Goodreads helps you keep track of books you want to read.
Start by marking “House of Glass (Tetralogi Buru, #4)” as Want to Read:
House of Glass (Tetralogi Buru, #4)
Enlarge cover
Rate this book
Clear rating
Open Preview

House of Glass (Buru tetralogy #4)

by
4.25 of 5 stars 4.25  ·  rating details  ·  1,930 ratings  ·  142 reviews
With House Of Glass comes the final chapter of Pramoedya's epic quartet, set in the Dutch East Indies at the turn of the century. A novel of heroism, passion, and betrayal, it provides a spectacular conclusion to a series hailed as one of the great works of modern literature. At the start of House of Glass, Minke, writer and leader of the dissident movement, is now impriso ...more
Paperback, 384 pages
Published July 1st 1997 by Penguin Books (first published 1985)
more details... edit details

Friend Reviews

To see what your friends thought of this book, please sign up.

Reader Q&A

To ask other readers questions about House of Glass, please sign up.

Be the first to ask a question about House of Glass

Laskar Pelangi by Andrea HirataBumi Manusia by Pramoedya Ananta Toer5 cm by Donny DhirgantoroNegeri 5 Menara by Ahmad FuadiRonggeng Dukuh Paruk by Ahmad Tohari
Buku Indonesia Sepanjang Masa
37th out of 454 books — 1,610 voters
The Garden of Evening Mists by Twan Eng TanHouse of Glass by Pramoedya Ananta ToerThe Piano Tuner by Daniel MasonThe Harmony Silk Factory by Tash AwThe Bondmaid by Catherine Lim
awesome reads from southeast asia
2nd out of 30 books — 17 voters


More lists with this book...

Community Reviews

(showing 1-30 of 3,000)
filter  |  sort: default (?)  |  rating details
Harun Harahap
Betapa muaknya saya membaca kisah yang dituturkan oleh seorang Pribumi asli yang merasa dirinya Eropa dan lebih tinggi derajatnya daripada pribumi yang lain. Pribumi yang mempunyai kekuasaan untuk menghisap darah pribumi yang lain. Pribumi itu bernama Jacques Pangemanann, seorang pribumi asli yang diangkat anak oleh orang Perancis dan mendapatkan pendidikan Perancis.

Di Novel penutup dari tetralogi Pulau buru ini, sudut pandang memang tak lagi milik Minke tapi Jacques Pangemanann. Dalam novel "Ru
...more
Michiyo 'jia' Fujiwara
Selesai sudah..

Sudah selesai semua petualangan para manusia dan bumi-nya, atas persaudaraan dan kesamaan nasib anak semua bangsa yang tak mau lagi terbelenggu oleh kolonialisme dan keinginan untuk memerdekan diri sendiri dan untuk setiap tindakan yang mereka lakukan, akan menciptakan jejak langkah bagi generasi mereka dan generasi sesudah mereka..

Minke..

Ia pergi dalam kesepian—ia yang sudah dilupakan, dilupakan sudah dalam hidupnya. Ia seorang pemimpin yang dilupakan oleh pengikutnya. Ini hanya
...more
Ahmad
Jika karya ini danggap New york Times sebagai yang paling ambisius, saya sepakat. Pram membuktikan dirinya benar-benar patut menjadi nominee nobel sastra. Ia seolah membungkam semua fakta yang selama ini dipercaya sebagai sejarah dengan sangat apik.

Dibandingkan tiga karya terdahulunya, karya ini memang lebih melelahkan. Bahkan, saya sampai berkata, "Akhirnya, selesai juga..." Ia berlompatan mengulang semua cerita dari sudut pandang dan daya cerna pikir yang berbeda. Pada akhirnya, "Rumah Kaca"
...more
Anna
Salut kepada Pram, bisa-bisanya dia berlagak seperti seorang Eropa dengan yakinnya, memberikan narasi mengenai intrik seputar kolonialisme dari sudut pandang orang dalam (yang telah terlanjur kupercayai walaupun belum tentu valid), sekaligus menjadi seorang Pribumi yang tak ada bandingannya dalam mengerti karakteristik bangsanya. Benar-benar dia adalah harta pusaka bangsa ini, semoga bukunya dibaca hingga ke generasi-generasi yang akan datang; mengingat hidup yang lebih terarah bila kita mengert ...more
Zaki Setiawan
Deposuit Potentes de Sede et Exaltavat Humiles
(Dia Rendahkan Mereka yang Berkuasa dan Naikkan Mereka Yang Terhina) (hal : 646)
Karya Eyang Pram yang ini sungguh “melewati batas zaman”. Kita yang disuguhi cerita tentang Minke pada tetralogi sebelumnya ( Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa dan Jejak Langkah) kemudian diakhiri dengan pembuangan Minke ke tanah Maluku. Tahap Penangkap sampai dengan Pembuangan Minke dipimpin langsung seorang Komisaris Besar Polisi Hindia berdarah Ambon yaitu Jacques Pange
...more
Karmen
It was a bittersweet pleasure to read and now finish the Buru Quartet.

Raden Mas Minke is now in exile. The House of Glass is told from the person responsible for it - policeman Tuan Pangemann. It is a great counterpart to the earlier trilogy written in Minke's voice. It presents the colonial view.

Pangemann writes of his qualifications and demonstrates an excellent understanding of his culture. Unfortunately, he does not realize who he is and the damage his reports are responsible for. Even as he
...more
Brian
Well... with this book I've now completed the Buru Quartet. That was one of my goals for this year. Now I'm wandering aimlessly through my library picking things up at random.

Book four, House of Glass, was different from the first three. The point of view switched from Minke, the main protagonist to a Indies Government official, Meneer Pangemanann, spelled with two 'n's. His was a tormented soul with a unlikeable narrative voice.

The quartet ended with what read like a history textbook lesson. I
...more
Jed L
I generally do not read about the topics books are about until after I have finished the book. And it was the same with this quartet. Only after did I read more about Toer, Indonesia, and Tirto Adhi Soerjo (the political figure whom Toer uses as a basis for his main character, Minke). Once I learned more about this man and his work in Indonesia and also saw that so much of it was the same as Minke in the novel I began to understand why Toer did not use Minke as a character in this last book. Ins ...more
Chaniago
Sep 21, 2010 Chaniago rated it 5 of 5 stars  ·  review of another edition
Recommends it for: Pemuda Pemudi Indonesia
Recommended to Chaniago by: Miles
Rumah Kaca sungguh membuatku tercengang. Ohh my.. Dia bahkan bisa mengalahkan semua novel-novel kesayanganku. It'll be my top five, for sure! Berbeda dengan buku pertama, kedua, dan ketiga, buku keempat ini mengambil sudut pandang seorang arsiparis bernama Jacques Pangemanann. Pribumi yang bekerja di Algemeene Secretarie Hindia Belanda. Ia mengabadikan semua berita mengenai sasarannya, salah satunya adalah Raden Mas Minke. Dari artikel-artikel yang dikumpulkan Pangemanann, pembaca kemudian dapat ...more
Irwan
Selesailah tetralogi besar ini. Pengalaman pertama berkenalan dengan sosok Pram lewat karya ini. Membuka dimensi baru baik dalam soal kepenulisan, tentang sejarah bangsaku, maupun peluang yang ada bila kedua hal itu dihubungkan.

Terus terang aku tidak terlalu suka Rumah Kaca. Aku benci kepada penutur kisahnya. Bukan kepada penulisnya, karena penulisnyalah yang telah berhasil menciptakan kebencian itu. Aku juga tidak suka akhir tragis dari kisah kepahlawanan ini. Aku mengharapkan seorang sosok he
...more
Mindy McAdams
This book provides a great conclusion to the Buru Quartet -- four novels about the Indies (now Indonesia) under Dutch colonial rule at the start of the 20th century. In this, the fourth book, World War I begins, and the changes that had just started to happen in books 2 and 3 are now gaining momentum. It's hard to say too much without giving too much away ... but if you start to lose heart and feel sad before you reach the ending, please stay with it. I was very glad I had done so.

http://inidis
...more
Dipta Kueren
Melihat adari sudut pandang baru, itu yang saya tangkap dari salah satu tetralogi P. Buru ini. setelah 3 buku terdahulu yang memotret perkembangan pergerakan nasional dari pelakunaya langsung yaitu Den Mas Minke, di buku ini, pembaca akan melihat perkembangan pergerakan nasional dari sudut pandang Jaques Pangemanan dengan dua "n". cerita menjadi menarik karena konflik yang terjadi di benak Pangemanann. Disatu sisi pemikiran eropanya mengagumi Minke dengan segala keagungannya, disisi lainnya, Tua ...more
Hanifah Rufa' Idah
Saya tetap suka dengan roman terakhir tetralogi Pulau Buru milik Pak Pram ini meskipun tokoh sentral dalam buku ini bukan lagi tokoh Minke. Pangemanann, pegawai arsip pemerintah Hindia mengambil alih penokohan utama dan membuat cerita lebih menarik karena menggambarkan bentuk reaksi kolonial terhadap sepak terjang Minke selama ini. Sebuah tugas khusus yang dibebankan kepada Pangemanann untuk menyingkirkan Minke membuatnya sedikit mengalami dilema nurani dan kepentingan mengingat sebenarnya ia be ...more
Bianda
I kinda like what the main character in the story does. He's an analyst which I can relate to since I'm also an analyst in my line of work (different kind of analyst though). It's a pity that he can't find peace in what he does, become obsessed in the object that he's analysing (if I may say even made him loose his mind a little bit)
and eventually ended up alone. A sad ending for him, knowing that he lost everything in the end even his passion for the work he once loved.
Cathreen Shiucheng แคทเรน
I can say that this is a brilliant book written from Southeast asia. Oh my! I've picked up some words in dutch and Javanese. Can you see how politics and abuse of power work during the colonial period and what more now- these days? This book augurs the present, where we are standing now.

Meneer Pangemanann may be seen as a traitor in the eyes of the natives while, Raden Mas Minke as the unsung hero in the novel, but as a troublemaker in the eyes of the colonial power. However, it is hard to be i
...more
Afid Nurkholis
Rumah Kaca bahasa dari Pram untuk menggambarkan tindakan kolonial yang mematai pergerakan pribumi dari balik gedung di Bogor yang dilakukan manusia yang sebetulnya pribumi yang berpendidikan eropa dan punya prinsip seaik-baiknya prinsip kehidupan "Pangemanann". Di jaman kolonial org berpendidikan memang disiapkan untuk membantu pemerintahan setan , namun ada juga terpelajar yang membangkang dan ingin memerdekakan bangsanya sendiri (Minke,Dowes Dekker,Ki Hajar(Wardi)dan Tjipto Mangunkusomo) yang ...more
- yui yunita putri
sekarang kalian ada dalam rumah kacaku. Sluruh gerak gerik kalian terlihat!!
David Smith
I thank Joss Wibisono for putting me on to this great delight.
Fit MS
3,5 months comprehending and dissolving myself into Buru Quartet's ideas and reflecting its stories to Indonesia now as a Nation. I arrived to a consideration that Indonesia is still strugling from the mentality of inequality, corrupt minded, hierarchical bureaucracy which was shaped 350 yeasrs by Dutch colonialism and influenced a lot by the fact of Javanism as majority of Indonesian people.

Pramoedya captured the essence of the problems and presented it in an exotic way with his genius genuine
...more
Abi Ghifari
Rumah Kaca: Kisah Paradoks Pribumi Hindia-Belanda

Di buku terakhir dari tetralogi Bumi Manusia ini, Pramoedya Ananta Toer kembali menarik pembacanya melewati lorong-lorong waktu untuk hadir menyaksikan babak final dari kisah perjalanan seorang pribumi pembaharu pada masa kolonial Hindia-Belanda, Raden Mas Minke yang dijuluki Pram sebagai Sang Pemula.

Untuk menutup kisah luar biasa ini, Pram dengan cerdasnya mengambil-alih sudut pandang Minke sebagai subjek pada ketiga buku pendahulunya: Bumi Manus
...more
dedeh
This review has been hidden because it contains spoilers. To view it, click here.
Dendy Hardian
buku terakhir dari tetralogi pulau buru P.A.T. Rumah kaca merupakan catatan seorang pegawai tinggi gubermen hindia belanda yang juga bekas komisaris polisi betawi jacques pangemanann seorang peranakan perancis yang pernah berkuliah di sorbonne adalah seorang ahli kolonial yang juga otak dalam konspirasi pembunuhan karakter terhadap RM Minke sampai ketempat pembuangannya di maluku. Seorang yang sebenarnya pengagum setia RM Minke namun terkorup oleh jabatan sehingga kehilangan prinsipnya. Buku ini ...more
Erik Angriawan
''Rumah Kaca''


* "Betapa sederhana hidup ini sesungguhnya yang pelik cuma liku dan tafsirannya. (''Pangemanann, 38)
* "Nilai yang diwariskan oleh kemanusiaan hanya untuk mereka yang mengerti dan membutuhkan. Humaniora memang indah bila diucapkan para mahaguru—indah pula didengar oleh mahasiswa berbakat dan toh menyebalkan bagi mahasiswa-mahasiswa bebal. Berbahagialah kalian, mahasiswa bebal, karena kalian dibenarkan berbuat segala-galanya. (''Pangemanann, 39)
* "Hidup sungguh sangat sederhana. Yang
...more
Sabrina Zee
Buku keempat Tetralogi Buru ini tidak lagi diceritakan dari sudut pandang Minke lagi karena dia sudah dibuang ke Ambon dan dipisahkan dari "anak sulungnya" yang adalah organisasi Syarikat Islam. Sang pencerita adalah Jacques Pangemanann, seorang pribumi yang pernah bersekolah di Perancis. Dia bekerja di pemerintahan dan boleh dibilang sebagai "anjing kolonial" karena ia membuang prinsip hidupnya begitu saja demi sebuah jabatan. Ia mengagumi Minke, sang pelopor nasionalisme di Hindia. Namun ia ta ...more
Adriana
Buku terakhir dari Tetralogi Buru karya terkemuka Pramoedya Ananta Toer. Kalau tiga buku pertama penceritaan berpusat pada Minke, buku terakhir ini pula cerita berpusat pada Pangemanann.

Buku ini Minke telah diperintahkan dibuang ke Ambon sebagai usaha kerajaan mematahkan perjuangannya. Disana segala perbuatannya sangat terbatas dan sentiasa diperhatikan pihak kerajaan. Sementara itu Pangemanan, seorang anggota polis yang bertanggungjawab terhadap pembuangannya akhirnya dinaikkan pangkat ke jabat
...more
winda
Berbeda dengan tiga buku sebelumanya yang menceritakan sudut pandang dari seorang Minke, buku terakhir ini menceritakan dari sudut pandang Penegemanann yang merupakan seorang peranakan, yang menjadi dalang dibuangnya Minke ke Ambon tanpa melalui peradilan.

Dalam buku ini dibahas bagaimana Syarikat Islam berjalan tanpa adanya pemimpin utama mereka, Minke. Bagaimana juga sejarah munculnya organisasi-organisasi pergerakan. Perubahan-perubahan yang terjadi akibat peranv dunia. perubahan kebijakan, sa
...more
Ime'... Imelda
Tidak seperti karya-karya Pram di tiga buku sebelumnya dalam rangkaian tetralogi Pulau Buru, di bukunya yang keempat, subjeknya adalah Pangemanann, seorang Manado yang bekerja berada di pihak Gubermen. Ceritanya jadi agak berbeda, karena Rumah Kaca menceritakan mengenai dia, sebagai seorang pribumi, yang hanya dengan tandatangannya, aktivis-aktivis dapat ditangkap dan dikirim ke pembuangan.

Jika Jejak Langkah diakhiri dengan adegan penangkapan Minke, maka Rumah Kaca menceritakan siapa dalangnya.
...more
Nur Saidatunnisa Widiatti
Dalang yang Terpenjara. Saya akan memberikan subjudul demikian jika diperkenankan. Karena pada akhirnya kita dibawa maju mundur ke kehidupan Minke melalui mata Jacques Pangemanann. Saya tidak begitu ngeh dengan sosoknya yang wara-wiri di seri sebelumnya. Tapi rupanya, dialah dalang yang membayangi kisah pergerakan dan jejak langkah Minke. Jika tiga seri sebelumnya mengajak kita berpikir lurus, seri ini justru membawa kita merasakan pergulatan batin seorang kolonial peranakan yang menulikan telin ...more
Den Lulung
Orang memanggilnya: Pangemanann dengan dobel n. Karena jika menggunakan satu n maka terbacanya ng, penamaan Prancis. Tokoh utama dalam buku terakhir tetralogi Pulau Bburu. Bukan lagi Minke.

Jacques Pangemanann lengkapnya. Pribumi Manado berpendidikan Prancis, menikah dengan seorang Prancis, Madame Paulette, pindah ke Hindia menjadi agen polisi kemudian mengabdi dengan pihak Gubermen.

Dalam perannya Pangemanann bertugas membantu Gubermen sebagai ahli organisasi Pribumi di kantor Algemeene Secretar
...more
Yukanatha Svanidza
This review has been hidden because it contains spoilers. To view it, click here.
« previous 1 3 4 5 6 7 8 9 99 100 next »
topics  posts  views  last activity   
Pembaca Buku Pram...: ISBN buku Rumah Kaca 1 16 Sep 06, 2012 02:27AM  
  • Burung-Burung Manyar
  • Ronggeng Dukuh Paruk (Dukuh Paruk, buku 1 - 3)
  • Para Priyayi: Sebuah Novel
  • Anak Bajang Menggiring Angin
  • Pulang
  • Harimau! Harimau!
  • Rahasia Meede: Misteri Harta Karun VOC
  • Olenka
  • Entrok
  • Hujan Bulan Juni
  • Tanah Tabu
  • Cantik itu Luka
  • Robohnya Surau Kami
  • Negeri Senja: Roman
  • Aku Ingin Jadi Peluru (Kumpulan Puisi)
  • Max Havelaar: Or the Coffee Auctions of the Dutch Trading Company
  • Ca Bau Kan: Hanya Sebuah Dosa
  • Madilog
101823
Pramoedya Ananta Toer was an Indonesian author of novels, short stories, essays, polemics, and histories of his homeland and its people. A well-regarded writer in the West, Pramoedya's outspoken and often politically charged writings faced censorship in his native land during the pre-reformation era. For opposing the policies of both founding president Sukarno, as well as those of its successor, t ...more
More about Pramoedya Ananta Toer...

Other Books in the Series

Buru tetralogy (4 books)
  • Bumi Manusia (Tetralogi Buru, #1)
  • Child of All Nations (Tetralogi Buru, #2)
  • Jejak Langkah (Tetralogi Buru, #3)
Bumi Manusia (Tetralogi Buru, #1) Jejak Langkah (Tetralogi Buru, #3) Gadis Pantai Child of All Nations (Tetralogi Buru, #2) Arok Dedes

Share This Book

No trivia or quizzes yet. Add some now »

“Kami memang orang miskin. Di mata orang kota kemiskinan itu kesalahan. Lupa mereka lauk yg dimakannya itu kerja kami.” 28 likes
“Dari atas ke bawah yang ada adalah larangan, penindasan, perintah, semprotan, hinaan. Dari bawah ke atas yang ada adalah penjilatan, kepatuhan, dan perhambaan.” 13 likes
More quotes…