Goodreads helps you keep track of books you want to read.
Start by marking “Canting” as Want to Read:
Canting
Enlarge cover
Rate this book
Clear rating

Canting

3.83 of 5 stars 3.83  ·  rating details  ·  447 ratings  ·  82 reviews
Canting, carat tembaga untuk membatik, bagi buruh-buruh batik menjadi nyawa. Setiap saat terbaik dalam hidupnya, canting ditiup dengan napas dan perasaan. Tapi batik yang dibuat dengan canting kini terbanting, karena munculnya jenis printing---cetak. Kalau proses pembatikan lewat canting memerlukan waktu berbulan-bulan, jenis batik cetak ini cukup beberapa kejap saja.

Canti
...more
Paperback, 377 pages
Published 1997 by Gramedia Pustaka Utama (first published 1986)
more details... edit details

Friend Reviews

To see what your friends thought of this book, please sign up.

Reader Q&A

To ask other readers questions about Canting, please sign up.

Be the first to ask a question about Canting

This book is not yet featured on Listopia. Add this book to your favorite list »

Community Reviews

(showing 1-30 of 758)
filter  |  sort: default (?)  |  rating details
e.c.h.a
Canting, simbol budaya yang kalah, tersisih dan melelahkan.

Kisah kehidupan satu keluarga dan usaha Batik Tradisionalnya di masa sebelum dan sesudah Kemerdekaan. Bagaimana seorang Pak Bei menjalani kehidupannya di masa muda, saat menjadi suami, saat menjadi Bapak serta saat menjadi seorang Kakek.

Kisah yang dituturkan dari sudut pandang seorang Priyayi yang merasa tidak Jawa bernama Pak Bei. Dari mata dan sikapnya, kita melihat bagaimana seorang Ibu Bei yang bukan Priyayi tetapi menunjukan kalau I
...more
nanto
Novel ini usai saya membacanya tak ubahnya sebuah karya ethnografi. Saya langsung tertarik dengan penggambaran suasana dan tokohnya. Dunia priyayi di awal kemerdekaan dan dunia usaha perbatikan menjadi tema sentral dari buku ini. Canting yang dijadikan judul novel ini dan sekaligus simbol perubahan.

Dialog awal yang bersetting nJurug memotret perwajahan dari kaum yang sedang geger itu. Ada seorang yang memilih "merakyat" sehingga mengikuti gerakan dipo kromo dipo. Di sisi lain Pak Bei Sestrokesu
...more
Endah
Canting adalah sebuah wadah tembaga untuk membatik. Ketika membatik, canting ditiup agar cairan lilin di dalamnya tetap meleleh. Canting memantulkan suara nafas peniupnya. Sebagai alat membatik tradisional, canting memiliki fungsi penting sebelum muncul batik jenis printing (batik cetak). Dengan nama alat itulah, roman Arswendo Atmowiloto ini dijuduli.

Canting berisi cerita tentang perjalanan hidup keluarga Ngabehi Sestrokusuma yang memiliki usaha pembatikan cap canting. Kepala keluarga adalah Ra
...more
Dharwiyanti
Buat saya, seorang Jawa yang tinggal di 'negeri tetangga', membaca Canting seperti belajar budaya leluhur. Banyak hal saya dapatkan dari buku ini, tentang bagaimana orang Jawa itu, setidaknya pada generasi di atas saya, dan ke atas2nya lagi.

Canting berkisah tentang dua generasi: Pak Bei alias Ngabehi Sestrokusuma, pemilik usaha batik merk Canting, dan putri bungsunya Ni alias Subandini Dewiputri Sestrokusuma. Keduanya punya semangat pemberontak, tapi implementasinya tentu berbeda2 sesuai jamanny
...more
indri
#2011-27#

"Kalau kalian akan mati kelaparan, saya akan membawa basi dan menjejalkan ke mulut kalian. Kalau kalian telanjang, saya akan bawa kain membalut tubuh kalian. Kalau kalian mati, saya akan membelikan peti mati. Tapi tidak untuk tetek bengek membeli sepeda, mengecat rumah, atau membayar hutang. Ini semua saya lakukan karena saya ingin melakukan. Bukan karena kalian adik-adikku. Pada orang lain yang saya kenal pun akan saya lakukan hal yang sama.

Saya tak ingin dipuji. Kalau memuji, jangan s
...more
Darnia
I adore this book!!

Kisah juragan batik yg Priyayi, Pak Bei Sestrokusuman. Dan keluarga besarnya. Dan buruh-buruhnya. Pak Bei, yang beristrikan Bu Bei yang selalu nrima ing pandum. Pak Bei, yang dicap kapitalis karena mempekerjakan manusia untuk memperkaya dirinya. Pak Bei, yang dianggap pihak keraton sebagai priyayi yang kurang ajar karena suka ngomong seenaknya. Pak Bei, yang selalu tidak bisa memilih antara Bung Karno atau Ki Ageng Suryamentaman.

Kisah Pak Bei ini benar-benar menuturkan tentang
...more
Imas

Kisah kehidupan keluarga Pak Bei dan usaha menghidupkan usaha batik tradisional milik keluarga mereka.
Pak Bei seorang priyayi sedangkan istrinya Bu Bei bukan seorang priyayi namun sebenarnya lebih banyak berperan dalam mengatur keluarga.

Cerita tentang konflik dan rahasia yang terjadi dalam keluarga ini dimulai dari niat anak bungsu mereka Ni meneruskan usaha Batik keluarganya.

Meski bukan orang Jawa dan tidak mengerti budaya Jawa, buku ini cukup menarik.
Tika We
Canting, warisan kesenian Jawa yg tergerus jaman. Novel Canting, cerita bersambung yang sekarang jadi novel dan tetep nggak ketinggalan jaman. Awalnya aku pikir ini novel anyar. Setelah sharing dengan Ibu, ternyata Ibu baca cerita bersambungnya jaman beliau SMP. Tapi tak apa, toh Pak Bei masih "miyayeni", Bu Bei tetap jumawa di pasar namun "manut" di ndalem Ngabehi.

Arswendo menggambarkan kehidupan Wong Jowo secara total dalam Canting. Ia tidak hanya mahir mendeskripsikan bagaimana kehidupan oran
...more
Ardita
Buset Jawa banget ini buku.. Despite all the goodness in it, seperti pilihan setting, penokohan dan lain-lain.. kayaknya ada yang kurang.

Pada sepertiga akhir buku, Wendo nampaknya terburu2. "Opera Jakarta" masih lebih mending..

Atau hal ini berarti Wendo memang berusaha jujur, menjadi orang Jawa? Go figure..

Ina
"Mboten wonten, tak ada apa-apa. Betapa seringnya kita mengucapkan kata itu, dan juga menerimanya sebagai yang tak diganggu gugat. Kalian kecewa dengan pilihan Ni. Kecewa karena Ni nombok rumah, karena belum menikah, tapi akan menjawab tak ada apa-apa. Karena enggan menimbulkan masalah. Karena mencegah timbulnya hal yang aneh, yang sudah mapan."

"Dan sesungguhnya, tidak ada apa-apa ini menjadi kenyataannya sebenarnya. Kemudian kalian menganggap memang benar-benar tidak ada apa-apa." (page. 350)

Sa
...more
Mardian Sagiant
berat hati menyelesaikan novel ini ketika memasuki halaman 300 ratus ke atas. tapi merasa berdosa, meyakini diri sendiri bahwa hutang sebentar lagi lunas, yang dengan demikian bisa beranjak ke fiksi-fiksi yang lain. akhirnya, karena insomnia yang tiba-tiba melanda, saya babat habis sisa halaman dalam sekali baca, tuntas, lunas. *tidur pun nyenyak*

bagian awal saya sangat menikmati cerita ini, tepatnya ketika anak beranak pak dan bu bei tak mendominasi cerita. tokohnya bisa dibedakan; pak bei yang
...more
Annisa Paramita
Keluarga Ngabehi yang dikisahkan disini tidak hanya mengajarkan budaya Jawa beserta seluk beluknya. Namun juga membuat saya memahami ternyata budaya Jawa telah mengaplikasikan teori barat yang diagungkan agungkan secara sederhana dalam pasar ataupun perilaku. Melawan dan berteriak untuk menjadi tidak Jawa ala Ni juga diperlukan untuk tetap menindaki keagungan dan kesempurnaan ala Jawa. Namun, sejogjanya lebih mengerti Jawa tak hanya melawan. karena sejatinya seperti Canting, yang mengalah dan te ...more
Afid Nurkholis
Canting simbol budaya yang KALAH, TERSISIH, dan MELELAHKAN.
Orang "Jawa" yang dilahirkan saat era globalisasi kebanyakan pasti sudah lupa atau mungkin tidak kenal dengan "Jawanya" sendiri (termasuk saya). Saat membaca buku ini saya diingatkan dan ditambahi akan "value" dari budaya jawa itu. Secara garis besar buku ini berkisah tentang kehidupan keluarga priyayi (keluarga kraton) yang hidup dengan usaha batiknya yang disokong oleh 112 buruh.

Kisah awal menggambarkan bagaimana Pak Bei sebagai seora
...more
Priska Nurina
(ini buku kenapa masih di shelf currently-reading aja, padahal udah kelar dibaca dari kapan tau... *selftoyor* =)) )

ini sastra indonesia paling bagus yang kubaca sepanjang 2012 :"). bangga karena sampai akhir buku ini bertahan lima bintang. alasan sukanya mungkin sebagian subjektif: karena di sini aku baru belajar beberapa hal baru soal budaya Jawa, yang adalah budaya nenekmoyangku tapi cuma sedikit yang kukenal, mentang2 lahir dan gedenya udah di jakarta... =')) *plak*.

suka juga karena serasa m
...more
Kimi
Canting, simbol budaya yang kalah, tersisih, dan melelahkan.

Canting berkisah tentang keluarga Pak Bei, lengkapnya Raden Mas Daryono Sestrokusuma atau Ngabehi Sestrokusuma, pemilik usaha batik tulis merk Canting. Secara garis besar, Canting dibagi menjadi dua bagian. Bagian pertama berkisah seputar Pak Bei di tahun 1960-an, sebelum dan sesaat setelah Ni, putri bungsu Pak Bei, lahir. Bagian kedua berkisah ketika Ni sudah jadi sarjana farmasi dan ingin melanjutkan usaha batik keluarganya, meski dit
...more
Dhani
Akhirnya selesai juga membaca buku ini. Sebuah buku setebal 373 halaman yang berkisah tentang keluarga Pak Bei, seorang bangsawan sekaligus pemilik usaha batik dengan lebih dari 100 pekerja.

Sebuah buku yang sarat ilmu, tentang kebudayaan Jawa, tentang lika liku industri batik tradisional yang perlahan tergerus ancaman industri batik cap.Tentang kedudukan perempuan, baik sebagai istri dan anak dalam sebuah keluarga bangsawan, juga tentang betapa powerfullnya kedudukan seorang suami dan ayah.

Buku
...more
Hobby
Judul Asli : CANTING
Penulis : Arswendo Atmowiloto
Penerbit Gramedia Pustaka Utama
Desain & Ilustrasi sampul : Wedha
Cetakan I : Oktober 2007 ; 408 hlm

Kisah dibuka dengan kehidupan di Ndalem Ngabean Sestrokusuman – kediaman Raden Ngabehi Sestrokusuma, atau yang dikenal sebagai Pak Bei, pengayom penduduk setempat, juragan batik yang memiliki 112 buruh batik beserta angggota keluarganya. Namun suasana pada pagi hari itu sedikit berbeda dengan hari-hari biasa. Para buruh batik diliburkan, dan Bu
...more
Biondy
Judul: Canting
Penulis: Arswendo Atmowiloto
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Halaman: 408 halaman
Terbitan: 2007 (terbit pertama 1986)

Canting, simbol budaya yang kalah, tersisih, dan melelahkan. Adalah Ni---sarjana farmasi, calon pengantin, putri Ngabean---yang mencoba menekuni, walau harus berhadapan dengan Pak Bei, bangsawan berhidung mancung yang perkasa; Bu Bei, bekas buruh batik yang menjadi ibunya; serta kakak-kakaknya yang sukses.

Canting, yang menjadi cap batik Ngabean, tak bisa bertahan lagi
...more
Arshya Faradita
this books dedicated to ancient Javanese culture of patrilinear especially in solo (surakarta , central java). the writer give us one problems but affected entire aspect of the family lives.

the story about Pak Bei/Mr Bei (Ngabehi Sestrokusumo)family, nuclear family and servants. Pak Bei has a batik factory named Canting. Pak Bei has wife named Bu Bei (Mrs. Bei) who runs the factory and sells the products in Pasar Klewer. Bu Bei is a business woman but in the other side Pak Bei just do some unpro
...more
Ramaditya
canting bercerita tentang sebuah keluarga priyayi ngabehi sestrokusuma yang memiliki usaha batik bermerk canting.
diawal awal diceritakan tentang kehidupan pak bei yang begitu feodal dimana semuanya dilayani oleh istrinya dan para pembantunya. sedangkan bu bei harus bekerja keras menggerakkan usaha batik canting dan juga melayani kebutuhan pak bei serta anak anaknya.
sebagai seorang priyayi pak bei disebut temanya sebagai priyayi yang tidak jawa, priyayi yang aneh. dengan menikahi buruh batiknya d
...more
Erna Yuli
Siapa sangka, siapa sangka karya Arswendo mampu memikatku seperti ku terpikat oleh Umar Kayam?
Ya ya ya, aku tau, di balik belakang buku juga sudah terbaca kalo ini ttg kehidupan berbau Priyayi..
Kisah ttg Priyayi slalu membuatku pengen tahu..
Tapi mmg harus ttg kisah Priyayi yg tidak biasa, ato harus disampaikan dgn cara tdk biasa..

Canting sukses memikatku dgn hal tersebut..
Kisah hidup keluarga Pak Bei, tokoh sentral di buku ini, porsi paling besar yg akhirnya menyita perhatianku..
Awalnya ku pikir
...more
Astri Widarianti
Canting bercerita mengenai keluarga Pak Bei dan Bu bei yang masih keturunan priyayi tapi berani mendobrak tradisi keluarganya sendiri, berani aneh untuk menjadi dirinya sendiri. Dilanjutkan dengan Ni, anak Pak Bei yang berani menjadi aneh, menjadi dirinya sendiri. dia berani untuk melawan keluarganya untuk mengambil dan mengelola usaha batik cap canting. sekalipun dia tahu tidak mudah membangkitkan usaha keluarganya yang menggunakan cara tradisional dan bersaing dengan batik cetak.
Membaca buku
...more
Marina Zala
novel ini layak dikasi 4 dari 5 bintang! benar2 tidak ketebak alur ceritanya.. keluarga jawa yang sangat kental budayanya, macam-macam arti filosofi jawa mulai kesederhanaan, pasrah, setia dan diam masuk ke dalamnya

tambahan bumbu sebuah potret keluarga yang meski dari luar terlihat sukses namun ketika dilihat lebih jauh masing2 anggota keluarga memiliki sisi gelapnya masing2. bagus novel ini.. potret cerita keluarga tahun 1960an yang saat ini masih belum tentu ada seperti ini..
Astrid Lim
I seldom read Indonesian books, let alone the ones about culture. This book tells a story about a Javanese family, living in Kraton Solo, who also own a batik home industry. I like this book because it could portray the life of Javanese family pretty well - all the formalities, indirect conversation and polite manner. But the writing itself is too old fashioned for my taste. There are also lots of typos here and there that disturbed me from enjoying this book fully.
Rina Purwaningsih
Yang jelas buku ini bagus banget. Bikin makin paham dan cinta budaya Jawa. Tokoh Bu Bei dan Pak Bei jelas banget karakternya. Ternyata gak semua priyayi berdarah biru itu mempunyai pola pikir Jawa thothok. Pak Bei menggambarkan karakter yang tetap memegang nilai Jawa tapi tak mengingkari jaman dan akal sehat. Walau bukunya tebal tapi gak bosen buat dibaca.
Tantri Setyorini
Tadinya sih mengharapkan buku ini semacam Gadis Pantai-nya Pram. Tapi harapan terlalu muluk rupanya. Canting ini bener-bener family drama. Semua anggota keluarga jadi tokoh sentral. Yang cukup menarik untuk diperhatikan mungkin pandangan Pak Bei dan teman-teman ningratnya yang merasa nasionalis dan benci kapitalisme tapi dengan munafiknya menjalani hidup ala kaum borjuis. Juga fanatisme buta mereka terhadap Soekarno (tipikal orang-orang Jawa jaman dulu). Narasi tentang para wanita yang jadi peda ...more
Catur Indrawan
Seperti biasa, dengan kalimat-kalimat sederhana, Arswendo membawa saya masuk ke dalam kehidupan para tokoh di dalam novelnya, dan menyelami kompleksitas permasalahan di tiap masing-masing tokoh. Tak menggurui, tapi membebaskan pembacanya memberi nilai moral pada masing-masing tokoh.
Yohanna
Sejujurnya judul novel ini selalu membekas di kepala sejak masih sekolah dulu. Ketika masih duduk di bangku sekolah menengah di Jawa Tengah. Membaca sepotong-sepotong lewat cerita bersambung di harian Kompas entah berapa tahun lalu.
Sejujurnya nggak biasanya saya beli "buku lokal." Hahaha! Nggak tahu kenapa. Tapi akhirnya saya beli Canting, sebagian demi mengenang masa lalu (plus pingin tahu juga cerita utuhnya seperti apa, karena dulu tidak membaca tuntas).
Dan sejujurnya, saya jadi pingin pulan
...more
Maryati Soewito
Buku ini tak terlalu tebal (406 hlm) dan cukup enak dinikmati. Banyak sentilan-sentilan tentang plus minus adat Jawa yang bikin senyum.
Bercerita tentang potret adat dan budaya Jawa dalam keluarga Daryono Sestrokusumo atau Raden Ngabehi Sestrokusumo dan orang-orang di sekitar mereka, sanak famili, dan buruh di pabrik batik mereka.
Tentang bagaimana putri bungsu sang ngabehi, Ni, berusaha mempertahankan pabrik batik tradisional mereka yang dulu diagungkan ditengah perkembangan batik cetak (pri
...more
Daraazilya
buku bagus, rekomendasi untuk mereka yang cinta budaya, juga direkomendasikan untuk perempuan yanh kelak menjadi ibu.
« previous 1 3 4 5 6 7 8 9 25 26 next »
There are no discussion topics on this book yet. Be the first to start one »
  • Burung-Burung Manyar
  • Para Priyayi: Sebuah Novel
  • Anak Bajang Menggiring Angin
  • Ronggeng Dukuh Paruk (Dukuh Paruk, buku 1 - 3)
  • Entrok
  • Ca Bau Kan: Hanya Sebuah Dosa
  • Arok Dedes
  • Bilangan Fu
  • Kitab Omong Kosong
  • Tarian Bumi
  • Gadis Kretek
495195
Seorang yang sangat terkenal di bidang jurnalistik, penulisan dan sinetron. Lahir di Solo 26 November 1948. Sempat kuliah di IKIP Solo selama beberapa bulan, lalu mengikuti program penulisan kreatif di Iowa University, Iowa City, Amerika Serikat (1979). Prestasinya sungguh luar biasa. Banyak karyanya yang telah disinetronkan dan mendapat penghargaan, di antaranya Keluarga Cemara dan Becak Emak, ya ...more
More about Arswendo Atmowiloto...
Senopati Pamungkas #1 Kau Memanggilku Malaikat Dua Ibu Senopati Pamungkas #2 Blakanis

Share This Book

No trivia or quizzes yet. Add some now »

“Manusia hidup menunggu untuk mati. Kehidupan justru terasakan dalam menunggu. Makin bisa menikmati cara menunggu, makin tenang dalam hati.” 11 likes
“Ia tahu apa yang menjadi haknya, lewat jalan apa pun akhirnya akan jatuh ke tangannya pula. Sebaliknya apa yang belum menjadi miliknya, diberikan di depan mulut pun akan jatuh ke tanah. Gusti Allah sudah mengatur semuanya.” 4 likes
More quotes…