PADANG – ”Orang Minang kini terkurung di luar.” Begitu menurut sejarawan Dr Mestika Zed. Ini, bisa terjadi, karena tradisi intelektual Minangkabau kian hari kian merosot dan tumpul.


Kenapa semua itu bisa terjadi? Tak lain karena mereka tidak konsisten dengan komitmen kultural yang dibangun pendahulunya. Mestika Zed, mengemukakan hal itu, ketika peluncuran buku bertajuk Sejarah Masa Depan; Percikan Pemikiran Soedjatmoko, di Padang, Ahad (30/4).


Peluncuran buku karya Budi Putra ini, merupakan bagian dari rangkaian HUT pertama Harian Mimbar Minang, sebuah surat kabar yang didirikan oleh koperasi. Kata pemiliknya, Irman Gusman, inilah koran pertama milik koperasi di Indonesia.


Bahwa orang Minang, ‘terkurung di luar,’ bukan hanya disuarakan oleh Mestika Zed. Tapi, jauh sebelumnya, sastrawan Taufik Abdullah sudah mensinyalirnya. Malah menurut Taufik, Minang dewasa ini, adalah sebuah habitat yang ‘hening tapi hiruk-pikuk’. Mestika yang dosen Universitas Negeri Padang (UNP)dan Universitas Andalas, Padang itu, memiliki keprihatinan yang sama dengan Taufik. Katanya, orang Minang sedang berhadapan dengan ‘dakwaan kultural’ ketika masyarakatnya sedang berada di persimpangan jalan. Orang Minang, kemudian menjadi tawanan bagi dirinya sendiri. Mereka hanyut dengan kejayaan masa lalu, karena memang hanya itulah yang bisa dilakukan.


Seharusnya, kata Mestika, kejayaan masa lalu bisa dijadikan pelecut bagi membangun kemuliaan masa depan. Tapi, seperti dikatakan Prof Mursal Esten, kekuatan intelektual dan budaya Minang, tidak akan pernah muncul lagi, jika daerah ini, tidak diberi kepercayaan untuk melaksanakan otonomi pendidikan.


Berbicara kepada Republika di tempat yang sama, Ketua STSI Padangpanjang ini menyebutkan, kebijakan pendidikan nasional yang serba seragam dan terpusat, telah menimbulkan kesenjangan di tengah-tengah masyarakat. ”Yang nomor satu itu selalu Jakarta dan pulau Jawa, sementara daerah selalu nomor berikutnya,” paparnya. Karena itu, menurut Mursal, otonomi pendidikan, sesuatu yang tak bisa lagi ditawar.


Dalam orasi ilmiahnya, Mestika Zed, menuturkan, buku atau kitab, bagi bangsa Indonesia belum dijadikan indikator peningkatan SDM. Indikasi kemajuan SDM lebih sering diukur dengan jumlah lembaga pendidikan, tamatannya, nilai formal semisal NEM (Nilai Evaluasi Murni), IP (Indeks Prestasi), jumlah doktor, profesor dan sebagainya. Malah peningkatan SDM dengan suka cita diukur pula dengan penggunaan komputer, kemampuan bahasa asing. ”Tapi amat sedikit yang mengukur peningkatan SDM dari produk buku yang diterbitkan,” ujarnya.


Hal yang lebih celaka lagi, dikemukakan oleh Mestika. Menurut dia, di fakultas tempat ia mengajar, tiap jurusan punya televisi, tapi tidak ada perpustakaan. ”Kalau pun ada, tidak terurus dan merana,” katanya. Namun Mestika mungkin lupa, untuk memiliki sebuah pesawat televisi, tak perlu ada perpustakaan dulu.


Memungut data-data dari penelitian Gibbs dalam bukunya Scientific American (1995), ternyata untuk urusan pertambahan buku, Indonesia hanya 0,010 persen. Bandingkan dengan Amerika yang 30,81 persen, Jepang 8,224 persen, Inggris 7,93 persen, Jerman 7,184 persen, Prancis 5,302 persen. India 1,643 persen, Singapura 0,179 persen, Thailand 0,084 persen, Malaysia 0,0664 persen. Angka itu sangat memprihatinkan.


Tapi, menurut Mestika, ke depan bisa lebih baik, jika daerah bergiat mencetak buku. Saat ini, di Padang telah muncul penerbit Citra Budaya Indonesia (CBI) dan terakhir penerbit Pustaka Mimbar Minang.


HUT pertama Mimbar Minang juga diwarnai orasi oleh Direktur Eksekutif Yayasan Soetjadmoko, Murdianto. Tak hanya itu, harian ini juga menyerahkan award kepada sejumlah pengusaha kecil dan menengah. Mereka yang menerima award itu: Suparman, pemilik rumah makan (Padang), Nelson Septiadi, penyalur (Bukittinggi), dan Koperasi Pasar Abuan Ikatan Pedagang Tetap (AIPT) Padangpanjang. ”Kami memang memberikan perhatian pada sektor ekonomi kecil dan menengah,” cetus Pimred Mimbar Minang, Hasril Chaniago. — khairul jasmi


Sumber: Republika, 2 April 2000



 •  0 comments  •  flag
Twitter icon
Published on February 16, 2006 21:55 • 100 views

No comments have been added yet.



Mestika Zed's Blog

Mestika Zed
Mestika Zed isn't a Goodreads Author (yet), but they do have a blog, so here are some recent posts imported from their feed.
Follow Mestika Zed's blog with rss.