Radhar Panca Dahana
Author profile
born
March 26, 1965
in Jakarta, Indonesia
genre
|
Lalu Batu: Antologi Puisi
|
|
|
Lalu Waktu: Sajak Dalam Tiga Kumpulan
by Radhar Panca Dahana, Goenawan Mohamad — published 1994 |
|
|
Cerita-Cerita Negeri Asap: Kumpulan Cerita Pendek
— published 2005 |
|
|
Kabut Manusia
by Radhar Panca Dahana , Diyan Bijac , Widyartha Hastjarja — published 2009 |
|
|
Menjadi Manusia Indonesia
— published 201 — 2 editions |
|
|
Riwayat Negeri yang Haru
— published 2006 |
|
|
Dalam Sebotol Coklat Cair dan Sejumlah Esei Seni
— published 2008 |
|
|
Masa Depan Kesunyian
— published 1997 |
|
|
Ideologi Politik dan Teater Modern Indonesia
— published 2001 |
|
|
Sepi Pun Menari Di Tepi Hati
|
Upcoming Events
No scheduled events.
Add an event.
“PERCAKAPAN DUA RANTING
kalau pernah kamu bertemu dulu, apa yang
kau inginkan nanti? sepi. kalau nanti kau
dapatkan cinta, bagaimana kau tempatkan
waktu? sendiri. bila hari tak lagi berani
munculkan diri, dan kau tinggal untuk
menanti? cari. andai bumi sembunyi saat
kau berlari? mimpi. lalu malam menyer-
gapmu dalam pandang tiada tepi? hati.
baik...aku tak lagi memberimu mungkin?
kecuali. baik..baik, aku hanya akan menya-
pamu tanpa kecuali? mungkin. dan jika
tetap seperti itu, embun takkan jatuh dari
kalbumu? sampai. akankah kau patahkan
tubuhmu hingga musim tiada berganti?
mari. lalu kau tumbuhkan bunga tanpa
kelopak tanpa daun berhelai-helai? kemari.
juga kau benamkan yang lain dalam jurang
di matamu? aku. katakan bahwa kau mene-
rimamu seperti aku memberimu?...
kau? ya. kau?...aku.
Besancon, oktober sebelas 1997.”
― Radhar Panca Dahana, Lalu Batu: Antologi Puisi
kalau pernah kamu bertemu dulu, apa yang
kau inginkan nanti? sepi. kalau nanti kau
dapatkan cinta, bagaimana kau tempatkan
waktu? sendiri. bila hari tak lagi berani
munculkan diri, dan kau tinggal untuk
menanti? cari. andai bumi sembunyi saat
kau berlari? mimpi. lalu malam menyer-
gapmu dalam pandang tiada tepi? hati.
baik...aku tak lagi memberimu mungkin?
kecuali. baik..baik, aku hanya akan menya-
pamu tanpa kecuali? mungkin. dan jika
tetap seperti itu, embun takkan jatuh dari
kalbumu? sampai. akankah kau patahkan
tubuhmu hingga musim tiada berganti?
mari. lalu kau tumbuhkan bunga tanpa
kelopak tanpa daun berhelai-helai? kemari.
juga kau benamkan yang lain dalam jurang
di matamu? aku. katakan bahwa kau mene-
rimamu seperti aku memberimu?...
kau? ya. kau?...aku.
Besancon, oktober sebelas 1997.”
― Radhar Panca Dahana, Lalu Batu: Antologi Puisi
Is this you? Let us know. If not, help out and invite Radhar to Goodreads.















