Goodreads helps you keep track of books you want to read.
Start by marking “Burung-Burung Manyar” as Want to Read:
Burung-Burung Manyar
Enlarge cover
Rate this book
Clear rating
Open Preview

Burung-Burung Manyar

4.07  ·  Rating Details  ·  2,347 Ratings  ·  232 Reviews
A landmark novel, The Weaverbirds is a tale of both physical and spiritual struggle, spanning the formative days of Indonesian independence and the Indonesian oil crisis in the mid-1970s. Larasati, the precocious daughter of Mr and Mrs Antana, and Setadewa, the army-brat son of Captain and Mrs Brajabasuki, are childhood playmates, but as adults they find themselves on oppo ...more
Paperback, 320 pages
Published 2004 by Djambatan (first published 1981)
More Details... edit details

Friend Reviews

To see what your friends thought of this book, please sign up.

Reader Q&A

To ask other readers questions about Burung-Burung Manyar, please sign up.

Be the first to ask a question about Burung-Burung Manyar

Laskar Pelangi by Andrea HirataBumi Manusia by Pramoedya Ananta Toer5 cm by Donny DhirgantoroNegeri 5 Menara by Ahmad FuadiSang Pemimpi by Andrea Hirata
Buku Indonesia Sepanjang Masa
17th out of 490 books — 1,722 voters
Bumi Manusia by Pramoedya Ananta ToerLaskar Pelangi by Andrea HirataAnak Semua Bangsa by Pramoedya Ananta ToerRonggeng Dukuh Paruk by Ahmad TohariJejak Langkah by Pramoedya Ananta Toer
Novel Indonesia Terbaik
8th out of 332 books — 325 voters


More lists with this book...

Community Reviews

(showing 1-30 of 3,000)
filter  |  sort: default (?)  |  Rating Details
indri
Aug 24, 2009 indri rated it it was amazing
Ini bukan hanya tentang cinta. Ini manusia. Bahwa manusia memiliki sifat yang tergambarkan oleh judul-judul babnya dari tulisan Romo Mangun ini.

Masa transisi, masa pasca kemerdekaan. Anak harimau mengamuk. Elang-elang menyerang. Hingga burung kul mendamba. Untuk siapa Teto berjuang? Untuk negaranya kah? Bukan, ia membenci sang proklamator. Ia hanya berjuang untuk dirinya sendiri. Karena ia benci Jepang, yang telah merenggut ayah dan ibunya darinya. Teto yang kehilangan keluarga, membuat dirinya
...more
Edy
Jan 13, 2010 Edy rated it it was amazing
Recommends it for: read and buy
Buku roman percintaan yang sangat indah, romantis, dewasa, toleran dan penuh suasana humor yang "njawani". Cinta dalam hal ini dikemas menjadi sebuh perjuangan untuk membahagiakan orang yang dikasihi. Adegan pertemuan antara Teto dan Ati di beranda rumah seorang bangsawan Solo, bagiku merupakan "adegan paling romantis sedunia yang pernah ada" dari buku-buku yang pernah kubaca ataupun dari film yang pernah kutonton. Aku kagum sama beliau seperti kekaguman Gus Dur dalam joke-nya; Romo Mangun ini n ...more
nanto
Cerita roman tentang Tetto dan Ati ini memang menarik. Termasuk salah satu karya Romo Mangun yang saya baca.

Cerita Tetto yang anak kolong dari seorang bapak yang perwira KNIL dari Resimen Mangkunegaran (?) dan ibu Belanda. Perjalanan panjangnya mempertemukan dengan Ati yang masih saudaranya. Kisah Tetto yang kemudian mengalami pasang surut seiring dengan perubahan jaman: Kolonial Belanda, pendudukan Jepang, Revolusi Kemerdekaan, pasca-pengakuan kedaulatan.

Kisah Tetto yang paling menarik pilihann
...more
Naomi
Oct 28, 2007 Naomi rated it it was amazing
Recommends it for: Anyone who love to read
Shelves: bestrecommended
Pertama kenal buku ini dari bapak. Waktu itu saya baru umur 10-an tahun. Sambil nemenin anak-anaknya tidur siang, bapak suka bacain buku ini. Ingat betul, gimana saya dan kakak jadi kecanduan lagunya Teto kecil waktu pawai keliling tangsi sama temen-temennya. Kami tak pernah berhenti tertawa, dan meminta bapak untuk mengulang-ulang bagian lagu yang kocak itu. "Dreng..deng..deng...Pak (---saya lupa) makan dendeng celeng...". Sebagai mantan anak kolong, saya merasa menemukan sebagian pribadi saya ...more
Mikael
May 04, 2010 Mikael rated it really liked it
bildungsroman prajurit KNIL cemen yg cinta mati dgn teman masa kecilnya di kraton mangkunegaran yg sekarang bekerja sebagai asisten syahrir di pihak rikiblik. apa daya konferensi meja bundar membuat kisah cinta mereka jadi pear-shaped. di waktu tua, saat montague sudah menjelma dari belanda menjadi freeport dan capulet menjadi keluarga sakinah beranak tiga, prajurit KNIL cemen bertemu lagi dgn juliet yg cintanya masih membara dan tidak keberatan poliandri. tapi apakah prajurit KNIL cemen masih t ...more
Daniel
Aug 11, 2014 Daniel rated it it was amazing  ·  review of another edition
Ke.pa.rat.

Keparat karena buku ini sungguh benar-benar bagus dan menyentuh.
Keparat karena saya menitikkan air mata di akhir buku.
Keparat karena saya baru baca buku ini sekarang.

Burung-Burung Manyar merupakan roman kehidupan Setadewa, seorang "anak kolong" yang dibesarkan oleh ide-ide kebencian terhadap Jepang, dan kecintaan yang berlebihan dengan Belanda, dan menghujat kemerdekaan republik Indonesia. Ia jatuh cinta dengan Atik--yang sayangnya, menjadi sekretaris Sutan Syahrir, yang tentu saja
...more
mahatma
Apr 24, 2008 mahatma rated it liked it
ini cara rama mangun mengisahkan babak peralihan.
berada dalam babak peralihan, kemungkinan yang terjadi adalah percampuran identitas di sana sini, di kedua belah pihak. pinjam-meminjam, tukar menukar peran, tukar-menukar posisi.
demikianlah maka sekujur novel yang mengambil setting peralihan antara sudah dan belum merdekanya indonesia ini penuh dengan pertukaran identitas tadi.
ada orang belanda tapi pro indonesia. dan sebaliknya, ada orang indonesia tapi pro belanda. demikian pula identitas karak
...more
Metri
Nov 20, 2008 Metri rated it really liked it
Shelves: indonesian
Bacaan masa kecil (SD atau SMP), pinjam dari perpustakaan, sekarang udah punya duit sendiri, jadi bisa beli.

Jarak antara baca pertama kali dengan sekarang mungkin lebih dari 15 tahun, tapi ternyata buku ini masih mengesankanku. sangat.
Bahkan munngkin lebih mengesankan ketimbang saat pertama baca, karena tentunya rentang waktu 15 tahun telah banyak memberiku tambahan pengetahuan dan kemampuan untuk lebih memahami karya Romo Mangun ini.

tak lekang oleh waktu.....


"Aku bukan pahlawan, tetapi kali ini
...more
Arlinda Hapsawardhani
Menarik, mungkin ya novel ini jadi referensi beberapa novel Indonesia (seperti Amba dan Pulang dan bahkan Partikel, mungkin), karena saya pribadi masih menganggap literatur klasik satu poin di atas literatur modern. Bahasanya mengalir, konten berbobot yang saya kurang mengerti detail mengenai sejarah Hindia Belanda dan jenis-jenis serta tabiat burung, tapi saya rasa Romo Mangun meneliti kelengkapan sejarah serta teori secara fasih dan mengemasnya menjadi novel fiksi yang dapat dinikmati publik. ...more
Aqmarina Andira
Sep 25, 2015 Aqmarina Andira rated it really liked it
"Repot juga kalau Ki Dalang harus melakonkan hikayat kacau. Klenting Kuning dan Gatutkaca."

I really love how the characters grow in this story. Indonesian only have a single point of view in the case of "Perang Kemerdekaan". The republic is the hero and the Holland's army is the bad guy.

Well, experimenting with 'seeing things from other perspectives', this story lets us see things more fairly. There is no exact black and white in any cases.

I like the analogy of Karna used to represent Teto, the
...more
Nanny SA
Aug 18, 2009 Nanny SA rated it really liked it
Shelves: novel
Walaupun sudah beberapa kali membaca buku ini, tapi masih terasa menarik karena bahasanya segar dan tidak membosankan.Terakhir saya baca buku ini beberapa tahun yang lalu tapi ketika membaca ulang masih ada renungan dan pelajaran baru yang bisa diambil

Kisah perjalan hidup tokoh Setadewa atau yang biasa dipanggil Teto yang melalui beberapa masa peralihan jaman, penuh dengan konflik baik konflik dalam dirinya sendiri maupun dengan lingkungan sosial nya termasuk konflik percintaan dengan Larasati (
...more
miaaa
Aug 24, 2009 miaaa rated it really liked it
Recommends it for: lamski kikita
Buku ini keren dan masuk dalam daftar literatur Indonesia yang akan direkomendasikan (dikirim maksudnya) ke sang penyihir yang sekarang sedang mengajarkan ilmu sihir ke anak-anak SMP di Bahrain. Tapi ada yang hilang nih ketika cerita bergulir ke tahun 60 - 70an, babak ketiga kehidupan Setadewa dan Larasati. Sayangnya aku sulit menjelaskan apa sih yang membuatku kesal dengan bagian ketiga buku ini hehe

Ah Setadewa kau memang titisan Karna, sama hebatnya, sama kerennya, dan sama-sama memilih di pos
...more
Wa"the One"
Feb 11, 2008 Wa"the One" rated it really liked it
Buku ini pertama kali aku baca waktu masih SMU. Dan pada waktu itu (namanya juga masih remaja), buku ini banyak mengajarkan bahwa "perasaan cinta tak selalu mampu tersalurkan, kita tak selalu mampu memiliki apa yang kita cintai".
Setelah kuliah, aku kembali membaca novel ini dan makin banyak hal yang dapat dijadikan bahan renungan; tentang kemanusiaan, tentang ambiguitas nasionalisme, tentang keretakan psikologis dan budaya yang dialami manusia-manusia campuran (dialami Setadewa) dll.
Dari semua b
...more
nanto
Aug 11, 2015 nanto is currently reading it  ·  review of another edition
Baca ulang dalam rangka merenungi Agustusan tahun ini
Andhika Padmawan
Setadewa, alias Teto, lahir dari keluarga berada dan setengah Jawa ningrat, ayahnya seorang Kapten KNIL dan ibunya seorang indo totok. Di lingkungan inilah ia bertemu dengan Larasati, alias Atik, seorang perempuan yang selama beberapa dekade ke depan akan saling bersinggungan. Roman ini dibagi ke dalam tiga periode, yaitu zaman Hindia Belanda yang mengisahkan masa kanak-kanak Teto dan Atik di Solo. Kemudian masa revolusi kemerdekaan ketika Teto dan Atik berusia remaja. Pada masa ini, Teto bergab ...more
Bambang Ramdhan
Jan 24, 2015 Bambang Ramdhan rated it really liked it
Ada beda yang kentara antara novel berbendera sastra lama dengan yang bangga menyebut dirinya sastra baru. Bukan, bukan soal kualitas. Tetapi soal isi. Burung-Burung Manyar adalah satu dari sekian harta sastra lama yang kekuatannya masih bisa dipertaruhkan hingga sekarang.

Untuk sebagian orang, bahasa Indonesia yang digunakan di dalam buku/novel sastra lama mungkin terkesan "mengganggu". Tapi bagi saya pribadi, inilah salah satu daya tarik Burung-burung Manyar. Novel yang secara lebih spesifik d
...more
Natani
Apr 13, 2015 Natani rated it really liked it  ·  review of another edition
buku ini sangat detail menggambarkan daerah magelang sesuai jamannya. Saya bisa membayangkan setting tempatnya secara detail. Dari segi penulisan, saya amat menyayangkan banyaknya kesalahan penulisan yang sebenarnya tidak perlu, dan ini bagi saya sangat mengganggu.

Saya tertarik pada buku ini karena saya tertarik pada penokohan yang dibuat Romo Mangun. Atik dan Teto, saya amat suka karakter ini. Atik yang diceritakan seorang doktor Biologi (kebetulan saya juga dibidang yang sama) membuat saya ter
...more
Imas
Mar 02, 2016 Imas rated it liked it

Novel dengan latar belakang 3 kurun waktu penting dalam perjalanan Indonesia dari sebelum kemerdekaan sampai dengan masa orde baru.

Sang tokoh Setadewa atau Teta turut melewati peralihan masa itu. Berkisah tentang hubungan Teta dan Atik dengan melewati konflik, pertemuan dan perpisahan.
Romo Mangun menulisnya dengan luarbiasa, termasuk tentang burung yang menimbulkan diskusi heboh. Aku sih ngga paham soal burung-burung itu....:)
Dwika Liana
Nov 11, 2015 Dwika Liana rated it really liked it
Setelah membaca kedua kalinya, kok ya difikir-fikir "Gile...ini buku kritis skali.."
Romans karya Alm. Romo Mangun ini terbilang cukup berani dengan dialog-dialog yang ia sampaikan melalui tokohnya seperti Teto, Atik, si Tuan Ambasador, si Sersan Mayor PM dan masih banyak lagi tokoh lainnya.

Si tokoh utamanya sendiri, Teto (kukatakan demikian karena setelah menutup halaman terakhir, aku sampai pada kesimpulan bahwa Burung Manyar yang disampaikan Atik dalam tesisnya menggambarkan Teto sendiri) ad
...more
Wahyu Novian
Jun 07, 2015 Wahyu Novian rated it really liked it
Tak dapat dipungkiri, ada kebanggaan tersendiri menyelesaikan buku yang penggalan ceritanya sudah sering muncul di ujian Bahasa Indonesia saat jaman sekolah dulu. Dan buku yang penggalan ceritanya sering muncul di ujian sekolah berarti memiliki sebuah cerita yang sangat mengandung arti atau tatanan bahasa-nya sangat menarik sehingga cukup pantas untuk dijadikan soal. Dan sulit. Hahaha.

Tatanan bahasa dalam buku ini jelas punya nilai plus sendiri oleh pembaca 'kekinian'. Pemilihan kata dan susunan
...more
Roswitha Muntiyarso
Luar biasa! Tidak dapat disangkal bahwa ini memang bukan sekadar novel. Ini sebuah roman. YB. Mangunwijaya mengupas sejarah masa perjuangan dan kemerdekaan Indonesia dalam sudut pandang lain. Sudut pandang seorang KNIL yang justru mendendam terhadap pemerintah Republik Indonesia.

Tokoh utama dari buku ini adalah seorang tentara KNIL, seorang keturunan blasteran Indonesia dan Belanda yang sangat mendendam terhadap pejuang-pejuang Indonesia. Betapa Setadewa, atau yang lebih akrab dipanggil Teto, me
...more
Nadia Fadhillah
Mar 09, 2016 Nadia Fadhillah rated it it was amazing
Shelves: owned, favorites
Kenapa aku baru baca buku ini sekarang? Aku kemana aja?
Oh, terima kasih banyak atas hadiah bukunya, Zaki. You are the best lah pokoknya.
Olivia Hadiwirawan
Prof Latumahina: "Pertanyaan terakhir Saudari Promovenda, apakah yg akan Anda sarankan dr segi seorang biolog utk manusia masa kini, khususnya bangsa kita?" "Semoga kita belajar menghayati dimensi kualitas. Sebab, Bapak Profesor Latumahina, segala Innerlichkeit, jati diri kita, sebenarnya mendambakan arti, makna, mengapa dan demi apa kita saling bergandengan, namun jg berkreasi aktif dlm sendratari agung yg disebut kehidupan. Semoga dialog kita membahasakan diri, tdk hanya dlm niat maupun itikad ...more
Muhammad Nawawy Arasy Padil
Apr 19, 2016 Muhammad Nawawy Arasy Padil rated it really liked it
"Bukankan hidup di persada bumi ini hanyalah mampir ngombe? Singgah sebentar untuk minum seregukan, lalu harus berjalan terus?" -Setadewa

"Aku tipe anak kolong yang sejak kecil punya kode etika berterus terang. Lebih baik berkelahi berbahasa kepal dan tendangan kaki daripada bohong dan pura-pura. Perwira tidak boleh takut. Orang takut, kebanyakan karena bodoh." -Setadewa

Aku anak kolong memang, anak kompeni, betul bajingan KNIL, biar! Tetapi bukan pengemis dan kuli seperti mereka itu. Aku jengkel
...more
Aksioma Ekaristi
Oct 11, 2015 Aksioma Ekaristi rated it really liked it
Sebenarnya selesai membaca buku ini sudah agak lama hanya saja belum sempat untuk login goodreads dan menulis sedikit ulasannya. Saya tertarik untuk membaca buku ini ketika guru sastra Indonesia saya menceritakan sedikit dari cerita ini dengan begitu menggebu. Cerita anak kolong yang tidak biasa, katanya. Ternyata benar, saya suka dengan ide cerita yang Romo Mangunwijaya bawakan. Begitu "wah". Walaupun awalnya saya sebal karena footnote yang agaknya begitu mengganggu. Akan tetapi seiring menikma ...more
Marina Zala
** Books 162 - 2014 **

selesaai jugaa membaca buku ini.. novel ini menceritakan kisah Teto atau Setadewa, anak seorang kapten KNIL yang ayahnya ditangkap oleh keipeitai dan ibunya Marice yg menjadi budak seks untuk pasukan jepang.. mencintai teman kecilnya, Atik

larasati atau dikenal Atik, anak seorang turunan raja yang ayahnya bekerja di dinas kehutanan di bogor.. mencintai sahabat kecilnya, Teto

saya menyukai buku ini dibagi menjadi 3 periode yang masing2 menunjukkan sisi2 pikiran Atik maupun tet
...more
Annisa N Fajriani
Apr 17, 2016 Annisa N Fajriani rated it liked it
Karena bacanya di tengah-tengah kesibukan lain, butuh perjuangan ekstra buat menyelesaikan buku ini. Karena saya baca yang edisi lama dan editan bahasanya masih sesuai versi jadulnya, kadang-kadang harus baca berulang-ulang buat mengerti maksud kalimatnya. Banyak terselip istilah-istilah serapan bahasa Belanda dan Jawa macam "gupermen" sampai "gantung-siwur", dan tentu saja umpatan "Verdomme!" yang tidak terganti untuk mengisahkan kebudayaan Indonesia di masa peralihan.

Saya rasa sih bukunya menc
...more
Natasha Primaditta
Awalnya saya merasa kurang nyaman dengan narasi-narasi awal buku ini. Tidak mengalir dan penuh detail-detail percuma. Selain itu, kok perilaku tokoh utama nya di dua bagian awal buku ini cenderung tidak inspiratif dan antagonistik. Namun dengan bertambah jauhnya cerita, terbuktilah bahwa bagian-bagian awal buku ini ibaratnya seperti rough diamond yang perlu dipoles dengan perkembangan cerita dan bersinar dengan caranya sendiri menuju titik penghabisan.

Buku ini menceritakan kisah Sutadewa alias
...more
Dinar
Feb 23, 2015 Dinar rated it really liked it  ·  review of another edition
Mengambil setting Indonesia di tahun 1934-1978, Burung-Burung Manyar menceritakan tentang seorang Indonesia yang anti-republik dan memilih untuk menjadi seorang tentara KNIL. Roman ini membawa kita untuk melihat revolusi Indonesia secara lebih obyektif dan reaistis, melihat dari berbagai segi kehidupan manusia yang sedang terlibat dalam masa peperangan.
Konflik si tokoh utama menjadi sangat melekat kuat di alur cerita, karena tidak hanya tentang pergolakan batin akan jati dirinya sendiri, namun
...more
Nisa Rahmah
Oct 03, 2015 Nisa Rahmah rated it really liked it  ·  review of another edition
Shelves: historical
Endingnya......


Seharusnya saya baca buku ini dulu ya ketimbang Burung-Burung Rantau. Gaya penulisan Romo Mangun jauh lebih berkembang di yang Burung-Burung Rantau. Tapi kisah ini benar-benar menarik, analogi burung yang dimasukkan ke dalam cerita memperkaya pengetahuan pembaca. Lalu, mengusung tema tentang pejuang kemerdekaan, sosok Teto benar-benar membuka alam pikiran kita selaku anak bangsa di mana perjuangan memerdekakan diri dan bangsa akan terus berlanjut. Sekarang perjuangannya tidak lagi
...more
« previous 1 3 4 5 6 7 8 9 99 100 next »
topics  posts  views  last activity   
roman sejarah fakta dan atau fiksi 1 2 Oct 19, 2015 12:53AM  
cinta tak harus memiliki... 11 81 Oct 29, 2012 07:24AM  
  • Para Priyayi: Sebuah Novel
  • Ronggeng Dukuh Paruk
  • Anak Bajang Menggiring Angin
  • Arok Dedes
  • Harimau! Harimau!
  • Olenka
  • Canting
  • Ca Bau Kan: Hanya Sebuah Dosa
  • Kitab Omong Kosong
  • Robohnya Surau Kami
  • Atheis
  • Bilangan Fu
626568
Yusuf Bilyarta Mangunwijaya was an architect, writer, Catholic priest, and activist. Romo Mangun (Father Mangun) was publicly known by his novel "Burung-Burung Manyar" which was awarded Ramon Magsaysay Award for South-East Asia Writings on 1996.

Not only active in the fiction genre, Romo Mangun also wrote many non-fiction and architectural works such as "Sastra dan Religiositas" [tr.: Literature a
...more
More about Y.B. Mangunwijaya...

Share This Book



“Tanah air ada disana, dimana ada cinta dan kedekatan hati, dimana tidak ada manusia menginjak manusia lain.” 10 likes
“Perang tidak bisa dimenangkan dengan emosi. Tetapi perhitungan yang dingin.” 7 likes
More quotes…