by
4.07 of 5 stars
Hanya satu kata, Lawan! Kalimat pendek itu lebih dikenal ketimbang Wiji Thukul, penyair yang menuliskan puisi perlawanan tersebut. Hanya satu kata,... read full description

reviews

May 22, 2009
gieb rated it: 5 of 5 stars
bila disuruh memilih; perempuan telanjang dan buku ini. niscaya aku pilih buku ini. tapi tetap perempuan telanjang jadi pilihan nomor dua. tabik.

semalam saya menerima sms dari kawan saya. kira-kira isinya begini: gieb, ingat sophia latjuba? kalau ingat masa-masa itu aku jadi tertawa sendiri. juga kalau dengerin reza dan syaharani harus sembunyi-sembunyi. gara-garanya sederhana: biar cap marxisnya tidak hilang.

demikianlah. saya dan beberapa kawan, pada tahun 90-an harus se More...
29 comments like (7 people liked it)
Dec 19, 2010
Harun Harahap rated it: 5 of 5 stars
Wiji Thukul berpuisi dengan bahasa yang lugas dan tegas. Kata-kata sederhana membentuk sebuah kalimat yang begitu kaya. Merasa kecil dan terasing, Beliau mempertanyakan keadilan di negerinya sendiri. Berjuang lewat puisi untuk dirinya sendiri yang secara tak langsung mewakili ‘Wiji Thukul-Wiji Thukul’ lainnya untuk melawan ketidakadilan. Namun, sayang di Negara para penguasa ini, Wiji Thukul adalah seorang penghalang yang harus dienyahkan.

Puisi yang paling saya suka adalah puisi:
More...
12 comments like (6 people liked it)
Sep 03, 2007
Roos rated it: 5 of 5 stars
Paling suka puisi :

AKU MASIH UTUH DAN KATA-KATA BELUM BINASA

aku bukan artis pembuat berita
tapi aku memang selalu kabar buruk buat
penguasa

puisiku bukan puisi
tapi kata-kata gelap yang berkeringat dan berdesakan mencari jalan
ia tak mati-mati
meski bola mataku diganti
ia tak mati-mati
meski bercerai dengan rumah
ditusuk sepi
ia tak mati-mati
telah kubayar yang dia minta
umur-tenaga-luka

kata- More...
10 comments like (3 people liked it)
Jul 19, 2007
Ramok rated it: 5 of 5 stars
Buku ini sangat unik, kalau bukan ironis. Penulis dan yang memberi pengantar adalah korban. Wiji Thukul adalah aktivis demonstrasi jaman Soeharto yang tidak pernah absen bicara untuk corong kaum terinjak, masuk dalam daftar orang yang hilang di masa demo. Si pengantar, Cak Munir adalah aktivis HAM yang dihilangkan nyawanya dan kasusnya masih remang samapai sekarang. Jika masih hidup dan duduk satu meja, aku yakin keduanya akan saling melontar salut. Cak Munir nampak sangat terkesan dengan bentuk More...
0 comments like (2 people liked it)
Jul 30, 2007
kinu rated it: 4 of 5 stars
Kalau hidupmu tidak mudah, keras, penuh tekanan, kejam dan hampir-hampir kau tak tahu harus berbuat bagaimana, maka menulislah puisi.

Kalau hidupmu terjepit, kau dikejar-kejar, kau bersembunyi, kau berganti kaos, celana, sandal bahkan nama, sampai-sampai kau nyaris alpa dirimu sendiri, maka menulislah puisi.

Puisi apa yang kau tulis?Apa pun itu, puisi akan melembutkan pikiranmu, setidaknya jemarimu sendiri.

Membaca Aku Ingin Jadi Peluru adalah membaca dunia Thuku More...
5 comments like (1 person liked it)
Sep 20, 2007
Dian rated it: 5 of 5 stars
WT adalah Sang Maestro, sang Penggagas kata-kata lugas.
Tak perlu mengerutkan kening membaca lontaran makna puisinya.
Tanpa perlu mencaci memaki, kita terseret dalam pusaran arus emosi bara.... bertalu-talu, sekian kali, sekian ribu kati.
WT menampilkan dan merefleksikan sekian banyak kejadian, keadaan, dan tektek bengek dalam puisinya. Menyadarkan kita pada kebengisan, penguasaan ***** dalam suatu tirani. Dan dia yang tak tergoyahkan. WT adalah cerminan kebebasan yang menuntut h More...
1 comment like (1 person liked it)
Sep 03, 2011
Paman rated it: 4 of 5 stars
Penyair haruslah berjiwa 'bebas dan aktif'. bebas dalam mencari kebenaran dan aktif mempertanyakan kembali kebenaran yang pernah diyakininya. maka belajar terus-menerus adalah mutlak, memperluas wawasan dan cakrawala pemikiran akan sangat menunjang kebebasan jiwanya dalam berkarya. dan fanatik gaya atau tema bisa dihindarkan sehingga proses kreatif tak terganggu. belajar tidak harus di bangku kampus atau sekolah tetapi bisa dimana-mana dan kapan saja: di perpustakaan atau membaca gelagat lingkun More...
May 30, 2008
Ronny rated it: 5 of 5 stars
Beda emang mendengarkan Wiji dg puisi2 jalanan/protes lainnya. Kesahajaan yg mendalam, seperti Rendra dulu, atau Roque Dalton. Ada ironi, dan tidak semata2 teriak
0 comments like (2 people liked it)
Jun 30, 2008
Hasanuddin rated it: 4 of 5 stars
Kumpulan puisi Wiji Thukul, menggunakan bahasa yang ringan, jarang menggunakan kiasan personifikasi. Karena bahasa yang dipakai adalah bahasa sehari-hari dan merakyat. Wiji Thukul, mungkin juga W. S. Rendra, Taufik Ismail hingga pemusik Iwan Fals, di era 80an hingga 90an banyak mengungkap kritik sosial. Ketidakadilan penguasa, kebijakan yang prematur, kemiskinan dan derita kaum terpinggirkan berbaur dengan kelaparan dan hukum yang tidak jelas penerapan kerap disinggung. Dan tema ini sebenarnya t More...
May 30, 2008
Pipitta rated it: 4 of 5 stars
Buku ini jadi koleksi gw yang terbaru. Ada 5 sub bagian kumpulan puisi di sini, masing-masing: Lingkungan Kita Si Mulut Besar; Ketika Rakyat Pergi; Darman Dan Lain-lain; Puisi Pelo, and Baju Loak Sobek Pundaknya.

Tiga puisi yang paling gw suka: Aku Menuntut Perubahan, Bunga dan Tembok, and Peringatan. Puisi ini khas Thukul, terdiri dari kalimat-kalimat pendek yang tajam dan sarat makna. Bahasanya nggak berbunga-bunga, dan sangat mencerminkan realitas sosial. Tapi puisi-puisi yang ada More...
Sep 22, 2010
Rhesa rated it: 4 of 5 stars
Wiji Thukul is an Indonesian political poet, he involuntarily disappeared during the transition of Soeharto's regime to the "reformasi order", nobody knows where he is now. His poetic style is socialist-realist in Marxian literary genre.

What I like the most about his poems is his "pride" of being a marginalized man in growing capitalist society like Jakarta.

He finds that by being a poor & politically incorrect man, he can gain access to authentic lif More...
Dec 24, 2008
Lisa rated it: 4 of 5 stars
salut untuk perjuangan Wiji Thukul. Yang paling saya ingat darinya adalah ketika dalam mimbar-mibar bebas, Wiji Thukul membacakan puisinya sembari membunyikan alat-alat, sehingga seperti melagukan puisi
Aug 23, 2011
Ega rated it: 4 of 5 stars
Jan 14, 2010
Mia Queen rated it: 4 of 5 stars
Lupa kapan baca buku ini, tahun '99 kalo ga salah. Pertama kali mengenal sastra ya lewat Wiji Thukul. Bagus banget, pengen baca lagi, hiks cari di mana ya?
Aug 17, 2011
Pandasurya rated it: 5 of 5 stars
Pernah jadi buku baca bareng di GRI.
Keseluruhan isi buku bisa dibaca di sini:

http://www.goodreads.com/topic/show/1442...

Salah satu kumpulan buku puisi terhebat favorit saya sepanjang masa.
Wiji Thukul penyair hebat, salah satu yang terbaik yang pernah ada di negeri ini. Puisi-puisinya lugas, menghentak, apa adanya, dan tentunya berkarakter perlawanan.

Nama dan karyanya akan abadi sepanjang masa, akan tercatat dalam ingatan kemanusiaan meski jasadnya More...
Jul 08, 2009
Iduer rated it: 4 of 5 stars
wiji tukul menulis puisi yang hanya bisa dimengerti oleh orang-orang yang tertindas,
Jan 23, 2009
Fanaticanz rated it: 5 of 5 stars
Selalu merinding dan menggetarkan hati kalo udah ngebaca ini.
Oct 13, 2010
Wiji rated it: 5 of 5 stars
cerdas, tajam, kuat menusuk...buku yang harus dibaca...
Dec 16, 2009
Andi rated it: 4 of 5 stars
di negeri sendiri diinjak2, di luar negeri disanjung2.
May 08, 2010
Tizar rated it: 5 of 5 stars
kata-katanya sederhana namun menyayat bagai silet
Jun 21, 2009
Ucil rated it: 5 of 5 stars
realita bangsa dari kaca mata orang biasa
Aug 04, 2010
Caesar rated it: 5 of 5 stars
This review has been hidden because it contains spoilers. To view it, click here
Nov 21, 2008
Aldi rated it: 4 of 5 stars
dimana kau wiji?
Nov 18, 2008
leii rated it: 5 of 5 stars
murung, putus asa, sesekali harapan, adalah ciri dari mereka yang terperangkap. tapi tidak menyerah dan kalah. upaya perlawanan dilakukan dengan membuat simbol -juga metafora, untuk menjangkau keluar dari dirinya, atau masuk ke dalam dirinya. gerak dari ruh yang gelisah ini, membutuhkan ruang, yaitu bahasa. maka bahasa pun bergerak. ia mengerahkan huruf-hurufnya, demi melayani gelisahnya kesadaran, atau hasrat kesadaran untuk mengangkat dirinya, merebut makna dunia yang tak dikenalinya, atau cob More...
Dec 15, 2009
Donie rated it: 5 of 5 stars
oke
Jul 18, 2009
Achmad added it
inpiratif
Mar 26, 2010
Agoes rated it: 3 of 5 stars
Ternyata saya memang buta puisi.
Apr 26, 2011
Liez rated it: 3 of 5 stars
surprise..dapat buku ini...buku lama. keren.
Mar 09, 2010
hujanreda rated it: 5 of 5 stars
Saya suka hampir semua puisi dalam buku ini. Hampir semuanya kuat dan istimewa. Istimewa karena puisi-puisi di sini, dalam nadanya yg paling keras sekalipun, tetap indah. Tidak banyak kumpulan puisi yang membuat saya jatuh cinta kepadanya. Buku Wiji Thukul ini salah satu dari yg sedikit itu.
Jul 04, 2009
ana "a kecil" rated it: 4 of 5 stars
baca bareng buku puisi Goodreads Indonesia