Marga T.





Marga T.


Born
in Jakarta, Indonesia
January 27, 1943

Genre


Marga Tjoa (born 27 January 1943) is an Indonesian popular romance and children's literature writer better known by the pen name Marga T. One of Indonesia's most prolific writers, she first became well-known in 1971 for her serial Karmila that was published as a book in 1973 and later made into a film.

Average rating: 3.34 · 4,367 ratings · 207 reviews · 55 distinct works · Similar authors
Karmila

3.60 avg rating — 576 ratings — published 1973 — 2 editions
Rate this book
Clear rating
Badai Pasti Berlalu

3.53 avg rating — 564 ratings — published 1974 — 2 editions
Rate this book
Clear rating
Bukan Impian Semusim

3.61 avg rating — 246 ratings — published 1991 — 2 editions
Rate this book
Clear rating
Tesa

3.61 avg rating — 222 ratings — published 1986
Rate this book
Clear rating
Kishi (Saskia-Kishi-Oteba T...

3.32 avg rating — 194 ratings — published 2004
Rate this book
Clear rating
Seribu Tahun Kumenanti

3.40 avg rating — 180 ratings — published 2005
Rate this book
Clear rating
Saskia (Saskia-Kishi-Oteba ...

3.21 avg rating — 187 ratings — published 2004
Rate this book
Clear rating
Oteba (Saskia-Kishi-Oteba T...

3.45 avg rating — 171 ratings — published 1989 — 3 editions
Rate this book
Clear rating
Gema Sebuah Hati

3.48 avg rating — 143 ratings — published 2002 — 2 editions
Rate this book
Clear rating
Setangkai Edelweiss

3.48 avg rating — 139 ratings — published 1991 — 2 editions
Rate this book
Clear rating
More books by Marga T.…
Saskia Kishi Oteba
Saskia-Kishi-Oteba (3 books)
by
3.33 avg rating — 552 ratings

Gema Sebuah Hati Setangkai Edelweiss
Monik (2 books)
by
3.48 avg rating — 282 ratings

Sekuntum Nozomi Sekuntum Nozomi Sekuntum Nozomi Sekuntum Nozomi Sekuntum Nozomi
Sekuntum Nozomi (5 books)
by
3.16 avg rating — 233 ratings

Di Hatimu Aku Berlabuh Di Hatimu Aku Berlabuh Di Hatimu Aku Berlabuh Di Hatimu Aku Berlabuh
Di Hatimu Aku Berlabut (4 books)
by
3.13 avg rating — 199 ratings

Upcoming Events

No scheduled events. Add an event.

“Penjual nasi tim sudah mulai membuka pintunya. Dari dalam, keluar buar harum yang sedap. Orang-orang yang pulang dari Missa pertama seringkali singgah ke situ. Mengherankan, tidak ada seorangpun yang teringat untuk berkhotbah terhadap laki-laki setengah tua itu beserta isteri dan anak menantunya. Siapa tahu mereka akan tertarik dan ikut masuk gereja. Namun orang-orang mungkin akan cemas juga: kalau mereka berbondong-bondong menghadiri Missa boleh jadi tidak akan ada nasi tim kalau mereka pulang. Atau: nasi tim itu terlalu enak, membuat orang lupa melakukan sesuatu yang ingin dilakukannya.

Bagaimanapun, itulah mereka. Dari hari ke hari, sejak puluhan tahun, dengan setia membuka satu per satu papan-papan di muka rumah pada jam enam pagi. Sebuah meja dan sebuah tungku dikeluarkan. Di atasnya terdapat sebuah panci kaleng, setinggi setengah meter, tempat memasak nasi tim itu. Kemudian mangkuk-mangkuk dikeluarkan dan diletakkan di atas meja. Menantu perempuan memasang taplak-taplak meja seperti yang telah dilakukan sejak ia menikah. Anak laki-laki memeriksa apakah tungku itu cukup arangnya. Sedangkan laki-laki setengah tua itu mulai memotong-motongayam rebus dibantu isterinya yang turut memeriksa kalau-kalau ada bumbu-bumbu yang kurang.

Setiap pagi, dari bulan ke bulan, dari tahun ke tahun, itulah kerja mereka. Anak laki-laki setelah tamat sekolah, tidak mempunyai tujuan lain kecuali belajar mewarisi keahlian masak ayahnya untuk kemudian menggantikannya setelah dia mati. Orang-orang yang sederhana, yang tidak perlu jauh-jauh dalam mencari bahagia. Mereka sudah lama menemukannya: dalam hati mereka sendiri.

Monik melirik ke arah warung itu, Dilihatnya laki-laki setengah tua itu. Dilihatnya isterinya. Mereka betul. Mereka tidak perlu ke gereja. Tuhan sudah ada dalam hati mereka.”
Marga T.



Is this you? Let us know. If not, help out and invite Marga to Goodreads.