Goodreads helps you keep track of books you want to read.
Start by marking “Orang-orang Proyek” as Want to Read:
Orang-orang Proyek
Enlarge cover
Rate this book
Clear rating
Open Preview

Orang-orang Proyek

3.58 of 5 stars 3.58  ·  rating details  ·  326 ratings  ·  55 reviews
Aku insinyur. Aku tak bisa menguraikan dengan baik hubungan antara kejujuran dan kesungguhan dalam pembangunan proyek ini dengan keberpihakan kepada masyarakat miskin. Apakah yang pertama merupakan manifestasi yang kedua? Apakah kejujuran dan kesungguhan sejatinya adalah perkara biasa bagi masyarakat berbudaya, dan harus dipilih karena keduanya merupakan hal yang niscaya u ...more
Paperback, 224 pages
Published January 2007 by Gramedia Pustaka Utama (first published 2002)
more details... edit details

Friend Reviews

To see what your friends thought of this book, please sign up.

Reader Q&A

To ask other readers questions about Orang-orang Proyek, please sign up.

Be the first to ask a question about Orang-orang Proyek

Community Reviews

(showing 1-30 of 597)
filter  |  sort: default (?)  |  rating details
Endah
Dan ada cerita humor yang sangat populer tentang orang-orang proyek. Suatu saat di akhirat, penghuni neraka dan penghuni surga ingin saling kunjung. Maka penghuni kedua tempt itu sepakat membuat jembatan yang akan menghubungkan wilayah neraka dan wilayah surga. Bagian jembatan di wilayah neraka akan dibangun oleh orang neraka dan sebaliknya. Ternyata penghuni neraka lebih cepat menyelesaikan pekerjaannya darpada para penghuni surga. Dan ketika dicari sebabnya, ditemukan kenyataan di antara para ...more
Tezar Yulianto
Ir. Kabul, seorang insinyur sipil dan mantan aktivis kampus, mendapatkan tugas untuk mengawasi jalannya pembangunan sebuah jembatan di sungai Cibawor. Dengan latar awal tahun 1990-an, novel ini mengisahkan pertempuran antara idealisme hidup bersih melawan realisme korupsi yang marak di zaman orde baru. Di saat itu, sudah menjadi rahasia umum, bahwa di segala aspek kehidupan, Indonesia digerogoti jahatnya korupsi, kolusi dan nepotisme. Kejahatan ini mencuat dalam berbagai proyek, salah satunya pr ...more
Aveline Agrippina
Mereka yang sudah lama berkencan di dunia sastra tak akan asing lagi dengan seorang yang bernama Ahmad Tohari. Namanya bisa disejajarkan dengan Y.B. Mangunwijaya ataupun Arswendo Atmowiloto dalam soal menganyam kata. Dia berhasil meneribitkan trilogi Ronggeng Dukuh Paruk yang akhirnya mengangkat dirinya sebagai novelis yang patut diperhitungkan dalam wacana sastra Indonesia. Terkenal dengan permainan majasnya dalam setiap cerita dan kata-kata yang asing didengar oleh orang-orang.

Di dalam novelny
...more
Marina Zala
** Books 108 - 2014 **

Kabul belum beranjak. Matanya masih memandang jembatan baru itu dengan mata dan dengan hatinya. "Kamu tampak bagus dan gagah. Tapi proses pembangunanmu diselimuti ke-sontoloyo-an yang parah. Umurmu tak akan panjang dan anggaran pembangunanmu yg sebagian jadi bancakan akan menjadi beban masyarakat miskin" (Kabul, halaman 213)

"Mereka, orang2 proyek, baik dari pihak pemilik maupun pemborong, sama saja. Mereka tahu dan sadar akan kegilaan mereka. Dan tampaknya mereka tak perdul
...more
Bambang Rahmantyo

Saya sebenarnya bukan pembaca karya sastra indonesia yang bersemangat, cuma pernah baca sedikit sekali novel sastra. Eh, sebenarnya saya engga bisa membedakan mana yang karya sastra mana yang bukan sih, bisa ngomong novel ini karya sastra juga hanya berdasar dari label di barcode novelnya saja. Tapi secara umum bagi saya yang disebut karya sastra adalah karya yang ditulis dengan bahasa yang baku dan serius, membahas permasalahan yang aktual ataupun pemikiran kontemplatif mendalam, becanda pun de
...more
Michiyo 'jia' Fujiwara
Gelisah..
Adalah hal yang dirasakan oleh seorang mantan aktivis kampus..yang kini telah masuk dalam dunia realita sebagai seorang insinyur dalam proyek pembangunan jembatan Cibawor disebuah desa (mungkin di Tegal?)...Kabul nama pria itu, ia dihadapkan pada sebuah pilihan? Kejujuran dan kesungguhan dalam pembangunan proyek ini yang semuanya akan bermuara pada keberpihakan masyarakat miskin atau kompromi dengan atasannya termasuk juga kalangan birokrat yang berkuasa pada masa itu (tahun 1990-an) de
...more
Annisa M Zahro
"Permainan yang terjadi dalam proyek itu menuntut konsekuensi yang pelik. Mutu bangunan menjadi taruhannya, dan masyarakat kecillah yang akhirnya menjadi korban. Akankah Kabul bertahan pada idealismenya?

Kutipan sinopsis di atas berhasil menarik minat saya untuk membeli novel ini. Ya, novel ini memang tentang idealisme. Idealisme yang belum tentu semua orang bisa menjaganya. Bisa jadi seseorang semasa di kampus menjadi aktivis yang idealismenya begitu kuat, tapi begitu menginjakkan kaki di dunia
...more
Teguh Affandi
Kisah Kabul begitu dekat denganku, aku anak teknik, lantas kejadian2 di proyek pedesaan seperti kisah Kabul pernah kusaksikan sendiri. Saat pembangunan aliran irigasi di desaku puluhan tahun lalu, banyak penduduk desa yang diam-diam mengambili semen dan pasir (terutama pasir) dari jatah proyek.

Mengerikan!

Kabul insinyur sipil sedang mengerjakan proyek jembatan Sungai Cibawor. Dengan setting waktu 1991, dimana orba sedang menggurita, maka proyek jembatan Kabul menjadi bancakan oleh pemerintah, pa
...more
Ivan
Novel ini sebenernya ingin mengetengahkan persoalan idelisme seseorang ditengah realitas yang ada ditengah masyarakat.

Seting novel ini adalah pada zaman orde baru, dimana partai yang berkuasa pada saat itu adalah Partai Golkar. Partai yang pada novel ini di plesetkan dengan nama Partai Golongan Lestari Menang.

Dikisahkan seorang kepala proyek pengerjaan jembatan Desa Cibawor bernama Kabul yang menjadi tokoh sentral dalam cerita ini. Dia adalah mantan aktifis kampus. Alumni fakultas teknik sipil
...more
Ester Silitonga
Novel ini bercerita tentang pergumulan seorang insinyur bernama Kabul yang merupakan mantan aktivis. Bagaimana idealisme yang menjadi pedomannya dalam melakukan proyek jembatan di atas sungai Cibawor mengalami berbagai hambatan.

Ini pertama kali saya membaca karya dari Ahmad Tohari. Tema yang ia angkat bukanlah sesuatu yang romantis nan mendayu, namun ia menggunakan paduan kata yang dapat dinikmati dengan luwes dan mengena.

Cerita ini boleh saja berlatarkan masa orde baru, namun kisahnya masih re
...more
Nayli Fadhilah
"Kabul", tokoh utama dalam novel karya penulis legendaris Ahmad Tohari ini adalah seorang insinyur yang menjadi pemimpin pelaksanaan proyek pembuatan jemabatan besar.
Semula, pembangunan jemabatan terlaksana lancar. Tapi kemudian mulai timbul kecurangan-kecurangan orang-orang pemerintah dan orang-orang partai yang justru bersnang-senang menggunakan anggaran proyek jembatan. Hal ini dirasakan Kabul sebagai ujian baginya. Ia berusaha mempertahankan keprofesionalnnya di tengah penyelewengan yang di
...more
cindy
yg menarik dr novel ini menurutku adalah melihat bgmn jiwa2 idealisme muda seperti kabul dan basar, tergerus arus budaya korupsi yg masif dan sistematis. sebagian akan berkompromi, sebagian lagi akan patah... sebagian lagi terbawa arus *seperti pimpro dalminto yg kemana-mana naik motor hd*

aku suka muatan ceritanya, tapi tidak terlalu suka gaya penceritaannya yg terlalu menggurui, terlalu banyak menceramahi, terlalu.... orba.
Zaldi
Berseting waktu tahun 90an, buku ini mengajak melihat dari dekat carut marut negeri kita, budaya korup, feodalisme baru, penyeragaman, rekayasa, munafik yang semuanya dibungkus dalam retorika pembangunan.
dengan menyindir partai politik terbesar (mungkin terakus) pada saat rezim orba berkuasa, dikala makna kedaulatan rakyat sudah dijungkirbalikkan.

ketika tokoh utama dalam cerita ini, Kabul, dihadapkan pada "permainan"
kekuasaaan dan politik dalam proyek, sanggupkah ia bertahan pada idealismenya?

Se
...more
Mohammad Furqon
ini novel ahmad tohari ke 2 yang saya baca setelah Ronggeng Dukuh Paruk. Tidak banyak perbedaan yang eksentrik. dengan gaya penuturan jujur, ke-desa-an, beliau mencoba mengeksplorasi kekayaan desa, mencoba mengingatkan kita kembali pada desa. Orde baru dan desa, dua formula kuat yang coba di ekstrak ahmad tohari dalam dua novel yang pernah saya baca. menarik.
Achie
satu lagi buku dari ahmad tohari,,
gw baca buku ini setelah baca ronggeng dukuh paruk,,
sama-sama bercerita tentang orang desa, tapi yang ini sukses 'bertahan' di kota modern di era orde baru..
ahmad tohari seperti protes terhadap orde baru di novel ini,,
tokoh utamanya adalah pegawai di instansi kontraktor,,(entah swasta ato PNS) yang sedang membangun proyek jembatan. Dimana almarhum Bapak Orde Baru waktu itu kebetulan juga sering dikenal Bapak Pembangunan..
sangat memotret orde baru yang waktu itu
...more
Ramaditya
Kabul sang Insinyur adalah kepala proyek pembuatan jembatan, sebuah hal yang diimpikannya ketika masih menjadi mahasiswa dahulu yaitu mengamalkan ilmunya dengan membuat jembatan yang berguna bagi masyarakat banyak.
sayang realita tidak seindah yang dia bayangkan di lapangan dia melihat betapa proyek jembatan tersebut menjadi bancakan orang orang di sekitarnya dari mulai buruh-buruh dan mandor yang korupsi kecil kecilan sampai banyaknya pemotongan pemotongan yang dilakukan oleh penguasa.
Idealismen
...more
Reza Sanusi
[OOT] Kadang menurut saya, mempelajari sejarah terasa lebih jujur dari novel2 sastra yang saya baca daripada literatur atau textbook.

Seperti tengah berbicara dengan saksi hidup.

Novel ini seharusnya bisa menjelma menjadi sebuah tamparan bagi orang-orang yang berpikir...
Fhia
Nemu buku ini seharga 10.000 di obral gramed. #bahagiaitusederhana
Tema cerita yang simpel dibumbui dengan kisah cinta yang sederhana namun penuh makna.
Adek
Novel ini menggugah moral, menampar realitas yang sering saya singgahi. Ketika kenyataan yang terpampang begitu suram untuk diberi pengertian tentang baik dan buruk. Adalah Kabul yang memberontak di mana jiwanya terpanggil untuk tetap menjalankan proyek jembatan sesuai prosedur dan standardisasi bahan dan mutu menurut ilmu teknik sipil yang ditamatkannya, di sisi lain, ada kepentingan politis yang menggerus.

Di tengah konflik kepentingan itu, melalui Pak Tarya, Biyung, dan Basar-teman sesama mant
...more
Sylvia Margaretta
Mungkin karena saya sendiri adalah orang yang bekerja bersama dengan "orang-orang proyek", jadi novel ini hanya sebagai visualisasi dari apa yang terjadi di sekeliling saya. Namun, saya tetap menyukai novel ini, karena ke-khas-an Ahmad Toharinya. Seakan-akan kita dijebak masuk ke dalam kepelikan proyek Kabul-Dalkijo-Bashar, disuruh merasakan langsung ketenangan Pak Tanar, ikut dalam kisah percintaan Kabul-Wati-Yos, dan yang tidak pernah luput adalah selalu dibawa ke dalam suasana pedesaan yang k ...more
Luthfi
Dec 27, 2007 Luthfi added it
Novel yang bagus..Kritik Sosialnya sangat kentara...mencerminkan kerakter penulisnya yang teguh. Di dalamnya juga materi intelektualnya, agama, cinta, etc. Pokoe membaca novel ini jadi tau kedok buruk di balik Orang-Orang Proyek. membaca buku ini semakin membuat mata terbuka, bahwa dunia sudah semakin tua, ditandai semakin rusaknya akhlak manusia...! Kejam juga ya orang-orang proyek yang digambarkan oleh Novel ini...Pantesan, gedung-gedung di Indonesia tidak terlihat kokoh, bahkan sangat rapuh, ...more
winda
Ketika kejujuran dianggap sebagai suatu hal yang tak biasa dan kecurangan merupakan hal yang wajar.

Kutipan dari buku ini:

"...Kemiskinan terkait erat dengan struktur maupun kultur masyarakat, menghilangkannya harus melibatkan semua orang dalam semangat setia kawan yang tinggi."

"Apakah kejujuran yang sering minta dibuktikan dengan kesahajaan sama dengan mempertahankan kemelaratan? Ah, tidak. Pasti tidak. Banyak orang memilih cara hidup bersahaja dan mereka sangat kaya akan rasa kaya. Atau hati dan
...more
Siengkangmua
idealisme vs. pragmatisme
Buqu Indonesia
Buku Ahmad Tohari saya yang pertama.

Sebelumnya saya membaca ronggeng dukuh paruk namun hanya sekilas. Sejak saat itu saya ingin baca karya Tohari dan Orang-Orang Proyek adalah yang pertama.

Ceritanya tenntang seorang kontraktor yang ditugaskan untuk membangun jembatan. Namun banyak halangan, dari partai yang ingin kualitas jembatan dari material yang murah.

Overall sangat bagus, menceritakan kehidupan sosial rakyat pedesaan. Gampang dimengerti dan ceritanya mengalir.

Recommended
yoppy obot
Feb 07, 2008 yoppy obot rated it 3 of 5 stars
Recommends it for: koruptor, tukang insinyur, orang beriman,
Shelves: indonesia
Asiknya buku ini adalah ketidakberpihakannya, orang beriman dan koruptor sama-sama dikritik. Figur utama dalam buku ini mungkin terasa khayal tapi percayalah orang-orang macam itu ada. Kalimat dalam buku ini berbobot, hadir dari pengetahuan yang luas, tanpa bergenit dengan catatan kaki, jelas bukan untuk pamer bobot isi otak, tapi demi menghadirkan wawasan.

Mungkin bukan buku terbaik dari AT, tapi aku gembira buku ini lahir. Semoga sempat dibaca khalayak luas.
Nings
Jan 20, 2008 Nings rated it 4 of 5 stars
Recommends it for: friends
Topiknya biasa aja, tentang pembangunan jembatan yang tidak sesuai standard mutu karena kepentingan politik yang bermain disana. Benar2 realita nyata di Indonesia. Membaca buku ini membuat gw mengerti arti sebuah proyek bagi si pemimpin proyek, bagi kuli2-nya, bagi si penjual warung, bagi elit politik "pengeruk keuntungan" bahkan bagi banci seperti Tante Ana. Buku ini wajib dibaca oleh orang2 yang ingin mengenal "kebobrokan" bangsa ini. :)
Winarni
Sebuah cerita yang menggambarkan keadaan proyek pembangunan jembatan dengan latar belakang waktu tahun 90-an. Kental akan kritik sosial. Penulis mampu memperlihatkan dan membuka mata tentang arti sebuah proyek dan campur tangan pejabat yang bisa menyebabkan proyek hanya berorientasi "proyek" dan menguntungkan orang-orang tentu.
Sayang, akhir cerita terlalu "aman" sehingga tidak meninggalkan kesan di akhirnya.
Ummi Maya
lugas, sederhana dan mengena bahkan walaupun lewat puluhan tahun cocok dengan keadaan saat ini.
Banyaknya proyek jembatan yang tidak bertahan lama karena proyeknya di buat Bancakan oleh Orang-orang Proyek. jadii inget peristiwa ambruknya jembatan Kukar, Tenggarong. apakah Jembatan itu juga di jadikan Bancakan oleh pemerintah sehingga belum 2 tahun sudah AMBRUK.

Buku yang wajib di baca!!!! seru!!!
devie
sebenere ndak sengaja nemu novel ini. waktu itu lagi nyari Ronggeng Dukuh Paruknya, eh malah ketemu ma ini.

tapi cakep juga ni buku. ceritanya membumi dan sangat Indonesia menurut saya.

bercerita soal konflik batin Insinyur Idealis dengan keadaan "proyek" di Indonesia. you know lah, gimana para pemborong dan birokrasi daerah kalo melihat "proyek". :D

(full review in progress)
pratanti
Buku ini menceritakan kehidupan orang-orang proyek pada era Orde Baru, juga berisi kritik sosial yang disampaikan secara santun, tidak blak-blakan. Untuk saat ini, setelah satu dekade lebih masuk ke era baru, kelihatannya cerita ini jadi kurang begitu menggigit. Namun dalam menggambarkan situasi serta kehidupan di jaman awal tahun 90-an, Ahmad Tohari layak mendapat acungan jempol.
« previous 1 3 4 5 6 7 8 9 19 20 next »
There are no discussion topics on this book yet. Be the first to start one »
  • Biola Tak Berdawai
  • Bukan Pasarmalam
  • Burung-Burung Manyar
  • Tanah Tabu
  • Entrok
  • Kau Memanggilku Malaikat
  • Anak Bajang Menggiring Angin
  • Ca Bau Kan: Hanya Sebuah Dosa
  • Cantik itu Luka
  • Tarian Bumi
  • Khotbah di Atas Bukit
  • Olenka
624095
Ahmad Tohari is Indonesia well-knowned writer who can picture a typical village scenery very well in his writings. He has been everywhere, writings for magazines. He attended Fellowship International Writers Program at Iowa, United State on 1990 and received Southeast Asian Writers Award on 1995.

His famous works are trilogy of Srintil, a traditional dancer (ronggeng) of Paruk Village: "Ronggeng Du
...more
More about Ahmad Tohari...
Ronggeng Dukuh Paruk (Dukuh Paruk, buku 1 - 3) Lintang Kemukus Dini Hari (Dukuh Paruk, #2) Bekisar Merah (Bekisar Merah, #1) Jantera Bianglala (Dukuh Paruk, #3) Ronggeng Dukuh Paruk (Dukuh Paruk, #1)

Share This Book

“Karena saat ini banyak perwira yang ora merwirani lagi. Yang saya maksud dengan perwira adalah parawira, yaitu orang-orang yang tidak merasa kehilangan apapun ketika bersikap hormat dan peduli kepada orang lain. Orang-orang yang tidak merasa rendah ketika meninggikan harkat dan martabat orang lain. Mereka adalah orang-orang yang malu ketika merasa dirinya lebih penting daripada orang lain siapapun orang lain itu.” 14 likes
More quotes…