<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<GoodreadsResponse>
	<Request>
		<authentication>false</authentication>
		    <method><![CDATA[]]></method>
	</Request>
	
<book>
  <id>1515615</id>
  <title><![CDATA[Dalam Mihrab Cinta]]></title>
  <isbn><![CDATA[]]></isbn>
  <isbn13><![CDATA[9789793210940]]></isbn13>
  <image_url>http://photo.goodreads.com/books/1207805038m/1515615.jpg</image_url>
  <small_image_url>http://photo.goodreads.com/books/1207805038s/1515615.jpg</small_image_url>
  <description><![CDATA[Siang itu, Pesantren Al Furqon yang terletak di daerah Pagu, Kediri, Jawa Timur geger. Pengurus Bagian Keamanan menyeret seorang santri yang diyakini mencuri. Beberapa orang santri terus menghajar santri berambut gondrong itu. Santri itu mengaduh dan minta ampun.<br/><br/>&quot;Ampun, tolong jangan pukul saya. Saya tidak mencuri!&quot; Santri yang mukanya sudah berdarah-darah itu mengiba.<br/>&quot;Ayo, mengaku. Kalau tidak kupecahkan kepalamu!&quot; Teriak seorang santri berkoplah hitam dengan wajah sangat geram.<br/>&quot;Sungguh, bukan saya pelakunya.&quot; Si Rambut Gondrong itu tetap tidak mau mengaku.<br/><br/>Serta merta dua bogem melayang ke wajahnya. &quot;Nich rasain pencuri!&quot; teriak Ketua Bagian Keamanan yang turut melayangkan pukulan. Si Rambut Gondrong mengaduh lalu pingsan.<br/><br/>Menjelang Ashar, si Rambut Gondrong siuman. Ia dikunci di gudang pesantren yang dijaga beberapa santri. Kedua tangan dan kakinya terikat. Airmatanya meleleh. Ia meratapi nasibnya. Seluruh tubuhnya sakit. Ia merasa kematian telah berada di depan mata.<br/><br/>Di luar gudang para santri ramai berkumpul. Mereka meneriakkan kemarahan dan kegeraman.<br/>&quot;Maling jangan diberi ampun!&quot;<br/>&quot;Hajar saja maling gondrong itu sampai mampus!&quot;<br/>&quot;Wong maling kok ngaku-ngaku santri. Ini kurang ajar. Tak bisa diampuni!&quot;<br/><br/>Ia menangis mendengar itu semua. Sepuluh menit kemudian pintu gudang terbuka. Ia sangat ketakutan. Tanpa ia sadari ia kencing di celana karena saking takutnya. Para santri yang didera kemarahan meluap hendak menerobos masuk. Tapi Lurah Pondok menahan mereka dengan sekuat tenaga. Pak Kiai, pengasuh pesantren masuk dengan wajah dingin]]></description>
  <work>
  <best_book_id type="integer">1515615</best_book_id>
  <books_count type="integer">1</books_count>
  <desc_user_id type="integer" nil="true"></desc_user_id>
  <id type="integer">2407825</id>
  <media_type nil="true"></media_type>
  <original_language_id type="integer" nil="true"></original_language_id>
  <original_publication_day type="integer" nil="true"></original_publication_day>
  <original_publication_month type="integer" nil="true"></original_publication_month>
  <original_publication_year type="integer">2007</original_publication_year>
  <original_title>Dalam Mihrab Cinta</original_title>
  <rating_dist>total:430|5:63|4:111|3:196|2:51|1:9|</rating_dist>
  <ratings_count type="integer">430</ratings_count>
  <ratings_sum type="integer">1458</ratings_sum>
  <reviews_count type="integer">553</reviews_count>
  <text_reviews_count type="integer">72</text_reviews_count>
</work>

  <average_rating><![CDATA[3.39]]></average_rating>
  <ratings_count><![CDATA[430]]></ratings_count>
  <text_reviews_count><![CDATA[72]]></text_reviews_count>
  
  <url><![CDATA[http://www.goodreads.com/book/show/1515615.Dalam_Mihrab_Cinta]]></url>
  <link><![CDATA[http://www.goodreads.com/book/show/1515615.Dalam_Mihrab_Cinta]]></link>
  <authors>
    <author>
    <id>489970</id>
        <name><![CDATA[Habiburrahman El Shirazy]]></name>
    <image_url><![CDATA[http://photo.goodreads.com/authors/1207724786p5/489970.jpg]]></image_url>
    <small_image_url><![CDATA[http://photo.goodreads.com/authors/1207724786p2/489970.jpg]]></small_image_url>
    <link><![CDATA[http://www.goodreads.com/author/show/489970.Habiburrahman_El_Shirazy]]></link>
    <average_rating>3.65</average_rating>
    <ratings_count>8098</ratings_count>
    <text_reviews_count>1630</text_reviews_count>
  </author>
  </authors>
    <reviews start="1" end="20" total="553">
      <review>
  <id>17651536</id>
    <user>
    <id>989815</id>
    <name><![CDATA[Seno]]></name>
    <location><![CDATA[Yogyakarta, Indonesia]]></location>
    <link><![CDATA[http://www.goodreads.com/user/show/989815-seno-pamungkas]]></link>
    <image_url><![CDATA[http://photo.goodreads.com/users/1205395214p3/989815.jpg]]></image_url>
    <small_image_url><![CDATA[http://photo.goodreads.com/users/1205395214p2/989815.jpg]]></small_image_url>
  </user>
    <book>
  <id type="integer">1515615</id>
  <isbn nil="true"></isbn>
  <isbn13>9789793210940</isbn13>
  <text_reviews_count type="integer">72</text_reviews_count>
  <title>
    <![CDATA[Dalam Mihrab Cinta]]>
  </title>
  <image_url>http://photo.goodreads.com/books/1207805038m/1515615.jpg</image_url>
  <small_image_url>http://photo.goodreads.com/books/1207805038s/1515615.jpg</small_image_url>
  <link>http://www.goodreads.com/book/show/1515615.Dalam_Mihrab_Cinta</link>
  <average_rating>3.39</average_rating>
  <ratings_count>430</ratings_count>
  <description>
    <![CDATA[Siang itu, Pesantren Al Furqon yang terletak di daerah Pagu, Kediri, Jawa Timur geger. Pengurus Bagian Keamanan menyeret seorang santri yang diyakini mencuri. Beberapa orang santri terus menghajar santri berambut gondrong itu. Santri itu mengaduh dan minta ampun.<br/><br/>&quot;Ampun, tolong jangan pukul saya. Saya tidak mencuri!&quot; Santri yang mukanya sudah berdarah-darah itu mengiba.<br/>&quot;Ayo, mengaku. Kalau tidak kupecahkan kepalamu!&quot; Teriak seorang santri berkoplah hitam dengan wajah sangat geram.<br/>&quot;Sungguh, bukan saya pelakunya.&quot; Si Rambut Gondrong itu tetap tidak mau mengaku.<br/><br/>Serta merta dua bogem melayang ke wajahnya. &quot;Nich rasain pencuri!&quot; teriak Ketua Bagian Keamanan yang turut melayangkan pukulan. Si Rambut Gondrong mengaduh lalu pingsan.<br/><br/>Menjelang Ashar, si Rambut Gondrong siuman. Ia dikunci di gudang pesantren yang dijaga beberapa santri. Kedua tangan dan kakinya terikat. Airmatanya meleleh. Ia meratapi nasibnya. Seluruh tubuhnya sakit. Ia merasa kematian telah berada di depan mata.<br/><br/>Di luar gudang para santri ramai berkumpul. Mereka meneriakkan kemarahan dan kegeraman.<br/>&quot;Maling jangan diberi ampun!&quot;<br/>&quot;Hajar saja maling gondrong itu sampai mampus!&quot;<br/>&quot;Wong maling kok ngaku-ngaku santri. Ini kurang ajar. Tak bisa diampuni!&quot;<br/><br/>Ia menangis mendengar itu semua. Sepuluh menit kemudian pintu gudang terbuka. Ia sangat ketakutan. Tanpa ia sadari ia kencing di celana karena saking takutnya. Para santri yang didera kemarahan meluap hendak menerobos masuk. Tapi Lurah Pondok menahan mereka dengan sekuat tenaga. Pak Kiai, pengasuh pesantren masuk dengan wajah dingin]]>
  </description>
  <published>2007</published>
</book>

    <rating>4</rating>
  <votes>2</votes>
  <spoiler_flag>false</spoiler_flag>
  <shelves>
        <shelf name="read" />
            <shelf name="mine" />
      </shelves>
  <recommended_for><![CDATA[]]></recommended_for>
  <recommended_by><![CDATA[]]></recommended_by>
  <read_at>Tue Jan 08 00:00:00 -0800 2008</read_at>
  <date_added>Thu Mar 13 00:17:19 -0700 2008</date_added>
  <date_updated>Thu Mar 13 00:18:00 -0700 2008</date_updated>
  <read_count></read_count>
    <body><![CDATA[Aq beli buku ini utk membayar kekecewaan karena disaat pameran buku yang disitu ada ribuan buku. Tapi aq cari-cari KCB 1 sampe mbulet gak ketemu-ketemu. Akhirnya daripada aq datang percuma di pameran itu, lebih baik datang dengan membawa hasil. Akhirnya aq memutuskan utk membeli novel ini. Ya. Dalam...<a href="http://www.goodreads.com/review/show/17651536">more...</a>]]></body>
    
  <url><![CDATA[http://www.goodreads.com/review/show/17651536]]></url>
  <link><![CDATA[http://www.goodreads.com/review/show/17651536]]></link>
</review>
      <review>
  <id>40664853</id>
    <user>
    <id>1811791</id>
    <name><![CDATA[Wijayanto]]></name>
    <location><![CDATA[Taipei, Taiwan]]></location>
    <link><![CDATA[http://www.goodreads.com/user/show/1811791-wijayanto]]></link>
    <image_url><![CDATA[http://photo.goodreads.com/users/1229962646p3/1811791.jpg]]></image_url>
    <small_image_url><![CDATA[http://photo.goodreads.com/users/1229962646p2/1811791.jpg]]></small_image_url>
  </user>
    <book>
  <id type="integer">1515615</id>
  <isbn nil="true"></isbn>
  <isbn13>9789793210940</isbn13>
  <text_reviews_count type="integer">72</text_reviews_count>
  <title>
    <![CDATA[Dalam Mihrab Cinta]]>
  </title>
  <image_url>http://photo.goodreads.com/books/1207805038m/1515615.jpg</image_url>
  <small_image_url>http://photo.goodreads.com/books/1207805038s/1515615.jpg</small_image_url>
  <link>http://www.goodreads.com/book/show/1515615.Dalam_Mihrab_Cinta</link>
  <average_rating>3.39</average_rating>
  <ratings_count>430</ratings_count>
  <description>
    <![CDATA[Siang itu, Pesantren Al Furqon yang terletak di daerah Pagu, Kediri, Jawa Timur geger. Pengurus Bagian Keamanan menyeret seorang santri yang diyakini mencuri. Beberapa orang santri terus menghajar santri berambut gondrong itu. Santri itu mengaduh dan minta ampun.<br/><br/>&quot;Ampun, tolong jangan pukul saya. Saya tidak mencuri!&quot; Santri yang mukanya sudah berdarah-darah itu mengiba.<br/>&quot;Ayo, mengaku. Kalau tidak kupecahkan kepalamu!&quot; Teriak seorang santri berkoplah hitam dengan wajah sangat geram.<br/>&quot;Sungguh, bukan saya pelakunya.&quot; Si Rambut Gondrong itu tetap tidak mau mengaku.<br/><br/>Serta merta dua bogem melayang ke wajahnya. &quot;Nich rasain pencuri!&quot; teriak Ketua Bagian Keamanan yang turut melayangkan pukulan. Si Rambut Gondrong mengaduh lalu pingsan.<br/><br/>Menjelang Ashar, si Rambut Gondrong siuman. Ia dikunci di gudang pesantren yang dijaga beberapa santri. Kedua tangan dan kakinya terikat. Airmatanya meleleh. Ia meratapi nasibnya. Seluruh tubuhnya sakit. Ia merasa kematian telah berada di depan mata.<br/><br/>Di luar gudang para santri ramai berkumpul. Mereka meneriakkan kemarahan dan kegeraman.<br/>&quot;Maling jangan diberi ampun!&quot;<br/>&quot;Hajar saja maling gondrong itu sampai mampus!&quot;<br/>&quot;Wong maling kok ngaku-ngaku santri. Ini kurang ajar. Tak bisa diampuni!&quot;<br/><br/>Ia menangis mendengar itu semua. Sepuluh menit kemudian pintu gudang terbuka. Ia sangat ketakutan. Tanpa ia sadari ia kencing di celana karena saking takutnya. Para santri yang didera kemarahan meluap hendak menerobos masuk. Tapi Lurah Pondok menahan mereka dengan sekuat tenaga. Pak Kiai, pengasuh pesantren masuk dengan wajah dingin]]>
  </description>
  <published>2007</published>
</book>

    <rating>4</rating>
  <votes>0</votes>
  <spoiler_flag>false</spoiler_flag>
  <shelves>
        <shelf name="read" />
            <shelf name="novel" />
      </shelves>
  <recommended_for><![CDATA[]]></recommended_for>
  <recommended_by><![CDATA[]]></recommended_by>
  <read_at></read_at>
  <date_added>Mon Dec 22 07:02:57 -0800 2008</date_added>
  <date_updated>Mon Dec 22 07:03:42 -0800 2008</date_updated>
  <read_count></read_count>
    <body><![CDATA[Novelet dengan 3 kisah berbeda ini saya beli hari Jumat yang lalu sekaligus untuk hadir dalam acara ‘Temu Penulis’ yang diadakan oleh pihak penerbit. Sekedar pingin tahu bagaimana penampakan sejatinya dari Kang Abik. Berbekal kamera digital dari rumah, namun akhirnya tidak terpakai karena ragu, ...<a href="http://www.goodreads.com/review/show/40664853">more...</a>]]></body>
    
  <url><![CDATA[http://www.goodreads.com/review/show/40664853]]></url>
  <link><![CDATA[http://www.goodreads.com/review/show/40664853]]></link>
</review>
      <review>
  <id>9188881</id>
    <user>
    <id>587502</id>
    <name><![CDATA[Desil]]></name>
    <location><![CDATA[makassar, Indonesia]]></location>
    <link><![CDATA[http://www.goodreads.com/user/show/587502-desil]]></link>
    <image_url><![CDATA[http://photo.goodreads.com/users/1216130370p3/587502.jpg]]></image_url>
    <small_image_url><![CDATA[http://photo.goodreads.com/users/1216130370p2/587502.jpg]]></small_image_url>
  </user>
    <book>
  <id type="integer">1515615</id>
  <isbn nil="true"></isbn>
  <isbn13>9789793210940</isbn13>
  <text_reviews_count type="integer">72</text_reviews_count>
  <title>
    <![CDATA[Dalam Mihrab Cinta]]>
  </title>
  <image_url>http://photo.goodreads.com/books/1207805038m/1515615.jpg</image_url>
  <small_image_url>http://photo.goodreads.com/books/1207805038s/1515615.jpg</small_image_url>
  <link>http://www.goodreads.com/book/show/1515615.Dalam_Mihrab_Cinta</link>
  <average_rating>3.39</average_rating>
  <ratings_count>430</ratings_count>
  <description>
    <![CDATA[Siang itu, Pesantren Al Furqon yang terletak di daerah Pagu, Kediri, Jawa Timur geger. Pengurus Bagian Keamanan menyeret seorang santri yang diyakini mencuri. Beberapa orang santri terus menghajar santri berambut gondrong itu. Santri itu mengaduh dan minta ampun.<br/><br/>&quot;Ampun, tolong jangan pukul saya. Saya tidak mencuri!&quot; Santri yang mukanya sudah berdarah-darah itu mengiba.<br/>&quot;Ayo, mengaku. Kalau tidak kupecahkan kepalamu!&quot; Teriak seorang santri berkoplah hitam dengan wajah sangat geram.<br/>&quot;Sungguh, bukan saya pelakunya.&quot; Si Rambut Gondrong itu tetap tidak mau mengaku.<br/><br/>Serta merta dua bogem melayang ke wajahnya. &quot;Nich rasain pencuri!&quot; teriak Ketua Bagian Keamanan yang turut melayangkan pukulan. Si Rambut Gondrong mengaduh lalu pingsan.<br/><br/>Menjelang Ashar, si Rambut Gondrong siuman. Ia dikunci di gudang pesantren yang dijaga beberapa santri. Kedua tangan dan kakinya terikat. Airmatanya meleleh. Ia meratapi nasibnya. Seluruh tubuhnya sakit. Ia merasa kematian telah berada di depan mata.<br/><br/>Di luar gudang para santri ramai berkumpul. Mereka meneriakkan kemarahan dan kegeraman.<br/>&quot;Maling jangan diberi ampun!&quot;<br/>&quot;Hajar saja maling gondrong itu sampai mampus!&quot;<br/>&quot;Wong maling kok ngaku-ngaku santri. Ini kurang ajar. Tak bisa diampuni!&quot;<br/><br/>Ia menangis mendengar itu semua. Sepuluh menit kemudian pintu gudang terbuka. Ia sangat ketakutan. Tanpa ia sadari ia kencing di celana karena saking takutnya. Para santri yang didera kemarahan meluap hendak menerobos masuk. Tapi Lurah Pondok menahan mereka dengan sekuat tenaga. Pak Kiai, pengasuh pesantren masuk dengan wajah dingin]]>
  </description>
  <published>2007</published>
</book>

    <rating>4</rating>
  <votes>1</votes>
  <spoiler_flag>false</spoiler_flag>
  <shelves>
        <shelf name="read" />
          </shelves>
  <recommended_for><![CDATA[]]></recommended_for>
  <recommended_by><![CDATA[]]></recommended_by>
  <read_at></read_at>
  <date_added>Fri Nov 16 06:21:03 -0800 2007</date_added>
  <date_updated>Fri Nov 16 06:23:37 -0800 2007</date_updated>
  <read_count></read_count>
    <body><![CDATA[wow...cwritanya lumayan seru loc...<br/>bayangin saja seorang Dosen dilamar sama mahasiswa yang ia bimbing untuk ujian skripsi...kebayang kagak tuh...apalagi nih seorang wanita &quot;Zahrana&quot; umur kira2 30_an deh..dilamar ma mahasiswa umur kira2 23 taon...]]></body>
    
  <url><![CDATA[http://www.goodreads.com/review/show/9188881]]></url>
  <link><![CDATA[http://www.goodreads.com/review/show/9188881]]></link>
</review>
      <review>
  <id>11865823</id>
    <user>
    <id>748235</id>
    <name><![CDATA[Doni]]></name>
    <location><![CDATA[Jambi, Indonesia]]></location>
    <link><![CDATA[http://www.goodreads.com/user/show/748235-doni-s-habil]]></link>
    <image_url><![CDATA[http://www.goodreads.com/images/nophoto-M-111x148.jpg]]></image_url>
    <small_image_url><![CDATA[http://www.goodreads.com/images/nophoto-M-50x66.jpg]]></small_image_url>
  </user>
    <book>
  <id type="integer">1515615</id>
  <isbn nil="true"></isbn>
  <isbn13>9789793210940</isbn13>
  <text_reviews_count type="integer">72</text_reviews_count>
  <title>
    <![CDATA[Dalam Mihrab Cinta]]>
  </title>
  <image_url>http://photo.goodreads.com/books/1207805038m/1515615.jpg</image_url>
  <small_image_url>http://photo.goodreads.com/books/1207805038s/1515615.jpg</small_image_url>
  <link>http://www.goodreads.com/book/show/1515615.Dalam_Mihrab_Cinta</link>
  <average_rating>3.39</average_rating>
  <ratings_count>430</ratings_count>
  <description>
    <![CDATA[Siang itu, Pesantren Al Furqon yang terletak di daerah Pagu, Kediri, Jawa Timur geger. Pengurus Bagian Keamanan menyeret seorang santri yang diyakini mencuri. Beberapa orang santri terus menghajar santri berambut gondrong itu. Santri itu mengaduh dan minta ampun.<br/><br/>&quot;Ampun, tolong jangan pukul saya. Saya tidak mencuri!&quot; Santri yang mukanya sudah berdarah-darah itu mengiba.<br/>&quot;Ayo, mengaku. Kalau tidak kupecahkan kepalamu!&quot; Teriak seorang santri berkoplah hitam dengan wajah sangat geram.<br/>&quot;Sungguh, bukan saya pelakunya.&quot; Si Rambut Gondrong itu tetap tidak mau mengaku.<br/><br/>Serta merta dua bogem melayang ke wajahnya. &quot;Nich rasain pencuri!&quot; teriak Ketua Bagian Keamanan yang turut melayangkan pukulan. Si Rambut Gondrong mengaduh lalu pingsan.<br/><br/>Menjelang Ashar, si Rambut Gondrong siuman. Ia dikunci di gudang pesantren yang dijaga beberapa santri. Kedua tangan dan kakinya terikat. Airmatanya meleleh. Ia meratapi nasibnya. Seluruh tubuhnya sakit. Ia merasa kematian telah berada di depan mata.<br/><br/>Di luar gudang para santri ramai berkumpul. Mereka meneriakkan kemarahan dan kegeraman.<br/>&quot;Maling jangan diberi ampun!&quot;<br/>&quot;Hajar saja maling gondrong itu sampai mampus!&quot;<br/>&quot;Wong maling kok ngaku-ngaku santri. Ini kurang ajar. Tak bisa diampuni!&quot;<br/><br/>Ia menangis mendengar itu semua. Sepuluh menit kemudian pintu gudang terbuka. Ia sangat ketakutan. Tanpa ia sadari ia kencing di celana karena saking takutnya. Para santri yang didera kemarahan meluap hendak menerobos masuk. Tapi Lurah Pondok menahan mereka dengan sekuat tenaga. Pak Kiai, pengasuh pesantren masuk dengan wajah dingin]]>
  </description>
  <published>2007</published>
</book>

    <rating>0</rating>
  <votes>1</votes>
  <spoiler_flag>false</spoiler_flag>
  <shelves>
        <shelf name="read" />
          </shelves>
  <recommended_for><![CDATA[]]></recommended_for>
  <recommended_by><![CDATA[]]></recommended_by>
  <read_at>Sat Dec 01 00:00:00 -0800 2007</read_at>
  <date_added>Mon Jan 07 06:25:18 -0800 2008</date_added>
  <date_updated>Wed Jan 09 07:18:23 -0800 2008</date_updated>
  <read_count></read_count>
    <body><![CDATA[novel ini memuat tiga kisah yang cukup menarik. bagaimanapun kenikmatan hidup yang amat dalam itu ditasbihkan untuk mereka yang menjalani hidupnya dengan memadukan antara iktiar, doa dan tawakal..]]></body>
    
  <url><![CDATA[http://www.goodreads.com/review/show/11865823]]></url>
  <link><![CDATA[http://www.goodreads.com/review/show/11865823]]></link>
</review>
      <review>
  <id>7286418</id>
    <user>
    <id>453640</id>
    <name><![CDATA[Rangga]]></name>
    <location><![CDATA[yogyakarta, Indonesia]]></location>
    <link><![CDATA[http://www.goodreads.com/user/show/453640-rangga-fadhillah]]></link>
    <image_url><![CDATA[http://photo.goodreads.com/users/1191556100p3/453640.jpg]]></image_url>
    <small_image_url><![CDATA[http://photo.goodreads.com/users/1191556100p2/453640.jpg]]></small_image_url>
  </user>
    <book>
  <id type="integer">1515615</id>
  <isbn nil="true"></isbn>
  <isbn13>9789793210940</isbn13>
  <text_reviews_count type="integer">72</text_reviews_count>
  <title>
    <![CDATA[Dalam Mihrab Cinta]]>
  </title>
  <image_url>http://photo.goodreads.com/books/1207805038m/1515615.jpg</image_url>
  <small_image_url>http://photo.goodreads.com/books/1207805038s/1515615.jpg</small_image_url>
  <link>http://www.goodreads.com/book/show/1515615.Dalam_Mihrab_Cinta</link>
  <average_rating>3.39</average_rating>
  <ratings_count>430</ratings_count>
  <description>
    <![CDATA[Siang itu, Pesantren Al Furqon yang terletak di daerah Pagu, Kediri, Jawa Timur geger. Pengurus Bagian Keamanan menyeret seorang santri yang diyakini mencuri. Beberapa orang santri terus menghajar santri berambut gondrong itu. Santri itu mengaduh dan minta ampun.<br/><br/>&quot;Ampun, tolong jangan pukul saya. Saya tidak mencuri!&quot; Santri yang mukanya sudah berdarah-darah itu mengiba.<br/>&quot;Ayo, mengaku. Kalau tidak kupecahkan kepalamu!&quot; Teriak seorang santri berkoplah hitam dengan wajah sangat geram.<br/>&quot;Sungguh, bukan saya pelakunya.&quot; Si Rambut Gondrong itu tetap tidak mau mengaku.<br/><br/>Serta merta dua bogem melayang ke wajahnya. &quot;Nich rasain pencuri!&quot; teriak Ketua Bagian Keamanan yang turut melayangkan pukulan. Si Rambut Gondrong mengaduh lalu pingsan.<br/><br/>Menjelang Ashar, si Rambut Gondrong siuman. Ia dikunci di gudang pesantren yang dijaga beberapa santri. Kedua tangan dan kakinya terikat. Airmatanya meleleh. Ia meratapi nasibnya. Seluruh tubuhnya sakit. Ia merasa kematian telah berada di depan mata.<br/><br/>Di luar gudang para santri ramai berkumpul. Mereka meneriakkan kemarahan dan kegeraman.<br/>&quot;Maling jangan diberi ampun!&quot;<br/>&quot;Hajar saja maling gondrong itu sampai mampus!&quot;<br/>&quot;Wong maling kok ngaku-ngaku santri. Ini kurang ajar. Tak bisa diampuni!&quot;<br/><br/>Ia menangis mendengar itu semua. Sepuluh menit kemudian pintu gudang terbuka. Ia sangat ketakutan. Tanpa ia sadari ia kencing di celana karena saking takutnya. Para santri yang didera kemarahan meluap hendak menerobos masuk. Tapi Lurah Pondok menahan mereka dengan sekuat tenaga. Pak Kiai, pengasuh pesantren masuk dengan wajah dingin]]>
  </description>
  <published>2007</published>
</book>

    <rating>4</rating>
  <votes>1</votes>
  <spoiler_flag>false</spoiler_flag>
  <shelves>
        <shelf name="read" />
          </shelves>
  <recommended_for><![CDATA[semua]]></recommended_for>
  <recommended_by><![CDATA[]]></recommended_by>
  <read_at>Fri Jun 01 00:00:00 -0700 2007</read_at>
  <date_added>Thu Oct 04 20:21:52 -0700 2007</date_added>
  <date_updated>Sat Oct 06 21:04:21 -0700 2007</date_updated>
  <read_count></read_count>
    <body><![CDATA[mantap!!<br/><br/>gw paling suka cerita kedua dari novelet ini. dan gw pasti tunggu novelnya &quot;dalam mihrab cinta&quot;]]></body>
    
  <url><![CDATA[http://www.goodreads.com/review/show/7286418]]></url>
  <link><![CDATA[http://www.goodreads.com/review/show/7286418]]></link>
</review>
      <review>
  <id>7119572</id>
    <user>
    <id>367182</id>
    <name><![CDATA[Firdia]]></name>
    <location><![CDATA[Indonesia]]></location>
    <link><![CDATA[http://www.goodreads.com/user/show/367182-firdia]]></link>
    <image_url><![CDATA[http://photo.goodreads.com/users/1198473179p3/367182.jpg]]></image_url>
    <small_image_url><![CDATA[http://photo.goodreads.com/users/1198473179p2/367182.jpg]]></small_image_url>
  </user>
    <book>
  <id type="integer">1515615</id>
  <isbn nil="true"></isbn>
  <isbn13>9789793210940</isbn13>
  <text_reviews_count type="integer">72</text_reviews_count>
  <title>
    <![CDATA[Dalam Mihrab Cinta]]>
  </title>
  <image_url>http://photo.goodreads.com/books/1207805038m/1515615.jpg</image_url>
  <small_image_url>http://photo.goodreads.com/books/1207805038s/1515615.jpg</small_image_url>
  <link>http://www.goodreads.com/book/show/1515615.Dalam_Mihrab_Cinta</link>
  <average_rating>3.39</average_rating>
  <ratings_count>430</ratings_count>
  <description>
    <![CDATA[Siang itu, Pesantren Al Furqon yang terletak di daerah Pagu, Kediri, Jawa Timur geger. Pengurus Bagian Keamanan menyeret seorang santri yang diyakini mencuri. Beberapa orang santri terus menghajar santri berambut gondrong itu. Santri itu mengaduh dan minta ampun.<br/><br/>&quot;Ampun, tolong jangan pukul saya. Saya tidak mencuri!&quot; Santri yang mukanya sudah berdarah-darah itu mengiba.<br/>&quot;Ayo, mengaku. Kalau tidak kupecahkan kepalamu!&quot; Teriak seorang santri berkoplah hitam dengan wajah sangat geram.<br/>&quot;Sungguh, bukan saya pelakunya.&quot; Si Rambut Gondrong itu tetap tidak mau mengaku.<br/><br/>Serta merta dua bogem melayang ke wajahnya. &quot;Nich rasain pencuri!&quot; teriak Ketua Bagian Keamanan yang turut melayangkan pukulan. Si Rambut Gondrong mengaduh lalu pingsan.<br/><br/>Menjelang Ashar, si Rambut Gondrong siuman. Ia dikunci di gudang pesantren yang dijaga beberapa santri. Kedua tangan dan kakinya terikat. Airmatanya meleleh. Ia meratapi nasibnya. Seluruh tubuhnya sakit. Ia merasa kematian telah berada di depan mata.<br/><br/>Di luar gudang para santri ramai berkumpul. Mereka meneriakkan kemarahan dan kegeraman.<br/>&quot;Maling jangan diberi ampun!&quot;<br/>&quot;Hajar saja maling gondrong itu sampai mampus!&quot;<br/>&quot;Wong maling kok ngaku-ngaku santri. Ini kurang ajar. Tak bisa diampuni!&quot;<br/><br/>Ia menangis mendengar itu semua. Sepuluh menit kemudian pintu gudang terbuka. Ia sangat ketakutan. Tanpa ia sadari ia kencing di celana karena saking takutnya. Para santri yang didera kemarahan meluap hendak menerobos masuk. Tapi Lurah Pondok menahan mereka dengan sekuat tenaga. Pak Kiai, pengasuh pesantren masuk dengan wajah dingin]]>
  </description>
  <published>2007</published>
</book>

    <rating>5</rating>
  <votes>1</votes>
  <spoiler_flag>false</spoiler_flag>
  <shelves>
        <shelf name="read" />
          </shelves>
  <recommended_for><![CDATA[]]></recommended_for>
  <recommended_by><![CDATA[]]></recommended_by>
  <read_at>Sun Jul 01 00:00:00 -0700 2007</read_at>
  <date_added>Mon Oct 01 19:41:45 -0700 2007</date_added>
  <date_updated>Mon Oct 01 19:42:34 -0700 2007</date_updated>
  <read_count></read_count>
    <body><![CDATA[bagus..banget......<br/>dibaca deh...ga akan rugi...]]></body>
    
  <url><![CDATA[http://www.goodreads.com/review/show/7119572]]></url>
  <link><![CDATA[http://www.goodreads.com/review/show/7119572]]></link>
</review>
      <review>
  <id>48953791</id>
    <user>
    <id>2109023</id>
    <name><![CDATA[Prince Manoharun]]></name>
    <location><![CDATA[Jakarta, 04, Indonesia]]></location>
    <link><![CDATA[http://www.goodreads.com/user/show/2109023-prince-manoharun]]></link>
    <image_url><![CDATA[http://photo.goodreads.com/users/1255913533p3/2109023.jpg]]></image_url>
    <small_image_url><![CDATA[http://photo.goodreads.com/users/1255913533p2/2109023.jpg]]></small_image_url>
  </user>
    <book>
  <id type="integer">1515615</id>
  <isbn nil="true"></isbn>
  <isbn13>9789793210940</isbn13>
  <text_reviews_count type="integer">72</text_reviews_count>
  <title>
    <![CDATA[Dalam Mihrab Cinta]]>
  </title>
  <image_url>http://photo.goodreads.com/books/1207805038m/1515615.jpg</image_url>
  <small_image_url>http://photo.goodreads.com/books/1207805038s/1515615.jpg</small_image_url>
  <link>http://www.goodreads.com/book/show/1515615.Dalam_Mihrab_Cinta</link>
  <average_rating>3.39</average_rating>
  <ratings_count>430</ratings_count>
  <description>
    <![CDATA[Siang itu, Pesantren Al Furqon yang terletak di daerah Pagu, Kediri, Jawa Timur geger. Pengurus Bagian Keamanan menyeret seorang santri yang diyakini mencuri. Beberapa orang santri terus menghajar santri berambut gondrong itu. Santri itu mengaduh dan minta ampun.<br/><br/>&quot;Ampun, tolong jangan pukul saya. Saya tidak mencuri!&quot; Santri yang mukanya sudah berdarah-darah itu mengiba.<br/>&quot;Ayo, mengaku. Kalau tidak kupecahkan kepalamu!&quot; Teriak seorang santri berkoplah hitam dengan wajah sangat geram.<br/>&quot;Sungguh, bukan saya pelakunya.&quot; Si Rambut Gondrong itu tetap tidak mau mengaku.<br/><br/>Serta merta dua bogem melayang ke wajahnya. &quot;Nich rasain pencuri!&quot; teriak Ketua Bagian Keamanan yang turut melayangkan pukulan. Si Rambut Gondrong mengaduh lalu pingsan.<br/><br/>Menjelang Ashar, si Rambut Gondrong siuman. Ia dikunci di gudang pesantren yang dijaga beberapa santri. Kedua tangan dan kakinya terikat. Airmatanya meleleh. Ia meratapi nasibnya. Seluruh tubuhnya sakit. Ia merasa kematian telah berada di depan mata.<br/><br/>Di luar gudang para santri ramai berkumpul. Mereka meneriakkan kemarahan dan kegeraman.<br/>&quot;Maling jangan diberi ampun!&quot;<br/>&quot;Hajar saja maling gondrong itu sampai mampus!&quot;<br/>&quot;Wong maling kok ngaku-ngaku santri. Ini kurang ajar. Tak bisa diampuni!&quot;<br/><br/>Ia menangis mendengar itu semua. Sepuluh menit kemudian pintu gudang terbuka. Ia sangat ketakutan. Tanpa ia sadari ia kencing di celana karena saking takutnya. Para santri yang didera kemarahan meluap hendak menerobos masuk. Tapi Lurah Pondok menahan mereka dengan sekuat tenaga. Pak Kiai, pengasuh pesantren masuk dengan wajah dingin]]>
  </description>
  <published>2007</published>
</book>

    <rating>3</rating>
  <votes>1</votes>
  <spoiler_flag>false</spoiler_flag>
  <shelves>
        <shelf name="read" />
            <shelf name="punya" />
      </shelves>
  <recommended_for><![CDATA[]]></recommended_for>
  <recommended_by><![CDATA[]]></recommended_by>
  <read_at></read_at>
  <date_added>Wed Mar 11 14:05:12 -0700 2009</date_added>
  <date_updated>Sat May 30 23:17:34 -0700 2009</date_updated>
  <read_count></read_count>
    <body><![CDATA[buku ni terdiri dari tiga cerita..<br/><br/>cerita pertama berjudul tentang Takbir Cinta Zahrana yang berkisah tentang pencarian calon suami yang tepat buat dirinya sendiri,Zahrana..setelah menolak beberapa kali lamaran akhirnya ia menemukan calon suami yang tepat bagi dirinya..namun sayang nasib ...<a href="http://www.goodreads.com/review/show/48953791">more...</a>]]></body>
    
  <url><![CDATA[http://www.goodreads.com/review/show/48953791]]></url>
  <link><![CDATA[http://www.goodreads.com/review/show/48953791]]></link>
</review>
      <review>
  <id>51562420</id>
    <user>
    <id>2191531</id>
    <name><![CDATA[Eiycha]]></name>
    <location><![CDATA[Kuala Terengganu, 13, Malaysia]]></location>
    <link><![CDATA[http://www.goodreads.com/user/show/2191531-eiycha]]></link>
    <image_url><![CDATA[http://www.goodreads.com/images/nophoto-U-111x148.jpg]]></image_url>
    <small_image_url><![CDATA[http://www.goodreads.com/images/nophoto-U-50x66.jpg]]></small_image_url>
  </user>
    <book>
  <id type="integer">1515615</id>
  <isbn nil="true"></isbn>
  <isbn13>9789793210940</isbn13>
  <text_reviews_count type="integer">72</text_reviews_count>
  <title>
    <![CDATA[Dalam Mihrab Cinta]]>
  </title>
  <image_url>http://photo.goodreads.com/books/1207805038m/1515615.jpg</image_url>
  <small_image_url>http://photo.goodreads.com/books/1207805038s/1515615.jpg</small_image_url>
  <link>http://www.goodreads.com/book/show/1515615.Dalam_Mihrab_Cinta</link>
  <average_rating>3.39</average_rating>
  <ratings_count>430</ratings_count>
  <description>
    <![CDATA[Siang itu, Pesantren Al Furqon yang terletak di daerah Pagu, Kediri, Jawa Timur geger. Pengurus Bagian Keamanan menyeret seorang santri yang diyakini mencuri. Beberapa orang santri terus menghajar santri berambut gondrong itu. Santri itu mengaduh dan minta ampun.<br/><br/>&quot;Ampun, tolong jangan pukul saya. Saya tidak mencuri!&quot; Santri yang mukanya sudah berdarah-darah itu mengiba.<br/>&quot;Ayo, mengaku. Kalau tidak kupecahkan kepalamu!&quot; Teriak seorang santri berkoplah hitam dengan wajah sangat geram.<br/>&quot;Sungguh, bukan saya pelakunya.&quot; Si Rambut Gondrong itu tetap tidak mau mengaku.<br/><br/>Serta merta dua bogem melayang ke wajahnya. &quot;Nich rasain pencuri!&quot; teriak Ketua Bagian Keamanan yang turut melayangkan pukulan. Si Rambut Gondrong mengaduh lalu pingsan.<br/><br/>Menjelang Ashar, si Rambut Gondrong siuman. Ia dikunci di gudang pesantren yang dijaga beberapa santri. Kedua tangan dan kakinya terikat. Airmatanya meleleh. Ia meratapi nasibnya. Seluruh tubuhnya sakit. Ia merasa kematian telah berada di depan mata.<br/><br/>Di luar gudang para santri ramai berkumpul. Mereka meneriakkan kemarahan dan kegeraman.<br/>&quot;Maling jangan diberi ampun!&quot;<br/>&quot;Hajar saja maling gondrong itu sampai mampus!&quot;<br/>&quot;Wong maling kok ngaku-ngaku santri. Ini kurang ajar. Tak bisa diampuni!&quot;<br/><br/>Ia menangis mendengar itu semua. Sepuluh menit kemudian pintu gudang terbuka. Ia sangat ketakutan. Tanpa ia sadari ia kencing di celana karena saking takutnya. Para santri yang didera kemarahan meluap hendak menerobos masuk. Tapi Lurah Pondok menahan mereka dengan sekuat tenaga. Pak Kiai, pengasuh pesantren masuk dengan wajah dingin]]>
  </description>
  <published>2007</published>
</book>

    <rating>5</rating>
  <votes>0</votes>
  <spoiler_flag>false</spoiler_flag>
  <shelves>
        <shelf name="read" />
          </shelves>
  <recommended_for><![CDATA[]]></recommended_for>
  <recommended_by><![CDATA[]]></recommended_by>
  <read_at>Thu Feb 05 00:00:00 -0800 2009</read_at>
  <date_added>Sun Apr 05 05:45:45 -0700 2009</date_added>
  <date_updated>Sun Apr 05 05:51:25 -0700 2009</date_updated>
  <read_count></read_count>
    <body><![CDATA[ini adalh buku pertama yang memperkenalkan dan membuatkan saya jatuh cinta pada novel2 berunsur keislaman dan pembangunan rohani.lantaran itu, saya menyelongkar gedung2 buku untuk tidak ketinggalan satu pun buku beliau. ]]></body>
    
  <url><![CDATA[http://www.goodreads.com/review/show/51562420]]></url>
  <link><![CDATA[http://www.goodreads.com/review/show/51562420]]></link>
</review>
      <review>
  <id>47765883</id>
    <user>
    <id>1809723</id>
    <name><![CDATA[Mutia]]></name>
    <location><![CDATA[Lovely Yogyakarta, Indonesia]]></location>
    <link><![CDATA[http://www.goodreads.com/user/show/1809723-mutia]]></link>
    <image_url><![CDATA[http://photo.goodreads.com/users/1248074000p3/1809723.jpg]]></image_url>
    <small_image_url><![CDATA[http://photo.goodreads.com/users/1248074000p2/1809723.jpg]]></small_image_url>
  </user>
    <book>
  <id type="integer">1515615</id>
  <isbn nil="true"></isbn>
  <isbn13>9789793210940</isbn13>
  <text_reviews_count type="integer">72</text_reviews_count>
  <title>
    <![CDATA[Dalam Mihrab Cinta]]>
  </title>
  <image_url>http://photo.goodreads.com/books/1207805038m/1515615.jpg</image_url>
  <small_image_url>http://photo.goodreads.com/books/1207805038s/1515615.jpg</small_image_url>
  <link>http://www.goodreads.com/book/show/1515615.Dalam_Mihrab_Cinta</link>
  <average_rating>3.39</average_rating>
  <ratings_count>430</ratings_count>
  <description>
    <![CDATA[Siang itu, Pesantren Al Furqon yang terletak di daerah Pagu, Kediri, Jawa Timur geger. Pengurus Bagian Keamanan menyeret seorang santri yang diyakini mencuri. Beberapa orang santri terus menghajar santri berambut gondrong itu. Santri itu mengaduh dan minta ampun.<br/><br/>&quot;Ampun, tolong jangan pukul saya. Saya tidak mencuri!&quot; Santri yang mukanya sudah berdarah-darah itu mengiba.<br/>&quot;Ayo, mengaku. Kalau tidak kupecahkan kepalamu!&quot; Teriak seorang santri berkoplah hitam dengan wajah sangat geram.<br/>&quot;Sungguh, bukan saya pelakunya.&quot; Si Rambut Gondrong itu tetap tidak mau mengaku.<br/><br/>Serta merta dua bogem melayang ke wajahnya. &quot;Nich rasain pencuri!&quot; teriak Ketua Bagian Keamanan yang turut melayangkan pukulan. Si Rambut Gondrong mengaduh lalu pingsan.<br/><br/>Menjelang Ashar, si Rambut Gondrong siuman. Ia dikunci di gudang pesantren yang dijaga beberapa santri. Kedua tangan dan kakinya terikat. Airmatanya meleleh. Ia meratapi nasibnya. Seluruh tubuhnya sakit. Ia merasa kematian telah berada di depan mata.<br/><br/>Di luar gudang para santri ramai berkumpul. Mereka meneriakkan kemarahan dan kegeraman.<br/>&quot;Maling jangan diberi ampun!&quot;<br/>&quot;Hajar saja maling gondrong itu sampai mampus!&quot;<br/>&quot;Wong maling kok ngaku-ngaku santri. Ini kurang ajar. Tak bisa diampuni!&quot;<br/><br/>Ia menangis mendengar itu semua. Sepuluh menit kemudian pintu gudang terbuka. Ia sangat ketakutan. Tanpa ia sadari ia kencing di celana karena saking takutnya. Para santri yang didera kemarahan meluap hendak menerobos masuk. Tapi Lurah Pondok menahan mereka dengan sekuat tenaga. Pak Kiai, pengasuh pesantren masuk dengan wajah dingin]]>
  </description>
  <published>2007</published>
</book>

    <rating>4</rating>
  <votes>0</votes>
  <spoiler_flag>false</spoiler_flag>
  <shelves>
        <shelf name="read" />
          </shelves>
  <recommended_for><![CDATA[]]></recommended_for>
  <recommended_by><![CDATA[]]></recommended_by>
  <read_at></read_at>
  <date_added>Fri Feb 27 23:22:01 -0800 2009</date_added>
  <date_updated>Fri Feb 27 23:23:32 -0800 2009</date_updated>
  <read_count></read_count>
    <body><![CDATA[Subhanallah buku ini snagat pandai memainkan emosi para pembacanya, alur yang menarik dan ngga' ngebosenin tapi tetep sarat akan makna kehidupn. semoga kedepannya makin banyak buku2 semcam ini. amiiin....]]></body>
    
  <url><![CDATA[http://www.goodreads.com/review/show/47765883]]></url>
  <link><![CDATA[http://www.goodreads.com/review/show/47765883]]></link>
</review>
      <review>
  <id>24868177</id>
    <user>
    <id>546894</id>
    <name><![CDATA[Ahmad]]></name>
    <location><![CDATA[jakarta, Indonesia]]></location>
    <link><![CDATA[http://www.goodreads.com/user/show/546894-ahmad]]></link>
    <image_url><![CDATA[http://photo.goodreads.com/users/1255159671p3/546894.jpg]]></image_url>
    <small_image_url><![CDATA[http://photo.goodreads.com/users/1255159671p2/546894.jpg]]></small_image_url>
  </user>
    <book>
  <id type="integer">1515615</id>
  <isbn nil="true"></isbn>
  <isbn13>9789793210940</isbn13>
  <text_reviews_count type="integer">72</text_reviews_count>
  <title>
    <![CDATA[Dalam Mihrab Cinta]]>
  </title>
  <image_url>http://photo.goodreads.com/books/1207805038m/1515615.jpg</image_url>
  <small_image_url>http://photo.goodreads.com/books/1207805038s/1515615.jpg</small_image_url>
  <link>http://www.goodreads.com/book/show/1515615.Dalam_Mihrab_Cinta</link>
  <average_rating>3.39</average_rating>
  <ratings_count>430</ratings_count>
  <description>
    <![CDATA[Siang itu, Pesantren Al Furqon yang terletak di daerah Pagu, Kediri, Jawa Timur geger. Pengurus Bagian Keamanan menyeret seorang santri yang diyakini mencuri. Beberapa orang santri terus menghajar santri berambut gondrong itu. Santri itu mengaduh dan minta ampun.<br/><br/>&quot;Ampun, tolong jangan pukul saya. Saya tidak mencuri!&quot; Santri yang mukanya sudah berdarah-darah itu mengiba.<br/>&quot;Ayo, mengaku. Kalau tidak kupecahkan kepalamu!&quot; Teriak seorang santri berkoplah hitam dengan wajah sangat geram.<br/>&quot;Sungguh, bukan saya pelakunya.&quot; Si Rambut Gondrong itu tetap tidak mau mengaku.<br/><br/>Serta merta dua bogem melayang ke wajahnya. &quot;Nich rasain pencuri!&quot; teriak Ketua Bagian Keamanan yang turut melayangkan pukulan. Si Rambut Gondrong mengaduh lalu pingsan.<br/><br/>Menjelang Ashar, si Rambut Gondrong siuman. Ia dikunci di gudang pesantren yang dijaga beberapa santri. Kedua tangan dan kakinya terikat. Airmatanya meleleh. Ia meratapi nasibnya. Seluruh tubuhnya sakit. Ia merasa kematian telah berada di depan mata.<br/><br/>Di luar gudang para santri ramai berkumpul. Mereka meneriakkan kemarahan dan kegeraman.<br/>&quot;Maling jangan diberi ampun!&quot;<br/>&quot;Hajar saja maling gondrong itu sampai mampus!&quot;<br/>&quot;Wong maling kok ngaku-ngaku santri. Ini kurang ajar. Tak bisa diampuni!&quot;<br/><br/>Ia menangis mendengar itu semua. Sepuluh menit kemudian pintu gudang terbuka. Ia sangat ketakutan. Tanpa ia sadari ia kencing di celana karena saking takutnya. Para santri yang didera kemarahan meluap hendak menerobos masuk. Tapi Lurah Pondok menahan mereka dengan sekuat tenaga. Pak Kiai, pengasuh pesantren masuk dengan wajah dingin]]>
  </description>
  <published>2007</published>
</book>

    <rating>3</rating>
  <votes>0</votes>
  <spoiler_flag>false</spoiler_flag>
  <shelves>
        <shelf name="read" />
          </shelves>
  <recommended_for><![CDATA[]]></recommended_for>
  <recommended_by><![CDATA[]]></recommended_by>
  <read_at></read_at>
  <date_added>Wed Jun 18 21:33:00 -0700 2008</date_added>
  <date_updated>Wed Jun 18 21:38:17 -0700 2008</date_updated>
  <read_count></read_count>
    <body><![CDATA[Buku ini khas Kang Abik. Tokoh protagonis menjadi &quot;pahlawan&quot;-nya dengan segala keberuntungannya plus khutbah di mana-mana. Kalau berharap tulisan Kang Abik menjadi lebih realistis dan implisif dalam menyampaikan pesan, mungkin memang salah alamat. Sejatinya, Kang Abik memang tepat dalam po...<a href="http://www.goodreads.com/review/show/24868177">more...</a>]]></body>
    
  <url><![CDATA[http://www.goodreads.com/review/show/24868177]]></url>
  <link><![CDATA[http://www.goodreads.com/review/show/24868177]]></link>
</review>
      <review>
  <id>29108913</id>
    <user>
    <id>1330683</id>
    <name><![CDATA[iyan]]></name>
    <location><![CDATA[SemaranK, Indonesia]]></location>
    <link><![CDATA[http://www.goodreads.com/user/show/1330683-iyan-dhiannia]]></link>
    <image_url><![CDATA[http://photo.goodreads.com/users/1226998987p3/1330683.jpg]]></image_url>
    <small_image_url><![CDATA[http://photo.goodreads.com/users/1226998987p2/1330683.jpg]]></small_image_url>
  </user>
    <book>
  <id type="integer">1515615</id>
  <isbn nil="true"></isbn>
  <isbn13>9789793210940</isbn13>
  <text_reviews_count type="integer">72</text_reviews_count>
  <title>
    <![CDATA[Dalam Mihrab Cinta]]>
  </title>
  <image_url>http://photo.goodreads.com/books/1207805038m/1515615.jpg</image_url>
  <small_image_url>http://photo.goodreads.com/books/1207805038s/1515615.jpg</small_image_url>
  <link>http://www.goodreads.com/book/show/1515615.Dalam_Mihrab_Cinta</link>
  <average_rating>3.39</average_rating>
  <ratings_count>430</ratings_count>
  <description>
    <![CDATA[Siang itu, Pesantren Al Furqon yang terletak di daerah Pagu, Kediri, Jawa Timur geger. Pengurus Bagian Keamanan menyeret seorang santri yang diyakini mencuri. Beberapa orang santri terus menghajar santri berambut gondrong itu. Santri itu mengaduh dan minta ampun.<br/><br/>&quot;Ampun, tolong jangan pukul saya. Saya tidak mencuri!&quot; Santri yang mukanya sudah berdarah-darah itu mengiba.<br/>&quot;Ayo, mengaku. Kalau tidak kupecahkan kepalamu!&quot; Teriak seorang santri berkoplah hitam dengan wajah sangat geram.<br/>&quot;Sungguh, bukan saya pelakunya.&quot; Si Rambut Gondrong itu tetap tidak mau mengaku.<br/><br/>Serta merta dua bogem melayang ke wajahnya. &quot;Nich rasain pencuri!&quot; teriak Ketua Bagian Keamanan yang turut melayangkan pukulan. Si Rambut Gondrong mengaduh lalu pingsan.<br/><br/>Menjelang Ashar, si Rambut Gondrong siuman. Ia dikunci di gudang pesantren yang dijaga beberapa santri. Kedua tangan dan kakinya terikat. Airmatanya meleleh. Ia meratapi nasibnya. Seluruh tubuhnya sakit. Ia merasa kematian telah berada di depan mata.<br/><br/>Di luar gudang para santri ramai berkumpul. Mereka meneriakkan kemarahan dan kegeraman.<br/>&quot;Maling jangan diberi ampun!&quot;<br/>&quot;Hajar saja maling gondrong itu sampai mampus!&quot;<br/>&quot;Wong maling kok ngaku-ngaku santri. Ini kurang ajar. Tak bisa diampuni!&quot;<br/><br/>Ia menangis mendengar itu semua. Sepuluh menit kemudian pintu gudang terbuka. Ia sangat ketakutan. Tanpa ia sadari ia kencing di celana karena saking takutnya. Para santri yang didera kemarahan meluap hendak menerobos masuk. Tapi Lurah Pondok menahan mereka dengan sekuat tenaga. Pak Kiai, pengasuh pesantren masuk dengan wajah dingin]]>
  </description>
  <published>2007</published>
</book>

    <rating>3</rating>
  <votes>0</votes>
  <spoiler_flag>false</spoiler_flag>
  <shelves>
        <shelf name="read" />
          </shelves>
  <recommended_for><![CDATA[]]></recommended_for>
  <recommended_by><![CDATA[]]></recommended_by>
  <read_at>Thu Sep 04 00:16:10 -0700 2008</read_at>
  <date_added>Sun Aug 03 02:00:15 -0700 2008</date_added>
  <date_updated>Thu Sep 04 00:16:10 -0700 2008</date_updated>
  <read_count></read_count>
    <body><![CDATA[hmm nhe ada 3 cerita, yang pertama ngisahin ketakutan seorng wanta yang dah dewasa but belum nikah&quot; juga...baca cerita nhe jadi nambahin ketakutan tntng masalah itu lho tapi tetep da hikmahna sabar, n semua sudah di gariskan ma ALLAH SWT, asalkn semua kita serahkan padaNya Insya ALLAH kita khan...<a href="http://www.goodreads.com/review/show/29108913">more...</a>]]></body>
    
  <url><![CDATA[http://www.goodreads.com/review/show/29108913]]></url>
  <link><![CDATA[http://www.goodreads.com/review/show/29108913]]></link>
</review>
      <review>
  <id>42031745</id>
    <user>
    <id>1815300</id>
    <name><![CDATA[Hergycah]]></name>
    <location><![CDATA[Indonesia]]></location>
    <link><![CDATA[http://www.goodreads.com/user/show/1815300-hergycah]]></link>
    <image_url><![CDATA[http://photo.goodreads.com/users/1229655850p3/1815300.jpg]]></image_url>
    <small_image_url><![CDATA[http://photo.goodreads.com/users/1229655850p2/1815300.jpg]]></small_image_url>
  </user>
    <book>
  <id type="integer">1515615</id>
  <isbn nil="true"></isbn>
  <isbn13>9789793210940</isbn13>
  <text_reviews_count type="integer">72</text_reviews_count>
  <title>
    <![CDATA[Dalam Mihrab Cinta]]>
  </title>
  <image_url>http://photo.goodreads.com/books/1207805038m/1515615.jpg</image_url>
  <small_image_url>http://photo.goodreads.com/books/1207805038s/1515615.jpg</small_image_url>
  <link>http://www.goodreads.com/book/show/1515615.Dalam_Mihrab_Cinta</link>
  <average_rating>3.39</average_rating>
  <ratings_count>430</ratings_count>
  <description>
    <![CDATA[Siang itu, Pesantren Al Furqon yang terletak di daerah Pagu, Kediri, Jawa Timur geger. Pengurus Bagian Keamanan menyeret seorang santri yang diyakini mencuri. Beberapa orang santri terus menghajar santri berambut gondrong itu. Santri itu mengaduh dan minta ampun.<br/><br/>&quot;Ampun, tolong jangan pukul saya. Saya tidak mencuri!&quot; Santri yang mukanya sudah berdarah-darah itu mengiba.<br/>&quot;Ayo, mengaku. Kalau tidak kupecahkan kepalamu!&quot; Teriak seorang santri berkoplah hitam dengan wajah sangat geram.<br/>&quot;Sungguh, bukan saya pelakunya.&quot; Si Rambut Gondrong itu tetap tidak mau mengaku.<br/><br/>Serta merta dua bogem melayang ke wajahnya. &quot;Nich rasain pencuri!&quot; teriak Ketua Bagian Keamanan yang turut melayangkan pukulan. Si Rambut Gondrong mengaduh lalu pingsan.<br/><br/>Menjelang Ashar, si Rambut Gondrong siuman. Ia dikunci di gudang pesantren yang dijaga beberapa santri. Kedua tangan dan kakinya terikat. Airmatanya meleleh. Ia meratapi nasibnya. Seluruh tubuhnya sakit. Ia merasa kematian telah berada di depan mata.<br/><br/>Di luar gudang para santri ramai berkumpul. Mereka meneriakkan kemarahan dan kegeraman.<br/>&quot;Maling jangan diberi ampun!&quot;<br/>&quot;Hajar saja maling gondrong itu sampai mampus!&quot;<br/>&quot;Wong maling kok ngaku-ngaku santri. Ini kurang ajar. Tak bisa diampuni!&quot;<br/><br/>Ia menangis mendengar itu semua. Sepuluh menit kemudian pintu gudang terbuka. Ia sangat ketakutan. Tanpa ia sadari ia kencing di celana karena saking takutnya. Para santri yang didera kemarahan meluap hendak menerobos masuk. Tapi Lurah Pondok menahan mereka dengan sekuat tenaga. Pak Kiai, pengasuh pesantren masuk dengan wajah dingin]]>
  </description>
  <published>2007</published>
</book>

    <rating>4</rating>
  <votes>0</votes>
  <spoiler_flag>false</spoiler_flag>
  <shelves>
        <shelf name="read" />
          </shelves>
  <recommended_for><![CDATA[]]></recommended_for>
  <recommended_by><![CDATA[]]></recommended_by>
  <read_at></read_at>
  <date_added>Mon Jan 05 18:01:55 -0800 2009</date_added>
  <date_updated>Mon Jan 05 18:02:28 -0800 2009</date_updated>
  <read_count></read_count>
    <body><![CDATA[tak sabar menanti lanjutan &quot;dalam mihrob cinta&quot;]]></body>
    
  <url><![CDATA[http://www.goodreads.com/review/show/42031745]]></url>
  <link><![CDATA[http://www.goodreads.com/review/show/42031745]]></link>
</review>
      <review>
  <id>40065820</id>
    <user>
    <id>1801842</id>
    <name><![CDATA[Imanda]]></name>
    <location><![CDATA[Indonesia]]></location>
    <link><![CDATA[http://www.goodreads.com/user/show/1801842-imanda]]></link>
    <image_url><![CDATA[http://photo.goodreads.com/users/1229265567p3/1801842.jpg]]></image_url>
    <small_image_url><![CDATA[http://photo.goodreads.com/users/1229265567p2/1801842.jpg]]></small_image_url>
  </user>
    <book>
  <id type="integer">1515615</id>
  <isbn nil="true"></isbn>
  <isbn13>9789793210940</isbn13>
  <text_reviews_count type="integer">72</text_reviews_count>
  <title>
    <![CDATA[Dalam Mihrab Cinta]]>
  </title>
  <image_url>http://photo.goodreads.com/books/1207805038m/1515615.jpg</image_url>
  <small_image_url>http://photo.goodreads.com/books/1207805038s/1515615.jpg</small_image_url>
  <link>http://www.goodreads.com/book/show/1515615.Dalam_Mihrab_Cinta</link>
  <average_rating>3.39</average_rating>
  <ratings_count>430</ratings_count>
  <description>
    <![CDATA[Siang itu, Pesantren Al Furqon yang terletak di daerah Pagu, Kediri, Jawa Timur geger. Pengurus Bagian Keamanan menyeret seorang santri yang diyakini mencuri. Beberapa orang santri terus menghajar santri berambut gondrong itu. Santri itu mengaduh dan minta ampun.<br/><br/>&quot;Ampun, tolong jangan pukul saya. Saya tidak mencuri!&quot; Santri yang mukanya sudah berdarah-darah itu mengiba.<br/>&quot;Ayo, mengaku. Kalau tidak kupecahkan kepalamu!&quot; Teriak seorang santri berkoplah hitam dengan wajah sangat geram.<br/>&quot;Sungguh, bukan saya pelakunya.&quot; Si Rambut Gondrong itu tetap tidak mau mengaku.<br/><br/>Serta merta dua bogem melayang ke wajahnya. &quot;Nich rasain pencuri!&quot; teriak Ketua Bagian Keamanan yang turut melayangkan pukulan. Si Rambut Gondrong mengaduh lalu pingsan.<br/><br/>Menjelang Ashar, si Rambut Gondrong siuman. Ia dikunci di gudang pesantren yang dijaga beberapa santri. Kedua tangan dan kakinya terikat. Airmatanya meleleh. Ia meratapi nasibnya. Seluruh tubuhnya sakit. Ia merasa kematian telah berada di depan mata.<br/><br/>Di luar gudang para santri ramai berkumpul. Mereka meneriakkan kemarahan dan kegeraman.<br/>&quot;Maling jangan diberi ampun!&quot;<br/>&quot;Hajar saja maling gondrong itu sampai mampus!&quot;<br/>&quot;Wong maling kok ngaku-ngaku santri. Ini kurang ajar. Tak bisa diampuni!&quot;<br/><br/>Ia menangis mendengar itu semua. Sepuluh menit kemudian pintu gudang terbuka. Ia sangat ketakutan. Tanpa ia sadari ia kencing di celana karena saking takutnya. Para santri yang didera kemarahan meluap hendak menerobos masuk. Tapi Lurah Pondok menahan mereka dengan sekuat tenaga. Pak Kiai, pengasuh pesantren masuk dengan wajah dingin]]>
  </description>
  <published>2007</published>
</book>

    <rating>5</rating>
  <votes>0</votes>
  <spoiler_flag>false</spoiler_flag>
  <shelves>
        <shelf name="read" />
          </shelves>
  <recommended_for><![CDATA[]]></recommended_for>
  <recommended_by><![CDATA[]]></recommended_by>
  <read_at>Fri Jun 01 00:00:00 -0700 2007</read_at>
  <date_added>Sun Dec 14 06:36:32 -0800 2008</date_added>
  <date_updated>Sun Dec 14 06:37:37 -0800 2008</date_updated>
  <read_count></read_count>
    <body><![CDATA[buku yang aku dapat dari temen2ku...menarik..]]></body>
    
  <url><![CDATA[http://www.goodreads.com/review/show/40065820]]></url>
  <link><![CDATA[http://www.goodreads.com/review/show/40065820]]></link>
</review>
      <review>
  <id>9591187</id>
    <user>
    <id>322862</id>
    <name><![CDATA[Lily]]></name>
    <location><![CDATA[depok, Indonesia]]></location>
    <link><![CDATA[http://www.goodreads.com/user/show/322862-lily]]></link>
    <image_url><![CDATA[http://photo.goodreads.com/users/1229400378p3/322862.jpg]]></image_url>
    <small_image_url><![CDATA[http://photo.goodreads.com/users/1229400378p2/322862.jpg]]></small_image_url>
  </user>
    <book>
  <id type="integer">1515615</id>
  <isbn nil="true"></isbn>
  <isbn13>9789793210940</isbn13>
  <text_reviews_count type="integer">72</text_reviews_count>
  <title>
    <![CDATA[Dalam Mihrab Cinta]]>
  </title>
  <image_url>http://photo.goodreads.com/books/1207805038m/1515615.jpg</image_url>
  <small_image_url>http://photo.goodreads.com/books/1207805038s/1515615.jpg</small_image_url>
  <link>http://www.goodreads.com/book/show/1515615.Dalam_Mihrab_Cinta</link>
  <average_rating>3.39</average_rating>
  <ratings_count>430</ratings_count>
  <description>
    <![CDATA[Siang itu, Pesantren Al Furqon yang terletak di daerah Pagu, Kediri, Jawa Timur geger. Pengurus Bagian Keamanan menyeret seorang santri yang diyakini mencuri. Beberapa orang santri terus menghajar santri berambut gondrong itu. Santri itu mengaduh dan minta ampun.<br/><br/>&quot;Ampun, tolong jangan pukul saya. Saya tidak mencuri!&quot; Santri yang mukanya sudah berdarah-darah itu mengiba.<br/>&quot;Ayo, mengaku. Kalau tidak kupecahkan kepalamu!&quot; Teriak seorang santri berkoplah hitam dengan wajah sangat geram.<br/>&quot;Sungguh, bukan saya pelakunya.&quot; Si Rambut Gondrong itu tetap tidak mau mengaku.<br/><br/>Serta merta dua bogem melayang ke wajahnya. &quot;Nich rasain pencuri!&quot; teriak Ketua Bagian Keamanan yang turut melayangkan pukulan. Si Rambut Gondrong mengaduh lalu pingsan.<br/><br/>Menjelang Ashar, si Rambut Gondrong siuman. Ia dikunci di gudang pesantren yang dijaga beberapa santri. Kedua tangan dan kakinya terikat. Airmatanya meleleh. Ia meratapi nasibnya. Seluruh tubuhnya sakit. Ia merasa kematian telah berada di depan mata.<br/><br/>Di luar gudang para santri ramai berkumpul. Mereka meneriakkan kemarahan dan kegeraman.<br/>&quot;Maling jangan diberi ampun!&quot;<br/>&quot;Hajar saja maling gondrong itu sampai mampus!&quot;<br/>&quot;Wong maling kok ngaku-ngaku santri. Ini kurang ajar. Tak bisa diampuni!&quot;<br/><br/>Ia menangis mendengar itu semua. Sepuluh menit kemudian pintu gudang terbuka. Ia sangat ketakutan. Tanpa ia sadari ia kencing di celana karena saking takutnya. Para santri yang didera kemarahan meluap hendak menerobos masuk. Tapi Lurah Pondok menahan mereka dengan sekuat tenaga. Pak Kiai, pengasuh pesantren masuk dengan wajah dingin]]>
  </description>
  <published>2007</published>
</book>

    <rating>4</rating>
  <votes>1</votes>
  <spoiler_flag>false</spoiler_flag>
  <shelves>
        <shelf name="read" />
            <shelf name="inspiration" />
      </shelves>
  <recommended_for><![CDATA[]]></recommended_for>
  <recommended_by><![CDATA[]]></recommended_by>
  <read_at></read_at>
  <date_added>Mon Nov 26 23:48:50 -0800 2007</date_added>
  <date_updated>Tue Dec 11 22:17:02 -0800 2007</date_updated>
  <read_count></read_count>
    <body><![CDATA[bagus juga<br/>walau yang diambil sebagai judul ternyata cerita kedua<br/>dan sayangnya masih bersambung pula<br/>cerita pertama soal wanita yang lebih mementingkan pendidikan dan karir daripada jodoh tapi tetap percaya bahwa walau umur sudah semakin tua, kriteria jodoh tetap nggak bisa sembarang...<a href="http://www.goodreads.com/review/show/9591187">more...</a>]]></body>
    
  <url><![CDATA[http://www.goodreads.com/review/show/9591187]]></url>
  <link><![CDATA[http://www.goodreads.com/review/show/9591187]]></link>
</review>
      <review>
  <id>6810246</id>
    <user>
    <id>411228</id>
    <name><![CDATA[Diky]]></name>
    <location><![CDATA[Thailand]]></location>
    <link><![CDATA[http://www.goodreads.com/user/show/411228-diky]]></link>
    <image_url><![CDATA[http://www.goodreads.com/images/nophoto-U-111x148.jpg]]></image_url>
    <small_image_url><![CDATA[http://www.goodreads.com/images/nophoto-U-50x66.jpg]]></small_image_url>
  </user>
    <book>
  <id type="integer">1515615</id>
  <isbn nil="true"></isbn>
  <isbn13>9789793210940</isbn13>
  <text_reviews_count type="integer">72</text_reviews_count>
  <title>
    <![CDATA[Dalam Mihrab Cinta]]>
  </title>
  <image_url>http://photo.goodreads.com/books/1207805038m/1515615.jpg</image_url>
  <small_image_url>http://photo.goodreads.com/books/1207805038s/1515615.jpg</small_image_url>
  <link>http://www.goodreads.com/book/show/1515615.Dalam_Mihrab_Cinta</link>
  <average_rating>3.39</average_rating>
  <ratings_count>430</ratings_count>
  <description>
    <![CDATA[Siang itu, Pesantren Al Furqon yang terletak di daerah Pagu, Kediri, Jawa Timur geger. Pengurus Bagian Keamanan menyeret seorang santri yang diyakini mencuri. Beberapa orang santri terus menghajar santri berambut gondrong itu. Santri itu mengaduh dan minta ampun.<br/><br/>&quot;Ampun, tolong jangan pukul saya. Saya tidak mencuri!&quot; Santri yang mukanya sudah berdarah-darah itu mengiba.<br/>&quot;Ayo, mengaku. Kalau tidak kupecahkan kepalamu!&quot; Teriak seorang santri berkoplah hitam dengan wajah sangat geram.<br/>&quot;Sungguh, bukan saya pelakunya.&quot; Si Rambut Gondrong itu tetap tidak mau mengaku.<br/><br/>Serta merta dua bogem melayang ke wajahnya. &quot;Nich rasain pencuri!&quot; teriak Ketua Bagian Keamanan yang turut melayangkan pukulan. Si Rambut Gondrong mengaduh lalu pingsan.<br/><br/>Menjelang Ashar, si Rambut Gondrong siuman. Ia dikunci di gudang pesantren yang dijaga beberapa santri. Kedua tangan dan kakinya terikat. Airmatanya meleleh. Ia meratapi nasibnya. Seluruh tubuhnya sakit. Ia merasa kematian telah berada di depan mata.<br/><br/>Di luar gudang para santri ramai berkumpul. Mereka meneriakkan kemarahan dan kegeraman.<br/>&quot;Maling jangan diberi ampun!&quot;<br/>&quot;Hajar saja maling gondrong itu sampai mampus!&quot;<br/>&quot;Wong maling kok ngaku-ngaku santri. Ini kurang ajar. Tak bisa diampuni!&quot;<br/><br/>Ia menangis mendengar itu semua. Sepuluh menit kemudian pintu gudang terbuka. Ia sangat ketakutan. Tanpa ia sadari ia kencing di celana karena saking takutnya. Para santri yang didera kemarahan meluap hendak menerobos masuk. Tapi Lurah Pondok menahan mereka dengan sekuat tenaga. Pak Kiai, pengasuh pesantren masuk dengan wajah dingin]]>
  </description>
  <published>2007</published>
</book>

    <rating>5</rating>
  <votes>0</votes>
  <spoiler_flag>false</spoiler_flag>
  <shelves>
        <shelf name="read" />
          </shelves>
  <recommended_for><![CDATA[]]></recommended_for>
  <recommended_by><![CDATA[]]></recommended_by>
  <read_at>Fri Jun 01 00:00:00 -0700 2007</read_at>
  <date_added>Tue Sep 25 21:47:15 -0700 2007</date_added>
  <date_updated>Tue Sep 25 21:53:38 -0700 2007</date_updated>
  <read_count></read_count>
    <body><![CDATA[Novel ini boleh dikatakan yg paling realistik di antara karya-karya Habiburahman El Shirazy. Mungkin pengarang banyak menerima kritik dari novel2 sebelumnya yg seperti cerita2 di negeri awan. <br/><br/>Di dalam novel ini ada beberapa cerita yang saling lepas. Bersetting di Indonesia, konfliknya ju...<a href="http://www.goodreads.com/review/show/6810246">more...</a>]]></body>
    
  <url><![CDATA[http://www.goodreads.com/review/show/6810246]]></url>
  <link><![CDATA[http://www.goodreads.com/review/show/6810246]]></link>
</review>
      <review>
  <id>45330244</id>
    <user>
    <id>1992827</id>
    <name><![CDATA[Nong]]></name>
    <location><![CDATA[Tangerang, 30, Indonesia]]></location>
    <link><![CDATA[http://www.goodreads.com/user/show/1992827-nong]]></link>
    <image_url><![CDATA[http://www.goodreads.com/images/nophoto-U-111x148.jpg]]></image_url>
    <small_image_url><![CDATA[http://www.goodreads.com/images/nophoto-U-50x66.jpg]]></small_image_url>
  </user>
    <book>
  <id type="integer">1515615</id>
  <isbn nil="true"></isbn>
  <isbn13>9789793210940</isbn13>
  <text_reviews_count type="integer">72</text_reviews_count>
  <title>
    <![CDATA[Dalam Mihrab Cinta]]>
  </title>
  <image_url>http://photo.goodreads.com/books/1207805038m/1515615.jpg</image_url>
  <small_image_url>http://photo.goodreads.com/books/1207805038s/1515615.jpg</small_image_url>
  <link>http://www.goodreads.com/book/show/1515615.Dalam_Mihrab_Cinta</link>
  <average_rating>3.39</average_rating>
  <ratings_count>430</ratings_count>
  <description>
    <![CDATA[Siang itu, Pesantren Al Furqon yang terletak di daerah Pagu, Kediri, Jawa Timur geger. Pengurus Bagian Keamanan menyeret seorang santri yang diyakini mencuri. Beberapa orang santri terus menghajar santri berambut gondrong itu. Santri itu mengaduh dan minta ampun.<br/><br/>&quot;Ampun, tolong jangan pukul saya. Saya tidak mencuri!&quot; Santri yang mukanya sudah berdarah-darah itu mengiba.<br/>&quot;Ayo, mengaku. Kalau tidak kupecahkan kepalamu!&quot; Teriak seorang santri berkoplah hitam dengan wajah sangat geram.<br/>&quot;Sungguh, bukan saya pelakunya.&quot; Si Rambut Gondrong itu tetap tidak mau mengaku.<br/><br/>Serta merta dua bogem melayang ke wajahnya. &quot;Nich rasain pencuri!&quot; teriak Ketua Bagian Keamanan yang turut melayangkan pukulan. Si Rambut Gondrong mengaduh lalu pingsan.<br/><br/>Menjelang Ashar, si Rambut Gondrong siuman. Ia dikunci di gudang pesantren yang dijaga beberapa santri. Kedua tangan dan kakinya terikat. Airmatanya meleleh. Ia meratapi nasibnya. Seluruh tubuhnya sakit. Ia merasa kematian telah berada di depan mata.<br/><br/>Di luar gudang para santri ramai berkumpul. Mereka meneriakkan kemarahan dan kegeraman.<br/>&quot;Maling jangan diberi ampun!&quot;<br/>&quot;Hajar saja maling gondrong itu sampai mampus!&quot;<br/>&quot;Wong maling kok ngaku-ngaku santri. Ini kurang ajar. Tak bisa diampuni!&quot;<br/><br/>Ia menangis mendengar itu semua. Sepuluh menit kemudian pintu gudang terbuka. Ia sangat ketakutan. Tanpa ia sadari ia kencing di celana karena saking takutnya. Para santri yang didera kemarahan meluap hendak menerobos masuk. Tapi Lurah Pondok menahan mereka dengan sekuat tenaga. Pak Kiai, pengasuh pesantren masuk dengan wajah dingin]]>
  </description>
  <published>2007</published>
</book>

    <rating>0</rating>
  <votes>0</votes>
  <spoiler_flag>false</spoiler_flag>
  <shelves>
        <shelf name="read" />
          </shelves>
  <recommended_for><![CDATA[]]></recommended_for>
  <recommended_by><![CDATA[]]></recommended_by>
  <read_at></read_at>
  <date_added>Tue Feb 03 23:13:17 -0800 2009</date_added>
  <date_updated>Tue Feb 03 23:13:26 -0800 2009</date_updated>
  <read_count></read_count>
    <body><![CDATA[Subhanallaah]]></body>
    
  <url><![CDATA[http://www.goodreads.com/review/show/45330244]]></url>
  <link><![CDATA[http://www.goodreads.com/review/show/45330244]]></link>
</review>
      <review>
  <id>68855330</id>
    <user>
    <id>2665175</id>
    <name><![CDATA[Wardatul]]></name>
    <location><![CDATA[Pearl Island, 14, Malaysia]]></location>
    <link><![CDATA[http://www.goodreads.com/user/show/2665175-wardatul-humaira]]></link>
    <image_url><![CDATA[http://photo.goodreads.com/users/1251230742p3/2665175.jpg]]></image_url>
    <small_image_url><![CDATA[http://photo.goodreads.com/users/1251230742p2/2665175.jpg]]></small_image_url>
  </user>
    <book>
  <id type="integer">1515615</id>
  <isbn nil="true"></isbn>
  <isbn13>9789793210940</isbn13>
  <text_reviews_count type="integer">72</text_reviews_count>
  <title>
    <![CDATA[Dalam Mihrab Cinta]]>
  </title>
  <image_url>http://photo.goodreads.com/books/1207805038m/1515615.jpg</image_url>
  <small_image_url>http://photo.goodreads.com/books/1207805038s/1515615.jpg</small_image_url>
  <link>http://www.goodreads.com/book/show/1515615.Dalam_Mihrab_Cinta</link>
  <average_rating>3.39</average_rating>
  <ratings_count>430</ratings_count>
  <description>
    <![CDATA[Siang itu, Pesantren Al Furqon yang terletak di daerah Pagu, Kediri, Jawa Timur geger. Pengurus Bagian Keamanan menyeret seorang santri yang diyakini mencuri. Beberapa orang santri terus menghajar santri berambut gondrong itu. Santri itu mengaduh dan minta ampun.<br/><br/>&quot;Ampun, tolong jangan pukul saya. Saya tidak mencuri!&quot; Santri yang mukanya sudah berdarah-darah itu mengiba.<br/>&quot;Ayo, mengaku. Kalau tidak kupecahkan kepalamu!&quot; Teriak seorang santri berkoplah hitam dengan wajah sangat geram.<br/>&quot;Sungguh, bukan saya pelakunya.&quot; Si Rambut Gondrong itu tetap tidak mau mengaku.<br/><br/>Serta merta dua bogem melayang ke wajahnya. &quot;Nich rasain pencuri!&quot; teriak Ketua Bagian Keamanan yang turut melayangkan pukulan. Si Rambut Gondrong mengaduh lalu pingsan.<br/><br/>Menjelang Ashar, si Rambut Gondrong siuman. Ia dikunci di gudang pesantren yang dijaga beberapa santri. Kedua tangan dan kakinya terikat. Airmatanya meleleh. Ia meratapi nasibnya. Seluruh tubuhnya sakit. Ia merasa kematian telah berada di depan mata.<br/><br/>Di luar gudang para santri ramai berkumpul. Mereka meneriakkan kemarahan dan kegeraman.<br/>&quot;Maling jangan diberi ampun!&quot;<br/>&quot;Hajar saja maling gondrong itu sampai mampus!&quot;<br/>&quot;Wong maling kok ngaku-ngaku santri. Ini kurang ajar. Tak bisa diampuni!&quot;<br/><br/>Ia menangis mendengar itu semua. Sepuluh menit kemudian pintu gudang terbuka. Ia sangat ketakutan. Tanpa ia sadari ia kencing di celana karena saking takutnya. Para santri yang didera kemarahan meluap hendak menerobos masuk. Tapi Lurah Pondok menahan mereka dengan sekuat tenaga. Pak Kiai, pengasuh pesantren masuk dengan wajah dingin]]>
  </description>
  <published>2007</published>
</book>

    <rating>0</rating>
  <votes>0</votes>
  <spoiler_flag>false</spoiler_flag>
  <shelves>
        <shelf name="read" />
          </shelves>
  <recommended_for><![CDATA[]]></recommended_for>
  <recommended_by><![CDATA[]]></recommended_by>
  <read_at></read_at>
  <date_added>Tue Aug 25 13:18:02 -0700 2009</date_added>
  <date_updated>Tue Aug 25 13:18:19 -0700 2009</date_updated>
  <read_count></read_count>
    <body><![CDATA[On da Procces..]]></body>
    
  <url><![CDATA[http://www.goodreads.com/review/show/68855330]]></url>
  <link><![CDATA[http://www.goodreads.com/review/show/68855330]]></link>
</review>
      <review>
  <id>57338045</id>
    <user>
    <id>2354283</id>
    <name><![CDATA[Fujie]]></name>
    <location><![CDATA[Santa Clara, CA]]></location>
    <link><![CDATA[http://www.goodreads.com/user/show/2354283-fujie]]></link>
    <image_url><![CDATA[http://www.goodreads.com/images/nophoto-U-111x148.jpg]]></image_url>
    <small_image_url><![CDATA[http://www.goodreads.com/images/nophoto-U-50x66.jpg]]></small_image_url>
  </user>
    <book>
  <id type="integer">1515615</id>
  <isbn nil="true"></isbn>
  <isbn13>9789793210940</isbn13>
  <text_reviews_count type="integer">72</text_reviews_count>
  <title>
    <![CDATA[Dalam Mihrab Cinta]]>
  </title>
  <image_url>http://photo.goodreads.com/books/1207805038m/1515615.jpg</image_url>
  <small_image_url>http://photo.goodreads.com/books/1207805038s/1515615.jpg</small_image_url>
  <link>http://www.goodreads.com/book/show/1515615.Dalam_Mihrab_Cinta</link>
  <average_rating>3.39</average_rating>
  <ratings_count>430</ratings_count>
  <description>
    <![CDATA[Siang itu, Pesantren Al Furqon yang terletak di daerah Pagu, Kediri, Jawa Timur geger. Pengurus Bagian Keamanan menyeret seorang santri yang diyakini mencuri. Beberapa orang santri terus menghajar santri berambut gondrong itu. Santri itu mengaduh dan minta ampun.<br/><br/>&quot;Ampun, tolong jangan pukul saya. Saya tidak mencuri!&quot; Santri yang mukanya sudah berdarah-darah itu mengiba.<br/>&quot;Ayo, mengaku. Kalau tidak kupecahkan kepalamu!&quot; Teriak seorang santri berkoplah hitam dengan wajah sangat geram.<br/>&quot;Sungguh, bukan saya pelakunya.&quot; Si Rambut Gondrong itu tetap tidak mau mengaku.<br/><br/>Serta merta dua bogem melayang ke wajahnya. &quot;Nich rasain pencuri!&quot; teriak Ketua Bagian Keamanan yang turut melayangkan pukulan. Si Rambut Gondrong mengaduh lalu pingsan.<br/><br/>Menjelang Ashar, si Rambut Gondrong siuman. Ia dikunci di gudang pesantren yang dijaga beberapa santri. Kedua tangan dan kakinya terikat. Airmatanya meleleh. Ia meratapi nasibnya. Seluruh tubuhnya sakit. Ia merasa kematian telah berada di depan mata.<br/><br/>Di luar gudang para santri ramai berkumpul. Mereka meneriakkan kemarahan dan kegeraman.<br/>&quot;Maling jangan diberi ampun!&quot;<br/>&quot;Hajar saja maling gondrong itu sampai mampus!&quot;<br/>&quot;Wong maling kok ngaku-ngaku santri. Ini kurang ajar. Tak bisa diampuni!&quot;<br/><br/>Ia menangis mendengar itu semua. Sepuluh menit kemudian pintu gudang terbuka. Ia sangat ketakutan. Tanpa ia sadari ia kencing di celana karena saking takutnya. Para santri yang didera kemarahan meluap hendak menerobos masuk. Tapi Lurah Pondok menahan mereka dengan sekuat tenaga. Pak Kiai, pengasuh pesantren masuk dengan wajah dingin]]>
  </description>
  <published>2007</published>
</book>

    <rating>4</rating>
  <votes>0</votes>
  <spoiler_flag>false</spoiler_flag>
  <shelves>
        <shelf name="read" />
          </shelves>
  <recommended_for><![CDATA[]]></recommended_for>
  <recommended_by><![CDATA[]]></recommended_by>
  <read_at>Tue Jan 01 00:00:00 -0800 2008</read_at>
  <date_added>Mon May 25 23:44:45 -0700 2009</date_added>
  <date_updated>Mon May 25 23:47:22 -0700 2009</date_updated>
  <read_count></read_count>
    <body><![CDATA[Nekatttzzzzz...]]></body>
    
  <url><![CDATA[http://www.goodreads.com/review/show/57338045]]></url>
  <link><![CDATA[http://www.goodreads.com/review/show/57338045]]></link>
</review>
      <review>
  <id>55499540</id>
    <user>
    <id>2302210</id>
    <name><![CDATA[Sandi]]></name>
    <location><![CDATA[Indonesia]]></location>
    <link><![CDATA[http://www.goodreads.com/user/show/2302210-sandi]]></link>
    <image_url><![CDATA[http://www.goodreads.com/images/nophoto-F-111x148.jpg]]></image_url>
    <small_image_url><![CDATA[http://www.goodreads.com/images/nophoto-F-50x66.jpg]]></small_image_url>
  </user>
    <book>
  <id type="integer">1515615</id>
  <isbn nil="true"></isbn>
  <isbn13>9789793210940</isbn13>
  <text_reviews_count type="integer">72</text_reviews_count>
  <title>
    <![CDATA[Dalam Mihrab Cinta]]>
  </title>
  <image_url>http://photo.goodreads.com/books/1207805038m/1515615.jpg</image_url>
  <small_image_url>http://photo.goodreads.com/books/1207805038s/1515615.jpg</small_image_url>
  <link>http://www.goodreads.com/book/show/1515615.Dalam_Mihrab_Cinta</link>
  <average_rating>3.39</average_rating>
  <ratings_count>430</ratings_count>
  <description>
    <![CDATA[Siang itu, Pesantren Al Furqon yang terletak di daerah Pagu, Kediri, Jawa Timur geger. Pengurus Bagian Keamanan menyeret seorang santri yang diyakini mencuri. Beberapa orang santri terus menghajar santri berambut gondrong itu. Santri itu mengaduh dan minta ampun.<br/><br/>&quot;Ampun, tolong jangan pukul saya. Saya tidak mencuri!&quot; Santri yang mukanya sudah berdarah-darah itu mengiba.<br/>&quot;Ayo, mengaku. Kalau tidak kupecahkan kepalamu!&quot; Teriak seorang santri berkoplah hitam dengan wajah sangat geram.<br/>&quot;Sungguh, bukan saya pelakunya.&quot; Si Rambut Gondrong itu tetap tidak mau mengaku.<br/><br/>Serta merta dua bogem melayang ke wajahnya. &quot;Nich rasain pencuri!&quot; teriak Ketua Bagian Keamanan yang turut melayangkan pukulan. Si Rambut Gondrong mengaduh lalu pingsan.<br/><br/>Menjelang Ashar, si Rambut Gondrong siuman. Ia dikunci di gudang pesantren yang dijaga beberapa santri. Kedua tangan dan kakinya terikat. Airmatanya meleleh. Ia meratapi nasibnya. Seluruh tubuhnya sakit. Ia merasa kematian telah berada di depan mata.<br/><br/>Di luar gudang para santri ramai berkumpul. Mereka meneriakkan kemarahan dan kegeraman.<br/>&quot;Maling jangan diberi ampun!&quot;<br/>&quot;Hajar saja maling gondrong itu sampai mampus!&quot;<br/>&quot;Wong maling kok ngaku-ngaku santri. Ini kurang ajar. Tak bisa diampuni!&quot;<br/><br/>Ia menangis mendengar itu semua. Sepuluh menit kemudian pintu gudang terbuka. Ia sangat ketakutan. Tanpa ia sadari ia kencing di celana karena saking takutnya. Para santri yang didera kemarahan meluap hendak menerobos masuk. Tapi Lurah Pondok menahan mereka dengan sekuat tenaga. Pak Kiai, pengasuh pesantren masuk dengan wajah dingin]]>
  </description>
  <published>2007</published>
</book>

    <rating>0</rating>
  <votes>0</votes>
  <spoiler_flag>false</spoiler_flag>
  <shelves>
        <shelf name="read" />
          </shelves>
  <recommended_for><![CDATA[]]></recommended_for>
  <recommended_by><![CDATA[]]></recommended_by>
  <read_at>Fri May 08 00:00:00 -0700 2009</read_at>
  <date_added>Sat May 09 13:33:30 -0700 2009</date_added>
  <date_updated>Sat May 09 13:34:32 -0700 2009</date_updated>
  <read_count></read_count>
    <body><![CDATA[kisah cinta]]></body>
    
  <url><![CDATA[http://www.goodreads.com/review/show/55499540]]></url>
  <link><![CDATA[http://www.goodreads.com/review/show/55499540]]></link>
</review>
      <review>
  <id>52064598</id>
    <user>
    <id>444625</id>
    <name><![CDATA[Rini]]></name>
    <location><![CDATA[jakarta, Indonesia]]></location>
    <link><![CDATA[http://www.goodreads.com/user/show/444625-rini]]></link>
    <image_url><![CDATA[http://www.goodreads.com/images/nophoto-M-111x148.jpg]]></image_url>
    <small_image_url><![CDATA[http://www.goodreads.com/images/nophoto-M-50x66.jpg]]></small_image_url>
  </user>
    <book>
  <id type="integer">1515615</id>
  <isbn nil="true"></isbn>
  <isbn13>9789793210940</isbn13>
  <text_reviews_count type="integer">72</text_reviews_count>
  <title>
    <![CDATA[Dalam Mihrab Cinta]]>
  </title>
  <image_url>http://photo.goodreads.com/books/1207805038m/1515615.jpg</image_url>
  <small_image_url>http://photo.goodreads.com/books/1207805038s/1515615.jpg</small_image_url>
  <link>http://www.goodreads.com/book/show/1515615.Dalam_Mihrab_Cinta</link>
  <average_rating>3.39</average_rating>
  <ratings_count>430</ratings_count>
  <description>
    <![CDATA[Siang itu, Pesantren Al Furqon yang terletak di daerah Pagu, Kediri, Jawa Timur geger. Pengurus Bagian Keamanan menyeret seorang santri yang diyakini mencuri. Beberapa orang santri terus menghajar santri berambut gondrong itu. Santri itu mengaduh dan minta ampun.<br/><br/>&quot;Ampun, tolong jangan pukul saya. Saya tidak mencuri!&quot; Santri yang mukanya sudah berdarah-darah itu mengiba.<br/>&quot;Ayo, mengaku. Kalau tidak kupecahkan kepalamu!&quot; Teriak seorang santri berkoplah hitam dengan wajah sangat geram.<br/>&quot;Sungguh, bukan saya pelakunya.&quot; Si Rambut Gondrong itu tetap tidak mau mengaku.<br/><br/>Serta merta dua bogem melayang ke wajahnya. &quot;Nich rasain pencuri!&quot; teriak Ketua Bagian Keamanan yang turut melayangkan pukulan. Si Rambut Gondrong mengaduh lalu pingsan.<br/><br/>Menjelang Ashar, si Rambut Gondrong siuman. Ia dikunci di gudang pesantren yang dijaga beberapa santri. Kedua tangan dan kakinya terikat. Airmatanya meleleh. Ia meratapi nasibnya. Seluruh tubuhnya sakit. Ia merasa kematian telah berada di depan mata.<br/><br/>Di luar gudang para santri ramai berkumpul. Mereka meneriakkan kemarahan dan kegeraman.<br/>&quot;Maling jangan diberi ampun!&quot;<br/>&quot;Hajar saja maling gondrong itu sampai mampus!&quot;<br/>&quot;Wong maling kok ngaku-ngaku santri. Ini kurang ajar. Tak bisa diampuni!&quot;<br/><br/>Ia menangis mendengar itu semua. Sepuluh menit kemudian pintu gudang terbuka. Ia sangat ketakutan. Tanpa ia sadari ia kencing di celana karena saking takutnya. Para santri yang didera kemarahan meluap hendak menerobos masuk. Tapi Lurah Pondok menahan mereka dengan sekuat tenaga. Pak Kiai, pengasuh pesantren masuk dengan wajah dingin]]>
  </description>
  <published>2007</published>
</book>

    <rating>0</rating>
  <votes>0</votes>
  <spoiler_flag>false</spoiler_flag>
  <shelves>
        <shelf name="read" />
          </shelves>
  <recommended_for><![CDATA[]]></recommended_for>
  <recommended_by><![CDATA[]]></recommended_by>
  <read_at>Sun Jun 10 00:00:00 -0700 2007</read_at>
  <date_added>Thu Apr 09 09:00:24 -0700 2009</date_added>
  <date_updated>Thu Apr 09 09:01:27 -0700 2009</date_updated>
  <read_count></read_count>
    <body><![CDATA[like it very much]]></body>
    
  <url><![CDATA[http://www.goodreads.com/review/show/52064598]]></url>
  <link><![CDATA[http://www.goodreads.com/review/show/52064598]]></link>
</review>
    </reviews>
  <popular_shelves>
          <shelf name="to-read" />
          <shelf name="novel" />
          <shelf name="currently-reading" />
          <shelf name="fiction" />
          <shelf name="indonesia" />
          <shelf name="sastra" />
          <shelf name="indonesian-novels" />
          <shelf name="islamic-fiction" />
          <shelf name="ebook" />
      </popular_shelves>
  <book_links>
    <book_link>
  <id>8</id>
  <name><![CDATA[WorldCat]]></name>
  <link>http://www.goodreads.com/book_link/follow/8?book_id=1515615</link>
</book_link>
  </book_links>
</book>
</GoodreadsResponse>