Oka Rusmini




Oka hasn't connected with her friends on Goodreads, yet.





Oka Rusmini

Goodreads Author


url

born
in Jakarta, Indonesia
gender
female

twitter username

member since
April 2015


About this author

Oka Rusmini was born in Jakarta, July 11, 1967. She lives in Denpasar, Bali. She writes poetry, novel, and short story.
Her published works are Monolog Pohon (1997), Tarian Bumi (2000), Sagra (2001), Kenanga (2003), Patiwangi (2003), Warna Kita (2007), Pandora (2008), Tempurung (2010), Akar Pule (2012), Saiban (2014).
Her novel Tarian Bumi has been translated into foreign languages: Erdentanz (Deutsch edition, 2007), Jordens Dans (Svenska edition, 2009), Earth Dance (English edition, 2011), and La danza della terra (Italian edition, 2015).
In the year 2002, she received the Best Poetry Award from Poetry Journal. In 2003, The Language Centre, Ministry of Education of the Republic of Indonesia, gave her the Literary Appreciation Award of Litera
...more


Oka Rusmini hasn't written any blog posts yet.

Average rating: 3.78 · 1,312 ratings · 175 reviews · 17 distinct works · Similar authors
Tarian Bumi
3.81 of 5 stars 3.81 avg rating — 431 ratings — published 2000 — 8 editions
Rate this book
Clear rating
Sagra
3.62 of 5 stars 3.62 avg rating — 201 ratings — published 2001 — 2 editions
Rate this book
Clear rating
Kenanga
3.6 of 5 stars 3.60 avg rating — 170 ratings
Rate this book
Clear rating
Akar Pule
3.16 of 5 stars 3.16 avg rating — 62 ratings — published 2012
Rate this book
Clear rating
Tempurung
3.6 of 5 stars 3.60 avg rating — 55 ratings — published 2010
Rate this book
Clear rating
Pandora
3.57 of 5 stars 3.57 avg rating — 23 ratings — published 2008
Rate this book
Clear rating
Patiwangi
3.41 of 5 stars 3.41 avg rating — 22 ratings — published 2003
Rate this book
Clear rating
Warna Kita
3.06 of 5 stars 3.06 avg rating — 17 ratings — published 2007
Rate this book
Clear rating
Saiban
3.9 of 5 stars 3.90 avg rating — 10 ratings — published 2014 — 2 editions
Rate this book
Clear rating
Erdentanz
3.83 of 5 stars 3.83 avg rating — 6 ratings — published 2007
Rate this book
Clear rating
More books by Oka Rusmini…

Upcoming Events

No scheduled events. Add an event.

Oka's Recent Updates

Oka Rusmini shared a quote
Saiban by Oka Rusmini
“...Ibuku rajin meronce air mata.
Kemudian ronce itu dimasukkan
ke dalam kantung kain kafan.
Setiap purnama dia membacakan mantra.
Sebutir air mata menetes di ubun-ubunku
lalu hilang dilarung asap dupa ke Tukad Cebol.
Negeriku tercipta dari air mata ibu yang penuh luka sayatan.
Luka ibu akan sembuh bila memandang anak lelakinya tumbuh
menghijau seperti pohon pisang di dekat dapur....”
Oka Rusmini
Oka Rusmini shared a quote
Sagra by Oka Rusmini
“S E P O TONG KAKI
“LIHAT! Alangkah indahnya kaki penari legong1 itu. Bagaimana mungkin seorang perempuan dianugrahi sepotong daging yang menggiurkan? Lapar. Aku lapar! Daging yang sangat luar biasa. , Aromanya, Wayan membuatku gila. Apa kau mencium bau kaki perempuan itu? bukan main. Baru kali ini aku merasa lapar. Rasa lapar yang hanya dimiliki oleh seorang laki-laki sejati. Lapar yang nikmat, Wayan. Rasa lapar yang mampu merontokkan seluruh persendiaanku. Perempuan memang memiliki seluruh ke indahan bumi….” Laki-laki itu menangkap air liurnya. Menarik nafas. Tubuhnya menggigil. Dingin. Diteguknya sebotol arak dengan kasar.”
...more
Oka Rusmini
Oka Rusmini shared a quote
Patiwangi by Oka Rusmini
“MEMINTAL AWAN


sayap yang tumbuh pada tubuhku
kaurenggut
aku melepasnya satu-satu
kauwarnai setiap perjalananku
dengan bayang-bayang
yang tak kupahami
di mana para dewa menyembunyikan
senjata dan wangi bunga
kau lahir dari dunia asing
dewa-dewa yang kusembah
tidak mengenalmu
percintaan apa yang dikeratkan
pada urat tangan
terbuang dari bumiku
tanpa kausadari kunikmati setiap ombak
yang kauhamburkan di tubuhku
kita mulai pandai memintal awan
melilitkannya pada percintaan asing ini
menitiskan tanah dan ladang penuh semak


1990”
Oka Rusmini
More of Oka's books…
“Kelak, kalau kau jatuh cinta pada seorang laki-laki, kau harus mengumpulkan beratus-ratus pertanyaan yang harus kausimpan. Jangan pernah ada orang lain tahu bahwa kau sedang menguji dirimu apakah kau memilki cinta yang sesungguhnya atau sebaliknya. Bila kau bisa menjawab beratus-ratus pertanyaan itu, kau mulai memasuki tahap berikutnya. Apa untungnya laki-laki itu untukmu? Kau harus berani menjawabnya. Kau harus yakin dengan kesimpulan-kesimpulan yang kaumunculkan sendiri. Setelah itu, endapkan! Biarkan jawaban-jawaban dari ratusan pertanyaanmu itu menguasai otakmu. Jangan pernah menikah hanya karena kebutuhan atau dipaksa oleh sistem. Menikahlah kau dengan laki-laki yang mampu memberimu ketenangan, cinta, dan kasih. Yakinkan dirimu bahwa kau memang memerlukan laki-laki itu dalam hidupmu. Kalau kau tak yakin, jangan coba-coba mengambil risiko.”
Oka Rusmini, Tarian Bumi

“AKU mencoba menatap mata lelaki itu dengan perasaan berkecamuk. Dendam mengiris-ngiris aliran darahku. Kebencian terus muncrat dari lahar otakku. Baluran kemarahan membuat jantungku tidak bisa berdetak secara normal. Tersengal-sengal. Berhadapan dengan lelaki di depanku ini membuat aku merasa hidupku tidak berarti. Masih bisakah hubungan kami, hubungan anak-bapak terjalin lagi? Normal seperti lazimnya hubungan bapak-anak?
Kerutan-kerutan di wajahku kurasakan makin getir dan tajam. Lelaki di depanku terasa asing dan membuat jantung keperempuananku berhenti berdetak. Adakah hubungan lelaki-perempuan yang membuat perempuan bahagia? Adakah kebahagiaan yang diimpikan perempuan dari hubungan lelaki-perempuan.”
Oka Rusmini, Akar Pule

“...Ibuku rajin meronce air mata.
Kemudian ronce itu dimasukkan
ke dalam kantung kain kafan.
Setiap purnama dia membacakan mantra.
Sebutir air mata menetes di ubun-ubunku
lalu hilang dilarung asap dupa ke Tukad Cebol.
Negeriku tercipta dari air mata ibu yang penuh luka sayatan.
Luka ibu akan sembuh bila memandang anak lelakinya tumbuh
menghijau seperti pohon pisang di dekat dapur....”
Oka Rusmini, Saiban

“AKU mencoba menatap mata lelaki itu dengan perasaan berkecamuk. Dendam mengiris-ngiris aliran darahku. Kebencian terus muncrat dari lahar otakku. Baluran kemarahan membuat jantungku tidak bisa berdetak secara normal. Tersengal-sengal. Berhadapan dengan lelaki di depanku ini membuat aku merasa hidupku tidak berarti. Masih bisakah hubungan kami, hubungan anak-bapak terjalin lagi? Normal seperti lazimnya hubungan bapak-anak?
Kerutan-kerutan di wajahku kurasakan makin getir dan tajam. Lelaki di depanku terasa asing dan membuat jantung keperempuananku berhenti berdetak. Adakah hubungan lelaki-perempuan yang membuat perempuan bahagia? Adakah kebahagiaan yang diimpikan perempuan dari hubungan lelaki-perempuan.”
Oka Rusmini, Akar Pule

“1967


Di museum kutemukan dahimu penuh kerak timah, meleleh membutakan matamu. Diam-diam kutawarkan tali. Mungkin kau ingin menjerat tubuhku.

“Kujajah tubuh belalangmu. Kita bersembunyi di gua, lari dari topeng-topeng yang kita pentaskan. Jangan kaulempar tali! Ayahku akan kehilangan wujud lelakinya. Ibuku memuntahkan ulat yang telah lama dikandungnya.”

Di museum, matamu memecahkan seorang perempuan. Kau terbangun dari kantuk. Kutelan gelap. Kukunyah api. Aku mulai membakar jantung. Mana taliku? Kau ingat di mana telah kutanam impian yang disembunyikan perempuan jalang yang harus kupanggil “tante”? Perempuan itu tak lagi memiliki hati. Hidupnya sudah digadaikan untuk orang-orang yang rajin menyapanya di jalanan. Mungkinkah dia ibuku?

“Jangan lilit tubuhku dengan tali. Batang tubuhku buas. Tak ada tali mampu mengikatnya. Jangan hidangkan impian. Mari mereguk kata-kata. Kautahu tumpukan huruf pun kuserap. Tumbuhkanlah anak rambutmu. Ayahku diam-diam menanam kebesaran, tapi aku tak memiliki rangka iga. Mari senggama di batu-batu. Mungkin ingin kaukuliti karang tubuhku?”

Kau tampak pandir. Tolol. Uapmu mencairkan satu demi satu bukit yang kusimpan erat di urat tangan. Di museum kau menjadi begitu pengecut. Aku mulai menggantung bayi di ujung rambutmu. Matanya memuntahkan pisau.

Kuperingati hidup dengan seratus tahun sunyi Garcia. Ikan-ikan meluncurkan sperma. Betina-betina memuntahkan gelembung karang. Di museum, kesunyian begitu runcing. Tahun-tahun yang pernah kita pinjam kumasukkan dalam api upacara pengabenan. Pulangkah aku? Siapa yang kucari? Diam-diam Garcia sering mengajakku bersenggama di tajam ombak, di museum, dalam mata, jantung, hati dan keliaranmu. Aku tetap gua kecil yang ditenggelamkan dingin.

Berlayarlah selagi kau masih ingat laut. Jangan catat namaku. Karena ibuku pun membuangku di buih laut. Mencongkel hatiku dengan lokan.


1999”
Oka Rusmini, Pandora

“Biografi tubuh inilah yang terasa dalam 40 sajak di kumpulan puisi Pandora ini. Lihatlah bagaimana ia mengurutkan sajak-sajak di buku ini. Dari mulai Ulat, Kepompong, Kupu-kupu, 1967, dan sajak-sajak yang mengeksplorasi tema anak (Embrio, Schipol, Pasha, Den Haag), hingga Rahib dan Jejak. Deretan sajak itu tampak seperti sebuah metamorfosis tubuh.

Tubuh, di tangan penyair kelahiran ini, keluar dan bahkan meloncat dari bentuk estetiknya. Ia memperlakukan tubuh bagai sebuah menu santapan (Di meja makan kusantap tubuhku, kuteguk air mataku—sajak “Kepompong”).

Inilah ketangkasan seorang Oka. Ia menulis, memendam Bali, mencangkul masa lalu, membenturkan tradisi, meringkus pengalaman hidup, dan dengan tanpa sungkan menggasak tubuhnya sendiri demi memperoleh sebuah ars poetica. Inilah “sayap kuat” sajak-sajak Oka, penulis yang menurut saya, menjadi salah satu wakil terpenting penyair Indonesia mutakhir. (Yos Rizal Suriaji- “Sebuah Menu Bernama Tubuh”-2008)”
Oka Rusmini, Pandora

“Kau tahu betapa aku mengagumi bunga kecombrangku.
Nama aslinya Nicolaia Spesiosa tergolong famili Zingiberaceae.
Entah mengapa orang-orang menyebutnya kecombrang, tapi aku
suka dengan pilihan nama asli Indonesia itu. Kesannya kampungan,
liar dan tak bisa diatur.
Warna merah darah yang menyelimuti tubuhnya mengingatkan
aku pada darah yang mengaliri dan terbenam di tubuhku.
Bentuk bunga itu menyerupai lingga, runcing, kaku, tubuhnya
dilengkapi dengan puluhan kelopak-kelopak pendek yang tumpul,
mengelilingi ketinggian batang tubuh bunga itu.
Kesegaran warna bunga itu sering membuatku ingin memotong
nadiku. Aku ingin meneteskan darahku ke tubuh bunga
kecombrang itu. Berharap dia mengerti keinginanku. Atau
aku sedang berharap dia bisa membahagiakan aku? Jangan-jangan
aku sedang jatuh cinta. Pada siapa? Frank Sinatra? Bunga
kecombrang? Atau aku sedang dilanda kejenuhan. Kesepian.”
Oka Rusmini, Tempurung

“MEMINTAL AWAN


sayap yang tumbuh pada tubuhku
kaurenggut
aku melepasnya satu-satu
kauwarnai setiap perjalananku
dengan bayang-bayang
yang tak kupahami
di mana para dewa menyembunyikan
senjata dan wangi bunga
kau lahir dari dunia asing
dewa-dewa yang kusembah
tidak mengenalmu
percintaan apa yang dikeratkan
pada urat tangan
terbuang dari bumiku
tanpa kausadari kunikmati setiap ombak
yang kauhamburkan di tubuhku
kita mulai pandai memintal awan
melilitkannya pada percintaan asing ini
menitiskan tanah dan ladang penuh semak


1990”
Oka Rusmini, Patiwangi




No comments have been added yet.