104th out of 386 books
—
807 voters
Jejak Langkah (Tetralogi Buru, #3)
As the world moves into the twentieth century, Minke, one of the few European-educated Javanese, optimistically starts a new life in a new town: Betawi. With his enrollment in medical school and the opportunity to meet new people, there is every reason to believe that he can leave behind the tragedies of the past. But Minke can no more escape his past than he can escape hi...more
Published
2007
by Lentera Dipantera
(first published 1985)
There is a good chance some of your friends read this book. Sign in to see!
sign in »
Friend Reviews
To see what your friends thought of this book,
please sign up.
Community Reviews
(showing
1-30
of
1,752)
Jika pada buku sebelumnya, Anak Semua Bangsa, Minke mulai mengenal kehidupan rakyat Hindia yang tertindas oleh kekuasaan kolonial, maka buku Jejak Langkah menceritakan perjuangan Minke mempelopori gerakan nasional melalui organisasi modern dan surat kabar.
Pada tahun 1906, Minke mendirikan Syarikat Prijaji bersama Thamrin Mohammad Thabrie, dua tahun sebelum berdirinya Boedi Oetomo (BO). Tahun 1909 Minke menggagas berdirinya Syarikat Dagang Islamijah (SDI), juga bersama Thamrin Mohamma...more
Pada tahun 1906, Minke mendirikan Syarikat Prijaji bersama Thamrin Mohammad Thabrie, dua tahun sebelum berdirinya Boedi Oetomo (BO). Tahun 1909 Minke menggagas berdirinya Syarikat Dagang Islamijah (SDI), juga bersama Thamrin Mohamma...more
''Jejak Langkah''
* "...dan modern adalah juga kesunyian manusia yatim-piatu dikutuk untuk membebaskan diri dari segala ikatan yang tidak diperlukan: adat, darah, bahkan juga bumi, kalau perlu juga sesamanya. (''Minke, 2)
* "Ilmu pengetahuan, Tuan-tuan, betapa pun tingginya, dia tidak berpribadi. Sehebat-hebatnya mesin, dibikin oleh sehebat-hebat manusia dia pun tidak berpribadi. Tetapi sesederhana-sederhana cerita yang ditulis, dia mewakili pribadi individu atau mala...more
* "...dan modern adalah juga kesunyian manusia yatim-piatu dikutuk untuk membebaskan diri dari segala ikatan yang tidak diperlukan: adat, darah, bahkan juga bumi, kalau perlu juga sesamanya. (''Minke, 2)
* "Ilmu pengetahuan, Tuan-tuan, betapa pun tingginya, dia tidak berpribadi. Sehebat-hebatnya mesin, dibikin oleh sehebat-hebat manusia dia pun tidak berpribadi. Tetapi sesederhana-sederhana cerita yang ditulis, dia mewakili pribadi individu atau mala...more
pergulatan diri yang dialami minke dalam perjalan sejarah bangsanya apa yang akan dilakukan demi membela kepentingan bangsanya yang akhirnya menjadikannya seorang kepala redaksi harian medan yang berbahasa melayu dan membela kepentingan rakyat hindia pada waktu itu yang belum memiliki harian sendiri, disamping berdirinya organisasi satu bangsa dalam SDI yang juga dibidaninya.Perkembangan yang sangat signifikan terhadap para pembaca medan serta merta membuat anggota organisasi SDI berkembang pesa...more
This review has been hidden because it contains spoilers. To view it,
click here.
Well.. I read the English version, in which the title is translated into "Footsteps".
A great book by Pramoedya. What I loved about the book is the way Pramoedya eloquently described the psychosocial condition in Indonesia during the time (Dutch occupation) in subtle ways, through the characters' actions and words. This subtlety obscures the real picture that Pramoedya try to illustrate, hiding the message from view until that golden moment when we realized we have discovered ...more
A great book by Pramoedya. What I loved about the book is the way Pramoedya eloquently described the psychosocial condition in Indonesia during the time (Dutch occupation) in subtle ways, through the characters' actions and words. This subtlety obscures the real picture that Pramoedya try to illustrate, hiding the message from view until that golden moment when we realized we have discovered ...more
... " jangan kehilangan keseimbangan ! berseru-seru aku pada diri sendiri, memperingatkan. dimana -mana aku harus tolak persembahan gelar, jongkok, dan sembah karena kita sedang menuju ke arah masyarakat, dimana setiap manusia sama harganya, dibalik seriap kehormatan mengintip kebinasaan. dibalik hidup adalah mautdibalik kebesaran adalah kehancuran.dibalik persatuan adalah perpecahan dibalik sembah adfalah umpat maka jalan keselamatan adalah jalan tengah. jangan terima kehormatan atau kebi...more
Sebenarnya saya mulai membaca buku ini sejak Mei tahun lalu, tetapi tertunda karena alasan pekerjaan dan isi yang terasa berat ditampung kepala. Maka jadilah saya mengulang kembali dari halaman pertama, dan ternyata menarik untuk dibaca sampai akhir.
Dalam buku ini saya menemukan banyak peristiwa-peristiwa bersejarah yang tidak saya pelajari dalam pelajaran sejarah ketika saya duduk di bangku sekolah dulu. Saya tidak menyebut sebagai fakta karena cerita ini fiksi, tapi sesungguhnya ti...more
Dalam buku ini saya menemukan banyak peristiwa-peristiwa bersejarah yang tidak saya pelajari dalam pelajaran sejarah ketika saya duduk di bangku sekolah dulu. Saya tidak menyebut sebagai fakta karena cerita ini fiksi, tapi sesungguhnya ti...more
This review has been hidden because it contains spoilers. To view it,
click here.
While in Indonesia, I read this third book in the quartet. This was the best so far, in that it helped me understand the people and politics, more than the other two. In particular, Toer describes the resentments against the Chinese and their ability to organize politically, as opposed to the Indonesians' inability to consolidate. The tone of the book is slightly more serious than my experiences with Indonesians have been so far. Toer also mentions how women have to eat after men (happened at ou...more
ternyata interpretasi makna benar di pengaruhi cara berpikir pembaca/penikmat rangkaiannya.....
pernah baca buku ini dari hasil pinjaman jaman sma atau kuliah (sampe lupa persisnya)... dan yang teringat dulu bku2 dalam tetralogi ini begitu jauh dari yang mungkin saya bayangkan nyatanya...buat saya masa2 pergerakan yang dituangkan dalam rangkaian tulisan ini "merely" bagian dari sejarah yang tidak terlau bisa saya nikmati...
tapi setelah akhirnya saya miliki buku2 ini ...more
pernah baca buku ini dari hasil pinjaman jaman sma atau kuliah (sampe lupa persisnya)... dan yang teringat dulu bku2 dalam tetralogi ini begitu jauh dari yang mungkin saya bayangkan nyatanya...buat saya masa2 pergerakan yang dituangkan dalam rangkaian tulisan ini "merely" bagian dari sejarah yang tidak terlau bisa saya nikmati...
tapi setelah akhirnya saya miliki buku2 ini ...more
Buku ketiga tetralogi buru ini begitu tebal. Kisahnya panjang dan berliku. Elemen kesejarahan kadang mendominasi elemen mikro kehidupan Minke. Terasa sedikit menunggangi. Tapi aku rasa begitulah hidup dalam masa pergolakan. Hampir saja elemen kesejarahan itu membuatku memberi bintang tiga untuk buku ini. Sampai ketika Prinses van Kasiruta, istri Minke yang bangsawan Maluku itu, menembak gerombolan Robert Suurhof. Yes! Rasain hehehe...
Plot cerita lantas makin deras dan berliku. Seru!...more
Plot cerita lantas makin deras dan berliku. Seru!...more
Jong
added it
Minke akhirnya sampai di Betawi. Masuk STOVIA dan bertemu dengan calon-calon dokter pribumi lainnya.
Di buku ini, setelah disadarkan oleh Dokterjawa dan lain-lain, Minke mulai membuat organisasi.
Pram berhasil menanamkan sebuah pemikiran ke pembaca: sebuah organisasi, jika sistemnya berjalan dengan baik, akan memberikan efek yang sangat dahsyat bagi perjuangan.
Setelah kehilangan Annelis, Minke bertemu Ang San Mei. Seorang pelarian dari Tiongkok, China. Seorang anggota Angkatan Mud...more
Di buku ini, setelah disadarkan oleh Dokterjawa dan lain-lain, Minke mulai membuat organisasi.
Pram berhasil menanamkan sebuah pemikiran ke pembaca: sebuah organisasi, jika sistemnya berjalan dengan baik, akan memberikan efek yang sangat dahsyat bagi perjuangan.
Setelah kehilangan Annelis, Minke bertemu Ang San Mei. Seorang pelarian dari Tiongkok, China. Seorang anggota Angkatan Mud...more
Minke, setelah gagal dengan pernikahannya dengan Melemma, yang direnggut dari dirinya, melanjutkan sekolahnya untuk menjadi Bupati/dokter. Dia indekos juga di rumah seseorang, jarang berhubungan lagi dengan keluarganya di B. Lalu suatu ketika Minke bertemu dengan seorang gadis Tionghoa muda. Gadis dari pergerakan China modern, tunangan kawannya.
Gadis China itu sakit2an, Minke menyelamatkannya, kemudian mereka menikah. Mereka tidak punya anak, hingga istrinya itu meninggal karena sakit...more
Gadis China itu sakit2an, Minke menyelamatkannya, kemudian mereka menikah. Mereka tidak punya anak, hingga istrinya itu meninggal karena sakit...more
Jejak Langkah menceritakan perjalanan Minke dalam membangun organisasi. Di sini terlihat Minke jauh lebih pandai membaca situasi sekitar dibandingkan sebelumnya. Tapi tetap saja dia sangat mudah jatuh cinta pada kecantikan wanita sampai jadi bodoh sendiri.
Yang menonjol dari buku ini adalah tokoh perempuannya. Mulai dari Kartini si gadis Jepara yang rela melawan adat demi suatu kebebasan, Bunda Minke yang sangat taat pada budaya sederhana Jawa dan nenek moyang, Ang San Mei yang lebih...more
Yang menonjol dari buku ini adalah tokoh perempuannya. Mulai dari Kartini si gadis Jepara yang rela melawan adat demi suatu kebebasan, Bunda Minke yang sangat taat pada budaya sederhana Jawa dan nenek moyang, Ang San Mei yang lebih...more
Sepertinya, membaca tetralogi buru semakin lama terasa semakin berat. Makin lama saja selesainya. Bukan hanya karena ketebalan bukunya, tetapi lebih kepada isinya. Dan untuk buku ketiga ini, menghabiskan entah berapa bulan sejak pertama kali kubuka lembar pertamanya. Kalau berdasarkan waktu saat pertama kali saya memasukkan buku ini dalam readlist di goodreads, berarti hampir satu tahun lamanya. Karena di GR, tertulis kalau saya membacanya sejak Mei 2009. ini adalah buku yang memakan waktu palin...more
The first book in this quartet This Earth of Mankind made me cry. The second book Child of All Nations made me cry. This third installment of the Buru Quartet made me angry. Colonization just sucks. And when a nation of mixed cultures fight each other while working towards independence, freedom if achieved is tainted. Footsteps is the biggest of the quartet and the most political. From what I understand it is also the last of the first person narrative from Minke's point of view. One more to go ...more
Footsteps by Pramoedya Ananta Toer
Third book in the Buru Quartet. Minke who we have followed from a teenager in “This Earth of Mankind” and “Child of All Nations” grows to become a man and a political being in this book. This book synthesizes the plot structure and the politics of the first two books and adds on a great historical emphasis to bring these two aspects closely together. Though dense at times, because of historical reference, it is not an unbearable weight, but more so a...more
Third book in the Buru Quartet. Minke who we have followed from a teenager in “This Earth of Mankind” and “Child of All Nations” grows to become a man and a political being in this book. This book synthesizes the plot structure and the politics of the first two books and adds on a great historical emphasis to bring these two aspects closely together. Though dense at times, because of historical reference, it is not an unbearable weight, but more so a...more
Henry Wijaya
rated it
Recommends it for:
everybody who loves Indonesia
Recommended to Henry by:
Tym Wise
This is the third book from Pram's tetralogy. This book is wonderful in how historical details could be provided and clear description of the events showed. In this book, the main character of the book, Minke, started his move to against the colonial. He moved the Indonesian people through moving Indonesian people to be involved in politics. He got them involved through organizing a party (though atually it was not political and more on strenghtening the Indonesian's economic life) and a mass me...more
Gue sebenarnya bingung mau ngasih buku yang satu ini angka berapa, tapi gue bulatkan tekad untuk ngasih 4 bintang untuk buku yang satu ini. Jejak Langkah adalah buku ketiga dari tetralogi Buru.
Jejak Langkah bercerita tentang sejarah berdirinya beberapa organisasi besar di awal masa perjuangan Indonesia. Sebut saja Boedi Oetomo, Sjarikat Dagang Islamijah dan lain sebagainya. To be honest, di pelajaran sejaran Indonesia, periode ini adalah periode yang paling gue benci; perjuangan Indo...more
Jejak Langkah bercerita tentang sejarah berdirinya beberapa organisasi besar di awal masa perjuangan Indonesia. Sebut saja Boedi Oetomo, Sjarikat Dagang Islamijah dan lain sebagainya. To be honest, di pelajaran sejaran Indonesia, periode ini adalah periode yang paling gue benci; perjuangan Indo...more
Dari dua buku sebelumnya, mungkin jejak langkah dinilai agak membosankan untuk sebagian besar pembacanya. Dialog-dialog panjang Minke dengan dirinya sendiri dan berbagai tokoh pergerakan yang mulai dikenalkan Pramudya memakan hampir 60 persen dari isi buku.
Apabila buku pertama membahas tentang pribadi Minke dan perkenalannya dengan Annelies dan Nyai Ontosoroh dan terlihat sifat pergerakan belum mencapai pikiran Minke dan buku kedua berkutat dengan Konflik Minke dan beberapa pribumi dengan ...more
Apabila buku pertama membahas tentang pribadi Minke dan perkenalannya dengan Annelies dan Nyai Ontosoroh dan terlihat sifat pergerakan belum mencapai pikiran Minke dan buku kedua berkutat dengan Konflik Minke dan beberapa pribumi dengan ...more
Gue lagi baca novel ini untuk yang kedua kalinya. Pertama kali gue baca sekitar tahun 1994. Ceritanya sih kalo buat sebuah roman masih kalah seru dibandingin sama Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa. Apalagi udah kagak ada Annelie di buku ini, sang bunga akhir abad. Tapi kalo merhatiin background setting yang dibangun Pram di buku ini, nuansa nostaljiknya kuat banget. Gue salut ama Pram yang rajin banget bikin riset sejarah, khusus buat novel ini. Sejarah pergerakan pemuda pra Soempah Pemoeda 192...more
cuma satu: mantap!
Di sini terlihat jelas upaya Minke membangun dan mengorganisir sebuah pergerakan. Kisahnya dengan Gubernur Jenderal dan Prinses adalah kepaduan yang juga menggelikan. Menikah tanpa pernah diketahui orang tua, menjadi muslim yang 'baik', lantas mengetahui dirinya mandul, padahal phyloginik. Lebih dari itu, Pram memang cerdas membangun cerita. Ide-ide brilian begitu saja mengalir. Demi sebuah kehormatan bangsa, apapun dilakukan.
Di sini terlihat jelas upaya Minke membangun dan mengorganisir sebuah pergerakan. Kisahnya dengan Gubernur Jenderal dan Prinses adalah kepaduan yang juga menggelikan. Menikah tanpa pernah diketahui orang tua, menjadi muslim yang 'baik', lantas mengetahui dirinya mandul, padahal phyloginik. Lebih dari itu, Pram memang cerdas membangun cerita. Ide-ide brilian begitu saja mengalir. Demi sebuah kehormatan bangsa, apapun dilakukan.
Yoga
is currently reading it
This review has been hidden because it contains spoilers. To view it,
click here.
The series was amazing. Yah, yah, for real. I found one in a bookstore (I love how, in used bookstores, books will nuzzle themselves under my fingers and leap into my palm, uncalled) and promptly got the rest. A searing analysis of class in Indonesia and of colonialism at large, a splendid narrative and vivid characters that don't fall into "I like thi sone, I don't like that one" roles. I bought the series for my brother and egged everyone I knew to read it. My (at the time) radical p...more
Menarikkah buku ini tanpa alur sejarah didalamnya?.
Sejarah Indonesia adalah daya tarik buku ini.
Membaca novel ini adalah cara belajar Sejarah yang lebih menyenangkan, dari pada menghapal point-point, tahun dan nama Raja-raja dalam buku pelajaran Sejarah dibangku sekolah dulu.
Serasa mundur berabad-abad dan melihat kegelisahan pemuda masa lalu. Pergulatan Menggugat identitas diri, atau menjual diri pada Belanda.
Ternyata Budi Utomo tak semegah bayanganku di buku...more
Sejarah Indonesia adalah daya tarik buku ini.
Membaca novel ini adalah cara belajar Sejarah yang lebih menyenangkan, dari pada menghapal point-point, tahun dan nama Raja-raja dalam buku pelajaran Sejarah dibangku sekolah dulu.
Serasa mundur berabad-abad dan melihat kegelisahan pemuda masa lalu. Pergulatan Menggugat identitas diri, atau menjual diri pada Belanda.
Ternyata Budi Utomo tak semegah bayanganku di buku...more
Karena baru baca tetralogi sampai buku ke-3 ini, ini yang paling seru.
Tapi memang di tiap buku lanjutannya,klimaks semakin meningkat.
Pramoedya memang maestro..!!
Tapi memang di tiap buku lanjutannya,klimaks semakin meningkat.
Pramoedya memang maestro..!!
I learned to be brave, to be a strong and nationalist man, just like Minke. I fell in love with this lead character since the first appearance.
Saya baca ini, setelah Bumi Manusia, waktu itu susah cari bukunya Pramoedya, saya baca selagi kuliah di bandung. Bukunya sudah gak tau dimana.
ini bagian tetra logi buru (the buru quartet) bareng bumi manusia, anak semua bangsa, dan rumah kaca....
keren lah pokokna....
Akhirnya selesai juga baca buku ini. Setelah lama terhenti, akhirnya tuntas juga. Minke sudah semakin dewasa. Buktinya kawin lagi sama Mei - seorang pelarian dari negeri Cina. Kebetulan Mei adalah tunangan dari sahabat yang pernah di tolongnya dulu.
Sesuai dengan keterangan di belakang cover buku ke tiga dari tetralogi Bumi Manusia ini, Minke turun langsung ke lapangan dan memulai membentuk organisasi massa.
Minke juga sempat melahirkan Syarikat dan akhirnya meninggalkan w...more
Sesuai dengan keterangan di belakang cover buku ke tiga dari tetralogi Bumi Manusia ini, Minke turun langsung ke lapangan dan memulai membentuk organisasi massa.
Minke juga sempat melahirkan Syarikat dan akhirnya meninggalkan w...more
| topics | posts | views | last activity | |
|---|---|---|---|---|
| imagi perjuangan... | 2 | 10 | Feb 28, 2009 07:51am |
Pramoedya Ananta Toer was an Indonesian author of novels, short stories, essays, polemics, and histories of his homeland and its people. A well-regarded writer in the West, Pramoedya's outspoken and often politically charged writings faced censorship in his native land during the pre-reformation era. For opposing the policies of both founding president Sukarno, as well as those of its successor, t...more
More about Pramoedya Ananta Toer...
Share This Book
No trivia or quizzes yet. Add some now »
“Tanpa wanita takkan ada bangsa manusia. Tanpa bangsa manusia takkan ada yang memuji kebesaranMu. Semua puji-pujian untukMu dimungkinkan hanya oleh titik darah, keringat dan erang kesakitan wanita yang sobek bagian badannya karena melahirkan kehidupan.”
—
2 people liked it
More quotes…







view all 7 comments













































