House of Glass

House of Glass (Tetralogi Buru #4)

by
4.27 of 5 stars 4.27  ·  rating details  ·  1,431 ratings  ·  111 reviews
With House Of Glass comes the final chapter of Pramoedya's epic quartet, set in the Dutch East Indies at the turn of the century. A novel of heroism, passion, and betrayal, it provides a spectacular conclusion to a series hailed as one of the great works of modern literature. At the start of House of Glass, Minke, writer and leader of the dissident movement, is now impriso...more
Paperback, 384 pages
Published July 1st 1997 by Penguin Books (first published 1988)
more details... edit details

Friend Reviews

To see what your friends thought of this book, please sign up.
Laskar Pelangi by Andrea HirataBumi Manusia by Pramoedya Ananta Toer5 cm by Donny DhirgantoroRonggeng Dukuh Paruk by Ahmad TohariSang Pemimpi by Andrea Hirata
Buku Indonesia Sepanjang Masa
32nd out of 417 books — 1,259 voters
The Harmony Silk Factory by Tash AwThe Garden of Evening Mists by Tan Twan EngChild of All Nations by Pramoedya Ananta ToerEdensor by Andrea HirataHouse of Glass by Pramoedya Ananta Toer
awesome reads from southeast asia
5th out of 20 books — 10 voters


More lists with this book...

Community Reviews

(showing 1-30 of 2,290)
filter  |  sort: default (?)  |  rating details
Harun Harahap
Betapa muaknya saya membaca kisah yang dituturkan oleh seorang Pribumi asli yang merasa dirinya Eropa dan lebih tinggi derajatnya daripada pribumi yang lain. Pribumi yang mempunyai kekuasaan untuk menghisap darah pribumi yang lain. Pribumi itu bernama Jacques Pangemanann, seorang pribumi asli yang diangkat anak oleh orang Perancis dan mendapatkan pendidikan Perancis.

Di Novel penutup dari tetralogi Pulau buru ini, sudut pandang memang tak lagi milik Minke tapi Jacques Pangemanann. Dalam novel "Ru...more
Michiyo 'jia' Fujiwara
Selesai sudah..

Sudah selesai semua petualangan para manusia dan bumi-nya, atas persaudaraan dan kesamaan nasib anak semua bangsa yang tak mau lagi terbelenggu oleh kolonialisme dan keinginan untuk memerdekan diri sendiri dan untuk setiap tindakan yang mereka lakukan, akan menciptakan jejak langkah bagi generasi mereka dan generasi sesudah mereka..

Minke..

Ia pergi dalam kesepian—ia yang sudah dilupakan, dilupakan sudah dalam hidupnya. Ia seorang pemimpin yang dilupakan oleh pengikutnya. Ini hanya...more
Ahmad
Jika karya ini danggap New york Times sebagai yang paling ambisius, saya sepakat. Pram membuktikan dirinya benar-benar patut menjadi nominee nobel sastra. Ia seolah membungkam semua fakta yang selama ini dipercaya sebagai sejarah dengan sangat apik.

Dibandingkan tiga karya terdahulunya, karya ini memang lebih melelahkan. Bahkan, saya sampai berkata, "Akhirnya, selesai juga..." Ia berlompatan mengulang semua cerita dari sudut pandang dan daya cerna pikir yang berbeda. Pada akhirnya, "Rumah Kaca"...more
Irwan
Selesailah tetralogi besar ini. Pengalaman pertama berkenalan dengan sosok Pram lewat karya ini. Membuka dimensi baru baik dalam soal kepenulisan, tentang sejarah bangsaku, maupun peluang yang ada bila kedua hal itu dihubungkan.

Terus terang aku tidak terlalu suka Rumah Kaca. Aku benci kepada penutur kisahnya. Bukan kepada penulisnya, karena penulisnyalah yang telah berhasil menciptakan kebencian itu. Aku juga tidak suka akhir tragis dari kisah kepahlawanan ini. Aku mengharapkan seorang sosok he...more
Chaniago
Sep 21, 2010 Chaniago rated it 5 of 5 stars  ·  review of another edition Recommends it for: Pemuda Pemudi Indonesia
Recommended to Chaniago by: Miles
Rumah Kaca sungguh membuatku tercengang. Ohh my.. Dia bahkan bisa mengalahkan semua novel-novel kesayanganku. It'll be my top five, for sure! Berbeda dengan buku pertama, kedua, dan ketiga, buku keempat ini mengambil sudut pandang seorang arsiparis bernama Jacques Pangemanann. Pribumi yang bekerja di Algemeene Secretarie Hindia Belanda. Ia mengabadikan semua berita mengenai sasarannya, salah satunya adalah Raden Mas Minke. Dari artikel-artikel yang dikumpulkan Pangemanann, pembaca kemudian dapat...more
Karmen
It was a bittersweet pleasure to read and now finish the Buru Quartet.

Raden Mas Minke is now in exile. The House of Glass is told from the person responsible for it - policeman Tuan Pangemann. It is a great counterpart to the earlier trilogy written in Minke's voice. It presents the colonial view.

Pangemann writes of his qualifications and demonstrates an excellent understanding of his culture. Unfortunately, he does not realize who he is and the damage his reports are responsible for. Even as he...more
winda
Berbeda dengan tiga buku sebelumanya yang menceritakan sudut pandang dari seorang Minke, buku terakhir ini menceritakan dari sudut pandang Penegemanann yang merupakan seorang peranakan, yang menjadi dalang dibuangnya Minke ke Ambon tanpa melalui peradilan.

Dalam buku ini dibahas bagaimana Syarikat Islam berjalan tanpa adanya pemimpin utama mereka, Minke. Bagaimana juga sejarah munculnya organisasi-organisasi pergerakan. Perubahan-perubahan yang terjadi akibat peranv dunia. perubahan kebijakan, sa...more
Dewinda Wiradinata
Aku bener-bener menyaluti Pram atas kreasiny di buku terakhir. Adalah wajar apabila seorang tokoh diperkenalkan sbg pahlawan dlm bentuk apapun, tapi Pram mampu merefleksikan pola pikirny justru di tangan penjahat politik, pengkhianat dalam negeri, yaitu Pangemanann. Di antara buku yg lain, ini mungkin bukan buku favoritku krena kisahny sedih :( tp justru buku ini yg pantas mendapat acungan jempol.

Alkisah si Pangemanann, seorang polisi (sebut aja bgtu ya, istilah2 belanda sih rumit hehe) yg bertu...more
Zaki Setiawan
Deposuit Potentes de Sede et Exaltavat Humiles
(Dia Rendahkan Mereka yang Berkuasa dan Naikkan Mereka Yang Terhina) (hal : 646)
Karya Eyang Pram yang ini sungguh “melewati batas zaman”. Kita yang disuguhi cerita tentang Minke pada tetralogi sebelumnya ( Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa dan Jejak Langkah) kemudian diakhiri dengan pembuangan Minke ke tanah Maluku. Tahap Penangkap sampai dengan Pembuangan Minke dipimpin langsung seorang Komisaris Besar Polisi Hindia berdarah Ambon yaitu Jacques Pange...more
Erik Angriawan
''Rumah Kaca''


* "Betapa sederhana hidup ini sesungguhnya yang pelik cuma liku dan tafsirannya. (''Pangemanann, 38)
* "Nilai yang diwariskan oleh kemanusiaan hanya untuk mereka yang mengerti dan membutuhkan. Humaniora memang indah bila diucapkan para mahaguru—indah pula didengar oleh mahasiswa berbakat dan toh menyebalkan bagi mahasiswa-mahasiswa bebal. Berbahagialah kalian, mahasiswa bebal, karena kalian dibenarkan berbuat segala-galanya. (''Pangemanann, 39)
* "Hidup sungguh sangat sederhana. Yang...more
Pera
Akhirnya, buku terakhir dari tetralogi pulau buru selesai sudah kulumat. Tapi agaknya akan kubuka-buka lagi lembaran buku ini. Berat lah.
Isinya banyak mengutip riset tokohnya tentang bangsa Jawa atau Indonesia. Disini terkadang ku jatuh bosan, karena gaya ceritanya kadang berubah seperti buku sejarah di sekolahan. :). Meski berat, hasil pemikiran Pangemanann dan Sepnya yang mirip kerja intelegen ini membuka wawasan, menjawab penyebab kebencian Mingke pada peradaban feodal Jawa yang coba dikikis...more
Jed L
I generally do not read about the topics books are about until after I have finished the book. And it was the same with this quartet. Only after did I read more about Toer, Indonesia, and Tirto Adhi Soerjo (the political figure whom Toer uses as a basis for his main character, Minke). Once I learned more about this man and his work in Indonesia and also saw that so much of it was the same as Minke in the novel I began to understand why Toer did not use Minke as a character in this last book. Ins...more
Dendy Hardian
buku terakhir dari tetralogi pulau buru P.A.T. Rumah kaca merupakan catatan seorang pegawai tinggi gubermen hindia belanda yang juga bekas komisaris polisi betawi jacques pangemanann seorang peranakan perancis yang pernah berkuliah di sorbonne adalah seorang ahli kolonial yang juga otak dalam konspirasi pembunuhan karakter terhadap RM Minke sampai ketempat pembuangannya di maluku. Seorang yang sebenarnya pengagum setia RM Minke namun terkorup oleh jabatan sehingga kehilangan prinsipnya. Buku ini...more
Hao Guang
I don't have much knowledge of Indonesia and its history, so this review might be totally off, but I found House of Glass nothing short of epic. I'm tempted to take the title as the symbol-key that unlocks the entire work, that reads (neo)colonial power as both all-seeing eye and easily-broken construct. Yet it's so much more than that - Pangemanann's intense admiration for Minke combines with his determination to bring the revolutionary down, producing an intensely ambivalent kind of postcoloni...more
Muhammad Nawawi Arasy Padil
Orang mnejadi besar karena tindakannya besar, pikirannya besar, jiwanya besar. Sebaliknya dari orang kecil.

Penerobosan kegelapan adalah tugas setiap terpelajar untuk menyambut masa depan yang cerah, dan sekolahan tidak mengajarkan itu.

(Minke)

Betapa kolonialisme pada zaman penjajahan belanda itu kembali terulang lg sekarang. Sama saja. Hak dan Kepemilikan pribumi diambil sepihak tanpa bs melakukan perlawanan dan mendapat yperlindungan hukum yg pantas, diambil dijadikan mereka sebagai miliknya, d...more
Jessica
*3.5

So I finally finished reading the Buru Quartet. My aim was to get find out more about the history of Indonesia. And these books were helpful, together with "The History of Modern Indonesia", now I have a picture of what the Dutch Indies was like.

Honestly, I didn't enjoy "House of Glass" and "Footsteps" as much as "This Earth of Mankind" and "Child of All Nation", these books really caught my attention and made me want to read more.
I probably didn't like Pangemannan and the adult Minke, caus...more
Azia
Deposuit Potentes de Sede et Exaltavat Humiles, Dia Rendahkan Mereka yang Berkuasa dan Naikkan Mereka yang Terhina.

Pangemanann,seorang komisaris polisi, mendapat tugas mengawasi pribumi terpelajar. Gubermen Hindia Belanda cemas kebangkitan nasionalisme akan terjangkit pada kaum terpelajar pribumi. Untuk itulah setiap tulisan di surat kabar dianalisa dan diawasi. Minke menempati daftar pertama dalam pengawasan. Sepak terjang harian Medan Prijaji dan organisasi yang dipimpinnya Syarikat Dagang Isl...more
- yui yunita putri
sekarang kalian ada dalam rumah kacaku. Sluruh gerak gerik kalian terlihat!!
Anugerah Erlaut
The last book of the Buru Quartet.

Different from the other 3 books, this book narrates the story of Minke during his active period as a public activist through the eyes of a colonial political mastermind, Meneer Jacques Pangemanann.

The scope of the book is larger than the previous books. It gives an insight into the runnings of a government and the invisible forces behind it, social influences that one thought could only happen on the movie screens.

As the previous 3 books have been, this last...more
Jong
Apr 10, 2009 Jong added it
Saya akui bahwa menurut saya inilah buku yang paling membosankan dari keempat buku "Tetralogi Buru"nya Pram.
Dari awal sampai akhir buku ini hanya berisi pergolakan hati pangemanann yang hanya karena untuk "memenuhi kebutuhan" hidupnya rela mengabaikan "fitrah"nya sebagai manusia.
Berkali-kali di buku ini Pangemanann menyebut-nyebut bahwa Minke adalah gurunya. Namun tetap saja segala kehancuran yang dialami Minke adalah akibat dari proyek "rumah kaca"nya Pangemanann.
Kadang untuk bertahan hidup or...more
Adriana
Buku terakhir dari Tetralogi Buru karya terkemuka Pramoedya Ananta Toer. Kalau tiga buku pertama penceritaan berpusat pada Minke, buku terakhir ini pula cerita berpusat pada Pangemanann.

Buku ini Minke telah diperintahkan dibuang ke Ambon sebagai usaha kerajaan mematahkan perjuangannya. Disana segala perbuatannya sangat terbatas dan sentiasa diperhatikan pihak kerajaan. Sementara itu Pangemanan, seorang anggota polis yang bertanggungjawab terhadap pembuangannya akhirnya dinaikkan pangkat ke jabat...more
Maryati Soewito
Seperti tiga buku sebelumnya, buku ini masih bercerita tentang Raden Mas Minke atau Raden Mas T.A.S serta orang-orang yang terlibat dalam perkembangan organisasi massa selama masa penjajahan Belanda. Hanya di buku ini, kisah mereka dituturkan oleh orang Manado bernama Jacques Pangemanann, Komisaris Polisi yang kemudian dipindahkan ke Algemene Secretarie, yang ditugasi mengawasi dan mempelajari organisasi-organisasi yang berkembang pada masa itu serta merekomendasikan tindakan yang perlu diambil...more
Sabrina
Buku keempat Tetralogi Buru ini tidak lagi diceritakan dari sudut pandang Minke lagi karena dia sudah dibuang ke Ambon dan dipisahkan dari "anak sulungnya" yang adalah organisasi Syarikat Islam. Sang pencerita adalah Jacques Pangemanann, seorang pribumi yang pernah bersekolah di Perancis. Dia bekerja di pemerintahan dan boleh dibilang sebagai "anjing kolonial" karena ia membuang prinsip hidupnya begitu saja demi sebuah jabatan. Ia mengagumi Minke, sang pelopor nasionalisme di Hindia. Namun ia ta...more
Brian
Well... with this book I've now completed the Buru Quartet. That was one of my goals for this year. Now I'm wandering aimlessly through my library picking things up at random.

Book four, House of Glass, was different from the first three. The point of view switched from Minke, the main protagonist to a Indies Government official, Meneer Pangemanann, spelled with two 'n's. His was a tormented soul with a unlikeable narrative voice.

The quartet ended with what read like a history textbook lesson. I...more
Anna
Salut kepada Pram, bisa-bisanya dia berlagak seperti seorang Eropa dengan yakinnya, memberikan narasi mengenai intrik seputar kolonialisme dari sudut pandang orang dalam (yang telah terlanjur kupercayai walaupun belum tentu valid), sekaligus menjadi seorang Pribumi yang tak ada bandingannya dalam mengerti karakteristik bangsanya. Benar-benar dia adalah harta pusaka bangsa ini, semoga bukunya dibaca hingga ke generasi-generasi yang akan datang; mengingat hidup yang lebih terarah bila kita mengert...more
Henry Wijaya
Jun 06, 2008 Henry Wijaya rated it 4 of 5 stars Recommends it for: anybody who loves his or her own country and justice
Recommended to Henry by: Tym Wise
This is the last book from the Buru Quartet. This book is absolutely different from the three previous books. It tells the story from the perspective of the officer who trapped, jailed, and at the end "killed" Minke, the main character from the three previous books. From the captain's perspective we can see the incidents happened in and around Minke's life but from outside as the captain's job actually was to observe those who were trying to fight against the colonial government. This kind of ob...more
Ime'... Imelda
Tidak seperti karya-karya Pram di tiga buku sebelumnya dalam rangkaian tetralogi Pulau Buru, di bukunya yang keempat, subjeknya adalah Pangemanann, seorang Manado yang bekerja berada di pihak Gubermen. Ceritanya jadi agak berbeda, karena Rumah Kaca menceritakan mengenai dia, sebagai seorang pribumi, yang hanya dengan tandatangannya, aktivis-aktivis dapat ditangkap dan dikirim ke pembuangan.

Jika Jejak Langkah diakhiri dengan adegan penangkapan Minke, maka Rumah Kaca menceritakan siapa dalangnya....more
Manu
Jun 13, 2008 Manu rated it 4 of 5 stars Recommends it for: Naeem (really!)
Recommended to Manu by: Shao Loon Yin
It has been some time since I read the Buru Quartet. Since my memory of its actual plot points is more than a little hazy, I will begin my noting how I came across this book. I know I gave this book four stars. I think this was because I lacked the intelligence to understand the depth of this book, and so the missing star was a rebuke to my own ignorance.

Prior to reading the Buru Quartet I had recently read Benedict Anderson's "Imagined Communities". Since that book has shaped much of the discus...more
Ross Perlin
The final novel of the Buru Quartet is told from the perspective of former police inspector Pangamenann, who ruthlessly and fanatically harasses Native Indies organizations and causes Minke’s ultimate downfall, however fascinated he is by him. As Minke’s individual story is lost, this book brings his individual story into the much wider flow of history, showing how the Indies had been transformed for good. The book ends soon after Dutch promises of home rule, at the end of World War I.
Bianda
I kinda like what the main character in the story does. He's an analyst which I can relate to since I'm also an analyst in my line of work (different kind of analyst though). It's a pity that he can't find peace in what he does, become obsessed in the object that he's analysing (if I may say even made him loose his mind a little bit)
and eventually ended up alone. A sad ending for him, knowing that he lost everything in the end even his passion for the work he once loved.
« previous 1 3 4 5 6 7 8 9 76 77 next »
topics  posts  views  last activity   
Pembaca Buku Pram...: ISBN buku Rumah Kaca 1 15 Sep 06, 2012 02:27am  
Rumah Kaca (Paperback)
Rumah Kaca (Edisi Pembebasan Karya Pulau Buru)
Het glazen huis (Paperback)
Het glazen huis (Pramoedya's tetralogie, #4)
House of Glass (Hardcover)

101823
Pramoedya Ananta Toer was an Indonesian author of novels, short stories, essays, polemics, and histories of his homeland and its people. A well-regarded writer in the West, Pramoedya's outspoken and often politically charged writings faced censorship in his native land during the pre-reformation era. For opposing the policies of both founding president Sukarno, as well as those of its successor, t...more
More about Pramoedya Ananta Toer...
Bumi Manusia Jejak Langkah Gadis Pantai Child of All Nations (Tetralogi Buru, #2) Arok Dedes

Share This Book

Your website

No trivia or quizzes yet. Add some now »

“Kami memang orang miskin. Di mata orang kota kemiskinan itu kesalahan. Lupa mereka lauk yg dimakannya itu kerja kami.” 12 people liked it
“Dari atas ke bawah yang ada adalah larangan, penindasan, perintah, semprotan, hinaan. Dari bawah ke atas yang ada adalah penjilatan, kepatuhan, dan perhambaan.” 6 people liked it
More quotes…