba-laba (2003). Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta memenangi Hadiah Sastra Lontar 2001 dan penghargaan sastra Pusat Bahasa 2002, diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh The Lontar Foundation dengan judul The Barber (2002). Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta juga menerima SEA Write Award 2004.]]>
  </description>
  <published>2007</published>
</book>

    <rating>0</rating>
  <votes>0</votes>
  <spoiler_flag>false</spoiler_flag>
  <shelves>
            <shelf name="to-read" />
      </shelves>
  <recommended_for><![CDATA[]]></recommended_for>
  <recommended_by><![CDATA[]]></recommended_by>
  <read_at></read_at>
  <date_added>Mon Jun 29 22:13:31 -0700 2009</date_added>
  <date_updated>Mon Jun 29 22:13:31 -0700 2009</date_updated>
  <read_count></read_count>
    <body><![CDATA[]]></body>
    
  <url><![CDATA[http://www.goodreads.com/review/show/61592736]]></url>
  <link><![CDATA[http://www.goodreads.com/review/show/61592736]]></link>
</review>
      <review>
  <id>50697729</id>
    <user>
    <id>2165580</id>
    <name><![CDATA[fragaria]]></name>
    <location><![CDATA[Bandung, 30, Indonesia]]></location>
    <link><![CDATA[http://www.goodreads.com/user/show/2165580-fragaria]]></link>
    <image_url><![CDATA[http://photo.goodreads.com/users/1256358518p3/2165580.jpg]]></image_url>
    <small_image_url><![CDATA[http://photo.goodreads.com/users/1256358518p2/2165580.jpg]]></small_image_url>
  </user>
    <book>
  <id type="integer">2139408</id>
  <isbn>9792227350</isbn>
  <isbn13>9789792227352</isbn13>
  <text_reviews_count type="integer">7</text_reviews_count>
  <title>
    <![CDATA[Perantau]]>
  </title>
  <image_url>http://photo.goodreads.com/books/1248525691m/2139408.jpg</image_url>
  <small_image_url>http://photo.goodreads.com/books/1248525691s/2139408.jpg</small_image_url>
  <link>http://www.goodreads.com/book/show/2139408.Perantau</link>
  <average_rating>3.27</average_rating>
  <ratings_count>22</ratings_count>
  <description>
    <![CDATA[Di sebuah kampung di tanah air, merantau adalah keharusan bagi seorang laki-laki dewasa. “Pergilah merantau, Nak.” adalah kalimat yang lazim diucapkan seorang ibu di daerah itu. Namun apakah arti sesunguhnya merantau? Dalam cerpen ‘Perantau’, Gus tf Sakai bercerita dengan indah tentang makna dan harapan yang dicari oleh para perantau.<br/><br/>Pada beberapa cerpen lainnya, Gus tf Sakai mengemukakan kritik sosial dengan gaya bercerita yang metaforis dan tertata dengan saksama. Misalnya cerpen “Tujuh Puluh Tujuh Lidah Emas” mengungkapkan kritik terhadap pemerintah pusat tentang eksploitasi kekayaan bumi daerah. Cerpen “Belatung” mengisahkan tentang kesulitan ekonomi yang memaksa seorang perempuan menjadi pelacur. Cerpen “Kami Lepas Anak Kami” mengemukakan masalah kurikulum pendidikan anak yang tidak proporsional.<br/><br/>Cerpen-cerpen dalam buku ini telah terbit di berbagai media massa terkemuka seperti Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Horison dan Padang Ekspress. Perantau adalah kumpulan cerpen Gus tf Sakai yang ke-4, setelah Istana Ketirisan (1996), Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (1999), dan Laba-laba (2003). Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta memenangi Hadiah Sastra Lontar 2001 dan penghargaan sastra Pusat Bahasa 2002, diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh The Lontar Foundation dengan judul The Barber (2002). Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta juga menerima SEA Write Award 2004.]]>
  </description>
  <published>2007</published>
</book>

    <rating>3</rating>
  <votes>0</votes>
  <spoiler_flag>false</spoiler_flag>
  <shelves>
        <shelf name="read" />
          </shelves>
  <recommended_for><![CDATA[]]></recommended_for>
  <recommended_by><![CDATA[]]></recommended_by>
  <read_at></read_at>
  <date_added>Sat Mar 28 06:49:11 -0700 2009</date_added>
  <date_updated>Sat Mar 28 06:49:11 -0700 2009</date_updated>
  <read_count></read_count>
    <body><![CDATA[]]></body>
    
  <url><![CDATA[http://www.goodreads.com/review/show/50697729]]></url>
  <link><![CDATA[http://www.goodreads.com/review/show/50697729]]></link>
</review>
      <review>
  <id>47860607</id>
    <user>
    <id>1374106</id>
    <name><![CDATA[Aveline]]></name>
    <location><![CDATA[Jakarta, Indonesia]]></location>
    <link><![CDATA[http://www.goodreads.com/user/show/1374106-aveline-agrippina]]></link>
    <image_url><![CDATA[http://photo.goodreads.com/users/1246454852p3/1374106.jpg]]></image_url>
    <small_image_url><![CDATA[http://photo.goodreads.com/users/1246454852p2/1374106.jpg]]></small_image_url>
  </user>
    <book>
  <id type="integer">2139408</id>
  <isbn>9792227350</isbn>
  <isbn13>9789792227352</isbn13>
  <text_reviews_count type="integer">7</text_reviews_count>
  <title>
    <![CDATA[Perantau]]>
  </title>
  <image_url>http://photo.goodreads.com/books/1248525691m/2139408.jpg</image_url>
  <small_image_url>http://photo.goodreads.com/books/1248525691s/2139408.jpg</small_image_url>
  <link>http://www.goodreads.com/book/show/2139408.Perantau</link>
  <average_rating>3.27</average_rating>
  <ratings_count>22</ratings_count>
  <description>
    <![CDATA[Di sebuah kampung di tanah air, merantau adalah keharusan bagi seorang laki-laki dewasa. “Pergilah merantau, Nak.” adalah kalimat yang lazim diucapkan seorang ibu di daerah itu. Namun apakah arti sesunguhnya merantau? Dalam cerpen ‘Perantau’, Gus tf Sakai bercerita dengan indah tentang makna dan harapan yang dicari oleh para perantau.<br/><br/>Pada beberapa cerpen lainnya, Gus tf Sakai mengemukakan kritik sosial dengan gaya bercerita yang metaforis dan tertata dengan saksama. Misalnya cerpen “Tujuh Puluh Tujuh Lidah Emas” mengungkapkan kritik terhadap pemerintah pusat tentang eksploitasi kekayaan bumi daerah. Cerpen “Belatung” mengisahkan tentang kesulitan ekonomi yang memaksa seorang perempuan menjadi pelacur. Cerpen “Kami Lepas Anak Kami” mengemukakan masalah kurikulum pendidikan anak yang tidak proporsional.<br/><br/>Cerpen-cerpen dalam buku ini telah terbit di berbagai media massa terkemuka seperti Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Horison dan Padang Ekspress. Perantau adalah kumpulan cerpen Gus tf Sakai yang ke-4, setelah Istana Ketirisan (1996), Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (1999), dan Laba-laba (2003). Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta memenangi Hadiah Sastra Lontar 2001 dan penghargaan sastra Pusat Bahasa 2002, diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh The Lontar Foundation dengan judul The Barber (2002). Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta juga menerima SEA Write Award 2004.]]>
  </description>
  <published>2007</published>
</book>

    <rating>0</rating>
  <votes>0</votes>
  <spoiler_flag>false</spoiler_flag>
  <shelves>
            <shelf name="to-read" />
      </shelves>
  <recommended_for><![CDATA[]]></recommended_for>
  <recommended_by><![CDATA[]]></recommended_by>
  <read_at></read_at>
  <date_added>Sat Feb 28 23:00:24 -0800 2009</date_added>
  <date_updated>Sat Feb 28 23:00:24 -0800 2009</date_updated>
  <read_count></read_count>
    <body><![CDATA[]]></body>
    
  <url><![CDATA[http://www.goodreads.com/review/show/47860607]]></url>
  <link><![CDATA[http://www.goodreads.com/review/show/47860607]]></link>
</review>
      <review>
  <id>45817990</id>
    <user>
    <id>697401</id>
    <name><![CDATA[Wirotomo]]></name>
    <location><![CDATA[Jakarta, Indonesia]]></location>
    <link><![CDATA[http://www.goodreads.com/user/show/697401-wirotomo-nofamilyname]]></link>
    <image_url><![CDATA[http://photo.goodreads.com/users/1254745547p3/697401.jpg]]></image_url>
    <small_image_url><![CDATA[http://photo.goodreads.com/users/1254745547p2/697401.jpg]]></small_image_url>
  </user>
    <book>
  <id type="integer">2139408</id>
  <isbn>9792227350</isbn>
  <isbn13>9789792227352</isbn13>
  <text_reviews_count type="integer">7</text_reviews_count>
  <title>
    <![CDATA[Perantau]]>
  </title>
  <image_url>http://photo.goodreads.com/books/1248525691m/2139408.jpg</image_url>
  <small_image_url>http://photo.goodreads.com/books/1248525691s/2139408.jpg</small_image_url>
  <link>http://www.goodreads.com/book/show/2139408.Perantau</link>
  <average_rating>3.27</average_rating>
  <ratings_count>22</ratings_count>
  <description>
    <![CDATA[Di sebuah kampung di tanah air, merantau adalah keharusan bagi seorang laki-laki dewasa. “Pergilah merantau, Nak.” adalah kalimat yang lazim diucapkan seorang ibu di daerah itu. Namun apakah arti sesunguhnya merantau? Dalam cerpen ‘Perantau’, Gus tf Sakai bercerita dengan indah tentang makna dan harapan yang dicari oleh para perantau.<br/><br/>Pada beberapa cerpen lainnya, Gus tf Sakai mengemukakan kritik sosial dengan gaya bercerita yang metaforis dan tertata dengan saksama. Misalnya cerpen “Tujuh Puluh Tujuh Lidah Emas” mengungkapkan kritik terhadap pemerintah pusat tentang eksploitasi kekayaan bumi daerah. Cerpen “Belatung” mengisahkan tentang kesulitan ekonomi yang memaksa seorang perempuan menjadi pelacur. Cerpen “Kami Lepas Anak Kami” mengemukakan masalah kurikulum pendidikan anak yang tidak proporsional.<br/><br/>Cerpen-cerpen dalam buku ini telah terbit di berbagai media massa terkemuka seperti Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Horison dan Padang Ekspress. Perantau adalah kumpulan cerpen Gus tf Sakai yang ke-4, setelah Istana Ketirisan (1996), Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (1999), dan Laba-laba (2003). Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta memenangi Hadiah Sastra Lontar 2001 dan penghargaan sastra Pusat Bahasa 2002, diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh The Lontar Foundation dengan judul The Barber (2002). Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta juga menerima SEA Write Award 2004.]]>
  </description>
  <published>2007</published>
</book>

    <rating>0</rating>
  <votes>0</votes>
  <spoiler_flag>false</spoiler_flag>
  <shelves>
            <shelf name="aku-beli" />
        <shelf name="short-stories-collection" />
        <shelf name="to-read" />
      </shelves>
  <recommended_for><![CDATA[]]></recommended_for>
  <recommended_by><![CDATA[]]></recommended_by>
  <read_at></read_at>
  <date_added>Mon Feb 09 07:34:26 -0800 2009</date_added>
  <date_updated>Mon Feb 09 07:34:26 -0800 2009</date_updated>
  <read_count></read_count>
    <body><![CDATA[]]></body>
    
  <url><![CDATA[http://www.goodreads.com/review/show/45817990]]></url>
  <link><![CDATA[http://www.goodreads.com/review/show/45817990]]></link>
</review>
      <review>
  <id>34705518</id>
    <user>
    <id>1597717</id>
    <name><![CDATA[Endah]]></name>
    <location><![CDATA[Indonesia]]></location>
    <link><![CDATA[http://www.goodreads.com/user/show/1597717-endah]]></link>
    <image_url><![CDATA[http://photo.goodreads.com/users/1258856642p3/1597717.jpg]]></image_url>
    <small_image_url><![CDATA[http://photo.goodreads.com/users/1258856642p2/1597717.jpg]]></small_image_url>
  </user>
    <book>
  <id type="integer">2139408</id>
  <isbn>9792227350</isbn>
  <isbn13>9789792227352</isbn13>
  <text_reviews_count type="integer">7</text_reviews_count>
  <title>
    <![CDATA[Perantau]]>
  </title>
  <image_url>http://photo.goodreads.com/books/1248525691m/2139408.jpg</image_url>
  <small_image_url>http://photo.goodreads.com/books/1248525691s/2139408.jpg</small_image_url>
  <link>http://www.goodreads.com/book/show/2139408.Perantau</link>
  <average_rating>3.27</average_rating>
  <ratings_count>22</ratings_count>
  <description>
    <![CDATA[Di sebuah kampung di tanah air, merantau adalah keharusan bagi seorang laki-laki dewasa. “Pergilah merantau, Nak.” adalah kalimat yang lazim diucapkan seorang ibu di daerah itu. Namun apakah arti sesunguhnya merantau? Dalam cerpen ‘Perantau’, Gus tf Sakai bercerita dengan indah tentang makna dan harapan yang dicari oleh para perantau.<br/><br/>Pada beberapa cerpen lainnya, Gus tf Sakai mengemukakan kritik sosial dengan gaya bercerita yang metaforis dan tertata dengan saksama. Misalnya cerpen “Tujuh Puluh Tujuh Lidah Emas” mengungkapkan kritik terhadap pemerintah pusat tentang eksploitasi kekayaan bumi daerah. Cerpen “Belatung” mengisahkan tentang kesulitan ekonomi yang memaksa seorang perempuan menjadi pelacur. Cerpen “Kami Lepas Anak Kami” mengemukakan masalah kurikulum pendidikan anak yang tidak proporsional.<br/><br/>Cerpen-cerpen dalam buku ini telah terbit di berbagai media massa terkemuka seperti Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Horison dan Padang Ekspress. Perantau adalah kumpulan cerpen Gus tf Sakai yang ke-4, setelah Istana Ketirisan (1996), Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (1999), dan Laba-laba (2003). Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta memenangi Hadiah Sastra Lontar 2001 dan penghargaan sastra Pusat Bahasa 2002, diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh The Lontar Foundation dengan judul The Barber (2002). Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta juga menerima SEA Write Award 2004.]]>
  </description>
  <published>2007</published>
</book>

    <rating>3</rating>
  <votes>0</votes>
  <spoiler_flag>false</spoiler_flag>
  <shelves>
        <shelf name="read" />
            <shelf name="buntelan-dari-penerbit" />
      </shelves>
  <recommended_for><![CDATA[]]></recommended_for>
  <recommended_by><![CDATA[]]></recommended_by>
  <read_at></read_at>
  <date_added>Mon Oct 06 21:16:40 -0700 2008</date_added>
  <date_updated>Mon Oct 06 21:16:48 -0700 2008</date_updated>
  <read_count></read_count>
    <body><![CDATA[]]></body>
    
  <url><![CDATA[http://www.goodreads.com/review/show/34705518]]></url>
  <link><![CDATA[http://www.goodreads.com/review/show/34705518]]></link>
</review>
      <review>
  <id>33666255</id>
    <user>
    <id>1424975</id>
    <name><![CDATA[Nisa]]></name>
    <location><![CDATA[surabaya, Indonesia]]></location>
    <link><![CDATA[http://www.goodreads.com/user/show/1424975-nisa-diani]]></link>
    <image_url><![CDATA[http://photo.goodreads.com/users/1222666223p3/1424975.jpg]]></image_url>
    <small_image_url><![CDATA[http://photo.goodreads.com/users/1222666223p2/1424975.jpg]]></small_image_url>
  </user>
    <book>
  <id type="integer">2139408</id>
  <isbn>9792227350</isbn>
  <isbn13>9789792227352</isbn13>
  <text_reviews_count type="integer">7</text_reviews_count>
  <title>
    <![CDATA[Perantau]]>
  </title>
  <image_url>http://photo.goodreads.com/books/1248525691m/2139408.jpg</image_url>
  <small_image_url>http://photo.goodreads.com/books/1248525691s/2139408.jpg</small_image_url>
  <link>http://www.goodreads.com/book/show/2139408.Perantau</link>
  <average_rating>3.27</average_rating>
  <ratings_count>22</ratings_count>
  <description>
    <![CDATA[Di sebuah kampung di tanah air, merantau adalah keharusan bagi seorang laki-laki dewasa. “Pergilah merantau, Nak.” adalah kalimat yang lazim diucapkan seorang ibu di daerah itu. Namun apakah arti sesunguhnya merantau? Dalam cerpen ‘Perantau’, Gus tf Sakai bercerita dengan indah tentang makna dan harapan yang dicari oleh para perantau.<br/><br/>Pada beberapa cerpen lainnya, Gus tf Sakai mengemukakan kritik sosial dengan gaya bercerita yang metaforis dan tertata dengan saksama. Misalnya cerpen “Tujuh Puluh Tujuh Lidah Emas” mengungkapkan kritik terhadap pemerintah pusat tentang eksploitasi kekayaan bumi daerah. Cerpen “Belatung” mengisahkan tentang kesulitan ekonomi yang memaksa seorang perempuan menjadi pelacur. Cerpen “Kami Lepas Anak Kami” mengemukakan masalah kurikulum pendidikan anak yang tidak proporsional.<br/><br/>Cerpen-cerpen dalam buku ini telah terbit di berbagai media massa terkemuka seperti Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Horison dan Padang Ekspress. Perantau adalah kumpulan cerpen Gus tf Sakai yang ke-4, setelah Istana Ketirisan (1996), Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (1999), dan Laba-laba (2003). Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta memenangi Hadiah Sastra Lontar 2001 dan penghargaan sastra Pusat Bahasa 2002, diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh The Lontar Foundation dengan judul The Barber (2002). Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta juga menerima SEA Write Award 2004.]]>
  </description>
  <published>2007</published>
</book>

    <rating>3</rating>
  <votes>0</votes>
  <spoiler_flag>false</spoiler_flag>
  <shelves>
        <shelf name="read" />
          </shelves>
  <recommended_for><![CDATA[]]></recommended_for>
  <recommended_by><![CDATA[]]></recommended_by>
  <read_at></read_at>
  <date_added>Tue Sep 23 19:59:16 -0700 2008</date_added>
  <date_updated>Tue Sep 23 19:59:16 -0700 2008</date_updated>
  <read_count></read_count>
    <body><![CDATA[]]></body>
    
  <url><![CDATA[http://www.goodreads.com/review/show/33666255]]></url>
  <link><![CDATA[http://www.goodreads.com/review/show/33666255]]></link>
</review>
      <review>
  <id>29595630</id>
    <user>
    <id>895973</id>
    <name><![CDATA[Pra]]></name>
    <location><![CDATA[Kota dimana Pelangi Tidak Pernah memudar, Indonesia]]></location>
    <link><![CDATA[http://www.goodreads.com/user/show/895973-pra]]></link>
    <image_url><![CDATA[http://photo.goodreads.com/users/1239014544p3/895973.jpg]]></image_url>
    <small_image_url><![CDATA[http://photo.goodreads.com/users/1239014544p2/895973.jpg]]></small_image_url>
  </user>
    <book>
  <id type="integer">2139408</id>
  <isbn>9792227350</isbn>
  <isbn13>9789792227352</isbn13>
  <text_reviews_count type="integer">7</text_reviews_count>
  <title>
    <![CDATA[Perantau]]>
  </title>
  <image_url>http://photo.goodreads.com/books/1248525691m/2139408.jpg</image_url>
  <small_image_url>http://photo.goodreads.com/books/1248525691s/2139408.jpg</small_image_url>
  <link>http://www.goodreads.com/book/show/2139408.Perantau</link>
  <average_rating>3.27</average_rating>
  <ratings_count>22</ratings_count>
  <description>
    <![CDATA[Di sebuah kampung di tanah air, merantau adalah keharusan bagi seorang laki-laki dewasa. “Pergilah merantau, Nak.” adalah kalimat yang lazim diucapkan seorang ibu di daerah itu. Namun apakah arti sesunguhnya merantau? Dalam cerpen ‘Perantau’, Gus tf Sakai bercerita dengan indah tentang makna dan harapan yang dicari oleh para perantau.<br/><br/>Pada beberapa cerpen lainnya, Gus tf Sakai mengemukakan kritik sosial dengan gaya bercerita yang metaforis dan tertata dengan saksama. Misalnya cerpen “Tujuh Puluh Tujuh Lidah Emas” mengungkapkan kritik terhadap pemerintah pusat tentang eksploitasi kekayaan bumi daerah. Cerpen “Belatung” mengisahkan tentang kesulitan ekonomi yang memaksa seorang perempuan menjadi pelacur. Cerpen “Kami Lepas Anak Kami” mengemukakan masalah kurikulum pendidikan anak yang tidak proporsional.<br/><br/>Cerpen-cerpen dalam buku ini telah terbit di berbagai media massa terkemuka seperti Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Horison dan Padang Ekspress. Perantau adalah kumpulan cerpen Gus tf Sakai yang ke-4, setelah Istana Ketirisan (1996), Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta (1999), dan Laba-laba (2003). Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta memenangi Hadiah Sastra Lontar 2001 dan penghargaan sastra Pusat Bahasa 2002, diterjemahkan ke bahasa Inggris oleh The Lontar Foundation dengan judul The Barber (2002). Kemilau Cahaya dan Perempuan Buta juga menerima SEA Write Award 2004.]]>
  </description>
  <published>2007</published>
</book>

    <rating>3</rating>
  <votes>0</votes>
  <spoiler_flag>false</spoiler_flag>
  <shelves>
        <shelf name="read" />
            <shelf name="sastra" />
      </shelves>
  <recommended_for><![CDATA[]]></recommended_for>
  <recommended_by><![CDATA[]]></recommended_by>
  <read_at></read_at>
  <date_added>Fri Aug 08 05:59:56 -0700 2008</date_added>
  <date_updated>Fri Aug 08 05:59:56 -0700 2008</date_updated>
  <read_count></read_count>
    <body><![CDATA[]]></body>
    
  <url><![CDATA[http://www.goodreads.com/review/show/29595630]]></url>
  <link><![CDATA[http://www.goodreads.com/review/show/29595630]]></link>
</review>
    </reviews>
  <popular_shelves>
          <shelf name="to-read" />
          <shelf name="indonesian" />
          <shelf name="fiction" />
          <shelf name="short-stories" />
          <shelf name="buntelan-dari-penerbit" />
          <shelf name="fiksi" />
          <shelf name="short-stories-collection" />
          <shelf name="aku-beli" />
          <shelf name="sastra" />
          <shelf name="unfinished" />
      </popular_shelves>
  <book_links>
    <book_link>
  <id>8</id>
  <name><![CDATA[WorldCat]]></name>
  <link>http://www.goodreads.com/book_link/follow/8?book_id=2139408</link>
</book_link>
  </book_links>
</book>
</GoodreadsResponse>