Goodreads helps you keep track of books you want to read.
Start by marking “House of Glass” as Want to Read:
House of Glass
Enlarge cover
Rate this book
Clear rating
Open Preview

House of Glass (Tetralogi Buru #4)

by
4.28  ·  Rating Details ·  2,661 Ratings  ·  204 Reviews
In 1965, Pramoedya Ananta Toer was arrested by the Indonesian government. Although he was denied writing materials during his 14-year detention, he continued to "write" fiction, composing stories orally, which his fellow prisoners memorized. House of Glass is the final installment of the four-part epic he composed. The tale, which began with This Earth of Mankind and conti ...more
Paperback, 384 pages
Published July 1st 1997 by Penguin Books (first published 1988)
More Details... edit details

Friend Reviews

To see what your friends thought of this book, please sign up.

Reader Q&A

To ask other readers questions about House of Glass, please sign up.

Be the first to ask a question about House of Glass

Community Reviews

(showing 1-30)
filter  |  sort: default (?)  |  Rating Details
Harun Harahap
Betapa muaknya saya membaca kisah yang dituturkan oleh seorang Pribumi asli yang merasa dirinya Eropa dan lebih tinggi derajatnya daripada pribumi yang lain. Pribumi yang mempunyai kekuasaan untuk menghisap darah pribumi yang lain. Pribumi itu bernama Jacques Pangemanann, seorang pribumi asli yang diangkat anak oleh orang Perancis dan mendapatkan pendidikan Perancis.

Di Novel penutup dari tetralogi Pulau buru ini, sudut pandang memang tak lagi milik Minke tapi Jacques Pangemanann. Dalam novel "Ru
...more
Michiyo 'jia' Fujiwara
Selesai sudah..

Sudah selesai semua petualangan para manusia dan bumi-nya, atas persaudaraan dan kesamaan nasib anak semua bangsa yang tak mau lagi terbelenggu oleh kolonialisme dan keinginan untuk memerdekan diri sendiri dan untuk setiap tindakan yang mereka lakukan, akan menciptakan jejak langkah bagi generasi mereka dan generasi sesudah mereka..

Minke..

Ia pergi dalam kesepian—ia yang sudah dilupakan, dilupakan sudah dalam hidupnya. Ia seorang pemimpin yang dilupakan oleh pengikutnya. Ini hanya
...more
Sadam Faisal
Jul 20, 2016 Sadam Faisal rated it it was amazing  ·  review of another edition
Minke :( *nangis dipojokan
Zaki Setiawan
Oct 03, 2012 Zaki Setiawan rated it it was amazing  ·  review of another edition
Deposuit Potentes de Sede et Exaltavat Humiles
(Dia Rendahkan Mereka yang Berkuasa dan Naikkan Mereka Yang Terhina) (hal : 646)
Karya Eyang Pram yang ini sungguh “melewati batas zaman”. Kita yang disuguhi cerita tentang Minke pada tetralogi sebelumnya ( Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa dan Jejak Langkah) kemudian diakhiri dengan pembuangan Minke ke tanah Maluku. Tahap Penangkap sampai dengan Pembuangan Minke dipimpin langsung seorang Komisaris Besar Polisi Hindia berdarah Ambon yaitu Jacques Pange
...more
Ahmad
Apr 09, 2009 Ahmad rated it really liked it
Jika karya ini danggap New york Times sebagai yang paling ambisius, saya sepakat. Pram membuktikan dirinya benar-benar patut menjadi nominee nobel sastra. Ia seolah membungkam semua fakta yang selama ini dipercaya sebagai sejarah dengan sangat apik.

Dibandingkan tiga karya terdahulunya, karya ini memang lebih melelahkan. Bahkan, saya sampai berkata, "Akhirnya, selesai juga..." Ia berlompatan mengulang semua cerita dari sudut pandang dan daya cerna pikir yang berbeda. Pada akhirnya, "Rumah Kaca"
...more
Anna Silalahi
Sep 18, 2008 Anna Silalahi rated it it was amazing
Shelves: fiction, history
Salut kepada Pram, bisa-bisanya dia berlagak seperti seorang Eropa dengan yakinnya, memberikan narasi mengenai intrik seputar kolonialisme dari sudut pandang orang dalam (yang telah terlanjur kupercayai walaupun belum tentu valid), sekaligus menjadi seorang Pribumi yang tak ada bandingannya dalam mengerti karakteristik bangsanya. Benar-benar dia adalah harta pusaka bangsa ini, semoga bukunya dibaca hingga ke generasi-generasi yang akan datang; mengingat hidup yang lebih terarah bila kita mengert ...more
Jed L
Aug 25, 2012 Jed L rated it really liked it
I generally do not read about the topics books are about until after I have finished the book. And it was the same with this quartet. Only after did I read more about Toer, Indonesia, and Tirto Adhi Soerjo (the political figure whom Toer uses as a basis for his main character, Minke). Once I learned more about this man and his work in Indonesia and also saw that so much of it was the same as Minke in the novel I began to understand why Toer did not use Minke as a character in this last book. Ins ...more
Missy J
*3.5

So I finally finished reading the Buru Quartet. My aim was to get find out more about the history of Indonesia. And these books were helpful, together with "The History of Modern Indonesia", now I have a picture of what the Dutch Indies was like.

Honestly, I didn't enjoy "House of Glass" and "Footsteps" as much as "This Earth of Mankind" and "Child of All Nation", these books really caught my attention and made me want to read more.
I probably didn't like Pangemannan and the adult Minke, caus
...more
Karmen
Aug 14, 2009 Karmen rated it it was amazing
It was a bittersweet pleasure to read and now finish the Buru Quartet.

Raden Mas Minke is now in exile. The House of Glass is told from the person responsible for it - policeman Tuan Pangemann. It is a great counterpart to the earlier trilogy written in Minke's voice. It presents the colonial view.

Pangemann writes of his qualifications and demonstrates an excellent understanding of his culture. Unfortunately, he does not realize who he is and the damage his reports are responsible for. Even as he
...more
Leonart Maruli
Terkadang kejernihan dalam memandang sesuatu lebih mudah dilihat dari cara berfikir orang jahat... Pak Pram berhasil mengakhiri tetralogi Pulau Buru ini dengan sangat baik...

Pak Pram sendiri pernah bilang bahwa ia memang tidak terlalu suka untuk membuat cerita yang berakhir dengan happy ending...alasannya sederhana : cerita yang happy ending terkadang tidak sesuai dengan kenyataan. Singkatnya Das Solen-Das Sein Dillema.

Chaniago
Jul 22, 2010 Chaniago rated it it was amazing  ·  review of another edition
Recommends it for: Pemuda Pemudi Indonesia
Recommended to Chaniago by: Miles
Rumah Kaca sungguh membuatku tercengang. Ohh my.. Dia bahkan bisa mengalahkan semua novel-novel kesayanganku. It'll be my top five, for sure! Berbeda dengan buku pertama, kedua, dan ketiga, buku keempat ini mengambil sudut pandang seorang arsiparis bernama Jacques Pangemanann. Pribumi yang bekerja di Algemeene Secretarie Hindia Belanda. Ia mengabadikan semua berita mengenai sasarannya, salah satunya adalah Raden Mas Minke. Dari artikel-artikel yang dikumpulkan Pangemanann, pembaca kemudian dapat ...more
Probo Darono Yakti
Perjuangan Minke pun akhirnya telah sampai pada penghujungnya: Minke dibuang ke Maluku, atas perintah dari Gubermen sendiri. Langkah ini merupakan pengingkaran janji Pangemanann yang akan menyelesaikan Minke ini melalui jalur di luar hukum. Namun kenyataan yang ada Komisaris Polisi Hindia Belanda ini setelah memanfaatkan Robert Suurhof, kawan lama dari Minke untuk mengacaukan segala gerak-gerik Minke sekeluarga.

Bagian menariknya adalah Pram mengubah sudut pandangnya menjadi orang ketiga dari ser
...more
Brian
Nov 10, 2008 Brian rated it liked it
Shelves: read-2009, asian
Well... with this book I've now completed the Buru Quartet. That was one of my goals for this year. Now I'm wandering aimlessly through my library picking things up at random.

Book four, House of Glass, was different from the first three. The point of view switched from Minke, the main protagonist to a Indies Government official, Meneer Pangemanann, spelled with two 'n's. His was a tormented soul with a unlikeable narrative voice.

The quartet ended with what read like a history textbook lesson. I
...more
Irwan
Jan 23, 2012 Irwan rated it really liked it  ·  review of another edition
Shelves: finished, 2012
Selesailah tetralogi besar ini. Pengalaman pertama berkenalan dengan sosok Pram lewat karya ini. Membuka dimensi baru baik dalam soal kepenulisan, tentang sejarah bangsaku, maupun peluang yang ada bila kedua hal itu dihubungkan.

Terus terang aku tidak terlalu suka Rumah Kaca. Aku benci kepada penutur kisahnya. Bukan kepada penulisnya, karena penulisnyalah yang telah berhasil menciptakan kebencian itu. Aku juga tidak suka akhir tragis dari kisah kepahlawanan ini. Aku mengharapkan seorang sosok he
...more
Stella
Nov 10, 2016 Stella rated it it was amazing
Set in colonial Indonesia during the Great War, this book is the last in a series named the Buru Quartet. I have not read the other books.

As a standalone book it works; I'm aware the first three novels provide a back story of nationalism and self determination however the protagonist, Jacques Pangemanann is more than adequate. Talented and complex; Jacques a Medanose native studied at the Sorbonne, rose to high ranks in the police force and was appointed trusted adviser to the colonial governmen
...more
Mindy McAdams
Jul 30, 2011 Mindy McAdams rated it really liked it
This book provides a great conclusion to the Buru Quartet -- four novels about the Indies (now Indonesia) under Dutch colonial rule at the start of the 20th century. In this, the fourth book, World War I begins, and the changes that had just started to happen in books 2 and 3 are now gaining momentum. It's hard to say too much without giving too much away ... but if you start to lose heart and feel sad before you reach the ending, please stay with it. I was very glad I had done so.

http://inidis
...more
Aprilisa
Sep 12, 2015 Aprilisa rated it it was amazing
Bahasanya sastra agak susah di mengerti..bacanya bisa berulang biar paham..but, over all bukunya bagus.karena menjawab kepenasaranan saya tentang masa sebelum kemerdekaan..bagaimana pemerintahan sblm merdeka dan bagaimana perjuangan pribumi dalam memperjuangkan hak merdekanya..sayangnya tokoh yang di ceritakan lebih banyak adalah kolonial, bukan pribuminya..hehe..rencana selanjutnya nabung buat beli tetralogi lainnya..bumi manusia, anak semua bangsa dan jejak langkah..recommended book!!
Bianda
Jun 26, 2011 Bianda rated it liked it
I kinda like what the main character in the story does. He's an analyst which I can relate to since I'm also an analyst in my line of work (different kind of analyst though). It's a pity that he can't find peace in what he does, become obsessed in the object that he's analysing (if I may say even made him loose his mind a little bit)
and eventually ended up alone. A sad ending for him, knowing that he lost everything in the end even his passion for the work he once loved.
- yui yunita putri
sekarang kalian ada dalam rumah kacaku. Sluruh gerak gerik kalian terlihat!!
David Smith
Jul 25, 2011 David Smith rated it it was amazing
I thank Joss Wibisono for putting me on to this great delight.
Firmansyah Sundana
Rumah kaca merupakan karya yang sangat fenomenal khususnya dalam konteks sastra Indonesia. Ia merupakan suatu karya yang datang dari refleksi batin yang sangat jeli dari seorang Pram. Di dalam karya ini Pram mengambil sudut pandang seorang Pangemanann. Pangemanann ini adalah orang asal Manado yang telah menempuh pendidikan di Prancis. Dididikan Prancis yang menjadikan ia seorang intelektual yang cukup lugas dalam menginterpretasikan fenomena. Akan tetapi di dalam karya ini Pram menggambarkan seo ...more
Happy White
Nov 10, 2016 Happy White rated it really liked it  ·  review of another edition
Shelves: my-collections
amazing as always, like the other books of this series.
But, one thing, when it become another pov, and the story lead to sad end and so few of story of Minke. It makes the climax not that good. No great conflict like the previous series.
Reza Pratama Nugraha
Sebelum review ngamuk dulu :

"Akhirnya tamat Tetralogi pulau buru ini, dan Minke.. oh, Minke malangnya, apesnya nasibmu, menjadi pionir dengan nasib gemilag lalu diasingkan karena bukan kesalahanmu, lalu dirampasnya segala-galanya yang kamu punya, dan benar-benar hilang kamu di negeri yang belum punya nama ini. Setidak-tidaknya gemamu membekas, tapi tak sekalipun orang-orang mengenalmu lagi, asing setelah pengasingan 5 tahun bahkan oleh anakmu sendiri, Syarikat Islam.

Lalu Pangemann dengan dua n,
...more
Azia
Deposuit Potentes de Sede et Exaltavat Humiles, Dia Rendahkan Mereka yang Berkuasa dan Naikkan Mereka yang Terhina.

Pangemanann,seorang komisaris polisi, mendapat tugas mengawasi pribumi terpelajar. Gubermen Hindia Belanda cemas kebangkitan nasionalisme akan terjangkit pada kaum terpelajar pribumi. Untuk itulah setiap tulisan di surat kabar dianalisa dan diawasi. Minke menempati daftar pertama dalam pengawasan. Sepak terjang harian Medan Prijaji dan organisasi yang dipimpinnya Syarikat Dagang Isl
...more
Yukanatha Svanidza
Aug 02, 2013 Yukanatha Svanidza rated it it was amazing  ·  review of another edition
Shelves: favorites, novels
This review has been hidden because it contains spoilers. To view it, click here.
Abi Ghifari
Apr 03, 2013 Abi Ghifari rated it it was amazing  ·  review of another edition
Shelves: romance
Rumah Kaca: Kisah Paradoks Pribumi Hindia-Belanda

Di buku terakhir dari tetralogi Bumi Manusia ini, Pramoedya Ananta Toer kembali menarik pembacanya melewati lorong-lorong waktu untuk hadir menyaksikan babak final dari kisah perjalanan seorang pribumi pembaharu pada masa kolonial Hindia-Belanda, Raden Mas Minke yang dijuluki Pram sebagai Sang Pemula.

Untuk menutup kisah luar biasa ini, Pram dengan cerdasnya mengambil-alih sudut pandang Minke sebagai subjek pada ketiga buku pendahulunya: Bumi Manus
...more
Buchdoktor
Aug 07, 2013 Buchdoktor rated it it was amazing
Zu seiner Romanreihe wurde Pramoedya Ananta Toer durch das Leben des Tirto Adi Suryo, einem revolutionären Pionier des indonesischen Jounalismus angeregt. Die von seiner Romanfigur Raden Mas Minke erzählte eigene dreibändige Geschichte erhält durch die Einführung eines neutralen Erzählers im vierten Band einen Rahmen, der die Ichperspektive für den Leser erweitert. Erzählt wird rückblickend von Chef-Inspektor Jacques Pangemanann, einem in Frankreich ausgebildeten und mit einer Französin verheira ...more
Manu
Nov 08, 2007 Manu rated it really liked it
Recommends it for: Naeem (really!)
Recommended to Manu by: Shao Loon Yin
It has been some time since I read the Buru Quartet. Since my memory of its actual plot points is more than a little hazy, I will begin my noting how I came across this book. I know I gave this book four stars. I think this was because I lacked the intelligence to understand the depth of this book, and so the missing star was a rebuke to my own ignorance.

Prior to reading the Buru Quartet I had recently read Benedict Anderson's "Imagined Communities". Since that book has shaped much of the discus
...more
Dewinda Wiradinata
Aku bener-bener menyaluti Pram atas kreasiny di buku terakhir. Adalah wajar apabila seorang tokoh diperkenalkan sbg pahlawan dlm bentuk apapun, tapi Pram mampu merefleksikan pola pikirny justru di tangan penjahat politik, pengkhianat dalam negeri, yaitu Pangemanann. Di antara buku yg lain, ini mungkin bukan buku favoritku krena kisahny sedih :( tp justru buku ini yg pantas mendapat acungan jempol.

Alkisah si Pangemanann, seorang polisi (sebut aja bgtu ya, istilah2 belanda sih rumit hehe) yg bertu
...more
Jusmalia Oktaviani
Novel keempat dari Tetralogi Buru ini mengambil sudut pandang berbeda dari tiga buku sebelumnya. Novel Rumah Kaca mengambil sudut pandang seorang pejabat Hindia Belanda bernama Pangemanann. Meskipun dia adalah orang Manado asli, namun dia mendapat pendidikan Barat dan bekerja untuk pemerintah kolonial. Ia disini merupakan 'pengarsip', semacam tenaga ahli yang mempelajari berbagai berkas dan dokumen, kemudian memberikan rekomendasi kebijakan berdasarkan arsip-arsip yang dipelajarinya. Mungkin sep ...more
« previous 1 3 4 5 6 7 8 9 next »
topics  posts  views  last activity   
Pembaca Buku Pram...: ISBN buku Rumah Kaca 1 17 Sep 06, 2012 02:27AM  
  • Burung-Burung Manyar
  • Ronggeng Dukuh Paruk
  • Para Priyayi: Sebuah Novel
  • Harimau! Harimau!
  • Ca Bau Kan: Hanya Sebuah Dosa
  • Anak Bajang Menggiring Angin
  • Olenka
  • Tanah Tabu
  • Aku Ingin Jadi Peluru (Kumpulan Puisi)
  • Negeri Senja
  • Pulang
  • Entrok
  • Rahasia Meede: Misteri Harta Karun VOC
  • Bilangan Fu
  • Atheis
101823
Pramoedya Ananta Toer was an Indonesian author of novels, short stories, essays, polemics, and histories of his homeland and its people. A well-regarded writer in the West, Pramoedya's outspoken and often politically charged writings faced censorship in his native land during the pre-reformation era. For opposing the policies of both founding president Sukarno, as well as those of its successor, t ...more
More about Pramoedya Ananta Toer...

Other Books in the Series

Tetralogi Buru (4 books)
  • Bumi Manusia
  • Child of All Nations
  • Jejak Langkah

Share This Book



No trivia or quizzes yet. Add some now »

“Hidup sungguh sangat sederhana. Yang hebat-hebat hanya tafsirannya.” 202 likes
“Orang boleh pandai setinggi langit, tapi selama ia tak menulis, ia akan hilang di dalam masyarakat dan dari sejarah.” 169 likes
More quotes…