Amba: Sebuah Novel
Enlarge cover
Rate this book
Clear rating

Amba: Sebuah Novel

3.89 of 5 stars 3.89  ·  rating details  ·  371 ratings  ·  94 reviews
Dalam epik ini, kisah Amba dan Bhisma dalam Mahabharata bertaut (dan bertabrakan) dengan kisah hidup dua orang Indonesia dengan latar kekerasan tahun 1965.

Amba anak sulung seorang guru di Kadipura, Jawa Tengah. Ia meninggalkan kota kecilnya, belajar sastra Inggris di UGM dan bertunangan dengan Salwa Munir, seorang dosen ilmu pendidikan yang mencintainya. Pada suatu hari di...more
Paperback, 496 pages
Published October 2012 by Gramedia Pustaka Utama
more details... edit details

Friend Reviews

To see what your friends thought of this book, please sign up.
Bumi Manusia by Pramoedya Ananta ToerAnak Semua Bangsa by Pramoedya Ananta ToerSaman by Ayu UtamiRonggeng Dukuh Paruk by Ahmad TohariJejak Langkah by Pramoedya Ananta Toer
Novel Indonesia Terbaik
31st out of 107 books — 49 voters
Laskar Pelangi by Andrea HirataBumi Manusia by Pramoedya Ananta Toer5 cm by Donny DhirgantoroNegeri 5 Menara by Ahmad FuadiRonggeng Dukuh Paruk by Ahmad Tohari
Buku Indonesia Sepanjang Masa
338th out of 428 books — 1,542 voters


More lists with this book...

Community Reviews

(showing 1-30 of 810)
filter  |  sort: default (?)  |  rating details
Zulfy Rahendra
Wahai lelaki-lelaki tangguh..
Tahukah kalian seberapa besar kami, para wanita lemah dan tak berdaya ini, dapat mencintai. Seberapa lama kami sanggup menunggu, menggantungkan hidup hanya pada harapan. Seberapa kuat kami akan bertahan dan setia. Seberapa besar pengorbanan kami hanya untuk melihat kalian ada, nyata. Dan betapa kami tak akan pernah melupakan. Tahukah? Tahukah?? *hadeehh, pembukaan aja udah galau*

Adalah Amba, yang akan menunjukkannya. Amba, 20 tahun, mencintai Bhisma. Amba, 60 tahun,...more
Harun Harahap
Seperti yang sudah gue duga dari awal. Pasti akan susah buat gue untuk menulis review buku ini. Di twitter, gue mngetakannya "persis" ketika membaca The Help. Gue terlalu menikmati cerita hingga lupa membuat tanda bagian yang menarik. Karena buat apa menandakannya kalau semuanya menarik.

Gue terpesona dengan diksi dan bagaimana cara penulis menyusun kalimat-kalimatnya. Pertama kali gue agak bingung bacanya. Namun seiring lembar demi lembar terbaca, akhirnya menjadi terbiasa. Buat gue, seminggu ad...more
Uci
Menurut saya ini bukan kisah cinta berlatar tragedi, tapi tragedi berlatar kisah cinta. Kisah cinta Amba dan Bhisma hanya sebagai pengantar untuk menggiring pembaca memasuki hari-hari mencekam di bulan September 1965, mencoba memahami apa yang sebenarnya terjadi dari sudut pandang orang-orang yang tak sepenuhnya mengerti. Mengenal Pulau Buru yang begitu terkenal namun begitu asing. Dan di Buru semua penantian selesai. Di Buru kami hidup untuk mati.

Selain tema besar G30S dan Pulau Buru, Amba jug...more
Vidi
Saya percaya bahwa semua orang pasti akan memiliki, paling tidak, sebuah puncak dalam kehidupannya. Seorang juara olimpiade, misalnya, merasa puncak kehidupannya adalah ketika ia menaiki podium untuk menerima medali emasnya. For one moment in his life, he was on the top of the world. Walaupun sekarang ia hanyalah seorang pria biasa, paling tidak, ia akan selalu mengenang saat itu sebagi puncak dalam kehidupannya. Seorang pengusaha sukses, misalnya, selalu mengenang ketika ia di saat remajanya pe...more
Teguh Affandi
Sedikit kecewa. Ekspektasi saya ketinggian mungkin yaaaaa
John Ferry Sihotang
Dec 01, 2012 John Ferry Sihotang marked it as wish-list
Saya tertarik ingin membaca novel ini karena ulasan tuan Bambang Sugiharto, seorang ahli Posmodernisme dan Estetika di Indonesia.


Amba: Enigma Batin Manusia dan Kekonyolan Ideologi

Oleh Bambang Sugiharto*

Di pulau Buru, laut seperti seorang ibu: dalam dan menunggu. ...Tapi, sesekali, sesuatu bisa terjadi di pulau ini—sesuatu yang begitu khas dan sulit diabaikan—dan orang hanya bisa membicarakannya sambil berbisik, seperti angin di atas batu yang terus-menerus membalun dan menghilang melalui makam...more
Fuadiyah Kamil
Nyatanya, mencintai itu bukan kompromi.

Setidaknya, itu yang saya tangkap dari sosok Amba. Menyenangkan, membacanya sampai akhir. Membayangkan seorang perempuan di usianya yang terbilang senja, di awal 60-an, mencoba mencari jawaban atas begitu banyak pertanyaan yang dibawanya ketika hidupnya berubah di awal usia 20-an. Ketika hidupnya berubah. Ketika bangsanya juga berubah, entah menjadi lebih baik, atau malah sebaliknya.

Meski agak bertanya-tanya akan kesempurnaan sosok Bhisma. Meski bertanya-ta...more
Wali yulhamdi
Saia suka dengan novel karya laksimi pamunjak ini karena berbeda dengan cerita-cerita kehidupan korban 65 lainnya. Cerita dalam novel ini tidaklah heroik atau cengeng, jika ingin dipadankan mungkin sepadan dengan cerita “bertahan hidup di uschwitz”. Bedanya “bertahan hidup di uschwitz” ditulis oleh pelaku sejarah sementara “AMBA” merupakan hasil penelitian bertahun-tahun dan ramuan hasil bacaan sang penulis (daftar bacaannya termuat dalam ucapan terima kasih penulis yg terlampir dalam buku), nam...more
Juinita Senduk
"Ketika sepasang manusia dimabuk cinta, mereka sering tak menyadari bahwa seluruh dunia bisa melihatnya.

Cinta kita sendiri sudah begitu besar, begitu luar biasa. Kebanyakan orang tak pernah mengalaminya. Apabila cinta yang begitu besar itu termasuk memiliki objek yang kamu cintai, itu namanya ketidakadilan. Sungguh tak adil, untuk mencintai dan mencintai begitu rupa, dan melakukannya di atas penderitaan orang lain. Akhirnya kamu benar: hidup kita telah ditulis di langit. Dan kita tak kuasa menen...more
Dhieta
Amba adalah sebuah debut novel. Tapi dengan pengalaman belasan tahun di dunia literasi, Laksmi Pamuntjak meramunya tanpa meninggalkan tanda-tanda keamatiran.

Saya suka cara Laksmi mengolah lokalitas, mulai dari petikan cerita Mahabharata, Serat Centini sampai dengan tembang-tembang yang dulu pernah jadi bahan ajar muatan lokal di sekolah dasar.

Saya juga suka cara Laksmi mengembangkan karakternya seiring waktu yang berjalan. Bahwa manusia tidak statis, itu benar adanya.

Novel ini membuktikan pentin...more
Ivan

"Suami dan istri tak harus serta merta sahabat. Cinta adalah cinta, bukan pengorbanan. Perasaan adalah untuk ditolak atau dibunuh, tidak untuk dilekaskan, apalagi untuk dibiarkan mengalir. Lagipula, begitu Ibu mengikatkan diri pada Bapak, ia menunggu kapan seseorang tak hanya menggunakan perasaan, tapi juga otaknya. Ia tak pernah sekalipun, dalam proses ini, kehilangan kesabarannya. Lalu ia memilih."

Itulah deskripsi singkat peran suami istri Sudarminto - Nuniek, orangtua dari Amba yang dideskrip...more
Adek
Di Pulau Buru, laut seperti seorang ibu: dalam dan menunggu. Bagaimanalah saya tidak langsung jatuh hati kepada novel ini, kalimat pembukanya saja sedemikian canggih.

Amba menceritakan tentang kisah hidup dalam keluarga, dalam cinta yang sebenarnya. Mengaitkan tokoh-tokohnya dengan kisah Mahabharata, lalu menuangkan dan mengaitkannya dengan 30 September hingga Pulau Buru.

Sosok Amba yang tegar, begitu akrab dengan merah dan kesedihan, yang menghargai Salwa sebagai harga diri dan lalu mencintai Bh...more
Nisa'a Avionimia
Sebelum Amba saya tidak mengenal Laksmi Pmuntjak, jadi saya memilih Amba bukan karena reputasi penulisnya yang (ternyata) bagus, semata-mata karena temanya G30S. Untuk saya, si generasi yang hanya tahu PKI itu jahat, tukang makar, tema G30S sungguh sangat menarik. Maka saya berterima kasih atas terbitnya Amba karena dengan membaca Amba ada sedikit pencerahan tentang apa yang terjadi akhir tahun 1960an di Indonesia. Latar yang menarik yang diceritakan dengan detil-detil yang baru bagi generasi sa...more
Anisa
AMBA... Saya mengetahui novel ini karena (lagi-lagi) termasuk dalam paket litbox. Novel ini merupakan salah satu sastra "berat" (versi saya) yang berhasil saya tamatkan dan tidak kecewa. Sebelum membaca novel ini, saya terlebih dahulu membaca Pulang. Kedua novel ini, sama-sama diterbitkan menjelang akhir 2012 dan berlatar belakang 1965, merupakan kedua novel yang berbeda dengan cinta yang sama, cinta yang tak dapat bersatu.

Pada novel Pulang, saya disuguhkan cerita cinta, persahabatan, keluarga,...more
Stebby Julionatan
Di Pulau Buru, laut seperti seorang ibu: dalam dan menuggu. Embun menyebar seperti kaca yang buyar, dan siang menerangi ladang yang diam. Kemudian malam akan mengungkap apa yang hilang oleh silau.

Tapi, sesekali, sesuatu bisa terjadi di pulau ini –sesuatu yang begitu khas dan sulit diabaikan– dan orang hanya bisa membicarakkannya sambil berbisik, seperti angin di atas batu yang terus-menerus membalun dan menghilang melalui makam orang-orang tak dikenal. Dan di jajaran lembah di baliknya, seolah m...more
A
I'm still halfway through the book, so I can't really make up my mind definitively yet. One obvious aspect is that Ms Pamuntjak had done a lot of research and has put in a lot of thought in writing this novel. I was worried that I might be reading history but I am in fact reading fiction, with a plot that makes me want to keep on reading. In other words, Ms Pamuntjak appears to have managed to weave the history into the story relatively seamlessly.

I will only be able to tell more once I complet...more
Atiek J.Panuluh
Butuh berkali-kali jeda untuk sekedar membuang-menghirup nafas membaca kisah Amba, Bhisma dan Salwa yang ini sebelum segala jawab dari halaman pertama berhasil terjawab. Diksi yang kadang bikin kepala berdenyut-denyut sebab butuh waktu buat otak mencerna apa maksudnya kerap bikin saya ingin menyerah saja merampungkan Amba. Tapi daya pikat Amba membuat saya kembali lagi dan lagi. Akhirnya setelah 2 minggu babak belur, saya sampai pada halaman terakhir saat Siri bertemu Samuel.

Harus saya akui ini...more
Tirta (I Prefer Reading)
Review originally posted at I Prefer Reading.

Ibu Amba yang baik,
Sudah sejak lama saya berkeinginan membaca kisah Ibu, yang telah banyak dipuja-puja berbagai penikmat sastra tanah air sebelumnya. Kisah Ibu punya beberapa elemen penting dari sejarah negeri kita yang selalu membuat saya tertarik: Peristiwa Gerakan 30 September dan Pulau Buru. Ditambah lagi dengan 'selipan' kisah perwayangannya dan penyebutan bahwa Ibu adalah mahasiswa jurusan Sastra Inggris. Namun, baru di awal tahun ini akhirnya s...more
Anggraeni Purfita Sari
Saya membeli buku ini karena dikasih tahu kalau buku ini mirip-mirip ceritanya sama Pulangyang jadi salah satu novel favorit saya. Awal baca, rasanya agak dongkol karena banyak dialog dalam bahasa setempat, entah bahasa buru atau ambon yang tidak diterjemahkan dalam bahasa Indonesia. Saya kan jadi nggak ngerti maknanya apa :( Terus kedongkolan kedua adalah penggunaan kata "nggak" sebagai dialog yang menurut saya agak janggal, karena ini novel serius berlatar belakang sejarah, kok rasanya gimana...more
Famega Syavira
Di kepala saya, Pulau Buru identik dengan Perawan Remaja di Cengkeraman Militer karya Pramoedya. Setelah baca Amba, saya jadi membayangkan Pulau Burunya Pram itu 40 tahun kemudian. Masih pulau yang sama, tapi berubah mengikuti zaman. Kisah cinta berlatar sejarah yang bagus sekali!
Farah
4.5

Rasanya ada yang aneh waktu film Jagal tiba-tiba muncul di beranda Facebook dari update-an temen. Waktu itu gue lagi baca buku ini di bagian pas latarnya ngambil tempat tahun 1965-an (dan nyinggung komunisme pula).

Kayak ada sesuatu yang rapih, cuma agak terlalu rapih aja sampe bengong juga kok bisa gitu.

Rasanya baca buku ini jadi tau akar juga. Gue yang orang Jawa jadi mikir, kalo gue dilahirin tahun 1940an dan di Yogya gitu misalnya, apa gue bakal jadi manusia mirip Amba ini? Masalahnya gue...more
Friska Navisa
Amba adalah sebuah novel perjalanan. Perjalanan tentang cinta, asmara, pengorbanan, kerelaan, rasa sakit, sebuah perjalanan yang bercerita bagaimana seseorang berusaha berdamai dengan masa lalunya. Dibalut latar belakang sejarah, bertolak dari peristiwa kelam yang pernah dialami Indonesia, Amba adalah novel yang menampilkan sejarah dalam wajah baru, melalui pandangan baru.
Tokoh Amba adalah sebuah gambaran yang paling manusiawi dari seorang manusia, menurut saya. Ia jatuh cinta, ingin pembebasan,...more
Den Lulung
Ini novel versi "berat" menurut saya.

Kisah Amba seperti kisah dalam Mahabharata dan berlatar peristiwa 1965.

Dalam Mahabharata Amba bertunangan dengan Prabu Salwa. Kemudian Prabu Salwa dikalahkan oleh Bisma dan Dewi Amba diboyong Bisma.

Bisma tidak mau menikah dengan Amba karena telah bersumpah hidup membujang selamanya. Sumpahnya itu sebagai emas kawin untuk ayahnya karena tidak setuju ayahnya menikah lagi.

Amba dalam novel ini bertunangan dengan Salwa Munir, namun Amba mempunyai hububgan lain saa...more
Ayu Welirang
Saya hendak memberi Amba 5 bintang. Namun, mengingat novel ini cukup bertele-tele (saya tahu ini semata-mata karena novel ini mengandung beban sejarah), jadi saya hanya memberi 4 bintang saja.

Amba adalah sebuah novel berlatar belakang sejarah 1965, seperti beberapa novel lain yang cukup banyak diminati karena novel tersebut berbau sejarah 'merah'. Sejarah 'merah' seperti yang ditorehkan beberapa buku, menyimpan polemik tersendiri. Sejarah itu seakan tabu jika dibicarakan di ruang publik. Oleh k...more
Nanny SA
Dalam Kisah pewayangan ( Mahabrata ) Amba adalah nama seorang putri dari sebuah kerajaan, diceritakan dalam sebuah perlombaan seorang ksatria bernama Bisma mengalahkan calon tunangan Amba yang bernama Pangeran Salwa, Amba seharusnya diperistri oleh Bisma tetapi karena Bisma terikat sumpah untuk tidak menikah maka ia tidak mau menikahi Amba, Sedangkan Salwa pun karena telah dikalahkan Bisma menolak untuk memperistrinya, nasib Ambapun merana dan bersumpah untuk mebunuh Bisma, dst, dst...

Sedangkan...more
Ursula Florene
Banyak sekali orang yang menuliskan ulasan positif mengenai buku ini. Sebuah kisah tentang wanita yang mencari masa lalunya, yang direnggut oleh peristiwa 1965. Amba, yang mencari Bhisma. Dari Yogyakarta, ke Jakarta, lalu ke Pulau Buru.

Klise,kesan pertama yang saya dapatkan saat membaca ringkasan pendek di sampul belakang novel. Kesan yang sama dengan saat saya membaca ringkasan dari Pulang karya Laksmi Pamuntjak. Pribadi, saya menganggap kisah apapun yang melibatkan pergerakan komunisme Indon...more
Abiyasha
Akhirnya kelar juga baca novel ini.

What a novel! Aku sangat salut sama Laksmi Pamuntjak yang begitu luar biasa menggambarkan keadaan Indonesia pada saat itu, menjalin sejarah dengan percintaan dan menggabungkannya dengan epos Mahabharata. Ini jelas bukan jenis novel yang bisa ditulis oleh setiap penulis. Apalagi, diksi yang digunakan, menurutku benar-benar nggak lazim namun indah. Belajar banyak kosakata baru dari novel ini dan merasa malu, bahwa sebagai generasi muda, aku nggak begitu peduli de...more
Agustina Pringganti

“Kepadanya, o, Tuanku, Salwa berkata seraya tertawa, ‘Wahai putri yang gemilang, aku tak ingin memperistrikan dirimu, engkau yang telah terjalin dengan seorang lain. Wahai yang diberkati, pergilah ke sana ke hadirat Bhisma.. sebab setelah mengalahkan para raja, Bhisma membawa engkau pergi dan engkau menyertainya dengan suka cita..”

Begitulah titah Salwa kepada Amba, yang dibawa lari Bhisma, Sang Pahlawan Hastina, dalam epos Mahabharata. Laksmi Pamuntjak meramu fakta dan fiksi dengan begitu apik s...more
Deandra Syarizka
Bintang empat yang saya berikan adalah untuk kerja keras seorang Laksmi Pamuntjak yang telah bekerja keras selama delapan tahun untuk membuat novel ini. Tentu saja, jerih payah itu membuahkan hasil yang tidak percuma. Amba, menjadi semacam oase bagi saya di tengah kejenuhan membaca novel-novel populer pada umumnya, ketika kebanyakan novel-novel itu memakai apologi "kebetulan"--yang kadang terlalu banyak--dalam merangkai kausalitas cerita. Maka, bintang empat juga adalah sebuah ucapan terima kasi...more
ayanapunya
Tahun 2006, seorang wanita bernama Amba datang ke pulau Buru bersama dengan dua orang pria. Tujuannya datang ke tempat tersebut adalah mencari jejak-jejak kekasihnya yang sudah terpisah selama empat puluh tahun. Bhisma Rashad, sang kekasih, adalah salah satu dari mereka yang dikirim ke pulau Buru pasca terjadinya gerakan 30 September di tahun 1965.

Pertemuan Amba dengan Bhisma sendiri terjadi saat Amba bekerja di sebuah rumah sakit di Kediri. Dia bekerja sebagai penerjemah jurnal-jurnal kedoktera...more
« previous 1 3 4 5 6 7 8 9 26 27 next »
topics  posts  views  last activity   
Sirikandi 1 19 Jan 01, 2013 08:54PM  
  • Pulang
  • Entrok
  • Gadis Kretek
  • Kubah
  • Surat Panjang Tentang Jarak Kita yang Jutaan Tahun Cahaya
  • Larasati
  • Lalita
  • Kitab Omong Kosong
  • Katarsis
  • Generasi 90an
  • Kuantar ke Gerbang: Kisah Cinta Ibu Inggit dengan Bung Karno
  • Burung-Burung Manyar
  • Garis Batas: Perjalanan di Negeri-Negeri Asia Tengah
  • Murjangkung: Cinta yang Dungu dan Hantu-hantu
  • Selama Kita Tersesat di Luar Angkasa: Kumpulan Cerita Absurd
117057
Laksmi Pamuntjak has since 1994 written columns and articles on politics, film, food, classical music and literature for Tempo Magazine, The Jakarta Post, The Jakarta Globe, Djakarta Mag, the socio-economic journal Prisma and elsewhere.

She is the author of the award-winning, bestselling Jakarta Good Food Guide — an annually updated new take on food writing — and co-founded Aksara, a bilingual book...more
More about Laksmi Pamuntjak...
Perang, Langit, dan Dua Perempuan Ellipsis The Anagram Jakarta Good Food Guide 2002-2003 The Diary of R.S.: Musings on Art

Share This Book

“Selalu ada yang membuat terlena dan tak berdaya pada hujan, pada rintik dan aromanya, pada bunyi dan melankolinya, pada caranya yang pelan sekaligus brutal dalam memetik kenangan yang tak diinginkan” 28 likes
“Ketika bicara menunggu, itu bukan tentang berapa jam, hari dan bulan.
Kita bicara tentang titik di mana kita akhirnya memutuskan untuk percaya”
9 likes
More quotes…