Goodreads helps you keep track of books you want to read.
Start by marking “Catatan Seorang Demonstran” as Want to Read:
Catatan Seorang Demonstran
Enlarge cover
Rate this book
Clear rating
Open Preview

Catatan Seorang Demonstran

4.08  ·  Rating Details ·  3,120 Ratings  ·  301 Reviews
Buku yang berisi pemikiran - pemikiran (alm.) Soe Hok Gie, mahasiswa Jurusan Sejarah FSUI. Disusun lewat pengumpulan karya - karya tulisan Gie, baik di jurnal hariannya, maupun dari tulisan - tulisannya di koran nasional.
menarik untuk dibaca. terlebih lagi lewat penggambarannya sebagai mahasiswa pada era orde lama, Gie dapat membawa kita menyelami kehidupan rakyat Indonesi
...more
Paperback, 415 pages
Published June 2005 by Pustaka LP3ES Indonesia (first published May 1983)
More Details... edit details

Friend Reviews

To see what your friends thought of this book, please sign up.

Reader Q&A

To ask other readers questions about Catatan Seorang Demonstran, please sign up.

Popular Answered Questions

Vla Sibarani Disini untuk melihat re-view para orang yang sudah membacanya. Bukan baca online. Terima kasih.

Community Reviews

(showing 1-30)
filter  |  sort: default (?)  |  Rating Details
Gogor
Aug 02, 2007 Gogor added it
lebih baik diasingkan daripada menyerah pada kemunafikan!
guru bukan dewa, dan murid bukan kerbau !!
Ahmad Jumaili
“Guru yang tak tahan kritik boleh masuk keranjang sampah. Guru bukan Dewa dan selalu benar, dan murid bukan kerbau.”

“Nasib terbaik adalah tidak dilahirkan, yang kedua dilahirkan tapi mati muda, dan yang tersial adalah umur tua. Rasa-rasanya memang begitu. Bahagialah mereka yang mati muda.”

“Saya memutuskan bahwa saya akan bertahan dengan prinsip-prinsip saya. Lebih baik diasingkan daripada menyerah terhadap kemunafikan.”

“Mimpi saya yang terbesar, yang ingin saya laksanakan adalah, agar mahasiswa
...more
Vetri
Aug 22, 2007 Vetri rated it really liked it  ·  review of another edition
'...keberuntungan yang pertama adalah tidak dilahirkan, yang kedua adalah mati muda....'

'...semua perjuangan yang kita lakukan ini sia-sia, tapi kita harus tetap berjuang...'
(maaf kalau salah kutip, bukunya sudah tak di tangan lagi)

Gie memang tokoh yang mampu menginspirasi dengan idealisme-idealismenya. Tapi kesan yang saya tangkap di buku ini, diumurnya yang masih muda Gie menjadi seorang yang 'sinis' dan 'gelisah' terhadap dunia (atau skeptis ya? maaf saya belum bisa menemukan kata2 yang tepa
...more
Anne
Jun 30, 2007 Anne rated it it was amazing  ·  review of another edition
Untuk sebuah diary non fiksi, ini salah satu buku terbaik yang pernah kubaca. Well, yang pasti aku kagum dengan kecerdasannyannya, pemikiran2nya, ide2 yang terbersit di benaknya, kecintaannya pada orang2 di sekelilingnya, keperduliannya pada lingkungan di sekitarnya. Bisa dibilang, aku jatuh cinta kepada pria yang satu ini meskipun dia sudah berpulang ke alam baka ;D

Aku tergila-gila dengan puisinya yang ditujukan pada salah satu wanita yang sering disebut2 dalam diarynya itu:

"...aku ingin mati
...more
Ndari
Mar 18, 2011 Ndari rated it it was amazing
Saya sudah jadi fans Soe Hok Gie sejak saya masih kelas 1 SMP. Saya masih ingat dulu saya mulai jatuh cinta pada sosoknya ketika Papa memutar film Gie di ruang keluarga. Meski di tengah film Papa akhirnya jatuh tertidur, saya tetap lanjut menonton tanpa bergeming. :)

Masih lekat pula di ingatan saya ketika dulu saya disuruh untuk membuat biografi tokoh yang dikagumi, dan saya menulis biografi Soe Hok Gie. Ketika itu hanya saya dan dua teman saya yang lain yang mengumpulkan tugas, jadi makalah say
...more
nanto
Buku ini mengingatkan saya sama Mas Anto. Mahasiswa sejarah yang sosoknya kecil berkacamata. Wajahnya menipu dibalik angkatanya yang lima tahun di atas saya. Lewat dia saya pinjam buku ini, dan banyak buku sejarah lain. Senior yang tidak canggung bergaul dengan anak baru secara wajah dia malah disangka anak SMA. Curaaaang!!!

Mas Anto yang pertama kali cerita soal warna-warni dunia aktifisme kampus dulu. Dia sendiri pernah dituduh sebagai penganut kejawen sewaktu mau mencalonkan diri jadi pejabat
...more
Antariksa Akhmadi
Jun 07, 2013 Antariksa Akhmadi rated it liked it
Apa yang ada di benak seorang demonstran? Itu pertanyaan yang saya ajukan sebelum membaca buku ini. Selama ini, dalam hemat saya, demonstrasi hanya tindakan sia-sia yang merusak dan tak jarang berbuntut perkara. Apa pikiran yang melandasi tindakan konfrontatif para mahasiswa? Cara terbaik untuk mengenal pemikiran seseorang adalah dengan membaca tulisannya. Oleh karena itu saya mencoba menemukan jawabannya di sini.
Agak kecewa sebenarnya saat saya menemukan bahwa buku ini bukanlah sepenuhnya "cata
...more
Glenn Ardi
Saya pertama kali membaca buku ini, saya betul-betul dibuat malu oleh sosok Soe Hok Gie. Malu karena dalam catatan harian ini saya melihat potret anak muda yang kurang lebih punya latar belakang keluarga dan lingkungan yang mirip dengan saya. Tapi pada tahun 50an, ketika Gie masih duduk di bangku SMA, dia sudah membaca dan memahami begitu banyak buku sastra, filsafat, dan sejarah kelas dunia. Sementara waktu itu saya malah sibuk asik main dotA setiap hari, hahaha...

Soe Hok Gie adalah sosok legen
...more
Muhammad Aprianto Ramadhan
Jul 04, 2010 Muhammad Aprianto Ramadhan rated it it was amazing
Mungkin banyak orang menyesal kenapa catatan hidup Soe Hok-gie harus difilmkan. Tapi jika film itu tidak pernah ada, entah kapan saya bisa mengetahui sosok mahasiswa Indonesia yang satu ini. Ya, berkat promosi film GIE di media, rakyat Indonesia menemukan kembali Soe Hok-gie, setidaknya dalam karakter yang diperankan Nicholas Saputra. Saya pribadi jadi penasaran dan bersemangat mencari buku ini sampai ke Bandung (waktu itu saya masih tinggal di Bengkulu).
Beruntung Hok-gie waktu itu memulai catat
...more
Rhea
Buku ini akan membawa kita lebih dekat dengan seorang pemuda aktivis yang sangat berpengaruh dijamannya. Banyaknya typo yang bertebaran dalam buku ini tidak mengurangi keinginan saya untuk terus membacanya. Buku ini banyak menambah pengetahuan saya mengenai situasi politik yang terjadi pada saat itu.

Kebenaran hanya ada di langit dan dunia hanyalah palsu dan palsu.

Gie, sosok pemuda intelektual yang sangat kritis.
Di masa mudanya, dia sudah mempunyai pikiran yang kritis yang sangat jarang ditemui
...more
Harun Harahap
Akhirnya saya berkenalan juga dengan sosok Soe Hok Gie. Seorang pemuda yang masih bisa dibilang remaja tapi pemikirannya sungguh luar biasa. Kini mungkin akan sangat jarang jika kita mencari pemuda yang mempunyai pola pikir seperti beliau. Seorang Gie sedari kecil sudah membaca karya sastra Tagore dan lain-lain. Di usia SMA, sudah terlihat karakternya yang kuat dan tajam melihat posisi tanah air yang ia pijak. Pemikiran yang luar biasa dituliskan pada catatan hariannya yang bukan sekedar cuma ce ...more
Bambang
Dec 28, 2011 Bambang rated it really liked it
Buku ini seharusnya dapat membakar semangat para mahasiswa untuk menjadi yang sebagaimana seharusnya. Mahasiswa harus berfikir kreatif, berwawasan luas, humanis, dan berani mengambil resiko untuk sebuah kebenaran. Di buku ini diceritakan juga romantisme yang dia alami sebagai remaja, pengalamannya naik gunung, dan pengalamannya ke Amerika.

Di usianya yg tidak panjang, 27 tahun kurang 1 hari, Soe Hok Gie telah sukses membekaskan nama dan perjuangannya dalam sejarah perjalanan hidup teman-temannya,
...more
Randy Yan
Feb 04, 2013 Randy Yan rated it liked it
Luar biasa semangat yang dibawa Gie lewat tulisan-tulisannya. Benar-benar menunjukkan bahwa dia adalah orang yang idealis dan susah untuk diajak kompromi. Banyak nilai-nilai yang dapat diambil dari kehidupannya. Mungkin bagi banyak pemuda yang membaca buku pasti akan salut dengan idealis dan perjuangannya.
Tapi, disayangkan ada hal-hal yang tidak bisa dicontoh dari dia. Kurangnya sikap kritis (critical thinking) dia pada suatu hal hingga membuat dia menjadi seperti "buta". Contoh ada isu atau ka
...more
Budhi Prihanto
Sep 29, 2014 Budhi Prihanto rated it it was amazing  ·  review of another edition
Shelves: favorites
“Saya dilahirkan pada tanggal 17 Desember 1942 ketika perang tengah berkecamuk di Pasifik…” Sebuah catatan pada tahun 1957 tercipta dari tangan seorang generasi Indonesia keturunan Cina. Namanya Soe Hok Gie. Seseorang yang hidup pada era orde lama yang selanjutnya menjadi salah satu tokoh penting dalam pergerakan perubahan yang terjadi di Indonesia saat itu.

Gie yang selanjutnya menjadi pemuda yang gusar dalam perasaan dan pemikirannya yang terus bertumbuh lalu mencurahkan ide – ide, pemikirann
...more
Arief Bakhtiar D.
Jul 16, 2014 Arief Bakhtiar D. rated it it was amazing
SILENUS

MEMBACA Soe Hok Gie berarti melihat kepada seseorang yang berani berkata “Tidak!” dalam kelam yang tidak tahu kapan selesai. Sebab, catatan harian Soe Hok Gie di tahun-tahun setelah merdeka adalah catatan masa ini yang tak lelah berharap: tentang idealisme yang didesak untuk teguh, tetap, tanpa rasa takut.

Tentu saya tak mengerti benar bagaimana tanah air pascakemerdekaan. Tapi Soe Hok Gie menulis: di suatu siang, di ibukota, pada 10 Desember 1959, Gie bertemu dengan seseorang yang tengah
...more
Yuu Sasih
Review lebih lengkap di blog saya.

Sebenarnya sudah beberapa kali saya menamatkan buku ini, tapi selalu lupa saya buat reviewnya karena selalu merasa belum-belum selesai baca. haha. Hari ini akhirnya buku ini kembali saya baca saat mengerjakan submisi esai untuk suatu lomba.

Pertama kali beli buku ini di toko buku dekat kampus di tahun pertama perkuliahan saya. Di kampus saya Soe Hok Gie itu semacam legenda. (halah) Sebelumnya saya sama sekali tidak pernah mendengar tentangnya. Baru ketika menjadi
...more
Ayu Welirang
Saya melewatkan beberapa fase tanggal dalam buku harian Gie, karena bagi saya, beliau membahas hal yang sama, yang itu-itu saja. Ini agaknya membuat saya sedikit bosan, karena harus membaca penuturan Gie yang berulang. Saya malah sedemikian cepatnya membuka bagian-bagian yang perlu saja, agar tak kehilangan alur sebenarnya dari kisah Gie. Jika saya terpaku pada tanggal dan catatan hariannya secara keseluruhan, saya malah tak yakin kalau akan menemukan alur kisah dalam catatan harian Gie.

Gie mema
...more
Doofenshmirtz
Jul 07, 2009 Doofenshmirtz rated it liked it
Shelves: nonfiction, indo
Buku ini sedikit mengingatkan saya akan buku harian Anne Frank. Mula-mula Soe Hok Gie menulis sebagai seorang anak lima belas tahun, gaya tulisnya masih berantakan dan catatan hariannya pun bercerita seputar dunia sekolah. Sering dia menggunakan kata "benci," dan setiap kali saya lihat kata itu terbayang seorang anak kecil yang tak berdaya, yang sudah punya sedikit pengertian tentang dunia tapi yang masih belum tahu apa-apa. Rasanya kasihan juga.

Catatan harian Soe Hok Gie mulai enak dibaca keti
...more
Rizky Akita
Oct 02, 2011 Rizky Akita rated it it was amazing  ·  review of another edition
Setelah memasuki jenjang pendidikan Universitas, saya setengah "dipaksa" untuk sesegera mungkin membaca buku ini. Berada dekat dengan lingkungan aktivis kampus membuat saya cukup mudah mendapat akses gratis ( pinjam ) atas buku ini.

And hell, buku ini mebuat saya terperangah. Soe Hok Gie mulai menulis bahkan sebelum dia genap berumur 10 tahun. Walaupun saat itu yang ditulis masihlah mengenai kehidupan dia di sekolah, namun kita sudah bisa melihat "warna" dasar Gie : idealis, berpegang teguh pada
...more
Ika
Jun 14, 2012 Ika rated it liked it
Kawan, kau ingat senang untuk saya cari naskhah ini?

Di Indonesianya (Jakarta/ Bandung) sahaja tidak ada, apa lagi dia Malaysia. Akhirnya saya download saja, dan ini buku pertama yang saya baca secara PDF. Sakit mataku, Kawan...

Tahun depan saya akan ke tempat meninggalnya Soe Hok Gie, however much it takes me, I will.
I just will.

“Ketika Hitler mulai membuas maka kelompok Inge School berkata tidak. Mereka (pemuda-pemuda Jerman ini) punya keberanian untuk berkata "tidak". Mereka, walaupun masih
...more
curly daus
Jan 25, 2010 curly daus rated it it was amazing
Nie dia buku biografi pertama yang tuntas aku baca..
waktu SMP, di perpus tercinta..
mengisahkan gie yang cerdas, dengan kesederhanaannya..
gie yang ngebawa aku suka pada alam, hiking, and pergi ketempat sunyi menyatu pada alam.. alone..
aku benci pada kemunafikan..

ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke mekkah
ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di miraza
tapi aku ingin habiskan waktuku di sisimu sayangku

bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu
atau tentang bunga-bunga
...more
Johan Radzi
Apr 15, 2014 Johan Radzi rated it really liked it
saya lebih suka catatan-catatan gie berbanding ahmad wahib. filemnya saya tak tonton lagi. membaca gie membuat saya lebih merenungi hidup, tentang ketidakpastian dan kepercayaan kita, dsb. gie mungkin tidak sentiasa benar, tetapi kenyataan-kenyataannya sentiasa menggetarkan kesedaran kita. tidak dapat tidak, kita terpaksa akur dan berhenti dan renung-renungkan buah-buah fikirannya.

saya juga sudah lebih terilhamkan utk menulis catatan selepas membaca gie. saya harap saja catatan ini akan terus be
...more
Benjalang
Jul 13, 2011 Benjalang rated it really liked it
SOE HOK GIE

Ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke mekkah
Ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di miraza
Tapi aku ingin habiskan waktuku di sisimu sayangku
Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu
Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah mendala wangi

Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di danang
Ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra
Tapi aku ingin mati di sisimu sayangku
Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya
Tentang tujuan hidup yang tak satu
...more
Anouk
My bestfriend Nina gave me this book/diary (or lend me should I say :p). Anyway, I still have the book and I love it. I dont like politics, but I like to learn why people is in it. Not so much related w/ the contents of the book though. It is not about politics, as somehow Soe Hok Gie wasnt a political person (although he was involved a little bit). I see him much more as a freedom fighter. He was young, full of spirit which I admire, and very brave. He was a leader and he brought a lot of encou ...more
Ratih Puspo
buku pinjeman seorang teman, yang sebenernya punya bapaknya. tapi entah gimana mendarat di rak buku saya dan belum terkembalikan sampai sekarang.
(sori ya edo, salahkan andre! :D)

terbitan 85 jauh sebelum diperankan ama niko, jadi ya sudah agak rapuh, tapi tetep, isinya yang penting.

kadang jadi miris sendiri, jaman itu mahasiswa betulan jadi motor penggerak perubahan. sedangkan apa yang saya lakukan, selalu berlindung di balik jargon 'kami bergerak langsung ke bawah dengan baksos kesehatan gigi',
...more
Hasib Habibie
Aug 14, 2016 Hasib Habibie rated it really liked it
Haven't fully finished the book yet. But already got this idea : Soe Hok Gie is definitely -if not- one of the most sarcastic-outspoken-insanely brave-egoistic son of a bitch that ever walked in Indonesia (no offense). The book is a journey through his mind : Provoking, sometimes funny, interesting. "Guru model gituan. Yang tak tahan kritik boleh masuk keranjang sampah" is one of my favorite.

His activism story, secular ideology, defending the poor, demonstrating govt. gave us the concrete sight
...more
Effendi Widjaja
Aug 22, 2010 Effendi Widjaja rated it it was amazing
Gie, pejuang muda yang kurang dikenal di jaman orde baru karena kekritisan dia mengritik baik orde lama maupun orde baru. Ditambah lagi karena dia adalah keturunan Cina, yang tentunya kurang disukai pemerintah orde baru untuk menjadi teladan bagi anak2 muda Indonesia lainnya. Seorang nasionalis tulen, penampilan boleh Cina...tapi hatinya 100% buat Indonesia...sedari muda sudah sangat suka membaca buku-buku yang berat-berat dan ini akhirnya membentuk pribadinya yang tangguh dan tak kenal menyerah ...more
Mohammad Husein
Jan 21, 2015 Mohammad Husein rated it really liked it
Shelves: indonesian
Ini adalah review pertama saya. Buku ini berisi cerita kehidupan Soe Hok Gie dari SMP sampai dia hampir meninggal. Banyak yang bisa dipelajari dari buku ini, di antaranya tentang keberanian dan sejarah (dari sudut pandang seorang aktivis). Bagian akhir dari buku ini agak membosankan. Tapi itu wajar saja, mengingat ini adalah kisah nyata, bukan fiksi. Walau bagaimanapun, buku ini sangat layak untuk dibaca oleh siapapun yang menganggap dirinya "anak muda".
Farhane
Jan 08, 2016 Farhane rated it really liked it
sebenernya, saya udah baca buku ini sejak 5 tahun lalu. persisnya ketika duduk di bangku sekolah. tapi, entah karena lupa atau apa, saya baru sempat ngasih rating buku ini barusan.

satu kalimat yang selalu saya ingat dari buku ini adalah: Jangan takut sendiri. Tuhan aja sendiri, tapi nggak pernah kesepian.
Ai Sari
Feb 14, 2011 Ai Sari rated it really liked it
yg ngaku suka sosok gie,ini jd bacaan wajibla..
« previous 1 3 4 5 6 7 8 9 next »
topics  posts  views  last activity   
Kalau Soe Hok Gie masih hidup, what would he do ? 29 176 Sep 23, 2014 02:54AM  
  • Soe Hok-Gie...Sekali Lagi: Buku Pesta dan Cinta di Alam Bangsanya
  • Nyanyi Sunyi Seorang Bisu 2
  • Pergolakan Pemikiran Islam
  • Hatta: Jejak yang Melampaui Zaman
  • Burung-Burung Manyar
  • Madilog
  • Ketika Jurnalisme Dibungkam Sastra Harus Bicara
  • Aku Ini Binatang Jalang
  • Catatan Pinggir 1
  • Anak Bajang Menggiring Angin
  • Robohnya Surau Kami
  • Ronggeng Dukuh Paruk
  • Bung Karno: Penyambung Lidah Rakyat Indonesia
  • Jerusalem: Kesucian, Konflik, dan Pengadilan Akhir
  • Ca Bau Kan: Hanya Sebuah Dosa
659620
Soe Hok Gie (17 Desember 1942–16 Desember 1969) adalah salah seorang aktivis Indonesia dan mahasiswa Fakultas Sastra Universitas Indonesia Jurusan Sejarah tahun 1962–1969.

Soe Hok Gie menamatkan pendidikan SMA di Kolese Kanisius. Nama Soe Hok Gie adalah dialek Hokkian dari namanya Su Fu-yi dalam bahasa Mandarin.

Ia adalah seorang anak muda yang berpendirian yang teguh dalam memegang prinsipnya dan r
...more
More about Soe Hok Gie...

Share This Book



“Nobody can see the trouble I see, nobody knows my sorrow.” 150 likes
“Bagiku ada sesuatu yang paling berharga dan hakiki dalam kehidupan: 'dapat mencintai, dapat iba hati, dapat merasai kedukaan'. Tanpa itu semua maka kita tidak lebih dari benda. Berbahagialah orang yang masih mempunyai rasa cinta, yang belum sampai kehilangan benda yang paling bernilai itu. Kalau kita telah kehilangan itu maka absurdlah hidup kita” 147 likes
More quotes…