Jejak Langkah

Jejak Langkah (Tetralogi Buru #3)

4.28 of 5 stars 4.28  ·  rating details  ·  1,758 ratings  ·  126 reviews
Kehadiran roman sejarah ini, bukan saja dimaksudkan untuk mengisi sebuah episode berbangsa yang berada di titik persalinan yang pelik dan menentukan, namn juga mengisi isu kesusastraan yang sangat minim menggarap periode pelik ini. karena itu hadirnya roman ini memberi bacaan alternatif kepada kita untuk melihat jalan dan gelombang sejarah secara lain dan dari sisinya yang...more
Paperback, 724 pages
Published 2007 by Lentera Dipantera (first published 1985)
more details... edit details

Friend Reviews

To see what your friends thought of this book, please sign up.

Community Reviews

(showing 1-30 of 2,716)
filter  |  sort: default (?)  |  rating details
Michiyo 'jia' Fujiwara
Aku lari ke belakang, cepet-cepet mandi. Masuk ke kamar,mengenakan pakaian kemarin. Semua telah terkunci di dalam kopor atau lemari. Kotak kunci pun terkunci. Anakkunci dibawa Prinses tak tahu lagi aku bagaimana kemunculanku. Destar aku pasangkan sekenanya. Dan selopnya yang sebelah.. ah kau selop, dimana pula kau bersembunyi? Mengapa pula kau ikut-ikutan mengganggu aku? Rupa-rupanya anak anjing tetangga sebelah telah menyembunyikannya, atau menggondolnya.

“Piaaaaah!”

“Selop! Mana selop!”

...........more
Irwan
Buku ketiga tetralogi buru ini begitu tebal. Kisahnya panjang dan berliku. Elemen kesejarahan kadang mendominasi elemen mikro kehidupan Minke. Terasa sedikit menunggangi. Tapi aku rasa begitulah hidup dalam masa pergolakan. Hampir saja elemen kesejarahan itu membuatku memberi bintang tiga untuk buku ini. Sampai ketika Prinses van Kasiruta, istri Minke yang bangsawan Maluku itu, menembak gerombolan Robert Suurhof. Yes! Rasain hehehe...

Plot cerita lantas makin deras dan berliku. Seru! Di sela-sel...more
Weni
Jika pada buku sebelumnya, Anak Semua Bangsa, Minke mulai mengenal kehidupan rakyat Hindia yang tertindas oleh kekuasaan kolonial, maka buku Jejak Langkah menceritakan perjuangan Minke mempelopori gerakan nasional melalui organisasi modern dan surat kabar.

Pada tahun 1906, Minke mendirikan Syarikat Prijaji bersama Thamrin Mohammad Thabrie, dua tahun sebelum berdirinya Boedi Oetomo (BO). Tahun 1909 Minke menggagas berdirinya Syarikat Dagang Islamijah (SDI), juga bersama Thamrin Mohammad Thabrie, y...more
Teguh Puja
Jejak Langkah adalah buku ketiga dari Tetralogi Buru. Buku ketiga ini adalah buku yang terbilang jauh lebih kompleks dalam banyak sisi yang dimilikinya.

Di dalam Jejak Langkah, Pram memanggungkan pergulatan Minke yang akhirnya tinggal di Betawi dan masuk sekolah dokter. Dengan ekspektasi yang sangat besar yang dimiliki Minke, Minke tetap tak pernah benar-benar bisa diam dengan keadaan-keadaan yang ada di sekitarnya. Terlebih, jauh di lubuk hati terdalamnya Minke, ia masih belum menemukan 'kenyama...more
Dewinda Wiradinata
Inspiratif. Hal ini yg paling aku suka dari buku yg ini. Berkisah ttg Minke yg dibayang2i oleh seruan istri keduanya agar dia mendirikan organisasi utk bangsanya sendiri. Pribumi. Hal itu menggelisahkan hati Minke yg mulai diliputi kepedulian akan keapatisan bangsany sendiri. Juga terlalu tunduk oleh kekuatan kolonialisme dlm berbagai bentuk.

Namun, jalanny tak selalu mulus. Belum-belum, Minke telah dihadapkan pada bupati yg bersikap seperti raja kecil yg gila hormat. Gila pd sembah dan jalan ber...more
Isnaini Nuri
Wowww...45% pembaca buku ini memberikan bintang 5 dan 36% memberikan bintang 4 ketika saya menulis review ini. Tidak perlu dipungkiri lagi. Buku yang recommended untuk dibaca. Siapa yang tidak terkesan dengan pemikirannya yang kritis, tajam, cerdas dan gaya penulisannya yang mampu menggabungkan antara roman dan sejarah.

Buku ketiga dari kumpulan Tetralogi Buru. Masa ketika Minke berhasil menemukan jawaban atas pencariannya selama ini. Apa yang bisa ia lakukan untuk bangsanya agar terbebas dari k...more
Erik Angriawan
''Jejak Langkah''


* "...dan modern adalah juga kesunyian manusia yatim-piatu dikutuk untuk membebaskan diri dari segala ikatan yang tidak diperlukan: adat, darah, bahkan juga bumi, kalau perlu juga sesamanya. (''Minke, 2)
* "Ilmu pengetahuan, Tuan-tuan, betapa pun tingginya, dia tidak berpribadi. Sehebat-hebatnya mesin, dibikin oleh sehebat-hebat manusia dia pun tidak berpribadi. Tetapi sesederhana-sederhana cerita yang ditulis, dia mewakili pribadi individu atau malahan bisa juga bangsanya. (''Vo...more
Dendy Hardian
pergulatan diri yang dialami minke dalam perjalan sejarah bangsanya apa yang akan dilakukan demi membela kepentingan bangsanya yang akhirnya menjadikannya seorang kepala redaksi harian medan yang berbahasa melayu dan membela kepentingan rakyat hindia pada waktu itu yang belum memiliki harian sendiri, disamping berdirinya organisasi satu bangsa dalam SDI yang juga dibidaninya.Perkembangan yang sangat signifikan terhadap para pembaca medan serta merta membuat anggota organisasi SDI berkembang pesa...more
Harun Harahap
This review has been hidden because it contains spoilers. To view it, click here.
Jed L
The third book in the Buru quartet continues the story of Minke and his quest to gain power, independence and freedom for he and other Indonesian Natives. This book moves away from the first two in that all of the other characters beside Minke are minor. But new characters are introduced. Minke also moves to a new city, a large city and begins to establish a movement to bring greater power and freedom to his own people.

At its heart this book is a story about a journey. It is a journey of a boy t...more
Martha
Aduh, endingnya lagi2 begini. Minke ini kasian betul nasibnya. Dari buku 1 sampai 3 ini, gak habis-habisnya musibah yang hrs dia hadapi. :-(
Berharap di buku selanjutnya, Rumah Kaca, kehidupan pribadinya bisa lebih cerah. *hmm, apa mungkin?*

Membaca Jejak Langkah, lebih terasa seperti membaca buku sejarah daripada roman. Maklum, buku ketiga dari tetralogi Buru ini sudah masuk ke tahun-tahun dimulainya perlawanan thd Hindia Belanda melalui kekuatan pers dan organisasi pribumi. Minke terlibat dalam...more
Ayu Puspita Sari
Dan posisi favorit Anak Semua Bangsa harus rela tergeser oleh Jejak Langkah.

Sebenarnya sudah punya sejak setahun lalu, beli setelah menyelesaikan Anak Semua Bangsa, tapi kemudian hanya tertumpuk karena terdistraksi oleh buku kuliah. Baru setelah kebanjiran awal Februari kemarin saya akhirnya menemukan buku ini lagi dan membacanya.

Boleh dibilang, kalau Bumi Manusia bercerita mengenai romansa dan Anak Semua Bangsa mulai bercerita tentang penyadaran kebangsaan, maka Jejak Langkah menceritakan menge...more
Anugerah Erlaut
Well.. I read the English version, in which the title is translated into "Footsteps".

A great book by Pramoedya. What I loved about the book is the way Pramoedya eloquently described the psychosocial condition in Indonesia during the time (Dutch occupation) in subtle ways, through the characters' actions and words. This subtlety obscures the real picture that Pramoedya try to illustrate, hiding the message from view until that golden moment when we realized we have discovered the shining gem bene...more
Hardini
... " jangan kehilangan keseimbangan ! berseru-seru aku pada diri sendiri, memperingatkan. dimana -mana aku harus tolak persembahan gelar, jongkok, dan sembah karena kita sedang menuju ke arah masyarakat, dimana setiap manusia sama harganya, dibalik seriap kehormatan mengintip kebinasaan. dibalik hidup adalah mautdibalik kebesaran adalah kehancuran.dibalik persatuan adalah perpecahan dibalik sembah adfalah umpat maka jalan keselamatan adalah jalan tengah. jangan terima kehormatan atau kebinasaa...more
Windy hapsari
This review has been hidden because it contains spoilers. To view it, click here.
Nanda Ghaida
Seperti apa yang penerbit Hasta Mitra dalam pembukaan buku ini bilang: "Satu usaha lagi untuk mengenal Indonesia."

Melalui buku ini, saya dapati apa yang tidak saya dapatkan di sekolah. Buku ini memaparkan -dengan caranya sendiri- sebuah sejarah yang disusun begitu kompleks dalam balutan fiksi.

Jejak langkah mengemas bagaimana langkah pribumi dalam menyetarakan posisinya di mata hukum, di mata dunia. Dan tujuan itu masih belum selesai, perjalanan masihlah panjang untuk sampai ke sana.

Satu bagian l...more
Adriana
Setelah diusir dari hak sendiri, Minke berpindah ke Betawi untuk melanjutkan pelajaran dalam bidang perubatan. Pada hari pertamanya di Betawi, dia dibawa bertemu dengan Anggota Tweede Kamer yang membawanya kepada sebuah persahabatan dengan Jenderal Van Heutsz.

Dari surat peninggalan sahabatnya Khouw Ah Soe, telah membawanya kepada Ang San Mei, seorang wanita Tionghoa yang menurut Minke adalah tunangan mendiang sahabatnya. Perkenalan ini membawa kepada sebuah persahabatan yang akrab antara keduany...more
Afifah
Ang San Mei, gadis Tiongkok ini memikat hati saya. Ketika dia meninggal karena sakit, dan Minke mencoba mengobati, padahal dia belum diizinkan mengobati, dan karena itu Minke akhirnya dipecat dari STOVIA, emosi saya teraduk-aduk. Tapi, jangan harapkan Pram mau mengeksplorasi romannya untuk hal-hal seperti itu. Namanya aktivis, roman hanya menjadi 'sarana' penyebaran pemikiran.
Tetapi, tokoh Ang San Mei ini, ternyata berhasil menginspirasi saya untuk menciptakan toko Tan Sun Nio dalam novel saya,...more
Muhammad Nawawi Arasy Padil
"Aku kira masa terbaik dalam hidup seseorang adalah masa ia dapat menggunakan kebebasan yang telah direbutnya sendiri" -Mei

"Berbahagialah dia yang tak tahu sesuatu. Pengetahuan, membuat orang tahu tempatnya sendiri, dan tempat orang lain, gelisah dalam alam perbandingan" -Minke

Dan begitulah suatu pemikiran baru telah muncul dari benak seorang Minke, seakan telah terbangun dari tidur cukup lama dari belaian pergaulan kaum atas, kini mata dan pikiran itu telah terbuka, telah dapat melihat dan bert...more
Ruth
I read this in English translation, of course, as Footsteps. Really enjoyed it. I think this is the first novel I've ever read whose plot focuses on grassroots advocacy organizing, & the colonial context makes it especially fascinating. There's lots of trial & error in what Minke & the other characters do to create a movement, including some false starts that permit co-optation by the colonial system. So much to think about!

If you can suspend your Western grid regarding what novels d...more
Nina
While in Indonesia, I read this third book in the quartet. This was the best so far, in that it helped me understand the people and politics, more than the other two. In particular, Toer describes the resentments against the Chinese and their ability to organize politically, as opposed to the Indonesians' inability to consolidate. The tone of the book is slightly more serious than my experiences with Indonesians have been so far. Toer also mentions how women have to eat after men (happened at ou...more
Jessica
I didn't like this book as much as This Earth of Mankind and Child of All Nation.
This is a book where the beginning and ending are shocking, but the middle part absolutely boring. Maybe it's because I find economic and political matters difficult to understand. But I also didn't like Minke anymore, even Nyai for moving out of the country and her new relationship. In short, I didn't like the old characther anymore. I haven't acquainted myself enough to really know the new characters, but I found...more
Nuni
ternyata interpretasi makna benar di pengaruhi cara berpikir pembaca/penikmat rangkaiannya.....

pernah baca buku ini dari hasil pinjaman jaman sma atau kuliah (sampe lupa persisnya)... dan yang teringat dulu bku2 dalam tetralogi ini begitu jauh dari yang mungkin saya bayangkan nyatanya...buat saya masa2 pergerakan yang dituangkan dalam rangkaian tulisan ini "merely" bagian dari sejarah yang tidak terlau bisa saya nikmati...

tapi setelah akhirnya saya miliki buku2 ini dan entah kenapa insist untuk...more
Jong
Mar 07, 2009 Jong added it
Minke akhirnya sampai di Betawi. Masuk STOVIA dan bertemu dengan calon-calon dokter pribumi lainnya.
Di buku ini, setelah disadarkan oleh Dokterjawa dan lain-lain, Minke mulai membuat organisasi.
Pram berhasil menanamkan sebuah pemikiran ke pembaca: sebuah organisasi, jika sistemnya berjalan dengan baik, akan memberikan efek yang sangat dahsyat bagi perjuangan.
Setelah kehilangan Annelis, Minke bertemu Ang San Mei. Seorang pelarian dari Tiongkok, China. Seorang anggota Angkatan Muda. Minke memper...more
Lilia Zuhara
Kalau di buku kedua (Anak Semua Bangsa) Bung Pram sedikit menurunkan tempo emosi pembaca, lagi-lagi emosi diaduk di buku ketiga ini. Menceritakan tentang perjalanan Minke yang mulai hijrah ke Batavia sebagai murid STOVIA. Transformasi yang dialami Minke terkait pada cara yang dilakukan dalam meningkatkan kesadaran nasionalisme bangsa. Minke dihadapkan pada kenyataan bahwa untuk mewujudkan impiannya menjadikan Bangsa Hindia lebih terpelajar dan menanamkan semangat kesatuan, dibutuhkan wadah untuk...more
Amelia
jejak Langkah menceritakan tentang pengorganisasian perlawanan. Minke memobilisasi segala daya untuk melawan bercokolnya kekuasaan Hindia-Belanda yang sudah berabad-abad umurnya. Namun Minke tidak memilih perlawanan bersenjata, dia memilih jalan jurnalistik dengan membuat sebanyak-banyaknya bacaan untuk pribumi berupa koran harian dengan nama Medan Prijaji, koran harian pertama dengan bahasa pribumi (Hindia). Dengan koran ini, Minke ingin mengembalikan agensi kepada rakyat pribumi tiga hal: meni...more
Antonini Ramon
Minke, setelah gagal dengan pernikahannya dengan Melemma, yang direnggut dari dirinya, melanjutkan sekolahnya untuk menjadi Bupati/dokter. Dia indekos juga di rumah seseorang, jarang berhubungan lagi dengan keluarganya di B. Lalu suatu ketika Minke bertemu dengan seorang gadis Tionghoa muda. Gadis dari pergerakan China modern, tunangan kawannya.

Gadis China itu sakit2an, Minke menyelamatkannya, kemudian mereka menikah. Mereka tidak punya anak, hingga istrinya itu meninggal karena sakit akut. Min...more
Sabrina
Jejak Langkah menceritakan perjalanan Minke dalam membangun organisasi. Di sini terlihat Minke jauh lebih pandai membaca situasi sekitar dibandingkan sebelumnya. Tapi tetap saja dia sangat mudah jatuh cinta pada kecantikan wanita sampai jadi bodoh sendiri.

Yang menonjol dari buku ini adalah tokoh perempuannya. Mulai dari Kartini si gadis Jepara yang rela melawan adat demi suatu kebebasan, Bunda Minke yang sangat taat pada budaya sederhana Jawa dan nenek moyang, Ang San Mei yang lebih mementingka...more
erry
Sepertinya, membaca tetralogi buru semakin lama terasa semakin berat. Makin lama saja selesainya. Bukan hanya karena ketebalan bukunya, tetapi lebih kepada isinya. Dan untuk buku ketiga ini, menghabiskan entah berapa bulan sejak pertama kali kubuka lembar pertamanya. Kalau berdasarkan waktu saat pertama kali saya memasukkan buku ini dalam readlist di goodreads, berarti hampir satu tahun lamanya. Karena di GR, tertulis kalau saya membacanya sejak Mei 2009. ini adalah buku yang memakan waktu palin...more
Brian
The first book in this quartet This Earth of Mankind made me cry. The second book Child of All Nations made me cry. This third installment of the Buru Quartet made me angry. Colonization just sucks. And when a nation of mixed cultures fight each other while working towards independence, freedom if achieved is tainted. Footsteps is the biggest of the quartet and the most political. From what I understand it is also the last of the first person narrative from Minke's point of view. One more to go...more
« previous 1 3 4 5 6 7 8 9 90 91 next »
topics  posts  views  last activity   
imagi perjuangan... 3 21 Mar 26, 2013 10:49pm  
Footsteps (Paperback)
Jejak Langkah (Edisi Pembebasan Karya Pulau Buru)
Jejak Langkah (Tetralogi Buru, #3)
Footsteps (Hardcover)
Footsteps (Penguin International Writers)

101823
Pramoedya Ananta Toer was an Indonesian author of novels, short stories, essays, polemics, and histories of his homeland and its people. A well-regarded writer in the West, Pramoedya's outspoken and often politically charged writings faced censorship in his native land during the pre-reformation era. For opposing the policies of both founding president Sukarno, as well as those of its successor, t...more
More about Pramoedya Ananta Toer...
Bumi Manusia Gadis Pantai Child of All Nations (Tetralogi Buru, #2) House of Glass Arok Dedes

Share This Book

Your website

No trivia or quizzes yet. Add some now »

“Tanpa wanita takkan ada bangsa manusia. Tanpa bangsa manusia takkan ada yang memuji kebesaranMu. Semua puji-pujian untukMu dimungkinkan hanya oleh titik darah, keringat dan erang kesakitan wanita yang sobek bagian badannya karena melahirkan kehidupan.” 19 people liked it
“Apakah sebangsamu akan kau biarkan terbungkuk-bungkuk dalam ketidaktahuannya? Siapa bakal memulai kalau bukan kau?” 7 people liked it
More quotes…