book data
670 ratings,
4.22
average rating, 61 reviews
(more data...)
edit
published
2007
(first published 1985)
by Lentera Dipantera
setting
Indonesia
Sign in to Goodreads to see your friends' reviews of this book.
| topics | posts | views | last activity | |
|---|---|---|---|---|
| 50 Books A Year: nearly half way through 2009 how many you read so far | 113 | 603 | 2 days ago, 08:40PM | |
| Read a book from ...: Indonesia | 4 | 30 | 7 days ago, 09:59AM | |
| 50 Books A Year: Brian's Books for 2009 | 67 | 169 | 05/31/2009 04:48PM | |
| The Next Best Boo...: I'm looking for... | 40 | 209 | 05/03/2009 04:45PM | |
| fiction files redux: Pramoedya Ananta Toer | 1 | 23 | 03/24/2009 08:54PM |
friend reviews
To see what your friends thought of this book, please sign up.
This book is currently not featured on any Listopia lists.
Add this book to your favorite list »
other reviews (showing 1-20 of 848)
All ratings
|
5 stars (296)
|
4 stars (244)
|
3 stars (110)
|
2 stars (15)
|
1 star (4)
|
avg 4.22
editions: all | this edition
editions: all | this edition
Jika pada buku sebelumnya, Anak Semua Bangsa, Minke mulai mengenal kehidupan rakyat Hindia yang tertindas oleh kekuasaan kolonial, maka buku Jejak Langkah menceritakan perjuangan Minke mempelopori gerakan nasional melalui organisasi modern dan surat kabar.
Pada tahun 1906, Minke mendirikan Syarikat Prijaji bersama Thamrin Mohammad Thabrie, dua tahun sebelum berdirinya Boedi Oetomo (BO). Tahun 1909 Minke menggagas berdirinya Syarikat Dagang Islamijah (SDI), juga bersama Thamrin Mohamma...more
Pada tahun 1906, Minke mendirikan Syarikat Prijaji bersama Thamrin Mohammad Thabrie, dua tahun sebelum berdirinya Boedi Oetomo (BO). Tahun 1909 Minke menggagas berdirinya Syarikat Dagang Islamijah (SDI), juga bersama Thamrin Mohamma...more
Like this review?
yes
(1 person liked it)
7 comments
Read in March, 2009
While in Indonesia, I read this third book in the quartet. This was the best so far, in that it helped me understand the people and politics, more than the other two. In particular, Toer describes the resentments against the Chinese and their ability to organize politically, as opposed to the Indonesians' inability to consolidate. The tone of the book is slightly more serious than my experiences with Indonesians have been so far. Toer also mentions how women have to eat after men (happened at ou...more
Like this review?
yes
add a comment
03/02/09
Jong
added it
Has a copy to sell/swap
—
Read in March, 2009
Minke akhirnya sampai di Betawi. Masuk STOVIA dan bertemu dengan calon-calon dokter pribumi lainnya.
Di buku ini, setelah disadarkan oleh Dokterjawa dan lain-lain, Minke mulai membuat organisasi.
Pram berhasil menanamkan sebuah pemikiran ke pembaca: sebuah organisasi, jika sistemnya berjalan dengan baik, akan memberikan efek yang sangat dahsyat bagi perjuangan.
Setelah kehilangan Annelis, Minke bertemu Ang San Mei. Seorang pelarian dari Tiongkok, China. Seorang anggota Angkatan Mud...more
Di buku ini, setelah disadarkan oleh Dokterjawa dan lain-lain, Minke mulai membuat organisasi.
Pram berhasil menanamkan sebuah pemikiran ke pembaca: sebuah organisasi, jika sistemnya berjalan dengan baik, akan memberikan efek yang sangat dahsyat bagi perjuangan.
Setelah kehilangan Annelis, Minke bertemu Ang San Mei. Seorang pelarian dari Tiongkok, China. Seorang anggota Angkatan Mud...more
Like this review?
yes
add a comment
Read in March, 2009
The first book in this quartet This Earth of Mankind made me cry. The second book Child of All Nations made me cry. This third installment of the Buru Quartet made me angry. Colonization just sucks. And when a nation of mixed cultures fight each other while working towards independence, freedom if achieved is tainted. Footsteps is the biggest of the quartet and the most political. From what I understand it is also the last of the first person narrative from Minke's point of view. One more to go ...more
Like this review?
yes
add a comment
Read in December, 2008
Footsteps by Pramoedya Ananta Toer
Third book in the Buru Quartet. Minke who we have followed from a teenager in “This Earth of Mankind” and “Child of All Nations” grows to become a man and a political being in this book. This book synthesizes the plot structure and the politics of the first two books and adds on a great historical emphasis to bring these two aspects closely together. Though dense at times, because of historical reference, it is not an unbearable weight, but m...more
Third book in the Buru Quartet. Minke who we have followed from a teenager in “This Earth of Mankind” and “Child of All Nations” grows to become a man and a political being in this book. This book synthesizes the plot structure and the politics of the first two books and adds on a great historical emphasis to bring these two aspects closely together. Though dense at times, because of historical reference, it is not an unbearable weight, but m...more
Like this review?
yes
add a comment
Read in November, 2007
recommended to Mikael by:
Tym Wiserecommends it for: everybody who loves Indonesia
This is the third book from Pram's tetralogy. This book is wonderful in how historical details could be provided and clear description of the events showed. In this book, the main character of the book, Minke, started his move to against the colonial. He moved the Indonesian people through moving Indonesian people to be involved in politics. He got them involved through organizing a party (though atually it was not political and more on strenghtening the Indonesian's economic life) and a mass me...more
Like this review?
yes
add a comment
Gue sebenarnya bingung mau ngasih buku yang satu ini angka berapa, tapi gue bulatkan tekad untuk ngasih 4 bintang untuk buku yang satu ini. Jejak Langkah adalah buku ketiga dari tetralogi Buru.
Jejak Langkah bercerita tentang sejarah berdirinya beberapa organisasi besar di awal masa perjuangan Indonesia. Sebut saja Boedi Oetomo, Sjarikat Dagang Islamijah dan lain sebagainya. To be honest, di pelajaran sejaran Indonesia, periode ini adalah periode yang paling gue benci; perjuangan Indo...more
Jejak Langkah bercerita tentang sejarah berdirinya beberapa organisasi besar di awal masa perjuangan Indonesia. Sebut saja Boedi Oetomo, Sjarikat Dagang Islamijah dan lain sebagainya. To be honest, di pelajaran sejaran Indonesia, periode ini adalah periode yang paling gue benci; perjuangan Indo...more
Like this review?
yes
add a comment
Read in October, 2007
recommends it for:
youngster
Dari dua buku sebelumnya, mungkin jejak langkah dinilai agak membosankan untuk sebagian besar pembacanya. Dialog-dialog panjang Minke dengan dirinya sendiri dan berbagai tokoh pergerakan yang mulai dikenalkan Pramudya memakan hampir 60 persen dari isi buku.
Apabila buku pertama membahas tentang pribadi Minke dan perkenalannya dengan Annelies dan Nyai Ontosoroh dan terlihat sifat pergerakan belum mencapai pikiran Minke dan buku kedua berkutat dengan Konflik Minke dan beberapa pribumi dengan ...more
Apabila buku pertama membahas tentang pribadi Minke dan perkenalannya dengan Annelies dan Nyai Ontosoroh dan terlihat sifat pergerakan belum mencapai pikiran Minke dan buku kedua berkutat dengan Konflik Minke dan beberapa pribumi dengan ...more
Like this review?
yes
add a comment
Gue lagi baca novel ini untuk yang kedua kalinya. Pertama kali gue baca sekitar tahun 1994. Ceritanya sih kalo buat sebuah roman masih kalah seru dibandingin sama Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa. Apalagi udah kagak ada Annelie di buku ini, sang bunga akhir abad. Tapi kalo merhatiin background setting yang dibangun Pram di buku ini, nuansa nostaljiknya kuat banget. Gue salut ama Pram yang rajin banget bikin riset sejarah, khusus buat novel ini. Sejarah pergerakan pemuda pra Soempah Pemoeda 192...more
Like this review?
yes
add a comment
cuma satu: mantap!
Di sini terlihat jelas upaya Minke membangun dan mengorganisir sebuah pergerakan. Kisahnya dengan Gubernur Jenderal dan Prinses adalah kepaduan yang juga menggelikan. Menikah tanpa pernah diketahui orang tua, menjadi muslim yang 'baik', lantas mengetahui dirinya mandul, padahal phyloginik. Lebih dari itu, Pram memang cerdas membangun cerita. Ide-ide brilian begitu saja mengalir. Demi sebuah kehormatan bangsa, apapun dilakukan.
Di sini terlihat jelas upaya Minke membangun dan mengorganisir sebuah pergerakan. Kisahnya dengan Gubernur Jenderal dan Prinses adalah kepaduan yang juga menggelikan. Menikah tanpa pernah diketahui orang tua, menjadi muslim yang 'baik', lantas mengetahui dirinya mandul, padahal phyloginik. Lebih dari itu, Pram memang cerdas membangun cerita. Ide-ide brilian begitu saja mengalir. Demi sebuah kehormatan bangsa, apapun dilakukan.
Like this review?
yes
add a comment
12/25/08
Yoga
is currently reading it
This review has been hidden because it contains spoilers. To view it,
click here.
Like this review?
yes
add a comment
Read in November, 2004
The series was amazing. Yah, yah, for real. I found one in a bookstore (I love how, in used bookstores, books will nuzzle themselves under my fingers and leap into my palm, uncalled) and promptly got the rest. A searing analysis of class in Indonesia and of colonialism at large, a splendid narrative and vivid characters that don't fall into "I like thi sone, I don't like that one" roles. I bought the series for my brother and egged everyone I knew to read it. My (at the time) radical p...more
Like this review?
yes
add a comment
Read in September, 2008
recommends it for:
kaum MUDA
Menarikkah buku ini tanpa alur sejarah didalamnya?.
Sejarah Indonesia adalah daya tarik buku ini.
Membaca novel ini adalah cara belajar Sejarah yang lebih menyenangkan, dari pada menghapal point-point, tahun dan nama Raja-raja dalam buku pelajaran Sejarah dibangku sekolah dulu.
Serasa mundur berabad-abad dan melihat kegelisahan pemuda masa lalu. Pergulatan Menggugat identitas diri, atau menjual diri pada Belanda.
Ternyata Budi Utomo tak semegah bayanganku di buku...more
Sejarah Indonesia adalah daya tarik buku ini.
Membaca novel ini adalah cara belajar Sejarah yang lebih menyenangkan, dari pada menghapal point-point, tahun dan nama Raja-raja dalam buku pelajaran Sejarah dibangku sekolah dulu.
Serasa mundur berabad-abad dan melihat kegelisahan pemuda masa lalu. Pergulatan Menggugat identitas diri, atau menjual diri pada Belanda.
Ternyata Budi Utomo tak semegah bayanganku di buku...more
Like this review?
yes
add a comment
Saya baca ini, setelah Bumi Manusia, waktu itu susah cari bukunya Pramoedya, saya baca selagi kuliah di bandung. Bukunya sudah gak tau dimana.
Like this review?
yes
add a comment
ini bagian tetra logi buru (the buru quartet) bareng bumi manusia, anak semua bangsa, dan rumah kaca....
keren lah pokokna....
Like this review?
yes
add a comment
Read in April, 2009
Menceritakan tentang Minke yang mulai menggunakan pers dan organisasi modern sebagai alat melawan kolonialisme Belanda.
Like this review?
yes
add a comment
Read in September, 2002
nukilan sejarah 1928 yg tidak bisa ditemukan di buku pelajaran sejarah waktu sekolah dulu.
Like this review?
yes
add a comment
Read in December, 2008
Hhft....Akhirnya, tetralogi-nya Pram yang satu ini, bisa kuselesaikan. Mumpung libur akhir tahun, baca terus, sampe sakit mata, hehe...
Like this review?
yes
add a comment

































