A.A. Navis





A.A. Navis


Born
in Indonesia
November 17, 1924

Died
March 22, 2003


Ali Akbar Navis was a journalist and potential writer. He was a full time writer for Sripo and writes so many stories.

His famous books was “Robohnya Surau Kami” which became a monumental work for Indonesian literature. His last work is "Simarandang" a social-culture journal which been published on April 2003.

A.A. Navis passed away at age 79.

Average rating: 3.88 · 2,866 ratings · 259 reviews · 17 distinct works · Similar authors
Robohnya Surau Kami

3.90 avg rating — 2,291 ratings — published 1956 — 5 editions
Rate this book
Clear rating
Bertanya Kerbau pada Pedati...

3.73 avg rating — 158 ratings — published 1963 — 2 editions
Rate this book
Clear rating
Antologi Lengkap Cerpen A.A...

4.12 avg rating — 74 ratings — published 2004
Rate this book
Clear rating
Saraswati: Si Gadis Dalam S...

3.60 avg rating — 78 ratings — published 1970 — 2 editions
Rate this book
Clear rating
Kemarau

4.09 avg rating — 66 ratings — published 1957
Rate this book
Clear rating
Jodoh: Kumpulan Cerpen

3.55 avg rating — 49 ratings — published 1999
Rate this book
Clear rating
Riwayat Negeri yang Haru: C...

by
3.83 avg rating — 35 ratings — published 2006
Rate this book
Clear rating
Hujan Panas dan Kabut Musim...

3.75 avg rating — 28 ratings — published 1964
Rate this book
Clear rating
Kabut Negeri si Dali: Kumpu...

3.62 avg rating — 26 ratings — published 2001
Rate this book
Clear rating
Gerhana

3.11 avg rating — 27 ratings — published 2004
Rate this book
Clear rating
More books by A.A. Navis…
“Kalau yang memuji itu teman baik, itu biasa. Kalau yang mencela itu musuh, juga biasa. Tapi kalau yang memuji itu musuh, dan yang mencela itu kawan, itu menyebabkan saya berpikir-pikir.”
A.A. Navis

“Hal lain yang menghalangi produktivitas ialah pujian kritisi. Pujian itu bagai menantang saya, agar saya menulis yang nilainya sama dengan apa yang terbaik telah saya tulis selama ini.”
A.A. Navis, Proses Kreatif: Mengapa dan Bagaimana Saya Mengarang

“Dalam sepanjang hidupnya dia tak pernah marah-marah. Memang hatinya sering disakiti orang dan dia jengkel. Namun sampai memaki atau membentak dengan kata tak senonoh, tak pernah dia lakukan. Dia adalah seorang dokter. Golongan elit yang terhormat. Dan semua perilaku yang menjengkelkan dari orang yang dihadapinya, dipandangnya sebagai tingkah orang sakit. Apa pun macam perangai orang, dia tak pernah sampai marah. Tidak ada orang yang sehat melakukan kesalahan, pikirnya. Orang yang mencuri, merampok, berkelahi, dan bahkan membunuh, jahat, dan zalim tentulah karena sakit. Kalau bukan karena sakit, karena apa lagi orang-orang demikian? Seperti juga orang-orang sakit pada fisiknya menderita karena penyakit turunan atau karena penularan dari luar. Demikian juga penyakit mental atau jiwa seseorang. Pastilah dapat diobati kalau diagnosa dan terapinya kena, apalagi bila diobati pada saat yang dini. Demikian juga pada kejiwaan seseorang. Pandangan hidup seperti itu menyebabkan hidupnya bisa tenteram dan banyak orang menghormatinya.”
A.A. Navis, Bertanya Kerbau pada Pedati: Kumpulan Cerpen