by
4.36 of 5 stars
Penduduk desa Afghan setiap hari memandang ke “luar negeri” yang hanya selebar sungai jauhnya. Memandangi mobil-mobil melintas, tanpa pernah menikm... read full description

reviews

Apr 27, 2011
Harun Harahap rated it: 5 of 5 stars
Setelah mengenal Afghanistan lebih dekat lewat buku ‘Selimut Debu”, Agustinus Wibowo mengajak kita bertualang melewati garis batas Afghanistan menuju negara-negara berakhiran –Stan. Melalui buku Garis Batas ini kita diperkenalkan lebih dekat dengan negara Tajikistan, Kirgizstan, Kazakhstan, Uzbekistan dan Turkmenistan.

Garis batas geografis terkadang ditandai oleh sungai, pegunungan, jalan atau tonggak-tonggak yang terpancang antar dua wilayah negara yang berbeda. Saat kita melewati More...
29 comments like (19 people liked it)
May 31, 2011
Vidi rated it: 5 of 5 stars
Apakah mungkin sebuah garis imajiner buatan manusia mampu menentukan nasib (sekelompok) manusia? Bagaikan garis takdir Tuhan, garis batas menentukan seluruh sendi kehidupan manusia. Berangkat dari pertanyaan itu sebagai tema sentral Agustinus Wibowo menyusun sebuah tulisan yang sangat menggugah berdasarkan perjalanannya menyusuri Asia Tengah, di negara-negara yang bahkan belum tertera di peta dunia ketika saya mempelajari peta dunia waktu sekolah dasar dulu.

Dalam buku keduanya ini, A More...
0 comments like (2 people liked it)
Jun 04, 2011
Aklam rated it: 5 of 5 stars
Buku ini membuktikan kualitas seorang literary traveler bernama Agustinus Wibowo. Saya pikir, dengan buku ini, Agus berhasil membuat satu milestone baru dalam dunia travel writing di Indonesia. Ia tidak hanya menuliskan catatan perjalanan yang linier, tapi ia mengembangkannya dalam bentuk sastra perjalanan yang jauh lebih menarik.

Buku kedua ini memiliki alur yang lebih menarik ketimbang buku pertamanya (Selimut Debu), selain karena banyak negeri yang dikunjungi, perjalanan Agus kali in More...
0 comments like (4 people liked it)
Apr 22, 2011
Nabila rated it: 4 of 5 stars
Tampaknya tidak percuma saya nungguin,beli dan baca 'Garis Batas' ini. Pertama melihat cover depan yg terpikir pertama kali: "Garis Batas?pasti bakalan banyak ulasan tentang batas negara-negara Asia tengah,nih". Emm,setelah baca ternyata dugaan saya tidak salah *namun juga tidak sepenuhnya benar* :D.
Penulis sepertinya ingin memberi perspektif baru tentang garis-garis batas,bukan hanya garis batas yang membatasi negara secara wilayah,tetapi juga garis-garis batas yang membatasi man More...
0 comments like (1 person liked it)
May 23, 2011
Ariefmai rated it: 4 of 5 stars
Buku ini bukan sekedar tentang perjalanan, bukan sekedar cerita tentang tempat-tempat yang indah, dan juga bukan hanya sekedar penjabaran tentang daerah-daerah yang belum kita ketahui.

Buku ini mengajak kita kembali memaknai apa itu negara, apa itu bangsa, apa itu suku, apa itu agama.

Buku ini mengajak kita sadar, bahwa keindahan di balik tembok, keajaiban di seberang sungai, kebebasan si sisi lain jembatan, atau kemewahan di ujung jalan sebelah sana, terkadang hanyalah fa More...
0 comments like (1 person liked it)
Dec 29, 2011
Alvina rated it: 5 of 5 stars
Judul Buku : Garis Batas
Penulis : Agustinus Wibowo
Editor : Hetih Rusli
Tebal : 510 halaman
Penerbit : Gramedia Pustaka Utama
Cetakan ketiga : Juli 2011
ISBN : 978-979-22-6884-3

Anda pasti sudah lama tahu apa itu garis batas. Kalau dulu sewaktu saya ikut kelas menggambar di SD, biasanya terlebih dulu saya membuat garis batas di pinggir kertas gambar saya, garis itu menandai bahwa diluar garis batas tersebut adalah daerah yang tidak boleh saya gambari ata More...
0 comments like (1 person liked it)
Dec 23, 2011
Alin A rated it: 5 of 5 stars
Setelah menuliskan perjalanannya di Afganistan, Agustinus Wibowo pun kembali menuliskan pengalamannya menjelajahi negeri-negeri berakhiran -stan. Uzbekistan, Kazakstan, dan lain sebagainya. Well, di sini saya membaca bagaimana kebijakan politik devide et impera yang diterapkan di negeri-negeri bekas Rusia. Batas setiap negara satu dengan yang lainnya dibuat rumit dan berantakan. Bahkan, tidak jarang ditemukan sebuah rumah yang berada di dua wilayah negeri secara bersamaan. Buku ini menceritakan More...
Oct 09, 2011
Tezar rated it: 4 of 5 stars
Ketika berada di dunia yang luas ini, akankah kita terpikirkah bagaimana orang lain yang sedang berada di belahan dunia lain? Bagaimana keadaan mereka? Apa yang sedang dilakukan? Bagiamanakah nasib mereka?
Agustinus Wibowo, dalam kisah perjalannnya, mengantarkan kepada kita, apa saja yang terjadi, di 5 negara asia tengah, bekas pecahan negara adi kuasa Uni Sovyet, dengan baik dalam buku ini, setelah sebelumnya mengisahkan serunya hidup di negara saratkonflik, Afghanistan, dalam bukunya yang More...
May 10, 2011
Jimmy rated it: 5 of 5 stars
Garis batas - daratan ataupun perairan - antar negara harus dibuat sangat jelas karena sering menimbulkan konflik. Bahkan perang. Begitu juga dengan garis batas kepemilikan tanah antar penduduk. Menyerobot sedikit saja, bisa berujung pada saling bacok. Batas privasi dengan umum. Batas agama. Batas suku. Batas jenis kelamin. Batas status sosial. Batas wilayah tukang parkir, pengamen, dan mungkin pengemis. Sebut saja. Semua hal bisa dibuat garis batasnya. Cantik-jelek. Kaya-miskin. Pintar-bodoh. B More...
7 comments like (11 people liked it)
Jan 15, 2012
Sita rated it: 4 of 5 stars
Sebetulnya udah mulai baca buku ini tahun lalu tapi karena tebal dan kepotong baca yang lain2 akhirnya baru tamatnya bulan ini. Itu juga karena mau ketemuan ama klub buku jadi kudu selesai bacanya dan ternyataaa....

Buku ini berat bow! Abis satu bab kudu tarik napas dulu. Ini nggak sekedar travelogue biasa, disini Agustinus sang Explorer atau Avgustin selama diperjalanan, tidak hanya menceritakan apa yang dia lihat dan alami tapi juga merenungkan perjalanannya. Dia bandingkan dengan pe More...
Jan 19, 2012
dara rated it: 5 of 5 stars
Buku ini menceritakan dgn sgt menarik bagaimana manusia di kotak-kotakkan berdasar : agama, suku, bahasa, tanah, warna, mata, rambut, pakaian, alam.

tidak pernah terpikir begitu sempitnya kaki dapat melangkah, passort adalah dokumen yang memanusiakan manusia. pass the port, satu langkah menginjak tanah yg berbeda, maka berbeda pula aturan, cerita, rasa, pahlawan, kebanggaan, agama, budya, atau bahasa.

Apa jadinya bila jd manusia tanpa warganegara, menjadi minoritas, atau More...
Jul 17, 2011
Marchel rated it: 4 of 5 stars
Semoga ada yang mau ngasih ^^
---------edit---------------
Sudah kelar dibaca. Belum sempat review, ntar aja deh. Lagi nda mood.
1 comment like (1 person liked it)
Jul 01, 2011
Mega rated it: 5 of 5 stars
Buku ini mengisahkan tentang perjalanan Agustinus Wibowo di Asia Tengah (negara-negara Stan). Garis Batas yang dimaksudkan di sini adalah sekat-sekat imajiner yang memisahkan/membedakan manusia. Negara-negara Stan, walau memiliki kemiripan ciri fisik, mereka dibeda-bedakan akibat adanya 'garis batas'. Kisah yang diceritakan Agustinus, lebih lanjut lagi membuat saya merenungkan mengenai identitas saya sebagai seorang individu.

Membaca buku ini seolah-olah ikut berpetualang di negara-neg More...
May 22, 2011
Rhea rated it: 5 of 5 stars
Lebih tebal, lebih banyak foto-foto dan tentunya lebih mahal dari buku sebelumnya.
Butuh waktu lama membacanya, kenapa? yah, apalagi kalau bukan penyakit lama yang bernama malas yang sepertinya masih suka mendekati saya hingga sekarang. Padahal saya sudah sering menolaknya. :D

Penyampaian yang sedikit berbeda dari buku pertama, disini Agustinus mengungkapkan secara eksplisit refleksi dirinya atas apa yang dia lihat dan alami. Menurut saya, buku ini lebih segar dari sebelumya, tak More...
9 comments like (1 person liked it)
Feb 10, 2012
Za rated it: 5 of 5 stars
Setelah sebelumnya saya begitu tercengang dengan pengalaman Agustinus Wibowo berpetualang di tempat-tempat berbahaya di Afghanistan lewat buku pertamanya Selimut Debu, sekarangpun saya kembali dibuat terpukau oleh pengalaman penulis menjelajahi negara-negara berakhirtan -Stan di Asia Tengah melalui buku ini. Garis batas berhasil menghadirkan kisah petualangan baru yang tak kalah menarik dari Selimut Debu.

Perjalanan penulis menjelajahi garis batas negara-negara pecahan Uni Soviet, di More...
Feb 21, 2012
M. Ulin Nuha rated it: 5 of 5 stars
Ini juga bukan review, tapi lebih seperti komentar nggak penting. Untuk review yang lebih mendalam dan bermutu, silakan lihat review-review lain :p

Garis Batas berisi kisah perjalanan Agustinus Wibowo di negeri-negeri -stan: Kirgiztan, Tajikistan, Kazakhstan, Uzbekistan, Turkmenistan. Dan seperti halnya Selimut Debu, Garis Batas ini tidak melulu berisi kisah perjalanan tapi juga renungan dan pemahaman tentang makna garis batas. Juga ada sisipan sejarah tentang negara-negara Asia Tenga More...
Aug 21, 2011
Anna rated it: 5 of 5 stars
Waktu kecil, saya pernah berangan-angan pergi ke negara-negara Stan. Ini gara-gara saya menemukan gambar bendera aneh berwarna biru muda bergambar elang dan matahari kuning (ternyata bendera Kazakhstan). Bendera yang warna halusnya mencolok di antara-antara bendera-bendera negara lain yang biasanya berwarna cerah dan berani. Tetapi seiring berjalannya waktu, saya melihat sepertinya negara-negara Stan ini tidak ada di dalam daftar tujuan turis manapun. Pun, tidak ada buku-buku travel yang sibuk m More...
Oct 12, 2011
Uci rated it: 5 of 5 stars
Berbahagialah orang-orang yang tidak pernah harus mempertanyakan garis batas mereka. Sejak lahir sudah tahu kewarganegaraan, agama, bangsa, suku, dan prinsip-prinsip yang dianut kelompok mereka. Karena walaupun katanya dunia semakin lama semakin tidak mengenal batas, toh nyatanya umat manusia tidak pernah berhenti bertengkar karena batas-batas itu, baik yang kasat mata maupun yang imajiner.

Buku kedua Agustinus Wibowo yang merekam perjalanannya di negeri-negeri Asia Tengah ini terasa le More...
0 comments like (4 people liked it)
Jun 03, 2011
nat rated it: 4 of 5 stars
Lebih suka buku kedua dari Mas Agustinus ini, lebih kaya warna menurutku.

Hanya saja ada beberapa yang perlu dicatat, agar lebih diperjelas kalau ada edisi revisinya nanti:
hal 172: "...duduk di menunggu..." (bingung aku mencari artinya, apa salah ketik, seharusnya duduk menunggu di ?)

hal 440: "...satu reich..." (menurutku, bagusnya kata 'reich' ini sekalian diterjemahkan, sama seperti kata-kata lain yang sekalimat, jd lebih nyambung gitu).

Dah More...
Sep 23, 2011
Niken rated it: 5 of 5 stars
Di buku beserta tanda tangan Agus, di atasnya tertulis: Niken: Semoga semangat perjalanan Asia Tengah ini boleh membawa refleksi. Nah, benarlah, buku ini memang membawa refleksi, hingga pembacanya dapat mentertawakan kelucuannya sebagai manusia yang senantiasa dipisahkan oleh garis batas berupa bangsa.

Tulisan yang ditulis oleh orang yang luar biasa. Saya rasa tulisan ini jauh lebih hebat dibanding penaklukan 7 puncak dunia. Salut.

Nov 24, 2011
Puput rated it: 3 of 5 stars
Seperti pintu ajaib yang membawa kita berkelana ke negeri negeri yang belum pernah kita lihat.

Garis Batas, mengajarkan tentang betapa indahnya impian kita tentang negara lain, selalu dan selalu ada sisi baik dan buruk yang membuat kita lebih mencintai negeri kita sendiri.

Tapi... mempelajari budaya dan kehidupan baru di negara lain selalu menyenangkan, ditambah foto2 yang dilampirkan agustinus wibowo... berasa wisata gratis.
Dec 08, 2011
4,5 bintang


Hmmmm tetep seru, menarik, banyak pengetahuan baru
tapi jujur saja, saya lebih suka buku pertamanya
paling suka part Tajikistan - lebih berasa kehidupan di sana
part Kirgiztan - mungkin karena negaranya kecil, jadi berasa ceritanya ke mana-mana
part Kazakhtan - ooh pengetahuan umum saya ternyata sangat chethek - ga tau kalo itu bukan negara sembarangan, selain negeri kaya, ternyata juga negeri mahal hahahaha
part uzbekistan - terpesona sama More...
Jul 24, 2011
Phie rated it: 5 of 5 stars
Borrowing words from my dear friend and reader--Dilla, "while selimut debu is descriptive, garis batas is politics. While reading selimut debu feels like wathcing movie, gaaris batas feels like reading book, but both same good." Agree, with the statement, but personally I like garis batas more, might change on my second attempt reread this 2 books, yes, this two books will be books you will be find on my backpack while I travel. And I put Middle Asia and East Europe to my list plan vis More...
Sep 08, 2011
Regalia rated it: 5 of 5 stars
Walaupun tidak sedalam Selimut Debu, Garis batas tetap mempertahankan renungan-renungan berharga tentang banyak hal, seperti kelas sosial dalam masyarakat, impian, cita-cita, nasionalisme, bahkan patriotisme yang menggambarkan judul buku ini dengan gamblang.Bagaimana negara dengan satu sejarah yang sama bisa di bagi-bagi atas nama nasionalisme.

Seperti biasa Agustinus menceritakan pengalaman-pengalamannya mengunjungi negara-negara stan, dengan bahasa yang mengalir dan menarik. Membuat k More...
Aug 14, 2011
Hanum rated it: 3 of 5 stars
Suka sama gaya bahasanya jurnalis bangett... secara kita sama sama jurnalis kali ya... suka sama adegan adegan yang menantangnya.. cuma satu aku terlalu banyak karakter, namanya orang terlalu banyak dan susyeeh, jadinya kadang mesti balik balik page lagi ..siapaaa ya ini tadi? gitu....hiks
Jul 31, 2011
Eqo rated it: 4 of 5 stars
still reading..
Di hadapan orang yang sama sekali asing, kita mengalihkan pandangan.
Ketika berada di keramaian, kita membaca buku atau menerawangkan pandangan kosong.
Ketika seorang menyentuh, kita merasa tak nyaman.
Namun ketika yang membelai adalah kekasih, kita menerima dengan senang hati.
Dec 28, 2011
Chippo rated it: 4 of 5 stars
Buku perjalanan yang ditulis dengan smart, bukan cuman kita jadi tahu hal.hal tourism di negeri lain tapi agustinus bisa melihat dari sisi lain mengenai kehidupan sehari hari masyarakat asli, seperti versi serius dan deskriptif dari jalan jalannya trinity , suka sama filosofi yang dimasukkan agustinus disela sela tulisannya , a really good book that we must have
Jun 27, 2011
aldry rated it: 3 of 5 stars
sometimes i need to read over and over again because Avgustin used hard words to understand, however overall i think this is a good book to read for someone who wants to know about Middle Asia especially their tradition and life style probably
May 10, 2011
Bunga Mawar rated it: 5 of 5 stars
Sudah selesai, cukup dua hari di akhir pekan membacanya (untunglah ada kencan minggu sore yang gagal, hehe...). Dan saya kasih bintang 5. Nggak tahu bisa masuk data buku "read" atau enggak, karena seharian ga bisa2 masukin update buku di goodreads.
0 comments like (1 person liked it)
Jan 13, 2012
Dion marked it as to-read
Minjem punya Alvina. Langsung njomplang karena habis baca Naked Traveler yang kocak habis langsung disambung dengan garis batas yang "perenungan banget"