2nd out of 66 books
—
40 voters
Garis Batas: Perjalanan di Negeri-Negeri Asia Tengah
by
Agustinus Wibowo (Goodreads Author)
Penduduk desa Afghan setiap hari memandang ke “luar negeri” yang hanya selebar sungai jauhnya. Memandangi mobil-mobil melintas, tanpa pernah menikmati rasanya duduk dalam mobil. Mereka memandangi rumah-rumah cantik bak vila, sementara tinggal di dalam ruangan kumuh remang-remang yang terbuat dari batu dan lempung. Mereka memandangi gadis-gadis bercelana jins tertawa riang,...more
Paperback, 528 pages
Published
April 14th 2011
by Gramedia Pustaka Utama
Friend Reviews
To see what your friends thought of this book,
please sign up.
Community Reviews
(showing
1-30
of
842)
Garis batas - daratan ataupun perairan - antarnegara harus dibuat sangat jelas karena sering menimbulkan konflik. Bahkan perang. Begitu juga dengan garis batas kepemilikan tanah antar penduduk. Menyerobot sedikit saja, bisa berujung pada saling bacok. Batas privasi dengan umum. Batas agama. Batas suku. Batas jenis kelamin. Batas status sosial. Batas wilayah tukang parkir, pengamen, dan mungkin pengemis. Sebut saja. Semua hal bisa dibuat garis batasnya. Cantik-jelek. Kaya-miskin. Pintar-bodoh. Ba...more
Setelah mengenal Afghanistan lebih dekat lewat buku ‘Selimut Debu”, Agustinus Wibowo mengajak kita bertualang melewati garis batas Afghanistan menuju negara-negara berakhiran –Stan. Melalui buku Garis Batas ini kita diperkenalkan lebih dekat dengan negara Tajikistan, Kirgizstan, Kazakhstan, Uzbekistan dan Turkmenistan.
Garis batas geografis terkadang ditandai oleh sungai, pegunungan, jalan atau tonggak-tonggak yang terpancang antar dua wilayah negara yang berbeda. Saat kita melewati garis terseb...more
Garis batas geografis terkadang ditandai oleh sungai, pegunungan, jalan atau tonggak-tonggak yang terpancang antar dua wilayah negara yang berbeda. Saat kita melewati garis terseb...more
Apakah mungkin sebuah garis imajiner buatan manusia mampu menentukan nasib (sekelompok) manusia? Bagaikan garis takdir Tuhan, garis batas menentukan seluruh sendi kehidupan manusia. Berangkat dari pertanyaan itu sebagai tema sentral Agustinus Wibowo menyusun sebuah tulisan yang sangat menggugah berdasarkan perjalanannya menyusuri Asia Tengah, di negara-negara yang bahkan belum tertera di peta dunia ketika saya mempelajari peta dunia waktu sekolah dasar dulu.
Dalam buku keduanya ini, Agustinus Wib...more
Dalam buku keduanya ini, Agustinus Wib...more
Garis batas mengingatkan saya tentang pidato pengukuhan Guru Besar Pak Kayam tentang kotak-kotak akademik, kali ini Agustinus Wibowo membawa kotak-kotak kemanusiaan bernama etnisitas, negara dan sebagainya. Sebagai buku perjalanan, kedalaman yang dihadirkan buku ini mengingatkan saya pada Rethinking Geopolitics, yang mengisahkan betapa nisbi garis batas itu. Garis batas itu pun tak lebih dari konstruksi yang dibelakangnya ada faktor kekuasaan dan kekuatan politik yang memiliki kepentingannya. Bu...more
“Ketika masa depan tidak lagi menjanjikan gairah, hanya masa lalu yang membuat orang bahagia.” ― Agustinus Wibowo, Garis Batas: Perjalanan di Negeri-Negeri Asia Tengah
Masa lalu selalu membuat kita terkenang-kenang bahkan termenung. Berapa banyak orang yang dengan gampang meninggalkan masa lalunya? Saya sendiri selalu melankolis tiap teringat akan masa lalu. Tapi buku ini menghadirkan nuansa perjalanan spiritual yang saya sendiri merasa ngeri setiap membalik halaman yang ada. Takut kenyataan men...more
Masa lalu selalu membuat kita terkenang-kenang bahkan termenung. Berapa banyak orang yang dengan gampang meninggalkan masa lalunya? Saya sendiri selalu melankolis tiap teringat akan masa lalu. Tapi buku ini menghadirkan nuansa perjalanan spiritual yang saya sendiri merasa ngeri setiap membalik halaman yang ada. Takut kenyataan men...more
Buku ini adalah buku tentang perjalanan/travelling terbaik yang pernah saya baca. Buku ini tidak seperti buku-buku travelling pada umumnya. Jika buku travelling pada umumnya bercerita tentang kisah perjalanannya, keindahan tempat yang dikunjungi, dan kadang terkesan "hura-hura", maka buku ini justru memberikan bonus berupa "keprihatinan" dan sejarah budaya.
Di dalam buku ini Agustinus Wibowo mampu membawa kita untuk berimajinasi menjelajahi negeri-negeri di Asia Tengah, yang uniknya semua namanya...more
Di dalam buku ini Agustinus Wibowo mampu membawa kita untuk berimajinasi menjelajahi negeri-negeri di Asia Tengah, yang uniknya semua namanya...more
"Garis Batas" adalah buku kedua yang ditulis oleh Agustinus dalam rangka melanjutkan petualangannya dari Afghanistan, yang ditulis dalam buku "Selimut Debu".
Sebelumnya ia hanya dapat menyaksikan Tajikistan dari Afghanistan dengan angan-angan, namun kini ia telah memijakkan kakinya di negeri yang diimpikannya. Diceritakan juga bagaimana perjuangannya memperoleh visa Tajikistan dengan tambahan visa khusus untuk ke propinsi GBAO (sebuah daerah otonom di Tajikistan yang terletak di perbukitan). Sel...more
Sebelumnya ia hanya dapat menyaksikan Tajikistan dari Afghanistan dengan angan-angan, namun kini ia telah memijakkan kakinya di negeri yang diimpikannya. Diceritakan juga bagaimana perjuangannya memperoleh visa Tajikistan dengan tambahan visa khusus untuk ke propinsi GBAO (sebuah daerah otonom di Tajikistan yang terletak di perbukitan). Sel...more
Buku ini membuktikan kualitas seorang literary traveler bernama Agustinus Wibowo. Saya pikir, dengan buku ini, Agus berhasil membuat satu milestone baru dalam dunia travel writing di Indonesia. Ia tidak hanya menuliskan catatan perjalanan yang linier, tapi ia mengembangkannya dalam bentuk sastra perjalanan yang jauh lebih menarik.
Buku kedua ini memiliki alur yang lebih menarik ketimbang buku pertamanya (Selimut Debu), selain karena banyak negeri yang dikunjungi, perjalanan Agus kali ini terasa l...more
Buku kedua ini memiliki alur yang lebih menarik ketimbang buku pertamanya (Selimut Debu), selain karena banyak negeri yang dikunjungi, perjalanan Agus kali ini terasa l...more
Tampaknya tidak percuma saya nungguin,beli dan baca 'Garis Batas' ini. Pertama melihat cover depan yg terpikir pertama kali: "Garis Batas?pasti bakalan banyak ulasan tentang batas negara-negara Asia tengah,nih". Emm,setelah baca ternyata dugaan saya tidak salah *namun juga tidak sepenuhnya benar* :D.
Penulis sepertinya ingin memberi perspektif baru tentang garis-garis batas,bukan hanya garis batas yang membatasi negara secara wilayah,tetapi juga garis-garis batas yang membatasi manusia dalam menj...more
Penulis sepertinya ingin memberi perspektif baru tentang garis-garis batas,bukan hanya garis batas yang membatasi negara secara wilayah,tetapi juga garis-garis batas yang membatasi manusia dalam menj...more
Buku ini bukan sekedar tentang perjalanan, bukan sekedar cerita tentang tempat-tempat yang indah, dan juga bukan hanya sekedar penjabaran tentang daerah-daerah yang belum kita ketahui.
Buku ini mengajak kita kembali memaknai apa itu negara, apa itu bangsa, apa itu suku, apa itu agama.
Buku ini mengajak kita sadar, bahwa keindahan di balik tembok, keajaiban di seberang sungai, kebebasan si sisi lain jembatan, atau kemewahan di ujung jalan sebelah sana, terkadang hanyalah fatamorgana yang membuat s...more
Buku ini mengajak kita kembali memaknai apa itu negara, apa itu bangsa, apa itu suku, apa itu agama.
Buku ini mengajak kita sadar, bahwa keindahan di balik tembok, keajaiban di seberang sungai, kebebasan si sisi lain jembatan, atau kemewahan di ujung jalan sebelah sana, terkadang hanyalah fatamorgana yang membuat s...more
Judul Buku : Garis Batas
Penulis : Agustinus Wibowo
Editor : Hetih Rusli
Tebal : 510 halaman
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan ketiga : Juli 2011
ISBN : 978-979-22-6884-3
Anda pasti sudah lama tahu apa itu garis batas. Kalau dulu sewaktu saya ikut kelas menggambar di SD, biasanya terlebih dulu saya membuat garis batas di pinggir kertas gambar saya, garis itu menandai bahwa diluar garis batas tersebut adalah daerah yang tidak boleh saya gambari atau saya warnai.
Tadinya saya pikir seperti itu gar...more
Penulis : Agustinus Wibowo
Editor : Hetih Rusli
Tebal : 510 halaman
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan ketiga : Juli 2011
ISBN : 978-979-22-6884-3
Anda pasti sudah lama tahu apa itu garis batas. Kalau dulu sewaktu saya ikut kelas menggambar di SD, biasanya terlebih dulu saya membuat garis batas di pinggir kertas gambar saya, garis itu menandai bahwa diluar garis batas tersebut adalah daerah yang tidak boleh saya gambari atau saya warnai.
Tadinya saya pikir seperti itu gar...more
Setelah menuliskan perjalanannya di Afganistan, Agustinus Wibowo pun kembali menuliskan pengalamannya menjelajahi negeri-negeri berakhiran -stan. Uzbekistan, Kazakstan, dan lain sebagainya. Well, di sini saya membaca bagaimana kebijakan politik devide et impera yang diterapkan di negeri-negeri bekas Rusia. Batas setiap negara satu dengan yang lainnya dibuat rumit dan berantakan. Bahkan, tidak jarang ditemukan sebuah rumah yang berada di dua wilayah negeri secara bersamaan. Buku ini menceritakan...more
Memoar perjalanan yang sangat mengesankan. Diramu dengan gaya bahasa yang sangat menarik. Mengajak imajinasi kita menyusuri negeri-negeri Stan, sampai ke tempat terpencil di dunia. Banyak pengetahuan baru yang kita peroleh. Hal-hal yang menakjubkan, yang tidak pernah diketahui selama ini. Agustinus Wibowo membukakan cakrawala baru. lihatlah negeri-negeri di Tepian Amu Darya. Berkacalah pada mereka.
Buku ini bukan saja berupa catatan perjalanan biasa. Ada perenungan di dalamnya. Bahwa garis batas...more
Buku ini bukan saja berupa catatan perjalanan biasa. Ada perenungan di dalamnya. Bahwa garis batas...more
Ketika berada di dunia yang luas ini, akankah kita terpikirkah bagaimana orang lain yang sedang berada di belahan dunia lain? Bagaimana keadaan mereka? Apa yang sedang dilakukan? Bagiamanakah nasib mereka?
Agustinus Wibowo, dalam kisah perjalannnya, mengantarkan kepada kita, apa saja yang terjadi, di 5 negara asia tengah, bekas pecahan negara adi kuasa Uni Sovyet, dengan baik dalam buku ini, setelah sebelumnya mengisahkan serunya hidup di negara saratkonflik, Afghanistan, dalam bukunya yang perta...more
Agustinus Wibowo, dalam kisah perjalannnya, mengantarkan kepada kita, apa saja yang terjadi, di 5 negara asia tengah, bekas pecahan negara adi kuasa Uni Sovyet, dengan baik dalam buku ini, setelah sebelumnya mengisahkan serunya hidup di negara saratkonflik, Afghanistan, dalam bukunya yang perta...more
Garis batas! Seperti halnya gravitasi bumi dan oksigen, gais batas tidak terlihat, namun setiap langkah dan embusan nafas kita dipengaruhinya. Pola pikir kita, uang yang kita pegang, bendera yang berkibar, kebanggaan yang melingkupi hati, sejarah yang kita kenang, saudara-saudari yang kita sebut sebagai sebangsa, kartu identitas, pendidikan, status, ideologi, nasionalisme, patriotisme, perjanjian, traktat, perang, pembantaian etnis, kehancuran, semuanya adalah produk dari garis batas.
Uraian di a...more
Uraian di a...more
Sebetulnya udah mulai baca buku ini tahun lalu tapi karena tebal dan kepotong baca yang lain2 akhirnya baru tamatnya bulan ini. Itu juga karena mau ketemuan ama klub buku jadi kudu selesai bacanya dan ternyataaa....
Buku ini berat bow! Abis satu bab kudu tarik napas dulu. Ini nggak sekedar travelogue biasa, disini Agustinus sang Explorer atau Avgustin selama diperjalanan, tidak hanya menceritakan apa yang dia lihat dan alami tapi juga merenungkan perjalanannya. Dia bandingkan dengan pengalamanny...more
Buku ini berat bow! Abis satu bab kudu tarik napas dulu. Ini nggak sekedar travelogue biasa, disini Agustinus sang Explorer atau Avgustin selama diperjalanan, tidak hanya menceritakan apa yang dia lihat dan alami tapi juga merenungkan perjalanannya. Dia bandingkan dengan pengalamanny...more
Buku ini menceritakan dgn sgt menarik bagaimana manusia di kotak-kotakkan berdasar : agama, suku, bahasa, tanah, warna, mata, rambut, pakaian, alam.
tidak pernah terpikir begitu sempitnya kaki dapat melangkah, passort adalah dokumen yang memanusiakan manusia. pass the port, satu langkah menginjak tanah yg berbeda, maka berbeda pula aturan, cerita, rasa, pahlawan, kebanggaan, agama, budya, atau bahasa.
Apa jadinya bila jd manusia tanpa warganegara, menjadi minoritas, atau tersempil dr negara indu...more
tidak pernah terpikir begitu sempitnya kaki dapat melangkah, passort adalah dokumen yang memanusiakan manusia. pass the port, satu langkah menginjak tanah yg berbeda, maka berbeda pula aturan, cerita, rasa, pahlawan, kebanggaan, agama, budya, atau bahasa.
Apa jadinya bila jd manusia tanpa warganegara, menjadi minoritas, atau tersempil dr negara indu...more
Semoga ada yang mau ngasih ^^
---------edit---------------
Sudah kelar dibaca. Belum sempat review, ntar aja deh. Lagi nda mood.
---------edit---------------
Sudah kelar dibaca. Belum sempat review, ntar aja deh. Lagi nda mood.
Buku ini mengisahkan tentang perjalanan Agustinus Wibowo di Asia Tengah (negara-negara Stan). Garis Batas yang dimaksudkan di sini adalah sekat-sekat imajiner yang memisahkan/membedakan manusia. Negara-negara Stan, walau memiliki kemiripan ciri fisik, mereka dibeda-bedakan akibat adanya 'garis batas'. Kisah yang diceritakan Agustinus, lebih lanjut lagi membuat saya merenungkan mengenai identitas saya sebagai seorang individu.
Membaca buku ini seolah-olah ikut berpetualang di negara-negara Stan....more
Membaca buku ini seolah-olah ikut berpetualang di negara-negara Stan....more
Lebih tebal, lebih banyak foto-foto dan tentunya lebih mahal dari buku sebelumnya.
Butuh waktu lama membacanya, kenapa? yah, apalagi kalau bukan penyakit lama yang bernama malas yang sepertinya masih suka mendekati saya hingga sekarang. Padahal saya sudah sering menolaknya. :D
Penyampaian yang sedikit berbeda dari buku pertama, disini Agustinus mengungkapkan secara eksplisit refleksi dirinya atas apa yang dia lihat dan alami. Menurut saya, buku ini lebih segar dari sebelumya, tak jarang saya dibua...more
Butuh waktu lama membacanya, kenapa? yah, apalagi kalau bukan penyakit lama yang bernama malas yang sepertinya masih suka mendekati saya hingga sekarang. Padahal saya sudah sering menolaknya. :D
Penyampaian yang sedikit berbeda dari buku pertama, disini Agustinus mengungkapkan secara eksplisit refleksi dirinya atas apa yang dia lihat dan alami. Menurut saya, buku ini lebih segar dari sebelumya, tak jarang saya dibua...more
Kisah perjalanan Agustinus Wibowo kembali berlanjut dengan menapakan kaki menembus negara-negara yang relatif “baru” merdeka di jantung Benua Asia. Kali ini tujuannya adalah negeri yang berakhiran “Stan” yang keberadaanya tidak pernah terbersit akan muncul ketika raksasa komunis Uni Soviet kuat berkuasa dan akhirnya runtuh seketika menghasilkan pecahan negara berdaulat yang merdeka.
Seperti buku sebelumnya, kali ini penulis kembali membawa pembaca menembus sekat-sekat dan labirin untuk menuliskan...more
Seperti buku sebelumnya, kali ini penulis kembali membawa pembaca menembus sekat-sekat dan labirin untuk menuliskan...more
Setelah sebelumnya saya begitu tercengang dengan pengalaman Agustinus Wibowo berpetualang di tempat-tempat berbahaya di Afghanistan lewat buku pertamanya Selimut Debu, sekarangpun saya kembali dibuat terpukau oleh pengalaman penulis menjelajahi negara-negara berakhirtan -Stan di Asia Tengah melalui buku ini. Garis batas berhasil menghadirkan kisah petualangan baru yang tak kalah menarik dari Selimut Debu.
Perjalanan penulis menjelajahi garis batas negara-negara pecahan Uni Soviet, di mulai dari A...more
Perjalanan penulis menjelajahi garis batas negara-negara pecahan Uni Soviet, di mulai dari A...more
Ini juga bukan review, tapi lebih seperti komentar nggak penting. Untuk review yang lebih mendalam dan bermutu, silakan lihat review-review lain :p
Garis Batas berisi kisah perjalanan Agustinus Wibowo di negeri-negeri -stan: Kirgiztan, Tajikistan, Kazakhstan, Uzbekistan, Turkmenistan. Dan seperti halnya Selimut Debu, Garis Batas ini tidak melulu berisi kisah perjalanan tapi juga renungan dan pemahaman tentang makna garis batas. Juga ada sisipan sejarah tentang negara-negara Asia Tengah tersebut.
G...more
Garis Batas berisi kisah perjalanan Agustinus Wibowo di negeri-negeri -stan: Kirgiztan, Tajikistan, Kazakhstan, Uzbekistan, Turkmenistan. Dan seperti halnya Selimut Debu, Garis Batas ini tidak melulu berisi kisah perjalanan tapi juga renungan dan pemahaman tentang makna garis batas. Juga ada sisipan sejarah tentang negara-negara Asia Tengah tersebut.
G...more
Waktu kecil, saya pernah berangan-angan pergi ke negara-negara Stan. Ini gara-gara saya menemukan gambar bendera aneh berwarna biru muda bergambar elang dan matahari kuning (ternyata bendera Kazakhstan). Bendera yang warna halusnya mencolok di antara-antara bendera-bendera negara lain yang biasanya berwarna cerah dan berani. Tetapi seiring berjalannya waktu, saya melihat sepertinya negara-negara Stan ini tidak ada di dalam daftar tujuan turis manapun. Pun, tidak ada buku-buku travel yang sibuk m...more
Berbahagialah orang-orang yang tidak pernah harus mempertanyakan garis batas mereka. Sejak lahir sudah tahu kewarganegaraan, agama, bangsa, suku, dan prinsip-prinsip yang dianut kelompok mereka. Karena walaupun katanya dunia semakin lama semakin tidak mengenal batas, toh nyatanya umat manusia tidak pernah berhenti bertengkar karena batas-batas itu, baik yang kasat mata maupun yang imajiner.
Buku kedua Agustinus Wibowo yang merekam perjalanannya di negeri-negeri Asia Tengah ini terasa lebih person...more
Buku kedua Agustinus Wibowo yang merekam perjalanannya di negeri-negeri Asia Tengah ini terasa lebih person...more
Lebih suka buku kedua dari Mas Agustinus ini, lebih kaya warna menurutku.
Hanya saja ada beberapa yang perlu dicatat, agar lebih diperjelas kalau ada edisi revisinya nanti:
hal 172: "...duduk di menunggu..." (bingung aku mencari artinya, apa salah ketik, seharusnya duduk menunggu di ?)
hal 440: "...satu reich..." (menurutku, bagusnya kata 'reich' ini sekalian diterjemahkan, sama seperti kata-kata lain yang sekalimat, jd lebih nyambung gitu).
Dah, itu aja deh, yang jelas biarpun kali ini nggak sampai...more
Hanya saja ada beberapa yang perlu dicatat, agar lebih diperjelas kalau ada edisi revisinya nanti:
hal 172: "...duduk di menunggu..." (bingung aku mencari artinya, apa salah ketik, seharusnya duduk menunggu di ?)
hal 440: "...satu reich..." (menurutku, bagusnya kata 'reich' ini sekalian diterjemahkan, sama seperti kata-kata lain yang sekalimat, jd lebih nyambung gitu).
Dah, itu aja deh, yang jelas biarpun kali ini nggak sampai...more
Di buku beserta tanda tangan Agus, di atasnya tertulis: Niken: Semoga semangat perjalanan Asia Tengah ini boleh membawa refleksi. Nah, benarlah, buku ini memang membawa refleksi, hingga pembacanya dapat mentertawakan kelucuannya sebagai manusia yang senantiasa dipisahkan oleh garis batas berupa bangsa.
Tulisan yang ditulis oleh orang yang luar biasa. Saya rasa tulisan ini jauh lebih hebat dibanding penaklukan 7 puncak dunia. Salut.
Tulisan yang ditulis oleh orang yang luar biasa. Saya rasa tulisan ini jauh lebih hebat dibanding penaklukan 7 puncak dunia. Salut.
Seperti pintu ajaib yang membawa kita berkelana ke negeri negeri yang belum pernah kita lihat.
Garis Batas, mengajarkan tentang betapa indahnya impian kita tentang negara lain, selalu dan selalu ada sisi baik dan buruk yang membuat kita lebih mencintai negeri kita sendiri.
Tapi... mempelajari budaya dan kehidupan baru di negara lain selalu menyenangkan, ditambah foto2 yang dilampirkan agustinus wibowo... berasa wisata gratis.
Garis Batas, mengajarkan tentang betapa indahnya impian kita tentang negara lain, selalu dan selalu ada sisi baik dan buruk yang membuat kita lebih mencintai negeri kita sendiri.
Tapi... mempelajari budaya dan kehidupan baru di negara lain selalu menyenangkan, ditambah foto2 yang dilampirkan agustinus wibowo... berasa wisata gratis.
Banyak buku tentang traveling yang terbit belakangan ini, tapi tidak terbayangkan jika tujuan tempat berkelana itu adalah negara-negara Asia Tengah seperti yang dilakukan Agustinus Wibowo. Kombinasi jiwa petualangan yang tinggi, nekat, dan keluwesan beradaptasi penulis dilengkapi dengan kemampuan menulis yang cemerlang sehingga pembaca benar-benar mengikuti petualangannya. Buku ini niscaya membikin iri semua petualang.
There are no discussion topics on this book yet.
Be the first to start one »
Agustinus Wibowo is an Indonesian travel writer and photographer who had spent four years traveling overland continuously. Departing from Beijing, his original destination was South Africa, but he was stuck in Afghanistan and stayed there for 3 years as a photojournalist. He has published two travel narrative books in Indonesian language, namely: Selimut Debu---Impian dan Kebanggaan dari Negeri Pe...more
More about Agustinus Wibowo...
Share This Book
No trivia or quizzes yet. Add some now »
“Garis batas menentukan dengan siapa kita membuka hati, dengan siapa menutup diri.”
—
18 people liked it
“Jarak adalah sebuah garis batas, tetapi jalinan perasaan adalah penembusnya.”
—
15 people liked it
More quotes…









view all 7 comments







