Si Parasit Lajang: Seks, Sketsa, & Cerita (Parasit Lajang #1)
by
Ayu Utami
Jika perkawinan ibarat pasar, orang-orang yang memutuskan tidak menikah sesungguhnya mengurangi pasokan istri seperti OPEC mengatur suplai minyak. Saya percaya berkeluarga itu bagus untuk orang lain.
Paperback, 180 pages
Published
August 2003
by Gagas Media
Friend Reviews
To see what your friends thought of this book,
please sign up.
This book is not yet featured on Listopia.
Add this book to your favorite list »
Community Reviews
(showing
1-30
of
1,290)
sekali lagi, ayu utami terjebak dengan kekuatan sekaligus kelemahannya: ketrampilannya berbahasa -atau kengototannya?-
hal ini membuat ayu kebablasan, lupa mengolah pikiran-pikiran besar yang ada di buku ini. hanya terasa sensasional-nya. anomali-nya. cuma greget di tidak gentarnya ayu menulis sesuatu yang beda.
pernikahan itu pikiran besar. dunia yang puitis. penuh ambigusitas. penyatuan tubuh dalam dunia rekaan peristiwa. tubuh yang bahagia dan tubuh yang tak bahagia. melebihi dari sekedar teks...more
hal ini membuat ayu kebablasan, lupa mengolah pikiran-pikiran besar yang ada di buku ini. hanya terasa sensasional-nya. anomali-nya. cuma greget di tidak gentarnya ayu menulis sesuatu yang beda.
pernikahan itu pikiran besar. dunia yang puitis. penuh ambigusitas. penyatuan tubuh dalam dunia rekaan peristiwa. tubuh yang bahagia dan tubuh yang tak bahagia. melebihi dari sekedar teks...more
Si Parasit Mashokis
“Sebagai korban kapitalisme, saya bukan orang yang serta merta membenci kapitalisme dengan mengidentikkannya dengan hegemoni Barat dan patriarkal. Kapitalisme minus monopoli sejajar dengan demokrasi dalam banyak segi: sebuah sistem yang di sana publik diperhitungkan…”
(Ayu Utami, ‘Barbie, Barbie, Barbie’)
Saya mendapati buku itu di malam pertama tarawih. Seperti kebanyakan mahasiswa rantau yang berumah tak terlalu jauh, saya pulang untuk munggahan di rumah orang tua. Begitu saya...more
“Sebagai korban kapitalisme, saya bukan orang yang serta merta membenci kapitalisme dengan mengidentikkannya dengan hegemoni Barat dan patriarkal. Kapitalisme minus monopoli sejajar dengan demokrasi dalam banyak segi: sebuah sistem yang di sana publik diperhitungkan…”
(Ayu Utami, ‘Barbie, Barbie, Barbie’)
Saya mendapati buku itu di malam pertama tarawih. Seperti kebanyakan mahasiswa rantau yang berumah tak terlalu jauh, saya pulang untuk munggahan di rumah orang tua. Begitu saya...more
Karena saya membaca yang cetakan kedua dari KPG, sepertinya ada beberapa hal yang ditambahkan dari versinya yang sebelumnya.
Kenes dan lugas. Buku ini seperti bagaimana Ayu Utami menggambarkan dirinya. Jujur dan blak-blakan. Banyak isu tentang perempuan, seksualitas, dan pernikahan yang diungkap di sini, mulai dari alasan-alasan untuk melajang, sampai kondom dan status perempuan di mata masyarakat. Esai-esainya ditulis dengan pemikiran kritis khas feminis, ditulis dengan bahasa perempuan juga. Ja...more
Kenes dan lugas. Buku ini seperti bagaimana Ayu Utami menggambarkan dirinya. Jujur dan blak-blakan. Banyak isu tentang perempuan, seksualitas, dan pernikahan yang diungkap di sini, mulai dari alasan-alasan untuk melajang, sampai kondom dan status perempuan di mata masyarakat. Esai-esainya ditulis dengan pemikiran kritis khas feminis, ditulis dengan bahasa perempuan juga. Ja...more
Dengan cerobohnya saya membaca "Kisah Cinta Enrico" lebih dulu tanpa tahu bahwa dalam trilogi ini, "Si Parasit Lajang" adalah buku pertama. Pantas ada yang aneh pada bagian akhir KCE, siapakah A?
Ternyata Erik dalam buku ini adalah cikal bakal Enrico. Ooops...spoiler.:D
Membaca buku ini bikin saya serasa dibawa berjalan-jalan ke dalam pikirannya si A yang penuh dengan logika tentang seks, hubungan antara pria-wanita dan tentu saja Tuhan.
Banyak yang bilang buku ini vulgar. Tapi menurut saya sih bi...more
Ternyata Erik dalam buku ini adalah cikal bakal Enrico. Ooops...spoiler.:D
Membaca buku ini bikin saya serasa dibawa berjalan-jalan ke dalam pikirannya si A yang penuh dengan logika tentang seks, hubungan antara pria-wanita dan tentu saja Tuhan.
Banyak yang bilang buku ini vulgar. Tapi menurut saya sih bi...more
Aku suka tulisan Ayu Utami. Banyak juga temanku yang tidak suka. Kebanyakan malah laki-laki. Aku curiga, jangan-jangan mereka menjadi merasa bodoh karena Ayu banyak menuliskan dominasi perempuan sebagai tokohnya. Eh, yang sangat mendominasi di Saman, sih. Beberapa orang yang banyak membaca itu tidak suka tulisan Ayu di sini karena dianggap terlalu vulgar. Menurut aku tingkat vulgarnya biasa-biasa aja, sih. Yang dituliskan kejujuran, namun tidak genit. Ia mengutarakan apa yang ada di kepalanya, d...more
Saya membaca Si Parasit Lajang yang cetakan baru yaitu Februari 2013. Memesan secara PO supaya dapat tanda tangan dan Notes Kreatif. Norak ya. Hahaha...
Di luar kenorakan tadi, saya memang menyukai novel-novel karya Ayu Utami, baik yang fiksi maupun yang mengisahkan kisah nyata seperti buku ini dan Cerita Cinta Enrico. Bahasa yang digunakan Ayu memiliki kekuatan tersendiri. Belum lagi bila bicara tentang alur cerita dan karakter tokoh yang kuat.
Buku ini berisi cerita-cerita pendek tentang pengala...more
Di luar kenorakan tadi, saya memang menyukai novel-novel karya Ayu Utami, baik yang fiksi maupun yang mengisahkan kisah nyata seperti buku ini dan Cerita Cinta Enrico. Bahasa yang digunakan Ayu memiliki kekuatan tersendiri. Belum lagi bila bicara tentang alur cerita dan karakter tokoh yang kuat.
Buku ini berisi cerita-cerita pendek tentang pengala...more
Tak bisa diungkapkan dengan sebuah plot, tapi "Si Parasit Lajang" tak ayal menelanjangi setiap pemikiran tabu dari para masyarakat urbanis. Sebagai A, Ayu Utami--seorang katolik yang gemar mengkritik--tak ubahnya menyelipkan cercahan pikiran ke dalam lembaran kertas. Kadang lucu, kadang satir, tapi memang lebih banyak satir dan mencibir. Feminis, mungkin bisa jadi, tapi terkadang apatis. Seperti khalayak mungkin tak sepenuhnya tahu bagaimana pangkal dan hilir dari keberadaan film biru, sebagaima...more
Saya tau nama Ayu Utami ketika novel Saman ramai diperbincangkan, tapi malah bukan novel itu yang saya baca pertama kali untuk mengenal karya Ayu. Buku inilah yang pertama kali singgah di tangan saya.
Suka karena cara bertutur Ayu yang lugas dan tanpa tedeng aling-aling. Hal-hal kecil yang remeh-temeh hingga persoalan penting kehidupan diangkat dengan bahasa yang asik dan sesekali sukses bikin saya senyum2 sendiri. Dari barbie, pernikahan hingga Pramoedya.
Secara kualitas, saya tidak hendak meragu...more
Suka karena cara bertutur Ayu yang lugas dan tanpa tedeng aling-aling. Hal-hal kecil yang remeh-temeh hingga persoalan penting kehidupan diangkat dengan bahasa yang asik dan sesekali sukses bikin saya senyum2 sendiri. Dari barbie, pernikahan hingga Pramoedya.
Secara kualitas, saya tidak hendak meragu...more
"Dan begitulah jangan-jangan cinta. Seperti bunga. Jika ia tak lekang, berarti ia imitasi. Jika asli maka ia cuma tahan 3 hari."
"Tapi kenapa saya marah pada teman saya yang malang dan bukan pada pemerintah? Kenapa seringkali justru marah pada korban? Ini mungkin yang namanya adaptasi. Jika kita tidak bisa mengubah keadaan, kita menyesuaikan diri dengannya."
"Sebab, apalah yang paling menyenangkan di dunia ini? Buat saya: memiliki teman-teman yang tidak punya kepentingan selain berteman itu sendir...more
"Tapi kenapa saya marah pada teman saya yang malang dan bukan pada pemerintah? Kenapa seringkali justru marah pada korban? Ini mungkin yang namanya adaptasi. Jika kita tidak bisa mengubah keadaan, kita menyesuaikan diri dengannya."
"Sebab, apalah yang paling menyenangkan di dunia ini? Buat saya: memiliki teman-teman yang tidak punya kepentingan selain berteman itu sendir...more
3.5/5
Si Parasit Lajang merupakan kumpulan tulisan Ayu Utami yang tersebar di berbagai media yang ditulisnya selama satu dekade. Awalnya buku ini diterbitkan oleh Gagas Media pada tahun 2003 dan laris manis. Tahun 2013, Kepustakaan Populer Gramedia menerbitkan kembali buku ini dengan beberapa tambahan tulisan dari Ayu Utami.
Membaca buku ini, tak ubahnya seperti membaca blog pribadi Ayu Utami. Materi tulisan kebanyakan diambil dari keseharian penulis. Entah itu tentang pekerjaan, para sahabat, per...more
Si Parasit Lajang merupakan kumpulan tulisan Ayu Utami yang tersebar di berbagai media yang ditulisnya selama satu dekade. Awalnya buku ini diterbitkan oleh Gagas Media pada tahun 2003 dan laris manis. Tahun 2013, Kepustakaan Populer Gramedia menerbitkan kembali buku ini dengan beberapa tambahan tulisan dari Ayu Utami.
Membaca buku ini, tak ubahnya seperti membaca blog pribadi Ayu Utami. Materi tulisan kebanyakan diambil dari keseharian penulis. Entah itu tentang pekerjaan, para sahabat, per...more
Ini buku ketiga milik Ayu utami yang saya baca..
entah kenapa, saya tidak pernah suka dan menyetujui dengan apa yang dia tulis. Meski ini bku ketiga, bukan berarti saya menyukai tulisannya... monoton. Selalu bercerita tentang Sex, perempuan, kebebasan badaniah dll.. Menurut saya, Ayu Utami seperti 'salah mengerti' dengan definisi "Feminisme". Tapi, memang nyatanya, sebagian besar perempuan di Indonesia memang "salah mengartikan" arti dari feminisme.
Dan ayu utami menunjukkan kesalah mengertiannya...more
entah kenapa, saya tidak pernah suka dan menyetujui dengan apa yang dia tulis. Meski ini bku ketiga, bukan berarti saya menyukai tulisannya... monoton. Selalu bercerita tentang Sex, perempuan, kebebasan badaniah dll.. Menurut saya, Ayu Utami seperti 'salah mengerti' dengan definisi "Feminisme". Tapi, memang nyatanya, sebagian besar perempuan di Indonesia memang "salah mengartikan" arti dari feminisme.
Dan ayu utami menunjukkan kesalah mengertiannya...more
Kawan,
pernahkah kamu tiba-tiba tertarik secara seksual dengan orang yang telah lama menjadi teman? Lalu, berpikir untuk ciuman bahkan tidur dengannya suatu hari untuk bertemu lagi esoknya seolah tak pernah terjadi apa-apa? (hal.102)
Membaca kumpulan esai Ayu Utami ini, saya serasa ngobrol dengan seorang kenalan baru yang mendukung pendapat dan sikap saya tentang perkawinan, seks, agama, gender, kehidupan sosial, sastra...Dan saya ingin segera menjadikan kenalan baru itu sebagai sahabat sehati.
Saa...more
pernahkah kamu tiba-tiba tertarik secara seksual dengan orang yang telah lama menjadi teman? Lalu, berpikir untuk ciuman bahkan tidur dengannya suatu hari untuk bertemu lagi esoknya seolah tak pernah terjadi apa-apa? (hal.102)
Membaca kumpulan esai Ayu Utami ini, saya serasa ngobrol dengan seorang kenalan baru yang mendukung pendapat dan sikap saya tentang perkawinan, seks, agama, gender, kehidupan sosial, sastra...Dan saya ingin segera menjadikan kenalan baru itu sebagai sahabat sehati.
Saa...more
kumpulan esai ringan yang enak dibaca, tapi dijamin sekarang ayu utami pastilah punya pandangan yang berbeda karena sudah tak lagi lajang :-) yang menarik adalah petikan kalimat di salah satu esai dalam buku ini, "kalau nanti saya jadi perawan tua, saya tidak mau jadi perempuan yang judes, yang iri melihat perempuan muda yang cantik." :-D Ayu ter-stigmatisasi
Kalau aku membuat review tentang buku ini, diakui, ini hanya main-main saja. Bukan apa-apa, aku sungguh tak memiliki kesan sedikit pun tentang kisah di dalam buku ini!
Yang aku ingat, Ayu utami membuat semacam memoar singkat-singkat, mengangkat kisah-kisah keseharian tuk direnungkan mendalam.
Kalau ada yang rajin membaca kolom dia di Koran Seputar Indonesia, isinya ya seperti itulah. Bahasanya terlalu canggih, sehingga kadang makna yang tertangkap pun menjadi nihil. Mungkin Ayu utami terlalu asyik...more
Yang aku ingat, Ayu utami membuat semacam memoar singkat-singkat, mengangkat kisah-kisah keseharian tuk direnungkan mendalam.
Kalau ada yang rajin membaca kolom dia di Koran Seputar Indonesia, isinya ya seperti itulah. Bahasanya terlalu canggih, sehingga kadang makna yang tertangkap pun menjadi nihil. Mungkin Ayu utami terlalu asyik...more
This is the collection of Ayu Utami's short stories and (if I'm not mistaken) essays. The language is still as brave as her previous two novels. Yet, the ideas here are not too interesting and fresh. In this short stories collection, I think, she is trying to change the attitude of Indonesian people who always think that choosing not to get married is something weird. However, I think the way she defenses that idea is somehow too much. I got the sense that she is trying to defense her own idea o...more
There are no discussion topics on this book yet.
Be the first to start one »
Justina Ayu Utami atau hanya Ayu Utami (lahir di Bogor, Jawa Barat, 21 November 1968; umur 44 tahun) adalah aktivis jurnalis dan novelis Indonesia, ia besar di Jakarta dan menamatkan kuliah di Fakultas Sastra Universitas Indonesia.
Ia pernah menjadi wartawan di majalah Humor, Matra, Forum Keadilan, dan D&R. Tak lama setelah penutupan Tempo, Editor dan Detik pada masa Orde Baru, ia ikut mendirik...more
More about Ayu Utami...
Ia pernah menjadi wartawan di majalah Humor, Matra, Forum Keadilan, dan D&R. Tak lama setelah penutupan Tempo, Editor dan Detik pada masa Orde Baru, ia ikut mendirik...more
Share This Book
No trivia or quizzes yet. Add some now »

Loading...

































terus gw harus blng wow ah ah ah ah ah gitu
Apr 22, 2013 08:49pm
May 09, 2013 09:55pm