Goodreads helps you keep track of books you want to read.
Start by marking “Merantau Ke Deli” as Want to Read:
Merantau Ke Deli
Enlarge cover
Rate this book
Clear rating
Open Preview

Merantau Ke Deli

by
4.14 of 5 stars 4.14  ·  rating details  ·  270 ratings  ·  28 reviews
Originally published in a periodical, Pedoman Masjarakat (1939-1940). First edition as book (1941), published by Cerdas Medan.
181 pages
Published (first published 1941)
more details... edit details

Friend Reviews

To see what your friends thought of this book, please sign up.

Reader Q&A

To ask other readers questions about Merantau Ke Deli, please sign up.

Be the first to ask a question about Merantau Ke Deli

This book is not yet featured on Listopia. Add this book to your favorite list »

Community Reviews

(showing 1-30 of 607)
filter  |  sort: default (?)  |  rating details
winda
Dari dulu sampai sekarang,orang merantau berharap mendapatkan kehidupan yang lebih baik daripada hidup di kampung halamannya. Tetapi tak semua beruntung. Jika sekarang Jakarta menjadi tujuan orang merantau, maka dahulu Deli pernah menjadi tujuan karena majunya perkebunan disana. Tentunya, jaman telah berubah, namun semangat merantau untuk perubahan nasib menjadi lebih baik tak pudar dimakan jaman.

Dari Jawa atau dari Minangkabau ke tanah Deli, sekarang tidaklah “merantau” lagi. Bahkan dari Saban
...more
Fuad Syazwan Ramli
Perbuatan kita hari ini, mungkin tak berbekas pada hari ini, namun boleh jadi ia menghantui kita, pada kemudian hari. Apakah kita yakin, apa yang kita lakukan, apa yang kita perkatakan, akan menjadi rahmat, atau menjadi kecelakaan? Hari ini kita bisa mengatur kata, mengatur langkah, tapi esok hari, bila pembalasan itu datang, kita sudah tua, sudah hilang daya kita, maka yang timbul hanya sesalan... Masih adakah peluang untuk membetul segala kecurangan???
Siddiq
terbaik. Kritikan budaya dan agama terhadap masyarakat minang dan jawa. walaupun sudah lama tetapi masih segar.
Azlinah Awang
Karya Buya HAMKA yang membuatkan saya teruja menghabiskannya sehingga muka surat akhir. Kritik sosial kepada budaya masyarakat Minangkabau. Karekter Poniem yang mengugah rasa. Tapi takdir ALLAH itu begitu indah susunannya.

Beberapa petikan ayat yang menjadi kegemaran dibaca berulang kali.

"Meskipun mereka menderita payah, tetapi mata mereka hidup. Tidak ada debar dan goncang jantung, melainkan berjalan terus menuju maksud"

"Orang bukan merancang hidupnya sendiri tetapi menjalani rancangan yang tela
...more
Abdul Hakim Abdul Basir
Tidak syak lagi Buya Hamka tidak pernah gentar untuk mengkritik kepincangan yang dilihatnya wujud dalam pengamalan adat masyarakatnya. Karyanya, Merantau ke Deli (MKD) sarat dengan kritikan sosial terhadap budaya Minang yang pada pandangan Hamka amat materialistik dan menekan kepada pihak lelaki.

Adat orang Minang ketika itu, kalau merantau harus tidak lupa untuk kembali membawa harta pulang ke negeri sendiri untuk menambahkan harta suku masing-masing. Di negeri asalnya, juga perlu dibuatkan ruma
...more
Amirul Asyraf
Merantau ke Deli merupakan satu karya yang sangat kritikal dalam membicarakan isu budaya dan adat dan masyarakat melayu Minangkabau dan melayu Jawa.

Buya HAMKA telah mengkritik adat minangkabau yang terlalu mementingkan adat dan mengutamakan wanita dalam urusan seharian sehingga menyebabkan kesusahan bagi pihak lelaki. Dalam buku ini, buya HAMKA telah menerangkan perbezaan budaya dan adat minangkabau dengan terperinci dan kemas. Teknik penceritaan beliau sangat memberi kesan yang mendalam.

Buku in
...more
Irene Sijabat
Apabila cinta itu dituluskan kepada seorang, maka laki-laki itu akan menerima cinta yang penuh pula dari seorang perempuan. Mau perempuan itu mengorbankan dirinya sendiri untuk segenap keperluan suaminya. Tetapi apabila si laki-laki telah membagi cinta itu kepada dua orang perempuan, keduanya akan merebut merampas supaya suami itu lebih berat kepada dirinya sendiri. Ketika itu laki-laki yang dimintanya berkorban untuk dirinya, bukan dia lagi yang mau berkorban untuk laki-laki, - Merantau ke Deli ...more
Raymon
Sep 28, 2007 Raymon rated it 4 of 5 stars
Recommends it for: pecinta sastra
karangan ulama sekaligus cendikiwan besar indonesia..dengan penuturan yang sederhana ,menceritakan tentang "poniman, seorang buruh perkebunan yang hidup di tengah masyarakat perkebunan di Deli..sumatera tengah
cerita yang mengalir sederhana, dengan sentuhan adat,sosial, dan tentu agama..
Padoindo
I love to give this a five, but that would be a bias. :)

Simple yet classic storyline. I could understand the critics Buya want to tell us, but some of them are either misinterpreted or the people in that story did not understand the tradition thoroughly.

I personally believe that the mores ancestors set for us are higher and wiser, yet the implementation was far from perfect; "Adat bersendi syarak, syarak bersendi Kitabullah". One should learn/know the Minangkabau culture to really understand the
...more
MidaS
Siapa tidak kenal hamka, manusia yang penuh dengan kurnia. saya tunggu filem ini.
Juliana Es
Currently being lent to Diksu.
Syafiqa
a good read :)
Abi Ghifari
Ini adalah kali ketiga saya membaca karya yang lahir dari tangan seorang Buya Hamka, setelah 'Lembaga Hidup' dan 'Tenggelamnya Kapal Van der Wijck'. Seperti judulnya, roman ini berlatar belakang di Deli, Sumatera Utara, sebuah daerah yang barangkali menjadi tempat lahirnya 'orang Indonesia' selain Jakarta, karena keberagaman suku dan etnis yang mendiaminya.

Sebagaimana 'Tenggelamnya Kapal Van der Wijck', kisah cinta yang dimuat di buku ini juga sarat akan bumbu khas Minangkabau, bagaimana adatnya
...more
Munirah
Karya HAMKA pertama yang dibaca, pada mulanya saya risau tidak dapat memahami gaya bahasa penulis namun setelah membaca beberapa muka pertama, ternyata kerisauan ini tidak bertempat. Penulisan HAMKA mudah difahami dan menggamit emosi pembaca. Jalan ceritanya juga bertemakan suatu isu yang menjadi perdebatan pada masa tersebut tetapi masih relevan untuk masa kini. InsyaAllah akan terbuka minda untuk membaca karya HAMKA yang lain juga.
Fajar
Jalannya nasib tidak yang mengetahui. Sebelum manusia bertindak, seharusnyalah manusia berfikir atas apa yang diperbuatnya. Seandainya terlanjur dilakukan, maka manusia tinggal menunggu penyesalan datang di akhir.

Kehidupan itu seperti roda pedati. Pada suatu saat, seseorang berada di atas puncak kemegahan. Dan ketika roda bergerak, suatu saat nanti dia terpuruk. Begitulah seterusnya.

Dalam " Merantau ke Deli," Hamka melukiskan permainan nasib tokoh-tokohnya, yang seperti biasa, selalu melence
...more
Firza  Rhamadhan
buku pertama yang saya baca dari karya Buya HAMKA. Saya membelinya langsung di Museum Rumah Kelahiran Buya HAMKA.
Ceritanya sederhana dan mengalir. Penuh dengan konflik budaya antara Jawa dan Minang. Saya jadi banyak tahu mengenai budaya Minang dalam buku yang menceritakan kisah Leman, Poniem, Suyono dan Mariatun ini.
Ariza
Karya pertama Hamka yang saya baca. Terus jatuh hati dengan pengolahan ayat-ayatnya dan maksud tersirat yg diselitkan. Mengisahkan kisah cinta dan alam rumah tangga, tetapi rasanya menyeluruh dalam semua aspek kehidupan utk dijadikan pedoman.

Sukalah!
Nani Adila
Buya Hamka sentiasa menghidangkan karya yang bagus. Jatuh dan naik semula, pengkritikan adat Orang Minang.

" Kesulitan yang engkau rasakan itu hanyalah sebelum ditempuh. Kalau sudah ditempuh hal itu, sudah mudah."- page 57
Zaid
Novel ketiga yang aku baca tulisan Buya Hamka selepas Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck dan Di Bawah Lindungan Kaabah. Juga bertemakan pengembaraan, cinta, dan adat.

Hafizah
Secara ringkasnya, buku ini menjelaskan maksud "biar mati anak, jangan mati adat", menggambarkan ayat "ikut hati, mati, ikut rasa, binasa".
Elwani
kisah orang melarat. orang terbuang.
refleksi tentang kehidupan.
macam biasa, menangis sedu sedan di dalam jiwa.
Ayu Rahmina
i think novel merantau ke deli that's great! i like this novel
Mustaqim Huzaini
Penuh dengan pengajaran dari muka satu hingga ke muka akhir.
win
sebagai anak deli, saya menemukan sejarah sebutan anak deli dalam novel karya hamka ini. saya jadi ingin belajar banyak sejarah tanah deli, tanah kelahiran saya.
Khaulah Zulkifli
senang sekali dengan karya pak Hamka.

ceritanya juga tak diduga. kisah antara budaya dan adat dua negeri. minangkabau dgn jawa.

namun, pengakhiran tidak menghampakan.

lelaki mudah tertarik dengan wanita muda. ini fakta.
Baniza
Love stories between two different cultures it happens
Christina Tety
pas ....lagi merantau di deli
Nik Syuha
Nik Syuha is currently reading it
Sep 04, 2015
Faiz Mah hassan
Faiz Mah hassan marked it as to-read
Sep 04, 2015
« previous 1 3 4 5 6 7 8 9 20 21 next »
There are no discussion topics on this book yet. Be the first to start one »
  • Tunggu Teduh Dulu
  • Secangkir Teh Pengubat Letih
  • Imam
  • Formula Solat Sempurna
  • Salju Sakinah
  • Jalan Tak Ada Ujung
  • Nota Hati Seorang Lelaki
  • Merahnya Merah
  • Keluarga Gerilya: Kisah Keluarga Manusia dalam Tiga Hari-Tiga Malam
  • Salina
625942
Haji Abdul Malik Karim Amrullah, known as Hamka (born in Maninjau, West Sumatra February 17, 1908 - July 24, 1981) was a prominent Indonesian author, ulema and politician. His father, syekh Abdul Karim Amrullah, known as Haji Rasul, led and inspired the reform movement in Sumatra. In 1970's, Hamka was the leader of Majelis Ulama Indonesia, the biggest Muslim organizations in Indonesia beside Nahdl ...more
More about Hamka...
Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck Di Bawah Lindungan Ka'bah Falsafah Hidup Terusir Tasauf Modern

Share This Book