Goodreads helps you keep track of books you want to read.
Start by marking “Larung” as Want to Read:
Larung
Enlarge cover
Rate this book
Clear rating
Open Preview

Larung

3.35  ·  Rating Details  ·  2,848 Ratings  ·  210 Reviews
Buku ini adalah kisah lanjutan novel Saman. Di penghujung masa Orde Baru. Saman telah tinggal di New York sebagai pelarian politik. Ia bertemu lagi dengan empat sahabat yang dulu membantu ia kabur dari Indonesia—Shakuntala si pemberontak, Cok si binal, serta Yasmin dan Laila yang diam-diam mengagumi dia.

Kini mereka memiliki misi baru: membantu tiga aktivis mahasiswa kiri m
...more
Paperback, Cetakan Pertama, 264 pages
Published November 2001 by KPG (Kepustakaan Populer Gramedia) (first published 2001)
More Details... edit details

Friend Reviews

To see what your friends thought of this book, please sign up.

Reader Q&A

To ask other readers questions about Larung, please sign up.

Be the first to ask a question about Larung

Laskar Pelangi by Andrea HirataBumi Manusia by Pramoedya Ananta Toer5 cm by Donny DhirgantoroNegeri 5 Menara by Ahmad FuadiSang Pemimpi by Andrea Hirata
Buku Indonesia Sepanjang Masa
78th out of 491 books — 1,726 voters
Bumi Manusia by Pramoedya Ananta ToerLaskar Pelangi by Andrea HirataAnak Semua Bangsa by Pramoedya Ananta ToerRonggeng Dukuh Paruk by Ahmad TohariNegeri 5 Menara by Ahmad Fuadi
Novel Indonesia Terbaik
62nd out of 339 books — 336 voters


More lists with this book...

Community Reviews

(showing 1-30 of 3,000)
filter  |  sort: default (?)  |  Rating Details
Darnia
Jan 06, 2016 Darnia rated it liked it
Jujur, seharusnya part 2, tentang Yasmin, Cok, Laila dan Shakuntala pas di New York gak perlu sepanjang itu. Gw pribadi juga bukan penggemar kisah-kisah affair, seromantis apapun itu. Jadi...yah, gw sama sekali gak bisa bersimpatik pada keempat sahabat ini (walaupun karakter Shakuntala yg notabene penari yg androgini terasa cukup menarik. Mungkin perlu dibikinkan episode sendiri...mungkiiin).

Gw suka pada kisah Larung. Baik kisah Larung saat menempuh jalur antah berantah demi usaha meng-euthanasi
...more
Weni
Nov 12, 2008 Weni rated it really liked it
Halaman 152 (Shakuntala bercerita ttg percakapannya dg Laila):


"Aku bikinkan kamu susu. Dengan kopi atau coklat?"
Kamu tertawa. "Kenapa kamu selalu memaksa orang minum susu?"
"Karena perempuan akan kehilangan massa tulang setelah ia menopause."
Kamu nyengir. "Masih 20 tahun lagi."
"Masih 20 tahun waktumu untuk menabung tulang."

Dan waktu itu lebih pendek jika kita tak punya lelaki sebagai sumber feromon yang bisa senantiasa kita endus. Sebab hirupan atas keringat lelaki merutinkan haid kita dan memper
...more
Fahrul Amama
Oct 09, 2007 Fahrul Amama rated it really liked it
Shelves: fiction
Dalam novel ini Ayu Utami menyatakan perang terhadap eufimisme bahasa. Walau pada novel "Saman" sebelumnya telah terlihat kelugasannya dalam penggunaan kata-kata yang membuat sebagian orang mengeryitkan dahi. Ayu Utami menegaskan kembali dalam buku ini bahwa kata benda maupun kata kerja seharusnya terlahir dalam kondisi netral dan terbebas dari konotasi apapun. Terserah jika Taufik Ismail menganggapnya sebagai Fiksi Alat Kelamin. Yang pasti konyol juga kalo bahasa Indonesia kita harus meminjam i ...more
Novi Muzzy
Mar 19, 2015 Novi Muzzy rated it liked it
Novel lanjutan dari Saman ini masih menekankan pergerakan aktivis di masa orde baru. Judulnya diambil dari seorang tokoh yang mulai bersinggungan dengan tokoh utama. Larung, begitu namanya. Seorang pemberani, bukan orator tapi berjuang di balik layar dan secara bergerilya saat era pemerintahan Soeharto. Penulisnya pintar meramu. Dibiarkan pembaca mabuk dengan kisah asmara antara Saman dengan Yasmin atau perjuangan Laila mendapatkan pria dambaan hatinya.

Klimaks justru berada di bagian akhir. Bera
...more
dunianyawira
Dec 23, 2009 dunianyawira rated it really liked it
setelah membaca 2 bukunya ayu utami, saman dan larung...hmm..menurutku memang ayu punya gaya bahasa yang khas
saman dan larung sama2 khas dan menarik tapi saya bisa lebih menikmati larung daripada saman mungkin karena waktu membaca saman masih dalam proses penyesuaian tapi kalo mambaca larung tanpa saman jg rasanya pasti kurang mantap...

banyak saya liat,pembaca yang menilai cara ayu membahasakan seks sebagai nilai minus dalam buku2nya padahal menurutku justru itu kekuatan ayu dimana ia tidak pern
...more
Aya
Jul 01, 2015 Aya rated it really liked it  ·  review of another edition
Shelves: bahasa, sastra
Lagi-lagi rekor seharian baca selesai.
Setelah sukses merobek hati di buku Saman, saya langsung "perkosa" buku ini yang masih perawan alias masih berplastik dan bersih. Saya masih dalam minggu UAS tapi yaaa males banget deh belajar wong dosennya juga males ngajar dan lagi-lagi males banget sama bacaan barat Young Adult, Contemporary apalah itu.

Overall, saya suka buku ini lah. Ayu masih mempertahankan cerita masalah tahun '98 dan menjadi cambuk untuk para pembacanya yang baru menginjak dewasa ha
...more
Awal Hidayat
"Ketika orang menjadi tua maka keindahan pergi ke luar dirinya. Pada saat itulah kita tahu rasanya memiliki mata untuk melihat kecantikan hidup dari luarnya sebab kita telah berjarak dari hidup. (..) Tapi menjadi tua adalah seperti bayangan yang pelan - pelan terlepas dari layar dan meninggalkan film yang terus berputar sementara ia terhirup ke kursi penonton dan menyaksikan cerita yang berjalan tanpa dirinya disana lagi. ( sebuah gedung bioskop, nak, adalah layar lebar yang bercahaya dan ruang ...more
Sarasvvati Ajeng
Somehow saya masih lebih suka buku Saman dibanding Larung. Mungkin karena di ending buku Saman, saya berekspektasi sangat tinggi untuk baca lanjutannya, tapi ternyata alur cerita yang ada di Larung nggak sesuai dengan harapan saya. Tapi, secara keseluruhan saya tetap suka baca novel ini, walaupun tetap aja selama saya baca, di dalam hati kecil saya (cailah!) masih menunggu-nunggu ceritanya jadi ke-Saman-Saman-an. Kalau ditanya exactly apa yang bikin beda, saya juga nggak ngerti, maklum bukan pen ...more
Dedul Faithful
Jan 25, 2015 Dedul Faithful rated it really liked it
Sengaja membedakan satu bintang dari buku sebelumnya yang memang tidak terlalu bertele-tele seperti isi di buku ini.
Secara garis besar memang Larung begitu padat dengann aroma gerakan bawah tanah para aktivis yang by the way saya juga gak terlalu paham maksud dan tujuan mereka apa, semuanya abstrak dan dijelaskan sangat implisit oleh Ayu Utami.
Saya bosan saja pada delapan puluh empat halaman yang menjelma solilokui tentang perjuangan Larung untuk meng-euthanasia neneknya, jujur saja kalau hal it
...more
N. R Jelyta
May 15, 2010 N. R Jelyta rated it it was ok
buku ke dua saman...
ini... berisi sedikit berbeda dengan novel sebelumnya...
tapi dari segi bahasa tidak menunjukkan perbedaan karena tentunya pengarangnya sama...
tapi sayang... ending keduanya...
tidak mengenakan...
saman berending tanpa titik... dan pembaca diharuskan membaca novel lanjutannya yaitu Larung.

Tak bedanya dengan saman Larung ber -ending tanpa kejelasan tertentu hanya kematian yang mengakhiri ceritanya
Darth Pika
Dec 24, 2012 Darth Pika rated it it was amazing
Contrary with public opinion, even with the author it self, I'd prefer Larung as the best narration compared with Saman. The title it self caught my eye, the unended coffin!

Larung using, what I called Darkness Literary about the darkside of Indonesia: 1965's killing field. The narration about the dead of Larung's grandmother is really really throw me into the bitter experienced of Indonesian in that decade.
Lukas Yohan
Feb 13, 2016 Lukas Yohan rated it liked it  ·  review of another edition
Shelves: read-2016
Lanjutan buku Saman ini jalan ceritanya memang terkesan membosankan karena banyak bagian di tengah yang terlalu panjang diceritakan. Konteks-konteks tertentu yang terasa lebih baik diceritakan pada buku Saman malah masuk ke buku Larung. Makanya bagian kedua yang mestinya mengisahkan banyak bagian mengenai Larung akhirnya hanya terkesan sebagai pelengkap. Tokoh Larung hadir di bagian awal dan menjelang akhir buku saja.

Namun meski begitu isi buku ini tetap sangat-sangat berkualitas sehingga merang
...more
Roswitha Muntiyarso
Saya membaca Saman ketika saya masih duduk di bangku MTs. 10 tahun kemudian baru saya membaca lanjutannya. Ayu Utami begitu mantap membeberkan ceritanya. Karakter-karakter yang kuat masih membayang meskipun saya membaca Sama sepuluh tahun lalu. Ketika Saman atau Fater Wis menceritakan kembali akan cintanya pada Upi, saya masih mengingatnya tanpa melihat kembali ke halaman-halaman buku Saman. Memang ceritanya sangat terbuka masalah seksualitas dan feminisme. Wajar buku ini sangat memicu kontrover ...more
Nandar Firdaus
Apr 06, 2014 Nandar Firdaus rated it really liked it
yah, semua sudah mengulas semua tentang larung dan ayu utami, rata rata tentang gaya bahasa atau perangnya terhadap eufimisme gaya bahasa yang saat itu selalu dijadikan patokan untuk membuat karya sastra.

saya menyoroti dari cara dia membuat humor, bukan dari kata2 tapi dari kondisi, seperti "simbah, aku yang ngantuk, kenapa kau yang tertidur",
sekilas, tanpa memahami kondisinya, kat2 diatas takan mampu memancing gelak tawa, tapi karena kondisi ketegangan larung saat berjuang untuk membunuh simbah
...more
Mutmut
Oct 19, 2014 Mutmut rated it really liked it
Finally finished the second book of Saman. In spite of the vulgarity of the language or the diction, perhaps, some people think it's vulgar, 'kay, I find it cool. I mean, can't woman writer (is it woman writer? lol) write like that? :v the characters too, each characters has different, um.. what is it, err.. atmosphere? whooaaa... I still remember when I tell people that I really want to read this book, they will say, "...do you seriously want to read those books? those books are generally talki ...more
Levinia Aldora
Nov 15, 2015 Levinia Aldora rated it liked it
Saya suka Larung (tokoh bernama Larung, bukan novel Larung), bagian dia di novel ini benar-benar satu hal yang kayaknya paling top dan menolong bagian-bagian membosankan lain, seperti di bagian Saman yang bagi saya agak monoton. Satu poin yang saya suka dari bagian Saman itu cuma kalau dia lagi ngomongin / mikirin Yasmin.

Dan satu lagi, karena saya baca Maya lebih dulu, jadinya kurang lebih saya udah tahu bakalan seperti apa endingnya, mungkin itu satu faktor yang buat novel ini biasa saja buat s
...more
Celina
Mar 10, 2016 Celina rated it really liked it  ·  review of another edition
Semakin tidak mengerti arah buku ini ke mana. Terlalu.... hmmmm merekah.
Di buku yang pertama saya sudah sedikit kecewa karena gak ngerti masalah utama dan topiknya apa.
Dibilang tentang eksil prareformasi enggak, dibilang roman juga enggak. Gak jelas deh pokoknya.
Di buku yang kedua ini saya merasa nyaman membaca, tapi bukunya makin aneh.
Shakun menjadi androgini dan akhirnya tidur bersama Laila.
Yasmin sayang Saman.
Cok suka Larung.
Larung dan Saman mati di tangan ABRI.
Tetot. Buku apaan nih. Jangan k
...more
Diah Sukmawati
Saat membaca Saman kemarin, saya suka sekali dengan gaya menulis Ayu Utami. Saya pikir, wah ini sangat khas, tema yang diangkat juga menarik.Walaupun di akhir-akhir saya bingung tujuan dari novel ini entah kritik orba, entah membahas seks, entah hal-hal superstitious. Entahlah. Mungkin kombinasi semuanya.

Masalah mulau muncul ketika Saman mulai banyak mimpi. Jadi saya tidak bisa membedakan mana mimpi mana kenyataan. Apalagi ketika Ansor tiba-tiba muncul lagi. Mungkin ada detail yang saya lewatkan
...more
ratna
Sep 06, 2007 ratna rated it did not like it
Shelves: indonesian
I was quite disappointed after reading this. For me, Saman is much more enjoyable than Larung.
Afid Nurkholis
Oct 24, 2014 Afid Nurkholis rated it liked it
Entah mengapa..kisah sejarah Indonesia selalu menarik ! mungkin krn banyak sejarah yg terselebung atau mungkin pelajaran sejarah yg bobrok ? Mungkin

Saman & Larung berkisah mengenai perlawanan terhadap rezim orde baru dgn gayanya yg khas : kisah cinta dan bahasa nya yg fulgar . Kisah perlawanan terhadap kekuasaan yg ada jg sangat menarik ! mungkin krn saya mahasiswa angkatan millenium yg lebih byk update medsos, lebih memilih ngerjain tugas drpd "berperang"

at last, buku ini bisa nambah sudut
...more
Adisti
Jan 24, 2016 Adisti rated it liked it
Gw tahu buku ini udah lama. Banyak orang yang membicarakan buku ini. Gw juga melihat buku ini ada di rak buku abang gw. Tapi saat itu gw belum punya ketertarikan untuk membacanya.

Sampailah pada sebuah sesi pelatihan bahasa Indonesia di kantor lama gw. Sang pemberi pelatihan, Bu Amel, bilang kalau mau tahu buku dengan kosa kata bahasa Indonesia yang kaya namun baku cobalah baca buku-buku karya Ayu Utami. Di situ timbullah ketertarikan gw.

Namun karena waktu itu gw ngekos dan jarang pulang, lalu gw
...more
Abi Ghifari
Feb 28, 2016 Abi Ghifari rated it it was amazing  ·  review of another edition
Shelves: novel
Dwilogi “Saman & Larung” barangkali merupakan salah satu sumbangan terpenting di ranah sastra Indonesia pada masa detik-detik menjelang Reformasi, yang ditandai dengan mundurnya Presiden Jenderal Soeharto dan runtuhnya pemerintahan Orde Baru selama 32 tahun berkuasa di bumi pertiwi. Latar belakang sepasang novel ini pun tak jauh seputar itu, kegiatan para aktivis yang melakukan pergerakan di berbagai bidang untuk membela masyarakat kalangan bawah dalam menentang ketidakadilan. Pergerakan baw ...more
Aliftya Amarilisyariningtyas
Jan 03, 2015 Aliftya Amarilisyariningtyas rated it really liked it
“Kata-kata Larung berhenti bersama suara letupan yang redam. Saman mendengar tubuh itu jatuh ke dekat sisinya. Kepalanya menoleh ke arah itu seperti mencari kepastian. Tapi ia mendengar kedap letupan sekali lagi. Dalam sepertiga detik itu yang ia inginkan hanyalah pamit pada Yasmin. Setelah itu ia diam. Diam yang tak lagi menunda.” – halaman 295.

“Arrrrrgggh!”

Teriak saya seusai membaca habis novel ini. Sebelumnya, izinkan saya terlebih dahulu untuk mengungkapkan kesan sebelum membahas hal lainny
...more
Sally Siawidjaja
Aug 11, 2008 Sally Siawidjaja rated it did not like it
Shelves: indonesia-fiksi
Akhirnya selesai juga baca buku ini. Phewww...

Sebagai pemula dalam bacaan sastra, baca buku ini seperti makan sushi pake wasabi yang banyak. Pedes banget. Mungkin ada orang yang suka tapi gue pribadi ga suka sama sekali.

Yang gue ga suka:
1. Cara penulisannya yang terlalu berlebihan, seperti tentang tai, daki, bau-bau an pokoknya jorok deh, jadi mual.. Kalau ttg alat kelamin dan sex masih bisa gue terima, walau menurut gue kadang berlebihan.

2. Semua karakter di buku ini kok melankolis yah.. yan
...more
Glenn Ardi
Lanjutan dari buku Saman, buku Ayu Utami yang kedua ini bercerita ttg kelanjutan kisah Saman, Laila, Shakuntala, Cok, dan Yasmin. Dengan tambahan satu tambahan karakter utama bernama Larung, Larung Lanang.

Pada awal buku ini, cerita berjalan dengan gamang - menceritakan kisah Larung dan neneknya, dengan gaya penulisan Ayu yang kental akan puisi konseptual dibumbui dengan monolog dari sudut pandang orang pertama.

Entah mengapa, bagian ini saya merasa alur cerita berjalan sangat lambat, penulisannya
...more
Achmad Muchtar
Judul: Larung
Pengarang: Ayu Utami
Penerbit: Kepustakaan Populer Gramedia
ISBN: 9799023637 (ISBN13: 9789799023636)

Larung adalah novel lanjutan Saman yang memenangkan Sayembara Roman DKJ. Larung juga merupakan karya kedua dari Ayu Utami. Cerita diawali dengan pergumulan batin seorang lelaki muda berdarah Bali bernama Larung yang merasa terkungkung dalam bayang-bayang neneknya yang pesakitan. Niat membunuh seorang wanita tua yang telah berumur begitu panjang, serasa menjadi wajar karena kehidupan nen
...more
Amanda Sheila
Well, bukan buku favorit saya, yang pasti. Ayu Utami terkenal dengan karya sastranya dan saya bukan penggemar sastra. Buku ini bagus, tapi berulang kali ada saat di mana saya berpikir, "what's that suppose to mean?"

Lalu aku mendengar, orang-orang menyebut ibumu gerwani. Ibumu memakai beha hitam dengan lambang bintang merah di satu pucuknya, palu arit di pucuk yang lain, kata mereka. Ia mengumpulkan perempuan-perempuan dan mengajar tari telanjang, dan mengirim wanita-wanita untuk merayu para pra
...more
Fertina N M
Jun 13, 2012 Fertina N M rated it it was ok
Saya akui buku Ayu Utami ini ( Saman dan Larung ) sangat lah rumit ( setidaknya menurut saya ). Saya cukup suka sebenarnya baca buku - buku misteri atau detektif, tapi buku Ayu Utami ini lebih mencampuri misteri, filsafat, agama, politik Indonesia dan psikologi. Karna saya tidak suka dengan politik, saya sedikit banyak masih awam bagi saya istilah dan analisis yang ada di dua buku ini. Tapi saya akui sekali lagi, buku ini jadi membuka sedikit banyak pengetahuan tentang keadaan yang ada di Indone ...more
Henry Wijaya
Jun 24, 2008 Henry Wijaya rated it it was amazing
Recommends it for: critical readers
Recommended to Henry by: Mas Lambang
Larung (by Ayu Utami) is the sequel of her previous amazing book, Saman. This book is as superb as its prequel, I can say. Still written with Ayu Utami's straightforwardly brilliant style, this book fascinated me so much. The story was still thrilling in unusual way. The plot still moves from one character to other characters in a nice way (making me wonder: So, what happen with this character? Why do we move to this character. Aaaargh, hehehehe). The language is still as brave as before (You kn ...more
Zhico zulfa choiriyah
Jan 11, 2015 Zhico zulfa choiriyah rated it it was ok
Secara pribadi saya lebih menyukai saman dibandingkan buku kelanjutannya ini. gaya khas tulisan ayu utami dalam buku larung ini masih sangat kentara, berkisar pada kritik atas orde baru, spiritualitas dan sex dalam bentuk yang berbeda. Kekurangannya adalah, jika kita mengharapkan larung ini sebagai buku penutup maka harapan itu tidak akan terpenuhi. Berbagai persoalan dan perjalanan tokoh yg dihidupkan dalam buku ini masih tetap menjadi pertanyaan hingga akhir.
« previous 1 3 4 5 6 7 8 9 99 100 next »
There are no discussion topics on this book yet. Be the first to start one »
  • Ca Bau Kan: Hanya Sebuah Dosa
  • Sebuah Pertanyaan untuk Cinta
  • Entrok
  • Olenka
  • Arok Dedes
  • Supernova: Petir
  • Burung-Burung Manyar
  • Orang-orang Proyek
  • Pulang
  • Rahasia Selma: Kumpulan Cerita
491233
Justina Ayu Utami atau hanya Ayu Utami (lahir di Bogor, Jawa Barat, 21 November 1968) adalah aktivis jurnalis dan novelis Indonesia, ia besar di Jakarta dan menamatkan kuliah di Fakultas Sastra Universitas Indonesia.
Ia pernah menjadi wartawan di majalah Humor, Matra, Forum Keadilan, dan D&R. Tak lama setelah penutupan Tempo, Editor dan Detik pada masa Orde Baru, ia ikut mendirikan Aliansi Jurn
...more
More about Ayu Utami...

Share This Book



No trivia or quizzes yet. Add some now »