Goodreads helps you keep track of books you want to read.
Start by marking “Footsteps (Penguin International Writers)” as Want to Read:
Blank 133x176
Footsteps
 
by
Pramoedya Ananta Toer
Rate this book
Clear rating
Open Preview

Footsteps (Buru tetralogy #3)

4.3 of 5 stars 4.30  ·  rating details  ·  2,810 ratings  ·  178 reviews
As the world moves into the twentieth century, Minke, one of the few European-educated Javanese, optimistically starts a new life in a new town: Betawi. With his enrollment in medical school and the opportunity to meet new people, there is every reason to believe that he can leave behind the tragedies of the past. But Minke can no more escape his past than he can escape hi ...more
Paperback, 396 pages
Published July 25th 1991 by Penguin Putnam~trade (first published 1985)
more details... edit details

Friend Reviews

To see what your friends thought of this book, please sign up.

Reader Q&A

To ask other readers questions about Footsteps, please sign up.

Recent Questions

This book is not yet featured on Listopia. Add this book to your favorite list »

Community Reviews

(showing 1-30 of 3,000)
filter  |  sort: default (?)  |  rating details
Weni
Jika pada buku sebelumnya, Anak Semua Bangsa, Minke mulai mengenal kehidupan rakyat Hindia yang tertindas oleh kekuasaan kolonial, maka buku Jejak Langkah menceritakan perjuangan Minke mempelopori gerakan nasional melalui organisasi modern dan surat kabar.

Pada tahun 1906, Minke mendirikan Syarikat Prijaji bersama Thamrin Mohammad Thabrie, dua tahun sebelum berdirinya Boedi Oetomo (BO). Tahun 1909 Minke menggagas berdirinya Syarikat Dagang Islamijah (SDI), juga bersama Thamrin Mohammad Thabrie, y
...more
Harun Harahap
This review has been hidden because it contains spoilers. To view it, click here.
Erik Angriawan
''Jejak Langkah''


* "...dan modern adalah juga kesunyian manusia yatim-piatu dikutuk untuk membebaskan diri dari segala ikatan yang tidak diperlukan: adat, darah, bahkan juga bumi, kalau perlu juga sesamanya. (''Minke, 2)
* "Ilmu pengetahuan, Tuan-tuan, betapa pun tingginya, dia tidak berpribadi. Sehebat-hebatnya mesin, dibikin oleh sehebat-hebat manusia dia pun tidak berpribadi. Tetapi sesederhana-sederhana cerita yang ditulis, dia mewakili pribadi individu atau malahan bisa juga bangsanya. (''Vo
...more
Michiyo 'jia' Fujiwara
Aku lari ke belakang, cepet-cepet mandi. Masuk ke kamar,mengenakan pakaian kemarin. Semua telah terkunci di dalam kopor atau lemari. Kotak kunci pun terkunci. Anakkunci dibawa Prinses tak tahu lagi aku bagaimana kemunculanku. Destar aku pasangkan sekenanya. Dan selopnya yang sebelah.. ah kau selop, dimana pula kau bersembunyi? Mengapa pula kau ikut-ikutan mengganggu aku? Rupa-rupanya anak anjing tetangga sebelah telah menyembunyikannya, atau menggondolnya.

“Piaaaaah!”

“Selop! Mana selop!”

........
...more
Irwan
Buku ketiga tetralogi buru ini begitu tebal. Kisahnya panjang dan berliku. Elemen kesejarahan kadang mendominasi elemen mikro kehidupan Minke. Terasa sedikit menunggangi. Tapi aku rasa begitulah hidup dalam masa pergolakan. Hampir saja elemen kesejarahan itu membuatku memberi bintang tiga untuk buku ini. Sampai ketika Prinses van Kasiruta, istri Minke yang bangsawan Maluku itu, menembak gerombolan Robert Suurhof. Yes! Rasain hehehe...

Plot cerita lantas makin deras dan berliku. Seru! Di sela-sel
...more
Putri Dyah
Selamat tinggal kekasihku, rengguk hidup ini sampai ke dasar cawan. Capai cita cita mudamu sampai setinggi langit biru, rampas segala yang menjadi hakmu.

Deg. Selalu sedih dengan kata perpisahan. Ending yang begini buat makin penasaran sama buku ke empatnya.

Overall cerita dibuku ini selalu menginspirasi untuk memikirkan hak hak orang kecil, persatuan bangsa, perubahan, pemberontakan kearah yang lebih baik,. Dan review tentang pelajaran sejarah di masa berdirinya organisasi organisasi indonesia pr
...more
Brian
The first book in this quartet This Earth of Mankind made me cry. The second book Child of All Nations made me cry. This third installment of the Buru Quartet made me angry. Colonization just sucks. And when a nation of mixed cultures fight each other while working towards independence, freedom if achieved is tainted. Footsteps is the biggest of the quartet and the most political. From what I understand it is also the last of the first person narrative from Minke's point of view. One more to go ...more
Ime'... Imelda
Gue sebenarnya bingung mau ngasih buku yang satu ini angka berapa, tapi gue bulatkan tekad untuk ngasih 4 bintang untuk buku yang satu ini. Jejak Langkah adalah buku ketiga dari tetralogi Buru.

Jejak Langkah bercerita tentang sejarah berdirinya beberapa organisasi besar di awal masa perjuangan Indonesia. Sebut saja Boedi Oetomo, Sjarikat Dagang Islamijah dan lain sebagainya. To be honest, di pelajaran sejaran Indonesia, periode ini adalah periode yang paling gue benci; perjuangan Indonesia di kal
...more
Hardini
... " jangan kehilangan keseimbangan ! berseru-seru aku pada diri sendiri, memperingatkan. dimana -mana aku harus tolak persembahan gelar, jongkok, dan sembah karena kita sedang menuju ke arah masyarakat, dimana setiap manusia sama harganya, dibalik seriap kehormatan mengintip kebinasaan. dibalik hidup adalah mautdibalik kebesaran adalah kehancuran.dibalik persatuan adalah perpecahan dibalik sembah adfalah umpat maka jalan keselamatan adalah jalan tengah. jangan terima kehormatan atau kebinasaa ...more
Pera
Sep 04, 2008 Pera rated it 4 of 5 stars  ·  review of another edition
Recommends it for: kaum MUDA
Shelves: novel, indonesia
Menarikkah buku ini tanpa alur sejarah didalamnya?.

Sejarah Indonesia adalah daya tarik buku ini.
Membaca novel ini adalah cara belajar Sejarah yang lebih menyenangkan, dari pada menghapal point-point, tahun dan nama Raja-raja dalam buku pelajaran Sejarah dibangku sekolah dulu.
Serasa mundur berabad-abad dan melihat kegelisahan pemuda masa lalu. Pergulatan Menggugat identitas diri, atau menjual diri pada Belanda.

Ternyata Budi Utomo tak semegah bayanganku di buku sejarah bangku sekolahan.
Ternyata
...more
Martha
Aduh, endingnya lagi2 begini. Minke ini kasian betul nasibnya. Dari buku 1 sampai 3 ini, gak habis-habisnya musibah yang hrs dia hadapi. :-(
Berharap di buku selanjutnya, Rumah Kaca, kehidupan pribadinya bisa lebih cerah. *hmm, apa mungkin?*

Membaca Jejak Langkah, lebih terasa seperti membaca buku sejarah daripada roman. Maklum, buku ketiga dari tetralogi Buru ini sudah masuk ke tahun-tahun dimulainya perlawanan thd Hindia Belanda melalui kekuatan pers dan organisasi pribumi. Minke terlibat dalam
...more
Dendy Hardian
pergulatan diri yang dialami minke dalam perjalan sejarah bangsanya apa yang akan dilakukan demi membela kepentingan bangsanya yang akhirnya menjadikannya seorang kepala redaksi harian medan yang berbahasa melayu dan membela kepentingan rakyat hindia pada waktu itu yang belum memiliki harian sendiri, disamping berdirinya organisasi satu bangsa dalam SDI yang juga dibidaninya.Perkembangan yang sangat signifikan terhadap para pembaca medan serta merta membuat anggota organisasi SDI berkembang pesa ...more
Jed L
The third book in the Buru quartet continues the story of Minke and his quest to gain power, independence and freedom for he and other Indonesian Natives. This book moves away from the first two in that all of the other characters beside Minke are minor. But new characters are introduced. Minke also moves to a new city, a large city and begins to establish a movement to bring greater power and freedom to his own people.

At its heart this book is a story about a journey. It is a journey of a boy t
...more
Yuu Sasih
Dan posisi favorit Anak Semua Bangsa harus rela tergeser oleh Jejak Langkah.

Sebenarnya sudah punya sejak setahun lalu, beli setelah menyelesaikan Anak Semua Bangsa, tapi kemudian hanya tertumpuk karena terdistraksi oleh buku kuliah. Baru setelah kebanjiran awal Februari kemarin saya akhirnya menemukan buku ini lagi dan membacanya.

Boleh dibilang, kalau Bumi Manusia bercerita mengenai romansa dan Anak Semua Bangsa mulai bercerita tentang penyadaran kebangsaan, maka Jejak Langkah menceritakan menge
...more
Biondy
Judul: Jejak Langkah
Penulis: Pramoedya Ananta Toer
Penerbit: Lentera Dipantera
Halaman: 724 halaman
Terbitan: 2007 (pertama terbit 1985)

"Jejak Langkah" adalah buku ketiga dari kuartet Buru yang Pramoedya ciptakan selama pengasingannya di Pulau Buru.

Novel ketiga ini menceritakan bagaimana Minke yang telah melakukan observasi dan yang telah tumbuh perasaan nasionalismenya (di buku 1 dan 2), perlahan mulai mengatur perlawanan terhadap cengkraman Belanda.

Pernah dengar pepatah 'di belakang pria yang heb
...more
Teguh Puja
Jejak Langkah adalah buku ketiga dari Tetralogi Buru. Buku ketiga ini adalah buku yang terbilang jauh lebih kompleks dalam banyak sisi yang dimilikinya.

Di dalam Jejak Langkah, Pram memanggungkan pergulatan Minke yang akhirnya tinggal di Betawi dan masuk sekolah dokter. Dengan ekspektasi yang sangat besar yang dimiliki Minke, Minke tetap tak pernah benar-benar bisa diam dengan keadaan-keadaan yang ada di sekitarnya. Terlebih, jauh di lubuk hati terdalamnya Minke, ia masih belum menemukan 'kenyama
...more
Damon
Footsteps by Pramoedya Ananta Toer

Third book in the Buru Quartet. Minke who we have followed from a teenager in “This Earth of Mankind” and “Child of All Nations” grows to become a man and a political being in this book. This book synthesizes the plot structure and the politics of the first two books and adds on a great historical emphasis to bring these two aspects closely together. Though dense at times, because of historical reference, it is not an unbearable weight, but more so a corridor wi
...more
Dewinda Wiradinata
Inspiratif. Hal ini yg paling aku suka dari buku yg ini. Berkisah ttg Minke yg dibayang2i oleh seruan istri keduanya agar dia mendirikan organisasi utk bangsanya sendiri. Pribumi. Hal itu menggelisahkan hati Minke yg mulai diliputi kepedulian akan keapatisan bangsany sendiri. Juga terlalu tunduk oleh kekuatan kolonialisme dlm berbagai bentuk.

Namun, jalanny tak selalu mulus. Belum-belum, Minke telah dihadapkan pada bupati yg bersikap seperti raja kecil yg gila hormat. Gila pd sembah dan jalan ber
...more
Pras
Oct 29, 2007 Pras rated it 5 of 5 stars  ·  review of another edition
Recommends it for: youngster
Dari dua buku sebelumnya, mungkin jejak langkah dinilai agak membosankan untuk sebagian besar pembacanya. Dialog-dialog panjang Minke dengan dirinya sendiri dan berbagai tokoh pergerakan yang mulai dikenalkan Pramudya memakan hampir 60 persen dari isi buku.
Apabila buku pertama membahas tentang pribadi Minke dan perkenalannya dengan Annelies dan Nyai Ontosoroh dan terlihat sifat pergerakan belum mencapai pikiran Minke dan buku kedua berkutat dengan Konflik Minke dan beberapa pribumi dengan kekuas
...more
Nuni
ternyata interpretasi makna benar di pengaruhi cara berpikir pembaca/penikmat rangkaiannya.....

pernah baca buku ini dari hasil pinjaman jaman sma atau kuliah (sampe lupa persisnya)... dan yang teringat dulu bku2 dalam tetralogi ini begitu jauh dari yang mungkin saya bayangkan nyatanya...buat saya masa2 pergerakan yang dituangkan dalam rangkaian tulisan ini "merely" bagian dari sejarah yang tidak terlau bisa saya nikmati...

tapi setelah akhirnya saya miliki buku2 ini dan entah kenapa insist untuk
...more
Jong
Minke akhirnya sampai di Betawi. Masuk STOVIA dan bertemu dengan calon-calon dokter pribumi lainnya.
Di buku ini, setelah disadarkan oleh Dokterjawa dan lain-lain, Minke mulai membuat organisasi.
Pram berhasil menanamkan sebuah pemikiran ke pembaca: sebuah organisasi, jika sistemnya berjalan dengan baik, akan memberikan efek yang sangat dahsyat bagi perjuangan.
Setelah kehilangan Annelis, Minke bertemu Ang San Mei. Seorang pelarian dari Tiongkok, China. Seorang anggota Angkatan Muda. Minke memper
...more
Juanda Brahma Metta
Buku ini bertutur dengan cara yang menggairahkan. Bagaimana tidak ? Seorang inlander yang notabene semut dalam derap langkah manusia Belanda kolonial berusaha memaparkan produk perlawanan dari cara yang paling hakiki, menulis. Dan bukanlah seorang inlander biasa jika ia bisa menulis dan tulisannya bisa diakui hingga ke gubernur jenderal. Mestilah ada sindiran pedas terhadap kolonial, yang cerdas namun juga pahit. Dan itu dilakukan oleh seorang mahasiswa tingkat awal, mengerikan ya ? Mana ada jam ...more
Jusmalia Oktaviani
"Itulah gunanya kisah-kisah itu diajarkan, dipergunakan jadi pegangan bila keadaannya berpulang pada diri kita sendiri."

"Semua ditentukan oleh keadaan...yang di gurun pasir takkan menggunakan bahtera, yang di samudera takkan menggunakan onta."

---

Jejak Langkah, adalah buku ketiga dari Tetralogi Buru. Berbeda dengan dua buku pendahulunya, yakni Bumi Manusia dan Anak Semua Bangsa, di buku ini tokoh utama Minke tidak terlalu dihadapkan pada 'drama' percintaan dan juga kegelisahan yang membelenggunya
...more
Mira Mirnawati
Membaca buku ini ketika masih Hasta Mitra yang menerbitkan dengan sampul Mey dan prinses dan kira-kira gambar Minke di ujung sebelah kanan. Lentera Dipantara menerbitkannya kemudian dengan sampul yang dominasi orange. Apappun penerbitnya, Pram berhasil membangkitkan imajinasiku tentang pergumulan kehidupan Minke dengan Mey, MInke dengan Bundanya, Minke dengan Prinses. MInke dengan sekolah dokternya, Minke dengan destarnya yang dilucuti ketika pertama kali masuk seklah kedokteran, dan Minke yang ...more
MSN. Hani
Bagus untuk yang mulai belajar pergerakan....., satu yang pasti, Buku Ini Kiri...!!!
Arif Abdurahman
'Didiklah rakyat dengan organisasi dan didiklah penguasa dengan perlawanan."
Kali ini Albert Camus-nya Indonesia menceritakan lika-liku Minke dalam mendirikan suatu organisasi bagi pribumi. Dari pembentukan Syarikat Priyayi yang kemudian mandek di tengah jalan, ketidakpuasan pada Budi Utoma, sehingga dirintislah Syarikat Dagang Islam.
Selain itu, Minke bergulat juga dalam bidang jurnalistik dengan merilis surat kabar Medan.
Endingnya uh... seperti biasa bikin geram dan penasaran buat lanjut ke buku
...more
Hafizh Hermawan
"bila akar dan batang sudah cukup kuat dan dewasa, dia akan dikuatkan oleh taufan dan badai"
sebuah kutipan dari buku ini yang akan saya katakan jika harus mendeskripsikan buku ini dalam satu kalimat. roman ketiga tetralogi buru ini adalah roman puncak dari perjuangan Minke terhadap bangsa pribumi Hindia Belanda saat itu.
dimana dalam dua roman sebelumnya adalah bagaimana tentang pembentukan karakter atau akan saya istilahkan pembentukan philosophische gronslaag dari seorang revolusionis, maka dal
...more
Bening Tirta Muhammad
Membaca buku ini menangkal dua hal...

Pertama, teman saya bilang antiklimaks dari Tetralogi Buru dimulai dari buku ketiga ini. Tapi saya melihatnya buku ini punya masalahnya sendiri dan lebih dinamis dan datar. Dinamis dan datar bisa bersamaan? Dinamis karena dia konflik melompat-lompat, relatif datar karena tidak mendalam menenggelamkan jiwa pembaca pada satu palung konflik. Saya menanggapi ini sebagai kenyataan kehidupan ibukota dan sebagai warga negara dunia, bahwa ada banyak aspek dari hidup
...more
Yogi Saputro
Saya senang akhirnya bisa menyelesaikan bacaan yang tertunda sejak setahun lalu. Dan karya ketiga dari Tetralogi Buru ini masih sekeren pendahulunya.

Dari segi cerita, saya sudah tidak mengharapkan apa-apa yang mengejutkan seperti di buku pertama, Bumi Manusia. Tidak ada ketegangan dari sisi cerita. Namun perkembangan Raden Mas Minke ini selalu menarik untuk diikuti. Tidak bosan-bosan rasanya membalik halaman demi halaman.

Yang paling penting, karya ini sangat detail dalam menjelaskan semua eleman
...more
dedeh
This review has been hidden because it contains spoilers. To view it, click here.
« previous 1 3 4 5 6 7 8 9 99 100 next »
topics  posts  views  last activity   
imagi perjuangan... 6 48 May 05, 2014 10:56AM  
  • Burung-Burung Manyar
  • Ronggeng Dukuh Paruk (Dukuh Paruk, buku 1 - 3)
  • Para Priyayi: Sebuah Novel
  • Anak Bajang Menggiring Angin
  • Harimau! Harimau!
  • Rahasia Meede: Misteri Harta Karun VOC
  • Pulang
  • Bilangan Fu
  • Ca Bau Kan: Hanya Sebuah Dosa
  • Olenka
  • Robohnya Surau Kami
  • Cantik itu Luka
  • Tanah Tabu
  • Kitab Omong Kosong
  • Atheis
  • Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma
  • Canting
  • Aku Ingin Jadi Peluru (Kumpulan Puisi)
101823
Pramoedya Ananta Toer was an Indonesian author of novels, short stories, essays, polemics, and histories of his homeland and its people. A well-regarded writer in the West, Pramoedya's outspoken and often politically charged writings faced censorship in his native land during the pre-reformation era. For opposing the policies of both founding president Sukarno, as well as those of its successor, t ...more
More about Pramoedya Ananta Toer...

Other Books in the Series

Buru tetralogy (4 books)
  • Bumi Manusia
  • Child of All Nations (Tetralogi Buru, #2)
  • House of Glass (Tetralogi Buru, #4)
Bumi Manusia Child of All Nations (Tetralogi Buru, #2) Gadis Pantai House of Glass (Tetralogi Buru, #4) Arok Dedes

Share This Book

“Tanpa wanita takkan ada bangsa manusia. Tanpa bangsa manusia takkan ada yang memuji kebesaranMu. Semua puji-pujian untukMu dimungkinkan hanya oleh titik darah, keringat dan erang kesakitan wanita yang sobek bagian badannya karena melahirkan kehidupan.” 37 likes
“Apakah sebangsamu akan kau biarkan terbungkuk-bungkuk dalam ketidaktahuannya? Siapa bakal memulai kalau bukan kau?” 19 likes
More quotes…