Goodreads helps you keep track of books you want to read.
Start by marking “Rumah Bambu: Kumpulan Cerpen Pertama dan Terakhir” as Want to Read:
Rumah Bambu: Kumpulan Cerpen Pertama dan Terakhir
Enlarge cover
Rate this book
Clear rating
Open Preview

Rumah Bambu: Kumpulan Cerpen Pertama dan Terakhir

3.49 of 5 stars 3.49  ·  rating details  ·  446 ratings  ·  37 reviews
Paperback, 200 pages
Published 2007 by Kepustakaan Populer Gramedia (first published 2000)
more details... edit details

Friend Reviews

To see what your friends thought of this book, please sign up.

Reader Q&A

To ask other readers questions about Rumah Bambu, please sign up.

Be the first to ask a question about Rumah Bambu

Community Reviews

(showing 1-30 of 794)
filter  |  sort: default (?)  |  rating details
Windy hapsari
kumpulan cerita dari Romo Mangun ini bagus, walaupun kata orang penuturnnya sedikit berbelit belit. but for me message delivered !.
potret masyarakat desa dan problematikanya sehari hari, begitu realistis sekaligus memprihatinkan.
sudut pandang dan cara berpikir Romo Mangun kok sedikit banyak sama dengan sudut pandang saya. itu yang bikin shock. sumpah !
contoh di salah satu cerpen, Romo Mangun menceritakan anak kutu buku yang menggembala domba dombanya, dan kemudian ditipu orang sehingga dombanya
...more
Ria
Jul 03, 2012 Ria marked it as to-read
kali pertama membaca tulisan Romo...

* Tak Ada Jalan Lain - ...Biar damai, asal tidak ramai?. Tiba-toba terasa sakit hatinya ooleh kesadaran bahwa kedamaian bagi orang punya dan tak punya memang tidak sama akarnya (9)

*Cat Kaleng - Jika seorang anak kecil mencuri maka alasan sederhana orang tuanya adalah "Ah, memang bibitnya sudah terlanjur buruk. Yang salah salah bibitnya". eh?
Melita
Membaca buku ini seperti duduk mendengarkan penuturan begitu banyak orang tentang cerita hidupnya. Ada si sinden wedok, anak perempuan kecil yang mencuri cat, pilot pesawat tempur wanita, dan banyak lagi. Mengasyikkan!

Katanya (di sampul belakang buku), "Buku ini menantang kita untuk merasakan kehidupan manusia yang mungkin tidak pernah kita bayangkan." :)
Meisiska Vemilia
bagus. baik yang pertama maupun yang kedua.
David
cool book...must read it
Charina
borrowed it from a friend....
Arief Bakhtiar D.
ROMO Mangun pernah menulis cerita sederhana tentang colt tua dan seorang penggembala.

Penggembala itu bernama Kasirin. Lengkapnya, seperti tulis Romo, agaknya dengan sedikit humor, “raden mas bagus sinyo Hario Kasirin”. Kasirin adalah pemuda pemalas. Tapi dari empat bersaudara keluarga Pawiro, Kasirin bukan yang paling pemalas. Abangnya, Kasiman, sebenarnya sama pula. Bedanya, Kasimin jadi bandit (“semoga Allah yang Mahamurah lagi Mahapengasih mengampuninya”, tulis Romo), hidup mengembara, sement
...more
Tp Kharisma
Joko Pinurbo dan TH Kushardini, penyunting, mengantarkan buku ini dengan kisah kenyentrikan YB Mangunwijaya. The Romo Mangun, yang ketika gelisah suka mengelilingi meja 15 kali. Romo yang keras dan eksentrik--ia memesan lem kanji tapi jadinya terlalu banyak. Walhasil si pembuat lem disodori piring untuk makan kelebihan kanji tadi. Otoriter, tapi hangat, humoris, gampang trenyuh melihat bocah jalanan. Romo ini jugalah arsitek yang mengubah pemukiman miskin Kali Code. Ia pernah berang ketika dahan ...more
cindy
kumcer romo mangun yang benar-benar realistis, memotret kehidupan sehari-hari dari berbagai tokoh (dan seekor anjing kudisan) yang beda-beda zaman dan datang dari berbagai latar belakang, secara jujur dan tanpa tendensi apa-apa. yah, seperti itulah kehidupan.

cerpen favoritku? sulit, hampir semua cerpen disini kusukai karena bermacam alasan. tapi puyuk gonggong kurasa unik sekali settingnya dan thithut punya tokoh utama yang sangat tidak lazim.
Evana Dwi
Rumah Bambu adalah salah satu cerpen dalam buku ini. Dan membacanya seperti membaca kehidupan lain yang mungkin tidak pernah kita rasakan atau bahkan kita bayangkan. Kepekaan dan kepedulian Romo Mangun terhadap penderitaan orang lain bisa kita selami satu-satu dalam kumpulan cerpen beliau ini.
Danu Primanto
Anda bisa bayangkan sosok pemuda ireng sonokeling (hitam banget) berbeha warna pinky (merah muda menyala) ? Lalu pemuda yang salah kodratnya itu nekat berkebaya kenes (anggun) melenggak-lenggok di jalanan demi seratus-dua ratus rupiah. Entah darimana Mangunwijaya, yang kerap disapa Rama (orang tua yang dihormati) punya imajinas liar ini. Ini menjadi titik berangkat pada buku kumpulan cerpen pertama dan terakhir dari Mangunwijaya. Dikenal sebagai rohaniwan, arsitek dan hamba kaum papa tak menjadi ...more
Gilang Permana
cerita Natal 1945 mengingatkan kita akan Surabaya nya Idrus
Fanny Aprilta
berat banget T___T
Arie  Sukma Jaya
Menilik pada sang penulis yaitu Romo Mangun, langsung tergambar bahwa cerpen-cerpen di dalam buku ini akan banyak berhubungan dengan realita sosial dan budaya. Beberapa kisah bisa mengundang senyum sedangkan kisah lainnya bisa membuat miris para pembaca. Selalu saja ada makna dibalik setiap kisah-kisah tersebut. Dari sekian banyak cerpen yang ada dibuku ini, kisah berjudul Rheinstein sangat berkesan untuk saya. Ada keunikan tersendiri yang muncul dari alur cerita dan konflik yang ditampilkan.
za
Baru ingin membeli. Sempat menimang-nimang di toko buku, namun belum dibeli hingga saat ini. Aku ingin mengenal lebih dengan sosok Romo Mangun, pemikiran berikut karya-karyanya.

---

Akhirnya beli juga. Beli di Togamas Bandung, malam Minggu kemarin, 1 September 2007. Baru baca satu cerpen pertama. "... ternyata syukur orang kaya dan miskin itu berbeda", kurang lebih begitu kata-kata terakhir di cerpen pertama Romo Mangun ini.
Fhia
Bingung -_-"
Restu Aji
Kumpulan cerpen yang punya sudut pandang unik dan membuat aku tersadar betapa kisah kehidupan sehari-hari dan apa yang ada di sekitar juga mampu memberi hikmah.
Cerpen favoritku:
-Colt Kemarau (kisah paling pahit, pahit, pahit)
-Mbak Pung (aduh jodoh itu emang bukan gak kemana tapi ada dimana...)
-Natal 1945 (kisah pejuang muda yang naif)
-Renungan Pop (ini yang paling lucu di kum cer ini)
Famega Syavira
Kumpulan cerpen Romo Mangun, yang pertama dan terakhir. Sebagai fans Pohon-pohon Sesawi saya suk sekali dengan buku ini yang berisi cerita-cerita sederhana yang menyejukkan hati. Terasa berlebihan betul kehidupan orang Jakarta sekarang ini.
Memang tidak semua cerpennya bagus, ada beberapa yang sungguh sulit dicerna sehingga kulewatkan saja tapi lainnya sangat mengaduk emosi. A must read.
gonk bukan pahlawan berwajah tampan
klo gak suka novel romo mangun yg panjang mending baca kumpulan cerpen romo kayak yg satu ini,khas dengan gaya romo mangun, cuplikan potret 'gesang ing saben dinten' dr beberapa latar belakang dan generasi masyarakat kayak mas wagiyo, mbok benguk, mas khalid dll....mangunan banget dech....
Gita
seperti biasa Romo Mangun selalu bisa membawa pembaca seolah olah menjadi bagian dari cerita cerita yang ditulisnya. Rumah Bambu sebuah kumpulan cerita tentang realitas kehidupan manusia yang benar benar ada dan terjadi. Bijak, lucu, mengharukan sekaligus memberi pembelajaran idup
Ilma Dityaningrum
Y.B. Mangunwijaya atau lebih saya kenal dengan nama Romo Mangun, bercerita mengenai kehidupan. Dan lagi-lagi, romo memang seorang Realis-Kultural, menurut saya. Ceritanya sederhana namun penuh dengan nilai.
Felly
3 setengah bintang untuk cerita-cerita pendek Romo Mangun. Kesahajaan yang terpancar lewat kehidupan tokoh-tokoh dalam Rumah Bambu terasa nyata dan hidup begitu apa adanya.
Sikha
Ini buku pertama Romo Mangun yang kubaca. Cara bertuturnya sederhana tapi asyik. Kisah-kisahnya pun sederhana, tapi juga tetap saja asyik. Itulah yang membuatnya luar biasa.
Agustinus Susanto
Buku sederhana mendiang Rm. Mangun Wijaya yang membeberkan kisah perjuangan dengan senjata. Nuansa kocak membuatku hanyut dalam penciptaan kondisi emosional waktu itu
Joned Tjokrobedog
KUMPULAN CERPENNYA romo Mangun
cerdas, padat, jenaka
sudut pandang kemanusiaan yang kental dan pekat terasa

yang paling kusuka
TEMPE KRIPIK!!! ala romo Mangun

Tri Suryo
bacaan yg hangat, menghibur, realitas ttg sosial masyarakat indonesia pada umumnya dirangkum dalam kumpulan cerpen cerdas karya romo mangun,
Doni S. Habil
tema-tema yang diangkat sungguh menarik, ringsn dan sangat sederhana namun mampu menghadirkan sebuah hikmah dan kesadaran tersembunyi..
Ireal jp
entah karena beliau merupakan seorang arsitek yg harus dihormati...entah juga kerena memang cerpennya bagus...entahlah...
Dina P.
Sudah lama tidak membaca buku/cerpen dengan tema 'jadul' seperti ini. Sastra yang humanis, buku yang menyenangkan.
« previous 1 3 4 5 6 7 8 9 26 27 next »
There are no discussion topics on this book yet. Be the first to start one »
  • Linguae
  • Kuda Terbang Maria Pinto
  • Malam Terakhir: Kumpulan Cerpen
  • Bidadari Yang Mengembara
  • Jalan Tak Ada Ujung
  • Seribu Kunang-Kunang di Manhattan
  • Robohnya Surau Kami
  • Balada Ching-Ching dan Balada Lainnya
  • Orang-Orang Bloomington
  • Perburuan
  • Negeri Para Peri
  • Dari Ave Maria ke Jalan Lain ke Roma
  • Anak Bajang Menggiring Angin
  • Pengarang Telah Mati: Segenggam cerita
  • Canting
626568
Yusuf Bilyarta Mangunwijaya was an architect, writer, Catholic priest, and activist. Romo Mangun (Father Mangun) was publicly known by his novel "Burung-Burung Manyar" which was awarded Ramon Magsaysay Award for South-East Asia Writings on 1996.

Not only active in the fiction genre, Romo Mangun also wrote many non-fiction and architectural works such as "Sastra dan Religiositas" [tr.: Literature a
...more
More about Y.B. Mangunwijaya...
Burung-Burung Manyar Rara Mendut: Sebuah Trilogi Roro Mendut: Novel Sejarah versi Y.B. Mangunwijaya Pohon Pohon Sesawi Burung-Burung Rantau

Share This Book