Pertanyaan itu rasanya seperti sesuatu yang mampu membawa saya masuk ke dalam sebuah maze. Kenapa menulis? Kenapa? Saya sendiri tidak yakin. Terkadang saya punya sisi pesimis dimana saya tidak percaya diri dengan tulisan sendiri. Tapi, di sisi lain, saya begitu bergairah begitu berhasil mengetikkan sebuah paragraf dengan keyboard laptop. Antusiasnya, mengalahkan rasa ingin pipis sekali pun. Puasnya, bisa membuat guilty pleasure pun hilang. Kesenangannya, mengobati saat-saat khawatir memikirkan nasib akan kemana tulisan ini setelahnya.


Dulu, ketika novel pertama yang menjadi debut saya itu terbit, saya luar biasa senang. Sampai lupa diri. Tergiur oleh kepingan nominal yang masuk ke rekening. Untuk anak seusia kuliah semester awal, angka segitu adalah pencapaian luar biasa. Yang membuat saya cuma ingat terbang di angkasa tanpa berpikir untuk turun. Begitu akhirnya sadar, saya seperti tiba di tujuan baru dengan kendaraan sebuah time machine. Jangan seperti itu!


Latar belakang kenapa saya menulis novel debut saya itu adalah kisah pribadi. Tentu setelah kemudian saya godok dengan tambahan angan-angan yang saya inginkan. Karena berdasar pada apa yang saya rasakan, apa yang saya harapkan, luapan emosinya seperti muncrat kemana-mana. Saya luar biasa semangat. Kalau tidak salah, seminggu saja saya sudah berhasil menyelesaikan naskah itu. Draft pertama. Semula bahkan saya tidak berpikir untuk dikirim ke penerbit. Saya cuma mau tulis apa yang ada di kepala. Tapi, maraknya novel teenlit saat itu membuat saya ingin mengadu nasib. Ketika saya mengirim pun, saya tidak membayangkan berapa angka yang akan menggendutkan isi rekening saya. Sampai kabar baik itu tiba….


Setelah terbius oleh angka nominal, ditambah lagi saya tidak bisa move on dari karakter-karakter dalam Autumn Christmas, saya pun seperti mengalihkan tulisan pada blog dan (fokus) kuliah. Satu karya sempat lahir. Tapi, tidak berhasil. Memang, payah sekali karya itu (setidaknya ketika sekarang sudah punya bekal soal teori-teori itu, saya paham kenapa karya itu saya katakan payah). Lalu, masa iya seseorang tidak bisamove on dari karakternya sendiri? Nanti akan saya jawab.


Jadi, kenapa masih tetap menulis?


Bagi orang seperti saya, menulis tidak menjanjikan uang yang banyak. Lalu, mungkin ketenaran? Kan, banyak penulis yang mulai dikenal oleh pembacanya. Sekilas memang menyenangkan. Saya pernah membayangkannya! Serius. Saya juga manusia biasa yang ingin mencicipi ketenaran. Tapi, akhirnya saya sadar. Menjadikan menulis sebagai kendaraan untuk populer bukanlah hal yang baik. Sangat harus dijauhi. Mungkin, tulisan saya bisa tersusun teratur. Tapi, lisan saya tidak sama dengan tulisan. Karena itu-lah, saya memutuskan untuk tetap menulis. Mungkin, memang cuma ini yang bisa saya lakukan, mungkin juga tidak. Hal itu adalah tugas dari perjalanan hidup saya. Seorang career coach, Renee pernah bilang kalau pencarian passion itu membutuhkan waktu tahunan. Menulislah karena kamu memang ingin menulis.


Yang jelas, saya menulis karena saya mau menulis.


Terlalu banyak rasa jika harus dijabarkan dalam satu kalimat.


Regards,


Clara Canceriana


Pamulang, 1 Maret 2012



 •  flag
0 comments
like  • 
Published on February 29, 2012 23:12 • 77 views

No comments have been added yet.



Clara Canceriana's Blog

Clara Canceriana
Clara Canceriana isn't a Goodreads Author (yet), but they do have a blog, so here are some recent posts imported from their feed.
Follow Clara Canceriana's blog with rss.